0878 8077 4762 [email protected]

Ini Penjelasan Ustadz Adnin Armas Sebelum Ditetapkan Jadi Tersangka

Badan Reserse dan Kriminal (Bareskrim) Polri telah menetapkan dua orang tersangka dalam kasus dugaan tindak pidana pencucian uang (TPPU) yang tanpa sengaja menyeret nama Ustadz Bachtiar Nasir. Islahudin Akbar sebagai pegawai bank disangkakan melanggar pasal UU Perbankan. Sementara Ketua Yayasan, Ustadz Adnin Armas diduga melanggar pasal UU Yayasan.
Berikut ini hasil wawancara Republika.co.id dengan Ustadz Adnin Armas, sebelum dia ditetapkan menjadi tersangka, Selasa (21/2):
Terkait kasus dugaan pengalihan kekayaan yayasan dan tindak pidana pencucian uang (TPPU) bagaimana bisa diduga terlibat dan melanggar pasal UU Yayasan tersebut? Tanggapannya?
Pasal beredar banyaknya tentang pencucian uang. Itu pasal yang cukup berat yang ditunjukkan kepada yayasan dan Gerakan Nasional Pengawal Fatwa (GNPF), karena pidananya 20 tahun dan denda Rp 10 miliar, dan itu pun sebenarnya harus dibuktikan lebih dulu. Para pakar juga berbicara kan harus ada tindak pidana asal. Nah tindak pidana asalkan seperti apakah itu uang narkoba, hasil tindak pidana perdagangan orang (TPPO), penjualan senjata gelap, korupsi atau perbuatan melawan hukum lainnya.
Sementara kan semua tahu kalau itukan sumbangan. Infak, jadi ibaratnya kan menyamakan infak misalnya dengan uang narkoba, itu kan adalah sesuatu yang jahat ya.
Infak ini kan orang mengeluarkan uang untuk akhirat, untuk kebaikan, sementara narkoba ini uang untuk neraka. Jadi dari situ saja sudah sangat bertentangan ya, orang mau berbuat baik justru uang itu yang dipersangkaan, jadi inikah sangat luar biasa. Sama saja (seperti) orang mau infak ke masjid atau sebagainya kok bisa (dipersangkakan) seperti itu.
Apalagi dari rekening yang masuk dari yang menyumbang itu sekitar 5.000 lebih. Kalau 5.000 lebih total dana itu sekitar enam miliar, kalau di rata-ratakan Rp 120 ribu rupiah, tentu kalau yang nyumbang ada yang jutaan ada yang di bawah Rp 100 ribu. Mungkin yang terbesar Rp 100 juta itupun bukan perorangan, tapi kelompok.
Jadi ini terlalu berlebihan dan bagaimanapun ada para ustadz dikenakan dengan pasal TPPU itukan sesuatu yang tidak tepat. Karena tindak pidananya kasar, menyamakan uang infak dengan uang hasil kejahatan itu sama saja menyamakan ustadz seperti pelaku koruptor atau TPPO atau narkoba.
Kemudian dengan hukuman 20 tahun penjara dan penggantian uang Rp 10 miliar, uang yang diterima kemarin saja hanya enam miliar, tiga miliar pun kurang lebih belum terpakai. Tiga miliar untuk aktivitas 411, 212, untuk bantuan sosial yang lain. Nah kok bisa sih polisi gegabah meletakkan pasal TPPU kepada para ustadz, para aktivis GNPF. Menurut saya ini gegabah dan berlebihan.
