Mengapa kisah para kiyai dan murid-muridnya penting dipelajari? Agar terjaga pikiran, lisan dan perkataan kita yang mengaku pewaris dakwah.
Yang tidak memahami sejarah, nasab keluarga, dan sanad ilmu akan kesulitan memahami dan membawakan dakwah pada kalangan tertentu.
Jika kini sebagian santri yang bernasab baik dan bersanad ilmu itu jadi liberal. Naif-lah memusuhi tanpa kelayakan etika untuk didengar kalangannya.
Awal tahun 1.900-an, ada 4 murid tamatkan pelajarannya pada Kiyai Khalil di Bangkalan, Madura. Menyebrangi sela : 2 ke Jombang, 2 ke Semarang. Dua murid kiyai yang ke Jombang, 1 dibekali cincin (kakek Cak Nun), 1 lagi K.H. Romli (ayah K.H. Mustain Romli) dibekali pisang mas. Dua murid kiyai yang ke Semarang ; Hasyim Asy’ari dan Muhammad Darwis masing-masing diberi kitab untuk dingajikan kepada Kiyai Soleh Darat.
Kiyai Soleh Darat adalah ulama terkemuka, ahli nahwu, ahli tafsir, ahli falak. Bahkan keluarga besar bangsawan R.A. Kartini mengaji kepada beliau. Bahkan atas usulan Kartini-lah, Kiyai Soleh Darat menerjemahkan Al Qur’an ke dalam bahasa Jawa agar bisa dipahami. Pada Kiyai Soleh Darat, Hasyim Asy’ari dan Darwis (yang kemudian berganti nama jadi Ahmad Dahlan) belajar tekun dan rajin.
Kedua sahabat itu Hasyim Asy’ari dan Ahmad Dahlan diperintahkan Kiyai Soleh Darat segera ke Mekkah untuk melanjutkan belajar. Setiba di Mekkah, keduanya yang cerdas menjadi murid kesayangan Imam Masjidil Haram, Syaikh Ahmad Khathib Al Minangkabawi.
Tampaklah kecenderungan Hasyim yang sangat mencintai hadist, sementara Ahmad Dahlan tertarik bahasan pemikiran dan gerakan Islam. Tentu riwayat jalan berilmu mereka panjang bertahun-tahun.
Kepulangan mereka ke tanah air dan gerakan dilakukan mereka masing-masing. Hasyim Asy’ari pulang ke Jombang. Disana kakek Cak Nun menantinya penuh rindu. Kakek Cak Nun yang ‘sakti’ inilah yang menaklukan kawanan rampok dan durjana bernama Tebuireng untuk didirikan pesantren. Hasyim Asy’ari kemudian memohon agar berkenan mulai mengajar disitu. Beliau membuka pengajian “Shahih Al Bukhari” disana yang akhirnya jadi julukan “Kitab Kuning”.
Pahamlah kita, satu-satunya orang yang bisa bujuk Gus Dur keluar istana saat impeachment (permintaan mundur – akibat keterpurukan ekonomi dibawah batas standar), ya hanya dari Cak Nun. Ini soal nasab antar keduanya yang kakek mereka dekat.
Saat disuruh mundur orang lain, Gus Dur biasanya menjawab, “Saya kok disuruh mundur, maju aja susah harus dituntun.” Tapi Cak Nun tidak menyuruhnya mundur. Kata beliau, “Gus, koen wis wayahe munggah pangkat! Sudah saatnya naik jabatan!”
Kembali ke Hadratusy Syaikh Hasyim Asy’ari. Beliaulah orang yang menjadikan pengajian hadis penting dan terhormat. Sebelum ada kajian Shahih Bukhari, umumnya pesantren Tebuireng cuma ajarkan Tarekat.
K.H. Romli Tamim yang juga di Jombang mendirikan pesantren di Rejoso, kelak jadi pusat Thariqah Al Mu’tabarah yang disegani.
Tebuireng makin maju. Santri berdatangan dari seluruh nusantara. Hubungan baik terjalin dengan Kiyai Hasbullah, Tampakberas. Putra Kiyai Hasbullah, Abdul Wahab kelak menjadi pendiri organisasi Islam terbesar yang dinisbatkannya kepada Hadrastusy Syaikh Hasyim Asy’ari: NU.
Konon selama K.H. Abdul Wahab dalam kandungan, ayahnya mengkhatamkan Al Qur’an 100 kali diperdengarkan pada si Janin.
Tebuireng juga berhubungan baik dengan K.H. Bisyri Syansuri Denanyar. Abdul Wahid Hasyim menikahi putri beliau (ibu Gusdur). K.H. Bisyri Syansuri juga beriparan dengan K.H. Abdul Wahab Hasbullah. Inilah pilar segitiga NU : Tampakberas-Tebuireng-Denanyar.
Satu waktu ada santri Hadrastusy Syaikh melapor. Dari Yogyakarta ada gerakan yang ingin memurnikan agama dan aktif beramal usaha. “Oh kuwi Mas Dahlan,” ujar Hadratusy Syaikh, “ayo podho disokong” (Itu Mas Dahlan, ayo kita dukung) ajak beliau.
K.H. Ahmad Dahlan, sang putra penghulu Keraton itu amat bersyukur. Beliau kirimkan hadiah. Hubungan kedua keluarga makin akrab. Sampai generasi ke-4, putra-putri Tebuireng yang kuliah di Jogja selalu kos di keluarga K.H. Ahmad Dahlan, Kauman. Gus Dur juga.
Sebagai bentuk dukungan pada perjuangan K.H. Ahmad Dahlan, Hadratusy Syaikh menulis kitab Munkarat Maulid Nabi wa Bida’uha. Bagi Hadratusy Syaikh itu banyak bid’ah dan mafsadatnya ketika kalangan pesantren berlebihan dalam melaksanakan Maulid.
Unik, satu-satunya Kiyai NU yang tak diperingati Haul-nya ya beliau. Ketika akhirnya gesekan makin sering terjadi antara anggota Muhammadiyah vs Kalangan pesantren, Hadratusy Syaikh turun tangan.
“Kita dengan Muhammadiyah sama. Kita Taqlid Qauli (mengambil pendapat ulama salaf). Mereka Taqlid Manhaji (mengambil metode).
Tetapi dipelopori K.H. Abdul Wahab Hasbullah, pada murid menghendaki kalangan pesantren pun terorganisasi baik. Akhirnya NU berdiri. Direstui Hadratusy Syaikh, Abdul Wahab Hasbullah dan rekan berangkat ke Mekkah menghadap raja Saudi sampaikan aspirasi Mazhab.
Kepulangan mereka disambut Hadratusy Syaikh dengan syukur sekaligus meminta untuk terus bekerjasama dengan Muhammadiyah. Atas prakarsa Hadratusy Syaikh, K.H. Mas Mansur (Muhammadiyah) dan tokoh-tokoh lain terbentuklah Majlisul Islam A’la Indunisiya (MIAI).
Sumber : Menyimak Kicau Merajut Makna, Salim A. Fillah, ProU Media