by Danu Wijaya danuw | Feb 24, 2017 | Artikel, Dakwah
Dalam Islam, semua hari adalah baik. Tetapi ada satu hari yang di anggap hari itu adalah hari terbaik dan memiliki keistimewaan serta nilai sejarah yang sangat panjang. Hari tersebut adalah hari jum’at. Kata jum’at diambil dari bahasa arab, jumu’ah yang berarti beramai-ramai. Hari jum’at memang memiliki beberapa keistimewaan yang harus Anda ketahui, berikut ini beberapa di antaranya:
1. Hari Jum’at adalah Hari Terbaik
Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Rasulullah bersabada: “Hari terbaik dimana pada hari itu matahari terbit adalah hari Jum’at. Pada hari itu Adam diciptakan, dimasukkan surga serta dikeluarkan darinya. Dan kiamat tidak akan terjadi kecuali pada hari Jum’at”
2. Terdapat Waktu Mustajab untuk Berdo’a.
Abu Hurairah berkata Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya pada hari Jum’at terdapat waktu mustajab bila seorang hamba muslim melaksanakan shalat dan memohon sesuatu kepada Allah pada waktu itu, niscaya Allah akan mengabulkannya. Rasululllah mengisyaratkan dengan tangannya menggambarkan sedikitnya waktu itu” (HR. Muttafaqun Alaih)
Ibnu Qayyim Al Jauziah – setelah menjabarkan perbedaan pendapat tentang kapan waktu itu mengatakan: “Diantara sekian banyak pendapat ada dua yang paling kuat, sebagaimana ditunjukkan dalam banyak hadits yang sahih, pertama saat duduknya khatib sampai selesainya shalat. Kedua, sesudah Ashar, dan ini adalah pendapat yang terkuat dari dua pendapat tdi” (Zadul Ma’ad Jilid I/389-390).
3. Sedekah pada hari itu lebih utama dibanding sedekah pada hari-hari lainnya.
Ibnu Qayyim berkata: “Sedekah pada hari itu dibandingkan dengan sedekah pada enam hari lainnya laksana sedekah pada bulan Ramadhan dibanding bulan-bulan lainnya”. Hadits dari Ka’ab menjelaskan: “Dan sedekah pada hari itu lebih mulia dibanding hari-hari selainnya”. (Mauquf Shahih)
4. Hari tatkala Allah SWT menampakkan diri kepada hamba-Nya yang beriman di Surga.
Sahabat Anas bin Malik dalam mengomentari ayat: “Dan Kami memiliki pertambahannya” (QS.50:35) mengatakan: “Allah menampakkan diri kepada mereka setiap hari Jum’at”.
5. Hari besar yang berulang setiap pekan.
Ibnu Abbas berkata : Rasulullah SAW bersabda:
“Hari ini adalah hari besar yang Allah tetapkan bagi ummat Islam, maka siapa yang hendak menghadiri shalat Jum’at hendaklah mandi terlebih dahulu.” (HR. Ibnu Majah)
6. Hari dihapuskannya dosa-dosa
Salman Al Farisi berkata : Rasulullah bersabda: “Siapa yang mandi pada hari Jum’at, bersuci sesuai kemampuan, merapikan rambutnya, mengoleskan parfum, lalu berangkat ke masjid, dan masuk masjid tanpa melangkahi diantara dua orang untuk dilewatinya, kemudian shalat sesuai tuntunan dan diam tatkala imam berkhutbah, niscaya diampuni dosa-dosanya di antara dua Jum’at”. (HR. Bukhari).
7. Jalannya Orang yang Shalat Jum’at adalah Pahala
Aus bin Aus berkata: Rasulullah bersabda: “Siapa yang mandi pada hari Jum’at, kemudian bersegera berangkat menuju masjid, dan menempati shaf terdepan kemudian dia diam, maka setiap langkah yang dia ayunkan mendapat pahala puasa dan shalat selama satu tahun, dan itu adalah hal yang mudah bagi Allah”. (HR. Ahmad dan Ashabus Sunan, dinyatakan shahih oleh Ibnu Huzaimah).