Menurut polisi, pidana terkena berdasar UU Yayasan, apakah ada aliran dana dari rekening yang diperuntukkan bagi umat justru masuk ke pribadi?
Perlu dijelaskan, kami di yayasan meminjamkan rekening ke GNPF, jadi itu uang GNPF bukan uang yayasan. Karena kami sudah pinjamkan jadi yang mengelola sepenuhnya adalah GNPF, dan tidak ada uang GNPF ibaratnya masuk rekening pembina, pengurus, atau pengawas karena itu uang GNPF. Lagian itukan mudah untuk membuktikan, tanyakan ke GNPF apakah ada dana yang masuk ke rekening kami? tidak ada.
Ini mudahlah dan bisa ditanya ke mereka atau bisa dilihat melalui transfer, bisa dilihat ke rekening kami, tidak ada. Itu uang umat yang diterima GNPF bukan uang yayasan karena kami sudah meminjamkan pada mereka.
Mengapa meminjamkan rekening tersebut?
Karena ini iktikad baik kami, karena waktu itu umat mau berinfak, kalau ke rekening pribadi jauh lebih berat. Jadi yang bisa kami lakukan untuk umat Islam adalah untuk membantu dalam aksi bela Islam 411 dan 212 sehingga umat Islam rekening itu digunakan.
Nah kami tidak campur tangan, bagaimana uang itu dikelola, bagaimana menentukan, tidak. Pengurus GNPF bukan pengurus yayasan, pengurus yayasan bukan pengurus GNPF. Jadi tidak ada kepentingan di situ. Kalau kami pengurus GNPF mungkin kami bisa mengelola ini dana ke sanalah, misalnya, ini kami sama sekali tidak tahu uang yang diterima nanti ada laporan di belakang, tapi faktanya adalah sepenuhnya itu uang yang dikelola GNPF dan tidak ada yang masuk ke rekening kami.
Rekening memang kami pinjamkan, tapi sekalipun saya dan pengurus lain di yayasan tidak pernah menarik uang GNPF itu. Salah kalau saya melakukan itu.
Bagaimana dengan surat kuasa itu?
Jadi kami buat surat kuasa saja untuk GNPF agar proses pencairan bisa dimudahkan, tapi enggak ada itu untuk memperkaya pembina, pengurus, ditanyakan ke GNPF atau buktikan di pengadilan atau dibuktikan dari rekening kami, itu tidak ada. Tidak ada memperkaya diri, itu uang GNPF.
Saldo punya yayasan ada berapa sebelum dipinjamkan?
Ada Rp 2,5 juta, gampang tinggal dikembalikan. Enggak Masalahkan.
Yayasan Keadilan untuk Semua kapan dibentuk?
Tahun 2014, waktu itu ada kasus Rohingya kami bergerak, di Tolikara juga kami bergerak, ya untuk umat kami melakukan itu. Nah, kemudian 411 dan 212 juga itu yang bisa kami lakukan.
Misalnya kan semua orang ingin berpartisipasi, nah yayasan kami ini sudah melakukan hal yang positif pada muslim Rohingya di Myanmar dan masjid Tolikara yang dibakar di Papua.
Nah ini yang bisa kami lalukan untuk umat, kalau tidak waktu itu bisa dibayangkan bagaimana kondisi akomodasi, transpotasi, konsumsi dengan jutaan orang yang hadir 411 dan 212, itukan riweh, nah inilah sumbangsi kita, itikad baik kita.
