0878 8077 4762 [email protected]

Hapus Israel dari Peta Dunia, Media Australia Dicap Pengkhianat

SYDNEY – Media yang berbasis di Australia, ABCnet.au, menghapus Israel dari peta dunia  dalam sebuah grafik berita. Publikasi ini memicu kemarahan aktivis terkemuka Israel yang menganggap media itu pengkhianat.
Avi Yemini, aktivis Israel dan pendiri Training Krav Maga perusahaan terkait Angkatan Pertahanan Israel (IDF) mem-posting sebuah foto di Facebook yang menunjukkan cuplikan berita ABC di mana Palestina menempati peta Israel.
”Malam terakhir ABC News menghapus Israel dari peta mereka,” tulis Yemini. ”Mereka benar-benar melakukan pekerjaan kotor kaum Islamis. Kita harus segera menyingkirkan para pengkhianat ini,” lanjut dia.
Pihak ABC pun mengecam komentar tersebut dengan menegaskan bahwa grafik berita mereka adalah bagian dari segmen tentang Libanon yang menghapus undang-undang ”menikahkan korban dengan pemerkosa”.
”Cerita ini tentang pencabutan undang-undang di Libanon yang memungkinkan pemerkosa lolos dari hukuman jika mereka menikahi korbannya,” kata pihak ABC melalui seorang juru bicara, yang dilansir news.com.au, Senin (21/8/2017).
”Grafik yang menyertainya menunjukkan negara-negara di mana undang-undang ini telah dicabut (dalam warna biru) dan negara-negara di mana para aktivis secara aktif berusaha mencabutnya (dalam warna kuning). Hukum ini tidak ada di Israel, dan tidak pernah ada, jadi (Israel) tidak ditunjukkan dalam grafik.”
Berita lain tahun lalu, perusahaan Cotton On terpaksa menarik globe yang telay beredar dari toko alat tulis, karena kesalahan tulis, di mana tidak ada nama Israel dalam peta dunia. Hal itu memicu kemarahan komunitas Yahudi.
 
