Rabu , 21 November 2018
Home / Artikel / Puasa Sunah Arafah Bukan Puasa Wukuf
b4944963b5c83d545c3d3022bcf03282-perbedaan-hari-idul-adha-1439h-di-indonesia-dan-arab-saudi-saudi

Puasa Sunah Arafah Bukan Puasa Wukuf

JAKARTA — Puasa Arafah merupakan puasa sunah yang dilaksanakan pada hari Arafah. Puasa Arafah dilakukan pada 9 Dzulhijah dan biasanya bertepatan dengan berlangsungnya wukuf di Arafah oleh jamaah haji.

Manfaat puasa Arafah menghapus dosa setahun

Dalam hadist riwayat Muslim no 1.162 disebutkan Rasulullah SAW bersabda:

“Bahwa puasa Arafah (9 Dzulhijjah) dapat menghapuskan dosa setahun yang lalu dan setahun akan datang.”

Puasa Arafah hanya disunahkan bagi umat Rasulullah yang tidak berwukuf saat haji. Sedangkan orang yang sedang berwukuf tidak dianjurkan untuk melakukan puasa Arafah.

Pertanyaan Perbedaan Waktu Puasa Arafah

Namun bagaimana jika ada perbedaan waktu antara 9 Dzulhijjah di Indonesia dengan waktu Arab Saudi wukuf di Arafah?

Mengenai argumentasi mengapa kita berbeda dengan Arab Saudi, secara ringkas dapat dijelaskan sebagai berikut :

1. Dalam ilmu falak, penanggalan Hijriyah (berbasis perputaran rembulan), memang negeri-negeri yang berada di sebelah barat berpotensi “lebih dulu” melihat hilal.

2. Sejak semula, istilah hari ‘Arafah itu adalah tanggal 9 Dzulhijjah, baik ada yang wukuf ataupun tidak.

3. Perintah puasa ‘Arafah adalah terkait dengan hari ‘Arafah (9 Dzulhijjah) bukan puasa karena adanya wuquf di ‘Arafah.

4. Puasa ‘Arafah sudah disyariatkan sejak tahun ke 2 Hijriyah, sedang ibadah haji (wuquf di ‘Arafah) baru disyariatkan pada tahun ke 9 Hijriyah.

Jadi selama 7 tahun, kaum muslimin puasa ‘Arafah tanpa memperhatikan adanya wuquf di ‘Arafah.

5. Fakta ilmiah falakiyyah menunjukkan, bahwa negeri-negeri muslim terbagi dalam 2 wilayah mathla’ (tempat munculnya hilal) yang terkadang berbarengan terkadang berbeda.

Demikian juga perbedaan waktu antara satu negeri muslim di wilayah barat dengan negeri muslim di wilayah timur ada yang terpaut sampai 12 jam.

Karena itu, kalau shalat dan buka puasanya berdasar waktu di negeri masing-masing, lalu kenapa kalau berhari raya harus ikut Arab Saudi?

6. Fakta historis, bahwa selama berabad-abad, kaum muslimin di dunia melaksanakan puasa ‘Arafah (bahkan Ramadan) berpatokan pada penanggalan negara masing-masing.

7. Tidak ada dalil yang membedakan antara ketentuan ru’yat Idul Fitri dengan Idul Adha, misalnya kalau Idul Fitri boleh berdasar ru’yat negeri masing2, sedang kalau Idul Adha harus berdasar ru’yat Arab Saudi sebagai tuan rumah ibadah haji.

Menurut Direktur Urusan Agama Islam dan Pembinaan Syariah Kementerian Agama sekaligus Ketua Tim Falakiyah, Juraidi, puasa sunah Arafah bukan puasa wukuf.

Umat Islam sebaiknya fokus saja pada waktu 9 Dzulhijjah seperti yang dituliskan dalam hadist.

“Sebelum ada wukuf, sudah ada puasa sunah Arafah. Andai wukuf tidak bisa dilaksanakan oleh jamaah haji karena keadaan tertentu, maka puasa sunah Arafah tetap berlaku,” kata dia dalam siaran pers yang diterima Republika.co.id, Selasa (14/8).

Juraidi mengatakan betapa hebat dan universalnya hadits Rasul yang menyebutkan shaum yaum ‘arafah bukan yaumu wukuf.

Karena puasa hari wukuf hanya bagi mereka yang satu waktu mathla'(tempat terbit) dengan Makkah, Arab Saudi saja yang bisa melaksanakannya.

Tapi karena haditsnya Yaumu Arafah, yaitu 9 Dzulhijjah, maka di belahan dunia mana pun umat Islam berada bisa melakukannya sesuai yang ditetapkan oleh pemerintah negaranya (wilayatul-hukmi) sesuai mathla’-nya,” katanya.

Selamat berpuasa Arafah.

 

Sumber : Republika/ Kemenag/ PersatuanMasjidIndonesia

Comments

comments

Tentang Danu Wijaya

Danu Wijaya
Admin pengurus AlimanCenter.com

Lihat Juga

siapa-yang-memberi-nama-surat-dalam-alquran-151203z

Siapakah yang Memberi Nama Surat dalam Al Qur’an?

AL QUR’AN memiliki nama-nama yang indah dan penuh makna. Lantas, siapakah yang memberi nama surat ...