Minggu , 28 Mei 2017
Home / Artikel / Liwa dan Rayah, Bendera Panji Islam Semasa Rasulullah
17494401_407246842986200_8378106564443111424_n

Liwa dan Rayah, Bendera Panji Islam Semasa Rasulullah

Dalam beberapa waktu terakhir ini sering kita lihat bendera bertuliskan kalimat tauhid La Ilaha illAllah Muhammadur Rasulullah. Terutama pada saat kemarin Aksi Bela Islam 1, 2, dan 3 banyak orang yang membawa bendera tersebut.

Bagi orang awam yang sudah termakan propaganda orang kafir, yang mereka ketahui bendera itu adalah bendera isis atau benderanya teroris atau islam garis keras. Ditambah lagi dengan maraknya pemberitaan penangkapan terroris di berbagai tempat. Padahal bendera tersebut adalah Bendera dan Panjinya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Bendera dan Panjinya Rasulullah

Negara Islam di masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memiliki bendera dengan bentuk dan corak yang khas; juga memiliki panji-panji dengan bentuk dan corak yang juga khas.

Para sahabat Rasulullah saw selalu berharap bahwa diri merekalah yang menjadi pembawa bendera. Salah satu contohnya ditunjukkan pada saat perang Khaibar, dimalam hari dimana keesokan paginya Rasulullah saw akan menyerahkan bendera/panji-panji kepada seseorang:

«فَبَاتَ النَّاسُ يَدُوْكُوْنَ لَيْلَتَهُمْ: أَيُّهُمْ يُعْطَاهَا؟»

Malam harinya, semua orang tidak tidur dan memikirkan siapa diantara mereka yang besok akan diserahi bendera itu. (HR. Bukhari)

Bahkan Umar bin Khaththab sampai berkata:

«مَا أَحْبَبْتُ اْلإِمَارَةَ إِلاَّ يَوْمَئِذٍ»

Aku tidak mengharapkan kepemimpinan kecuali pada hari itu. (HR. Bukhari)

Kisah diatas menunjukkan betapa pentingnya kedudukan bendera dan panji-panji didalam Islam.

Orang yang diserahi oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk membawanya memiliki kemuliaan yang sangat tinggi.

Pengertian Liwa dan Rayah

Di dalam bahasa Arab, bendera disebut dengan liwa (jamaknya adalah alwiyah). Sedangkan panji-panji perang dinamakan dengan rayah. Disebut juga dengan istilah al-‘alam.

Rayah adalah panji-panji yang diserahkan kepada pemimpin peperangan, dimana seluruh pasukan berperang di bawah naungannya dan (ia) akan mempertahankannya hidup atau mati.

Sedangkan liwa adalah bendera yang menunjukkan posisi pemimpin pasukan, dan ia akan dibawa mengikuti posisi pemimpin pasukan.

liwa rayan_1494379026818

Liwa adalah al-‘alam (bendera) yang berukuran besar. Jadi, liwa adalah bendera negara.

Sedangkan rayah adalah bendera yang berukuran lebih kecil, yang diserahkan oleh Khalifah atau wakilnya kepada pemimpin perang, serta komandan-komandan pasukan Islam lainnya.

Rayah merupakan tanda yang menunjukkan bahwa orang yang membawanya adalah pemimpin perang.

Liwa (bendera negara) berwarna putih, sedangkan rayah (panji-panji perang) berwarna hitam.

Riwayat hadist tentang bendera Rasulullah

Banyak riwayat (hadits) yang menunjukkan warna liwa dan rayah, diantaranya:

أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ –صلعم- كَانَتْ رَايَتُهُ سَوْدَاءَ وَلِوَاؤُهُ أَبْيَضَ

“Rayahnya (panji peperangan) Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam berwarna hitam, sedangkan benderanya (liwa-nya) berwarna putih.” (HR. Thabrani, Hakim, dan Ibnu Majah)

كَانَتْ رَايَةُ رَسُوْلِ اللهِ –صلعم- سَوْدَاءَ وَلِوَاؤُهُ أَبْيَضَ

“Panji (rayah) Nabi saw berwarna hitam, sedangkan liwa-nya (benderanya) berwarna putih. Meskipun terdapat juga hadits-hadits lain yang menggambarkan warna-warna lain untuk liwa (bendera) dan rayah (panji-panji perang), akan tetapi sebagian besar ahli hadits meriwayatkan warnaliwa dengan warna putih, dan rayah dengan warna hitam.

Panji-panji Nabi saw dikenal dengan sebutan al-‘uqab, sebagaimana yang dituturkan:

إِسْمُ رَايَةِ رَسُوْلِ اللهِ –صلعم- الْعُقَابُ

Nama panji Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah al-‘uqab. Tidak terdapat keterangan (teks nash) yang menjelaskan ukuran bendera dan panji-panji Islam di masa Rasulullah saw, tetapi terdapat keterangan tentang bentuknya, yaitu persegi empat.

