by Danu Wijaya danuw | Feb 19, 2017 | Artikel, Dakwah
Pilkada DKI 2017 mencatat fenomena baru. Bangkitnya partisipasi dan soliditas pemilih dari etnis Cina. Selama ini, etnis Cina dianggap sangat apolitis dan cenderung abai, bahkan menghindar dari urusan politik. Mereka lebih sibuk dan memfokuskan diri pada sektor ekonomi dan perdagangan. Hasilnya kini sangat terasa. Mereka menguasai semua sektor perekonomian, bahkan disebut-sebut segelintir taipan menguasai lebih dari 82 persen perekonomian Indonesia. Buah ketekunan ini sungguh dahsyat.
Di masa lalu, bukan fenomena mengagetkan bila dalam Pilkada atau Pilpres, etnis Cina memilih berlibur ke luar kota atau ke luar negeri. Tak mengherankan bila tingkat partisipasi mereka sangat rendah. Saat menjelang Pilkada dan Pilpres memang boleh disebut masa “susah” bagi etnis Cina yang dikenal sebagai pedagang yang ulet dan saudagar kaya. Banyak yang jauh hari sudah “menghilang” ke luar kota.
Dalam Pilkada DKI fenomenanya jauh berbeda. Dari data Exit Poll sejumlah lembaga survei dan juga fakta di sejumlah TPS menunjukkan, tingkat partisipasi dan soliditas mereka sungguh luar biasa. Di kantong-kantong pecinan, seperti Pluit, Jelambar, Kelapa Gading dan sejumlah tempat lainnya di Jakarta, mereka berbondong-bondong antre di TPS-TPS. Di TPS Mall of Indonesia (MOI) Kelapa Gading antrean mereka mengular, bahkan sampai pukul 14.00 WIB. Padahal seharusnya TPS pukul 13.00 Wib sudah tutup.
Mereka juga sangat militan memperjuangkan hak suara mereka. Dengan modal KTP mereka bersedia bersitegang, berteriak-teriak bahkan membentak petugas TPS, untuk dapat memilih. Dalam penghitungan suara, mereka juga melakukan sapu bersih. Suara mereka bulat penuh mendukung paslon nomor 2 Basuki-Djarot. Di beberapa TPS bahkan suara mereka 100% untuk paslon nomor 2. Dahsyat. Demikian pula halnya suara pemilih Kristen/Katholik yang lebih dari 95% lari ke Ahok-Djarot.
Ketua Umum Pemuda Muhammadiyah, Dahnil Anzar Simanjuntak, bahkan tak segan mengumbar kekaguman dan apresiasinya. Dahnil menilai Pilkada DKI 2017 sebagai potensi kebangkitan politik mereka. Dahnil tidak melihat itu sebagai sebuah bentuk politik aliran karena mereka solid memilih calon yang seetnis dan seagama.
Fenomena sebaliknya terjadi dengan pemilih muslim. Banyak kalangan muslim yang mengaku dirinya muslim, bahkan mengecam ketika ada yang menyerukan agar memilih sesama pemimpin muslim. Padahal landasannya sangat jelas, yakni kitab suci yang menjadi landasan keimanan umat Islam.
Dalam Quran Surat Al-Maa-idah : 51.
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa diantara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang dzalim.”
Perlu dicatat, yang diserukan selama ini adalah memilih pemimpin sesama Muslim, bukan sesama Etnis. Jadi walaupun dia china atau negro jika dia Muslim maka perlu didukung dalam ajaran Islam, sebab satu iman yaitu menyembah Allah swt.
Dalam demokrasi modern, memilih berdasarkan etnis, agama dan kedekatan-kedekatan lain, adalah soal biasa. Di Amerika selama ratusan tahun bahkan dikenal sebuah istilah White, Anglo Saxon, and Protestant (WASP). Muncul semacam kesepakatan bahwa yang boleh dan bisa menjadi Presiden Amerika Serikat haruslah seorang kulit putih, dari negara Anglo Saxon ( British) dan beragama Protestan.
Jadi seharusnya sangat wajar sebagai mayoritas secara populasi, pemilih Islam juga menghendaki dan memilih pemimpin Islam.
Begitu pula sangat wajar bila etnis Cina maupun non-muslim menghendaki dan menginginkan pemimpin yang berasal dari kelompok dan sesama mereka. Mereka boleh saja bercita-cita menjadi gubernur bahkan presiden Indonesia.
