by Danu Wijaya danuw | Mar 20, 2017 | Artikel, Dakwah
Ulama dunia Dr Zakir Naik akan melakukan safari dakwah di Indonesia selama 10 hari di enam kota. Safari dakwah Zakir Naik dilakukan mulai 01 hingga 10 April 2017.
Safari dakwah bertajuk “Dr Zakir Naik Visit Indonesia 2017” itu akan dimulai dari Masjid Kota Wisata Cibubur dan berakhir di Universitas Hasanuddin (Unhas) Makassar.
Ketua Humas Panitia Zakir Naik Visit Indonesia 2017 Budhi Setiawan mengatakan, Dr Zakir Naik akan selalu membuka sesi tanya jawab pada setiap ceramahnya.
“Model penyampaiannya ceramah biasa dilanjutkan dengan tanya jawab dengan peserta. Bukan debat,” ujar Budhi dalam keterangan persnya, Minggu, Ahad, 12 Maret 2017.
Budhi menambahkan, Zakir Naik akan menyampaikan ceramahnya di enam kota, yakni Cibubur, Bekasi, Bandung, Jogja, Ponorogo, dan berakhir di Unhas Makassar.
Saat ini panitia sedang mengurus segala perizinan dari Kepolisian terkait semua rencana safari dakwah Dr Zakir Naik.
“Kami mohon doa umat Islam di Indonesia supaya semua proses dan persiapan berjalan baik dan lancar,” tandas Budhi.
Inilah Jadwal Ceramah Dr Zakir Naik di enam kota di Indonesia
1. Sabtu, 1 April 2017
Dr Zakir Naik akan memulai safari dakwahnya di Masjid Kota Wisata, Cibubur mulai pukul 08.00 hingga 11.00 WIB. Di masjid ini, istri Dr Zakir Naik, Ustazah Farhat Zakir Naik, akan menyampaikan ceramah yang akan dihadiri 2.500 orang muslimah.
2. Minggu, 2 April 2017
Zakir Naik akan ceramah di Auditorium Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung. Ceramah terbuka untuk umum itu akan dilangsungkan mulai pukul 08.00-12.00 WIB dengan target peserta 10 ribu orang.
3. Senin, 3 April 2017
Zakir Naik akan menyampaikan ceramahnya Kota Yogyakarta mulai pukul 08.00 hingga 12.00 WIB. Dr Zakir Naik dijadwalkan menyampaikan ceramah umum dengan tema “Misconseption of Islam” di Auditorium Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY).
4. Rabu, 5 April 2017
Zakir Naik akan menyampaikan ceramah umum di Auditorium Universitas Darussalam, Gontor, Ponorogo, Jawa Timur mulai pukul 08.00-12.00 WIB. Zakir Naik akan berceramah dengan tema “Religion in Right Perspective” dan akan diikuti sekira 10 ribu peserta.
5. Sabtu, 8 April 2017
Dr Zakir Naik akan menyampaikan ceramahnya di Stadion Patriot, Bekasi Jawa Barat. Zakir Naik akan menyampaikan ceramah umum di yang akan dihadiri sekitar 40 ribu peserta, mulai pukul 19.00-24.00 WIB.
6. Senin, 10 April 2017
Safari dakwah terakhir Dr Zakir Naik akan berakhir di Kota Makassar, Sulawesi Selatan. Zakir Naik akan menyampaikan ceramah ceramah bertema “Quran and Modern Science” di Auditorium Universitas Hasanuddin (Unhas), Makassar. Ceramah yang dimulai pukul 08.00-12.00 WITA itu direncanakan akan dihadiri 10 ribu peserta.
Sumber : www.zakirnaikvisit.id
by Danu Wijaya danuw | Mar 19, 2017 | Artikel, Dakwah
“Pak, ini uang untuk bapak. Nanti habis kampanye ini saat Pemilu nanti tolong coblos partai saya ya.”
Ternyata orang yang nyogok dan yang menerima sogokan kena laknat Rasul. Artinya didoakan jauh dari rahmat Allah. Namun itulah yang nyata terjadi pada masa kampanye saat ini.
Ingatlah bahwa uang sogok, suap dan risywah adalah uang yang haram. Uang tersebut diharamkan bagi yang memberi, yang menerima, bahkan termasuk pula yang menjadi perantara.
Dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata,
لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- الرَّاشِىَ وَالْمُرْتَشِىَ.
“Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam melaknat orang yang memberi suap dan yang menerima suap”. (HR. Abu Daud no. 3580, Tirmidzi no. 1337, Ibnu Majah no. 2313. Kata Syaikh Al Albani hadits ini shahih).
Dalam riwayat yang lain Nabi melaknat al Raisy (الرَّائِشَ) yaitu penghubung antara penyuap dan yang disuap (HR. Ahmad 5/279).
Meski hadits ini dhaif/lemah, namun maknanya benar. Orang yang menjadi penghubung antara penyuap dan yang disuap berarti membantu orang untuk berbuat dosa dan ini adalah suatu yang terlarang.
Hadits di atas menunjukkan bahwa suap termasuk dosa besar, karena ancamannya adalah laknat. Yaitu terjauhkan dari rahmat Allah. Bahkan sogok itu haram berdasarkan ijma’ (kesepakatan ulama).
Uang sogok atau suap atau disebut risywah dikatakan oleh Ibnul ‘Arobi,
كُلّ مَال دُفِعَ لِيَبْتَاعَ بِهِ مِنْ ذِي جَاهُ عَوْنًا عَلَى مَا لَا يَحِلُّ
“Segala sesuatu yang diserahkan untuk membayar orang yang punya kedudukan supaya menolong dalam hal yang tidak halal.”
Mereka yang memberi sogok seperti ini hakekatnya adalah orang-orang yang tamak dan gila pada kekuasaan. Saat sudah memegang tampuk kekuasaan, mereka cuma ingin harta sogoknya kembali, sehingga korupsi dan pencurian uang rakyat yang terjadi. Orang yang tamak pada kekuasaan ini dicela oleh Rasul dan akan menyesal pada hari kiamat.
Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إنَّكُمْ سَتَحْرِصُونَ عَلَى الإمَارَةِ ، وَسَتَكونُ نَدَامَةً يَوْمَ القِيَامَة
“Nanti engkau akan begitu tamak pada kekuasaan. Namun kelak di hari kiamat, engkau akan benar-benar menyesal” (HR. Bukhari no. 7148).
Ibnu Hajar berkata, “Siapa yang mencari kekuasaan dengan begitu tamaknya, maka ia tidak ditolong oleh Allah.” (Fathul Bari, 13: 124). –rumasyo
by Danu Wijaya danuw | Mar 19, 2017 | Artikel, Dakwah
Imam Ahmad Bin Hanbal Rahimahullah telah ditanya muridnya Abu Hamid al-Khulqani tentang pendapat beliau terhadap syair-syair yang berkaitan syurga dan neraka. Lalu beliau bertanya, ”Seperti apa? Contohnya?”
Lalu Abu Hamid al-Khulqani mendendangkan syair ini. Usai dua kalimat pertama Imam Ahmad terus menangis terisak-isak dan segera masuk ke dalam rumahnya.
Tangisan beliau begitu kuat sambil mengulang-ulang dua rangkap pertama itu. Muridnya meriwayatkan: Kami mendengar tangisan Imam seolah-olah beliau akan mati. Berikut syairnya :
إذا ما قال لي ربي أما استحييت تعصيني؟
وتُـخفي الذنبَ عن خلقيَ وبالعصيانِ تأتيني
Apabila tiba saat Tuhanku berkata padaku: Tidakkah engkau malu melakukan maksiat kepadaku?
Engkau menyembunyikan dosa dari makhlukku. Sedang dengan dosa, engkau datang berjumpaku?
فكيف أجيبُ يا ويحي ومن ذا سوف يحمين ؟
Maka bagaimanakah aku boleh menjawabnya, dan siapalah yang boleh mempertahanku?
أسلي النفس بالآمالِ من حينٍ الى حيني
وأنسى ما وراء الموت ماذا بعد تكفيني
Aku sentiasa mendamaikan perasaanku, dengan harapan-harapan dari detik ke detik.
Sedangkan aku lupa apa yang berlaku selepas kematian, apalah yang cukup untukku.
كأني قد ضمنتُ العيش ليس الموت يأتيني
Seolah-olahnya aku telah dapat menjamin, akan terus hidup dan kematian tidak akan datang
وجاءت سكرة الموت الشديدة من سيحميني؟
Jika tibalah saat sakit kematian, siapalah yang boleh menahannya dariku?
نظرتُ الى الوُجوهِ أليـس منهم من سيفدينـــي؟
Aku hanya mampu melihat wajah-wajah di depanku, adakah seseorang di kalangan mereka yang boleh menebusku?