Sumber : news.com.au/SindoNews

Kisah Haru Dibalik Paskibra Bercadar

Negara Indonesia menjamin kebebasan memeluk dan menjalankan agama bagi penganutnya. Hal itu terbukti dari penggunaan cadar oleh santriwati Pasukan Pengibar Bendera (Paskibra) asal Pondok Pesantren Tarekat Al-Idrisiyah, Kecamatan Cisayong, Kabupaten Tasikmalaya. Ternyata bercadar tak menjadi halangan bagi mereka untuk mengibarkan bendera merah putih.
Tim paskibra Ponpes tersebut menjadi viral di media sosial lantaran santriwatinya tetap menggunakan cadar saat menggelar upacara HUT-RI pada 17 Agustus silam. Republika.co.id, berkesempatan mengungkap kisah paskibra bercadar usai wawancara pada Sabtu, (19/8).
Salah seorang santriwati anggota paskibra, Lulu Lutfia mengatakan, diikutsertaannya di ekstrakurikuler paskibra dimulai sejak sejak SMP, meski belum terlalu aktif. Ketertarikannya pada paskibra dimulai dari hobi saja. Tetapi, dia mulai menekuni paskibra secara serius saat bertekad menjadi tim paskibra saat momen upacara HUT RI 2014 silam.
Ketika itu, Ponpes Al-Idrisiyah mendapat giliran menyediakan paskibra untuk upacara HUT-RI tingkat Kecamatan di Cisayong. Sebab Ponpes Al-Idrisiyah tak setiap tahun menyediakan paskibra lantaran digilir ke lembaga pendidikan lain tiap tahun.
“Waktu 2014 itu cuma lihat saja, terus jadi kepengen jadi tim paskibra saat upacara kemerdekaan, akhirnya saya mulai tekun latihan seperti baris berbaris,” kata dara kelas 12 SMA itu yang pada tahun ini akhirnya mewujudkan mimpinya menjadi tim pengibar bendera kemerdekaan.
Senada dengan itu, anggota paskibra lainnya, Mira Siti Khomariyah merasa bangga menjadi pengibar bendera kemerdekaan. Dia merasa amat bersyukur bahwa cadar yang dikenakannya tak menjadi halangan. Malahan, pihak Ponpes mendukungnya habis-habisan supaya tampil sebagai paskibra bercadar.
“Bangga bisa jadi paskibra bercadar, apalagi mesti seleksi juga di ponpes supaya bisa jadi tim inti,” ujar satu dari delapan santriwati bercadar yang tampil pada upacara kemerdekaan lalu.
Mengenai alasan menggunakan cadar, Lulu dan Mira sepakat karena untuk menjaga diri dari kejahatan. Keduanya pun berharap bahwa langkah terobosan sebagai paskibra bercadar bisa diikuti oleh perempuan bercadar di tempat lain. Mereka menegaskan bahwa cadar tak menjadi halangan untuk mecintai Indonesia.
“Kami jadi paskibra ini sebagai bentuk cinta tanah air, bahwa menggunakan cadar bukan berarti kami tidak nasionalis, saya cinta Indonesia,” tutur Lulu yang disambut anggukan Mira.
Pelatih paskibra di Ponpes Al-Idrisiyah, Asep Rahmat mengatakan tak ada yang berbeda dengann bentuk latihan paskibra bercadar.
Baik santriwati bercadar dan santriwan memperoleh porsi latihan sama dua kali sepekan di hari Senin dan Jumat selama satu jam. Bentuk latihannya berupa pelatihan baris-berbaris dan mengibarkan bendera.
Khusus pada pengibaran kemerdekaan lalu, tim paskibra hanya berlatih intensif selama sepekan. Perbedaan baru terasa bahwa ternyata posisi santriwati dan santriwan dalam formasi paskibra dipisah.
“Pola pelatihannya sama, tapi hanya berbeda yang pria dan perempuan dipisah ada jaraknya, karena sejatinya mereka bukan muhrim, jadi tidak boleh dekat-dekat,” ucapnya.
Sehingga pada pengibaran 17 Agustus lalu, pemandangan berbeda dapat terlihat karena tim paskibra pria dan perempuan tak bercampur dalam satu barisan. Anggota paskibra yang menjadi pembawa baki dan pengerek pun merupakan perempuan, tanpa ada pria yang membantu. Perbedaan ini sempat mengundang pertentangan dari unsur Muspika setempat.
“Mulanya disuruh digabung saja yang pria dan perempuannya jadi satu barisan, tapi kami tolak, kami mending mundur batalin jadi tim paskibranya. Tapi, akhirnya disetujui juga karena waktu sudah mepet,” ucapnya.
Sementara itu, Kepala Divisi Public Relation Ponpes Al-Idrisiyah, Sandra Yusuf menyatakan, tak ada pemaksaan penggunaan cadar di lingkungan Ponpes Al-Idrisiyah. Semua santriwati murni mengenakan cadar atas kesadaran sendiri setelah memperoleh pengetahuan dan pemahaman tentang fungsi cadar.
Ia menyebut paskibra bercadar sebagai bukti bahwa cadar tak menghalangi aktivitas perempuan. “Santriwati tidak dipaksa pakai cadar tapi dari kesadaran sendiri, ketika sudah siap silahkan pakai. Cadar juga tidak menghambat aktivitas, termasuk di kegiatan ekskul,” tuturnya
 
