by Danu Wijaya danuw | Sep 7, 2017 | Artikel, Berita, Internasional
Turki akan mengirimkan 10.000 ton bantuan kemanusiaan untuk para pengungsi Rohingya yang telah melarikan diri dari kekerasan di Myanmar.
“Hasil pembicaraan kami dengan pemimpin Myanmar, kami diberikan jaminan ke wilayah tersebut. Kami akan mengirimkan 10.000 ton bantuan kemanusiaan.” Kata Presiden Erdogan (Rabu, 6/9/2017)
“Menteri Luar Negeri kami, Presiden Kemanusiaan Turki TIKA, istri dan anak saya merupakan bagian dari delegasi yang akan tiba di Bangladesh pada hari Rabu malam. Mereka akan berkeliling area pengungsian dan membagikan bantuan,” lanjutnya dalam sebuah pertemuan Partai Keadilan dan Pembangunan di ibukota Ankara.
Presiden Erdogan menambahkan, “Turki telah mengirimkan 1.000 ton bantuan kemanusiaan untuk Rohingya pada tahap pertama”
Erdogan juga menyatakan akan membawa kejahatan kemanusiaan ini ke Dewan Keamanan PBB.
Sebagaimana dilansir dari media Turki, Yeni Safak, sekitar 146.000 warga Muslim Rohingya telah melarikan diri ke Bangladesh akibat kekerasan di Myanmar.
Pemerintah Myanmar tidak mengizinkan organisasi asing memasuki wilayah tersebut, sehingga jumlah pasti korban jiwa juga belum dapat dipastikan.
Rakhine, yang terletak di sebelah barat Myanmar sejak lama dilanda kekerasan. Sejak kekerasan kembali meletus Oktober lalu, PBB melaporkan telah terjadi pemerkosaan massal, pembunuhan (termasuk terhadap bayi dan anak kecil), pemukulan brutal dan penghilangan paksa.
Sumber : Turkinesia/Yeni Safak
by Danu Wijaya danuw | Sep 7, 2017 | Artikel, Berita, Nasional
Jakarta – Massa aksi solidaritas muslim Rohingya menggelar salat zuhur berjemaah di depan kantor Kedubes Myanmar. Mereka menunaikan salat di Jalan Agus Salim.
Sebelum salat, seorang perwakilan massa aksi mengumandangkan adzan di mobil komando. Setelah adzan selesai, massa berwudhu menggunakan air mineral botol.
Massa shalat beralas sajadah dan beberapa spanduk. Massa tampak khusyuk melaksanakan shalat.
Doa Bersama untuk Rohingya

Seusai shalat, imam membacakan doa yang langsung diamini oleh jemaah.
“Ya Allah, selamatkan kaum muslim Rohingya, ini adalah sebuah penindasan hak hak manusia ya Allah, hentikanlah penindasan kaum Rohingya, ya Allah,” kata imam saat membacakan doa di Jalan Agus Salim, Menteng, Jakarta Pusat, Rabu (6/9/2017).
Massa dari Front Pembela Islam dan sejumlah ormas lain terus melakukan aksi di depan Kedubes Myanmar. Mereka meminta agar pemerintah Indonesia mengusir Duta Besar Myanmar yang ada di Indonesia.
Aksi ini merupakan buntut dari pembantaian muslim Rohingya yang dilakukan oleh Myanmar.
Terkait hal itu, Menteri Luar Negeri Retno LP Marsudi telah melakukan pertemuan dengan pimpinan Myanmar Aung San Suu Kyi membahas krisis kemanusiaan di Rakhine, Senin (4/9).
Sumber : Detik
by Danu Wijaya danuw | Sep 5, 2017 | Artikel, Berita, Nasional
Pemerintah Indonesia bersama Lembaga NGO Kemanusiaan asal Indonesia sampai saat ini sudah membangun 6 sekolah. Terdiri ada 4 Sekolah dibangun di era Presiden SBY dan ada 2 sekolah dibangun di era Presiden Jokowi.
1. Pembangunan 4 Sekolah di era SBY
Wakil Menteri Luar Negeri Abdurrahman Mohammad Fachir meresmikan empat sekolah bantuan pemerintah Republik Indonesia di Rakhine, Myanmar, Senin, 8 Desember 2014.
Sekolah yang dibangun dengan dana US$ 1 juta tersebut terletak di tiga desa di Rakhine, negara bagian yang dilanda konflik komunal mulai 2012 hingga Juni 2014.
