0878 8077 4762 [email protected]

Keteguhan Abdullah bin Khudzafah Mempertahankan Agama

Pada tahun 19 Hijriyah, Umar bin Khattab mengirimkan pasukan untuk berperang dengan Romawi yang didalamnya terdapat sahabat Abdullah bin Hudzafah Al Sahmy.
Kaisar Romawi mendapat kabar bahwa di antara tawanan muslim ada seorang Sahabat bernama Abdullah bin Hudzafah Al Sahmy. Kaisar sudah lama mendengar bahwa para Sahabat adalah orang-orang yang terkenal sifat mereka yang memiliki iman yang kuat, akidah yang kokoh dan rela mengorbankan jiwa di jalan Allah dan Rasul-Nya. 
Kini, Kaisar ingin tahu langsung bagaimana karakter seorang Sahabat Nabi Muham saw. Maka diperintahkanlah agar Abdullah dihadapkan ke depan Kaisar di ruang utama istana untuk disaksikan oleh para menteri dan pejabat serta pengawalnya.
Kemudian Raja Romawi memerintahkan agar pasukan Muslimin yang mereka tawan dihadapkan kepada mereka. Didatangkanlah di hadapannya, Abdullah bin Khudzafah r.a. Ia diseret dengan tangan yang dirantai dan kaki diikat.
Kaisar Romawi berkata kepada Abdullah, “Masuklah ke agama Nasrani, kau akan kubebaskan.“
Abdullah bin Khudzafah r.a. menolaknya. Raja tetap menawarinya lagi, “Masuklah ke agama Nasrani, kau akan kuberi separuh kekuasaanku.”
Namun Abdullah bin Khudzafah r.a. tetap tegas menolaknya. “Masuklah ke agama Nasrani, kau akan kuberi separuh kekuasaanku dan kuikutsertakan kau dalam pemerintahanku,“ desak Raja.
Abdullah bin Khudzafah r.a.  berkata, “Demi Allah, andai saja kau berikan seluruh kekuasaanmu dan kekuasaan nenek moyangmu kepadaku, bahkan seluruh kekuasaan Arab dan Ajam (non-Arab), aku tetap tak sudi untuk keluar dari Islam.”
“Kalau begitu kamu akan kubunuh,“ putus Raja. “Bunuhlah,“ jawab Abdullah.
Raja memerintahkan pasukannya agar menyalib Abdullah bin Khudzafah, lalu menyuruh pasukan pemanah melepaskan anak panah ke tubuh Abdullah. Tetapi Raja berpesan, jangan sampai anak panah itu mengenai tubuh Abdullah (hanya untuk menakut-nakut, pen).
Saat anak-anak panah meluncur ke sekitar tubuhnya, Raja tetap menawarinya masuk Nasrani. Dan seperti sebelumnya, Abdullah bin Khudzafah r.a menolak tegas. Ia lebih memilih kematian.
Melihat ketegaran Abdullah, Raja memerintahkan agar dia dikembalikan ke penjara. Kali ini, ia tidak diberi makan dan minum. Sampai ketika Abdullah bin Khudzafah r.a. hampir mati karena haus dan lapar, mereka memberinya arak dan daging babi.
Melihat kedua hidangan ini Abdullah berkata, “Demi Allah, aku tahu arak dan daging babi ini sebenarnya halal bagiku. Tetapi aku tidak ingin orang-orang kafir itu bersorak gembira karenanya.” Hidangan itu tidak disentuhnya. Hal ini dilaporkan kepada Raja.
