by Danu Wijaya danuw | Mar 29, 2017 | Artikel, Dakwah
Ibnu Katsir menerangkan dalam Tafsir Al Qur’an Al ‘Adhim bahwa Rajab berasal dari kata tarjib yang artinya menghormat. Dari namanya saja, Rajab adalah bulan yang layak dihormati dan dimuliakan.
1. Rajab adalah Bulan Haram
Bulan Rajab merupakan salah satu bulan dari empat bulan haram (arba’atun hurum). Karenanya bulan Rajab menjadi istimewa dibandingkan bulan-bulan lainnya.
إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ
“Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah itu ada 12 bulan. Seluruhnya dalam ketetapan Allah di hari Dia menciptakan langit dan bumi. Di antara (12 bulan) itu terdapat empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menzalimi dirimu dalam bulan yang empat itu…” (QS. At Taubah : 36)
Ketika menjelaskan ayat ini, Ibnu Katsir dalam tafsirnya mengatakan bahwa : “Sanksi berbuat dosa di bulan-bulan haram jauh lebih berat dibandingkan bulan-bulan lainnya, selain bulan suci Ramadhan. Sebaliknya, amal shalih di bulan-bulan haram pahalanya lebih besar dibandingkan di bulan lainnya, kecuali Ramadhan.”
Meskipun diterangkan amal shalih di bulan Rajab lebih besar pahalanya, tidak ada amal khusus di bulan Rajab ini. Baik berupa mandi awal Rajab, shalat malam maupun puasa yang dikhususkan pada tanggal-tanggal tertentu.
2. Rajab adalah Bulan yang Dekat dengan Ramadhan
Rajab adalah bulan yang dekat dengan bulan Ramadhan. Antara Rajab dan Ramadhan hanya dipisahkan dengan Sya’ban. Di antara kebiasaan para ulama, mereka menyiapkan diri menyambut bulan Ramadhan sejak bulan Rajab. Doa yang sangat populer saat masuk bulan Rajab yaitu :
اَللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِى رَجَبَ وَ شَعْبَانَ وَ بَلِغْنَا رَمَضَانَ
“Ya Allah berkahilah kami di bulan Rajab dan Sya’ban, serta pertemukanlah kami dengan bulan Ramadhan” (H.R. Al-Baihaqi dan Thabrani, tapi derajatnya dhaif menurut Syaikh Al Albani.
Namun, ada juga doa sejenis dengan matan berbeda dalam riwayat Ahmad.
اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِى رَجَبٍ وَشَعْبَانَ وَبَارِكْ لَنَا فِى رَمَضَانَ
“Ya Allah berkahilah kami di bulan Rajab dan Sya’ban, serta berkahilah kami dalam bulan Ramadhan” (HR. Ahmad)
Jika sebuah hadits diketahui dhaif/lemah, tidak boleh diyakini sebagai sabda Rasulullah. Namun, kebolehan berdoa dengan berbagai bahasa apa saja, maka kalimat doa tersebut diperbolehkan juga.
Dan banyak ulama yang membaca doa tersebut. Sebagai permohonan kepada Allah agar diberkahi di bulan Rajab, Sya’ban dan dipertemukan dengan bulan Ramadhan.
3. Rajab adalah Bulan Isra’ Mi’raj
Kendati masih diperselisihkan oleh sejumlah ulama, termasuk Syaikh Shafiyurrahman Al Mubarakfury dalam Ar Rahiqul Makhtum. Namun tanggal 27 Rajab diyakini sebagai tanggal terjadinya Isra’ Mi’raj, terutama oleh para ulama di Indonesia.
Isra’ Mi’raj adalah perjalanan luar biasa yang melalui peristiwa itu Rasulullah mendapatkan perintah shalat lima waktu. Jika perintah yang lain diturunkan kepada Rasulullah melalui malaikat Jibril. Tapi khusus perintah untuk shalat lima waktu ini, Rasulullah ‘dipanggil’ langsung oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Maka sepatutnya, di bulan Rajab ini kita memperbaiki kualitas shalat kita dan setelah itu kita memperbaiki kualitas jiwa dengan puasa wajib di bulan Ramadhan.
