by Danu Wijaya danuw | May 8, 2017 | Adab dan Akhlak, Artikel
Allah selalu memiliki rencana baik bagi makhluk-makhluknya. Namun kadang kala kita sebagai makhluknya kurang peka dan tidak mengerti terhadap rencana baik yang Allah sembunyikan dalam setiap sendi kehidupan kita itu.
Tentang nasib, kaya dan miskin, mungkin masih banyak di antara kita yang mengumpat dengan mengatakan Allah tidak adil. Padahal dalam salah satu 99 asmanya terdapat satu nama yang menegaskan Allah maha adil.
Nah, berikut adalah 6 perkara yang Allah sembunyikan di dalam 6 perkara lain:
Umar ra. Berkata, “sesungguhnya Allah Ta’ala menyembunyikan 6 perkara di dalam 6 perkara yang lain, yaitu:
- Allah menyembunyikan keridhoan-Nya di dalam taat kepada-Nya.
- Allah menyembunyikan kemarahan-Nya di dalam maksiat kepada-Nya.
- Allah menyembunyikan lailatulqadar di dalam bulan Ramadhan.
- Allah menyembunyikan wali di tengah-tengah manusia.
- Allah menyembunyikan kematian di dalam umur.
- Allah menyembunyikan shalat yang paling utama di dalam shalat 5 waktu.
Allah merahasiakan 6 perkara di dalam 6 perkara tersebut maksudnya agar kita:
- Sungguh-sungguh dalam melaksanakan ta’at
- Betul-betul menjauhi maksiat
- Sungguh-sungguh menyambut lailatul qadar
- Menghormati setiap orang
- Selalu menyiapkan diri untuk mati
- Giat mengerjakan shalat.
Sumber: Nashaihul Ibad/ Karya Ibnu Hajar Al-Asqolani/ Penerbit Pustaka Amani
by Danu Wijaya danuw | May 7, 2017 | Artikel, Dakwah
Nabi Muhammad SAW memiliki seekor kucing yang diberi nama Mueeza. Suatu saat, di kala Nabi hendak mengambil jubahnya, ditemuinya Mueeza sedang terlelap tidur dengan santai diatas jubahnya. Tak ingin mengganggu hewan kesayangannya itu, Nabi pun memotong belahan lengan yang ditiduri Mueeza dari jubahnya.
Ketika Nabi kembali ke rumah, Muezza terbangun dan merunduk sujud kepada majikannya. Sebagai balasan, Nabi menyatakan kasih sayangnya dengan mengelus lembut ke badan mungil kucing itu sebanyak 3 kali.
Dalam aktivitas lain, setiap kali Nabi menerima tamu di rumahnya, nabi selalu menggendong mueeza dan di taruh dipahanya.
Salah satu sifat Mueeza yang Nabi sukai ialah ia selalu mengeong ketika mendengar adzan, dan seolah-olah suaranya terdengar seperti mengikuti lantunan suara adzan. Kepada para sahabatnya, Nabi berpesan untuk menyayangi kucing peliharaan, layaknya menyanyangi keluarga sendiri.
Hukuman bagi mereka yang menyakiti hewan lucu ini sangatlah serius, dalam sebuah hadist shahih Al Bukhari, dikisahkan tentang seorang wanita yang tidak pernah memberi makan kucingnya, dan tidak pula melepas kucingnya untuk mencari makan sendiri, Nabi Muhammad SAW pun menjelaskan bahwa hukuman bagi wanita ini adalah siksa neraka.
Dari Ibnu Umar ra bahwa rasulullah saw bersabda, “Seorang wanita dimasukkan kedalam neraka karena seekor kucing yang dia ikat dan tidak diberikan makan bahkan tidak diperkenankan makan binatang-binatang kecil yang ada di lantai,” (HR. Bukhari).
Nabi menekankan di beberapa hadis bahwa kucing itu tidak najis. Bahkan diperbolehkan untuk berwudhu menggunakan air bekas minum kucing karena dianggap suci.
Kenapa Rasulullah Saw yang buta baca-tulis, berani mengatakan bahwa kucing suci, tidak najis? Lalu, bagaimana Nabi mengetahui kalau pada badan kucing tidak terdapat najis?
Fakta ilmiah dari hasil penelitian kedokteran dan percobaan yang telah di lakukan di laboratorium hewan, ditemukan bahwa badan kucing bersih secara keseluruhan. Ia lebih bersih daripada manusia.
Sisa makanan kucing hukumnya suci. Hadist Kabsyah binti Ka’b bin Malik menceritakan bahwa Abu Qatadah, mertua Kabsyah, masuk ke rumahnya lalu ia menuangkan air untuk wudhu. Pada saat itu, datang seekor kucing yang ingin minum. Lantas ia menuangkan air di bejana sampai kucing itu minum.