Sumber : Republika

Anggota TNI yang Ngajar Ngaji di Perbatasan

Anggota TNI yang Ngajar Ngaji di Perbatasan

Belasan anak dengan tekun menirukan bacaan Al Quran. Suara dari mulut-mulut mungil mereka terdengar hingga ke luar mushola. Sesekali, mereka terhenti seraya mengeja huruf dibimbing Zulbakri.
“Abi, ini seperti apa bunyinya,” salah satu anak bertanya. Zulbakri pun dengan sabar menjelaskan dan memberi contoh.
Panggilan abi yang ditujukan pada Zulbakri memperlihatkan kedekatan di antara anak-anak dengan anggota TNI ini. Abi berasal dari bahasa Arab untuk memanggil seseorang yang dianggap seperti bapak atau ayah.
Di sela tugas berat menjaga perbatasan negara, para tentara berbaur dengan masyarakat. Ada yang ikut membangun infrastruktur desa, membantu kegiatan di sekolah, sampai melatih karate dan mengajar ngaji anak-anak setempat. Zulbakri adalah salah satu yang dipercaya untuk mengajar ngaji.
“Dari Batalyon sebelumnya, mereka melihat kondisi di perbatasan ini kurang tenaga guru ngaji. Kalaupun ada tempat mengaji itu bayar. Orangtua murid merasa berat. Batalyon itulah yang pertamakali merintis ada belajar ngaji di sini,” runut anggota TNI berpangkat Praka ini.
Seiring pergantian Batalyon, tugas mengajar ngaji diteruskan ke Batalyon yang bertugas selanjutnya. Jumlah anak yang datang ke mushola di Pos Satuan Tugas Pengamanan Perbatasan (Satgas Pamtas) di Entikong, Kalimantan Barat ini juga terus bertambah.
“Awalnya hanya ada tiga anak yang datang mengaji. Sekarang muridnya sudah 30 orang lebih. Ada dua kelas, Iqra dan Al Quran. Mengajinya setiap sore, jam 3 sampai ashar untuk Iqro, dilanjutkan Al Quran sampai jam 5,” paparnya.
Seperti anggota TNI lain yang melakukan berbagai kegiatan sosial, Zulbakri tidak meminta bayaran atas apa yang dia kerjakan di luar pengabdiannya kepada negara.
“Tidak berbayar sama sekali. Ada orangtua yang mau bayar, selalu kami tolak. Kalaupun memaksa bayar, akhirnya kami gunakan untuk pemeliharaan mushola seperti beli kain pel, sapu atau alat kebersihan lainnya,” cerita pria asal Padang, Sumatera Barat tersebut.
Sebagai prajurit, Zulbakri memang sudah siap ditugaskan di mana saja dengan segala risikonya. Namun kesempatan bertugas di Entikong benar-benar disyukurinya.
Menurutnya, perbatasan ini lebih aman dibandingkan Pos Satgas Pamtas lain yang pernah didatanginya. Zulbakri sebelumnya pernah bertugas di Ambon.
“Misalnya di Ambon atau Papua dulu itu masih ada kerusuhan dan gerakan-gerakan separatis. Tingkat kecelakaannya tinggi, seperti ada pembacokan dan sebagainya. Di sini Alhamdulillah tidak ada. Kami pun lebih dekat dengan masyarakat,” kisahnya.
Jauh dari keluarga dan berpindah-pindah wilayah tugas menjadi hal biasa bagi anggota TNI.
Sembilan bulan telah berlalu. Tugas menjaga perbatasan Indonesia-Malaysia berakhir dan digantikan dengan Batalyon lain. Zulbakri mengabarkan bahwa Batalyonnya bersiap kembali ke Padang.
Selama bertugas di Entikong, banyak pengalaman dirasakan Zulbakri. Hal paling berkesan baginya tentu murid-murid mengajinya. Penembak senapan semi otomatis ini mengaku berat berpamitan dengan mereka.
“Pada nangis apalagi yang kecil-kecil itu, gak boleh pulang katanya. Kita pun sedih juga ninggalinnya. Tapi ya bagaimana, namanya tugas,” Zulbakri tertawa bercampur haru.
Di sisi lain, dia tak sabar untuk bisa bertemu lagi dengan istri dan anaknya. Apalagi ini akan menjadi pertama kalinya dia melihat dan menimang langsung si kecil.
Soal anak-anak didiknya, Zulbakri tak khawatir meninggalkan mereka. Pasalnya, tugas mengajar ngaji sudah didelegasikan kepada Satgas penggantinya dari Batalyon Infanteri 642/Kapuas Kalimantan Barat.
“Saya pesan ke anak-anak, rajin-rajin belajar, tetap semangat sampai tercapai cita-cita yang diimpikan,” kenangnya.
Dia akan selalu mengingat momen ketika anak-anak itu mengerubutinya saat jam istirahat, saling berebut ingin duduk dekat sosok yang mereka panggil abi, dan mendengarkan cerita-cerita mereka yang penuh semangat.
“Yang kecil-kecil itu suka ngumpul di dekat saya. Ada saja yang diceritakan. Sampai saya suka bingung cerita mana yang mau didengar. Itu yang bakal bikin kangen,” tutupnya seraya tersenyum.
 