Wallahu a’lam bish shawab
by Danu Wijaya danuw | Mar 28, 2017 | Dunia
Dalam waktu kurang dari 48 jam, sebuah kampanye pengumpulan dana massal atau crowdfunding sukses menghimpun dana US$ 25 ribu atau setara Rp 333 juta, yang ditujukan bagi para korban teror di Jembatan Westminster, London, Inggris.
Inisiator pengumpulan dana yaitu Muddassar Ahmed, yang menjadi salah satu warga yang terjebak di Gedung Parlemen saat insiden teror itu terjadi.
Pelaku penyerangan, Khalid Masood, menabrakkan kendaraannya ke jembatan dan menikam salah satu petugas polisi, Rabu (22/3) lalu. Peristiwa itu menyebabkan lima orang tewas dan 40 lainnya terluka.
“Saya berada di tengah semua kepanikan itu,” kata Ahmed kepada CNN. “Kami semua terjebak di sana selama empat jam.”
Dia menambahkan, panik dan takut yang dia rasakan saat berada di dalam gedung, yang relatif aman, tidaklah sebanding dengan duka para korban.
Itulah sebabnya, dalam perjalanan pulang, setelah hiruk-pikuk mereda, dia berinisiatif mengumpulkan sumbangan.
Aksi galang dana massal itu dia beri nama ‘Muslims United for London’, yang diunggah di situs urun dana LaunchGood.
Situs itu mendeskripsikan diri sebagai wadah untuk ‘mendukung umat muslim membantu sesama di seluruh dunia dengan cara urun dana’.
Hanya dalam waktu 15 jam setelah kampanye Ahmed diunggah, terkumpul dana sebesar US$ 12.500 yang melebihi target awalnya. Ahmed pun langsung meningkatkan targetnya. Di hari kedua, dana yang terkumpul mencapai dua kali lipatnya atau senilai US$ 25 ribu (Rp 333 juta).
Bagi Ahmed, banyaknya dana yang terkumpul berarti menunjukkan betapa solidnya warga London dan umat muslim di seluruh dunia.
“Sangat penting menunjukkan bahwa mereka yang mencoba memecah belah lewat aksi teror, akan gagal,” sebutnya.
Kini, Ahmed fokus mencari cara menyalurkan dana ratusan juta itu pada pihak yang tepat.
“Kami masih mencari cara untuk memberikan uang ini pada mereka yang sangat membutuhkan,” katanya.
Ahmed, yang bekerjasama dengan organisasi publik dan yayasan amal, mengatakan akan mengumumkan cara penyaluran dana tersebut dalam waktu dekat.
Sumber : Reuter/CNN
by Danu Wijaya danuw | Mar 28, 2017 | Nasional
Beredar kabar telah terjadi pergantian Direktur Utama di sebuah Bank Syari’ah milik negara secara mendadak.
Publik pun bertanya, Bank Syari’ah yang mana dan siapa yang diganti? Serta, mengapa ia harus diganti mendadak?
Pejuang perbankan syari’ah yang diganti tersebut bernama Imam Teguh Saptono, Direktur Utama BNI Syari’ah.
Pergantian mendadak ini, pagi dikabarkan diganti, siang serah terima jabatan kepada Direktur Utama yang baru, sore perpisahan dengan para staff, meninggalkan tanda tanya besar.
Mengapa pejuang perbankan Syariah yang sedemikian cemerlang karier dan prestasinya dicopot dengan tiba-tiba?
Entahlah..