سأسأل ما الذي قدمت في دنياي ينجيني
Aku bakal ditanya apalah yang telah aku persembahkah di duniaku dahulu yang boleh menyelamatkan daku
فكيف إجابتي من بعد ما فرطت في ديني
Bagaimanalah jawabanku setelah mana aku mengabaikan urusan agamaku?
ويا ويحي ألــــم أسمع كلام الله يدعوني ؟
Oh! Kesalnya, apakah aku tidak pernah mendengar kalam Allah yang menyeruku?
ألــــم أسمع لما قد جاء في قاف ويسِ
Apakah aku tidak pernah mendengar kandungan surah Qaf dan surah Ya Sin.
ألـــم أسمع بيوم الحشر يوم الجمع و الديني
Apakah aku tidak pernah mendengar tentang hari perhimpunan, perkumpulan dan pembalasan.
ألـــم أسمع مُنادي الموت يدعوني يناديني
Tidak pernahkah aku mendengar penyeru kematian yang mengajakku dan memanggilku?
فيا ربــــاه عبدُ تــائبُ من ذا سيؤويني ؟
Wahai Tuhanku, inilah seorang hamba yang kembali, siapalah yang sanggup menerimanya?
سوى رب غفور واسع للحقِ يهديني
Kecuali Tuhan yang maha pengampun, yang maha kaya, Yang sentiasa memberiku pedoman ke jalan kebenaran.
أتيتُ إليكَ فارحمني وثقــّـل في موازيني
Aku mendatangiMu, maka kasihanilah daku. Dan beratkanlah neraca timbanganku.
وخفف في جزائي أنتَ أرجـى من يجازيني
Ringankalah pembalasanku, karena Engkau sahajalah paling diharap kebaikannya, apabila melakukan pembalasan.
Dinukil dari Kitab Manaqib Imam Ahmad hal. 205 oleh Ibnu Jauzy.
by Danu Wijaya danuw | Mar 17, 2017 | Artikel, Dakwah
Umar bin Khattab dan keluarganya memiliki pola hidup sederhana. Saking sederhananya, konon pakaian yang dikenakan sang khalifah itu memiliki empat belas tambalan. Salah satunya ditambal dengan kulit kayu.
Suatu waktu sepulang menuntut ilmu, Abdullah bin Umar menangis di hadapan ayahnya—Umar bin Khattab.
“Kenapa engkau menangis, anakku?” Tanya Umar.
“Teman-teman di sekolah mengejek dan mengolok-olokku karena bajuku penuh dengan tambalan. Di antara mereka mengatakan, ‘Hai Kawan-kawan, perhatikan berapa jumlah tambalan putra Amirul Mukminin itu’,” ungkap Ibnu Umar dengan nada sedih.
Selepas mendengar cerita putranya, Amirul Mukminin bergegas menuju baitul mal (kas negara). Sang khalifah bermaksud meminjam beberapa dinar untuk membelikan baju anaknya.
Karena tidak bertemu dengan pejabat bagian kas negara, ia pun menitipkan surat kepada penjaga kas negara. Berikut isi surat tersebut.
“Dengan surat ini, perkenankanlah aku meminjam uang kas negara sebanyak 4 dinar sampai akhir bulan, pada awal bulan nanti, gajiku langsung dibayarkan untuk melunasi utangku.”
Setelah pejabat itu membaca surat pengajuan utang Umar, maka kemudian dikirimlah surat balasan.
”Dengan segala hormat, surat balasan kepada junjungan khalifah Umar Bin Khatab. Wahai Amirul Mukminin mantapkah keyakinanmu untuk hidup sebulan lagi, untuk melunasi utangmu, agar kamu tidak ragu meminjamkan uang kepadamu. Apa yang Khalifah lakukan terhadap uang kas negara, seandainya meninggal sebelum melunasinya?”
Selesai membaca surat balasan dari pejabat kas negara, Umar langsung menangis. Ia lalu berpesan kepada anaknya.
“Hai anakku sungguh aku tidak mampu membelikan baju baru untukmu dan berangkatlah sekolah seperti biasanya, sebab aku tidak bisa meyakinkan akan pertambahan usiaku sekalipun hanya sesaat.”
Mendengar pesan ayahnya, putra khalifh itu seketika menangis tersedu-sedu.