Kemudian ia menyuruh agar dihadirkan seorang wanita penggoda di hadapan Abdullah. Masuklah wanita itu ke sel Abdullah bin Khudzafah r.a. Ia beraksi di muka Abdullah, meliuk-liukkan tubuh menggodanya. Namun sedikit pun Abdullah r.a tidak menoleh kepadanya.
Mengetahui sikap Abdullah seperti itu, wanita tersebut keluar sel sambil menggerutu. Ia berkata kepada Raja dan pasukannya, “Kalian telah menyuruhku menggoda seorang lelaki, yang aku tak tahu apakah ia seorang manusia atau seonggok batu. Demi Tuhan, dia tidak tahu apakah aku seorang perempuan atau lelaki.”
Akhirnya Raja putus asa membujuk Abdullah. Ia menyuruh pasukannya membuat tungku api dan memanaskan minyak hingga mendidih. Kemudian Abdullah bin Khudafah r.a diberdirikan menghadap minyak yang telah mendidih itu.
Sejurus, didatangkanlah seorang Muslim yang juga menjadi tawanan. Dengan kondisi badan terikat, ia diceburkan ke minyak yang mendidih tersebut hingga jasadnya lenyap ditelan didihan minyak. Tulang belulangnya berserakan menyembul ke atas permukaan minyak. Abdullah bin Khudzafah r.a menyaksikan sendiri pemandangan itu.
Di saat-saat seperti itu, kembali Raja menyarankan Abdullah agar murtad. Namun ia tetap menolaknya.
Raja naik pitam dan segera memerintah agar Abdullah diceburkan ke tungku. Ketika ia digiring mendekati tungku dan merasakan panasnya api, air matanya meleleh. Abdullah menangis.
Raja yang mengetahui hal tersebut bergembira (mengira Abdullah takut, pen). “Masuklah ke agama Nasrani, kau akan kubebaskan.” “Tidak,” jawab Abdullah bin Khudzafah r.a.
“Lalu mengapa kamu menangis?” tanya Raja. “Aku menangis karena hanya memiliki satu nyawa, sehingga aku langsung mati ketika diceburkan ke tungku ini. Demi Allah, aku ingin memiliki seratus nyawa, yang semuanya kugunakan untuk mati di jalan Allah, seperti kematian yang akan aku hadapi ini.”
Raja berkata, “Ciumlah kepalaku, kau akan kubebaskan.” Abdullah bin Khudzafah r.a. pun menawar “Dan kau bebaskan juga seluruh kaum Muslimin yang kau tawan?”
“Ya,” jawab raja. Abdullah mencium kepala Raja. Setelah itu, Raja memutuskan membebaskan seluruh kaum Muslimin yang ditawan.
Subhanallah! Bagaimana keadaan kita hari ini jika dibandingkan dengan keteguhan Abdullah seperti di atas? “Janganlah sekali-kali kamu mati, kecuali dalam keadaan Muslim.”
Sungguh naïf. Sebagai kaum Muslimin hari ini rela menggadaikan diennya (agamanya) untuk mendapatkan harta atau memenuhi syahwatnya, dan tenggelam dalam kenikmatan duniawi. Selanjutnya mati secara su’ul khatimah. Na ‘udzubillah.
 