“Saya sangat bahagia sekaligus terharu melihat senyuman polos dan wajah-wajah cerita serta semangat yang tinggi. Mereka begitu antusias menampilkan pengetahuan yang mereka pelajari dalam waktu kurang dari tiga bulan,” ujar Fachir kepada Tempo, Rabu, 10 Desember 2014.

Menurut siaran pers Kementerian Luar Negeri, keempat sekolah yang dibangun masing-masing terletak di :
- Desa Thaykan, Kecamatan Minbya Township;
- Desa Sanbalay, Kecamatan Minbya;
- Desa Mawrawaddy, Kecamatan Maungdaw;
- dan Desa Buthidaung, Kecamatan Thapyaygone.
Peresmian yang dipusatkan di Desa Thaykan, Kecamatan Minbya, tersebut terletak sekitar tiga jam perjalanan menggunakan speedboat dari Sittwe, ibu kota Rakhine.
Acara ditandai dengan pemotongan pita, pembukaan selubung nama sekolah, dan pelepasan puluhan balon ke udara dengan diiringi tarian anak-anak sekolah setempat.
Menurut Fachir, anak-anak sekolah itu juga penuh perhatian ketika dia menjelaskan serta menunjukkan peta Indonesia dan Myanmar.
“Semua mengacungkan tangan saat saya tanya siapa yang mau ke Indonesia,” ujar mantan Duta Besar RI untuk Arab Saudi dan Mesir tersebut. Ada sekitar 400 anak yang belajar di sekolah tersebut.
Dalam peresmian itu, Fachir didampingi :
- Duta Besar RI untuk Myanmar, Ito Sumardi,
- dan disaksikan ratusan masyarakat setempat.
Turut hadir :
- Menteri Perbatasan Myanmar, Thet Naing Win
- Chief Minister Rakhine, U Maung Maung Ohn
- Dan perwakilan badan-badan Perserikatan Bangsa-Bangsa yang bertempat di Myanmar.
Fachir menuturkan bantuan pembangunan empat sekolah tersebut untuk menunjukkan Indonesia secara aktif mendorong rekonsiliasi konflik di wilayah Rakhine melalui pendekatan kemanusiaan.
Pemberian bantuan dana kemanusiaan untuk pembangunan sekolah merupakan tindak lanjut dari kunjungan Menlu Marty Natalegawa ke Rakhine pada Januari 2013 dan kunjungan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada akhir April 2013.
Secara khusus, pemerintah Myanmar yang diwakili Chief Minister Rakhine menyampaikan terima kasih kepada rakyat dan pemerintah Indonesia yang telah terlibat dalam proses penyelesaian konflik komunal di Rakhine, melalui pendekatan kemanusiaan dan keterlibatan konstruktif.
2. Pembangunan 2 Sekolah di era Jokowi
Indonesia mendirikan dua sekolah di Negara Bagian Rhakine, Myanmar yang selesai dibangun bulan Januari tahun 2017.
Menteri Luar Negeri Retno Marsudi diundang dalam peresmian mengatakan, pendirian dua sekolah dasar bantuan Indonesia.
Retno dalam peresmian mengatakan pembangunan ini merupakan bagian dari komitmen Indonesia dalam mendukung pembangunan inklusif di Myanmar.
“Pembangunan dua sekolah ini adalah bagian dari komitmen Indonesia untuk mendukung pembangunan yang inklusif di Myanmar, utamanya di sektor pendidikan,” kata Retno melalui keterangan tertulis Kemlu, Minggu (22/1/2017).
Dua sekolah yang mendapat bantuan dari Indonesia terletak di :
- Desa La Ma Chae
- dan Desa Thet Kay Pyia Ywar Ma.
Sekolah itu dibangun dari hasil sumbangan kemanusiaan masyarakat Indonesia yang dikoordinir oleh Pos Keadilan Peduli Ummah (PKPU), salah satu anggota Aliansi Lembaga Kemanusiaan Indonesia (ALKI) yang aktif memberikan bantuan kemanusiaan di Myanmar.
Retno berharap, kedua sekolah itu dapat memberikan manfaat bagi semua komunitas di Sittwe.
“Melalui sekolah ini, saya berharap bahwa anak-anak di Rakhine State tidak saja mendapat pendidikan formal, tetapi juga belajar mengenai keberagaman dan toleransi serta menumbuhkan budaya damai dan pluralisme,” ucap Retno.
