0878 8077 4762 [email protected]

Shalat Menggerakkan 266 Tulang dan 660 Otot

Shalat merupakan salah satu bentuk penghambaan umat Islam kepada Allah SWT. Namun tahukah di dalam shalat rupatnya terdapat segudang manfaat di balik gerakan shalat. Sejak takbiratul ihram hingga salam mampu memberikan efek positif bagi kesehatan tubuh.
Direktur Halimun Center (HMC) dr Briliantono M Soenarwo (SpOT) mengatakan gerakan shalat sangat baik untuk persendian, tulang, dan otot. “Gerakan shalat bermanfaat bagi kelenturan sendi, kekuatan tulang, dan memperbesar kemampuan otot,” ujarnya kepada Republika.co.id, Selasa (24/1).
Setiap gerakan shalat, kata ia, memiliki manfaat. Pria yang biasa disapa dr Tony ini menyebut apabila gerakan shalat dilakukan sesuai yang dianjurkan, maka akan menggerakkan 266 tulang dan 660 otot.
“Semua bergerak, dari jari sampai leher. Subhanallah,” kata dia. Bahkan ada beberapa olahraga yang meniru gerakan shalat. Menurut dia, hal itu boleh-boleh saja karena bisa mendatangkan manfaat bagi kesehatan.
Bukan hanya gerakan shalat yang mendatangkan manfaat. Kekhusyukan saat shalat rupanya juga membawa dampak positif bagi tubuh. Manusia terdiri dari jiwa, raga, dan kalbu. Kalbu inilah yang mempengaruhi pikiran manusia. Alhasil apabila kalbu khusyuk dan senang, maka jiwa pun akan terkena imbas baiknya.
“Kalau jiwa senang, hormon melatonin akan naik, akhirnya me-recovery tubuh,” ujarnya. Itulah sebabnya, orang-orang yang selesai menunaikan shalat merasa lebih segar dan ‘enteng’ dari sebelumnya.
Bagi Anda yang sedang sakit atau tak mampu melakukan gerakan shalat dengan sempurna, jangan khawatir. Pasalnya menurut dr Tony, meskipun gerakan shalat dilakukan dari atas tempat tidur, tetap akan mendapatkan manfaat yang sama.

Rahasia Abu Hurairah Kuat Hafalan Hadist dan Teladan Ibadah Harian

Abu Hurairah ra adalah sahabat Rasulullah saw yang mendampingi beliau selama empat tahun. Dalam waktu yang sangat singkat tersebut, Abu Hurairah ra banyak menyerap Ilmu dan menghafal hadis-hadis dari Rasulullah saw.
Abu Hurairah ra sendiri pernah berkata, “Orang-orang banyak yang heran, bagaimana aku dapat meriwayatkan hadis begitu banyak. Sebenarnya ketika saudara-saudaraku dari kaum Muhajirin banyak yang berdagang dan saudara-saudara dari kaum Anshar sibuk berladang, aku selalu di samping Rasulullah saw.
Aku termasuk golongan Ashhabus Suffah* dan aku tidak begitu menghiraukan pencarian nafkah karena aku selalu merasa puas dengan sedikit makanan yang diberikan Rasulullah Saw kepadaku.
Aku pernah memberitahukan kepada Rasulullah tentang hafalanku yang lemah, lalu beliau bersabda, ‘Hamparkan kain selimutmu!’
Aku pun melakukan perintahnya, beliau membuat tanda-tanda di kain selimut itu, kemudian bersabda, ‘Sekarang balutkanlah kain selimut ini di sekeliling dadamu.’ Aku pun membalut dadaku dengan kain itu. Sejak saat itu aku tidak pernah lupa lagi dengan segala sesuatu yang ingin aku hafalkan,” (HR. Abu Daud).
Abu Hurairah ra pernah bercerita kepada Abdullah bin Umar ra, “Aku selalu bersama Rasulullah saw di saat orang lain tidak berada di situ. Pekerjaanku hanyalah menghafal apa yang telah disabdakan Rasulullah saw dan aku tidak makan selain yang diberikan Rasulullah saw kepadaku.”
Teladan Ibadah Harian Abu Hurairah
Setelah Islam berjaya dan berhasil menaklukkan beberapa wilayah, kehidupan Abu Hurairah ra. menjadi lebih baik, tetapi ia tidak meninggalkan semangatnya dalam mendalami ilmu. la, istrinya, dan pelayannya tetap istiqamah beribadah di malam hari.
Mereka membagi malamnya menjadi tiga waktu dan secara bergiliran mereka melakukan ibadah sehingga setiap malamnya selalu penuh dengan amal ibadah di keluarga tersebut.
Di antara kebiasaan Abu Hurairah ra adalah mengumpulkan biji-biji kurma dalam sebuah kantong. Kemudian setiap kali berzikir, ia mengeluarkan biji kurma tersebut satu per satu dari dalam kantong. Jika biji dalam kantong habis, ia akan mengisi kembali kantong tersebut dengan biji-biji kurma, lalu memulai zikirnya dari awal lagi.
Abu Hurairah ra juga memiliki seutas benang yang disimpul sebanyak 1.000 simpul. Beliau tidak tidur hingga selesai bertasbih sebanyak simpul benang tersebut. Dan ia selalu beristigfar sebanyak 12.000 kali. la juga tidak pernah ketinggalan melaksanakan shalat sunnah.
*Ashhabus Suffah adalah golongan orang yang tinggal di dekat rumah Rasulullah saw. Mereka tidak memiliki mata pencaharian yang tetap sehingga Abu Hurairah ra. pernah tidak makan selama berhari-hari hingga jatuh pingsan di depan mimbar Rasulullah saw. Mereka sering menjadi tamu Rasulullah saw. dan beliau selalu memberikan sedekah kepada mereka.
 