Sebagai catatan, berikut prestasi gemilang beliau sebelum bergabung dengan BNI Syariah:
Ia memulai kariernya sebagai Trainee for Management Instructor di PT Garuda Indonesia. Bergabung dengan BNI tahun 1996 di Divisi Perencanaan Strategis (1996) dan menjabat sebagai Senior Asisten Manajer Hubungan Investor Bidang Riset Pasar Modal dan Pengembangan Bank BNI (1996-1998), sempat menjabat sebagai Head of Investor Relations di Bank Permata (2003-2005) serta Vice President of Corporate Secretary Bank Permata (2005-2007).
Imam Teguh Saptono baru bergabung kembali dengan BNI di tahun 2007 sebagai Wakil Koordinator Non Organic Growth Project. Bergabung dengan Tim Implementasi Pembentukan Bank Umum Syariah tahun 2009, Direktur Risiko dan Kepatuhan BNI Syariah sejak Juni 2010.
Pria alumni Institut Pertanian Bogor (IPB) ini memperoleh gelar Sarjana Ilmu Pertanian pada tahun 1992 dan Magister Manajemen Agri Bisnis dari Institut Pertanian Bogor (IPB) pada tahun 1994. Ia memperoleh gelar Doktor dalam bidang Manajemen Bisnis di Institut Pendidikan Bogor (IPB) pada tahun 2011.
Pada tahun 2012, Imam menjabat sebagai Direktur Bisnis dan mulai menjabat sebagai Direktur Utama di BNI Syari’ah sejak tahun 2016.
Pria dikenal sangat taat beragama ini membuat banyak terobosan, termasuk dalam hal muamalah saat memimpin BNI Syari’ah.
Terobosan tersebut antara lain:
- Menghapus denda keterlambatan. Karena segala bentuk denda finansial adalah riba.
- Mengkampanyekan riba amnesty.
- Menggagas Griya Swakarya, yang akhirnya direstui OJK sebagai sebuah bentuk akad bisnis properti dengan para developer
- Pencapai Laba 280 Miliar pertahun terbesar dari semua bank syariah di indonesia. Makanya kapitalis bank konvensional gerah
Beliau juga penggagas :
- Stop aktifitas kerja jam operasional selama 15 menit awal di waktu sholat
- Penggagas tunjangan untuk pegawai hafidz Qur’an
- Penggagas “Dakwah First Business Follow.”
Dalam acara perpisahan, Imam sempat menyampaikan bahwa pencopotan dirinya bukanlah hal aneh karena merupakan bagian dari konsekuensi yang tak bisa dihindari dan dipungkiri.
“Para sahabat surga, per hari ini amanah saya sebagai Dirut BNI Syari’ah berakhir. Sebagai konsekuensi logis dari keberpihakan yang tidak mungkin saya hindari dan pungkiri. Semua normal dan tidak ada yang aneh karena BNI Syariah mungkin memang belum milik ummat. Mohon maaf bila ada kesalahan selama menjabat di BNI Syari’ah,” tutur Imam.

Imam Teguh Saptono dikenal luas oleh rekan-rekan sesama alumni IPB sebagai anggota Forum Pejuang Almaidah #Spirit212, juga Aksi Bela Islam #114.
Dari pihak BNI Syari’ah, diperoleh keterangan bahwa hasil Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPS LB) BNI Syariah memang telah memutuskan mengganti dua direksi BNI Syari’ah.
Tak hanya Imam, direktur bisnis konsumer Kukuh Rahardjo pun rupanya ikut tergeser.
Sekretaris Perusahaan PT Bank BNI Syariah, Endang Rosawati menyampaikan, pemegang saham BNI Syari’ah dalam keputusannya pada RUPS LB per 23 Maret 2017 mengenai perubahan Manajemen BNI Syariah menetapkan pengakhiran masa tugas Imam Teguh Saptono sebagai Direktur Utama dan Kukuh Rahardjo sebagai Direktur Bisnis Konsumer BNI Syari’ah.
RUPS LB kemudian mengangkat Abdullah Firman Wibowo sebagai direktur utama dan Dhias Widhiyati sebagai direktur bisnis konsumer. Keduanya efektif setelah mendapat persetujuan dari OJK.