Tidak perlu ada label rasis, sektarian, anti-pluralisme dan yang paling serem adalah anti-kebhinekaan, anti-NKRI.
Dalam sejarah dunia, kekuasaan yang dipegang oleh pemimpin muslim, terbukti sangat mengayomi para pemeluk agama lain dalam kehidupan politik, keagamaan dan sosialnya. Sangat banyak contoh soal ini.
Mulai ketika Nabi Muhammad memimpin pemerintahan di Madinah, dinasti Abbasiyah di Andalusia, Ustmaniah saat menguasai beberapa negara Eropa dan tentu saja jangan lupa apa yang terjadi dalam sepanjang sejarah Republik Indonesia.
Walupun bukan negara Islam, tapi pemimpin dan mayoritas penduduk Indonesia adalah Islam. Kehidupan beragama di Indonesia sering disebut sebagai sebuah contoh bagi dunia.
Cerita sebaliknya justru terjadi di negara-negara dimana Muslim menjadi minoritas. Contoh paling aktual adalah apa yang terjadi dengan komunitas Rohingya di Myanmar. Mereka diperlakukan layaknya bukan manusia, hanya karena alasan etnis dan agama yang berbeda dengan mayoritas warga dan penguasa Myanmar
Jadi bagi anda yang Islam, Kristen, Katholik, Hindu, Budha, Konghuchu, atau etnis Cina, Jawa, Sunda maupun Papua, silakan anda memilih berdasarkan kesamaan agama atau etnis. Tak perlu khawatir dicap dungu, bodoh, tak beradab, apalagi bertentangan dengan konstitusi dan demokrasi.
Hanya orang kurang pemahaman, apalagi kalau dia juga seorang muslim yang kurang iman, yang menilai bahwa memilih sesama muslim sebagai pemimpin sebagai tindakan dungu, bodoh dan terbelakang.
Disadur dari Republika
Oleh: Hersubeno Arief (Konsultan Media dan Politik)
by Danu Wijaya danuw | Feb 18, 2017 | Artikel, Dakwah
Tidak ada kesyukuran terbesar yang mesti diupayakan oleh setiap Muslim dan Muslimah, selain daripada perkenan Allah Ta’ala memberikan hidayah kepada kita semua. Baik itu hidayah keIslaman, mengikuti ulama, menaati peraturan Allah Ta’ala, hingga urusan memilih pemimpin negara. Ini semua adalah nikmat yang tiada tara di muka bumi.
Hal ini karena sifat hidayah yang memang menjadi hak prerogratif Allah Ta’ala, sehingga meski ada orang memiliki kecerdasan luar biasa, jika Allah tidak mengizinkan iman di hatinya, tidak akan sampai hidayah dalam kehidupannya.
وَمَا كَانَ لِنَفْسٍ أَن تُؤْمِنَ إِلاَّ بِإِذْنِ اللّهِ وَيَجْعَلُ الرِّجْسَ عَلَى الَّذِينَ لاَ يَعْقِلُونَ
“Dan tidak ada seorangpun akan beriman kecuali dengan izin Allah; dan Allah menimpakan kemurkaan kepada orang-orang yang tidak mempergunakan akalnya.” (QS. Yunus [10]: 100).
Oleh karena itu, kita mesti benar-benar menjaga iman di dalam hati kita dengan sebaik-baiknya. Selanjutnya mesti memahami dengan komprehensif, bahwa hanya Islam jalan menggapai kebahagiaan.
إِنَّ الدِّينَ عِندَ اللّهِ الإِسْلاَمُ
“Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam.” (QS. Ali Imran [3]: 19).
وَمَن يَبْتَغِ غَيْرَ الإِسْلاَمِ دِيناً فَلَن يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ
“Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) darinya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.” (QS. Ali Imran [3]: 85).
Allah Ta’ala memerintahkan kepada kita, untuk terus menjaga hidayah dalam setiap rakaat shalat dengan selalu memohon kepada-Nya, yaitu hidayah ke jalan yang lurus di dalam surah al-Fatihah :
اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ
“Berikanlah kepada kami hidayah ke jalan yang lurus”.
Imam Ibnul Qayyim memaparkan hal ini dengan lebih terperinci, beliau berkata: “Seorang hamba sangat membutuhkan hidayah di setiap waktu dan tarikan nafasnya, dalam semua (perbuatan)yang dilakukan maupun yang ditinggalkannya.