Sumber: ceritainspirasimuslim

Titik Temu Wahabi-NU

Oleh : alm Prof Dr K.H. Ali Mustafa Yaqub (Imam Besar Masjid Istiqlal, Komisi Fatwa MUI Pusat, Rais Syuriah PBNU Bidang Fatwa)
Banyak orang terkejut ketika seorang ulama Wahabi mengusulkan agar kitab-kitab Imam Muhammad Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdlatul Ulama, diajarkan di pesantren-pesantren dan madrasah-madrasah Islam di Indonesia. Hal itu karena selama ini dikesankan bahwa paham Wahabi yang dianut oleh pemerintah dan mayoritas warga Arab Saudi itu berseberangan dengan ajaran Nahdlatul Ulama yang merupakan mayoritas umat Islam Indonesia.
Tampaknya selama ini ada kesalahan informasi tentang Wahabi dan NU. Banyak orang Wahabi yang mendengar informasi tentang NU dari sumber-sumber lain yang bukan karya tulis ulama NU, khususnya Imam Muhammad Hasyim Asy’ari. Sebaliknya, banyak orang NU yang memperoleh informasi tentang Wahabi tidak dari sumber-sumber asli karya tulis ulama-ulama yang menjadi rujukan paham Wahabi.
Akibatnya, sejumlah orang Wahabi hanya melihat sisi negatif NU dan banyak orang NU yang melihat sisi negatif Wahabi. Penilaian seperti ini tentulah tidak objektif, apalagi ada faktor eksternal, seperti yang tertulis dalam Protokol Zionisme No 7 bahwa kaum Zionis akan berupaya untuk menciptakan konflik dan kekacauan di seluruh dunia dengan mengobarkan permusuhan dan pertentangan.
Untuk menilai paham Wahabi, kita haruslah membaca kitab-kitab yang menjadi rujukan paham Wahabi, seperti kitab-kitab karya Imam Ibnu Taymiyyah, Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyyah, dan termasuk kitab-kitab karya Syekh Muhammad bin Abdul Wahab yang kepadanya paham Wahabi itu dinisbatkan. Sementara untuk mengetahui paham keagamaan Nahdlatul Ulama, kita harus membaca, khususnya kitab-kitab karya Imam Muhammad Hasyim Asy’ari yang mendirikan Jam’iyyah Nahdlatul Ulama.
Kami telah mencoba menelaah kitab-kitab karya Imam Muhammad Hasyim Asy’ari dan membandingkannya dengan kitab-kitab karya Imam Ibnu Taymiyyah dan lain-lain. Kemudian, kami berkesimpulan bahwa lebih dari 20 poin persamaan ajaran antara Imam Muhammad Hasyim Asy’ari dan imam Ibnu Taymiyyah. Bahkan, seorang kawan yang bukan warga NU, alumnus Universitas Islam Madinah, mengatakan kepada kami, lebih kurang 90 persen ajaran Nahdlatul Ulama itu sama dengan ajaran Wahabi.
Kesamaan ajaran Wahabi dan NU itu justru dalam hal-hal yang selama ini dikesankan sebagai sesuatu yang bertolak belakang antara Wahabi dan NU. Orang yang tidak mengetahui ajaran Wahabi dari sumber-sumber asli Wahabi, maka ia tentu akan terkejut. Namun, bagi orang yang mengetahui Wahabi dari sumber-sumber asli Wahabi, mereka justru akan mengatakan, “Itulah persamaan antara Wahabi dan NU, mengapa kedua kelompok ini selalu dibenturkan?”
