Kamis , 29 Juni 2017
Home / Konsultasi / Apakah Allah Takut Hidup Sendiri?
Emilio Küffer_Tree Of Life _YkZkSWY

Apakah Allah Takut Hidup Sendiri?

Perkenalkan nama saya Ali Farhan, saya lahir dari keluarga yang taat beragama & berpengetahuan tentang agama islam, Saya ingin memperbaiki tauhid saya, Saya tidak mau hanya karna lahir dalam islam saya jadi islam,

Saya minta tolong kalau bisa jawabannya dikirim ke email saya ineedaxxx@gmail.com.

Pertanyaan saya, apakah Allah takut hidup sendiri?

Buktinya Dia menciptakan manusia, udara, bumi, langit, surga dan neraka, Dia mengatakan manusia yang butuh Dia, Dia tidak membutuhkan apapun dari manusia. Jadi buat apa dia menggunakan kemahahebatannya untuk hal yang tak bermanfaat buat Dia? bukankah Dia akan tetap kekal tanpa ciptaannya? Apa dia merasa kesepian tanpa ciptaannya? 

Dia harusnya tidak menciptakan apapun, tidak menciptakan, manusia, udara, bumi, langit, surga maupun neraka. Agar tak ada yang menderita di neraka & bahagia di surga.

Menurut saya segala masalah berasal dari akibat penciptaan yang Dia lakukan.

Dia memang yang memiliki kehendak dan bisa berkehendak sesuai keinginannya tapi apakah tidak lebih adil bila seharusnya Dia hidup sendiri tanpa menciptakan apapun (manusia, udara,bumi, langit, surga & neraka).

Jika Dia takut hidup sendiri berarti artinya Dia kekurangan.

Tolong bantu saya.

 

Jawaban:

Assalamu’alaikum warrahmatullahi wabarakatuh

Seorang mukmin yang hakiki benar-benar yakin akan kebijaksanaan Allah atas segala yang Ia perbuat. Ia juga yakin dengan sifat-sifat-Nya yang suci dan mulia. Diantara sifat Allah bahwa ia adalah Dzat yang Maha Berdiri sendiri yang artinya tidak membutuhkan kepada siapa pun dan apapun juga. Ia juga adalah Dzat yang berbeda dengan makhluk-Nya, yang berarti bahwa Ia Maha sempurna. Sempurna dalam penciptaan dan aturan-Nya. Ini adalah sebuah keyakinan yang harus dimiliki oleh setiap mukmin. Allah SWT berfirman, “Wahai manusia, kalian adalah makhluk yang butuh kepada Allah. Sedangkan Allah Maha Kaya dan Maha Terpuji.” (QS. Fathir: 15).

Namun, seringkali manusia mengukur Allah dengan cara berpikir dan logikanya sendiri. Ia berusaha menganalisa aturan-aturan Allah sesuai dengan akalnya yang serba terbatas. Akal manusia yang serba terbatas ini tidak bisa menjangkau apa yang Allah perbuat dan tetapkan. Sebagaimana halnya seorang pasien yang diberikan keterangan oleh dokter, ia tidak bisa menganalisa secara detail keterangan dari dokter tersebut. Bahkan seringkali kita patuh saja dengan apa yang diminta olehnya.

(Baca juga: Ringkasan Taklim: Nama dan Sifat-sifat Allah)

Begitu juga antara kita dengan Allah. Apa yang telah Allah tetapkan, bukanlah menjadi tugas kita untuk menganalisa sebab dan alasannya. Jika tidak, akan semakin banyak pertanyaan yang muncul di dalam diri kita.

Mengapa shalat dzuhur 4 rakaat, mengapa puasa dari terbit fajar sampai terbenam matahari, mengapa haji harus wukuf di arafah, dan sebagainya. Semakin kita berusaha masuk ke dalamnya, maka kita akan semakin jauh dariNya. Sebab, setan akan terus menggoda dan membisikkan di dalam diri kita hal-hal yang dapat meruntuhkan keimanan kita pada-Nya. Dalam urusan agama, ada perkara yang memang bisa difahami hikmah dan alasannya. Tapi banyak perkara agama yang tak bisa kita jangkau maksud dan hikmahnya.

Oleh sebab itu, perkuat keimanan kita kepada Allah, insyaAllah kita akan hidup tenang dan jauh dari keragu-raguan. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh imam Ahmad,

Sesungguhnya salah seorang kamu akan didatangi syetan, lalu bertanya : “Siapakah yang menciptakan kamu?” Lalu dia menjawab : “Allah”. Syetan berkata : “Kemudian siapa yang menciptakan Allah?”. Jika salah seorang kamu menemukan demikian, maka hendaklah dia membaca “amantu billahi wa rasulih” (aku beriman kepada Allah dan RasulNya), maka (godaan) yang demikian itu akan segera hilang darinya”.

(Baca juga: 7 Golongan yang Mendapat Naungan Allah)

Tugas kita di dunia adalah beribadah. Allah tidak akan menanyakan kita tentang sejauh mana kita mengetahui sebab dan alasan penciptaan alam semesta ini. Tapi yang dimintai pertanggung jawaban adalah ibadah dan amal shaleh kita. Semakin kita disibukkan dengan perkara-perkara syubhat, kita akan semakin tertinggal dalam amal shaleh.

Wallahu a’lam.

Wassalamu’alaikum warrahmatullahi wabarakatuh

Ustadz Fahmi Bahreisy, Lc

Ingin konsultasi seputar ibadah, keluarga, dan muamalah? Kirimkan pertanyaan Anda kesini 

Comments

comments

Tentang Fahmi Bahreisy, Lc

Fahmi Bahreisy, Lc

Lihat Juga

unnamed-6

Apakah Uang Duka Termasuk Waris ?

Oleh : Ust Bachtiar Nasir Kalau kita runut dari niat para pentakziyah ketika memberikan uang ...

Tinggalkan Balasan