Jadi kami tegaskan. Ini bukan uang kami, intinya, kami hanya menyediakan fasilitas, nah bagaimana digunakan uang itu pihak GNPF yang menggunakan karena kita percaya untuk dikelola dan disalurkan menjadi sebuah sesuatu yang berhasil. Kita lihat berhasil kan, kalau kita lihat dana ada enam miliar rupiah, tiga miliar dikeluarkan dan masih ada sisanya tiga miliar lagi.
Dibandingkan dengan Temen Ahok, untuk satu Ahok Rp 30 miliar, ini kita tiga miliar untuk jutaan umat dan umat pun memberi pada GNPF, enggak protes. Kemudian enggak dihabiskan? Ya mubadzir kan udah cukup. Jadi biarkan sepenuhnya GNPF. Nah kalau kami? Kami hanya meminjamkan, tidak ada balik ke rekening kami sebagai pembina enggak ada, tapi ko bisa kami dikena.
Kalau mau kita bedah, tiga miliar itu untuk jutaan orang, sedangkan (Ahok) Rp 30 miliar untuk dia (Ahok). Jadi kalau dibandingkan Teman Ahok, yayasan yang kemarin itu ada Rp 4,7 triliun di gereja pengurus sudah gaduh, tapi kami engga ada yang begaduh. Kalau ini tindak pidana harus ada pihak yang dirugikan ini tidak ada pengurus yg dirugikan, engga ada yang lapor polisi karena tidak ada yang merasa dirugikan.
Jadi dibilang TPPU, ini uang umat, dibilang pengayaan kami enggak dapat, kan memang karena bukan uang kami. Saya tidak pernah melakukan penarikan karena bukan uang saya, karena bukan hak saya. Saya memang menandatangani agar uang itu cair tapi saya tidak pernah ambil atau menerima.
Saya memang tandatangan (surat kuasa) karena kalau saya tidak tandatangan uang itu jadi uang yayasan, malah umat bisa protes. Karena kan bukan untuk yayasan jadi ini uang GNPF jadi saya tanda tantangan buat uang itu bisa cair dan yang menggunakan GNPF. Jadi saya lihat kenapa TPPU itu pasal berat ya, pasal jahat.
Sejak kapan rekening dipinjamkan?
Sebelum aksi 411, untuk aksi bela Islam 411, 212.
Adnin Armas, M.A., pria kelahiran Medan tahun 1972 ini menjabat sebagai Ketua Study of Islamic Thought and Civilization (INSISTS) Bina Tamaddun Islam, merangkap sekretaris MIUMI pusat dan Pemimpin Redaksi Majalah Gontor.
Beliau menyelesaikan pendidikan menengahnya di Pondok Pesantren Modern Darussalam Gontor Ponorogo tahun 1992 dan melanjutkan kuliah S-1 ke Universitas Islam Antarabangsa Malaysia (UIA), dalam bidang Filsafat. Kemudian Adnin Armas melanjutkan pendidikan S-2 di International Institute of Islamic Thought and Civilization (ISTAC) bidang Pemikiran Islam (Islamic Thought). Di kampus ini Adnin belajar langsung kepada S.M.N al-Attas. Adnin kemudian memperoleh gelar M.A. dari ISTAC dengan tesis berjudul Fakhruddin al-Razi on Time pada tahun 2003.
Ia telah menerbitkan beberapa karya seperti Metodologi Bibel dalam Studi al-Qur’an (Diterbitkan Gema Insani Press tahun 2005). Buku ini telah direkomendasikan sebagai bacaan wajib di University Malaya dan Universitas Kebangsaan Malaysia. Satu buku lagi berjudul Pengaruh Kristen Orientalis terhadap Islam Liberal (diterbitkan Gema Insani Press tahun 2003).