Di antara titik-titik temu antara ajaran Wahabi dan NU yang jumlahnya puluhan, bahkan ratusan itu adalah sebagai berikut. Pertama, sumber syariat Islam, baik menurut Wahabi maupun NU, adalah Alquran, hadis, ijma, dan qiyas. Hadis yang dipakai oleh keduanya adalah hadis yang sahih kendati hadis itu hadis ahad, bukan mutawatir. Karenanya, baik Wahabi maupun NU, memercayai adanya siksa kubur, syafaat Nabi dan orang saleh pada hari kiamat nanti, dan lain sebagainya karena hal itu terdapat dalam hadis-hadis sahih.
Kedua, sebagai konsekuensi menjadikan ijma sebagai sumber syariat Islam, baik Wahabi maupun NU, shalat Jumat dengan dua kali azan dan shalat Tarawih 20 rakaat. Selama tinggal di Arab Saudi (1976-1985), kami tidak menemukan shalat Jumat di masjid-masjid Saudi kecuali azannya dua kali, dan kami tidak menemukan shalat Tarawih di Saudi di luar 20 rakaat. Ketika kami coba memancing pendapat ulama Saudi tentang pendapat yang mengatakan bahwa Tarawih 20 rakaat itu sama dengan shalat Zhuhur lima rakaat, ia justru menyerang balik kami, katanya, “Bagaimana mungkin shalat Tarawih 20 rakaat itu tidak benar, sementara dalam hadis yang sahih para sahabat shalat Tarawih 20 rakaat dan tidak ada satu pun yang membantah hal itu.” Inilah ijma para sahabat.
Ketiga, dalam beragama, baik Wahabi maupun NU, menganut satu mazhab dari mazhab fikih yang empat. Wahabi bermazhab Hanbali dan NU bermazhab salah satu dari mazhab empat: Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hanbali. Baik Wahabi (Imam Ibnu Taymiyyah) maupun NU (Imam Muhammad Hasyim Asy’ari), sama-sama berpendapat bahwa bertawasul (berdoa dengan menyebut nama Nabi Muhammad SAW atau orang saleh) itu dibenarkan dan bukan syirik.
Kendati demikian, Imam Muhammad Hasyim Asy’ari dalam kitabnya, al-Nur al-Mubin fi Mahabbah Sayyid al-Mursalin, mensyaratkan bahwa dalam berdoa dengan tawasul menyebut nama Nabi Muhammad SAW atau orang saleh, kita tetap harus yakin bahwa yang mengabulkan doa kita adalah Allah SWT, bukan orang yang namanya kita sebut dalam tawasul itu. Wahabi dan NU sama-sama memercayai adanya karamah para wali (karamat al-awliya) tanpa mengultuskan mereka.
Memang ada perbedaan antara Wahabi dan NU atau antara Imam Ibnu Taymiyyah dan Imam Muhammad Hasyim Asy’ari. Namun, perbedaan itu sifatnya tidak prinsip dan hal itu sudah terjadi sebelum lahirnya Wahabi dan NU.
Dalam praktiknya, baik Wahabi maupun NU, tidak pernah mempermasalahkan keduanya. Banyak anak NU yang belajar di Saudi yang notabenenya adalah Wahabi. Bahkan, banyak jamaah haji warga NU yang shalat di belakang imam yang Wahabi, dan ternyata hal itu tidak menjadi masalah. Wahabi dan NU adalah dua keluarga besar dari umat Islam di dunia yang harus saling mendukung. Karenanya, membenturkan antara keduanya sama saja kita menjadi relawan gratis Zionis untuk melaksanakan agenda Zionisme, seperti tertulis dalam Protokol Zionisme di atas. Wallahu al-muwaffiq.
 
