0878 8077 4762 [email protected]

Sedang Live, Anies Hentikan Pidato di KPU saat Adzan Berkumandang

JAKARTA – Bersamaan dengan #AksiSimpatik55, hari ini, Jumat (5/5/2017), pasangan Anies Baswedan – Sandiaga Uno resmi ditetapkan oleh KPU sebagai gubernur wakil gubernur DKI Jakarta terpilih.
Penetapan dilakukan dalam acara rapat pleno terbuka pasangan calon gubernur dan wakil gubernur Jakarta terpilih periode 2017-2022 di kantor KPU DKI, Jalan Salemba Raya, Jakarta Pusat, Jumat (5/5/2017).
Saat menyampaikan Pidato Kemenangan yang disiarkan LIVE TvOne ini, Anies menghentikan pidatonya saat adzan Ashar berkumandang. Untuk bersama-sama menyimak dan mendengarkan lantunan adzan.
Yang SUBHANALLAH banget adalah begitu pas momen apa yang diucapkan Anies Baswedan dengan saat berkumandangnya adzan.
Di tengah pidato Anies menyampaikan “Kemenangan itu hanya datang karena petolongan dari Allah…”, lalu saat itu terdengar lantunan adzan dari kejauhan “Allahu Akbar… Allahu Akbar..”. Kemudian Anies menghentikan pidatonya untuk mendengarkan adzan.
Subhanallahu.. Allahu Akbar… Indahnya pemimpin muslim.

Serba-serbi Aksi 505

Serba-serbi Aksi 505

Aksi 55 yang diprakarsai Gerakan Nasional Pembela Fatwa Majelis Ulama Indonesia (GNPF-MUI) ini bertujuan menuntut keadilan terkait kasus dugaan penistaan agama dengan terdakwa Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok). Aksi dilakukan menjelang putusan majelis hakim pada 9 Mei mendatang.
Ribuan peserta Aksi Damai 505 tiba di Jakarta dengan kondisi yang berpencar. Sebagian berkumpul di masjid At Tin TMII, dan masjid lain di Jakarta. Sebagian besar berkumpul di masjid Istiqlal.
Jamaah yang dominan mengenakan pakaian serba putih. Mereka memenuhi lebih dari setengah ruang utama masjid Istiqlal. Peserta aksi diketahui datang dari berbagai daerah. Menurut salah satu petugas keamanan Masjid Istiqlal, Taman, ada yang datang dari Purwakarta, Pekanbaru, Palembang, Pontianak, hingga Medan.
Kebanyakan mereka datang secara pribadi dan kelompok-kelompok kecil. Ada yang datang menggunakan motor, mobil pribadi dan transportasi lain.

_95913452_78b04b93-38ae-4a36-87d1-6f84dbbafc77

Peserta shalat jumat di jalan sekitar masjid Istiqlal


_95913449_e7781396-bba6-44b8-b6d7-21879b6389ea

Peserta shalat jumat di jalan sekitar Istiqlal


 
_95912795_2bc1183c-1a2e-407d-b4f5-4935c1403f64

Agam Jawara datang bersama ormas Forkabi dan Jawara Betawi


_95912788_21d28706-4387-4789-b9b6-d4451e5ff527

Banyak peserta yang datang berjalan kaki


BULE-AKSI

Ada 5 bule di 4 foto berbeda


06051

Warga NU kabupaten sukabumi


Aa Gym Khotbah Subuh di Masjid At Tin
Aa menyoroti beberapa kejadian mencemaskan di antaranya pengadilan penistaan agama yang sedang berlangsung saat ini.
Ia berharap mudah-mudahan dengan munajat bersama, Allah memberikan hidayah dan taufik kepada majelis hakim untuk bisa memberikan keputusan seadil-adilnya yang bisa memenuhi dahaga keadilan sehinga bisa dirasakan masyarakat, khususnya umat Islam.
“Insya Allah aksi 505 kegiatan yang penuh berkah. Yang hadir niatnya lurus demi kebaikan. Laksanakan dengan niat yang baik, perkataan baik dengan sikap yang terbaik agar Allah yang maha menyaksikan Ridho kepada kita memberikan takdir terbaik bagi kita.”
Adapun bagi yang tak bisa hadir, kata Aa, silahkan shalat jumat di tempat masing-masing dan memperbanyak doa. Insya Allah tak ada yang disia-siakan.
“Dan berdoa bisa mengubah takdir ke takdir yang lebih baik. Insya Allah kita lakukan ini atas kecintaan terhadap negara kesatuan Indonesia kita yang utuh dan martabat ini.”
KH Adnan MUI Khotbah Jumat di Istiqlal
Khotib sholat Jumat Masjid Istiqlal kali ini adalah KH M Adnan Harahap dari Majelis Ulama Indonesia (MUI). Dalam khotbahnya KH Adnan menyatakan, Masjid Istiqlal merupakan masjid terbesar di Asia. Pemimpin negara – negara di dunia pernah menyempatkan untuk datang ke Masjid Istiqlal untuk belajar tentang Islam di Indonesia.
“Para pemimpin dunia pernah datang ke Masjid Istiqlal tidak lain untuk belajar Islam di Indonesia yang merupakan terbesar di dunia,” jelas KH Adnan.
KH Adnan juga berperan agar umat Islam menjadi umat yang bermanfaat dan bermartabat untuk orang lain. Seperti dalam ayat Al Quran jadilah kamu menjadi umat yang terbaik, umat yang bermartabat, umat yang tertib, umat yang memiliki harga diri. Contoh dari umat bermartabat ditunjukan dengan ikut aksi yang dilakukan dengan penuh kedamaian.
“Itulah makna dari umat yang bermartabat, sama seperti hari ini kegiatan mulia aksi damai. Ini mayoritas gelar aksi damai. Inilah wajah Islam Indonesia. Kita luruskan niat semata-mata lillahi taala. Niat yang lurus juga untuk masyarakat kita, para pemimpin kita,” tegasnya.