Dalam Firman Allah Ta’ala,
فإن الله يُضِلُّ مَنْ يَشَاءُ وَيَهْدِي مَنْ يَشَاءُ فَلا تَذْهَبْ نَفْسُكَ عَلَيْهِمْ حَسَرَاتٍ
“Sesungguhnya Allah menyesatkan siapa yang dikehendaki-Nya dan memberi hidayah (taufik) kepada siapa yang dikehendaki-Nya” (QS Fathir: 8).
Jadi, mari kita berusaha menggapai hidayah dan menjaganya. Serta bahu-membahu saling menguatkan iman, taqwa dan kebaikan untuk semua muslim. Wallahu a’lam.
by Danu Wijaya danuw | Feb 17, 2017 | Artikel, Dakwah
Hari Jum’at merupakan hari yang dimuliakan oleh seluruh penjuru umat muslim di berbagai belahan dunia. Karena pada hari itu, setiap pria yang memeluk agama islam diwajibkan untuk melaksanakan shalat Jum’at di Masjid secara berjamaah.
Di hari Jum’at pula, ada amalan-amalan sunnah yang mana didalamnya terdapat keutamaan berupa pahala. Oleh karena itu, jangan pernah menyiakan-nyiakan kesempatan pada hari itu agar kita mendapatkan pahala dari Allah SWT.
Dibawah ini beberapa amalan dan adab yang patut untuk diperhatikan bagi tiap umat muslim dalam menghidupkan syari’at Nabi Muhamad SAW pada hari Jum’at.
1. Mandi dan Memakai Wangi-wangian
Rasulullah Sallallahu ‘alaihi Wasallam bersabda dalam hadits riwayat Ibnu Hibban dan Al-Hakim bahwasanya : kita disunnahkan untuk mandi jinabat atau memakai wangi-wangian dan pakaian terbaik ketika akan melaksanakan shalat Jum’at.
Selain sebagai syiar hari raya, memakai wangi-wangi juga akan menambah kekhusyukan kita dalam melakukan rangkaian ibadah dalam sholat Jum’at.
2. Memotong Kuku dan Mencukur Kumis
Agar kesempurnaan dalam menyambut hari raya Jum’at semakin bertambah, hendaknya kita membersihkan beberapa kotoran yang ada pada sela-sela jari yakni bagian kuku. Diantara sunnah fitrah sebelum melaksanakan shalat Jum’at yaitu mencukur kumis dan memotong kuku.
Sebagaimana dalam hadits riwayat Al-Baihaqi dan At-Thabrani disebutkan bahwa : Rasulullah senantiasa memotong kuku dan mencukur kumis pada hari Jum’at sebelum beliau melaksanakan sholat Jum’at.
3. Membaca Surat Al-Kahfi
Di masyarakat kita saat ini, hari Jum’at terkandang identik dengan membaca surat Yasin. Hal tersebut sebenarnya sudah berlangsung sejak lama, sehingga diyakini sebagai satu amalan utama pada hari Jum’at.
Padahal, jika kita telaah kembali tentang sebuah hadits riwayat Imam Hakim bahwasanya : Rasulullah Sallallahu ‘alaihi Wasallam menganjurkan membaca surat Al-Kahfi pada hari Jum’at. Barang siapa membaca surat tersebut niscaya cahaya akan menyinarinya diantara dua Jum’at.
4. Memperbayak Shalawat Kepada Nabi Muhammad
Sebagai rasa cinta kita kepada Rasulullah Sallallahu ‘alaihi Wasallam, mengucapkan doa dan mengingatnya dalam lisan merupakan bentuk paling sederhana dari kecintaaan kita kepada Nabi Muhammad Sallallahu ‘alaihi Wasallam.
Di dalam suatu hadits riwayat Abu Daud disabdakan bahwa : umat muslim dianjurkan untuk memperbanyak Shalawat kepada Rasulullah Sallallahu ‘alaihi Wasallam di hari Jum’at. Karena sesungguhnya sholawat itu akan ditampakkan kepada beliau.
5. Bergegas Menuju Masjid
Bersegera mendatangi masjid lebih awal merupakan salah satu anjuran yang dilakukan pada saat akan menunaikan sholat Jum’at.
