by Danu Wijaya danuw | Mar 3, 2017 | Adab dan Akhlak, Artikel
Ibnul Qayyim rahimahullaah (wafat: 751-H) mengatakan: “Ada sepuluh hal yang tidak bermanfaat, layaknya sampah buangan bagi seorang insan:
(1) علم لا يعمل به
Ilmu yang mengendap lantas mati, tidak terhidupkan dalam wujud amal yang shalih.
(2) وعمل لا إخلاص فيه ولا اقتداء
Amal yang kosong dari ruh keikhlasan dan sunyi dari spirit mutaaba’ah kepada sunnah.
(3) ومال لا ينفق منه فلا يستمتع به جامعه في الدنيا ولا يقدمه أمامه في الآخرة
Harta yang tidak diinfaqkan di jalan Allah, tidak pula mampu dinikmati oleh para penimbunnya di dunia, dan tidak juga akan dihadirkan di hadapannya kelak di akhirat.
(4) وقلب فارغ من محبة الله والشوق إليه والأنس به
Hati yang kosong dari Mahabbatullaah (cinta pada Allaah), melompong dari rasa kerinduan dan kesukaan pada-Nya.
(5) وبدن معطل من طاعته وخدمته
Badan yang kosong dari ketaatan dan pengkhidmatan pada-Nya subhaanahu wata’aalaa.
(6) ومحبة لا تتقيد برضاء المحبوب وامتثال أوامره
Rasa cinta pada Allaah yang tidak terikat dengan keridhaan dan kepatuhan pada perintah-Nya.
(7) ووقت معطل عن استدراك فارط أواغتنام به وقربة
Waktu yang kosong dari koreksi terhadap kealpaan diri, hampa dari amalan yang bermanfaat, dan sunyi dari ibadah yang bisa mendekatkan pada Ilahi.
(8) وفكر يجول فيما لا ينفع
Pikiran yang berkelana, lalu singgah pada hal-hal yang tidak bermanfaat.
(9)
وخدمة من لا تقربك خدمته إلى الله ولا تعود عليك بصلاح دنياك
Pengkhidmatan kepada mereka yang tidak bisa mendekatkan dirimu pada Allaah, dan tidak pula pengkhidmatan tersebut kembali padamu dalam wujud kemaslahatan dunia bagimu.
(10)
وخوفك ورجاؤك لمن ناصيته بيد الله وهو أسير في قبضته ولا يملك لنفسه ضرا ولا نفعا ولا موتا ولا حياة ولا نشورا.
Rasa takut dan harapmu yang engkau peruntukkan bagi selain Allah, padahal Allah adalah Dzat yang memegang ubun-ubun mereka yang memiliki dan menguasai mereka secara mutlak.
Sementara mereka, adalah tawanan dalam kekuasaan-Nya.
Sementara mereka, tidak mampu mendatangkan manfaat bagi diri mereka sendiri sekalipun, tidak juga mampu menolak mudharat, tidak sanggup menolak maut, kehidupan dan kebangkitan.
Sumber :
Nukilan dari kitab Mausuu’atul Akhlaaq waz Zuhdi war Raqaa-iq: 1/10-11, Yaasir Abdurrahmaan, cet.-1 Mu-assasah Iqraa’, tahun 1428.
by Danu Wijaya danuw | Mar 1, 2017 | Artikel, Dakwah
Agus Maftuh memiliki latar belakang seorang akademisi di Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta. Ia mengampu sejumlah mata kuliah di antaranya Diplomasi dan Politik Luar negeri, serta Studi Keamanan dan Pertahanan.
Suatu ketika Pak Agus Maftuh bertemu dengan Dubes Arab Saudi untuk Indonesia. Beliau bertanya “apakah sudah hafal lagu kebangsaan Indonesia? sang dubes menjawab “belum hafal”. Kemudian Agus Maftuhpun bilang kepada Dubes itu” saya baru beberapa bulan sudah hafal lagu kebangsaan Arab Saudi”. Kemudian Agus Maftuh menyanyikan lagu itu dengan baik. Dengan modal hafal lagu kebangsaan itu Agus Maftuh bisa berdiplomasi.
Maklumlah Agus Maftuh santri sejati seperti halnya Gus Dur. Tidak heran jika pemerintah Arab Saudi mulai tertarik untuk berinvestasi ke Indonesia. Nah, rupanya baru-baru ini Pangeran Walid bin Talal datang bersama Agus Maftuh menghadap Jokowi. Bisa jadi para pangeran-pangeran yang kelebihan duit itu juga akan menanamkan duitnya di Indonesia.
