0878 8077 4762 [email protected]
Lautan Massa Aksi 112 di Istiqlal Meluber ke Jalan sampai Senen dan Gambir

Lautan Massa Aksi 112 di Istiqlal Meluber ke Jalan sampai Senen dan Gambir

Masya Allah… Laa haula walaa quwwata illa billah. Sungguh Allah lah Yang Berkuasa. Walau banyak terjadi upaya penggembosan terhadap Aksi 112 (mirip saat Aksi 212, seperti pelarangan bus, penghadangan, provokasi, dan lain-lain), namun ratusan ribu Umat Islam tetap membanjiri lokasi acara Masjid Istiqlal.
Masjid Terbesar se Asia Tenggara dan Asia Timur yang punya kapasitas 200.000 jamaah ini tak bisa menampung peserta Aksi 112.
 
16649395_325579414503943_867810165032155104_n
Laporan dari peserta, jam 7 pagi sudah tak bisa lagi masuk ke Masjid Istiqlal karena penuh.
Hingga lantai lima bahkan hingga ke atap, masjid Istiqlal sudah dipenuhi oleh jemaah. Jemaah yang baru datang tak tertampung lagi di dalam.
16684249_10206164939681289_664850781393522628_n (1)
Namun jumlah jemaah yang hadir untuk mengikuti acara Aksi 112 di Masjid Istiqlal Sabtu pagi tadi terus bertambah. Banyak umat yang membawa kendaraan harus parkir cukup jauh dari masjid karena sudah tak ada tempat.
Berdasarkan pantauan di lapangan, meski hujan cukup deras, sebagian massa yang tak bisa memasuki masjid memilih bertahan di bawah hujan. Mereka mengenakan jas hujan dan payung.
Sesungguhnya Allah SWT selalu memberi pertolongan dan kemenangan atas keteguhan iman umat Islam, sehingga walau apapun hadangan penggembosan namun jamaah berduyun-duyun datang penuhi panggilan iman, seruan ulama, bela Islam.

Lautan Massa Aksi 112 di Istiqlal Meluber ke Jalan sampai Senen dan Gambir

Peserta Aksi 112 Payungi Pengantin yang Akan Menikah di Gereja Katedral

Masjid Istiqlal menjadi pusat Aksi 112, kehadiran ribuan umat Islam yang mengikuti kegiatan tersebut membuat jalan di sekitar area padat. Sementara dalam waktu yang bersamaan sepasang calon pengantin beserta rombongan, terlihat menuju Gereja Katedral untuk melangsungkan upacara pernikahan.
Namun meskipun arus lalu lintas tersendat, jalanan dipadati oleh peserta aksi 112, itu tak membuat rencana pengantin itu untuk melangsungkan pernikahan menjadi terkendala. Seperti diketahui Gereja Katedral letaknya berhadap-hadapan dengan Masjid Istiqlal, tempat peserta aksi 112 berkumpul.
Karena kondisi jalan di depan Katedral penuh dipadati peseta aksi, kendaraan yang mengantar pengantin itu hanya bisa melintas hingga Lapangan Banteng. Mereka pun akhirnya berjalan kaki hingga Katedral.
Seperti dikutip dari Liputan6, melihat pasangan pengantin dan rombongannya, sebagian peserta aksi 112 berinisiatif memberi jalan dan mengawal rombongan pengantin menembus kerumanan massa yang memadati jalanan.

unduhan (6)

Rombongan pengantin juga dipayungi


“Ayo Pak, tenang kami akan kawal sampai ke depan gereja. Ayo, minggir dulu, kita beri jalan untuk saudara kita umat Nasrani yang akan melangsungkan pernikahan,” ucap salah seorang massa aksi 112.
Pengawalan dari massa aksi 112 ini mendapat respons positif dari pengantin dan rombongan. “Terima kasih ya, Pak,” ucap pengantin pria yang terlihat mengenakan jas berwarna abu-abu itu.
Tak hanya memberi jalan bagi pengantin. Karena kondisi hujan, beberapa pemuda dari Front Pembela Islam (FPI) juga memayungi pengantin dan rombongannya hingga ke depan pintu Gereja Katedral.
“Ayo buka jalan, kita tunjukkan umat Islam menjunjung toleransi,” ucap salah seorang anggota FPI yang memayungi rombongan pengantin.
099572400_1486782634-pengantenkatedralII

Pengantin dipayungi dan diantar hingga depan gereja


Sampai di halaman gereja, massa kemudian kembali ke jalan. Pengantin dan rombongannya langsung masuk ke dalam gereja untuk melangsungkan ritual pernikahan.
“Terima kasih bapak-bapak,” ucap salah seorang rombongan, kata yang lainnya.
 