Sumber : Detik

Setelah First Travel Bermasalah, Kementerian Agama Telusuri Dugaan Pelanggaran Biro Umrah Lain

Menteri Agama, Lukman Hakim Saifuddin mengatakan, Kementerian Agama akan kembali mengambil tindakan terhadap biro perjalanan umrah yang melakukan pelanggaran. Tindakan itu berupa pencabutan izin.
Sebelumnya, pada 1 Agustus 2017, Kemenag telah mencabut izin penyelenggaraan perjalanan ibadah umrah PT First Anugerah Karya Wisata atau First Travel.
“Ada beberapa yang sedang kami telusuri, lalu kami akan menentukan sikap terhadap travel itu,” kata Lukman, di Komplek Parlemen, Jakarta, Jumat (18/8/2017).
Kementerian Agama tengah melakukan kajian terhadap pelanggaran-pelanggaran yang diduga dilakukan oleh biro perjalanan umrah tersebut.
“Selalu kami lakukan kajian. Kan sudah ada beberapa izin biro travel perjalanan yang dicabut. Kenapa First Travel ini besar? Ya karena korbannya sangat besar,” kata Lukman.
“Sebelumnya ada biro-biro travel umrah juga yang dicabut izinnya. Tapi tidak bergejolak di masyarakat karena korbannya itu tidak sebesar First Travel. First Travel ini kan besar sekali dan masif,” tambah dia.
Baca: Tolong Pak, Kalau Bisa Pertemukan Kami dengan Pemilik First Travel
Lukman mengatakan, pengawasan yang dilakukan Kementerian Agama hanya sebatas pada standar minimal pelayanan kepada jemaah yang harus dipenuhi biro perjalanan.
Standar minimal itu, misalnya, terkait hotel, katering, pesawat udara, dan sistem manasik umrah.
“Nah di situlah pemerintah melihat apakah standar minimal pelayanan itu diberikan atau tidak. Kalau tidak terpenuhi maka pemerintah akan memberikan sanksi,” kata Lukman.
Pemerintah, kata Lukman, tidak sampai pada audit penggunaan dana biro perjalanan umrah.
“Itu bukan lagi kewenangan Kemenag. Ibarat pemerintah daerah berikan izin untuk warteg. Kan Pemda yang berikan izin tidak sampai menelusuri dana yang diputar oleh si pemilik warteg itu untuk apa saja,” kata dia.
“Lalu kemudian kalau ada konsumen yang perutnya sakit lantaran mengonsumsi makanan yang disediakan warteg. Kalau itu juga bukan tanggung jawab Pemda yang memberikan izin,” ujar Lukman.
 
Moh. Nadlir/Kompas

Hoax, MUI Bantah Keluarkan Fatwa Haram Pasang Bendera di Masjid

Jakarta – Majelis Ulama Indonesia (MUI) merespons berita bohong atau hoax terkait haramnya pemasangan bendera merah putih di masjid. Hoax tersebut beredar di https://muipusat.wordpress.com.
“Berita tersebut (pemasangan bendera di masjid) palsu dan fitnah,” tegas Sekretaris Komisi Fatwa MUI Asrorun Niam Sholeh melalui pesan tertulis, Rabu (16/8/2017).
Pihaknya meminta masyarakat untuk tidak menyebarkan berita tersebut karena berpotensi merusak kehidupan berbangsa dan bernegara.
Asrorun menyatakan, sikap MUI terkait kehidupan berbangsa dan bernegara, tentang hubungan agama dan negara, semua sudah tertuang dalam produk fatwa dan kebijakan MUI.
Ia juga meminta masyarakat mewaspadai upaya adu domba, saling menghina dan saling fitnah yang ujungnya pihak tersebut ingin Indonesia jadi negara yang tidak aman.
“Kita minta Kominfo menutup dan mencegah meluasnya hoax tersebut. Kita koordinasi dengan Kominfo dan sudah terdeteksi akun pembuatnya,” jelas Asrorun.
MUI meminta pula penegak hukum mencari dan menindak tegas penyebar hoax tersebut.
Sebelumnya beredar tulisan yang soal fatwa haram MUI tentang pemasangan bendera di masjid dalam sebuah situs di Internet. Dalam tulisan terpampang foto sejumlah pengurus MUI.
 