8. Orang yang Wafat pada Malam atau Hari Jum’at adalah Khusnul Khatimah
Diriwayatkan oleh Ibnu Amru , bahwa Rasulullah bersabda: “Setiap muslim yang mati pada siang hari Jum’at atau malamnya, niscaya Allah akan menyelamatkannya dari fitnah kubur”. (HR. Ahmad dan Tirmizi, dinilai shahih oleh Al-Bani).
9. Hari paling utama di dunia
Pada hari Jum’at, ada beberapa peristiwa yang terjadi pada hari jum’at ini, antara lain:
Allah menciptakan Nabi Adam ‘alaihissallam dan mewafatkannya.Hari Nabi Adam ‘alaihissallam dimasukkan ke dalam surga.Hari Nabi Adam ‘alaihissallam diturunkan dari surga menuju bumi.Hari akan terjadinya kiamat.Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata:
Hari paling baik dimana matahari terbit pada hari itu adalah hari jumat, pada hari itu Adam diciptakan, dan pada hari itu pula Adam dimasukkan ke dalam surga, serta diturunkan dari surga, pada hari itu juga kiamat akan terjadi, pada hari tersebut terdapat suatu waktu dimana tidaklah seorang mukmin shalat menghadap Allah mengharapkan kebaikan kecuali Allah akan mengabulkan permintannya. (HR. Muslim)
Itulah beberapa keutamaan dan keistimewaan tentang hari Jum’at, semoga kita mendapatkan ilmu dari apa yang kita baca.
by Danu Wijaya danuw | Feb 23, 2017 | Adab dan Akhlak, Artikel
Dalam sebuah buku berjudul “Ghirah”, Buya Hamka pernah memberikan pesan masalah yang ada di tengah masyarakat, khususnya krisis moral semata bukan disebabkan oleh faktor dari luar.
Masalah yang ada dalam keluarga misalnya, bukanlah semata dikarenakan adanya penyebab dari luar, namun bisa jadi sebenarnya disebabkan dari dalam diri keluarga tersebut. Sehingga, pesan pentingnya adalah bahwa diri dan keluarga kita tidak lain adalah tanggung jawab dari kita sendiri. Tanggung jawab agar menjadi pribadi dan keluarga yang baik.
“Pada suatu hari di tahun 1957 dalam suatu pertemuan di Banjarmasin yang diprakarsai oleh Kepolisian setempat, saya diminta berceramah. Setelah selesai ceramah, tampillah seorang di antara hadirin menyampaikan suatu pertanyaan,
“Apakah tidak sebaiknya dibentuk semacam Panita Negara untuk mengatasi krisis akhlak yang telah sangat bersimaharajalela sekarang ini?”
Lalu saya jawab bahwa saya setuju dengan ide demikian. Saya lanjutkan persetujuan saya itu dengan usul lebih konkret, yaitu bahwa seluruh warga negara Indonesia menjadi anggota dari Panitia tersebut sekaligus setiap anggota diwajibkan mengurus, tidak usah banyak orang, cukup tiap orang yang mengurus satu orang saja, yaitu dirinya sendiri.” (Prof. Dr. Hamka, Ghirah; Cemburu Karena Allah)
Bagi setiap Muslim, apa yang dia lakukan di dunia apakah berupa perbuatan baik ataupun buruk. Maka, dia pula yang akan mendapatkan balasannya dari Allah ta’ala. Perbuatan seseorang tidak dibebankan kepada orang lain, maksudnya adalah setiap individu bertanggung jawab atas perbuatannya.
Menjaga Keluarga
Dalam urusan keluarga, Allah ta’ala menyampaikan dalam firman-NYA bahwa ada tanggung jawab seseorang kepada keluarganya. Allah ta’ala berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ
“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.”(QS. At-Tahrim: 6)
Dalam tafsir Jalalain dikatakan bahwa menjaga diri dan keluarga adalah dengan beramal mentaati Allah ta’ala (bil ‘amali ‘alaa thaa’atillah).
Lebih rinci lagi, Imam Asy-Syaukani menjelaskan dalam Fathul Qadir, bahwa menjaga diri adalah dengan melakukan apa yang diperintahkan dan meninggalkan apa yang dilarang (bi fi’li maa amarakum bih, wa tarki maa nahaakum ‘anhu).
