by Danu Wijaya danuw | Sep 10, 2016 | Artikel, Dakwah
Menurut Adz Dzahabi, orang berilmu menjaga lisannya karena Allah. Jika takjub pada bicaranya, dia diam. Walau terlanjur dianggap berilmu jangan malu mengatakan “Aku tak tahu!”, dengan begitu Allah yang akan menjadi Gurumu.
Jagalah ilmu dengan amal. Jagalah amal dengan ikhlas. Jagalah ikhlas dengan istiqamah. Jagalah istiqamah dengan ihsan. Kesalahan para MUDA; mengira kecerdasan penentu pengalaman. Kesalahan para TUA; mengira pengalaman penentu kecerdasan.
Ucapan Imam Syafi’i untuk renungan, “Aku sangat ingin agar manusia memahami ilmu ini, dan tak menyandarkannya padaku sedikitpun.”
Bukan ilmu sejati, jika membuatmu merasa lebih tinggi. Bukan pemahaman hakiki, jika membuatmu enggan belajar lagi.
Tingginya jalan cita-cita, menyempitkan waktu sanatimu. Dalamnya ilmu, meluaskan jalan baktimu. Ketika ilmu diperbincangkan lebih banyak daripada yang diasup seharian. Hampa dan ngilu pasti hadir menyesakkan kerongkongan.
Tabiat ilmu berlelah-lelah. Sebab ia jalan tuk naik ke ketinggian. Pendakiannya terjal, udaranya menipis, dan payah peluh menghiasi.
Sumber :
Menyimak Kicau Merajut Makna, Salim A. Fillah, Pro U Media
by Danu Wijaya danuw | Sep 9, 2016 | Artikel, Dakwah
Al Ghazali menyebut keengganan Muslim berpolitik menyebabkan beberapa pemimpin dari non Muslim. Politik menyentuh sisi terluas kehidupan komunal, insan berilmu jangan sampai rabun tak sadar digunakan orang lain untuk kejahatan. Sebab kuasa politik jahat akan menebar kerusakan dimuka bumi.
Kesadaran politik (Political Awareness) harus tercapai tahap demi tahap dengan tujuan kuasa keshalihan yang melayani. Kita bisa melihat contoh Hijrah muslim dulu ke Habasyah. Mengapa yang berhijrah justru para bangsawan seperti Ja’far, Ustman dan lainnya. Bukan bilal dan sekawan dengannya yang tertindas? Sebab ada tujuan politik kaum muslim kala itu.
- Pertama, mengguncang kuasa tribalistik Quraisy. Makkah termenung saat warga terhormatnya pergi.
- Kedua, mengeksiskan muhajirin. Andai yang pergi para budak, duta besar quraisy akan mudah mendeportasi mereka dengan alasan lari.
- Ketiga, menyiarkan kehadiran Islam pada dunia. Habasyah sebagai subordinat Romawi yang istimewa itu, menjadi isu yang menyebar di seluruh kekaisaran.
- Keempat, Raja Habasyah bernama Najasyi dikenal adil dan uskup-uskupnya berpengaruh. Interaksi muhajirin dengan mereka adalah pembelajaran berharga.
Demikianlah ujar Al Ghadban, tiap langkah dakwah Nabi menunjukkan mendalamnya political awareness beliau, analisa maupun tindakan. Politik mulia asal akhlak dijaga. Terobosan besar seperti cita-cita khilafah biasanya tak datang dari materi pendalaman semata, melainkan dari terbukanya pola pikir dan maju dalam politik.
Sumber :
Menyimak Kicau Merajut Makna, Salim A. Fillah, Pro-U Media
by Danu Wijaya danuw | Sep 9, 2016 | Artikel, Dakwah
Kemunduran abad IV hijriah dari telaah Al Ghazali diantaranya tersebab saling ejeknya para ahli ilmu, antara ilmu dunia dan ilmu Agama. Saat itu mereka yang belajar ilmu fikih merendahkan pembelajar matematika, astronomi, kedokteran, perdagangan, kimia dan tata negara. Sebutan “budak dunia” dilekatkan. Sebaliknya ahli fikih dihujat “munafik”, karena menjual ilmu agama untuk kepentingan dunia, harta dan kuasa.
Ahli fikih, kata Al Ghazali harus hargai ilmu lain sebab urusan ibadah pun tak bisa lepas dari aneka pengetahuan diluar fikih tersebut. Bagi orang berpenyakit pencernaan misalnya, dokterlah yang akan jadi mufti; apakah dia bisa berpuasa Ramadhan atau tidak. Itu ilmu agamawi.
Demikian juga ilmu tekstil, ia sangat agamawi sebab terkait dengan sah-batalnya ibadah dalam tertutupnya aurat; jenis kain hingga model.
Jadilah jua seorang fakih. Jangan hanya menjadi perbendaharaan ilmu, pahami juga interaksi ilmu realitas. Dalam umpama Imam Syafii, seorang berilmu tak cukup jadi ahli hadis, dia haruslah jua seorang ahli fikih. Analoginya: apoteker-dokter.