كَانَتْ رَايَتُهُ سَوْدَاءَ مُرَبِّعَةً مِنْ نَمْرَةٍ

“Panji Rasulullah saw berwarna hitam, berbentuk segi empat dan terbuat dari kain wol.” (HR. Tirmidzi)

Al-Kittani mengetengahkan sebuah hadits yang menyebutkan:

أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ –صلعم- عَقَدَ لَهُ رَايَةً، رُقْعَةً بَيْضَاءَ ذِرَاعًا فِيْ ذِرَاعٍ

“Rasulullah saw telah menyerahkan kepada Ali sebuah panji berwarna putih, yang ukurannya sehasta kali sehasta. Pada liwa (bendera) dan rayah (panji-panji perang) terdapat tulisan Lâ ilâha illa Allah, Muhammad Rasulullah. Pada liwa yang berwarna dasar putih, tulisan itu berwarna hitam. Sedangkan pada rayah yang berwarna dasar hitam, tulisannya berwarna putih. (Musnad Imam Ahmad dan Tirmidzi, melalui jalur Ibnu Abbas)

Imam Thabrani meriwayatkannya melalui jalur Buraidah al-Aslami, sedangkan Ibnu Adi melalui jalur Abu Hurairah.

Begitu juga hadits-hadits yang menunjukkan adanya lafadz Lâ ilâha illa Allah, Muhammad Rasulullah, pada bendera dan panji-panji perang, terdapat pada kitab Fathul Bari.

Sebagian besar para fuqaha dan ahli hadits menganggap bahwa keberadaan liwa dan rayah adalah sunnah.

Kisah panji Islam di masa Rasulullah

Ibnul Qayyim berkata: Pasukan disunnahkan membawa bendera besar dan panji-panji. Warna liwa (bendera besar) disunnahkan berwarna putih, sedangkan panji-panjinya boleh berwarna hitam’.

Kebiasaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mengangkat orang-orang tertentu sebagai pemegang panji-panji, juga dilakukan oleh Khalifah Abu Bakar ra, sebagaimana yang dituturkan Abu Yusuf:

‘Rasulullah saw biasa menyerahkan liwa kepada pemimpin pasukan, yang diikatkan di ujung tombaknya. Rasulullah saw telah menyerahkan liwa kepada Amru bin Ash dalam perang Dzatu Salasil.

Setelah beliau saw wafat, Abu Bakar ash-Shiddiq menyerahkan liwa kepada Khalid bin Walid, yang dipasang di ujung tombaknya’.

Imam Ibnu Hajar menyebutkan sunnah untuk membawa bendera di dalam peperangan.

Bendera Rasulullah jika digunakan sekarang

Panji-Rasulullah-di-Aksi-BelaQuran-212-1
Bendera Rayah ukuran besar di Aksi Bela Islam

Meskipun demikian, karena ‘urf (adat kebiasaan) internasional saat ini mengharuskan setiap negara memiliki simbol berupa bendera kenegaraan.

Maka negara Khilafah harus memiliki simbol kenegaraan sebagaimana negara-negara lain.

Simbol tersebut di wujudkan dalam bentuk adanya liwa (bendera negara) dan rayah (panji-panji peperangan) yang bentuk, corak dan warnanya seperti yang telah disebutkan sebelumnya.

Bendera (liwa) itulah yang dipasang/dikibarkan di Darul Khilafah (kantor Khalifah), terutama di depan (atau di atas) tempat bekerjanya Khalifah.

Sedangkan rayah dipasang/dikibarkan di instansi-instansi pemerintah maupun swasta. Dibolehkan juga bagi individu rakyat untuk mengibarkan rayah di depan rumah-rumah mereka atau lembaga-lembaga yang mereka jalankan.

Berdasarkan Fakta Sejarah tersebut tidak ada alasan bagi umat islam takut di cap ISIS atau Terroris untuk memiliki panji ini di rumah rumah mereka sebagai hiasan juga sebagai penyemangat.

Walaupun Saat ini Orang orang kafir sudah berhasil dengan propagandanya dengan fitnah-fitnah yang keji memanfaatkan panji ini. Suatu saat akan lahir umat yang pemberani dan mengibarkan kembali Bendera dan Panjinya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam

Wallahu’alam Bishowab

 

Sumber : MuslimCyber.net

Oleh : Syera Syeilara, Citizen Jurnalism Sejarah Islam

Comments

comments

Tentang Danu Wijaya

Danu Wijaya
Admin pengurus AlimanCenter.com

Lihat Juga

paul-pogba-melaksanakan-ibadah-umrah_20170528_081444

Pogba Rayakan Juara Liga Europa sekaligus Sambut Ramadan dengan Umrah

Mekkah – Paul Pogba mempunyai cara khusus untuk merayakan trofi Liga Europa dan menyambut ramadan. Gelandang ...