Rajut Ukhuwah, Peserta Aksi 505 Makan Bersama saat Longmarch ke MA

 
Aksi 5 Mei alias aksi 505 yang dipelopori Gerakan Nasional Pengawal Fatwa (GNPF) MUI telah dilaksanakan hari ini. Massa melakukan aksi long march dari Masjid Istiqlal menuju Mahkamah Agung (MA).
Mereka long march menuju gedung MA untuk mengawal vonis kasus penistaan agama dengan terdakwa Basuki Tjahaja Purnama ( Ahok).
Saat massa tiba di samping kantor Kementerian Dalam Negeri, tak jauh dari MA, peserta aksi terlebih dahulu makan bersama.
Pantauan merdeka.com di lokasi, banyak para peserta aksi yang mengantri untuk mendapatkan nasi kotak.
“Abis makan, kotak nasi bekasnya tolong jangan buang sembarangan, taruh di dus aqua kosong,” kata sala satu donatur Nurjahid Pembela Islam (NPI), Maharani Hasan, Jakarta, Jumat (5/5).
Pengusaha catering ini pun mengaku menyediakan 500 kotak nasi kebuli, 1.000 roti sobek, dan juga 25 dus botol air mineral. Makan dan minum itu sengaja dibagikan secara gratis untuk para peserta aksi.
“Ini hasil dari usaha catering saya, tapi ada juga teman-teman yang lain nambahin,” ujarnya.
Menurutnya, anggota NPI ini satu dengan yang lain sebelumnya tidak saling kenal dan belum bertemu. Mereka tergabung dalam media sosial.
“Ini awalnya dari Facebook, saya yang pertama kali bikin grup di WhatsApp buat kumpulin para donatur. Ini juga perwakilan dari setiap daerah ada, tapi sebagian dari Jakarta,” jelasnya.
Sumber : nurhabibi/merdeka

Serba-serbi Aksi 505

Aksi 505: Lima Belas Delegasi GNPF MUI Diterima Perwakilan MA

Massa 505 tiba di sekitar gedung MA pada pukul 13.30 WIB. Pengunjuk rasa tertahan barikade petugas, di depan Kementrian Dalam Negeri, Jl Medan Merdeka Utara.
15 Orang perwakilan dari aksi ‘505’ GNPF MUI yang diterima Mahkamah Agung (MA) RI. Mereka diterima di Ruang Media Centre Harifin Tumpa, Gedung MA.
Informasi dari Kasubbag Humas Polres Jakpus Kompol Suyatno, 15 orang perwakilan aksi ‘505’ GNPF MUI itu yakni;

  1. Prof Dr Didin Hafiduddin
  2. Dr Kapitra Ampera
  3. Nasrulloh Nasution
  4. KH Shobri Lubis
  5. Ahmad Doli Kurnia
  6. DR Ahmad Luthfi Fathullah
  7. Muhammad Luthfie Hakim
  8. Heri Aryanto
  9. KH Nazar Haris
  10. Ustaz Bobby Herwibowo
  11. Ustadz Asufri Sambo
  12. Ustadz Bahtiar Nasir.
  13. Amien Rais
  14. Habib Rizieq
  15. Ustadz GNPF

12 Orang tersebut akan diterima oleh 5 orang pejabat MA, yakni:

  1. Sunarto (Ketua Muda Pengawasan)
  2. Mode (Panitera)
  3. Suharto (Panitera Muda Pidana).
  4. Pujo Harsono (Sekretaris MA)
  5. Ridwan Mansyur (Kabiro Humas)

Saat ini massa aksi ‘505’ tertahan blokade polisi di depan Gedung Kemendagri. Rencana awalnya, mereka melakukan longmarch dari Masjid Istiqlal menuju Gedung MA.
Sambil menunggu pertemuan dengan perwakilan MA berakhir, pengunjuk rasa melakukan orasi di depan Kementerian Dalam Negeri.
Dalam orasinya, massa menyerukan aksi 505 bukan aksi menentang Pancasila, tapi aksi menuntut keadilan untuk proses hukum Ahok. Dalam orasinya, pengunjuk rasa juga memprotes pengiriman bunga untuk Ahok.