Menjaga Diri dan Keluarga dengan Al Qur'an

Dalam sebuah buku berjudul “Ghirah”, Buya Hamka pernah memberikan pesan masalah yang ada di tengah masyarakat, khususnya krisis moral semata bukan disebabkan oleh faktor dari luar.
Masalah yang ada dalam keluarga misalnya, bukanlah semata dikarenakan adanya penyebab dari luar, namun bisa jadi sebenarnya disebabkan dari dalam diri keluarga tersebut. Sehingga, pesan pentingnya adalah bahwa diri dan keluarga kita tidak lain adalah tanggung jawab dari kita sendiri. Tanggung jawab agar menjadi pribadi dan keluarga yang baik.
“Pada suatu hari di tahun 1957 dalam suatu pertemuan di Banjarmasin yang diprakarsai oleh Kepolisian setempat, saya diminta berceramah. Setelah selesai ceramah, tampillah seorang di antara hadirin menyampaikan suatu pertanyaan,
“Apakah tidak sebaiknya dibentuk semacam Panita Negara untuk mengatasi krisis akhlak yang telah sangat bersimaharajalela sekarang ini?”
Lalu saya jawab bahwa saya setuju dengan ide demikian. Saya lanjutkan persetujuan saya itu dengan usul lebih konkret, yaitu bahwa seluruh warga negara Indonesia menjadi anggota dari Panitia tersebut sekaligus setiap anggota diwajibkan mengurus, tidak usah banyak orang, cukup tiap orang yang mengurus satu orang saja, yaitu dirinya sendiri.” (Prof. Dr. Hamka, Ghirah; Cemburu Karena Allah)
Bagi setiap Muslim, apa yang dia lakukan di dunia apakah berupa perbuatan baik ataupun buruk. Maka, dia pula yang akan mendapatkan balasannya dari Allah ta’ala. Perbuatan seseorang tidak dibebankan kepada orang lain, maksudnya adalah setiap individu bertanggung jawab atas perbuatannya.
Menjaga Keluarga
Dalam urusan keluarga, Allah ta’ala menyampaikan dalam firman-NYA bahwa ada tanggung jawab seseorang kepada keluarganya. Allah ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.”(QS. At-Tahrim: 6)
Dalam tafsir Jalalain dikatakan bahwa menjaga diri dan keluarga adalah dengan beramal mentaati Allah ta’ala (bil ‘amali ‘alaa thaa’atillah).
Lebih rinci lagi, Imam Asy-Syaukani menjelaskan dalam Fathul Qadir, bahwa menjaga diri adalah dengan melakukan apa yang diperintahkan dan meninggalkan apa yang dilarang (bi fi’li maa amarakum bih, wa tarki maa nahaakum ‘anhu).
Imam Asy-Syaukani melanjutkan, bahwa menjaga keluarga adalah dengan menyuruh mereka (keluarga) untuk taat kepada Allah ta’ala dan melarang mereka dari maksiat kepada Allah ta’ala (bi amrihim bi thaa’atillah, wa nahyihim ‘alaa ma’aashiyyahi).
Nabi Muhammad shalallahu’alaihi wa sallamajuga menyampaikan tentang wajib dan pentingnya perhatian seseorang kepada keluarganya, khususnya anak-anaknya. Nabi Muhammad shalallahu’alaihi wa sallam bersabda:
“Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah, maka kedua orang tuanyalah yang menjadikan Yahudi, Nashrani atau Majusi.” (HR. Bukhari danMuslim)
Menjaga Bersama Al-Quran
Tidak dipungkiri, bahwa sekarang kita hidup di tengah era globalisasi dan kemajuan teknologi. Dimana tidak hanya dampak positif yang didapat, namun justru banyak sisi negatif yang menjangkiti lingkungan masyarakat kita.
Anak kecil umur balita lebih dekat dengan gadget daripada orangtuanya bahkan. Anak-anak seumuran TK dan SD ketagihan dengan smartphone. Anak-anak remaja dan dewasa justru memiliki masalah yang lebih kompleks lagi.
Paling tidak, satu solusi dan antisipasi dari sekian banyak adalah dengan jadilah pribadi dan keluarga Qurani. Inilah salah satu cara selain pendidikan aqidah, akhlak, dan lainnya di rumah kita.
Keluarga Al-Qur’an
Tidak dipungkiri, bahwa salah satu fakta sekarang, anak-anak, ayah dan bunda lebih berlama-lama berinteraksi dengan gadget daripada Al-Quran. Jangankan menghafalnya, untuk membaca Al-Quran rutin setiap hari mungkin sudah jarang kita temukan di keluarga-keluarga umat Islam saat ini.
Sehingga, tidak ada kata terlambat untuk kita memulainya. Sedari awal, mulai dari sekarang buka mushaf Al-Quran yang lama menjadi “pajangan-pajangan”di rumah.
Mulailah untuk berinteraksi dengan Al-Quran, membaca, menghafalkan, mentadabburi, mengamalkan dan mendakwahkannya.
Didik anak-anak kita membaca Al-Quran dengan benar dan baik. Dan sangatlah memungkinkan untuk menjadikan generasi muda kita, menjadi penghafal (penjaga) Al-Quran. Sehingga ketika meraka meneruskan pendidikan tinggi, mereka mempunyai bekal Al-Quran.
Dan ketika mereka berkarir nanti, mereka adalah seorang dokter yang hafal Al-Quran, seorang profesor yang hafal Al-Quran, seorang pengusaha hafal Al-Quran, seorang pejabat hafal Al-Quran dan lain sebagainya.
Alhamdulillah, in Syaa Allah semakin hari, akan semakin banyak pribadi dan keluarga yang menjadi generasi Qurani.
Oleh : Abu Sulthan, twitter: @lutfisarif

