Senin , 17 Desember 2018
Home / Artikel / Ini 5 Hal Pidato Anies di Reuni 212, Mulai dari Sejarah Monas
whatsapp-image-2018-12-02-at-94059-am-5c60a748cae9e5172922da593ef7b5c5_600x400

Ini 5 Hal Pidato Anies di Reuni 212, Mulai dari Sejarah Monas

Gubernur DKI, Anies Baswedan datang dan berpidato di Reuni Akbar 212 yang diselenggarakan di Monumen Nasional (Monas), Minggu (2/12/2018).

Sekitar pukul 08.20 pagi. Anies Baswedan datang dan mengenakan pakaian dinas, sebab setelahnya bekerja kembali memantau ibu kota Jakarta.

Anies Baswedan dengan pengetahuan yang banyak, berpidato tak sampai lima menit namun berbobot. Beberapa hal ia sampaikan. Ketika Anies berpidato, terdengar massa aksi berteriak penuh semangat.

Pertama, Anies Baswedan bercerita sejarah Monas era kolonial.

“Atas nama Pemprov DKI, selamat datang di kawasan monas.

Tempat ini memang dirancang untuk berkumpulnya rakyat. Pertama kali digunakan pertengahan September 1945.

Ketika sebulan sebelumnya sekelompok orang yang jadi pemimpin bangsa memutuskan proklamasi.

Kekuatan kolonial meragukannya, mengecilkannya, dianggap ini hanya aspirasi sekelompok orang saja.

September [1945], ratusan ribu warga berkumpul di lapangan ini. Ini adalah ikhtiar kemerdekaan untuk seluruh rakyat Indonesia.

Tempat ini tempat untuk kita semua. Karena itu tak ada kewajiban punya KTP untuk masuk ke daerah ini.

Katanya semalam beredar itu ya [kewajiban memperlihatkan KTP sebelum masuk ke Monas]? Karena sudah pasti yang masuk ke sini warga negara Indonesia.

Jadi saudara sekalian, ini tempat milik umum, milik semua. Monas adalah milik seluruh warga Indonesia.”

Kedua, Anies menyampaikan terealisasi janji yang terlihat mustahil.

” Izinkan saya meminta doa. Alhamdulillah satu tahun perjalanan di Jakarta janji [kampanye] kami tunaikan. Yang dianggap tidak mungkin Insya Allah akan kami laksanakan satu-satu.

DP 0 rupiah dianggap tidak mungkin, hari ini terlaksana.

Menutup tempat maksiat, dianggap tidak mungkin, hari ini terlaksana.

Menghentikan reklamasi, dulu dianggap tidak mungkin, kita lakukan.”

Ketiga, Anies pesan jangan anggap remeh pilihan politik

“Dan itu tanpa kekerasan, cukup selembar kertas dan tanda tangan.

Karena itu jangan pernah anggap enteng proses politik, karena tanda tangan yang menentukan arah kebijakan.”

Keempat, Anies sampaikan persatuan karena Indonesia terdiri banyak suku bangsa

“Saudara sekalian, kita semua yang hadir di sini punya tanggung jawab menjaga persatuan. Yang unik dari Indonesia bukan cuma keragamannya, yang unik adalah di tempat ini hadir persatuan bagi seluruh rakyat.

Kalau keberagaman, negeri lain ada yang lebih beragam. Karena itu yang harus kita banggakan adalah persatuan. Kalau latar belakang [masing-masing orang] tak bisa diubah, sudah takdir, tapi kalau persatuan adalah hasil ikhtiar kita.

Dan persatuan hanya bisa dihadirkan dengan keadilan. Insya Allah itu yang akan kita kembalikan di DKI ini. Mengembalikan rasa keadilan untuk semua.”

Kelima, Anies berpesan agar para peserta aksi menjaga ketertiban, dan kebersihan

“Saya harap yang kumpul di sini menjaga ketertiban. Mendapat izin dibuktikan dengan hadir tertib dan kembali tertib.

Biarkan mereka yang merasa aksi ini akan rusuh kecewa karena yang datang mendatangkan ketertiban dan kedamaian. Bukan cuma di kawasan Monas.

Siapa pun yang ditemui salam. Berikan salam, kirimkan senyum, dan tunjukkan hadirin di Monas memancarkan kedamaian untuk semua.

Insya Allah itu akan menguatkan pesan bahwa yang datang ke sini adalah yang memperjuangkan persatuan, perdamaian, dan keadilan di negeri ini.

Izinkan saya mengakhiri untuk berterima kasih semua pihak yang mengelola ini, sehingga kerapihannya mempesona semua pihak.

Semoga majelis ini bukan cuma membanggakan yang hadir, tapi juga akan-anak kita kelak.”

Comments

comments

Tentang Danu Wijaya

Danu Wijaya
Admin pengurus AlimanCenter.com

Lihat Juga

8ca8125a-8156-4f18-a7fb-cb47c5fa63e9

Aung San Suu Kyi Dipermalukan Di KTT ASEAN 2018

Dalam KTT ke-33 ASEAN 2018 di Singapura, beberapa negara mengecam kekerasan etnis muslim Rohingya yang ...