Sumber : Ibnu Katsir, Buku Malam Pertama di Alam Kubur, Dr. A’idh Al-Qarni, MA

Tanggapan MUI Terkait Sertifikasi Khatib

Majelis Ulama Indonesia (MU) Menanggapi wacana yang disampaikan Menteri Agama, Lukman Hakim Saifuddin tentang Sertifikasi Khatib.
Wakil Ketua Umum MUI, Zainut Tauhid Sa’adi, menyampaikan bahwa program tersebut bagus selama memenuhi tiga syarat.
Pertama, program sertifikasi Khatib dimaksudkan untuk meningkatkan kapasitas, kapabilitas, dan kompetensi Khatib, baik dari aspek materi maupun motodologi. Menurutnya, disadari atau tidak kondisi masyarakat kita tengah berubah seiring terjadinya perkembangan teknologi dan informasi. Hal ini mendorong semua orang harus beradaptasi jika ingin tetap eksis, tidak terkecuali seorang khatib dan juga dai yang memang setiap saat aktifitasnya bergulat dengan masyarakat.
“Jadi keharusan untuk meningkatkan kapasitas, kapabilitas dan kompetensi dalam bidang penguasaan materi dan metodologi dakwah mutlak diperlukan oleh seorang Khatib dan juga Dai agar benar-benar dapat menyampaikan pesan-pesan agama secara baik sehingga sesuai dengan kaidah Alimun bizamanihi wa ‘alimun bimujtamaihi. Artinya ia harus paham kondisi faktual masyarakat. Atau dengan bahasa lain tepat kontek dan zaman serta sesuai dengan kebutuhan masyarakat”, ujarnya seperti dilansir mui.or.id
Kedua, program tersebut bersifat voluntary (sukarela) bukan mandatory (kewajiban). Program sertifikasi Khatib, katanya, harus bersifat sukarela, bukan keharusan yang memiliki konsekuensi hukum. Karena, imbuhnya, melaksanakan tugas dakwah itu hakekatnya menjadi hak dan kewajiban setiap orang yang memang menjadi perintah agama.
“Kalau sertifikasi Khatib diwajibkan akan sangat sulit dilaksanakan. Juga dikhawatirkan muncul kesan ada intevensi atau pembatasan oleh pemerintah. Justru hal seperti ini bisa kontra produktif”, tegasnya.
Ketiga, program sertifikasi sebaiknya diselenggarakan oleh Ormas Islam atau masyarakat, bukan pemerintah. Dalam konteks ini pemerintah hanya bertindak sebagai fasilitator, sehingga akan mendorong partisipasi masyarakat dan ikut bertanggungjawab menyiapkan kader-kader dakwah yang mumpuni baik dari aspek materi maupun metodologi.
“Seorang calon Khatib setelah mengikuti pendidikan dan pelatihan (diklat) akan diberikan sertifikat sesuai dengan jenjang diklatnya oleh ormas penyelenggara. Adapun jenis, jenjang, materi dan metodologi pendidikan dan pelatihan (diklat) bisa dirumuskan oleh masing-masing Ormas Islam atau Kemenag menunjuk lembaga yang memiliki kompetensi di bidang itu bekerjasama dengan Ormas Islam, sehingga ada standardisasi materi, metodologi dan sesuai dengan kebutuhan programnya”. Tutupnya.
Baru-baru ini, Menteri Agama mewacanakan program sertifikasi penceramah khotbah Jumat. Wacana itu digagas berdasarkan keluhan masyarakat yang merasa isi khotbah Jumat berisikan ejekan kepada satu kelompok.
“Banyak sekali yang menyampaikan bahwa terkadang beberapa masjid, khatib (penceramah) lupa menyampaikan nasihat yang semestinya, kemudian isi khotbah malah mengejek bahkan menjelek-jelekkan suatu kelompok yang bertolak belakang dengan nasihat,” kata Lukman saat ditemui di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (30/1/2017), dikutip dari kompas.com
Lukman mengatakan, ide sertifikasi ini muncul untuk mengingatkan kembali nilai penting khotbah Jumat yang semestinya dilakukan untuk menjelaskan ajaran Islam yang rahmatan lil alamin.
Menag menekankan, sertifikasi bukan dibuat karena hendak membatasi seseorang untuk berceramah kala shalat Jumat.
Ini merupakan respons dari kejengahan masyarakat saat menghadapi khotbah Jumat yang dirasa memecah belah persatuan umat Islam.
 
Sumber : dakwatuna/SaBah

Zionis Israel Serang Gaza dengan 19 Rudal

Zionis Israel Serang Gaza dengan 19 Rudal

Angkatan Udara Zionis-Israel kembali melancarkan agresi militer terhadap Jalur Gaza hari Senin sore (06/02/2017) sedikitnya telah terjadi 19 tembakan udara yang menyasar beberapa daerah di Jalur Gaza.
15 rudal diantaranya tertuju pada kawasan Hay Syuja’iyah. Titik lainnya adalah Hay Thuffah, Jabal Al-Rays dan Mukhayyam Al-Barij.