Imam Asy-Syaukani melanjutkan, bahwa menjaga keluarga adalah dengan menyuruh mereka (keluarga) untuk taat kepada Allah ta’ala dan melarang mereka dari maksiat kepada Allah ta’ala (bi amrihim bi thaa’atillah, wa nahyihim ‘alaa ma’aashiyyahi).
Nabi Muhammad shalallahu’alaihi wa sallamajuga menyampaikan tentang wajib dan pentingnya perhatian seseorang kepada keluarganya, khususnya anak-anaknya. Nabi Muhammad shalallahu’alaihi wa sallam bersabda:
“Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah, maka kedua orang tuanyalah yang menjadikan Yahudi, Nashrani atau Majusi.” (HR. Bukhari danMuslim)
Menjaga Bersama Al-Quran
Tidak dipungkiri, bahwa sekarang kita hidup di tengah era globalisasi dan kemajuan teknologi. Dimana tidak hanya dampak positif yang didapat, namun justru banyak sisi negatif yang menjangkiti lingkungan masyarakat kita.
Anak kecil umur balita lebih dekat dengan gadget daripada orangtuanya bahkan. Anak-anak seumuran TK dan SD ketagihan dengan smartphone. Anak-anak remaja dan dewasa justru memiliki masalah yang lebih kompleks lagi.
Paling tidak, satu solusi dan antisipasi dari sekian banyak adalah dengan jadilah pribadi dan keluarga Qurani. Inilah salah satu cara selain pendidikan aqidah, akhlak, dan lainnya di rumah kita.
Keluarga Al-Qur’an
Tidak dipungkiri, bahwa salah satu fakta sekarang, anak-anak, ayah dan bunda lebih berlama-lama berinteraksi dengan gadget daripada Al-Quran. Jangankan menghafalnya, untuk membaca Al-Quran rutin setiap hari mungkin sudah jarang kita temukan di keluarga-keluarga umat Islam saat ini.
Sehingga, tidak ada kata terlambat untuk kita memulainya. Sedari awal, mulai dari sekarang buka mushaf Al-Quran yang lama menjadi “pajangan-pajangan”di rumah.
Mulailah untuk berinteraksi dengan Al-Quran, membaca, menghafalkan, mentadabburi, mengamalkan dan mendakwahkannya.
Didik anak-anak kita membaca Al-Quran dengan benar dan baik. Dan sangatlah memungkinkan untuk menjadikan generasi muda kita, menjadi penghafal (penjaga) Al-Quran. Sehingga ketika meraka meneruskan pendidikan tinggi, mereka mempunyai bekal Al-Quran.
Dan ketika mereka berkarir nanti, mereka adalah seorang dokter yang hafal Al-Quran, seorang profesor yang hafal Al-Quran, seorang pengusaha hafal Al-Quran, seorang pejabat hafal Al-Quran dan lain sebagainya.
Alhamdulillah, in Syaa Allah semakin hari, akan semakin banyak pribadi dan keluarga yang menjadi generasi Qurani.
Oleh : Abu Sulthan, twitter: @lutfisarif
by Danu Wijaya danuw | Feb 21, 2017 | Adab dan Akhlak, Artikel
Salah satu penyakit hati dalam diri manusia yang dapat menutup jalan hidayah Allah swt adalah 4 sifat tercela tersebut. Penyakit ini bisa melanda seluruh lapisan masyarakat, dari yang kaya sampai yang miskin, orang alim dan bodoh, dan yang muslim maupun non muslim. Diantara tandanya adalah menantang alam, tidak menjalankan aturan Allah swt, dan meremehkan serta menghina sesamanya. Riya, Sum’ah, Ujub dan Takabur adalah sifat-sifat tercela yang hampir memiliki kesamaan, dan sifat-sifat tersebut harus kita jauhi.
1. Riya
Pengertian riya’ menurut Bahasa, berasal dari kata ru’yah, yang artinya menampakkan.
Secara istilah riya’ adalah memperlihatkan suatu amal kebaikan/ibadah kepada sesama manusia agar ingin dipuji orang dan tidak diniatkan untuk Allah swt.
Dalam firman Allah ta’ala,
“Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya, orang-orang yang berbuat riya.” (Q.S. Al Maa’uun ayat 4-6)
2. Sum’ah
Kata sum’ah secara Bahasa, berasal dari kata samma’a, yang artinya memperdengarkan.
