Aa Jimmy, Obat Mencintai Aa Gym Kembali

Dulu tahun 2005 ceramah yang disampaikan oleh KH Abdullah Gymnastiar atau yang akrab disapa Aa Gym menjadi daya tarik tersendiri bagi publik juga kalangan ibu-ibu.
Cara penyampaian menggunakan bahasa sehari-hari serta isi ceramah yang sopan menjadikan sosoknya selalu ditunggu masyarakat di TV.
Akan tetapi, rasa simpati ibu-ibu terhadap sosok Aa Gym memudar ketika dirinya dikabarkan berpoligami dengan seorang janda anak tiga bernama Alfarini Eridani atau dikenal dengan sebutan Teh Rini pada 2006 lalu.
Padahal, Aa Gym telah menikah dengan seorang wanita bernama Ninih Muthmainnah. Atau dikenal teh Nini.
Kabar tersebut pun membuat penggemarnya kecewa dan menyuarakan perasaannya pada tulisan di berbagai media seperti blog, surat pembaca serta menelepon langsung di sesi interaktif acara di televisi.
Selain itu, kabar poligami tersebut berdampak pada berkurangnya jamaah yang hadir ke Darut Tauhid, pesentren binaan Aa Gym.
Pemboikotan Aa Gym oleh publik melalui SMS menyeruak. Bukan hanya itu, beberapa sektor ekonomi Aa Gym pun mendadak merosot. Diantaranya gerai toko butik pakaian mendadak sepi.
Namun beberapa tahun setelahnya, Aa Gym mulai dihormati publik kembali. Travel haji umroh juga semakin ramai setelah fenomena sementara itu. Salah satunya adanya komedian lucu yang bernama “Aa Jimmy.”
Awal Kemunculan Aa Jimmy
Sebagai komedian, Aa Jimmy lekat dengan pribadi yang humoris. Tak hanya di atas panggung, pria yang disebut-sebut mirip ustaz kondang, Aa Gym, ini juga sosok ayah yang suka menghibur.
Bila diingat, Aa Jimmy merupakan komedian jebolan ajang pencarian bakat di stasiun televisi trans TV, bernama ASAL. Yaitu ajang mencari kemiripan dengan artis atau publik figur.
Aa Jimmy atau yang juga dipanggil Heriyanto, kemudian sering tampil dibeberapa stasiun televisi meniru gaya bicara dan pakaian Aa Gym.
Dari situ hiburan dan tausyiah ala Aa Gym dibawakannya, dengan nada serius namun lucu. Disinilah mengobati lagi kerinduan ingin mendengar tausyiah Aa Gym yang lama tidak muncul di TV.
Kabar Duka Wafatnya Aa Jimmy
Namun kabar duka Aa Jimmy yang menjadi korban tsunami di Banten-Lampung diberitakan beberapa media swasta.
Vokali band seventeen, Ifan menuturkan bahwa dia melihat sendiri jenazah Aa Jimmy tergeletak di pantai.
“Aa Jimmy meninggal dunia, kebetulan saya lihat sendiri jenazahnya di pantai,” kata Ifan ‘Seventeen’ yang melakukan sesi wawancara bersama TV One, Minggu (23/12/2018).
Aa Jimmy tersapu gelombang tsunami usai mengisi acara di Tanjung Lesung. Lewat Instastory, ia pun sempat mengunggah video penampilannya bersama komedian Ade Jigo di acara gathering PLN.
Namun sayang hingga saat ini nasib sang istri Aa Jimmy belum diketahui.
“Belum tahu kalau untuk istrinya,” kata Jana manajer Aa Jimmy kepada detikHOT, Minggu (23/12/2018).
Kabar ini tentu menjadi duka bagi kita semua. Doa terbaik untuk para korban dan keluarga, semoga diberi ketabahan serta amal ibadahnya diterima Allah swt.
 