Acara peresmian dihadiri oleh :
- Menteri Sosial dan Kesejahteraan, Chief Minister Rakhine
- Pejabat Kementerian Pendidikan Myanmar
- Serta perwakilan beberapa organisasi kemanusiaan Indonesia.
Dalam sambutannya, Chief Minister Rakhine State, U Nyi Pu, menyampaikan terima kasih kepada rakyat dan Pemerintah Indonesia atas pembangunan sekolah tersebut serta berbagai bantuan kemanusiaan lainnya.
Manager Rehabilitasi pasca Bencana PKPU, Muhammad Kaimuddin yang berada di lokasi mengatakan
“Kondisi sekolah yang tidak layak bukan hanya terjadi di desa ini, hampir di semua sekolah pemerintah di seluruh Negara bagian ini, selain bangunan tidak layak, juga kelebihan murid dan masih kurangnya sarana ruang belajar, sehingga program pembangunan sekolah yang dilakukan PKPU sangat diperlukan.”
Selain pembangunan dan penyediaan fasilitas sekolah, Indonesia juga akan memberikan pelatihan untuk meningkatkan kapasitas guru-guru yang akan dilakukan di Sekolah Indonesia International School Yangon.
Dengan peresmian dua sekolah baru ini, maka sejak 2014 sudah enam sekolah yang dibangun oleh Indonesia di Rakhine State.
Sumber : Tempo/Kompas/Dakwatuna
by Danu Wijaya danuw | Sep 5, 2017 | Artikel, Berita, Internasional, Sejarah
Mengenal Myanmar
Myanmar adalah salah satu negara yang terletak di Asia Tenggara. Sama seperti Indonesia, negara ini juga merupakan anggota Association of Southeast Asian Nations (ASEAN). Bagian utara negara ini berbatasan dengan China dan India. Di sebelah selatan, berbatasan dengan Teluk Benggala dan Thailand. Sebelah timur berbatasan dengan wilayah China, Laos, dan Thailand. Dan sebelah barat berbatasan dengan Teluk Benggala dan wilayah Bangladesh.
Adapun wilayah Rakhine –penjajah Inggris menyebut mereka orang-orang Arakan- terletak di barat daya wilayah Myanmar, berbatasan dengan Teluk Benggala dan wilayah Bangladesh.
Peta Wilayah Arakan

Kurang lebih, luas wilayah Myanmar adalah 261.000 mil2. Dan wilayah Rakhine 20.000 mil2. Wilayah ini dipisahkan oleh pagar alami berupa pegunungan yang merupakan bagian dari pegunungan Himalaya.
Jumlah penduduk Myanmar ditaksir sekitar 50 juta orang. 15% dari jumlah tersebut adalah muslim yang mayoritasnya adalah orang-orang Arakan. 70% dari penduduk Arakan adalah muslim. Sisanya adalah orang-orang Magh, orang-orang Arakan yang beragama Budha Theravada. Dan kelompok-kelompok minoritas lainnya.
Myanmar merupakan wilayah yang terdiri dari banyak suku. Lebih dari 140 suku menghuni wilayah bekas koloni Inggris tersebut. Suku mayoritasnya adalah Bamar/Birma. Suku ini adalah suku kasta pertama dan memegang pemerintahan. Oleh karena itu, dulu nama wilayah ini adalah Burma kemudian berganti Mynamar. Kasta kedua adalah suku Syan, Kachin, Chin, Kayah, Magh, dan umat Islam dari suku Rohingya. Jumlah kasta kedua ini kurang lebih 5juta jiwa.
Kerajaan Islam Rohingya – Arakan (Rakhine)

Sejarawan menyebutkan bahwa umat Islam tiba di wilayah Arakan bertepatan dengan masa Daulah Abbasiyah yang tengah dipimpin oleh Khalifah Harun al-Rasyid rahimahullah.
Kaum muslimin tiba di wilayah tersebut melalui jalur perdagangan. Dengan cara damai. Bukan peperangan apalagi penjajahan. Karena umat Islam semakin banyak dan terkonsentrasi di suatu wilayah, jadilah ia sebuah kerajaan Islam yang berdiri sendiri.
Kerajaan Islam di Arakan tersebut berlangsung selama 3,5 abad. Dan dipimpin oleh 48 raja. Yaitu antara tahun 1430 – 1784 M. Banyak peninggalan-peninggalan umat Islam yang terwarisi di wilayah tersebut. Ada masjid-masjid dan madrasah-madrasah. Di antara masjid yang paling terkenal adalah Masjid Badr di Arakan dan Masjid Sindi Khan yang dibangun tahun 1430 M.