Secara istilah Sum’ah adalah sikap seorang muslim memperdengarkan atau membicarakan amal/ibadahnya kepada orang lain yang semula tidak ada yang mengetahuinya atau tersembunyi, guna mendapat pujian, penghargaan atau keuntungan materi.
Dalam hadist Rasulullah saw bersabda, “Siapa yang berlaku Sum’ah maka akan diperlakukan Sum’ah oleh Allah. Dan barangsiapa berlaku riya makan akan dibalas dengan riya.” (H.R. Bukhari)
Maksud hadist : diperlakukan Sum’ah oleh Allah yaitu diumumkan aib-aibnya diakhirat. Sedangkan dibalas dengan riya yaitu diperlihatkan amalnya namun tidak diberi pahalanya. Naudzubillah..
3. Ujub
Ujub adalah mengagumi diri sendiri, yaitu ketika kita merasa bahwa diri kita memiliki kelebihan tertentu yang tidak dimiliki orang lain.
Imam Al Ghozali menuturkan, “Perasaan ujub adalah kecintaan seseorang pada suatu karunia dan merasa memilikinya sendiri, tanpa mengembalikan keutamaannya kepada Allah”.
Memang setiap orang memiliki kelebihan yang tidak dimiliki orang lain. Tetapi siapa yang memberikan kelebihan tersebut?
“Bagi Allah semua kerajaan langit dan bumi dan apa yang ada diantaranya.” (Q.S. Al Maidah ayat 120)
4. Takabur
Takabur berasal dari bahasa Arab takabbara – yatakabbaru, yang artinya sombong atau membanggakan diri sendiri.
Takabur semakna dengan Ta’azum, yaitu menampakkan keagungannya dan kebesarannya dibandingkan dengan orang lain.
Takabur berupa kesombongan merupakan sifat syaitan yang dijelaskan dalam Al Qur’an. Ini merupakan sifat paling berbahaya dan dibenci Allah swt.
“Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang sombong.” (Q.S. An Nahl ayat 23)
“Maka masuklah pintu-pintu neraka jahanam, kamu kekal didalamnya, maka amat buruklah orang-orang yang menyombongkan diri.” (Q.S. An Naml ayat 29)
Dengan segala kerendahan hati kita, mari sama-sama kita lihat jauh kedalam hati kita yang paling dalam. Mari kita hindari atau kita buang jauh-jauh sifat buruk atau sifat tercela ini, agar antar kita terjalin rasa kasih sayang yang tulus.
by Danu Wijaya danuw | Feb 21, 2017 | Adab dan Akhlak, Artikel
Kunjungan kepada orang sakit termasuk salah satu hak seorang muslim dengan muslim lainnya. Hukumnya mustahab. Supaya setiap individu tidak hanya berpikir urusan pribadinya saja, tetapi juga memiliki kepedulian kepada orang lain.
Mengunjungi orang sakit merupakan perbuatan mulia, dan terdapat keutamaan yang agung serta pahala yang sangat besar, dan merupakan salah satu hak setiap muslim terhadap muslim lainnya.
Untuk memotivasi umat supaya gemar melakukan kegiatan sosial ini, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
عَائِدُ الْمَرِيْضِ فِيْ مَخْرَفَةْ الْجَنَّةِ حَتَّى يَرْجْعَ
“Orang yang menjenguk orang sakit akan berada di kebun-kebun surga sampai ia pulang.” [HR Muslim, no. 2568]
Dalam hadist lain Rasulullah saw bersabda
“Apabila seseorang menjenguk saudaranya muslim (yang sedang sakit), maka (seakan-akan) dia berjalan sambil memetik buah-buahan Surga sehingga dia duduk, apabila sudah duduk maka diturunkan kepadanya rahmat dengan deras.
Apabila menjenguknya di pagi hari maka tujuh puluh ribu malaikat mendo’akannya agar mendapat rahmat hingga waktu sore tiba.
Apabila menjenguknya di sore hari, maka tujuh puluh ribu malaikat mendo’akannya agar diberi rahmat hingga waktu pagi tiba.” (HR. at-Tirmidzi, Ibnu Majah dan Imam Ahmad dengan sanad shahih).