K.H. Malik Madany, Mantan Khatib Syuriah PBNU menggambarkan betapa ndeso-nya Agus Maftuh. ‘’Mas Agus Maftuh ini bocah ndeso tapi cerdas. Bocah ndeso yang mengalami mobilitas vertikal. Dan saya sangat setuju yang dilakukannya malam ini. Bukan syukuran tapi doa mengantar tugas. Jabatan sebagai duta besar itu sesuatu yang harus disyukuri.”
Disamping sebagai dosen, Agus Maftuh selama ini juga dikenal sebagai ahli terorisme dan pernah menjadi dosen tamu masalah terorisme di Pakistan. Maka tak heran jika ada kampus dari Pakistan mengirimkan bunga ke kediamannya. Agus Maftuh menulis buku “Negara Tuhan” yang mengungkap jejaring terorisme Indonesia dengan “kampus Peshawar” di wilayah Asia Selatan.
Menikah dengan Luluk Muniroh, Agus Maftuh dikaruniai empat orang putra-putri. Selain Gebriel yang kuliah di Kairo ada Nabila Azwida Faradisa (S2 di UGM) dan Lubna Feyla Affa serta seorang putri yang masih balita.
Dubes RI Mengajak Arab Saudi untuk Datang Ke Indonesia
Sebelumnya ajakan kepada Raja Arab untuk datang ke Indonesia melalui menyerahkan Surat Kepercayaan (letter of credentials) kepada Raja Salman bin Abdulaziz Al Saud, di Istana Kerajaan di Kota Jeddah pada tanggal 22 Juni 2016.
Dalam kesempatan itu, Dubes RI untuk Arab Agus Maftuh menyampaikan salam dari Presiden RI Joko Widodo. Selanjutnya Maftuh juga meyakinkan Raja Saudi untuk berkunjung ke Indonesia.
“Rakyat Indonesia telah menunggu kunjungan Raja Arab Saudi ke Indonesia selama 46 tahun,” kata Maftuh yang juga Staf Pengajar UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta ini dalam keterangan tertulis.
Dubes RI untuk Arab diajukan PKB mewakili NU
Muhaimin Iskandar atau Cak Imin mengungkapkan pihaknya memang telah mengajukan Agus Maftuh Abegebriel sebagai Duta Besar Arab Saudi ke Presiden Joko Widodo sebelum dilantik. Karena memiliki sejumlah tujuan.
“Dubes Saudi sebelumnya saya panggil dan diajukan (ke Presiden) karena memiliki tiga tujuan.
Pertama, harus melindungi dan menyelamatkan serta menjaga orang-orang kita (Warga Negara Indonesia) di Saudi. Karena itu adalah harkat dan martabat bangsa kita,” kata Cak Imin.
Kedua, seorang Dubes Arab Saudi harus mampu mewarnai dunia Islam yang toleran seperti di Indonesia. Begitupula diharapkan membawa pola diplomasi yang berbasis kemajuan sebagaimana pola pikir kemajuan Islam di Indonesia.
Ketiga, bisnis-bisnis besar yang ada di Timur Tengah hendaknya dapat dibawa dan dikembangkan di tanah air agar mampu menjadi motor penggerak perekonomian bagi masyarakat di Indonesia.
Selamat bertugas Gus Agus Maftuh
by Danu Wijaya danuw | Feb 28, 2017 | Artikel, Dakwah
Salman Al Farisi seorang sahabat Nabi yang istimewa ini pernah menjabat gubernur di beberapa kota. Ia adalah orang yang sangat shalih, rendah hati, hingga ia makan dan minum dari hasil keringatnya sendiri.
Pada suatu hari ketika Salman sedang berjalan kaki, ia bertemu dengan seorang pedagang yang datang dari negeri Syam, sambil membawa barang bawaannya berupa buah tin dan buah kurma.
Pedagang itu mencari tukang angkut (kuli) yang dapat membantunya membawakan barang bawaannya.
Tatkala dilihatnya seorang lelaki yang tampaknya olehnya seperti halnya rakyat kebanyakan, terlintas dalam benaknya untuk menyuruh orang itu membawakan barang dagangannya.
Pedagang itu pun melambaikan tangannya sembari menunjuk orang yang dilihatnya yaitu Salman Al Farisi agar menghampirinya.
Pedagang itu berkata, “Tolong bawakan barang-barangku ini!”
Orang yang diperintah pun segera membawanya dan keduanya berjalan beriringan, hingga melewati sekelompok orang yang sedang berkumpul.
Sang Pedagang dan Kuli Angkut Barang itu lantas mengucapkan salam kepada mereka. Mereka lalu menjawab, “Wa’alaikummusalam wahai Amirul Mukminin.”