Kabsyah berkata, “Perhatikanlah.” Abu Qatadah berkata, “Apakah kamu heran?” Ia menjawab, “Ya.” Lalu, Abu Qatadah berkata bahwa Nabi SAW pernah bersabda, “Kucing itu tidak najis. Ia binatang yang suka berkeliling di rumah (binatang rumahan),” (H.R At-Tirmidzi, An-Nasa’i, Abu Dawud, dan Ibnu Majah).
Diriwayatkan dan Ali bin Al-Hasan, dan Anas yang menceritakan bahwa Nabi Saw pergi ke Bathhan suatu daerah di Madinah. Lalu, beliau berkata, “Ya Anas, tuangkan air wudhu untukku ke dalam bejana.” Lalu, Anas menuangkan air.
Ketika sudah selesai, Nabi menuju bejana. Namun, seekor kucing datang dan menjilati bejana. Melihat itu, Nabi berhenti sampai kucing tersebut berhenti minum lalu berwudhu.
Nabi ditanya mengenai kejadian tersebut, beliau menjawab, “Ya Anas, kucing termasuk perhiasan rumah tangga, ia tidak dikotori sesuatu, bahkan tidak ada najis.”
Diriwayatkan dari Dawud bin Shalih At-Tammar dan ibunya yang menerangkan bahwa budaknya memberikan Aisyah semangkuk bubur. Namun, ketika ia sampai di rumah Aisyah, tenyata Aisyah sedang shalat. Lalu, ia memberikan isyarat untuk menaruhnya. Sayangnya, setelah Aisyah menyelesaikan shalat, ia lupa ada bubur.
Datanglah seekor kucing, lalu memakan sedikit bubur tersebut. Ketika ia melihat bubur tersebut dimakan kucing, Aisyah lalu membersihkan bagian yang disentuh kucing, dan Aisyah memakannya.
Rasulullah Saw bersabda, “Ia tidak najis. Ia binatang yang berkeliling.” Aisyah pernah melihat Rasulullah Saw berwudhu dari sisa jilatan kucing.” (H.R AlBaihaqi, Abd Al-Razzaq, dan Al-Daruquthni).
Hadis ini diriwayatkan Malik, Ahmad, dan imam hadits yang lain. Oleh karena itu, kucing adalah binatang, yang badan, keringat, bekas dari sisa makanannya adalah suci, Liurnya bersih dan membersihkan, serta hidupnya lebih bersih daripada manusia. Mungkin ini pula-lah mengapa Rasulullah SAW sangat sayang kepada Muezza, Kucing kesayangannya
by Danu Wijaya danuw | May 7, 2017 | Adab dan Akhlak, Artikel
Salah satu sumber kebahagiaan itu adalah menerima takdir yang digariskan oleh Allah dengan ikhlas. Sekaligus menikmatinya dengan lapang dada. Kesempitan dan rasa gelisah bisa saja mencul karena kita tidak terima dengan apa yang terjadi pada diri kita.
Supaya kita bisa menikmati takdir, kita harus melihat orang-orang yang kurang beruntung dibanding kita. Atau kita jangan langsung menganggap orang lain beruntung, padahal bisa jadi orang lain yang kita anggap beruntung tidak merasa bahagia sama sekali. Jangan pernah iri dengan kehidupan orang lain, bisa jadi orang yang kita iri kepadanya, dia pun iri dengan kehidupan kita. Siapa yang tahu.
Kita bisa mengambil pelajaran dari kehidupan sekitar.
Ada yang takdirnya usia 21 tahun sudah menikah, tapi harus menunggu 11 tahun untuk mendapatkan anak. Sementara yang lain harus bersabar menahan gunjingan karena lama mendapatkan jodoh. Kemudian baru menikah di usia kepala tiga, tapi Allah langsung memberinya momongan dan tidak perlu menunggu bertahun-tahun.
Ada yang kaya raya dan sukses di usia muda, tapi meninggal di usia kepala empat, sementara yang lain harus bercucuran keringat dan air mata hingga usia 40 tahun, tapi manfaatnya terasa bagi dirinya dan bagi orang-orang sekitar hingga menjelang usia 80 tahun.
Maka dari itu, nikmatilah takdir kita.
Tidak perlu galau dengan pencapaian orang lain. Takdir kita dengan mereka tidaklah sama.
Ada yang takdirnya berjuang hidup dari sakit yang dideritanya. Sehingga hidupnya tidak lepas dari dokter, rumah sakit dan jarum suntik. Namun ia tak pernah lepas dari dzikir sepanjang hidupnya karena selalu dibayang-bayangi kematian.
Sementara kawannya yang sehat wal afiyat sibuk hura-hura dengan kehidupannya, tanpa terbebani rasa sakit justru dijemput malaikat maut terlebih dahulu.
Maka dari itu, nikmatilah hidup kita.
