Sabtu , 25 November 2017
Home / Artikel / Soal Pidato ‘Pribumi’ Anies, Wapres JK: Itu Konteksnya Sejarah
L4twxq6Wuy

Soal Pidato ‘Pribumi’ Anies, Wapres JK: Itu Konteksnya Sejarah

Jakarta – Pidato perdana Anies Baswedan sebagai Gubernur DKI Jakarta mencantumkan kata ‘pribumi’ dan menuai kontroversi. Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) menilai pidato Anies dalam konteks sejarah kolonialisme dan bukan terkait rasisme.

“Kita lihat konteksnya. Pidatonya bicara tentang kolonial, dalam jaman kolonial. Gini, konteksnya kan sejarah dia menceritakan. Jadi jangan hanya cut satu kata, dalam konteks apa dia bicara,” kata JK di kantor Wapres, Jalan Medan Merdeka Utara, Jakarta Pusat, Selasa (17/10/2017).

Menurutnya, Anies berbicara dalam konteks kolonial. Karena itu, masyarakat diminta untuk bangkit dan tidak bersikap diskriminatif.

“Dia bicara dalam konteks sejarah. Kalian bisa (dengar) ulang. Pada zaman kolonial pribumi terpuruk, sekarang jangan lagi, harus maju,” ucapnya.

“Jadi dia bicara konteks sejarah tidak bicara konteks diskriminatif. Dulu diskriminatif, sekarang jangan. Kalau kita mau balik dia punya perkataan kan,” sambungnya.

Sebelumnya, Anies menjelaskan konteks pidato yang tengah ramai diperbincangkan di media sosial itu. Anies menyebut apa yang dia sampaikan itu terkait dengan masa penjajahan.

Hal yang menjadi heboh di media sosial adalah bagian pernyataan Anies yang berbunyi “Dulu kita semua pribumi ditindas dan dikalahkan. Kini telah merdeka, kini saatnya menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Jangan sampai Jakarta ini seperti yang dituliskan pepatah Madura. Itik telor, ayam singerimi. Itik yang bertelor, ayam yang mengerami”.

Berbagai media memotong kalimat pribumi dalam pidato lengkapnya, terutama media pendukung ahok. Anies pun mengklarifikasi konteks dalam pernyataan tersebut.

“Itu pada konteks pada era penjajahan. Karena saya menulisnya juga pada zaman penjajahan dulu karena Jakarta itu kota yang paling merasakan penjajahan Belanda,” kata Anies.

Anies menyesalkan berbagai pihak yang terpancing isu dari pemotongan kata oleh media.

“Pokoknya itu digunakan untuk menjelaskan era kolonial Belanda. Jadi anda baca teks itu bicara era kolonial Belanda, ” jelas Anies lagi.

Ibarat Anies menjelaskan sebagai dosen yang sekaligus rektor, namun ditangkap orang awam dan didengar mahasiswa tidur. Jadi begini salah artian.

 

Disadur : Detik

Comments

comments

Tentang Danu Wijaya

Danu Wijaya
Admin pengurus AlimanCenter.com

Lihat Juga

mualaf-tengah-berdoa-ilustrasi-_140915202951-955

Ini Doa Ketika Dipuji Orang

Pujian Selalu datang ketika melakukan sesuatu yang berarti bagi orang lain, namun apakah diperbolehkan apabila ...