”Perubahan direksi merupakan kewenangan pemegang saham dalam rangka mempersiapkan BNI Syari’ah menjadi bank yang modern, dinamis, dan mencakup semua golongan,” ungkap Endang dalam rilis tertulis Jumat, 24 Maret 2017.
by Danu Wijaya danuw | Mar 27, 2017 | Artikel, Dakwah
Al-Quran seringkali mengajak manusia untuk menginvestigasi alam. Melihat bukti dan tanda Kekuasaan Allah. Seperti penyebutan Nyamuk dalam Q.S. Al Baqarah ayat 26,
”Sesungguhnya Allah tidak malu membuat perumpamaan berupa nyamuk atau yang lebih rendah dari itu…”
Seluruh alam semesta dengan semua elemennya merupakan tanda-tanda yang mengungkapkan bahwa mereka semua ‘diciptakan’. Dan manusia bertanggungjawab untuk mengenal tanda-tanda ini dan mengakui Sang Maha Pencipta, Allah SWT. Semua makhluk hidup memiliki tanda-tanda ini, namun terdapat beberapa hewan yang secara spesifik telah disebutkan dalam Al-Quran. Nyamuk adalah salah satunya.
Setiap hari terdapat penemuan-penemuan baru seputar makhluk kecil nan lemah ini (nyamuk). Baru-baru ini para ilmuwan menemukan bahwa nyamuk dapat mencari tahu di mana posisi seseorang dari hembusan nafas orang tersebut! Allah telah membekali nyamuk dangan peralatan teknologi yang dapat menangkap gas karbon yang dikeluarkan (dihembuskan) oleh manusia, menganalisis kuantitasnya (jumlahnya) dan mengetahui sumbernya.
Dan para ilmuwan menekankan bahwa serangga ini sangat sensitif terhadap gas karbon, bahkan dia memiliki kemampuan lebih unggul dari perangkat yang paling kompleks yang dibuat oleh manusia!
Maka apakah kita mengetahui pentingnya makhluk ini dan sejauh mana kompleksitasnya? Apakah tidak pantas kalau dia (nyamuk) disebutkan oleh Allah dalam Kitab-Nya (al-Qur’an)? Jadi marilah kita dengarkan firman Al-Haq (Allah) Subhanahu wa Ta’ala ketika membantah orang-orang kafir yang menyanggah penyebutan serangga ini dalam Al Qur’an:
إِنَّ اللَّهَ لاَ يَسْتَحْيِي أَنْ يَضْرِبَ مَثَلًا مَا بَعُوضَةً فَمَا فَوْقَهَا ۚ فَأَمَّا الَّذِينَ آمَنُوا فَيَعْلَمُونَ أَنَّهُ الْحَقُّ مِنْ رَبِّهِمْ ۖ وَأَمَّا الَّذِينَ كَفَرُوا فَيَقُولُونَ مَاذَا أَرَادَ اللَّهُ بِهَٰذَا مَثَلًا ۘ يُضِلُّ بِهِ كَثِيرًا وَيَهْدِي بِهِ كَثِيرًا ۚ وَمَا يُضِلُّ بِهِ إِلَّا الْفَاسِقِينَ (26)
”Sesungguhnya Allah tidak malu membuat perumpamaan berupa nyamuk atau yang lebih rendah dari itu. Adapun orang-orang yang beriman, maka mereka yakin bahwa perumpamaan itu benar dari Tuhan mereka, tetapi mereka yang kafir mengatakan: “Apakah maksud Allah menjadikan ini untuk perumpamaan?”. Dengan perumpamaan itu banyak orang yang disesatkan Allah, dan dengan perumpamaan itu (pula) banyak orang yang diberi-Nya petunjuk. Dan tidak ada yang disesatkan Allah kecuali orang-orang yang fasik.” (QS. Al-Baqarah: 26)
Fakta Yang Menakjubkan Seputar Nyamuk:
1. Ia adalah betina
Kata “ba’udhatan” dalam ayat yang berarti nyamuk, merupakan kata benda bentuk feminin, sehingga mengindikasikan bahwa nyamuk rumah yang sering dijumpai manusia adalah nyamuk betina.