Sumber : Islampos, Foto: Liputan6/okezone

Ulama Makkah Serukan Umat Islam Pilih Pemimpin Muslim

Dipimpinnya Jakarta oleh non-muslim, bukan hanya disesalkan kaum muslimin negeri ini, tetapi juga umat muslim dunia. Diantaranya, Syeikh Sulaiman Biirah, Guru Besar Ilmu Tafsir al-Quran Universitas Ummul Qura, Makkah, Arab Saudi.
“Bagaimana bisa non-muslim menjadi pemimpin Jakarta. Apakah kalian terpecah belah? Salafi, ikhwani, tabligi, sururi ?” kata Syaikh Sulaiman seraya menyindir para peserta Multaqa Ulama dan Dai Asia Tenggara Kedua, di Sentul, Bogor.
Sebab itu, Syeikh Sulaiman menyerukan umat Islam Indonesia, khususnya Jakarta untuk memilih pemimpin muslim yang baik. Jangan biarkan non-muslim menguasai kaum Muslimin.
Sensus Badan Pusat Statistik menyebutkan 85,36% atau sebanyak 8.200.796 jiwa penduduk Jakarta menganut agama Islam. Betawi juga termasuk penduduk asli jakarta yang kebanyakan muslim.
Ketua Ikatan Ulama ASEAN Ustadz Muhammad Zaitun Rasmin menimpali, non-muslim menjadi pemimpin Jakarta adalah musibah.
“Kita ucapkan, qaddarallah wamaa sya’a fa’la (Allah telah menetapkan, apa yang Dia kehendaki pasti terjadi, red). Semoga ada hikmah-hikmah dari hal ini,” kata Ustadz Zaitun.
Multaqa Ulama dan Dai Asia Tenggara Kedua diselenggarakan oleh Yayasan Al Manarah Jakarta bersama Ikatan Ulama Asia Tenggara, di Sentul, Bogor, Jawa Barat. Acara tersebut diikuti para ulama dan dai dari negara-negara ASEAN.