Ahli hadis dan apoteker memahami ilmu segala bahan dan racikan. Tetapi otoritas beri ramuan dan dosis pada ‘pasien’ ada di ahli fikih dan dokter. Sebab ahli fikih dan dokter tak hanya berpegang ilmu, bahan dan racikan. Melainkan juga mempertimbangkan kondisi fisik, organ dan metabolisme.
Penempuh jalan ilmu adalah dia yang alim; sedang dan terus berpengetahuan dengan pembelajaran tak kenal henti; mendalamkan dan meluaskan. Sang alim tak mendikotomikan ilmu jadi duniawi-agamawi. Semuanya ilmu Allah selama dikaji dengan asma-Nya dan diguna bagi kemashlahatan.
Sumber :
Menyimak Kicau Merajut Makna, Salim A. Fillah, Pro-U Media
by Danu Wijaya danuw | Sep 7, 2016 | Artikel, Dakwah
Kata Ali bin Abi Thalib, “Zuhud itu sikap, bukan keadaan. Zuhud yang paling utama adalah zuhud yang disembunyikan.”
Adapun menurut Ibnu Taimiyah, “Zuhud sejati adalah meninggalkan yang haram dan menjauhi syubhat yang remang.”
Zuhudnya Abu Bakar, ia enggan pada dunia dan dunia pun enggan padanya. Harta ditangannya, akhirat di hatinya.
Zuhudnya Umar, dia enggan pada dunia, tapi dunia bertekuk lutut merayu. Banjir nikmat tapi dia ikat dirinya pada teladan Nabi dan Abu Bakr.
Imam Ahmad menuturkan, “Zuhud adalah makanan yang menegakkan punggungmu, pakaian yang menutup auratmu, dan rumah yang menyembunyikam tangis sujudmu.”
Sementara Ibnul Mubarak menjelaskan, “Zuhud adalah segala kenikmatan yang bisa membuatmu menyatakan yang benar tanpa takut, menolong yang lemah tanpa ragu.”
Ali r.a. menambahkan, “Zuhud penguasa: tampilkan nikmat Allah kepada lainnya agar mengilhami. Zuhud penguasa: jauhi kemewahan agar tiada tersakiti.”
Zuhud itu menghiasi diri dengan syukur dan sabar, menghiasi amal dengan ridha dan ikhlas, menghiasi sesama dengan cinta dan ukhuwah.
Sumber :
Menyimak Kicau Merajut Makna, Salim A. Fillah, Pro-U Media
by Danu Wijaya danuw | Sep 7, 2016 | Artikel, Dakwah
Hari ini berdenyut lancar jantung dan nadi, tapi dzikir dihati sedikit sekali. Moga Allah ampuni.
Hari ini sejuk segar, dan napas pun lancar, tapi keshalihan tak banyak terpancar. Moga Allah ampuni.
Hari ini bergerak kian kemari, berbuat ini dan itu, entahkah sudah membaikkan sesama dan diri. Moga Allah ampuni.
Hari ini karunia Allah melimpah bagai lautan, tapi banyak terguna bukan dalam bakti, bahkan mendurhakai. Moga Allah ampuni.
Hari ini merasa gembira jika dipuji hal yang tiada, merasa marah jika disebut aib nyata. Moga Allah ampuni.
Hari ini bagai terjangkit penyakit mematikan, takjub pada kebaikan sendiri, merasa lebih baik dari sesama. Moga Allah ampuni.
Sumber :
Menyimak Kicau Merajut Makna, Salim A. Fillah, Pro-U Media
by Danu Wijaya danuw | Sep 6, 2016 | Artikel, Dakwah
Para pionir Islam seperti sahabat Nabi ada di hati dan cintanya. Tokoh hebat yang bergabung belakangan turut merasakan penghargaan, kesempatan bakti dan nasihat.
Suatu ketika sahabat nabi, Abdurrahman bin Auf menentang kebrutalan Khalid, lalu Khalid mengkasarinya. Nabi kemudian menegur Khalid dengan kalimat dahsyat. “Jangan pernah kau cela sahabatku, hai Khalid. Demi Allah, andai kau infakan emas segunung Uhud, takkan bisa menyamai segenggam kurmanya!”
Apa khalid bukan sahabat? Ya sahabat juga. Tetapi 8 bulan yang penuh kemenangan itu jadi mungil disandingkan 20 tahun luka dan duka sahabat termasuk Abdurrahman bin Auf.
Uhud katanya merusak nurani. Disana Abdurrahman jadikan tubuhnya perisai lindungi Nabi dari usaha membunuh Nabi.
Infaq segenggam kurma Abdurrahman tak tertandingi emas sepenuh gunung. Tetapi memangnya pernah Abdurrahman infaq cuma segenggam?
Sekali ada seruan Nabi, Abdurrahman bisa mengeluarkan 40.000 dinar. Kadang jua 1.000 unta beserta seluruh muatannya.
Bagaimana mungkin Khalid apalagi kita mengejarnya? Sejak saat itu Khalid yang semula ganas dan angkuh jadi lebih terkendali.
Sumber :
Menyimak Kicau Merajut Makna, Salim A. Fillah, Pro-U Media