Sumber : Republika

Orang NU yang Menjadi Dubes RI untuk Arab Saudi

Agus Maftuh memiliki latar belakang seorang akademisi di Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta. Ia mengampu sejumlah mata kuliah di antaranya Diplomasi dan Politik Luar negeri, serta Studi Keamanan dan Pertahanan.
Suatu ketika Pak Agus Maftuh bertemu dengan Dubes Arab Saudi untuk Indonesia. Beliau bertanya “apakah sudah hafal lagu kebangsaan Indonesia? sang dubes menjawab “belum hafal”. Kemudian Agus Maftuhpun bilang kepada Dubes itu” saya baru beberapa bulan sudah hafal lagu kebangsaan Arab Saudi”. Kemudian Agus Maftuh menyanyikan lagu itu dengan baik. Dengan modal hafal lagu kebangsaan itu Agus Maftuh bisa berdiplomasi.
Maklumlah Agus Maftuh santri sejati seperti halnya Gus Dur. Tidak heran jika pemerintah Arab Saudi mulai tertarik untuk berinvestasi ke Indonesia. Nah, rupanya baru-baru ini Pangeran Walid bin Talal datang bersama Agus Maftuh menghadap Jokowi. Bisa jadi para pangeran-pangeran yang kelebihan duit itu juga akan menanamkan duitnya di Indonesia.
K.H. Malik Madany, Mantan Khatib Syuriah PBNU menggambarkan betapa ndeso-nya Agus Maftuh. ‘’Mas Agus Maftuh ini bocah ndeso tapi cerdas. Bocah ndeso yang mengalami mobilitas vertikal. Dan saya sangat setuju yang dilakukannya malam ini. Bukan syukuran tapi doa mengantar tugas. Jabatan sebagai duta besar itu sesuatu yang harus disyukuri.”
Disamping sebagai dosen, Agus Maftuh selama ini juga dikenal sebagai ahli terorisme dan pernah menjadi dosen tamu masalah terorisme di Pakistan. Maka tak heran jika ada kampus dari Pakistan mengirimkan bunga ke kediamannya. Agus Maftuh menulis buku “Negara Tuhan” yang mengungkap jejaring terorisme Indonesia dengan “kampus Peshawar” di wilayah Asia Selatan.
Menikah dengan Luluk Muniroh, Agus Maftuh dikaruniai empat orang putra-putri. Selain Gebriel yang kuliah di Kairo ada Nabila Azwida Faradisa (S2 di UGM) dan Lubna Feyla Affa serta seorang putri yang masih balita.
Dubes RI Mengajak Arab Saudi untuk Datang Ke Indonesia
Sebelumnya ajakan kepada Raja Arab untuk datang ke Indonesia melalui menyerahkan Surat Kepercayaan (letter of credentials) kepada Raja Salman bin Abdulaziz Al Saud, di Istana Kerajaan di Kota Jeddah pada tanggal 22 Juni 2016.
Dalam kesempatan itu, Dubes RI untuk Arab Agus Maftuh menyampaikan salam dari Presiden RI Joko Widodo. Selanjutnya Maftuh juga meyakinkan Raja Saudi untuk berkunjung ke Indonesia.
“Rakyat Indonesia telah menunggu kunjungan Raja Arab Saudi ke Indonesia selama 46 tahun,” kata Maftuh yang juga Staf Pengajar UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta ini dalam keterangan tertulis.
Dubes RI untuk Arab diajukan PKB mewakili NU
Muhaimin Iskandar atau Cak Imin mengungkapkan pihaknya memang telah mengajukan Agus Maftuh Abegebriel sebagai Duta Besar Arab Saudi ke Presiden Joko Widodo sebelum dilantik. Karena memiliki sejumlah tujuan.
“Dubes Saudi sebelumnya saya panggil dan diajukan (ke Presiden) karena memiliki tiga tujuan.
Pertama, harus melindungi dan menyelamatkan serta menjaga orang-orang kita (Warga Negara Indonesia) di Saudi. Karena itu adalah harkat dan martabat bangsa kita,” kata Cak Imin.
Kedua, seorang Dubes Arab Saudi harus mampu mewarnai dunia Islam yang toleran seperti di Indonesia. Begitupula diharapkan membawa pola diplomasi yang berbasis kemajuan sebagaimana pola pikir kemajuan Islam di Indonesia.
Ketiga, bisnis-bisnis besar yang ada di Timur Tengah hendaknya dapat dibawa dan dikembangkan di tanah air agar mampu menjadi motor penggerak perekonomian bagi masyarakat di Indonesia.
Selamat bertugas Gus Agus Maftuh