Pedagang Syam itu kebingungan dan bertanya dalam hatinya, “Gubernur? Gubernur mana yang kalian maksud?”
Ia semakin bertambah keheranan tatkala melihat sebagian dari mereka cepat-cepat menuju ke arah tukang angkutnya sembari memohon, “Biar aku saja yang membawanya wahai Amir”
Akhirnya pedagang dari Syam itu mengetahui bahwa orang yang membawa barang-barangnya itu tidak lain adalah gubernur wilayah tersebut, yaitu Salman Al Farisi.
Seketika itu juga dia langsung meminta maaf kepada beliau dan menyatakan penyesalannya. Segera ia mendekati Salman untuk membantu menurunkan barang bawaannya.
Tetapi Salman menolak sambil berkata, “Tidak usah, aku akan membawanya hingga sampai di rumahmu,” tuturnya.
Demikianlah kisah pemimpin shalih yang merakyat, dan mau turun langsung berkeringat mengayomi rakyatnya. Semoga kita diberikan pemimpin yang shalih.
by Danu Wijaya danuw | Feb 27, 2017 | Adab dan Akhlak, Artikel
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
“Apabila kalian mendengar ayam berkokok, mintalah karunia Allah (berdoalah), karena dia melihat malaikat. Dan apabila kalian mendengar ringkikan keledai, mintalah perlindungan kepada Allah dari setan, karena dia melihat setan.” (HR. Bukhari 3303 dan Muslim 2729).
Dalam riwayat Ahmad, terdapat keterangan tambahan, “di malam hari”.
إِذَا سَمِعْتُمْ صِيَاحَ الدِّيَكَةِ مِنَ اللَّيْلِ، فَإِنَّمَا رَأَتْ مَلَكًا، فَسَلُوا اللهَ مِنْ فَضْلِهِ
Apabila kalian mendengar ayam berkokok di malam hari, sesungguhnya dia melihat Malaikat. Karena itu, mintalah kepada Allah karunia-Nya. (HR. Ahmad 8064 dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth).
Keistimewaan Ayam Jantan
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadikan bunyi kokok ayam jantan di waktu malam, sebagai penanda kebaikan, dengan datangnya Malaikat dan kita dianjurkan berdoa. Ini bagian dari keistimewaan ayam.
Al-Hafidz Ibn Hajar mengatakan, Ayam jantan memiliki keistimewaan yang tidak dimiliki binatang lain, yaitu
Mengetahui perubahan waktu di malam hari. Dia berkokok di waktu yang tepat dan tidak pernah ketinggalan. Dia berkokok sebelum subuh dan sesudah subuh, hampir tidak pernah meleset. Baik malamnya panjang atau pendek. Karena itulah, sebagian syafiiyah memfatwakan untuk mengacu kepada ayam jantan yang sudah terbukti, dalam menentukan waktu. (Fathul Bari, 6/353).
Mengapa Dianjurkan Berdoa?
Kita dianjurkan berdoa ketika mendengar ayam berkokok, karena dia melihat Malaikat. Karena kehadiran makhluk baik ini, kita berharap doa kita dikabulkan.
Al-Hafidz Ibn Hajar menukil keterangan Iyadh, Iyadh mengatakan, alasan kita dianjurkan berdoa ketika ayam berkokok adalah mengharapkan ucapan amin dari Malaikat untuk doa kita dan permohonan ampun mereka kepada kita, serta persaksian mereka akan keikhlasan kita. (Fathul Bari, 6/353).
Tidak Boleh Mencela Ayam Jago
Dalam hadis dari Zaid bin Khalid al-Juhani radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لَا تَسُبُّوا الدِّيكَ فَإِنَّهُ يُوقِظُ لِلصَّلَاةِ
Janganlah mencela ayam jago, karena dia membangunkan (orang) untuk shalat.
(HR. Ahmad 21679, Abu Daud 5101, Ibn Hibban 5731 dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth).
al-Hafidz Ibn Hajar menukil keterangan al-Halimi, Al-Halimi mengatakan, Disimpulkan dari hadis ini bahwa semua yang bisa memberikan manfaat kebaikan, tidak selayaknya dicela dan dihina. Sebaliknya, dia dimuliakan dan disikapi dengan baik.
Sabda beliau, ‘ayam mengingatkan (orang) untuk shalat’ bukan maksudnya dia bersuara, ‘shalat..shalat..’ atau ‘waktunya shalat…’ namun maknanya bahwa kebiasaan ayam berkokok ketika terbit fajar dan ketika tergelincir matahari. Fitrah yang Allah berikan kepadanya. (Fathul Bari, 6/353).