Riya, Sum’ah, Ujub, dan Takabur adalah 4 Sifat Tercela yang Harus Dihindari

Salah satu penyakit hati dalam diri manusia yang dapat menutup jalan hidayah Allah swt adalah 4 sifat tercela tersebut. Penyakit ini bisa melanda seluruh lapisan masyarakat, dari yang kaya sampai yang miskin, orang alim dan bodoh, dan yang muslim maupun non muslim. Diantara tandanya adalah menantang alam, tidak menjalankan aturan Allah swt, dan meremehkan serta menghina sesamanya. Riya, Sum’ah, Ujub dan Takabur adalah sifat-sifat tercela yang hampir memiliki kesamaan, dan sifat-sifat tersebut harus kita jauhi.
1. Riya
Pengertian riya’ menurut Bahasa, berasal dari kata ru’yah, yang artinya menampakkan.
Secara istilah riya’ adalah memperlihatkan suatu amal kebaikan/ibadah kepada sesama manusia agar ingin dipuji orang dan tidak diniatkan untuk Allah swt.
Dalam firman Allah ta’ala,
“Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya, orang-orang yang berbuat riya.” (Q.S. Al Maa’uun ayat 4-6)
2. Sum’ah
Kata sum’ah secara Bahasa, berasal dari kata samma’a, yang artinya memperdengarkan.
Secara istilah Sum’ah adalah sikap seorang muslim memperdengarkan atau membicarakan amal/ibadahnya kepada orang lain yang semula tidak ada yang mengetahuinya atau tersembunyi, guna mendapat pujian, penghargaan atau keuntungan materi.
Dalam hadist Rasulullah saw bersabda, “Siapa yang berlaku Sum’ah maka akan diperlakukan Sum’ah oleh Allah. Dan barangsiapa berlaku riya makan akan dibalas dengan riya.” (H.R. Bukhari)
Maksud hadist : diperlakukan Sum’ah oleh Allah yaitu diumumkan aib-aibnya diakhirat. Sedangkan dibalas dengan riya yaitu diperlihatkan amalnya namun tidak diberi pahalanya. Naudzubillah..
3. Ujub
Ujub adalah mengagumi diri sendiri, yaitu ketika kita merasa bahwa diri kita memiliki kelebihan tertentu yang tidak dimiliki orang lain.
Imam Al Ghozali menuturkan, “Perasaan ujub adalah kecintaan seseorang pada suatu karunia dan merasa memilikinya sendiri, tanpa mengembalikan keutamaannya kepada Allah”.
Memang setiap orang memiliki kelebihan yang tidak dimiliki orang lain. Tetapi siapa yang memberikan kelebihan tersebut?
“Bagi Allah semua kerajaan langit dan bumi dan apa yang ada diantaranya.” (Q.S. Al Maidah ayat 120)
4. Takabur
Takabur berasal dari bahasa Arab takabbara – yatakabbaru, yang artinya sombong atau membanggakan diri sendiri.
Takabur semakna dengan Ta’azum, yaitu menampakkan keagungannya dan kebesarannya dibandingkan dengan orang lain.
Takabur berupa kesombongan merupakan sifat syaitan yang dijelaskan dalam Al Qur’an. Ini merupakan sifat paling berbahaya dan dibenci Allah swt.
“Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang sombong.” (Q.S. An Nahl ayat 23)
“Maka masuklah pintu-pintu neraka jahanam, kamu kekal didalamnya, maka amat buruklah orang-orang yang menyombongkan diri.” (Q.S. An Naml ayat 29)
Dengan segala kerendahan hati kita, mari sama-sama kita lihat jauh kedalam hati kita yang paling dalam. Mari kita hindari atau kita buang jauh-jauh sifat buruk atau sifat tercela ini, agar antar kita terjalin rasa kasih sayang yang tulus.