Jika fakta yang menyatakan bahwa nyamuk betina-lah yang menghisap darah manusia, yang banyak terbang di dalam rumah-rumah manusia, sedangkan nyamuk jantan menghisap nektar dan sari bunga, baru diketahui beberapa puluh tahun ini. Maka Al-Qur’an telah menyebutkannya sejak dahulu secara tersirat 15 abad yang lalu.
2. Ia Memiliki seratus mata di kepalanya
3. Di dalam mulutnya teradapat 48 gigi
4. Ia memiliki tiga jantung di dalam tubuhnya lengkap dengan bagian-bagiannya
5. Dia memiliki enam pisau di belalainya, dan masing-masing pisau tersebut memiliki fungsi yang berbeda
6. Dia memiliki tiga sayap di masing-masing sisi
7. Dia dilengkapi dengan sistem pendeteksi panas yang bekerja seperti infra merah, dan tugasnya memantulkan (merubah) warna kulit manusia pada kegelapan menjadi warna ungu hingga dapat dilihat olehnya.
8. Dibekali dengan sistem bius (anestesi) lokal, yang membantunya ketika menusukkan jarum (sengatnya) ke kulit manusia tanpa mereka rasakan. Dan apa yang dirasakan oleh manusia seperti gigitan (sengatan) ketika digigit nyamuk, maka itu adalah akibat dari penghisapan darah
9. Dilengkapi dengan sisten penguji (tes) darah, maka ia tidak menyedot semua jenis darah.
10. Dilengkapi dengan perangkat untuk mencairkan darah, sehingga darah tersebut dapat mengalir di belalainya yang sangat kecil.
11. Dan yang paling aneh dari ini semua adalah bahwa ilmu pengetahuan modern menemukan bahwa di atas punggung nyamuk hidup serangga yang sangat kecil, sampai-sampai ia tidak bisa dilihat kecuali dengan Mikroskop. Dan ini adalah fakta yang telah disebutkan dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
”Sesungguhnya Allah tidak malu membuat perumpamaan berupa nyamuk atau yang lebih rendah dari itu….” (QS. Al-Baqarah: 26)
Subhanallah!!
by Danu Wijaya danuw | Mar 27, 2017 | Artikel, Dakwah
Sudah sejak lama upaya memisahkan Islam dengan politik dilakukan secara sistematis dan gencar. Berbagai argumentasi disampaikan. “Agama itu suci, sementara politik itu kotor. Kalau politik dikaitkan dengan agama, itu akan mengotori agama”. Demikian kata mereka, entah itu mereka penguasa atau pejabat yang tidak mengerti.
Dalam Islam, justru politik itu penting dan mulia sehingga Islam dan politik tak bisa dipisahkan. Alasannya: Islam adalah agama yang syamil (menyeluruh) yang mengatur berbagai aspek kehidupan.
Syariah Islam bukan hanya mengatur masalah ibadah ritual, moralitas (akhlak), ataupun persoalan-persoalan individual saja. Namun Syariah Islam juga mengatur mu’amalah seperti politik, ekonomi, sosial-budaya, pendidikan, dan sebagainya.
Islam pun mengatur masalah ‘uqubah (sanksi hukum) maupun bayyinah (pembuktian) dalam pengadilan Islam. Bukti dari semua ini bisa kita lihat dalam kitab-kitab fikih para ulama terkemuka yang membahas perbagai persoalan mulai dari thaharah (bersuci) hingga Imamah/Khilafah (kepemimpinan politik Islam).
Rasulullah saw saat menjadi kepala Negara Islam di Madinah menunjukkan hal yang jelas, bahwa Islam dan politik tak dipisahkan.