Dengan berangkat lebih awal, maka masih bisa memiliki waktu luang untuk melakukan rangkaian ibadah seperti shalat sunnah, berdzikir dan membaca Al-Qur’an atau shalawat.
6. Shalat Sunnah Sembari Menunggu Khatib Naik Mimbar
Melaksanakan shalat sunnah sebelum khatib naik mimbar adalah salah satu rangkaian ibadah shalat Jum’at.
Dalam hadits riwayat Muslim disabdakan bahwa : barang siapa mandi dan datang untuk shalat Jum’at, kemudian ia sholat semampunya dan diam mendengarkan khotbah hingga selesai, lalu sholat bersama imam. Maka akan diampuni dosanya mulai Jum’at ini hingga Jum’at berikutnya, ditambah 3 hari.
7. Shalat Sunnah Seusai Shalat Jum’at
Rasulullah Sallallahu ‘alaihi Wasallam menganjurkan kepada kita untuk melaksanakan shalat sunnah sebanyak 4 rakaat seusai shalat Jum’at.
Adapun keterangan lain dari sebuah hadits riwayat Muslim yang menerangkan bahwa : jika kita tergesa-gesa karena sesuatu, maka cukuplah shalat sebanyak 2 rakaat saja
by Danu Wijaya danuw | Feb 17, 2017 | Artikel, Dakwah
Asy-Syaikh Muhammad bin Shālih Al-Ùtsaimīn Allahuyarhamuh berkata:“
“… Wajib bagi kita untuk mengetahui bahwasanya manusia itu bagaimana kondisi mereka maka begitu pula pemimpinnya.
Jika kondisi mereka buruk antara sesama mereka dan dengan Allah, maka Allah akan uji mereka dengan pemimpin mereka. Sebagaimana dalam firman-Nya:
وَكَذَلِكَ نُوَلِّي بَعْضَ الظَّالِمِينَ بَعْضاً بِمَا كَانُوا يَكْسِبُون
“Dan demikianlah Kami jadikan sebagian orang-orang zhalim berteman dengan sesamanya, sesuai dengan apa yang mereka kerjakan.” (QS. Al-An’am: 129)
Apabila rakyat shalih dan baik, maka Allah akan anugerahkan untuk mereka pemimpin dari kalangan orang-orang yang shalih, dan bila sebaliknya maka yang terjadipun sebaliknya.
Dan, disebutkan bahwa seseorang dari kalangan pemberontak khawarij datang ke Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu, ia berkata,
“Wahai Ali! Kenapa manusia menentangmu dan tidak menentang Abu Bakar dan ‘Umar?!”.
Maka Ali menjawabnya, “Sesungguhnya, rakyat di masa Abu Bakar dan ‘Umar itu saya dan semisal saya, adapun rakyat di masa saya itu kamu dan semisal kamu!”.
Beliau maksudkan dari orang-orang yang tidak memiliki kebaikan padanya. Sehingga, dialah yang menjadi sebab rakyat memberontak dan berpecah belah terhadap Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu yang akhirnya merekapun memerangi beliau radhiallahu ‘anhu.
Dan juga disebutkan, salah seorang penguasa dari Bani Umayyah yang mendengar kritikan dan protes rakyat terhadap dirinya,
Maka beliau seingat saya dia adalah Abdul Malik bin Marwan mengumpulkan para pemuka dan tokoh masyarakat dan berbicara dengan mereka.
“Wahai sekalian manusia! Maukah kalian agar aku menjadi seperti Abu Bakr dan ‘Umar?!”.
Mereka menjawab, “Ya!”.
Beliau berkata, “Jika kalian menginginkannya, maka jadilah kalian seperti kami masyarakatnya Abu Bakr dan ‘Umar!”,
Allah Subhanahu wa ta’ala itu Maha Bijaksana, Ia akan menetapkan pemimpin bagi rakyat sesuai dengan amal mereka.
Jika mereka buruk, maka buruk pula bagi mereka, dan jika mereka baik, maka baik pula untuk mereka.
Namun, bersamaan dengan itu…
Tidaklah diragukan bahwa kebaikan seorang pemimpin itulah asalnya, karena jika baik pemimpin maka terwujudlah kebaikan.
Sebab seorang pemimpin itu memiliki kekuasaan dan mampu untuk mewujudkan kebaikan dan menegakkan keadilan bagi yang menyimpang dan menghukum bagi yang melampui batas dan melanggar.