Ekspansi Budha Terhadap Kerajaan Islam Arakan
Pada tahun 1784 M, Arakan diserang oleh raja Budha dari suku Birma yang bernama Bodawpaya (masa pemerintahan 1782-1819 M). Kemudian ia menggabungkan wilayah Arakan ke dalam wilayahnya, agar Islam tidak berkembang di wilayah tersebut.
Sejak saat itu bencana umat Islam Arakan pun dimulai. Peninggalan-peninggalan Islam, masjid dan madrasah, dihancurkan. Para ulama dan da’i dibunuh.
Budha dari suku Birma terus-menerus mengintimidasi kaum muslimin dan menjarah hak milik mereka. Mereka juga memprovokasi orang-orang Magh untuk melakukan hal yang sama. Keadaan tersebut terus berlangsung selama 40 tahun. Sampai akhirnya berhenti dengan kedatangan penjajah Inggris.
Pada tahun 1824 M, Inggris menguasai Burma. Kemudian kerajaan Britania itu menggabungkan wilayah itu dengan persemakmurannya di India. Pada tahun 1937 M, Inggris memisahkan Burma dan wilayah Arakan dari wilayah kekuasaannya di India. Maka Burma menjadi wilayah kerajaan Inggris tersendiri yang bernama Burma Britania. Tidak bernaung di wilayah India lagi.
Tahun 1942 M, bencana besar menimpa kaum muslimin Rohingya. Orang-orang Budha Magh membantai mereka dengan dukungan senjata dan materi dari saudara Budha mereka suku Birma dan suku-suku lainnya. Lebih dari 100.000 muslim pun tewas dalam peristiwa itu. Sebagian besar mereka adalah wanita, orang tua, dan anak-anak. Ratusan ribu lainnya melarikan diri dari Burma. Karena pedih dan mengerikannya peristiwa tersebut, kalangan tua –saat ini- yang menyaksikan peristiwa itu senantiasa mengingatnya dan mengalami trauma.
Pada tahun 1947 M, Burma mempersiapkan deklarasi kemerdekaan mereka di Kota Panglong. Semua suku diundang dalam persiapan tersebut, kecuali umat Islam Rohingya.
Pada tanggal 4 Januari 1948, Inggris memerdekakan Burma secara penuh disertai persyaratan masing-masing suku bisa memerdekakan diri dari Burma apabila mereka menginginkannya. Namun suku Birma menyelisihi poin perjanjian tersebut. Mereka tetap menguasai wilayah Arakan dan tidak mendengarkan suara masyarakat muslim Rohingya dan Budha Magh yang ingin merdeka. Mereka pun melanjutkan intimidasi terhadap kaum muslimin.
Duka Muslim Arakan (Rakhine)

Pembakaran Desa Rohingya oleh pasukan dan warga Budha Myanmar
1. Pemusnahan Etnis
Sejak pemerintahan militer berkuasa di Myanmar melalui kudeta Jendral Ne Win tahun 1962 M, umat Islam Arakan mengalami berbagai bentuk kezaliman dan intimidasi. Dibunuh, diusir, diitekan hak-hak mereka, dan tidak diakui hak-hak kewarga-negaraannya. Mereka disamakan dengan orang-orang Bangladesh dalam hal agama, bahasa, dan fisik.
2. Menghapuskan identitas Islam dan pengaruhnya:

Hal ini dilakukan dengan cara menghancurkan peninggalan-peninggalan Islam. Yaitu menghancurkan masjid, madrasah, dan bangunan-bangunan bersejarah lainnya.
Lalu kaum muslimin dilarang sama sekali untuk membangun suatu bangunan yang berkaitan dengan Islam. Dilarang membangun masjid, madrasah, kantor-kantor dan perpustakaan, tempat penampungan anak yatim, dll.
Sebagian sekolah-sekolah Islam yang tersisa tidak mendapatkan pengakuan dari pemerintah, dilarang untuk dikembangkan, dan tidak diakui lulusannya.
3. Upaya “Burmanisasi”, meleburkan ajaran Islam dan menghilangkan identitasnya dalam masyarakat Budha:
Umat Islam diusir dari kampung halaman mereka. Tanah-tanah dan kebun-kebun pertanian mereka dirampas. Kemudian orang-orang Budha menguasainya dan membangunnya dengan harta-harta yang berasal dari kaum muslimin.