Kunjungan kepada orang sakit tidak terbatasi oleh sekat agama. Rasulullah Saw pernah menjenguk pamannya, Abu Thalib yang musyrik.
Saat berkunjung, Rasulullah Saw memotivasi dan menanamkan optimisme pada si sakit. Bahwa penyakit yang diderita bukan sebuah mimpi buruk. Ada rahasia Ilahi di baliknya.
Dengan demikian, si sakit akan merasa lebih tenang, tidak mengeluhkan takdir atau mencaci penyakit yang sedang dideritanya. Beliau Saw pernah menegur orang yang mencaci demam (alhumma) dengan sabdanya:
لَا تَسُبِّي الْحُمَّى
“Janganlah engkau cela demam itu….” [HR. Muslim, 2575]
Beliau Saw menyebut penyakit yang menimpa seorang muslim sebagai thahur (pembersih dosa) atau kaffarah (pelebur dosa).
Ucapan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika mengunjungi orang sakit:
لَا بَأْسَ طَهُورٌ إِنْ شَاءَ اللَّهُ
“Tidak masalah, ia (penyakit ini) menjadi pembersih (dosa) insya Allah.” [HR al-Bukhari, 5656]
Beliau Saw membesarkan hati Ummu ‘Ala, bibi Hizam bin Hakim al-Anshari yang sedang sakit dengan berkata:
“Bergembiralah, wahai Ummu ‘Ala. Sesungguhnya Allah akan menggugurkan dosa-dosa orang yang sakit dengan penyakitnya, sebagaimana api menghilangkan kotoran-kotoran dari biji besi”. [Hadits hasan riwayat Abu Dawud, Shahih at-Targhib, 3438]
Dalam melakukan kunjungan kepada si sakit, Rasulullah Saw duduk berdekatan dengan arah kepala orang yang sakit. Atau meletakkan tangan di kening, wajah dan mengusap-usap dada dan perut si sakit. Beliau Saw menanyakan kondisinya.
Beliau Saw juga pernah menanyakan tentang apa yang diinginkan oleh orang sakit itu. Apabila menginginkan sesuatu yang tidak berbahaya, maka beliau Saw meminta seseorang untuk membawakannya. Dan sembari menempelkan tangan kanannya di tubuh orang yang sakit, beliau Saw melantunkan doa (di antaranya):
أَسْأَلُ اللَّهَ الْعَظِيمَ رَبَّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ أَنْ يَشْفِيَكَ
“Aku memohon kepada Allah Yang Maha Agung, Penguasa Arsy yang agung untuk menyembuhkanmu.” Dibaca tujuh kali. [Lihat Shahih Adabil-Mufrad, 416].
Kapan saja, seseorang dapat membesuk orang sakit. Akan tetapi, seyogyanya, pembesuk memilih waktu-waktu yang cocok untuk berkunjung, supaya tidak menjadi beban dan memberatkan orang yang sedang dikunjungi. Selain itu, kunjungan itu hendaklah singkat saja, kecuali jika dikehendaki oleh si sakit, atau jika memberikan maslahat baginya.
Inilah pemandangan yang begitu indah, ketika kaum mukminin memberi kegembiraan kepada seorang muslim untuk membuatnya tersenyum. Sekaligus sebagai bentuk kepedulian.
Disadur dari : majalah As-Sunnah, diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta
by Danu Wijaya danuw | Feb 19, 2017 | Artikel, Dakwah
Pilkada DKI 2017 mencatat fenomena baru. Bangkitnya partisipasi dan soliditas pemilih dari etnis Cina. Selama ini, etnis Cina dianggap sangat apolitis dan cenderung abai, bahkan menghindar dari urusan politik. Mereka lebih sibuk dan memfokuskan diri pada sektor ekonomi dan perdagangan. Hasilnya kini sangat terasa. Mereka menguasai semua sektor perekonomian, bahkan disebut-sebut segelintir taipan menguasai lebih dari 82 persen perekonomian Indonesia. Buah ketekunan ini sungguh dahsyat.
Di masa lalu, bukan fenomena mengagetkan bila dalam Pilkada atau Pilpres, etnis Cina memilih berlibur ke luar kota atau ke luar negeri. Tak mengherankan bila tingkat partisipasi mereka sangat rendah. Saat menjelang Pilkada dan Pilpres memang boleh disebut masa “susah” bagi etnis Cina yang dikenal sebagai pedagang yang ulet dan saudagar kaya. Banyak yang jauh hari sudah “menghilang” ke luar kota.