Sumber: Cukilan Kitab Durrtun Nashihin fil Wa’dhi wal Irsyad karya Utsman bin Hasan al-Khubawi
by Danu Wijaya danuw | Mar 16, 2017 | Artikel, Dakwah
Innalillahi wa Inna Ilaihi Raajiun, Mantan Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Pusat, KH Hasyim Muzadi dikabarkan meninggal dunia pagi hari ini.
Informasi meninggalnya Kiyai Muzadi disampaikan oleh KH Mustofa Bisri (Gusmus) melalui akun twitter pribadinya @gusmusgusmu, kamis(16/3/2017) pukul 06:44 WIB.
“Innalillahi Wa Inna Ilaihi Raajiun. Kita kehilangan lagi seorang tokoh, mantan Ketum PBNU, KH. Hasyim Muzadi. Semoga husnul Khatimah” bunyi tweet Gusmus.
KH Hasyim Muzadi meninggal setelah sempat menjalani perawatan di ruang ICU Rumah Sakit Lavalette, Malang, Jawa Timur, akibat sakit yang dideritanya.
Biografi
KH. Ahmad Hasyim Muzadi terpilih sebagai Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (NU) pada Muktamar ke-30 di Lirboyo, Kediri tahun 1999.
Kemudian pada Muktamar NU ke-31 di Donohudan, Boyolali, Jateng, Kiyai Hasyim kembali terpilih sebagai Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (NU) setelah berhasil mengungguli secara mutlak para pesaingnya, termasuk KH Abdurrahman Wahid.
Kiyai Hasyim Muzadi pernah menjadi pengasuh pondok pesantren Al-Hikam, Malang, Jawa Timur. KH Hasyim lahir di Tuban pada tanggal 8 Agustus 1944 dari pasangan H. Muzadi dengan istrinya Hj. Rumyati.
Kiyai Hasyim menempuh jalur pendidikan dasarnya di Madrasah Ibtidaiyah di Tuban pada tahun 1950 dan menuntaskan kuliahnya di Institut Agama Islam Negeri IAIN Malang, Jawa Timur pada tahun 1969.
Suami dari Hj. Muthomimah ini mengawali politik dengan menjadi anggota DPRD Tingkat I Jawa Timur pada tahun 1986, yang ketika itu masih bernaung di bawah Partai Persatuan Pembangunan (PPP).
Kemudian maju menjadi Cawapres Megawati Soekarnoputri dalam pemilihan presiden Indonesia 2004. Dalam pemilihan umum Presiden Indonesia 2004, Megawati dan KH. Hasyim Muzadi meraih 26.2% suara di putaran pertama, tetapi kalah dari pasanganSusilo Bambang Yudhoyono dan Jusuf Kalla di putaran kedua.
Pandangan Islamnya
1. Mendukung Aksi 212 anti Penistaan Qur’an
Mantan Ketua Umum PBNU, KH. Hasyim Muzadi bereaksi atas munculnya persoalan terkait kasus dugaan penistaan Alquran Surah al-Maidah ayat 51 yang dilakukan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjaja Purnama.
Dalam rilis yang dikirimkan KH. Hasyim Muzadi kepada Republika.co.id, Rabu pagi (9/10), dia menyatakan pandangannya yang diberi judul ‘Kekuatan (Energi) Alquran dan Politisasi’. Tulisannya berisi 4 poin agar tak boleh seorangpun melakukan penistaan Al Qur’an.
Menurutnya apabila salah satu dari tiga hal yaitu Allah swt, Rasulullah saw, dan kitab suci Al Qur’an disinggung dan direndahkan, pasti mendapat reaksi spontan dari umat Islam tanpa disuruh siapa pun. Reaksi tersebut akan segera meluas tanpa bisa dibatasi oleh sekat-sekat organisasi, partai, dan birokrasi.
Sebab kedahsyatan energi Alquran tersebut hanya bisa dimengerti, dirasakan dan diperjuangkan oleh orang yang memang mengimani Alquran. Tentu sangat sulit untuk diterangkan kepada mereka yang tidak percaya kepada Alquran, berpikiran atheis, sekuler dan liberal.
2. Yang Benar Islam di Nusantara, bukan Islam Nusantara
Secretary General of International Conference of Islamic Sholars (ICIS), KH. Hasyim Muzadi, menyingung soal Islam rahamatan lil ‘alamin dan Islam Nusantara pada acara penutupan (ICIS) ke-IV di UIN Maulana Malik Ibrahim, Malang tahun 2015 lalu.
Menurutnya, Islam rahmatan lil ‘alamin dirujuk karena untuk menghindari konflik antara negara, atau antara regional. Sehingga tidak membatasi Islam dengan sudut geografis ataupun kultural.