Keteguhan Abdullah bin Khudzafah Mempertahankan Agama

Pada tahun 19 Hijriyah, Umar bin Khattab mengirimkan pasukan untuk berperang dengan Romawi yang didalamnya terdapat sahabat Abdullah bin Hudzafah Al Sahmy.
Kaisar Romawi mendapat kabar bahwa di antara tawanan muslim ada seorang Sahabat bernama Abdullah bin Hudzafah Al Sahmy. Kaisar sudah lama mendengar bahwa para Sahabat adalah orang-orang yang terkenal sifat mereka yang memiliki iman yang kuat, akidah yang kokoh dan rela mengorbankan jiwa di jalan Allah dan Rasul-Nya. 
Kini, Kaisar ingin tahu langsung bagaimana karakter seorang Sahabat Nabi Muham saw. Maka diperintahkanlah agar Abdullah dihadapkan ke depan Kaisar di ruang utama istana untuk disaksikan oleh para menteri dan pejabat serta pengawalnya.
Kemudian Raja Romawi memerintahkan agar pasukan Muslimin yang mereka tawan dihadapkan kepada mereka. Didatangkanlah di hadapannya, Abdullah bin Khudzafah r.a. Ia diseret dengan tangan yang dirantai dan kaki diikat.
Kaisar Romawi berkata kepada Abdullah, “Masuklah ke agama Nasrani, kau akan kubebaskan.“
Abdullah bin Khudzafah r.a. menolaknya. Raja tetap menawarinya lagi, “Masuklah ke agama Nasrani, kau akan kuberi separuh kekuasaanku.”
Namun Abdullah bin Khudzafah r.a. tetap tegas menolaknya. “Masuklah ke agama Nasrani, kau akan kuberi separuh kekuasaanku dan kuikutsertakan kau dalam pemerintahanku,“ desak Raja.
Abdullah bin Khudzafah r.a.  berkata, “Demi Allah, andai saja kau berikan seluruh kekuasaanmu dan kekuasaan nenek moyangmu kepadaku, bahkan seluruh kekuasaan Arab dan Ajam (non-Arab), aku tetap tak sudi untuk keluar dari Islam.”
“Kalau begitu kamu akan kubunuh,“ putus Raja. “Bunuhlah,“ jawab Abdullah.
Raja memerintahkan pasukannya agar menyalib Abdullah bin Khudzafah, lalu menyuruh pasukan pemanah melepaskan anak panah ke tubuh Abdullah. Tetapi Raja berpesan, jangan sampai anak panah itu mengenai tubuh Abdullah (hanya untuk menakut-nakut, pen).
Saat anak-anak panah meluncur ke sekitar tubuhnya, Raja tetap menawarinya masuk Nasrani. Dan seperti sebelumnya, Abdullah bin Khudzafah r.a menolak tegas. Ia lebih memilih kematian.
Melihat ketegaran Abdullah, Raja memerintahkan agar dia dikembalikan ke penjara. Kali ini, ia tidak diberi makan dan minum. Sampai ketika Abdullah bin Khudzafah r.a. hampir mati karena haus dan lapar, mereka memberinya arak dan daging babi.
Melihat kedua hidangan ini Abdullah berkata, “Demi Allah, aku tahu arak dan daging babi ini sebenarnya halal bagiku. Tetapi aku tidak ingin orang-orang kafir itu bersorak gembira karenanya.” Hidangan itu tidak disentuhnya. Hal ini dilaporkan kepada Raja.
Kemudian ia menyuruh agar dihadirkan seorang wanita penggoda di hadapan Abdullah. Masuklah wanita itu ke sel Abdullah bin Khudzafah r.a. Ia beraksi di muka Abdullah, meliuk-liukkan tubuh menggodanya. Namun sedikit pun Abdullah r.a tidak menoleh kepadanya.
Mengetahui sikap Abdullah seperti itu, wanita tersebut keluar sel sambil menggerutu. Ia berkata kepada Raja dan pasukannya, “Kalian telah menyuruhku menggoda seorang lelaki, yang aku tak tahu apakah ia seorang manusia atau seonggok batu. Demi Tuhan, dia tidak tahu apakah aku seorang perempuan atau lelaki.”
Akhirnya Raja putus asa membujuk Abdullah. Ia menyuruh pasukannya membuat tungku api dan memanaskan minyak hingga mendidih. Kemudian Abdullah bin Khudafah r.a diberdirikan menghadap minyak yang telah mendidih itu.
Sejurus, didatangkanlah seorang Muslim yang juga menjadi tawanan. Dengan kondisi badan terikat, ia diceburkan ke minyak yang mendidih tersebut hingga jasadnya lenyap ditelan didihan minyak. Tulang belulangnya berserakan menyembul ke atas permukaan minyak. Abdullah bin Khudzafah r.a menyaksikan sendiri pemandangan itu.
Di saat-saat seperti itu, kembali Raja menyarankan Abdullah agar murtad. Namun ia tetap menolaknya.
Raja naik pitam dan segera memerintah agar Abdullah diceburkan ke tungku. Ketika ia digiring mendekati tungku dan merasakan panasnya api, air matanya meleleh. Abdullah menangis.
Raja yang mengetahui hal tersebut bergembira (mengira Abdullah takut, pen). “Masuklah ke agama Nasrani, kau akan kubebaskan.” “Tidak,” jawab Abdullah bin Khudzafah r.a.
“Lalu mengapa kamu menangis?” tanya Raja. “Aku menangis karena hanya memiliki satu nyawa, sehingga aku langsung mati ketika diceburkan ke tungku ini. Demi Allah, aku ingin memiliki seratus nyawa, yang semuanya kugunakan untuk mati di jalan Allah, seperti kematian yang akan aku hadapi ini.”
Raja berkata, “Ciumlah kepalaku, kau akan kubebaskan.” Abdullah bin Khudzafah r.a. pun menawar “Dan kau bebaskan juga seluruh kaum Muslimin yang kau tawan?”
“Ya,” jawab raja. Abdullah mencium kepala Raja. Setelah itu, Raja memutuskan membebaskan seluruh kaum Muslimin yang ditawan.
Subhanallah! Bagaimana keadaan kita hari ini jika dibandingkan dengan keteguhan Abdullah seperti di atas? “Janganlah sekali-kali kamu mati, kecuali dalam keadaan Muslim.”
Sungguh naïf. Sebagai kaum Muslimin hari ini rela menggadaikan diennya (agamanya) untuk mendapatkan harta atau memenuhi syahwatnya, dan tenggelam dalam kenikmatan duniawi. Selanjutnya mati secara su’ul khatimah. Na ‘udzubillah.
 