16473574_778486402305234_2131628049956524095_n

Serangan Rudal pesawat F16 Israel kepada warga sipil Palestina dimalam hari


Sampai berita ini diturunkan, korban luka akibat serangan tersebut sedikitnya tiga orang dan telah dilarikan ke Rumah Sakit Nashir di Khan Yunis.
Diantara korban ada yang telah berumur 70 tahun. Belum ada kabar terkait korban jiwa. Namun jumlah terus bertambah dari berbagai sumber, laporan saksi mata dikutip kantor berita The Palestinian Information Centre (PIC), Senin (06/02/2017).
Jurubicara Kementrian Kesehatan di Gaza, Ashrof Al-Qudroh menyampaikan bahwa pihaknya telah melakukan pertolongan medis bagi para korban.
Menanggapi serangan tersebut, Gerakan Perlawanan Islam/ Harakah Muqawamah Islamiyah (HAMAS), Fauzi Barhum mengancam Zionis-Israel segera menyudahi serangan tersebut.
“Meningkatnya penyerangan merupakan babak baru dari rentetan kejahatan penjajah yang dilakukan secara intensif terhadap rakyat Palestina,” ujar Juru bicara Hamas Hazim Qasim.
Ia menekankan, penyerangan ini merupakan bagian dari penyempurnaan siasat permusuhan terhadap rakyat Palestina serta blokade yang diterapkan atas Gaza.
Penjajah Israel berdalih, serangan diakibatkan Hamas “sedang bersiap” berperang dengan Israel dan telah mengancam langkah-langkah pembalasan terhadap Jalur Gaza sebagai keseluruhan.

Sangat Mudah Bagi Allah

Sangat mudah bagi Allah untuk membunuh Abu Jahal, menghabisi Fir’aun dan membinasakan Namrud.
Sangat mudah bagi Allah untuk membunuh Donald trump, menghabisi Assisi, dan membinasakan Netanyahu.
Sangat mudah bagi Allah untuk menghancurkan Israel, membinasakan Amerika dan menenggelamkan Rusia.
Sangat mudah bagi Allah untuk membinasakan si A, mengubur si B dan mencabut nyawa si C.
Sangat mudah bagi Allah untuk memenangkan partai partai Islam, menyatukan hati hati umat dan mencerai beraikan barisan musuh.
Tapi….
Allah ingin melihat usahamu, mendengar keluhanmu, dan mengambil sebahagian darimu sebagai syuhada.
Allah ingin melihatmu berlelah lelah, berkeringat dan bersusah susah, agar kelak ada hujjah bahwa engkau pantas mendapatkan Taman surga.

إِنْ يَمْسَسْكُمْ قَرْحٌ فَقَدْ مَسَّ الْقَوْمَ قَرْحٌ مِثْلُهُ ۚ وَتِلْكَ الْأَيَّامُ نُدَاوِلُهَا بَيْنَ النَّاسِ وَلِيَعْلَمَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا وَيَتَّخِذَ مِنْكُمْ شُهَدَاءَ ۗ وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ الظَّالِمِينَ

“Jika kamu (pada perang Uhud) mendapat luka, maka sesungguhnya kaum (kafir) itupun (pada perang Badar) mendapat luka yang serupa.”
Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu Kami pergilirkan diantara manusia (agar mereka mendapat pelajaran);
dan supaya Allah membedakan orang-orang yang beriman (dengan orang-orang kafir) supaya sebagian kamu dijadikan-Nya (gugur sebagai) syuhada’.
Dan Allah tidak menyukai orang-orang yang zalim.” (Q.S. Al Imran :140)
Tugas kita bukan memenangkan pertarungan. Sebab kemenangan itu hak progratif Allah.
Tugas kita adalah istiqamah dalam bekerja, berbuat dan bertarung sampai Allah menentukan ketentuannya atau ajal menjemput.
Maka tak usah kau sesalkan. Tak usah kau risaukan. Kita hanya menjalankan kerasnya pertarungan dalam waktu yang singkat.
Agar kita bisa mereguk bercawan cawan anggur kenikmatan dalam waktu yang panjang dan masa yang tak terbatas.
Allahu Akbar! Fi Sabilillah ya ikhwah..