Keutamaan dan Adab Rasulullah Ketika Menjenguk Orang Sakit

Keutamaan dan Adab Rasulullah Ketika Menjenguk Orang Sakit

Kunjungan kepada orang sakit termasuk salah satu hak seorang muslim dengan muslim lainnya. Hukumnya mustahab. Supaya setiap individu tidak hanya berpikir urusan pribadinya saja, tetapi juga memiliki kepedulian kepada orang lain.
⁠Mengunjungi orang sakit merupakan perbuatan mulia, dan terdapat keutamaan yang agung serta pahala yang sangat besar, dan merupakan salah satu hak setiap muslim terhadap muslim lainnya.
Untuk memotivasi umat supaya gemar melakukan kegiatan sosial ini, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
عَائِدُ الْمَرِيْضِ فِيْ مَخْرَفَةْ الْجَنَّةِ حَتَّى يَرْجْعَ
“Orang yang menjenguk orang sakit akan berada di kebun-kebun surga sampai ia pulang.” [HR Muslim, no. 2568]
Dalam hadist lain Rasulullah saw bersabda
“Apabila seseorang menjenguk saudaranya muslim (yang sedang sakit), maka (seakan-akan) dia berjalan sambil memetik buah-buahan Surga sehingga dia duduk, apabila sudah duduk maka diturunkan kepadanya rahmat dengan deras.
Apabila menjenguknya di pagi hari maka tujuh puluh ribu malaikat mendo’akannya agar mendapat rahmat hingga waktu sore tiba.
Apabila menjenguknya di sore hari, maka tujuh puluh ribu malaikat mendo’akannya agar diberi rahmat hingga waktu pagi tiba.” (HR. at-Tirmidzi, Ibnu Majah dan Imam Ahmad dengan sanad shahih).
Kunjungan kepada orang sakit tidak terbatasi oleh sekat agama. Rasulullah Saw pernah menjenguk pamannya, Abu Thalib yang musyrik.
Saat berkunjung, Rasulullah Saw memotivasi dan menanamkan optimisme pada si sakit. Bahwa penyakit yang diderita bukan sebuah mimpi buruk. Ada rahasia Ilahi di baliknya.
Dengan demikian, si sakit akan merasa lebih tenang, tidak mengeluhkan takdir atau mencaci penyakit yang sedang dideritanya. Beliau Saw pernah menegur orang yang mencaci demam (alhumma) dengan sabdanya:
لَا تَسُبِّي الْحُمَّى
“Janganlah engkau cela demam itu….” [HR. Muslim, 2575]
Beliau Saw menyebut penyakit yang menimpa seorang muslim sebagai thahur (pembersih dosa) atau kaffarah (pelebur dosa).
Ucapan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika mengunjungi orang sakit:
لَا بَأْسَ طَهُورٌ إِنْ شَاءَ اللَّهُ
“Tidak masalah, ia (penyakit ini) menjadi pembersih (dosa) insya Allah.” [HR al-Bukhari, 5656]
Beliau Saw membesarkan hati Ummu ‘Ala, bibi Hizam bin Hakim al-Anshari yang sedang sakit dengan berkata:
“Bergembiralah, wahai Ummu ‘Ala. Sesungguhnya Allah akan menggugurkan dosa-dosa orang yang sakit dengan penyakitnya, sebagaimana api menghilangkan kotoran-kotoran dari biji besi”. [Hadits hasan riwayat Abu Dawud, Shahih at-Targhib, 3438]
Dalam melakukan kunjungan kepada si sakit, Rasulullah Saw duduk berdekatan dengan arah kepala orang yang sakit. Atau meletakkan tangan di kening, wajah dan mengusap-usap dada dan perut si sakit. Beliau Saw menanyakan kondisinya.
Beliau Saw juga pernah menanyakan tentang apa yang diinginkan oleh orang sakit itu. Apabila menginginkan sesuatu yang tidak berbahaya, maka beliau Saw meminta seseorang untuk membawakannya. Dan sembari menempelkan tangan kanannya di tubuh orang yang sakit, beliau Saw melantunkan doa (di antaranya):
أَسْأَلُ اللَّهَ الْعَظِيمَ رَبَّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ أَنْ يَشْفِيَكَ
“Aku memohon kepada Allah Yang Maha Agung, Penguasa Arsy yang agung untuk menyembuhkanmu.” Dibaca tujuh kali. [Lihat Shahih Adabil-Mufrad, 416].
Kapan saja, seseorang dapat membesuk orang sakit. Akan tetapi, seyogyanya, pembesuk memilih waktu-waktu yang cocok untuk berkunjung, supaya tidak menjadi beban dan memberatkan orang yang sedang dikunjungi. Selain itu, kunjungan itu hendaklah singkat saja, kecuali jika dikehendaki oleh si sakit, atau jika memberikan maslahat baginya.
Inilah pemandangan yang begitu indah, ketika kaum mukminin memberi kegembiraan kepada seorang muslim untuk membuatnya tersenyum. Sekaligus sebagai bentuk kepedulian.
 