Disadur : Okezone/Detik

Kesaksian Jamaah : Air Tsunami Palu Setinggi Pohon Kelapa Melompati Kubah Masjid

PALU – Bencana yang mengguncang wilayah Palu, Sulawesi Tengah meninggalkan beberapa cerita yang mungkin tak masuk logika.
Satu diantaranya adalah bangunan Masjid Jami Pantoloan di Kelurahan Pantoloan, Kecamatan Tawaeli, Palu.
Disaat bangunan disekelilingnya telah luluh lantak diterjang tsunami, kondisi masjid ini tetap berdiri kokoh.
Tak ada satu pun terlihat kerusakan di bangunan masjid seperti bekas terjadi gempa dan tsunami yang terjadi di tempat itu.
Tembok di masjid itu pun juga tidak terlihat adanya noda sama sekali.
Padahal, lokasi masjid berwarna hijau itu hanya berjarak sekira 50 meter saja dari pantai dan Pelabuhan Pantoloan.
Alif Firmansyah, jamaah masjid yang saat peristiwa tsunami berada di dalam Masjid Jami Pantoloan menyebut masjid ini sangat nyata dilindungi dari bencana yang dahsyat itu.
Saat kejadian gempa mengguncang, Alif dan para jamaah hendak menunaikan salat maghrib berjamaah di masjid yang menurut cerita warga telah dibangun sejak Tahun 1936.
Alif menceritakan saat adzan Maghrib tengah dikumandangkan, tiba-tiba terjadilah gempa yang begitu dahsyat.
Para jamaah pun langsung lari berhamburan keluar karena takut tertimpa bangunan.
‎Namun, sang muadzin tetap meneruskan kumandang adzannya hingga selesai baru kemudian lari keluar masjid.
‎”Saya waktu itu sedang ngambil air wudhu. Adzan itu belum selesai berkumandang tiba-tiba diguncang gempa,” kata Alif ditemui di Masjid Jami Pantoloan, Sabtu (13/10/2018).
Alif menuturkan gempa itu membuat banyak jamaah yang berjatuhan ‎sampai terpental keluar pagar masjid.
Mereka pun terus berdoa dan melantunkan dzikir di tengah kepanikan yang terjadi.
“Waktu gempa sampai ada yang tersalto keluar sampai pagar. Semua orang berdzikir waktu gempa,” ujarnya menceritakan saat-saat mencekam itu terjadi.
Alif menceritakan gelombang air tsunami yang begitu tinggi dan kencang itu sama sekali tak menyerang masjid tersebut.
‎Bahkan, ia menyebut gelombang air yang setinggi pohon kelapa itu justru melompati masjid tersebut dan terbelah setelah melewati kubah masjid.
“Air laut tidak masuk ke masjid sama sekali. Bahkan, ke halaman masjid pun tidak masuk, tapi dia naik ke atas melompati kubah masjid ini,” kata ‎Alif.
Melihat kejadian itu, Alif dan para jamaah yang ada di ‎masjid pun dibuat terpana.
Mereka tak henti memanjatkan doa dan dzikir atas mukjizat yang baru saja disaksikannya.
“Kita semua disini terus berdzikir,” kata Alif.
Setelah gelombang tsunami berhenti, barulah air masuk ke dalam masjid ‎melalui bagian belakang. Namun air itu tenang dan tak bergejolak.
“‎Air masuk ketika sudah surut. Posisi air datang dari belakang masjid dan setinggi sekira selutut,” ucapnya.
Ismail (46) jamaah yang juga berada di dalam masjid saat tsunami terjadi mengakui kalau air tsunami sama sekali tak menerjang Masjid Jami Pantaloan.
Menurut dia, semua itu terjadi semata karena kuasa dan perlindungan ‎Allah SWT.
“Ini murni karena k‎uasa Allah karena memang tidak masuk logika. Sehari-harinya masjid ini dipakai untuk salat berjamaah, pengajian dan kumpul warga,” kata Ismail.
 
Sumber : Bangkapos/Tribunnews

Tradisi Syirik Balia yang Dihidupkan Kembali Sebelum Tsunami Terjadi

Tradisi Syirik Balia yang Dihidupkan Kembali Sebelum Tsunami Terjadi

PALU – Sebelum bencana alam gempa dan tsunami melanda kota Palu, banyak warga yang menghadiri kegiatan festival kebudayaan palu nomoni di pantai Talise, Palu Sulawesi Tengah.
Para warga hadir di pantai tersebut untuk menyaksikan kegiatan tradisi Balia yang syarat akan kesyirikan yang sudah lama hilang.
Kegiatan tradisi Balia merupakan kegiatan yang sudah lama hilang dan ingin dihidupkan kembali. Tradisi Balia sendiri dahulu digunakan untuk mengobati orang sakit menggunakan mantra dengan sesajen dan dilakukan oleh orang yang ahli.
Menurut Andi Ahmad, budaya ini baru dihidupkan kembali sejak 2016, biasanya menggunakan sesajen, seperti menghanyutkan makanan ke laut, dan hewan ternak seperti kambing.

DoyHV4rU8AEnual

Sesajen ternak yang ingin dihanyutkan kelaut


“Biasanya untuk mengobati orang sakit menurut cerita dahulu, identiknya sih dengan sesajen,” kata Andi Ahmad, warga Palu.
Dirinya dimintai keterangan di jalan Garuda Dua, Birobuli Utara, palu Selatan, Kota Palu, Sulawesi Tengah, kepada Islamic News Agency (INA), kantor berita yang diinisiasi Jurnalis Islam Bersatu (JITU).
Dirinya melanjutkan, tradisi Balia sendiri biasanya identik dengan kain berwarna kuning yang menjadi hiasan panggung ataupun ruangan yang dijadikan tempat pengobatan tersebut.
“Jadi ini itu identik dengan pakaian kuning gitu, terus domba-domba yang masih hidup itu dijadikan bahan sesajen di hanyutkan dilaut,” tambahnya.
Palu nomoni memiliki arti Palu berbunyi. Menurut Andi, tradisi ini sebenarnya sudah lama lenyap sejak kedatangan seorang ulama yang dikenal guru tua habib Idrus bin Salim Al Jufri, yang disebut masih memiliki sanat keturunan dari Baginda Rasulullah SAW.
” Sebenernya tradisi ini sudah lama hilang, dibersihkan sejak kedatangan guru tua, namun kembali dihidupkan,” tuturnya.
Dimulainya tradisi ini sejak 2016, terpilihnya walikota pasangan Hidayat – Sigit Purnomo Said (Pasha). Namun sejak 2016 juga terus terjadi hal-hal aneh seperti angin yang sangat kencang.
“Jadi memang tradisi ini identik dengan roh halus, sejak 2016 dihidupkan kembali, memang 2016 dan 2017 itu setiap dirayakan, angin kencang terus, saat ini tahun 2018 barulah tsunami,” paparnya.
Para imam masjid di kota Palu mengatakan kepada masyarakat agar menjadi instropeksi diri agar menjadi lebih baik lagi ibadahnya.
Menurut para ahli geologi ini sendiri kondisi tsunami di Palu cukup aneh, karena sejatinya patahan lempeng tak mungkin menyebabkan tsunami besar.
Hipotesis sementara dari longsoran sedimen yang masih diteliti lebih lanjut. Banyak bangunan rusak, jalan terbelah patah, likuifaksi, dan tsunami besar yang membuat mayat-mayat banyak bergelimpangan. Korban jiwa lebih dari 1.600 orang.
 
Sumber : Islamic News Agency (INA)/ JITU/ NahiMungkar

X