Sumber : Ibnu Katsir, Buku Malam Pertama di Alam Kubur, Dr. A’idh Al-Qarni, MA

Tanggapan MUI Terkait Sertifikasi Khatib

Majelis Ulama Indonesia (MU) Menanggapi wacana yang disampaikan Menteri Agama, Lukman Hakim Saifuddin tentang Sertifikasi Khatib.
Wakil Ketua Umum MUI, Zainut Tauhid Sa’adi, menyampaikan bahwa program tersebut bagus selama memenuhi tiga syarat.
Pertama, program sertifikasi Khatib dimaksudkan untuk meningkatkan kapasitas, kapabilitas, dan kompetensi Khatib, baik dari aspek materi maupun motodologi. Menurutnya, disadari atau tidak kondisi masyarakat kita tengah berubah seiring terjadinya perkembangan teknologi dan informasi. Hal ini mendorong semua orang harus beradaptasi jika ingin tetap eksis, tidak terkecuali seorang khatib dan juga dai yang memang setiap saat aktifitasnya bergulat dengan masyarakat.
“Jadi keharusan untuk meningkatkan kapasitas, kapabilitas dan kompetensi dalam bidang penguasaan materi dan metodologi dakwah mutlak diperlukan oleh seorang Khatib dan juga Dai agar benar-benar dapat menyampaikan pesan-pesan agama secara baik sehingga sesuai dengan kaidah Alimun bizamanihi wa ‘alimun bimujtamaihi. Artinya ia harus paham kondisi faktual masyarakat. Atau dengan bahasa lain tepat kontek dan zaman serta sesuai dengan kebutuhan masyarakat”, ujarnya seperti dilansir mui.or.id
Kedua, program tersebut bersifat voluntary (sukarela) bukan mandatory (kewajiban). Program sertifikasi Khatib, katanya, harus bersifat sukarela, bukan keharusan yang memiliki konsekuensi hukum. Karena, imbuhnya, melaksanakan tugas dakwah itu hakekatnya menjadi hak dan kewajiban setiap orang yang memang menjadi perintah agama.
“Kalau sertifikasi Khatib diwajibkan akan sangat sulit dilaksanakan. Juga dikhawatirkan muncul kesan ada intevensi atau pembatasan oleh pemerintah. Justru hal seperti ini bisa kontra produktif”, tegasnya.
Ketiga, program sertifikasi sebaiknya diselenggarakan oleh Ormas Islam atau masyarakat, bukan pemerintah. Dalam konteks ini pemerintah hanya bertindak sebagai fasilitator, sehingga akan mendorong partisipasi masyarakat dan ikut bertanggungjawab menyiapkan kader-kader dakwah yang mumpuni baik dari aspek materi maupun metodologi.
“Seorang calon Khatib setelah mengikuti pendidikan dan pelatihan (diklat) akan diberikan sertifikat sesuai dengan jenjang diklatnya oleh ormas penyelenggara. Adapun jenis, jenjang, materi dan metodologi pendidikan dan pelatihan (diklat) bisa dirumuskan oleh masing-masing Ormas Islam atau Kemenag menunjuk lembaga yang memiliki kompetensi di bidang itu bekerjasama dengan Ormas Islam, sehingga ada standardisasi materi, metodologi dan sesuai dengan kebutuhan programnya”. Tutupnya.
Baru-baru ini, Menteri Agama mewacanakan program sertifikasi penceramah khotbah Jumat. Wacana itu digagas berdasarkan keluhan masyarakat yang merasa isi khotbah Jumat berisikan ejekan kepada satu kelompok.
“Banyak sekali yang menyampaikan bahwa terkadang beberapa masjid, khatib (penceramah) lupa menyampaikan nasihat yang semestinya, kemudian isi khotbah malah mengejek bahkan menjelek-jelekkan suatu kelompok yang bertolak belakang dengan nasihat,” kata Lukman saat ditemui di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (30/1/2017), dikutip dari kompas.com
Lukman mengatakan, ide sertifikasi ini muncul untuk mengingatkan kembali nilai penting khotbah Jumat yang semestinya dilakukan untuk menjelaskan ajaran Islam yang rahmatan lil alamin.
Menag menekankan, sertifikasi bukan dibuat karena hendak membatasi seseorang untuk berceramah kala shalat Jumat.
Ini merupakan respons dari kejengahan masyarakat saat menghadapi khotbah Jumat yang dirasa memecah belah persatuan umat Islam.
 
Sumber : dakwatuna/SaBah