Istighfar

Imam Ahmad bin Hambal rahimakumullah dikenal murid Imam Syafi’i, dikenal juga sebagai Imam Hambali. Dimasa akhir hidupnya beliau bercerita;
Suatu waktu (ketika saya sudah usia tua) saya tidak tahu kenapa ingin sekali menuju satu kota di Irak. Padahal tidak ada janji sama orang dan tidak ada keperluan.
Akhirnya Imam Ahmad pergi sendiri menuju ke kota Bashrah. Beliau bercerita;
Begitu tiba disana waktu Isya’, saya ikut shalat berjamaah isya di masjid, hati saya merasa tenang, kemudian saya ingin istirahat.
Begitu selesai shalat dan jamaah bubar, imam Ahmad ingin tidur di masjid, tiba-tiba Marbot masjid datang menemui imam Ahmad sambil bertanya; “Kamu mau ngapain  disini, syaikh?.”
Penjelasan : Kata “syaikh” bisa dipakai untuk 3 panggilan yaitu bisa untuk orang tua, orang kaya ataupun orang yang berilmu.
Panggilan Syaikh dikisah ini panggilan sebagai orang tua, karena marbot taunya sebagai orang tua.
Marbot tidak tau kalau beliau adalah Imam Ahmad. Dan Imam Ahmad pun tidak memperkenalkan siapa dirinya.
Di Irak, semua orang kenal siapa imam Ahmad, seorang ulama besar dan ahli hadits, sejuta hadits dihafalnya, sangat shalih dan zuhud. Zaman itu tidak ada foto sehingga orang tidak tau wajahnya, cuma namanya sudah terkenal.
Imam Ahmad menjawab,  “Saya ingin istirahat, saya musafir.”
Kata marbot, “Tidak boleh, tidak boleh tidur di masjid.”
Imam Ahmad bercerita,
“Saya didorong-dorong oleh orang itu disuruh keluar dari masjid, Setelah keluar masjid, dikuncinya pintu masjid. Lalu saya ingin tidur di teras masjid.”
Ketika sudah berbaring di teras masjid Marbotnya datang lagi, marah-marah kepada Imam Ahmad. “Mau ngapain lagi syaikh?” Kata marbot.
“Mau tidur, saya musafir” kata imam Ahmad.
Lalu marbot berkata;
“Di dalam masjid gak boleh, di teras masjid juga gak boleh.” Imam Ahmad diusir. Imam Ahmad bercerita, “saya didorong-dorong sampai jalanan.”
Disamping masjid ada penjual roti (rumah kecil sekaligus untuk membuat dan menjual roti). Penjual roti ini sedang membuat adonan, sambil melihat kejadian imam Ahmad didorong-dorong oleh marbot tadi.
Ketika imam Ahmad sampai di jalanan, penjual roti itu memanggil dari jauh; “Mari syaikh, anda boleh nginap di tempat saya, saya punya tempat, meskipun kecil.”
Kata imam Ahmad, “Baik”. Imam Ahmad masuk ke rumahnya, duduk dibelakang penjual roti yang sedang membuat roti (dengan tetap tidak memperkenalkan siapa dirinya, hanya bilang sebagai musafir).
Penjual roti ini punya perilaku khas : kalau imam Ahmad ngajak bicara, dijawabnya.
Kalau tidak, dia terus membuat adonan roti sambil (terus-menerus) melafalkan istighfar : “Astaghfirullah” berkali-kali.
Saat memberi garam, astaghfirullah, memecah telur astaghfirullah, mencampur gandum astaghfirullah. Dia senantiasa mengucapkan istighfar. Sebuah kebiasaan mulia. Imam Ahmad memperhatikan terus.
Lalu imam Ahmad bertanya, “Sudah berapa lama kamu lakukan ini?”
Orang itu menjawab;
“Sudah lama sekali syaikh, saya menjual roti sudah 30 tahun, jadi semenjak itu saya lakukan.”
Imam Ahmad bertanya; “Apa hasil dari perbuatanmu ini?”
Orang itu menjawab;
“(lantaran wasilah istighfar) tidak ada hajat/keinginan yang saya minta, kecuali pasti dikabulkan Allah. Semua yang saya minta ya Allah, langsung diwujudkan.”
Rasulullah صلى الله عليه وسلم pernah bersabda;
“Siapa yg menjaga istighfar, maka Allah akan menjadikan jalan keluar baginya dari semua masalah dan Allah akan berikan rizki dari jalan yg tidak disangka-sangkanya.”
Lalu orang itu melanjutkan, “Semua dikabulkan Allah kecuali satu, masih satu yang belum Allah beri.”
Imam Ahmad penasaran lantas bertanya; “Apa itu?”
Kata orang itu;
“Saya minta kepada Allah supaya dipertemukan dengan imam Ahmad.”
Seketika itu juga imam Ahmad bertakbir, “Allahu Akbar..!  Allah telah mendatangkan saya jauh dari Bagdad pergi ke Bashrah dan bahkan sampai didorong-dorong oleh marbot masjid sampai ke jalanan ternyata karena istighfarmu.”
Penjual roti itu terperanjat, memuji Allah, ternyata yang didepannya adalah Imam Ahmad.
Ia pun langsung memeluk dan mencium tangan Imam Ahmad.
 