Dalam Pilkada DKI fenomenanya jauh berbeda. Dari data Exit Poll sejumlah lembaga survei dan juga fakta di sejumlah TPS menunjukkan, tingkat partisipasi dan soliditas mereka sungguh luar biasa. Di kantong-kantong pecinan, seperti Pluit, Jelambar, Kelapa Gading dan sejumlah tempat lainnya di Jakarta, mereka berbondong-bondong antre di TPS-TPS. Di TPS Mall of Indonesia (MOI) Kelapa Gading antrean mereka mengular, bahkan sampai pukul 14.00 WIB. Padahal seharusnya TPS pukul 13.00 Wib sudah tutup.
Mereka juga sangat militan memperjuangkan hak suara mereka. Dengan modal KTP mereka bersedia bersitegang, berteriak-teriak bahkan membentak petugas TPS, untuk dapat memilih. Dalam penghitungan suara, mereka juga melakukan sapu bersih. Suara mereka bulat penuh mendukung paslon nomor 2 Basuki-Djarot. Di beberapa TPS bahkan suara mereka 100% untuk paslon nomor 2. Dahsyat. Demikian pula halnya suara pemilih Kristen/Katholik yang lebih dari 95% lari ke Ahok-Djarot.
Ketua Umum Pemuda Muhammadiyah, Dahnil Anzar Simanjuntak, bahkan tak segan mengumbar kekaguman dan apresiasinya. Dahnil menilai Pilkada DKI 2017 sebagai potensi kebangkitan politik mereka. Dahnil tidak melihat itu sebagai sebuah bentuk politik aliran karena mereka solid memilih calon yang seetnis dan seagama.
Fenomena sebaliknya terjadi dengan pemilih muslim. Banyak kalangan muslim yang mengaku dirinya muslim, bahkan mengecam ketika ada yang menyerukan agar memilih sesama pemimpin muslim. Padahal landasannya sangat jelas, yakni kitab suci yang menjadi landasan keimanan umat Islam.
Dalam Quran Surat Al-Maa-idah : 51.
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa diantara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang dzalim.”
Perlu dicatat, yang diserukan selama ini adalah memilih pemimpin sesama Muslim, bukan sesama Etnis. Jadi walaupun dia china atau negro jika dia Muslim maka perlu didukung dalam ajaran Islam, sebab satu iman yaitu menyembah Allah swt.
Dalam demokrasi modern, memilih berdasarkan etnis, agama dan kedekatan-kedekatan lain, adalah soal biasa. Di Amerika selama ratusan tahun bahkan dikenal sebuah istilah White, Anglo Saxon, and Protestant (WASP). Muncul semacam kesepakatan bahwa yang boleh dan bisa menjadi Presiden Amerika Serikat haruslah seorang kulit putih, dari negara Anglo Saxon ( British) dan beragama Protestan.
Jadi seharusnya sangat wajar sebagai mayoritas secara populasi, pemilih Islam juga menghendaki dan memilih pemimpin Islam.
Begitu pula sangat wajar bila etnis Cina maupun non-muslim menghendaki dan menginginkan pemimpin yang berasal dari kelompok dan sesama mereka. Mereka boleh saja bercita-cita menjadi gubernur bahkan presiden Indonesia.
Tidak perlu ada label rasis, sektarian, anti-pluralisme dan yang paling serem adalah anti-kebhinekaan, anti-NKRI.
Dalam sejarah dunia, kekuasaan yang dipegang oleh pemimpin muslim, terbukti sangat mengayomi para pemeluk agama lain dalam kehidupan politik, keagamaan dan sosialnya. Sangat banyak contoh soal ini.
Mulai ketika Nabi Muhammad memimpin pemerintahan di Madinah, dinasti Abbasiyah di Andalusia, Ustmaniah saat menguasai beberapa negara Eropa dan tentu saja jangan lupa apa yang terjadi dalam sepanjang sejarah Republik Indonesia.
Walupun bukan negara Islam, tapi pemimpin dan mayoritas penduduk Indonesia adalah Islam. Kehidupan beragama di Indonesia sering disebut sebagai sebuah contoh bagi dunia.
