0878 8077 4762 [email protected]

Nasihat Imam Syafi'i

Asy Syafi’i menasihatkan, “Belumlah menjadi saudaramu dia yang masih membuatmu harus berpura-pura. Siapa yang jika kau senangkan, memujimu dengan yang tak kau miliki. Kala marahnya, juga akan menjelekkanmu mengada-ngada.”
“Siapa mendengar hanya dengan telinga kan menjadi tukang cerita. Namun bila menyimak dengan hati kan menjadi fakih yang ahli.”
Lanjut Asy-Syafi’i, “Menasihati dengan kata-kata, bak muazin yang merdu suaranya. Menasihati dengan teladan mulia, kan jadi imam dalam segala.”
“Kuburu akhlak tuk diteladani dari tiap insan yang kutemui, bagai seorang ibu mencari anak semata wayangnya hilang.”
“Mimpi terburuk adalah bertemu amal jelek kita, dalam tidur yang disebut kubur. Lalu saat bangun terhalangi dari rahmat-Nya.”
 
Sumber :
Menyimak Kicau Merajut Makna, Salim A. Fillah, ProU Media

Kegiatan Sang Nabi

Nabi Muhammad saw mengerjakan sendiri apa yang beliau bisa di urusan rumah tangga : menambal baju sobek, menjahit sandal rusak, dan seterusnya. Nabi sangat suka bersiwak bersih gigi ketika akan shalat, hendak baca Qur’an, menemui tamu, sahabat dan istrinya.
Sang Nabi suka olahraga lari. Kadang bersama istri. Kadang dengan anak-anak kecil, beliau lombakan siapa duluan yang menangkap dirinya.
Nabi tidak pernah mencela makanan, apakah ini enak atau tidak enak. Jika menyukainya beliau memakannya penuh syukur, jika tidak suka beliau cukup diam tanpa komentar.
Sang Nabi tak suka di istimewakan. Jika dalam perjalanan, beliau selalu ingin berbagi peran dan mencari peluang kontribusi seperti menyiapkan api.
Kata Anas, “Tak pernah kulihat Nabi marah atau membalas perilaku buruk atas pribadi beliau. Beliau hanya marah jika Allah dihinakan.”
Tidur sang Nabi tak pernah tengkurap. Jika miring berbantal telapak dan kakinya disilang. Jika terlentang kaki kanan diletakkan diatas kiri.
 
Sumber :
Menyimak Kicau Merajut Makna, Salim A. Fillah, ProU Media

Sekeping Hati

Oleh : Ust Umar Nadi
قال ابن رجب في فتح الباري :١ /٢٧ – فإذا وجد القب حلاوة الإيمان أحس بمراة الكفر والفسوق والعصيان ولهاذا قال يوسف عليه السلام : رب السجن أحب إلي مما يدعونني إليه
Ibnu Rajab dalam kitab Fathul Baari berkata : “Maka apabila sekeping hati telah mendapatkan manisnya iman, maka ia akan sensitif merasakan pahitnya kekufuran, kefasikan dan kemaksiatan”.
Karena itulah Nabi Yusuf pernah berkata : “Yaa Robb, Penjara lebih aku sukai daripada apa yang mereka serukan kepadaku.” (Q.S.Yusuf 12 : 33)

Muhammad saw adalah Rahmat

Berkata Ibnu Abbas, “Nabi Muhammad saw adalah rahmat bagi setiap manusia, maka siapa membenarkannya kan bahagia. Al Qurthuby menambahkan, “Bahkan yang tak beriman tetap selamat dari pembenaman yang terjadi daripada umat sebelumnya.”
Suatu sang Nabi meminta memohonkan ampun kepada orang munafik. Allah swt berfirman, “Orang munafik itu, kau mintakan ampun atau tidak sama saja. Kau mintakan ampun 70 kalipun Allah takkan mengampuni mereka.” Kemudian sang Nabi memohonkan ampun lebih dari 70 kali.
Sebab jika 70 kali belum diampuni, maka jika lebih dari 70 kali semoga Allah ampuni. Maka langitpun takjub pada kemuliaannya dan Allah mengirimkan pujian. Sesungguhnya engkau Muhammad benar-benar diatas akhlak yang agung.
 
Sumber :
Menyimak Kicau Merajut Makna, Salim A. Fillah, ProU Media

Isa 'alayhis-salam

Seorang keji mendatangi Isa ‘alayhis-salam. Dibawanya setimpuk kotoran menjijikkan, lalu dia ruahkan ke wajah dan tubuh Al Masih. Selanjutnya dari mulutnya keluar serapah laknat yang kotor dan lucah, menghinakan Nabi Isa dengan tuduhan jahat dan palsu. Maka tersenyumlah Isa menyimak hingga dia selesai berbicara. Kemudian diulurkan sebotol minyak wangi kepada orang itu, dan diterimanya.
Dijenak berikutnya, Isa bicara pada si keji dengan ucapan yang sangat indah dan mulia, selain itu Isa mendoakan dengan tulus dan rendah hati. Ketika lelaki itu pergi dengan tertawa-tawa bertanyalah para Hawari, murid-murid Isa, “Apa maksud semua ini Guru? Dia melumuri kotoran busuk menjijikkan, namun kau beri minyak wangi. Dia kasar mencaci maki tapi kau santun dan lembut bicara?
Isa menjawab, ” Lelaki itu memberiku kotoran busuk dan ucapan keji. Sayang aku tak punya yang serupa dengan itu untuk membalasnya.” 
“Ingatlah bahwa sesungguhnya setiap orang hanya bisa memberi apa yang dipunyai.” lanjut Isa.
Demikian sari dari sebuah atsar yang diurai Tarif Khalidi dalam sebuah buku Yesus seorang Muslim “The Muslim Jesus“. Semoga bisa ambil ibrah keburukan dibalas kebaikan ya Shalihin Shalihat.
 
Sumber :
Menyimak Kicau Merajut Makna, Salim A. Fillah, ProU Media.