Semoga Allah Jalla Wa ‘Alā senantiasa memperbaiki seluruh rakyat Indonesia dan para pemimpinnya.
Sumber:
Syarh Riyadhush-Shālihīn, Bab Ash-Shabr (tentang Kesabaran) jilid 1 hal. 282-283, cet. Madārul Wathan, Riyadh.
Akhukum,
Hudzaifah bin Muhammad.
Ghafarallāhu lahu wa wālidaihi
by Danu Wijaya danuw | Feb 16, 2017 | Artikel, Dakwah
Jika kita bingung melihat apa yg terjadi dizaman ini, seorang muslim enggan memakai syariat Islam. Bahkan lantang menentang ajaran agama Islam yang dianutnya. Tetapi disisi lain justru sebagian non-muslim merasa nyaman dengan ajaran Islam. Mari kita simak Asbabun Nuzul (sebab turunnya ayat) Surat An-Nisa ayat 60 – 61.
Ayat 60
أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ يَزْعُمُونَ أَنَّهُمْ آمَنُوا بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ وَمَا أُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَ يُرِيدُونَ أَنْ يَتَحَاكَمُوا إِلَى الطَّاغُوتِ وَقَدْ أُمِرُوا أَنْ يَكْفُرُوا بِهِ وَيُرِيدُ الشَّيْطَانُ أَنْ يُضِلَّهُمْ ضَلالا بَعِيدًا (٦٠
60. Tidakkah engkau (Muhammad) memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelummu? Tetapi mereka hendak berhakim kepada thaghut, padahal mereka telah diperintah mengingkari thaghut itu. Dan syaitan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) penyesatan yang sejauh-jauhnya.
Ket :
* Orang yang selalu memusuhi Nabi Muhammad saw dan kaum muslimin. Ada yang mengatakan Abu Barzah adalah tukang tenung pada masa Nabi, dan ada yang mengatakan Ka’ab bin Asyraf (orang munafik).
Ayat 61
وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ تَعَالَوْا إِلَى مَا أَنْزَلَ اللَّهُ وَإِلَى الرَّسُولِ رَأَيْتَ الْمُنَافِقِينَ يَصُدُّونَ عَنْكَ صُدُودًا (٦١
61. Dan apabila dikatakan kepada mereka : “Marilah kamu (patuh) kepada apa yang telah diturunkan Allah dan (patuh) kepada Rasul”, (niscaya) engkau (Muhammad) melihat orang-orang munafik menghalangi (manusia) dengan sekuat-kuatnya dari (mendekati) kamu.
Menurut pentafsir, Ar-Razi berkata; sebagian besar mufassir berkata; seorang munafik (maksudnya Bisyr si munafik) berdebat dengan seorang Nasrani.
Lalu si Yahudi berkata, “Ada hakim antara aku dan kamu; yaitu Abu Qasim.’
Pilihan si Yahudi kepada Abu Qasim karena dikenal kejujuran dan ketaatan menjalankan hukum berdasarkan syariat Allah.
Si munafik berkata, ‘Ada hakim antara aku dan kamu; Ka’ab bin Asyraf’.”
Sementara pilihan si munafik kepada Ka’ab bin Asyraf karena dikenal muslim yang suka berhukum atas nafsu duniawi.
Penyebab si munafik tidak mau berhukum kepada Nabi SAW adalah karena beliau pasti memutuskan dengan benar dan tidak mau menerima suap. Sementara Ka’ab bin Asyraf sangat menyukai suap.
Dalam hal ini, si Yahudi tersebut benar, sementara si munafik tersebut salah. Karena makna inilah, si Yahudi ingin berhukum kepada Rasulullah SAW, sementara si munafik ingin berhukum kepada Ka’ab bin Asyraf.
Setelah itu mereka berdua tetap bersikeras pada kata-katanya. Akhirnya keduanya menemui Nabi Saw. Lalu beliau Nabi Saw memutuskan memenangkan si Yahudi atas orang munafik tersebut.
Si munafik lantas berkata, “Aku tidak ridha. Mari kita pergi ke Abu Bakar.”
Abu Bakar kemudian memutuskan memenangkan si Yahudi atas orang munafik. Si munafik juga tidak ridha dengan keputusan Abu Bakar, lalu berkata, “Ada Umar yang akan memutuskan perkara antara aku dan kamu.”