Allahu a’lam.
oleh ustadz Ammi Nur Baits
by Danu Wijaya danuw | Feb 26, 2017 | Adab dan Akhlak, Artikel
Dengki atau Hasad merupakan satu dari sekian penyakit yang mematikan. Bagaimana tidak, penyakit tersebut, seperti diidentifikasikan oleh Ibnu Hajar, adalah seseorang tidak ingin nikmat yang dimiliki orang lain itu bertahan lama. Bila perlu, segera hilang dari tangannnya. Bahkan, ganti berpindah ke pangkuan pelaku hasad tersebut.
Dari Anas bin Malik RA bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, “Janganlah kalian saling membenci, jangan saling mendengki, jangan saling membelakangi, dan jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara. Dan tidak halal bagi seorang muslim mendiamkan saudaranya lebih dari tiga hari”. [HR. Bukhari juz 7, hal. 88]
Apa dan bagaimana terjadi hasad?
Syeikh Mushthafa al-Adawi dalam karyanya yang berjudul, Fiqh al-Hasad mengemukakan, dengki bisa saja muncul akibat beberapa faktor. Pemicu yang paling banyak mendominasi adalah permusuhan dan kebencian, yang barangkali termanifestasikan dalam perilaku ataupun tidak. Faktor ini juga mungkin timbul akibat perlakuan lalim terhadap si pelaku dengki.
Sumpah serapah pun dengan mudah menyeruak, entah celaka, binasa hartanya, atau dampak tak mengenakkan lainnya.
Kecintaan terhadap harta dan jabatan juga bisa mendorong dengki diri seseorang. Ambisi meraih itu semua terkadang membutakan nurani. Bahkan, tak jarang pula menempuh berbagai cara agar orang lain sulit mencapai pangkat tersebut.
Teguran agar menjauhi pemicu dengki ini pernah disebutkan dalam surah an-Nisaa’ ayat 54.
“Ataukah mereka dengki kepada manusia (Muhammad) lantaran karunia yang Allah telah berikan kepadanya? Sesungguhnya Kami telah memberikan Kitab dan hikmah kepada keluarga Ibrahim, dan Kami telah memberikan kepadanya kerajaan yang besar.”
Rasa dengki juga bisa datang akibat berebut popularitas. Dan, kesemua faktor tersebut bermuara pada satu pangkal sebab, yakni lemahnya spiritualitas. Frekuensi iri yang ada dalam diri seseorang terkadang melintas ruang dan waktu. Namun, kadarnya akan semakin akut bila jarak antarkedua belah tak jauh. Misal, sesama karyawan dalam satu perusahaan, antartetangga kompleks perumahan, atau teman bisnis.
Bahaya Dengki
Kedengkian yang berlarut-larut pula, perlahan tanpa disadari, akan mengikis kebaikan pendengki itu sendiri. Dan, para pendengki itu kelak akan mempertanggungjawabkan kelakuannya tersebut di akhirat.
Dari Abu Hurairah bahwasanya Nabi SAW bersabda, “Hati-hatilah kalian terhadap dengki, karena sesungguhnya dengki itu memakan kebaikan sebagaimana api memakan kayu bakar”, atau beliau bersabda,“(memakan) rumput”. [HR. Abu Dawud]
Efek negatif dengki tak terhenti pada sanksi di akhirat, tetapi juga akan dirasakan dampaknya di kehidupan dunia. Perasaan gundah gulana, khawatir, dan sakit hati akan selalu menghantui hari demi hari si pendengki.
Dalam titik tertentu, terkadang ironsinya, ia malah mengharapkan petaka bagi dirinya sendiri. Dan, rasa dengki itu hanya akan menyebabkan yang bersangkutan terkucil dari lingkungannya. Karena itulah, rasa dengki dengan kriteria di atas sangat dikecam dalam agama.
Solusi dan Cara Mengikis Dengki
Syekh Musthafa pun memaparkan beberapa solusi dan cara sederhana guna mengikis kedengkian dalam diri seseorang. Ingat, bertawakallah selalu.
Karena, ungkap Ibnu al-Qayyim, hanya dengan bertawakallah seorang hamba dapat menampik tindakan lalim atau kebencian akan seseorang. Jika memposisikan Allah sebagai satu-satunya pelindung, sejauh itu pula penjagaan akan selalu ada.
“Dan barang siapa yang bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)-nya.” (QS at-Thalaq [65]: 3).
Resep membendung rasa dengki selanjutnya, menukil dari pernyataan Ibn al-Qayyim, bersikap cuek dan berusaha membersihkan pikiran dari tingkah laku pendengki.