_95914914_57695a4e-b1f4-4452-9a8d-03f699e66043

Mimbar bebas orasi aksi 505


“Ada yang bawa bunga ke sini? Bunga itu untuk di kuburan. Kita enggak usah bawa bunga, yang kita bawa ke sini adalah Iman. Bunga bisa layu, tapi iman kita enggak akan mati,” kata salah satu pemimpin aksi dari mobil komando.
Situasi sempat memanas saat salah satu pemimpin aksi meminta barikade aparat dibuka, agar massa bisa maju hingga ke depan gedung MA, karena antrean massa sudah memanjang dari depan Kementerian Dalam Negeri hingga ke depan Stasiun Gambir. Namun, massa kembali tenang setelah pemimpin aksi lainnya meminta pengunjuk rasa untuk duduk.
Kendati dianggap tak perlu oleh berbagai organisasi utama Islam, GNPF MUI tetap menggelar aksi yang dimulai dengan salat Jumat di Istiqlal, dengan rencana berjalan kaki ke Gedung Mahkamah Agung.
Aksi 505 ini digelar terkait persidangan kasus dugaan penistaan agama dengan terdakwa Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok, yang Selasa (9/5) akan memasuki tahap akhir: putusan.
Massa menganggap tuntutan jaksa, 1 tahun penjara dengan masa percobaan 2 tahun, terlalu ringan, dan menuntut hakim menjatuhkan hukuman lebih berat.
Sejak akhir tahun lalu GNPF-MUI melakukan rangkaian aksi untuk menuntut agar aparat hukum mengadili Ahok dalam kasus dugaan penistaan agama terkait penyebutan surat Al-Maidah 51 dalam pidato di Kepulauan Seribu.
Dalam pidato itu Ahok dianggap menghina surat Al-Maidah dan menyusul demonstrasi yang diikuti ratusan ribu hingga jutaan umat Islam pada Desember lalu, Ahok kemudian diadili.
 