Sumber : Kitab Manakib Imam Ahmad
Wallohu a’lam
 
Saudaraku dan Sahabatku tercinta….. Mulai detik ini, marilah senantiasa kita hiasi lisan kita dengan istighfar kapanpun dan di manapun kita berada.
Semoga Allah merahmati kita semua, Aamiin.

Istighosah yang Benar sesuai Tuntutan Nabi saw

Kita sering mendengar kata istighosah. Penjelasan gampangnya, istighosah adalah meminta pertolongan agar dihilangkan atau terlepas dari bala bencana. Istighosah berisi do’a permintaan pada Allah, itulah yang diperintahkan.
Jika istighosah ditujukan kepada Allah swt adalah boleh. Yang bermasalah adalah jika istighosah tersebut ditujukan pada selain Allah swt yang termasuk syirik bahkan syirik akbar. Bahkan jika dilakukan tidak sesuai etika dan tuntutan Nabi saw akan jatuh kepada kekufuran dan kemunafikan.
Apalagi jika istighosah sering ditambah dengan tumbal atau sesaji yang ditujukan pada hal tertentu seperti nyi Roro Kidul penjaga laut atau tumbal untuk Merapi penjaga kaki gunung. Inilah tradisi yang masih laris manis di masyarakat kita yang tidak jauh dari kesyirikan.
Memahami Istighosah
Ibnu Taimiyah berkata bahwa makna istighosah adalah, طَلَبِ الْغَوْثِ
“Meminta bantuan (pertolongan).” Majmu Fatawa karya Ibnu Taimiyah 1: 101.
Rasulullah dan para sahabat pernah melantunkan syair di saat menggali khandaq (parit). Rasul Saw dan sahabat r.a bersenandung bersama-sama dengan ucapan: “Haamiiim laa yunsharuun..”. Cerita ini termuat dalam buku sejarah tertua, yakni Kitab Sirah karya Ibnu Hisyam Bab Ghazwat Khandaq.
Istighosah termasuk do’a. Namun do’a sifatnya lebih umum karena do’a mencakup isti’adzah yaitu meminta perlindungan sebelum datang bencana. Sedangkan istighosah yaitu meminta dihilangkan bencana.
Istighosah adalah Ibadah
Dalil-dalil berikut menunjukkan bahwa istighosah termasuk ibadah dan tidak boleh dipalingkan kepada selain Allah.
Allah Ta’ala berfirman, 
Jika Allah menimpakan sesuatu kemudharatan kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia. Dan jika Allah menghendaki kebaikan bagi kamu, maka tak ada yang dapat menolak karunia-Nya. Dia memberikan kebaikan itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Yunus: 107).
Do’a dan ibadah lainnya hanya boleh ditujukan pada Allah dan do’a yang ditujukan pada selain-Nya termasuk kesyirikan karena tidak dapat mendatangkan manfaat dan menolak bahaya.
Ayat di atas menunjukkan pula bahwa pada hakekatnya, setiap bencana dan musibah yang menghilangkan adalah Allah semata. Jika ada suatu perkara bisa dihilangkan oleh makhluk dalam perkara yang ia mampu, maka itu hanyalah sebab. Namun hakekatnya Allah  yang menakdirkan itu semua dengan izin-Nya.
 
