Jumat , 28 Juli 2017
Home / Konsultasi / Konsultasi Ibadah / Shalat Orang Tua yang Sering Buang Air
IMG_20151222_084931

Shalat Orang Tua yang Sering Buang Air

Assalamu’alaikum. Bagaimanakah cara shalat bagi orang sakit dewasa yang sudah diatas 60 tahun umurnya, dengan kondisi tidak bisa wudhu sempurna (terbaring di tempat tidur) dan selalu menggunakan pampers dimana aktifitas BAB nya terbilang kerap / sering. Apakah harus selalu diganti setiap akan shalat? Jazakallahu atas jawaban ustadz.

 

Jawaban :

Assalamu alaikum wr.wb.

Bismillahirrahmanirrahim. Ash-shalatu wassalamu ala Rasulillahi wa ala alihi wa shahbihi ajmain. Amma ba’du:

Seperti yang kita ketahui bersama bahwa suci dari hadats merupakan salah satu syarat sah shalat. Hal ini berdasarkan sabda Nabi saw, “Shalat salah seorang di antara kalian tidak diterima sebelum berwudhu.” (HR Muttafaq alayh).

Lalu jika seseorang karena kondisi tertentu tidak bisa berwudhu, misalnya tidak ada air atau ada air tetapi tidak bisa memergunakannya karena khawatir berbahaya atau bisa menyebabkan sakit, maka dalam kondisi demikian boleh tayammum (QS al-Maidah: 6).

Namun selama masih ada air dan selama masih bisa memergunakannya meski dengan bantuan orang, maka tidak boleh tayammum. Lalu bagaimana dengan kondisinya yang sering buang air?

Dalam kondisi buang airnya terus-menerus (nyaris tidak pernah berhenti) maka hukumnya seperti wanita mustahadhah. Yakni, setiap kali akan melakukan shalat (ketika waktu shalat sudah masuk), hendaknya ia membersihkan kotoran yang ada lalu memakai pembalut atau semacam pampers kemudian berwudhu dan shalat.

Adapun kalau buang airnya tidak terus-menerus, hendaknya menunggu saat tidak buang air lalu membersihkan diri, berwudhu, dan shalat. Selanjutnya, bagi orang yang kondisinya sulit semacam itu, syariat juga memberikan keringanan untuk menjamak shalat (antara zuhur dan asar) serta (antara maghrib dan isya).

Bahkan, shalat jamak tersebut jika mungkin bisa dilakukan dengan satu wudhu. Caranya shalat zuhur dan asar dilakukan di penghujung asar (dita’khir) lalu shalat maghrib dan isya dilakukan di awal maghrib (ditaqdim).

Akhirnya, kami doakan semoga Allah menerima seluruh amal ibadahnya, dan kepada yang membantunya dalam melaksanakan ibadah juga semoga diberi ganjaran yang berlipat ganda. Amin.

Wallahu a’lam. Wassalamu alaikum wr.wb.

ed : danw

Comments

comments

Tentang Fauzi Bahreisy

Fauzi Bahreisy
Pengasuh rubrik konsultasi AlimanCenter.Com

Lihat Juga

unnamed-6

Apakah Uang Duka Termasuk Waris ?

Oleh : Ust Bachtiar Nasir Kalau kita runut dari niat para pentakziyah ketika memberikan uang ...

Tinggalkan Balasan