Keduanya kemudian menemui Umar, lalu si Yahudi memberitahukan kepada Umar bahwa Rasulullah SAW dan Abu Bakar telah memutuskan mengalahkan si munafik, lalu ia tidak menerima putusan keduanya.
Akhirnya Umar bertanya kepada si munafik, “Benar seperti itu?” Ia menjawab, “Ya.”
Umar berkata, “Tunggu! Aku ada perlu. Aku akan masuk terlebih dahulu untuk memutuskan perkara ini, setelah itu akan keluar menemui kalian berdua.”
Umar masuk, lalu mengambil pedang, setelah itu Umar keluar menemui keduanya dan menebas si munafik hingga tewas, sementara si Yahudi melarikan diri karena kaget ketakutan.
Setelah itu Umar berkata, “Seperti inilah keputusanku terhadap siapa yang tidak menerima keputusan Allah dan keputusan Rasul-Nya.” Ayat ini Q.S. AnNisa ayat 60-61 kemudian turun.
Keluarga si munafik datang lalu mengadukan Umar ra kepada Nabi SAW Beliau kemudian bertanya kepada Nabi SAW mengenai peristiwa ini. Umar berkata, “Dia menolak keputusanmu, wahai Rasulullah.”
Jibril langsung turun pada saat itu juga lalu berkata, “Dia (Umar) itu Al-Faruq; membedakan antara kebenaran dan kebatilan.”Beliau Nabi saw kemudian berkata kepada Umar, “Kau Al-Faruq.”
Kisah serupa juga disebutkan Abu As-Sa’ud, Al-Baidhawi, An-Nasafi, Ruhul Bayan, Al-Khazin, Al-Khatib, dan Al-Kasysyaf.
Salah satu ciri munafik adalah selalu menolak dan menawar ketetapan hukum Allah dan Rasulullah SAW dengan segala alasan duniawi, politik dan kebangsaan yang akhirnya me-nomer-duakan syariat Islam.
by Danu Wijaya danuw | Feb 16, 2017 | Artikel, Dakwah
Publik menyoroti perolehan suara Pilgub DKI Jakarta pada TPS 17 Petamburan Jakarta Pusat yang merupakan lokasi Habib Rizieq Shihab melakukan pencoblosan.
Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) itu ikut mencoblos dalam pergelaran Pilkada DKI Jakarta. Ia dan keluarga mencoblos di TPS 17 di kawasan Petamburan, Jakarta Pusat.
Habib Rizieq, yang mengenakan pakaian serba putih, tampak berjalan kaki dari kediamannya yang tak jauh dari TPS.
Habib Rizieq datang ditemani istri dan kedua anak perempuannya. Keempatnya tampak mencoblos pada waktu hampir bersamaan.
Setelah mencoblos, Habib Rizieq memilih tak berkomentar apa pun. Ia berada di area TPS hanya sekitar 15 menit. Sekitar pukul 10.30 WIB, Habib Rizieq dan keluarga pergi meninggalkan TPS untuk kembali menuju rumah mereka.
Dari hasil perhitungan suara kubu nomor 2 Ahok Djarot unggul 278 suara, disusul Anies-Sandi dengan 212 suara, dan Agus-Sylvi di urutan buncit dengan 38 suara, dan suara tidak sah 5 suara.
Penyebab kemenangan Ahok Djarot disebabkan lokasi TPS 17 berada di kompleks Kristen Bethel Petamburan, dimana mayoritas pemilih dalam TPS tersebut beragama kristiani dan memberikan dukungan kepada Ahok Djarot.
“Ahok menang di TPS 17 Petamburan 3 di Lokasi TPS Hb Rizieq, krn semua penghuni kompleks Kristen Bethel Petamburan sebagai Pendukung Ahok ditumpahkan di TPS tersebut” ujar netizen bernama Nanik Sudayati dalam keteranganya yang dimuat di akun facebook pribadinya, rabu(15/2/2017).
Menurut Nantik selama ini tiap Pemilu TPS mereka selalu terpisah depan Gereja Bethel di Petamburan 4, tidak di Petamburan 3.
Meskipun demikian ada yang menarik dari hasil perolehan suara pasangan nomor 3 Anies-Sandi dengan mendapatkan suara sebanyak 212.”Namun demikian ada yg menarik bhw Anis di TPS Habib Rizieq dapat suara 212″ papar Nanik.
Islamedia