Sumber : Liputan6

Ma'ruf Amin Jelaskan Kenapa Jokowi Harus Batalkan Kebijakan 'Full Day School'

JAKARTA – Peran santri tidak hanya memperdalam ilmu agama, dan menerapkannya di dunia nyata.
Rais’Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) sekaligus Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI), Ma’ruf Amin menyebut santri punya tugas lebih dari sekedar itu. Bahkan santri juga punya tugas untuk ikut berperang di era perang kemerdekaan.
Ma’ruf Amin menyebut di era modern ini, kewajiban santri juga termasuk menjaga negara. Ma’ruf Amin mengatakan santri berkewajiban menjaga negara dari kelompok-kelompok yang mengancam kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
“Dari upaya-upaya yang ingin merusak tatanan yang ada, yang ingin mengganti tatanan yang ada sehingga dapat menimbulkan kegaduhan,” kata Ma’ruf Amin, dalam sambutannya di acara peluncuran logo Hari Santri Nasional (HSN), di kantor PBNU, Jakarta Pusat, Kamis (10/8/2017).
Ma’ruf Amin tidak menyebut identitas kelompok mana yang ia maksud. Namun ia menyebut kelompok tersebut sebagai kelompok yang intoleran, yang selalu menganggap salah orang-orang yang berada di luar kelompoknya. Mereka adalah kelompok yang menganggap kafir orang-orang di luar kelompoknya.
“Membenarkan dirinya sendiri. Jangankan derajat non-muslim, sesama muslim saja (mereka) tidak bisa menerima, mereka selain dirinya sendiri, dianggap sesat,” ujarnya.
Saat ini pesantren, madrasah dan institusi lain tempat santri menimba ilmu, punya tanggungjawab untuk mendongkrak ekonomi.
Ia menyebut pemerintah saat ini berusaha menuntaskan permasalahan ekonomi Indonesia, dengan membangun pusat-pusat perekonomian di pesantren dan madrasah.
“Karena ekonomi umat sekarang ini sudah melemah, warung-warungnya juga pada roboh, karena itu harus dibantu,” terangnya.
Sistem ekonomi yang diterapkan saat ini menurut Ma’ruf Amin gagal untuk menjawab permasalahan. Sistem yang ada telah menciptakan banyak konglomerat di Indonesia, namun sayangnya kekayaan dari taipan-taipan tersebut tidak mengalir deras ke masyarakat bawah. Alhasil jurang ketimpangan pun semakin lebar.
“Ternyata (kekayaannya) tidak menetes ke bawah, yang kuat makin kuat, yang lemah makin lemah,” katanya.
Sayangnya keberadaan madrasah saat ini terancam dengan kebijakan Full Day School (FDS). Melalui kebijakan yang sudah dikukuhkan melalui Peraturan Menteri (Permen) Pendidikan dan Kebudayaan, siswa kedepannya akan sekolah hingga sore hari dalam lima hari kerja.
Kebijakan tersebut dianggap mengancam keberadaan madrasah, karena di kantong-kantong NU, siswa menempuh pendidikan di sekolah umum dari pagi hingga siang hari, dan dari siang hingga sore mereka menempuh pendidikan agama di pesantren. Dengan kebijakan FDS, siswa tidak bisa lagi ikut pesantren.
Saat ini permen tersebut tengah di bahas di Istana, untuk dikukuhkan menjadi Peraturan Presiden (Perpres). Ma’ruf Amin mengaku sudah bertemu langsung dengan Presiden Joko Widodo atau yang dipanggil Jokowi, untuk menyampaikan pendapatnya tentang kebijakan FDS.
“Saya sudah minta kepada Presiden, supaya jangan ada lagi disebut-sebut dalam peraturan, yang akan mengganti permen, dengan peraturan presiden. Di dalamnya jangan ada lagi bunyi Full Day School itu,” ujarnya.
 
Sumber : TribunNews