Atau membangunnya menjadi barak militer tanpa kompensasi apapun. Bagi mereka yang menolak, maka tebusannya adalah nyawa. Inilah militer fasis yang tidak mengenal belas kasihan.
4. Pengusiran dan diskriminasi dari wilayah Myanmar secara berkesinambungan:
- Pada tahun 1962 M, militer fasis Myanmar mengusir 300.000 orang Arakan ke wilayah Bangladesh.
- Pada tahun 1978 M, lebih dari 500.000 kaum muslimin diusir dan mengalami tekanan yang sangat berat hingga hampir 400.000 orang dari mereka tewas. Termasuk di dalamnya orang-orang tua, wanita, dan anak-anak.
- Tahun 1988, ada 150.000 kaum muslimin diusir karena orang-orang Budha hendak membangun desa mereka sebagai tempat percontohan.
- Tahun 1991, hampir 500.0000 orang muslim diusir. Hal ini karena hukuman atas kemenagnan partai oposisi (NLD) dalam pemilu yang mendapatkan suara dari umat Islam. Hasil pemilu pun dibatalkan.
- Membatalkan hak kewarganeraan umat Islam.
- Melakukan kerja paksa dengan tanpa mendapatkan makanan, minuman, dan transportasi.
- Umat Islam dilarang untuk mendapatkan pendidikan yang layak. Apalagi duduk di banguku kuliah. Bagi mereka yang berusah mendapatkan pendidikan di luar negeri, kemudian kembali ke Myanmar dalam keadaan terdidik, maka akan dijebloskan ke dalam penjara.
- Secara umum, tidak boleh menjadi pegawai negara. Jika pun ada, maka tidak akan mendapatkan hak-haknya secara penuh.
- Dilarang melakukan perjalanan ke luar negeri, walaupun untuk beribadah haji. Mereka hanya diperbolehkan pergi ke Bangladesh dengan ketentuan waktu yang terbatas. Mereka tidak diperbolehkan berpergian ke Ibu Kota Rangon dan kota-kota lainnya di Myanmar. Jika mereka hendak pindah kota, harus mendapatkan surat izin yang jelas.
5. Diskriminasi dalam ekonomi
– Dibebani pajak yang tinggi dalam segala hal. Dikenakan banyak denda.
– Dipersulit melakukan perdagangan. Kecuali berniaga dengan militer. Itupun dijual dengan harga yang jauh di bawah standar atau dipaksa menjual sesuatu yang tidak ingin mereka jual. Hal itu bertujuan agar mereka terus dalam keadaan miskin.
Penutup
Demikian gambaran singkat keadaan muslim Rohingya. Sejak lama mereka ditindas dan menerima kekejaman umat Budha Myanmar, namun dunia enggan berbicara membela mereka. Tidak ada atas nama kemanusiaan. Tidak pula ada belas kasihan.
Pada tahun 1970-an Raja Faisal bin Abdul Aziz rahimahullah menjadi pemimpin dunia yang pertama membangun puluhan ribu camp pengungsi Rohingya di Arab Saudi. Saat ini sekitar seperempat juta warga Rohingya telah tinggal aman di Arab Saudi.
Saat ini kita melihat respon yang baik dari pemerintah Aceh, Turki, dan Arab Saudi, untuk menolong saudara-saudara kita kaum muslimin Rohingya yang tengah tertimpa musibah. Semoga Allah meringankan beban mereka.
Sumber : Artikel www.KisahMuslim.com
by Danu Wijaya danuw | Sep 4, 2017 | Artikel, Berita, Nasional
Jakarta – Sejumlah komunitas yang tergabung dalam aksi Save Rohingya menggelar aksi damai yang mengecam kekerasan yang terjadi pada pada warga Rohingya di Rakhine, Myanmar. Turut hadir dalam aksi tersebut Wakil Ketua Komite III DPD RI Fahira Idris.
Fahira Idris tampak berorasi di kawasan Car Free Day (CFD), Bundaran HI, Jakarta Pusat (Minggu/9/2017). Dia mengecam aksi kekerasan yang dialami warga Rohingya.
“Kita sangat mengecam pihak pemerintah dan militer Myanmar atas genosida terhadap Muslim Rohingya. Ini sudah melanggar hak asasi manusia,” ucap Bernard Ali Jabbar, Sekjen Komite Advokasi untuk Muslim Rohingya Arakan (Kamra).