Cerita sebaliknya justru terjadi di negara-negara dimana Muslim menjadi minoritas. Contoh paling aktual adalah apa yang terjadi dengan komunitas Rohingya di Myanmar. Mereka diperlakukan layaknya bukan manusia, hanya karena alasan etnis dan agama yang berbeda dengan mayoritas warga dan penguasa Myanmar
Jadi bagi anda yang Islam, Kristen, Katholik, Hindu, Budha, Konghuchu, atau etnis Cina, Jawa, Sunda maupun Papua, silakan anda memilih berdasarkan kesamaan agama atau etnis. Tak perlu khawatir dicap dungu, bodoh, tak beradab, apalagi bertentangan dengan konstitusi dan demokrasi.
Hanya orang kurang pemahaman, apalagi kalau dia juga seorang muslim yang kurang iman, yang menilai bahwa memilih sesama muslim sebagai pemimpin sebagai tindakan dungu, bodoh dan terbelakang.
Disadur dari Republika
Oleh: Hersubeno Arief (Konsultan Media dan Politik)
by Danu Wijaya danuw | Feb 18, 2017 | Artikel, Dakwah
Tidak ada kesyukuran terbesar yang mesti diupayakan oleh setiap Muslim dan Muslimah, selain daripada perkenan Allah Ta’ala memberikan hidayah kepada kita semua. Baik itu hidayah keIslaman, mengikuti ulama, menaati peraturan Allah Ta’ala, hingga urusan memilih pemimpin negara. Ini semua adalah nikmat yang tiada tara di muka bumi.
Hal ini karena sifat hidayah yang memang menjadi hak prerogratif Allah Ta’ala, sehingga meski ada orang memiliki kecerdasan luar biasa, jika Allah tidak mengizinkan iman di hatinya, tidak akan sampai hidayah dalam kehidupannya.
وَمَا كَانَ لِنَفْسٍ أَن تُؤْمِنَ إِلاَّ بِإِذْنِ اللّهِ وَيَجْعَلُ الرِّجْسَ عَلَى الَّذِينَ لاَ يَعْقِلُونَ
“Dan tidak ada seorangpun akan beriman kecuali dengan izin Allah; dan Allah menimpakan kemurkaan kepada orang-orang yang tidak mempergunakan akalnya.” (QS. Yunus [10]: 100).
Oleh karena itu, kita mesti benar-benar menjaga iman di dalam hati kita dengan sebaik-baiknya. Selanjutnya mesti memahami dengan komprehensif, bahwa hanya Islam jalan menggapai kebahagiaan.
إِنَّ الدِّينَ عِندَ اللّهِ الإِسْلاَمُ
“Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam.” (QS. Ali Imran [3]: 19).
وَمَن يَبْتَغِ غَيْرَ الإِسْلاَمِ دِيناً فَلَن يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ
“Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) darinya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.” (QS. Ali Imran [3]: 85).
Allah Ta’ala memerintahkan kepada kita, untuk terus menjaga hidayah dalam setiap rakaat shalat dengan selalu memohon kepada-Nya, yaitu hidayah ke jalan yang lurus di dalam surah al-Fatihah :
اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ
“Berikanlah kepada kami hidayah ke jalan yang lurus”.
Imam Ibnul Qayyim memaparkan hal ini dengan lebih terperinci, beliau berkata: “Seorang hamba sangat membutuhkan hidayah di setiap waktu dan tarikan nafasnya, dalam semua (perbuatan)yang dilakukan maupun yang ditinggalkannya.
Dalam Firman Allah Ta’ala,
فإن الله يُضِلُّ مَنْ يَشَاءُ وَيَهْدِي مَنْ يَشَاءُ فَلا تَذْهَبْ نَفْسُكَ عَلَيْهِمْ حَسَرَاتٍ
“Sesungguhnya Allah menyesatkan siapa yang dikehendaki-Nya dan memberi hidayah (taufik) kepada siapa yang dikehendaki-Nya” (QS Fathir: 8).
Jadi, mari kita berusaha menggapai hidayah dan menjaganya. Serta bahu-membahu saling menguatkan iman, taqwa dan kebaikan untuk semua muslim. Wallahu a’lam.