Gubernur Shalih yang Tak Malu Jadi Kuli Angkut Barang

Salman Al Farisi seorang sahabat Nabi yang istimewa ini pernah menjabat gubernur di beberapa kota. Ia adalah orang yang sangat shalih, rendah hati, hingga ia makan dan minum dari hasil keringatnya sendiri.

Pada suatu hari ketika Salman sedang berjalan kaki, ia bertemu dengan seorang pedagang yang datang dari negeri Syam, sambil membawa barang bawaannya berupa buah tin dan buah kurma.
Pedagang itu mencari tukang angkut (kuli) yang dapat membantunya membawakan barang bawaannya.
Tatkala dilihatnya seorang lelaki yang tampaknya olehnya seperti halnya rakyat kebanyakan, terlintas dalam benaknya untuk menyuruh orang itu membawakan barang dagangannya.
Pedagang itu pun melambaikan tangannya sembari menunjuk orang yang dilihatnya yaitu Salman Al Farisi agar menghampirinya.
Pedagang itu berkata, “Tolong bawakan barang-barangku ini!”
Orang yang diperintah pun segera membawanya dan keduanya berjalan beriringan, hingga melewati sekelompok orang yang sedang berkumpul.
Sang Pedagang dan Kuli Angkut Barang itu lantas mengucapkan salam kepada mereka. Mereka lalu menjawab, “Wa’alaikummusalam wahai Amirul Mukminin.”
Pedagang Syam itu kebingungan dan bertanya dalam hatinya, “Gubernur? Gubernur mana yang kalian maksud?”
Ia semakin bertambah keheranan tatkala melihat sebagian dari mereka cepat-cepat menuju ke arah tukang angkutnya sembari memohon, “Biar aku saja yang membawanya wahai Amir”
Akhirnya pedagang dari Syam itu mengetahui bahwa orang yang membawa barang-barangnya itu tidak lain adalah gubernur wilayah tersebut, yaitu Salman Al Farisi.
Seketika itu juga dia langsung meminta maaf kepada beliau dan menyatakan penyesalannya. Segera ia mendekati Salman untuk membantu menurunkan barang bawaannya.
Tetapi Salman menolak sambil berkata, “Tidak usah, aku akan membawanya hingga sampai di rumahmu,” tuturnya.
Demikianlah kisah pemimpin shalih yang merakyat, dan mau turun langsung berkeringat mengayomi rakyatnya. Semoga kita diberikan pemimpin yang shalih.

