Kamis , 29 Juni 2017
Home / Konsultasi / Konsultasi Umum / Apakah Menceritakan Nikmat Termasuk Riya
ngobrol

Apakah Menceritakan Nikmat Termasuk Riya

Assalammu alaikum.

Pak Ustadz, ada teman bertanya kepada kita “kamu skrg sudah berubah menjadi Alim”. Apabila kita menceritakan kepada teman atau orang bahwa kita bertobat seperti mendapat hidayah dan menceritakan kenapa kita bisa bertobat..apakah ini termasuk sifat riya? Mohon penjelasanny pak ustadz.. terima kasih. wassalammualaikum Jawaban:

Assalamu alaikum wr.wb.

Bismillahirrahmanirrahim. Alhamdulillahi Rabbil alamin. Ash-shalatu wassalamu ala Rasulillahi wa ala alihi wa shahbih ajmain. Amma ba’du.

Pertama-tama perlu diketahui bahwa riya menurut Nabi saw adalah syirik kecil yang harus dihindari karena bisa merusak amal. Dalam surat al-Ma’un Allah mengancam orang yang melakukan ibadah karena riya. Dalam surat al-Baqarah 264 juga disebutkan bahwa riya merupakan karakter orang munafik. Apa itu riya? Riya terambil dari kata ru’yah (melihat). Secara istilah riya adalah menunaikan atau memerlihatkan ibadah dan kebaikan dengan tujuan dilihat dan dipuji oleh manusia. Istilah lain yang hampir sama dengan riya adalah sum’ah. Sum’ah terambil dari kata sima’ (mendengar). Sum’ah adalah menunaikan amal kebaikan guna didengar dan dipuji oleh manusia. Jadi kalau dalam riya pujian yang diharapkan adalah lewat cara dilihat, sementara dalam sum’ah pujian yang diharapkan adalah lewat cara didengar.

Jadi riya dan sum’ah sama-sama bertujuan mendapatkan kedudukan dan pujian manusia dengan cara memerlihatkan atau memperdengarkan amal kebaikan pada mereka. Keduanya (riya dan sum’ah) adalah lawan dari ikhlas. Sebab, kalau riya intinya ingin mendapat pujian manusia, ikhlas ingin mengharap ridha Allah; bukan pujian manusia. Lalu bagaimana dengan menceritakan kebaikan dan karunia berupa petunjuk yang kita dapatkan? Menceritakan nikmat Allah yang telah memberikan petunjuk, yang telah membuatnya bertobat, yang telah memberikan taufik menuju jalan kebaikan adalah bentuk syukur nikmat. Allah sendiri menegaskan dalam Alquran, “Adapun terkait nikmat Tuhanmu hendaknya kau ungkapkan.” (QS adh-Dhuha: 11). Ibnul Arabi menegaskan, “Jika engkau mendapat kebaikan atau mengetahui kebaikan, sampaikan kepada saudara-saudaramu yang bisa dipercaya dalam rangka bersyukur; bukan untuk menyombongkan diri.”

Dengan demikian jelas terdapat perbedaan antara riya (juga sum’ah) dan menceritakan nikmat dalam rangsa bersyukur. Semua tergantung pada niat dan motifnya. Jika Anda menceritakan kisah tobat Anda dan petunjuk yang didapat dalam rangka syukur dan mengakui nikmat-Nya, serta untuk menjadi pelajaran bagi yang lain hal itu merupakan sebuah kebaikan. Namun jika niatnya untuk menyombongkan diri dan mendapat pujian orang maka ia termasuk riya. Wallahu a’lam.

Wassalamu alaikum wr.wb.

Comments

comments

Tentang Fauzi Bahreisy

Fauzi Bahreisy
Pengasuh rubrik konsultasi AlimanCenter.Com

Lihat Juga

55Laney69_Vintage Bottle_YkdiRg

Konsumsi Obat Lewat Waktu Fajar Saat Puasa

Assalamualaikum wr wb. Pak Ustad, saat ini saya sedang hamil dan oleh dokter saya diberikan ...

Tinggalkan Balasan