0878 8077 4762 [email protected]

Anjing pun Dimuliakan Lantaran Bergaul dengan Orang-Orang Shalih

Qithmir adalah satu-satunya anjing yang diceritakan dalam Al-Qur’an dan dipercaya sebagai satu-satunya anjing yang masuk Surga. Qithmir adalah anjing yang ikut beserta tujuh pemuda Ashabul Kahfi yang lari dari kejaran raja yang lalim.
“Dan anjing mereka membentangkan kedua lengannya di muka gua…” (QS. Al-Kahfi: 18)
“Nanti (ada orang yang akan) mengatakan (jumlah mereka) adalah tiga orang yang keempat adalah anjingnya, dan (yang lain) mengatakan: ‘(jumlah mereka) adalah lima orang yang keenam adalah anjing nya,’ sebagai terkaan terhadap barang yang gaib; dan (yang lain lagi) mengatakan: (jumlah mereka) tujuh orang, yang ke delapan adalah anjingnya…” (QS. Al-Kahfi: 22).
Ayat ini menjelaskan bahwa anjing saja bisa meraih derajat yang tinggi karena ia bersahabat dan bergaul dengan orang-orang shalih dan wali-wali Allah SWT. Sehingga Allah SWT mengabarkan hal itu dalam kitab-Nya. Lalu, bagaimana dengan kaum Mukminin yang bergaul serta mencintai wali-wali dan orang-orang shalih, tentulah mereka akan lebih tinggi lagi derajatnya.
Bahkan ayat ini mengabarkan tentang kegembiraan dan ketentraman bagi kaum Mukminin yang memiliki kekurangan yang jauh dari derajat kesempurnaan. Namun mereka mencintai Rasululllah SAW.
Dan demikian juga Imam Ibnu Katsir ra berkata dalam tafsir ayat ini:
“Maka anjing ini mendapatkan barakahnya para pemuda Ashabul Kahfi. Anjing pun bisa mengalami seperti yang para pemuda shalih alami, seperti tidur dalam waktu ratusan tahun. Ini adalah faidah bersahabat dengan orang-orang shalih. Hingga anjing ini disebut-sebut dan dikabarkan (dalam Al-Quran) dan memiliki kedudukan mulia.
Dikatakan, bahwa anjing ini adalah anjing pemburu milik salah seorang dari mereka. Ada yang mengatakan itu adalah anjing tukang masaknya raja, namun sang anjing menyukai para pemuda shalih, maka anjing inipun menemani mereka.”
Karena itu, sebagai seorang Muslim kita dilarang untuk berputus asa dari rahmat Allah SWT. Dan salah satu cara agar kita mencapai derajat mulia adalah bergaul dengan orang-orang shalih.
 
Sumber: Forumsalafy

Banyak Masalah? Shalatlah

Diantara amal yang membuat seseorang mendapatkan keberuntungan adalah shalat, baik fardu maupun sunah.
“Mereka itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhan mereka dan merekalah orang-orang yang beruntung,” (QS. Al-Baqarah: 5).
Mereka yang dimaksud ayat ini adalah orang yang beriman, mendirikan shalat, bersedekah dari sebagian hartanya, beriman kepada Al-Qur’an, serta meyakini hari akhirat.
Shalat secara bahasa artinya “doa”. Orang yang shalat berarti orang yang berdoa. Dalam hal ini, berdoa kepada Allah. Shalat ini ditujukan sebagai bentuk penghambaan dan pendekatan diri kepada Allah.
Seperti dikatakan dalam hadits, orang yang shalat sesungguhnya tengah bermunajat kepada Allah. Ia tengah berhadapan dengan Allah. Karena itu, seluruh bacaan shalat adalah doa, dzikir, dan bacaan Al-Qur’an.
Orang yang shalat, seperti disebutkan di dalam ayat Al-Qur’an di atas, termasuk orang yang beruntung, tidak hanya dalam kehidupan dunia, tetapi juga dalam kehidupan akhirat.
Ia beruntung karena dengan shalatnya, Allah menjadi dekat dengannya, dan dengan shalatnya pula ia tercegah dari perbuatan keji dan mungkar atau perbuatan buruk,
“Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar,” (QS. Al-Ankabut: 45).
Dan orang yang selalu dekat dengan Allah akan selalu dicintai oleh-Nya, jangan segan-segan jika hidup Anda dirundung masalah, maka segera ambil air wudhu, lalu shalat, dan adukanlah pada Allah yang menggenggam hidup dan mati kita.
 
Sumber: Khazanah Republika

Wahai Umar, Kenapa Engkau Diam Saja ketika Dicaci Pemabuk Itu?