Diolah dari : merdeka/bbc

Ketika Gubernur Al-Hisyam Bertemu Seorang Tabiin

Gubernur al-Hisyam adalah salah seorang pejabat yang sangat berkuasa pada zaman Dinasti Umayah. Al-Hisyam sering kali menggunakan kekuasaannya untuk keperluannya sendiri. Seperti suatu kali, ia ingin menunaikan ibadah haji. Atas biaya negara, ia pun berangkat menuju tanah suci Mekkah. Seperti tahun-tahun sebelumnya, ibadah haji yang dilaksanakan al-Hisyam saat itu diikuti rombongan besar yang terdiri dari sanak saudara, pejabat teras, dan para pengawalnya.
Pada masa pemerintahan ini, jumlah sahabat Rasulullah yang masih hidup hanya tertinggal beberapa orang saja. Bisa dihitung dengan jari. Di Mekkah, entah kenapa, tiba-tiba saja al-Hisyam ingin bertemu dengan salah seorang sahabat Rasulullah. Tetapi, terlambat. Sahabat terakhir yang ada di kota suci itu pun sudah wafat. Karenanya, para pengawal al-Hisyam tidak bisa mendatangkan sahabat kepada sang gubernur. Akhirnya sebagai gantinya, para pengawalpun mendatangkan salah seorang tabiin, generasi setelah sahabat, yang masih hidup untuk dipertemukan dengan Hisyam.
Tabiin yang terpilih itu adalah Thawus Al-Yamani. Ia yang kemudian mewakili para tabiin yang lainnya. Maka, Thawus pun segera menghadap Gubernur Hisyam. Di wajahnya tidak tersirat beban apapun.
Ketika hampir masuk, Thawus menanggalkan alas kakinya persis halnya ketika akan menginjak permadani merah yang membentang mewah di hadapan Hisyam. Hisyam, ketika itu sedikit mendongak keras. Emosinya mendadak mendidih. Tapi ia masih bisa menahan diri.
“Assalamuallaikum,” ucap Thawus kepada Hisyam–tanpa didahului dengan ucapan ta’zhim terlebih dahulu. Dan yang cukup membuat Hisyam lebih tersentak lagi adalah ketika Thawus masuk dan duduk persis di samping tempat duduk Hisyam. Muka Hisyam merah. Apalagi ketika Thawus bertanya, “bagaimana keadaanmu wahai Hisyam?”
Mendapat perlakuan seperti itu, Hisyam tentu saja tersinggung. Ia marah besar. Hampir-hampir ia segera memberikan hukuman. Atau membunuhnya sekalian. Orang macam apa dia, bertemu dengan seorang gubernur tidak mempunyai kesantunan sama sekali?
Thawus bukannya tidak menyadari hal itu. Namun, ia berusaha untuk tersenyum kepada Hisyam seraya berkata, “Wahai Hisyam, engkau berada di wilayah tanah suci Allah dan tanah suci RasulNya. Karenanya, demi tempat yang mulia ini engkau tidak diperkenankan melakukan niat buruk seperti itu.”
Hisyam terperanjat. Ia tidak menyangka sama sekali bahwa orang di hadapannya mengetahui apa yang ada dalam hatinya. Tapi tak urung ia berujar juga, masih dalam keadaan marah, “Lalu, engkau sendiri, apa maksudmu berulah seperti ini?”
Thawus malah balik bertanya, “Apa yang telah aku lakukan?”
Hisyam menarik nafas sambil terus memandangi muka Thawus dengan penuh ketersinggungan. “Engkau tanggalkan alas kaki persis di hadapan karpet merahku. Engkau masuk tanpa salam ta’zhim terlebih dahulu kepadaku dan tidak mencium tanganku. Engkau memanggilku hanya dengan nama kecilku tanpa gelar kehormatanku. Dan engkau duduk di sampingku tanpa terlebih dahulu permisi. Bukankah semua itu merupakan penghinaan kepadaku?”
Thawus kembali tersenyum. Ia balik memandang Hisyam dengan tajam. Hisyam merasa risih entah kenapa. Sejurus kemudian, Thawus bersuara kembali, “Wahai Hisyam! Inginkah engkau mengetahui kenapa aku melakukan semua ini?”
Tanpa menunggu jawaban Hisyam, Thawus terus berkata, “Kutanggalkan alas kakiku karena aku juga menanggalkan alas kakiku lima kali sehari saat aku menghadap Tuhanku, Azza waJalla. Dia tidak marah, apalagi murka lantaran perbuatanku itu.
“Wahai Hisyam! Aku tidak mencium tanganmu lantaran aku mendengar Ali bin Abi Thalib berkata bahwa seseorang tidak boleh mencium tangan orang lain kecuali tangan istrinya karena syahwat, atau tangan anaknya karena kasih sayang. Hai Hisyam! Aku tidak mengucapkan salam ta’zhim dan menyebutmu dengan kata-kata Amirul Mukminin karena tidak semua orang rela atas kepemimpinanmu. Karenanya aku enggan berbohong.”
“Hai Hisyam! Aku tidak memanggilmu dengan sebutan gelar kebesaran lantaran Allah memanggil para kekasihNya di dalam Al-Quran dengan sebutan nama semata-mata, seperti ‘Ya Daud, Ya Yahya, Ya Isa.’ Sedangkan Ia memanggil musuh-musuhNya dengan sebutan ‘kuniyah,’ seperti Abu Lahab.
“Wahai Hisyam! Aku duduk di sampingmu lantaran kudengar Ali berkata, ‘apabila engkau ingin melihat calon penghuni neraka, lihatlah orang yang duduk sementara orang sekitarnya tegak berdiri.’
Mendengar jawaban-jawaban ini, Hisyam yang pada awalnya sangat marah, lunglai dengan tiba-tiba. Kata-kata Thawus begitu tajam menohok dirinya. Tapi di sisi lain, ia meyakini kebenaran apa yang dikatakan oleh Thawus.
Walau dengan malu yang luar biasa, Hisyam kemudian tiba-tiba kini bersimpati kepada Thawus. Kemudian ia malah minta nasihat kepadanya.
Memenuhi permintaan itu, Thawus pun berkata, “Kudengar Ali berkata dalam salah satu nasihatnya, bahwa sungguh dalam api neraka ada ular-ular yang berbisa dan kalajengking raksasa yang menyengat setiap pemimpin yang tidak adil terhadap rakyatnya.”
Mendengar itu, Hisyam pun menggigil. Ia takut kalau-kalau selama ini ia tidak berlaku adil kepada rakyatnya. Ia tiba-tiba ingin belajar kepada Thawus untuk belajar bersikap adil. Seperti tadi Thawus datang kepadanya. Seorang tabiin yang mencoba bersikap adil kepada pemimpinnya.