Inilah Penyebab Keistimewaan Hari Jum’at

Inilah Penyebab Keistimewaan Hari Jum’at

Dalam Islam, semua hari adalah baik. Tetapi ada satu hari yang di anggap hari itu adalah hari terbaik dan memiliki keistimewaan serta nilai sejarah yang sangat panjang. Hari tersebut adalah hari jum’at. Kata jum’at diambil dari bahasa arab, jumu’ah yang berarti beramai-ramai. Hari jum’at memang memiliki beberapa keistimewaan yang harus Anda ketahui, berikut ini beberapa di antaranya:
1. Hari Jum’at adalah Hari Terbaik
Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Rasulullah bersabada: “Hari terbaik dimana pada hari itu matahari terbit adalah hari Jum’at. Pada hari itu Adam diciptakan, dimasukkan surga serta dikeluarkan darinya. Dan kiamat tidak akan terjadi kecuali pada hari Jum’at”
2. Terdapat Waktu Mustajab untuk Berdo’a.
Abu Hurairah berkata Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya pada hari Jum’at terdapat waktu mustajab bila seorang hamba muslim melaksanakan shalat dan memohon sesuatu kepada Allah pada waktu itu, niscaya Allah akan mengabulkannya. Rasululllah mengisyaratkan dengan tangannya menggambarkan sedikitnya waktu itu” (HR. Muttafaqun Alaih)
Ibnu Qayyim Al Jauziah – setelah menjabarkan perbedaan pendapat tentang kapan waktu itu mengatakan: “Diantara sekian banyak pendapat ada dua yang paling kuat, sebagaimana ditunjukkan dalam banyak hadits yang sahih, pertama saat duduknya khatib sampai selesainya shalat. Kedua, sesudah Ashar, dan ini adalah pendapat yang terkuat dari dua pendapat tdi” (Zadul Ma’ad Jilid I/389-390).
3. Sedekah pada hari itu lebih utama dibanding sedekah pada hari-hari lainnya.
Ibnu Qayyim berkata: “Sedekah pada hari itu dibandingkan dengan sedekah pada enam hari lainnya laksana sedekah pada bulan Ramadhan dibanding bulan-bulan lainnya”. Hadits dari Ka’ab menjelaskan: “Dan sedekah pada hari itu lebih mulia dibanding hari-hari selainnya”. (Mauquf Shahih)
4. Hari tatkala Allah SWT menampakkan diri kepada hamba-Nya yang beriman di Surga.
Sahabat Anas bin Malik dalam mengomentari ayat: “Dan Kami memiliki pertambahannya” (QS.50:35) mengatakan: “Allah menampakkan diri kepada mereka setiap hari Jum’at”.
5. Hari besar yang berulang setiap pekan.
Ibnu Abbas berkata : Rasulullah SAW bersabda:
“Hari ini adalah hari besar yang Allah tetapkan bagi ummat Islam, maka siapa yang hendak menghadiri shalat Jum’at hendaklah mandi terlebih dahulu.” (HR. Ibnu Majah)
6. Hari dihapuskannya dosa-dosa
Salman Al Farisi berkata : Rasulullah bersabda: “Siapa yang mandi pada hari Jum’at, bersuci sesuai kemampuan, merapikan rambutnya, mengoleskan parfum, lalu berangkat ke masjid, dan masuk masjid tanpa melangkahi diantara dua orang untuk dilewatinya, kemudian shalat sesuai tuntunan dan diam tatkala imam berkhutbah, niscaya diampuni dosa-dosanya di antara dua Jum’at”. (HR. Bukhari).
7. Jalannya Orang yang Shalat Jum’at adalah Pahala
Aus bin Aus berkata: Rasulullah bersabda: “Siapa yang mandi pada hari Jum’at, kemudian bersegera berangkat menuju masjid, dan menempati shaf terdepan kemudian dia diam, maka setiap langkah yang dia ayunkan mendapat pahala puasa dan shalat selama satu tahun, dan itu adalah hal yang mudah bagi Allah”. (HR. Ahmad dan Ashabus Sunan, dinyatakan shahih oleh Ibnu Huzaimah).
8. Orang yang Wafat pada Malam atau Hari Jum’at adalah Khusnul Khatimah
Diriwayatkan oleh Ibnu Amru , bahwa Rasulullah bersabda: “Setiap muslim yang mati pada siang hari Jum’at atau malamnya, niscaya Allah akan menyelamatkannya dari fitnah kubur”. (HR. Ahmad dan Tirmizi, dinilai shahih oleh Al-Bani).
9. Hari paling utama di dunia
Pada hari Jum’at, ada beberapa peristiwa yang terjadi pada hari jum’at ini, antara lain:
Allah menciptakan Nabi Adam ‘alaihissallam dan mewafatkannya.Hari Nabi Adam ‘alaihissallam dimasukkan ke dalam surga.Hari Nabi Adam ‘alaihissallam diturunkan dari surga menuju bumi.Hari akan terjadinya kiamat.Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata:
Hari paling baik dimana matahari terbit pada hari itu adalah hari jumat, pada hari itu Adam diciptakan, dan pada hari itu pula Adam dimasukkan ke dalam surga, serta diturunkan dari surga, pada hari itu juga kiamat akan terjadi, pada hari tersebut terdapat suatu waktu dimana tidaklah seorang mukmin shalat menghadap Allah mengharapkan kebaikan kecuali Allah akan mengabulkan permintannya. (HR. Muslim)
Itulah beberapa keutamaan dan keistimewaan tentang hari Jum’at, semoga kita mendapatkan ilmu dari apa yang kita baca.