Aksi ini terdiri dari komunitas Peduli Jilbab, Aku Cinta Islam, Bidik Production, Jakarta Sinergi, dan One Day Juz. Selain orasi mereka juga melakukan penggalangan dana untuk warga Rohingya.
“Intinya mau penggalangan, kita mau nyampaikan ke pengunjung CFD kalau saudara kita di Rohingya lagi dalam keadaan entah lah kita nggak bisa ngomong, mereka Muslim dibantai, ketika kita melihat itu apakah kita diam saja, makanya kita bikin aksi ini,” ujar Humas aksi Save Rohingya, Tuti Alawiyah di lokasi acara.
Selain itu, peserta aksi juga menggelar aksi teatrikal. Aksi ini banyak menarik perhatian pengunjung CFD di Bundaran HI. Mereka juga ada yang memberikan bantuan melalui penggalangan dana.
Sumber : Detik/Hidayatullah
by Danu Wijaya danuw | Sep 4, 2017 | Artikel, Berita, Nasional
SITTWE — Dompet Dhuafa membawa amanah dari para pekurban di Indonesia ke kamp pengungsi Rohingya di Sittwe, Myanmar. Meski berbahaya dan akses cukup sulit, 20 ekor sapi dari para pekurban di Indonesia yang diamanahkan melalui Tebar Hewan Kurban (THK) Dompet Dhuafa harus sampai ke tangan yang berhak di Myanmar.
“Misi kemanusiaan kali ini lebih berisiko dan mendebarkan,” kata Tim Kemanusiaan Dompet Dhuafa, Shofa melalui keterangan tertulisnya, kepada Republika.co.id, Ahad (3/9)
Shofa mengatakan, sebelumnya Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) memberikan informasi mengenai situasi di Myanmar dalam dua pekan terakhir yang cukup berbahaya. Tim Kemanusiaan Dompet Dhuafa diminta mempertimbangkan misi menyampaikan amanah dari para pekurban di Indonesia ke Muslim Rohingya. Akan tetapi mengingat amanah para pekurban sudah diterima Dompet Dhuafa, maka mereka merasa harus menyalurkannya ke Muslim Rohingya.
Dompet Dhuafa melalui proses panjang dan berliku dalam mencari mitra lapangan untuk mengakses lokasi yang dijaga militer. Akhirnya Tim Kemanusiaan Dompet Dhuafa tiba di lokasi kamp pengungsian Muslim Rohingya.
Dia menyebut, perjuangan Dompet Dhuafa tidak berhenti sampai di sini. Pihaknya harus meneliti kondisi hewan kurban yang sesuai untuk dikurbankan. Kemudian harus memikirkan bagaimana caranya memasukkan hewan kurban tersebut ke wilayah kamp pengungsian Muslim Rohingya di Sittwe. “Alhamdulillah, Allah memudahkan. Ringkasnya, akhirnya hewan berhasil kami masukkan ke kamp pengungsian dan disembelih untuk para pengungsi pada Sabtu,” ujarnya.
Shofa menceritakan, masyarakat di kamp pengungsian menyambut baik hewan kurban dari pekurban di Indonesia. Sebab, sebelumnya pemerintah setempat melarang umat Muslim Rohingya melaksanakan kurban. Bahkan di kota besar seperti Yangon, tidak ada pemotongan hewan kurban saat Idul Adha.
Dia menyebut, adanya kurban di kamp pengungsian kali ini diharapkan bisa menjadi pelipur lara dan sumber bahagia bagi etnis Rohingya di Sittwe dan sekitarnya. Dompet Dhuafa sangat berterimakasih kepada para donatur atau pekurban yang mengamanahkan hewan kurban untuk disalurkan ke camp pengungsian Rohingya melalui Dompet Dhuafa.
Sekretaris II Sosbud KBRI di Yangon, Yasfitha Febriany Murthias mengatakan, pihaknya sangat berterimakasih kepada Dompet Dhuafa dan pera pekurban di Indonesia. “Kami sebagai perwakilan pemerintah Indonesia di sini, selalu membuka tangan untuk bersinergi dalam mengatasi krisis kemanusiaan ini,” ujarnya.
Yasfitha mewakili pemerintah Indonesia untuk menjembatani penyaluran hewan kurban di Myanmar. Dia berharap, hadirnya kurban kali ini di kamp pengungsian akan terus membawa berkah untuk Muslim Rohingya sehingga proses perdamaian cepat selesai.
Sumber : Republika