Sehingga jika seseorang menujukan satu amalan kepada makhluk dalam perkara yang hanya bisa dilakukan oleh Allah, maka itu termasuk kesyirikan.
Biasanya kebanyakan orang Indonesia yang melakukan istighosah dan do’a adalah dalam rangka meminta rizki yaitu meminta lulus ujian nasional, kelanggengan perusahaan, dan kemudahan kondisi kesulitan suatu keadaan.
Dan rizki adalah sesuatu yang diberi atau dihadiahi. Dalam meminta rizki, kita diperintahkan untuk berharap pada Allah saja sebagaimana disebutkan dalam ayat,
“… Sesungguhnya yang kamu sembah selain Allah itu tidak mampu memberikan rizki kepadamu; maka mintalah rizki itu di sisi Allah, dan sembahlah Dia dan bersyukurlah kepada-Nya. Hanya kepada-Nyalah kamu akan dikembalikan.” (QS. Al ‘Ankabut: 17).
Syaikh Muhammad At Tamimi menyebutkan dalam kitab tauhid tentang fawaid dari ayat ini di mana beliau berkata, “Meminta rizki tidak boleh ditujukan selain pada Allah semata. Sebagaimana meminta surga tidak boleh meminta kecuali dari-Nya.”
Yang bisa mengabulkan do’a ketika seseorang dalam kesulitan atau istighosah hanyalah Allah semata. Allah Ta’ala berfirman,

أَمْ مَنْ يُجِيبُ الْمُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ وَيَكْشِفُ السُّوءَ وَيَجْعَلُكُمْ خُلَفَاءَ الْأَرْضِ أَئِلَهٌ مَعَ اللَّهِ قَلِيلًا مَا تَذَكَّرُونَ

“Atau siapakah yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan dan yang menjadikan kamu (manusia) sebagai khalifah di bumi? Apakah disamping Allah ada tuhan (yang lain)? Amat sedikitlah kamu mengingati(Nya).” (QS. An Naml: 62).
Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin berkata, “Jika selain Allah tidak bisa mengabulkan do’a hingga hari kiamat, bagaimana mungkin engkau menjadikan selain Allah sebagai tempat untuk berisitghosah?”
Kapan Istighosah Termasuk Syirik?
Sebagaimana telah dipahami bahwa istighosah adalah meminta pertolongan agar terhindar dari kesulitan, maka tidak boleh hal ini ditujukan selain pada Allah.
Suharno sebagai pemimpin ritual, mengatakan selain dilakukan istighosah di lereng merapi, 
Ritual tersebut juga diikuti penanaman dua pasang kepala kerbau jantan dan betina sebagai tumbal kepada Merapi yang dilakukan di Jurang Jero, yang berjarak 40 km dari puncak Merapi.
Ritual tersebut dijelaskan Suharno sebagai bentuk komunikasi dan hubungan antara manusia dengan alam.
Padahal Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda,
وَلَعَنَ اللَّهُ مَنْ ذَبَحَ لِغَيْرِ اللَّهِ
“Allah melaknat orang yang menyembelih untuk selain Allah” (HR. Muslim no. 1978).
Dalam ayat, Allah Ta’ala berfirman,

قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

“Katakanlah: sesungguhnya sembahyangku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Rabb semesta alam” (QS. Al An’am: 162).
Semoga kita terhindar dari hal yang dimurkai Allah, akibat tidak sesuai kaidah Islam dan tuntutan Nabi saw.
 
Disadur dari : Rumasyo, M.Abdul Tuasikal