Ada sebagian orang yang beruntung menikmati takdirnya dengan ikhlas, menikmati setiap perjuangan, mengubur jauh-jauh iri dan dengki dan meluaskan kesabaran tanpa batas. Dan tak lupa memohon pertolongan kepada Alloh akan kebaikan di akhir kehidupan.
Sementara sebagian lain sibuk membanding-bandingkan takdirnya dengan takdir orang lain. Kadang menggugat Robb yang mengguratkan takdir tersebut, ”Ya Allah kenapa aku yang harus mengalaminya? Ya Allah, aku sudah tidak kuat, harus sampai kapan aku menanggungnya?”
Kita termasuk yang mana?
Sumber: Ummi
by Danu Wijaya danuw | May 6, 2017 | Artikel, Berita, Internasional
PRANCIS–Robert Menard, Wali kota Beziers yang terletak di bagian tenggara Prancis yang merupakan kader Partai Front Nasional yang anti imigran menyatakan bahwa terlalu banyak siswa Muslim di sekolah-sekolah di kotanya merupakan masalah.
Wali kota tersebut didenda 2.000 euro (atau sekitar Rp28 juta) atas pernyataannya yang menimbulkan kebencian di kalangan umat Muslim di Prancis.
Pada tanggal 1 September 2016, bertepatan dengan hari pertama tahun ajaran baru di Prancis, ia mencuitkan pesan bahwa dirinya menyaksikan “perubahan besar-besaran”.
Itu istilah yang digunakan untuk menggambarkan dugaan penggusuran populasi Kristen kulit putih Prancis oleh para pendatang asing.
Pada 5 September, Menard mengatakan di stasiun televisi LCI, “Di sebuah kelas di pusat kota saya, sebanyak 91% muridnya adalah Muslim. Jelas, ini adalah masalah. Ada batasan untuk toleransi.”
Hukum di Prancis melarang pengungkapan data yang berdasarkan kepercayaan agama atau etnik orang-orang.
Namun Menard berkilah, “Saya sekadar menggambarkan situasi di kota yang saya pimpin. Ini bukan sebuah penilaian, ini adalah fakta. Itulah hal yang bisa saya lihat.”
Selain denda, pengadilan Paris juga mengganjar biaya sidang sebesar 1.000 euro (atau Rp14 juta) bagi kelompok anti rasis yang membawa kasus ini ke pengadilan.
by Danu Wijaya danuw | May 6, 2017 | Adab dan Akhlak, Artikel
Pada akhir bulan bagi para pekerja biasanya sibuk membuat laporan kegiatan, berharap semua target pekerjaan dapat dilaksanakan dengan hasil terbaik.
Bagaimana halnya dengan amal manusia? Maka laporan akhir tahunan manusia kepada Allah adalah pada bulan Sya’ban sesuai dengan hadits.
Dari Usamah bin Zaid berkata, saya bertanya, “Wahai Rasulullah saw, saya tidak melihat engkau puasa di suatu bulan lebih banyak melebihi bulan Sya’ban.”
Rasul saw bersabda, “Bulan tersebut banyak dilalaikan manusia, antara Rajab dan Ramadhan, yaitu bulan diangkat amal-amal kepada Rabb alam semesta, maka saya suka amal saya diangkat sedang saya dalam kondisi puasa.” (HR Ahmad, Abu Dawud, An-Nasa’i dan Ibnu Huzaimah)
Hadits ini menjelaskan bahwa amal manusia akan dilaporkan kepada Allah pada bulan Sya’ban. Tentu kita ingin amal kita dilaporkan dengan kondisi terbaik, bukan dengan kondisi sebaliknya.
Untuk mari pada bulan Sya’ban ini kita siapkan akhir amal tahunan kita dengan sebaiknya-baiknya. Banyak amal sunah bisa kita lakukan seperti memperbanyak sholat sunah rawatib, tahajud, dhuha, puasa sunah, dzikir, membaca al Quran, shadaqah, ikut kajian ilmu dll.
Secara khusus puasa sunah menempati posisi amal yang terbaik seperti yang disebutkan dalam hadits diatas dan juga hadits dibawah ini.
” Saya tidak melihat Rasulullah SAW menyempurnakan puasanya, kecuali di bulan Ramadhan. Dan saya tidak melihat dalam satu bulan yang lebih banyak puasanya kecuali pada bulan Sya’ban. (HR Muslim).
Masya Allah mari kita hiasi bulan Sya’ban ini dengan keindahan ibadah, mari bersihkan diri dari noda-noda dosa, kita tambal kekurangan anal sholeh dengan perbanyak amal sholeh.
Semoga Allah mengumpulkan kita bersama dengan para kekasih Nya yaitu para Rosul, shiddiqin, ulama dan para syuhada Aamiin allahumma aamiin.
Salam santun
Herman Budianto