Kamis , 19 Oktober 2017
Home / Artikel / Istiqamah Bersama Islam
Andrés Nieto Porras_Alone flower_YkZiRGM

Istiqamah Bersama Islam

Oleh: Fauzi Bahreisy

 

Suatu ketika Abu Amr, Sufyan ibn Abdillah radhiallahuanhu mendatangi Nabi Shallallahu’alaihi wasallam. Ia bertanya, “Ya Rasulullah, ajarkan padaku satu hal dalam Islam yang aku tidak akan menanyakannya lagi pada yang lain.” Demikian yang dikatakan oleh Abu Amr kepada Rasul Shallallahu’alaihi wasallam. Begitulah memang seharusnya seorang muslim. Ia harus banyak bertanya dan belajar. Terutama tentang agamanya.

Hanya saja, karena agama adalah urusan yang sangat penting yang akan mengantarkan pada kebahagiaan dunia dan akhirat, maka yang ditanya harus tepat. Harus orang yang mengerti, menghayati, dan mengamalkan. Saat itu tidak ada lagi yang lebih layak ditanya melebihi Rasul Shallallahu’alaihi wasallam.

Lalu apa jawaban Nabi Shallallahu’alaihi wasallam? Beliau menjawab, “Qul amantu billah (katakanlah, aku beriman kepada Allah).” Dari sini dan dari beberapa dalil lain para ulama menegaskan bahwa ucapan dan pengakuan lisan sangat penting dalam iman. Iman harus diikrarkan. Karena itu, untuk membedakan antara muslim dan bukan perlu ada ikrar.

Selain itu, pengakuan beriman kepada Allah adalah pintu gerbang menuju sukses. Siapapun yang ingin selamat dan masuk ke dalam surga harus beriman kepada Allah.

Namun apa cukup dengan pengakuan lisan? Tentu saja tidak cukup. Nabi Shallallahu’alaihi wasallam melanjutkan, “Tsumma istaqim! (Kemudian istiqamahlah!)” Kalau lisan berikrar maka harus ada sikap konsisten dan istiqamah dengan pengakuan tersebut.

Jangan sampai mengaku beriman, mengaku muslim, mengaku sebagai hamba Allah tapi tidak mau diatur oleh Allah, tapi tidak mau beribadah, tidak mau menunaikan shalat, tidak berpenampilan islami, lebih loyal kepada musuh Allah, benci kepada saudara seiman, suka korupsi, dan seterusnya.

Ini namanya tidak konsisten dan tidak istiqamah dengan apa yang diucapkan. Iman harus istiqamah dalam segala keadaan, dalam segala situasi, dan dalam segala kondisi.

Iman tidak  hanya tampil di masjid. Akan tetapi, iman  juga harus tampil di rumah, di kantor, di pasar, di jalan, dan di berbagai tempat.

Iman tidak hanya di bulan Ramadhan, akan tetapi juga harus tampak di luar Ramadhan dan bahkan sepanjang masa.

Iman tidak hanya ketika berkumpul bersama banyak orang dan dikeramaian. Namun, ketika sedang sepi dan sendiri iman juga harus terlihat.

Iman tidak hanya ketika mendapat nikmat, mendapat kedudukan , dan mendapat jabatan. Akan tetapi, ketika mendapat musibah dan ujian iman tetap terpatri di dada dan tak goyah.

Iman tidak hanya saat menderita dan tak punya. Akan tetapi, di saat kaya dan berada iman tetap terpelihara.

Iman tidak hanya di lisan dan dalam ucapan.  Akan tetapi, perbuatan, penampilan dan muamalahnya menunjukkan keberadaan iman.

Hasan al-Bahsri berkata, “Iman bukan hanya sekedar angan-angan. Akan tetapi iman adalah apa yang tertancap dalam qalbu dan dibuktikan oleh amal perbuatan.”

Jadi harus ada sikap istiqamah dan konsisten dengan pengakuan. Konsisten bersama dengan kebenaran sampai akhir hayat, sampai ajal datang, sampai meninggalkan dunia yang fana ini. “Wahai orang-orang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan takwa yang benar dan janganlah meninggal dunia kecuali dalam keadaan muslim.” (QS Ali Imran: 102).

Kalau sekedar pengakuan dengan lisan, orang munafik juga mengaku beriman. Namun mereka tidak istiqamah dan tidak konsisten dengan pengakuannya.

Nah, orang yang istiqamah dalam kebenaran, Allah janjikan kenikmatan yang tak terkira, “Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Rabb kami ialah Allah” kemudian mereka istiqamah, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan): “Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu”. Kamilah pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan di akhirat, di dalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh (pula) di dalamnya apa yang kamu minta”. (QS. Fushilat : 30-31).

Semoga kita menjadi orang yang istiqamah dan konsisten dalam kebenaran dan bersama Islam.

Sumber:
Artikel Utama Buletin Al Iman. Edisi 327 – 20 Maret 2015. Tahun ke-8

*****

Buletin Al Iman terbit tiap Jumat. Tersebar di masjid, perkantoran, majelis ta’lim dan kantor pemerintahan.
Menerima pesanan dalam dan luar Jakarta.
Hubungi 0897.904.6692
Email: redaksi.alimancenter@gmail.com

Dakwah semakin mudah.
Dengan hanya membantu penerbitan Buletin Al Iman, Anda sudah mengajak ribuan orang ke jalan Allah

Salurkan donasi Anda untuk Buletin Al Iman:
BSM 703.7427.734 an. Yayasan Telaga Insan Beriman

Konfirmasi donasi: 0897.904.6692

Raih amal sholeh dengan menyebarkannya!

Comments

comments

Tentang Fauzi Bahreisy

Fauzi Bahreisy
Pengasuh rubrik konsultasi AlimanCenter.Com

Lihat Juga

kebun-kurma-pasuruan-1

Ketinggalan Shalat Berjamaah, Sedekahkan Kebun Kurma

SAHABAT Nabi terkenal sebagai orang-orang yang selalu menjaga shalat berjamaah. Dengan begitu mereka berarti selalu ...

Tinggalkan Balasan