“Oleh karena itu kita sebut Islam di Nusantara, bukan Islam Nusantara. Supaya tidak membedakan diri dengan Islam di lain negara,” ujarnya.
“Nusantara tidak bisa dipakai nama Islam, karena Islam itu kan universal (umum, melingkupi seluruh dunia), kalau Nusantara itu lokal,” lanjut pimpinan Ponpes Al-Hikam Malang ini.
Menurutnya, dahulu Islam Nusantara masih relevan untuk berdakwah di masa animisme saat kerajaan Hindu-Budha berkuasa di Indonesia.
“Tapi sekarang jadi dibelok-belokan seperti membenci Arab-lah, membenci Wahabi-lah, dan macam-macam” ungkapnya. Padahal yang terpenting hadirnya Islam adalah rahmat bagi semua.
3. Menurut KH Hasyim Muzadi : FPI organisasi terpopuler dan mirip NU tahun 70an.

Kiyai Hasyim saat bertemu Habib Rizieq pimpinan FPI
Agar semua pihak Islam berdamai dan saling mengerti, Tokoh ulama NU KH. Hasyim Muzadi menyatakan perjuangan Front Pembela Islam (FPI) sangat jelas dan mulia. Menurut KH. Hasyim Muzadi saat ini FPI Adalah ormas Islam terpopuler di seluruh dunia. Dan mirip NU tahun 70an ketika saat itu NU tegas terhadap kemaksiatan.
“FPI lebih jelas NKRI-nya, Saya mendukung perjuangan FPI dalam memberantas kemaksiatan dan Aliran sesat di Indonesia,” dalam suatu kesempatan.
KH. Hasyim Muzadi mengatakan, Secara idiologi FPI sama dengan NU. Tauhidnya menggunakan Al-Asy’ari dan Al-Maturidi; syariah-fiqih juga menggunakan empat mahzab dan lebih banyak di pakai Imam Syafi’i; tasawufnya juga menggunakan Imam Ghozali dan Imam Junaidi Albaghdadi dan sebagainya, yang sama-sama di pakai NU.
Menyikapi soal sweping, KH. Hasyim Muzadi mengatakan :”Tindakan FPI sudah tepat, sebab miras dan pelacuran itu melanggar KUHP.”
Di sisi lain FPI biasanya sudah melakukan laporan kepada penegak hukum setempat, tetapi dihiraukan. Dari sisi lain, pengaduan masyarakat setempat yang sudah muak dengan kemaksiatan. “FPI itu sangat Cinta NKRI, kita dapat lihat dari pemikiran syariatnya yang selalu dituangkan dalam bingkai NKRI” tegas KH. Hasyim Muzadi.
Dari : Berbagai Sumber
by Danu Wijaya danuw | Mar 13, 2017 | Artikel, Dakwah
Ada seorang sufi masuk ke dalam rumah Zawiyah Syeikh Ibrahim Al Matbuli di Mesir, di sana ia melaksanakan ibadah siang dan malam.
Hidup beserta seluruh waktu sufi tersebut gunakan untuk sholat, puasa, dan sebagainya. Akan tetapi ada hal yang janggal bagi seorang laki-laki, ia tidak bekerja.
Syeikh Ibrahim Al Matbuli tidak suka dengan ahli ibadah itu yang tidak mencari nafkah, “Wahai anakku, kenapa engkau tidak bekerja hingga mandiri, hingga tidak bergantung dengan apa yang dibawa manusia untukmu?” tanya syeikh Ibrahim
”Wahai Tuanku, ketika aku telah memasuki Zawiyah ini, aku melihat seekor burung hantu buta di salah satu jendela, yang tidak memiliki kemampuan sebagaimana burung-burung lainnya. Lalu aku menyaksikan seekor elang datang kepadanya dengan sepotong daging yang ia lempar ke jendela. Maka dari itu, aku lebih berhak untuk bertawakkal kepada Allah daripada burung hantu itu,” jawab sufi tersebut.
“Kenapa engkau menjadikan dirimu sebagai burung hantu buta? Kenapa dirimu itu tidak engkau jadikan seperti burung elang yang memberi makan burung hantu?”
Akhirnya, lelaki itupun mengakhiri kekeliruannya dan ia pun segera keluar untuk bekerja.
Sumber: hidayatullah.com/(Lawaqih Al Anwar Al Qudsiyyah hal. 704).*