Disadur dari : majalah As-Sunnah, diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta

Belajar dari Etnis China dan Non Muslim dalam Memilih Pemimpin DKI

Pilkada DKI 2017 mencatat fenomena baru. Bangkitnya partisipasi dan soliditas pemilih dari etnis Cina. Selama ini, etnis Cina dianggap sangat apolitis dan cenderung abai, bahkan menghindar dari urusan politik. Mereka lebih sibuk dan memfokuskan diri pada sektor ekonomi dan perdagangan. Hasilnya kini sangat terasa. Mereka menguasai semua sektor perekonomian, bahkan disebut-sebut segelintir taipan menguasai lebih dari 82 persen perekonomian Indonesia. Buah ketekunan ini sungguh dahsyat.
Di masa lalu, bukan fenomena mengagetkan bila dalam Pilkada atau Pilpres, etnis Cina  memilih berlibur ke luar kota atau ke luar negeri. Tak mengherankan bila tingkat partisipasi mereka sangat rendah. Saat menjelang Pilkada dan Pilpres memang boleh disebut masa “susah” bagi etnis Cina yang dikenal sebagai pedagang yang ulet dan saudagar kaya. Banyak yang jauh hari sudah “menghilang” ke luar kota.
Dalam Pilkada DKI fenomenanya jauh berbeda. Dari data Exit Poll sejumlah lembaga survei dan juga fakta di sejumlah TPS menunjukkan, tingkat partisipasi dan soliditas mereka sungguh luar biasa. Di kantong-kantong pecinan, seperti Pluit, Jelambar, Kelapa Gading dan sejumlah tempat lainnya di Jakarta, mereka berbondong-bondong antre di TPS-TPS. Di TPS Mall of Indonesia (MOI) Kelapa Gading antrean mereka mengular, bahkan sampai pukul 14.00 WIB. Padahal seharusnya TPS pukul 13.00 Wib sudah tutup.
Mereka juga sangat militan memperjuangkan hak suara mereka. Dengan modal KTP mereka bersedia bersitegang, berteriak-teriak bahkan membentak petugas TPS, untuk dapat memilih. Dalam penghitungan suara, mereka juga melakukan sapu bersih. Suara mereka bulat penuh mendukung paslon nomor 2  Basuki-Djarot. Di beberapa TPS bahkan suara mereka 100% untuk paslon nomor 2. Dahsyat. Demikian pula halnya suara pemilih Kristen/Katholik yang lebih dari 95% lari ke Ahok-Djarot.
Ketua Umum Pemuda Muhammadiyah, Dahnil Anzar Simanjuntak, bahkan tak segan mengumbar kekaguman dan apresiasinya. Dahnil menilai Pilkada DKI 2017 sebagai potensi kebangkitan politik mereka. Dahnil tidak melihat itu sebagai sebuah bentuk politik aliran karena mereka solid memilih calon yang seetnis dan seagama.
Fenomena sebaliknya terjadi dengan pemilih muslim. Banyak kalangan muslim yang mengaku dirinya muslim, bahkan mengecam ketika ada yang menyerukan agar memilih sesama pemimpin muslim. Padahal landasannya sangat jelas, yakni kitab suci yang menjadi landasan keimanan umat Islam.
Dalam Quran Surat Al-Maa-idah : 51.
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa diantara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak  memberi petunjuk kepada orang-orang yang dzalim.”
 