Tampak jelas peran Rasulullah saw sebagai kepala negara, sebagai qadhi (hakim) dan panglima perang. Rasul saw. pun mengatur keuangan Baitul Mal, mengirim misi-misi diplomatik ke luar negeri untuk dakwah Islam, termasuk menerima delegasi-delegasi diplomatik dari para penguasa di sekitar Madinah.
Menurut Kamus Al Muhith, politik (siyasah) adalah isim masdar dari kata ‘sasa-yasusu’, yang berarti ri’ayatan (pengurusan). Dalam Lisanul Arab, Ibnu Manzur menyebutkan, “As-siyasah bermakna al-qiyamu ‘ala syai’in bima yashluhuhu”, artinya politik adalah melakukan sesuatu yang memberi mashlahat padanya.
Dengan demikian politik Islam berarti pengurusan rakyat dengan aturan Islam. Pengurusan itu pada mulanya adalah tugas para Nabi dan Rasul. Kemudian dilanjutkan menjadi tugas para khalifah, pejabat dan pemimpin masyarakat pasca Nabi.
Imam al-Ghazali dalam kitabnya, Al-Iqtishad fi al-I’tiqad, menyatakan, “Agama dan kekuasaan adalah dua saudara kembar. Agama adalah pondasi (asas) dan kekuasaan adalah penjaganya. Segala sesuatu yang tidak punya pondasi, niscaya akan roboh. Dan segala sesuatu yang tidak memiliki penjaga, niscaya akan musnah.”
Islam menggariskan bahwa tugas pemimpin adalah mengurusi kepentingan rakyat sebagaimana sabda Nabi SAW, “Pemimpin yang menangani urusan masyarakat adalah pengurus rakyat dan dia akan dimintai pertanggungjawaban atas rakyat yang dia urus.” (Muttafaq ‘Alaih)
Sekarang ini politik dalam bentuk politik Islam di Indonesia bermanfaat dalam menciptakan mashlahat umat Islam, diantaranya lahir undang-undang perbankan syariah, asuransi syariah, wakaf, haji, dan hukum Islam yang adil. Demokrasi dan politik hanyalah sebagai alat untuk menegakkan dan membela ajaran Islam. Oleh karenanya Islam tidak bisa dilepaskan dari politik untuk kebaikan masyarakat.
Sebaliknya, politik sekuler berarti pengurusan urusan rakyat dengan hukum-hukum sekuler lepas dari hukum agama termasuk hukum Islam.
Hukum sekuler ini tidak mengindahkan halal dan haram yang ditetapkan syariah. Akibatnya hawa nafsu dan berbagai kepentingan manusialah yang mengatur rakyat.
Apabila politik sekuler diterapkan maka akan menjadi kendaraan untuk meraih kekuasaan yang lebih tinggi, harta yang lebih banyak, atau akses bisnis yang lebih luas. Tidak peduli jika rakyat harus ditindas.
Hal itulah yang membuat pintu kezhaliman penguasa terhadap rakyatnya terbuka lebar. Misal semua pajak dinaikkan seenaknya, dan akan berakibat pada semakin mahalnya kebutuhan pokok, pendidikan, dan kesehatan. Sementara itu penguasa dengan mudahnya ‘menjual’ BUMN dan menyerahkan SDA negeri ini kepada asing. Inilah sebagian kerusakan yang ditimbulkan akibat ditinggalkannya politik Islam dan diterapkannya politik sekuler.
Allah SWT memberitahu kepada manusia, khususnya yang telah beriman untuk mengambil Islam secara menyeluruh. Firman Allah SWT, dalam Q.S. Al Baqoroh: 208
“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhannya dan janganlah kamu turut langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagimu”.
Ibnu Taimiyah juga menegaskan, “Jika kekuasaan terpisah dari agama atau jika agama terpisah dari kekuasaan, niscaya keadaan manusia akan rusak.” (Ibnu Taimiyah, Majmu’ al-Fatawa, XXVIII/394).