Biarkan seperti angin lalu saja. Bahkan, akan sangat baik bila Anda membalas perlakuan buruk itu dengan tindakan baik. Memadamkan api kedengkian itu dengan balasan berupa perbuatan terpuji.
Dan terakhir, selalu berlindunglah kepada Allah SWT hasutan orang-orang pendengki, entah mereka yang berada jauh dari Anda, ataupun yang dekat dengan Anda sekalipun.
“Dan dari kejahatan pendengki bila ia dengki.” (QS al-Falaq [113]: 2)
by Danu Wijaya danuw | Feb 25, 2017 | Adab dan Akhlak, Artikel
Memasuki sebuah masjid untuk salat berjamaah atau aktifitas ibadah lainnya memang sangat dianjurkan dalam Islam. Tidak hanya manusia, malaikat pun memenuhi masjid-masjid dunia dengan tujuan mendoakan orang-orang yang beribadah di dalamnya.
Selain membuka alas kaki, masih banyak adab masuk ke masjid yang jarang diketahui. Ternyata orang yang memakan bawang, baik merah ataupun putih tidak diperbolehkan mendekati masjid.
Meski shalat berjamaah di masjid sangat dianjurkan, namun Rasulullah SAW justru menyuruh umatnya yang makan bawang untuk beribadah di rumah saja. Hal ini dianggap akan mengganggu keberadaan malaikat di masjid. Bagaimana bisa? Berikut ulasannya.
Malaikat senantiasa berada di dalam masjid dan mendoakan orang-orang yang berada di dalamnya. Makhluk Allah SWT yang tercipta dari nur atau cahaya ini senantiasa bershalawat memohonkan ampunan kepada hamba yang berada di dalam masjid.
‘Sesungguhnya jika seorang hamba duduk di masjid setelah melaksanakan shalat, maka para Malaikat akan bershalawat untuknya, dan shalawat mereka kepadanya adalah dengan berkata: ‘Ya Allah, ampunilah ia. Ya Allah, sayangilah ia.’ Jika ia duduk untuk menunggu shalat, maka para Malaikat akan bershalawat kepadanya, shalawat mereka kepadanya adalah dengan berdo’a: ‘Ya Allah, ampunilah ia. Ya Allah, sayangilah ia.’” (HR Imam Ahmad).
Namun aktivitas mulia ini seketika terganggu dengan kehadiran orang-orang yang memakan bawang ke saat akan ke masjid. Itulah mengapa Rasulullah SAW melarang umatnya mendekati masjid jika sebelumnya mereka mengkonsumsi makanan ini. Rasulullah menyarankan mereka untuk shalat di rumah saja sebagaimana Sabda Beliau saw :
“Barangsiapa makan bawang putih atau bawang merah, maka janganlah ia mendekati masjid kami dan hendaklah ia shalat di rumahnya, karena sesungguhnya para malaikat itu juga terganggu dengan apa-apa yang mengganggu manusia” [Al-Bukhari, kitab Adzan 854, Muslim, kitab Al-Masajid 564]
Hal ini disebabkan karena aroma bawang baik bawang merah, bawang putih atau kuras (daun bawang) dapat mengganggu orang lain yang sedang beribadah kepada Allah. Gangguan berupa bau tidak sedap itu tentu saja mengganggu kekhusyukan sebagian besar jamaah shalat.
Seperti diketahui bahwa apa yang dapat mengganggu manusia sebenernya juga mengganggu para malaikatnya. Seperti hadist yang diriwayatkan Bukhari berikut ini.
“Sesungguhnya para malaikat itu juga terganggu dengan apa-apa yang mengganggu manusia” [Al-Bukhari, kitab Al-Adzan 854, Muslim, kitab Al-Masajid 564]
Hadist di atas menunjukan bahwa makruhnya seorang mukmin untuk mengikuti shalat berjamaah karena bau dari bawang tersebut. Jika terlanjur memakannya, maka wajib bagi orang tersebut untuk menghilangkan baunya semaksimal mungkin sebelum berangkat menuju masjid.
Namun bukan berarti bawang di haramkan untuk dikonsumsi. Akan tetapi, Nabi Muhammad mengajarkan umatnya agar berada dalam kondisi terbaik jika sedang beribadah kepada Rabb-Nya.
Ternyata tidak hanya bawang, para ulama sepakat bahwa orang yang makanan makanan penghasil bau dilarang mendekati masjid, atau harus semaksimal mungkin menghilangkan aroma bau tersebut sebelum ke masjid. Makanan tersebut contohnya seperti : petai, jengkol, durian dan makanan penghasil bau mengganggu lainnya.