Umar bin khaththab, manusia terbaik setelah Abu Bakar ash-Shiddiq, adalah sahabat Rasulullah yang berhak mewarisi surgaNya Allah.
Alkisah, dalam sebuah inspeksi Umar bin Khaththab bertemu dengan salah satu rakyatnya yang tengah mabuk. Umar pun menangkapnya dan akan memberinya hukuman
Namun, ketika pemabuk itu ditangkap dan akan dihukum, orang itu tidak menerima. Pemabuk itu marah-marah, hingga Umar dijadikannya sebagai sasaran kemarahan.
Lantaran tak sadarkan diri akibat mabuk, keluarlah kalimat sumpah serapah, hinaan, caci maki, umpatan dan kalimat sampah lainnya dari mulut si pemabuk itu kepada Khalifah.
Namun, Umar justru diam ketika dirinya dicaci dan dimaki-maki. Umar bermurah hati, tak menanggapi perkataan pemabuk itu. Tak lama kemudian, Umar segera membebaskannya.
Melihat kejadian yang tak llumrah itu, seorang rakyatnya bertanya kepada Sang Khalifah, “Ya Amirul Mukminin, mengapa setelah dicaci, engkau justru melepaskan orang itu?”
“Aku membiarkannya karena ia telah membuatku marah,” jawab Umar datar
“Andai aku tetap menghukumnya,” lanjutnya kemudian, “berarti amarahku telah mengalahkan jiwaku.”
Umar sengaja melepaskannya, karena ia tak mau mengotori dirinya dengan dendam dan kebencian. Ia telah keluar dari sifat kebinatangan menuju sifat mulia yang tak dimiliki oleh kebanyakan manusia lainnya.
“Aku tak ingin,” lanjut Umar agak berat, “jika aku memukul seorang muslim,” hentinya sejenak, “terdapat nafsuku di dalamnya.”
Sumber : Kisah Hikmah

Toleransi Muslim di Hari Raya Nyepi

Praktik toleransi sudah terawat secara turun temurun di Desa Tanon, Kecamatan Papar, Kediri, Jawa Timur (Jatim).
Kebiasaan saling menjaga saat perayaan Nyepi sudah dilakukan antarpemeluk agama Islam dan Hindu sejak zaman kakek buyut mereka.
Saat ritual mengarak ogoh-ogoh dalam menyambut perayaan Nyepi kemarin, puluhan remaja masjid Desa Tanon terlihat ikut di antara rombongan pengarak ogoh-ogoh.
“Rutin setiap ada acara keagamaan kami, selalu keamanannya dari remaja masjid,” kata Sekretaris Panitia Hari Raya Nyepi Desa Tanon, Ristan Arga Hendrawan kepadaTribun Bali, Senin (27/3/2017) malam.
Pun demikian, saat Hari Raya Idul Fitri petugas keamanan dari warga Hindu juga berperan aktif saat acara takbir keliling.
“Besok setelah Nyepi warga Muslim juga berdatangan ke rumah kami saling berkunjung,” imbuhnya.
Karena saling menjaga inilah, kata dia, setiap perayaan agama apapun di kampung ini selalu damai dan berjalan lancar.
“Saat mengarak ogoh-ogoh tidak pernah namanya ada ribut,” tegasnya.
Tradisi toleransi ini juga terjaga sampai lingkup keluarga.
“Paman saya Muslim, jadi untuk menghormati tetangga kami yang muslim juga lampu rumah tetap kami nyalakan,”terangnya.
Hal yang sama juga berlaku di keluarga yang lain. Di kampung ini tidak jarang ada keluarga yang berlainan agama dalam satu rumah.
“Karena itulah sebagai toleransi kami lampu tetap menyala. Tapi bagi kami yang Hindu tetap melaksanakan puasa dan menyepi di kamar,” ungkap pria yang menjadi tokoh pemuda Hindu ini.
Di Desa Tanon jumlah warga Hindu menjadi terbesar nomor dua setelah Islam.
“Ada sekitar 160 kepala keluarga (KK) dari sekitar 800 an KK warga di Desa Tanon, ada juga protestan di sini,” jelas dia saat ditemui di Pura Sri Aji Joyoboyo. (TribunNews)

Inilah 3 Keutamaan Bulan Rajab yang Perlu Diketahui

Ibnu Katsir menerangkan dalam Tafsir Al Qur’an Al ‘Adhim bahwa Rajab berasal dari kata tarjib yang artinya menghormat. Dari namanya saja, Rajab adalah bulan yang layak dihormati dan dimuliakan.
1. Rajab adalah Bulan Haram
Bulan Rajab merupakan salah satu bulan dari empat bulan haram (arba’atun hurum). Karenanya bulan Rajab menjadi istimewa dibandingkan bulan-bulan lainnya.

إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ

Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah itu ada 12 bulan. Seluruhnya dalam ketetapan Allah di hari Dia menciptakan langit dan bumi. Di antara (12 bulan) itu terdapat empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menzalimi dirimu dalam bulan yang empat itu…” (QS. At Taubah : 36)
Ketika menjelaskan ayat ini, Ibnu Katsir dalam tafsirnya mengatakan bahwa : “Sanksi berbuat dosa di bulan-bulan haram jauh lebih berat dibandingkan bulan-bulan lainnya, selain bulan suci Ramadhan. Sebaliknya, amal shalih di bulan-bulan haram pahalanya lebih besar dibandingkan di bulan lainnya, kecuali Ramadhan.”
Meskipun diterangkan amal shalih di bulan Rajab lebih besar pahalanya, tidak ada amal khusus di bulan Rajab ini. Baik berupa mandi awal Rajab, shalat malam maupun puasa yang dikhususkan pada tanggal-tanggal tertentu.
2. Rajab adalah Bulan yang Dekat dengan Ramadhan
Rajab adalah bulan yang dekat dengan bulan Ramadhan. Antara Rajab dan Ramadhan hanya dipisahkan dengan Sya’ban. Di antara kebiasaan para ulama, mereka menyiapkan diri menyambut bulan Ramadhan sejak bulan Rajab. Doa yang sangat populer saat masuk bulan Rajab yaitu :
اَللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِى رَجَبَ وَ شَعْبَانَ وَ بَلِغْنَا رَمَضَانَ
“Ya Allah berkahilah kami di bulan Rajab dan Sya’ban, serta pertemukanlah kami dengan bulan Ramadhan” (H.R. Al-Baihaqi dan Thabrani, tapi derajatnya dhaif menurut Syaikh Al Albani.
Namun, ada juga doa sejenis dengan matan berbeda dalam riwayat Ahmad.

اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِى رَجَبٍ وَشَعْبَانَ وَبَارِكْ لَنَا فِى رَمَضَانَ

“Ya Allah berkahilah kami di bulan Rajab dan Sya’ban, serta berkahilah kami dalam bulan Ramadhan” (HR. Ahmad)
Jika sebuah hadits diketahui dhaif/lemah, tidak boleh diyakini sebagai sabda Rasulullah. Namun, kebolehan berdoa dengan berbagai bahasa apa saja, maka kalimat doa tersebut diperbolehkan juga.
Dan banyak ulama yang membaca doa tersebut. Sebagai permohonan kepada Allah agar diberkahi di bulan Rajab, Sya’ban dan dipertemukan dengan bulan Ramadhan.
3. Rajab adalah Bulan Isra’ Mi’raj
Kendati masih diperselisihkan oleh sejumlah ulama, termasuk Syaikh Shafiyurrahman Al Mubarakfury dalam Ar Rahiqul Makhtum. Namun tanggal 27 Rajab diyakini sebagai tanggal terjadinya Isra’ Mi’raj, terutama oleh para ulama di Indonesia.
Isra’ Mi’raj adalah perjalanan luar biasa yang melalui peristiwa itu Rasulullah mendapatkan perintah shalat lima waktu. Jika perintah yang lain diturunkan kepada Rasulullah melalui malaikat Jibril. Tapi khusus perintah untuk shalat lima waktu ini, Rasulullah ‘dipanggil’ langsung oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Maka sepatutnya, di bulan Rajab ini kita memperbaiki kualitas shalat kita dan setelah itu kita memperbaiki kualitas jiwa dengan puasa wajib di bulan Ramadhan.
Wallahu a’lam bish shawab

Perumpamaan Nyamuk dalam Al Qur'an

Al-Quran seringkali mengajak manusia untuk menginvestigasi alam. Melihat bukti dan tanda Kekuasaan Allah. Seperti penyebutan Nyamuk dalam Q.S. Al Baqarah ayat 26,
Sesungguhnya Allah tidak malu membuat perumpamaan berupa nyamuk atau yang lebih rendah dari itu…”
Seluruh alam semesta dengan semua elemennya merupakan tanda-tanda yang mengungkapkan bahwa mereka semua ‘diciptakan’. Dan manusia bertanggungjawab untuk mengenal tanda-tanda ini dan mengakui Sang Maha Pencipta, Allah SWT. Semua makhluk hidup memiliki tanda-tanda ini, namun terdapat beberapa hewan yang secara spesifik telah disebutkan dalam Al-Quran. Nyamuk adalah salah satunya.
Setiap hari terdapat penemuan-penemuan baru seputar makhluk kecil nan lemah ini (nyamuk). Baru-baru ini para ilmuwan menemukan bahwa nyamuk dapat mencari tahu di mana posisi seseorang dari hembusan nafas orang tersebut! Allah telah membekali nyamuk dangan peralatan teknologi yang dapat menangkap gas karbon yang dikeluarkan (dihembuskan) oleh manusia, menganalisis kuantitasnya (jumlahnya) dan mengetahui sumbernya.
Dan para ilmuwan menekankan bahwa serangga ini sangat sensitif terhadap gas karbon, bahkan dia memiliki kemampuan lebih unggul dari perangkat yang paling kompleks yang dibuat oleh manusia!
Maka apakah kita mengetahui pentingnya makhluk ini dan sejauh mana kompleksitasnya? Apakah tidak pantas kalau dia (nyamuk) disebutkan oleh Allah dalam Kitab-Nya (al-Qur’an)? Jadi marilah kita dengarkan firman Al-Haq (Allah) Subhanahu wa Ta’ala ketika membantah orang-orang kafir yang menyanggah penyebutan serangga ini dalam Al Qur’an:

إِنَّ اللَّهَ لاَ يَسْتَحْيِي أَنْ يَضْرِبَ مَثَلًا مَا بَعُوضَةً فَمَا فَوْقَهَا ۚ فَأَمَّا الَّذِينَ آمَنُوا فَيَعْلَمُونَ أَنَّهُ الْحَقُّ مِنْ رَبِّهِمْ ۖ وَأَمَّا الَّذِينَ كَفَرُوا فَيَقُولُونَ مَاذَا أَرَادَ اللَّهُ بِهَٰذَا مَثَلًا ۘ يُضِلُّ بِهِ كَثِيرًا وَيَهْدِي بِهِ كَثِيرًا ۚ وَمَا يُضِلُّ بِهِ إِلَّا الْفَاسِقِينَ (26)

Sesungguhnya Allah tidak malu membuat perumpamaan berupa nyamuk atau yang lebih rendah dari itu. Adapun orang-orang yang beriman, maka mereka yakin bahwa perumpamaan itu benar dari Tuhan mereka, tetapi mereka yang kafir mengatakan: “Apakah maksud Allah menjadikan ini untuk perumpamaan?”. Dengan perumpamaan itu banyak orang yang disesatkan Allah, dan dengan perumpamaan itu (pula) banyak orang yang diberi-Nya petunjuk. Dan tidak ada yang disesatkan Allah kecuali orang-orang yang fasik.” (QS. Al-Baqarah: 26)
Fakta Yang Menakjubkan Seputar Nyamuk:
1. Ia adalah betina
Kata “ba’udhatan” dalam ayat yang berarti nyamuk, merupakan kata benda bentuk feminin, sehingga mengindikasikan bahwa nyamuk rumah yang sering dijumpai manusia adalah nyamuk betina.
Jika fakta yang menyatakan bahwa nyamuk betina-lah yang menghisap darah manusia, yang banyak terbang di dalam rumah-rumah manusia, sedangkan nyamuk jantan menghisap nektar dan sari bunga, baru diketahui beberapa puluh tahun ini. Maka Al-Qur’an telah menyebutkannya sejak dahulu secara tersirat 15 abad yang lalu.
2. Ia Memiliki seratus mata di kepalanya
3. Di dalam mulutnya teradapat 48 gigi
4. Ia memiliki tiga jantung di dalam tubuhnya lengkap dengan bagian-bagiannya
5. Dia memiliki enam pisau di belalainya, dan masing-masing pisau tersebut memiliki fungsi yang berbeda
6. Dia memiliki tiga sayap di masing-masing sisi
7. Dia dilengkapi dengan sistem pendeteksi panas yang bekerja seperti infra merah, dan tugasnya memantulkan (merubah) warna kulit manusia pada kegelapan menjadi warna ungu hingga dapat dilihat olehnya.
8. Dibekali dengan sistem bius (anestesi) lokal, yang membantunya ketika menusukkan jarum (sengatnya) ke kulit manusia tanpa mereka rasakan. Dan apa yang dirasakan oleh manusia seperti gigitan (sengatan) ketika digigit nyamuk, maka itu adalah akibat dari penghisapan darah
9. Dilengkapi dengan sisten penguji (tes) darah, maka ia tidak menyedot semua jenis darah.
10. Dilengkapi dengan perangkat untuk mencairkan darah, sehingga darah tersebut dapat mengalir di belalainya yang sangat kecil.
11. Dan yang paling aneh dari ini semua adalah bahwa ilmu pengetahuan modern menemukan bahwa di atas punggung nyamuk hidup serangga yang sangat kecil, sampai-sampai ia tidak bisa dilihat kecuali dengan Mikroskop. Dan ini adalah fakta yang telah disebutkan dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
”Sesungguhnya Allah tidak malu membuat perumpamaan berupa nyamuk atau yang lebih rendah dari itu….” (QS. Al-Baqarah: 26)
 
Subhanallah!!