Perlu dicatat, yang diserukan selama ini adalah memilih pemimpin sesama Muslim, bukan sesama Etnis.  Jadi walaupun dia china atau negro jika dia Muslim maka perlu didukung dalam ajaran Islam, sebab satu iman yaitu menyembah Allah swt.
Dalam demokrasi modern, memilih berdasarkan etnis, agama dan kedekatan-kedekatan lain, adalah soal biasa. Di Amerika selama ratusan tahun bahkan dikenal sebuah istilah White, Anglo Saxon, and Protestant (WASP). Muncul semacam kesepakatan bahwa yang boleh dan bisa menjadi Presiden Amerika Serikat haruslah seorang kulit putih, dari negara Anglo Saxon ( British) dan beragama Protestan.
 
Jadi seharusnya sangat wajar sebagai mayoritas secara populasi, pemilih Islam juga menghendaki dan memilih pemimpin Islam.
Begitu pula sangat wajar bila etnis Cina maupun non-muslim menghendaki dan menginginkan pemimpin yang berasal dari kelompok dan sesama mereka. Mereka boleh saja bercita-cita menjadi gubernur bahkan presiden Indonesia.
Tidak perlu ada label rasis, sektarian, anti-pluralisme dan yang paling serem adalah anti-kebhinekaan, anti-NKRI.
Dalam sejarah dunia, kekuasaan yang dipegang oleh pemimpin muslim, terbukti  sangat mengayomi para pemeluk agama lain dalam kehidupan politik, keagamaan dan sosialnya. Sangat banyak contoh soal ini.
Mulai ketika Nabi Muhammad memimpin pemerintahan di Madinah, dinasti Abbasiyah di Andalusia, Ustmaniah saat menguasai beberapa negara Eropa dan tentu saja jangan lupa apa yang terjadi dalam sepanjang sejarah Republik Indonesia.
Walupun bukan negara Islam, tapi pemimpin dan mayoritas penduduk Indonesia adalah Islam. Kehidupan beragama di Indonesia sering disebut sebagai sebuah contoh bagi dunia.
Cerita sebaliknya justru terjadi di negara-negara dimana Muslim menjadi minoritas. Contoh paling aktual adalah apa yang terjadi dengan komunitas Rohingya di Myanmar. Mereka diperlakukan layaknya bukan manusia, hanya karena alasan etnis dan agama yang berbeda dengan mayoritas warga dan penguasa Myanmar
Jadi bagi anda yang Islam, Kristen, Katholik, Hindu, Budha, Konghuchu, atau etnis Cina, Jawa, Sunda maupun Papua, silakan anda memilih berdasarkan kesamaan agama atau etnis. Tak perlu khawatir dicap dungu, bodoh, tak beradab, apalagi bertentangan dengan konstitusi dan demokrasi.
Hanya orang kurang pemahaman, apalagi kalau dia juga seorang muslim yang kurang iman, yang menilai bahwa memilih sesama muslim sebagai pemimpin sebagai tindakan dungu, bodoh dan terbelakang.
 
Disadur dari Republika
Oleh: Hersubeno Arief (Konsultan Media dan Politik)