Selasa , 19 Maret 2019
Home / Artikel / Sejarah Islam di Kabupaten Fak-Fak Papua yang Berusia Ratusan Tahun
images (1)_1544502453670

Sejarah Islam di Kabupaten Fak-Fak Papua yang Berusia Ratusan Tahun

Syiar Islam di Bumi Papua terjadi terutama terkonsentrasi di wilayah Papua Barat, mulai dari Raja Ampat hingga Fakfak.

Ada beberapa versi mengenai masuknya Islam di Papua. Kebanyakan sumber sejarah masuknya Islam di Papua berdasarkan sumber-sumber lisan masyarakat setempat.

Versi Papua, misalnya, berdasarkan legenda di masyarakat setempat, khususnya di Fakfak. Versi ini menyebut Islam dibawa dari luar oleh kesultanan Tidore sebagai pedagang ke daerah pesisir Papua untuk membeli rempah-rempah seperti pala, pelepah kayu, bulu burung cendrawasih, karet, dan sebagainya.

220px-NNG_afd_FakFak
Wilayah kabupaten Fak-Fak dipesisir Papua

Disamping pendapat para ahli, di pulau Papua masih terdapat bukti-bukti material yang merupakan jejak peninggal Islam di Tanah Papua sejak lama.

Di antaranya tiga masjid kuno, masing-masing yaitu Masjid Tunasgain di kampung Tunasgain, distrik Fakfak Timur;

Mosque4 (1)
Masjid Tunasgain adalah salah satu Masjid tertua di Papua. Usianya berkisar mencapai 400 tahun. (Sumber gambar: twitter @CondetWarrior)

Masjid Tubirseram di pulau Tubirseram; dan Masjid Patimburak di kampung Patimburak yang juga sudah berusia ratusan tahun.

Selain bukti masjid-masjid tersebut, di Desa Darembang Kampung Lama juga terdapat peninggalan arkeologis berupa tiang-tiang kayu yang dicat.

Melihat dari ukiran dan bentuknya, tiang-tiang kayu ini diyakini sebagai sokoguru sebuah masjid yang sudah keropos.

Terdapat juga bukti lain berupa naskah-naskah kuno. Di kota Fakfak, masih tersimpan 5 (lima) buah manuskrip berumur 800 tahun berbentuk kitab dengan berbagai ukuran yang diamanahkan kepada Raja Patipi XVI, H. Ahmad Iba.

ini-al-quran-kuno-bukti-islam-masuk-papua-sejak-1224
Raja Patipi ke XVI, H. Ahmad Iba menunjukkan Al-Qur’an kuno di rumahnya di Fakfak, Papua. (Sumber Foto: tribunislam.com)

Manuskrip tersebut berupa mushaf Al-Qur’an yang berukuran 50 cm x 40 cm. Mushaf ini bertulis tangan di atas kulit kayu yang dirangkai menjadi seperti kitab zaman sekarang.

Empat lainnya, salah satunya bersampul kulit rusa, merupakan kitab hadis, ilmu  tauhid dan kumpulan doa.

Ada tanda tangan dalam kitab itu berupa gambar tapak tangan dengan jari terbuka. Tapak tangan yang sama juga dijumpai di Teluk Etna (Kaimana) dan Merauke.

Sedangkan tiga manuskrip berikutnya dimasukkan ke dalam buluh bambu dan ditulis di atas daun koba-koba, pohon asli Papua yang kini mulai punah.

Ada pula manuskrip yang ditulis di atas pelepah kayu, mirip manuskrip daun lontara (Fakfak: daun pokpok).

Berdasarkan tradisi lisan masyarakat setempat, inilah 5 (lima) manuskrip pertama yang masuk ke Papua yang dibawa oleh Syekh Iskandarsyah dari kerajaan Samudera Pasai.

Syekh Iskandarsyah melakukan perjalanan dakwah ke pulau Nuu War (Fakfak: Papua) tepatnya di daerah Mesia atau Mes, yang kini bernama distrik Kokas kebupaten Fakfak pada tanggal 17 Juli 1214 M.

Bila melihat dari tahunnya, bisa diartikan penyebaran Islam di Papua sezaman dengan penyebaran Islam di pulau Jawa.

 

Sumber : ganaislamika

Comments

comments

Tentang Danu Wijaya

Danu Wijaya
Admin pengurus AlimanCenter.com

Lihat Juga

brigjen-polisi-umar-septono

Meneladani Umar Septono, jenderal polisi yang rendah hati

Umar Septono bukan polisi rendahan. Pangkatnya inspektur jenderal alias bintang dua. Dia tidak sombong. Jabatan baginya ...