by Danu Wijaya danuw | Jul 20, 2018 | Artikel, Berita, Nasional
Jawa Barat – Usaha memang tak pernah mengingkari hasil. Hal ini terbukti dari kesuksesan Karsim, seorang tukang becak yang bisa naik haji. Pria yang berasal dari kampung Sidamulya, Desa Ciasem, Kecamatan Ciasem, Subang, Jawa Barat ini akhirnya berangkat ke Makkah, usai menabung selama 15 tahun.
Karsim, mengatakan, setiap hari selama belasan tahun dia mengumpulkan uang sedikit demi sedikit. Naik haji memang sudah menjadi cita-cita Karsim dan sang istri, Ratimi. Mereka berdua berangkat haji lewat embarkasi Bekasi.
“Setiap hari saya sebisa mungkin harus bisa menabung, agar cita – cita saya dan isteri terlaksana. Saya menabung perhari antara 25 hingga 50 ribu rupiah,” katanya kepada media.
Penghasilan yang tak menentu membuat Karsim dan Ratimi sempat khawatir. Mereka takut kalau-kalau tabungannya tak memenuhi biaya hidup ketika ingin memenuhi Rukun Islam kelima ini.
Meskipun begitu, Karsim tak pernah takut untuk menyisihkan uang hasilnya mengayuh becak. Meskipun kadang dapat sedikit, dia tetap menyisihkannya untuk ditabung.
Bahkan, ketika dia membawa uang yang lebih banyak dari biasanya usai bekerja, dia langsung menyisihkan 75 persen dari penghasilannya hari itu. Padahal, angka tersebut boleh dibilang cukup besar.
Tak banyak orang yang menabungkan uangnya 75 persen dari penghasilan. Namun, demi cita-cita mereka, Karsim rela menabung sedikit lebih banyak.
“Ya begitu, kalau dapat uang lebih besar 75 persennya saya masukan ke tabungan,” ujar Karsim.
Karsim mengaku, ketika hari keberangkatannya sudah dekat waktu itu, dia merasa tak sabar ingin cepat-cepat berangkat ke Tanah Suci.
Saking tak sabarnya, semua kebutuhan mereka saat berada di Tanah Suci sudah mereka siapkan sejak 2 minggu sebelum keberangkatan.
Dia juga tak meminta banyak dari para tetangga dan orang-orang di sekitarnya. Saat itu, dia hanya ingin didoakan menjadi haji yang mabrur. “Saya nanti berangkat tergabung di kloter 49. Doakan saja agar menjadi haji mabrur,” tandasnya.
Sumber : Liputan6
by Danu Wijaya danuw | Jul 19, 2018 | Artikel, Berita, Nasional
K.H. Syaifuddin Amsir, salah satu ulama Betawi, dikabarkan meninggal dunia. Kyai Syaifuddin meninggal dalam usia 63 tahun, meninggalkan seorang istri dan empat orang putri.
“Telah berpulang ke rahmatullah malam ini jam satu (01.00 WIB), Abuya KH. Saifuddin Amsir. Semoga Allah Taala ampuni dosa-dosanya dan Allah terima ibadahnya, Allah berikan rahmat dan ridha-Nya. Allah berikan husnul khatimah,” demikian bunyi pesan yang diterima Suara Islam Online, Kamis dini hari 19 Juli 2018.
Diketahui, Kyai Syaifuddin sejak beberapa waktu lalu menjalani perawatan di sebuah rumah sakit di Pulo Mas, Jakarta Timur.
Kyai Syaifuddin adalah ahli fiqh Betawi yang pernah menjabat sebagai Rais Syuriah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) sampai dengan tahun 2015.
Atas keteguhan dan keistiqomahan beliau di bidang fikih, ia pernah mendapatkan penghargaan “Fikih Award”
Bersama tokoh lainnya, seperti KH Abdul Aziz Arbi dan KH Ali Musthofa Ya’kub dalam bidang ilmu Al Qur’an dan Hadist oleh penerbit buku Islam di Jakarta, Pena Ilmu dan Amal.
Sejatinya, Kyai Saifuddin Amsir bukanlah putra seorang ulama, dan tidak dibesarkan di lingkungan pesantren. Ia, yang lahir di Jakarta pada tanggal 31 Januari 1955, tumbuh dan besar di sebuah keluarga yang sangat sederhana.
Ayahnya, Bapak Amsir Naiman, adalah seorang guru mengaji di kampung tempat tinggalnya, Kebon Manggis, Matraman. Sedangkan ibunya, Ibu Nur’ain, juga seorang ibu rumah tangga.

Momen saat Anies Baswedan menjenguk Kiyai Saifuddin Amsir
Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan menyampaikan bela sungkawa atas wafatnya seorang ulama karismatik Betawi, KH Saifuddin Amsir. Almarhum menghembuskan napas terakhirnya di Rumah Sakit Omni, Rawamangun, pada Kamis (19/7), pukul 01.20 WIB.
Melalui akun instagramnya, Anies mendoakan agar amal perbuatan kiai yang akrab disapa Abuya itu diterima oleh Allah.
“Innalillahi wa inna ilaihi roojiun. Turut berduka cita atas berpulangnya ahli fikih dari betawi, Buya KH. Saifuddin Amsir, pagi ini pukul 01.20 WIB di RS Omni Pulomas, Jakarta Timur. Semoga amal ibadahnya diterima Allah SWT,” tulisnya melalui akun @aniesbaswedan, Kamis (19/7).
Saat ini jenazah KH Saifuddin Amsir disemayamkan di rumah duka, Kawasan Kalimalang, Jakarta Timur.
Jenazah akan dikebumikan di sekitaran Ma’had Zawiyyah dekat rumah duka, yang dibinanya selama ini.
by Danu Wijaya danuw | Jul 18, 2018 | Artikel, Dakwah
“Aku ingin bertemu Kiai Salam,” kata pendiri Nahdlatul Ulama (NU), Kiai Hasyim Asy’ari.
Dengan penuh takdzim, Kiai Nawawi pun mengantarkan ke salah seorang Kiai kampung, sesuai yang diinginkan hadratussyaikh.
Kiai Salam yang bernama lengkap Abdussalam adalah Ayahanda dari Kiai Abdullah Salam dan kakek dari Kiai Sahal Mahfudh.
Sesampai di kediaman Kiai Salam, didapati tuan rumah sedang mengajar anak-anak kecil mengaji.
Kiai Hasyim serta-merta menahan langkah, menyembunyikan diri dari pandangan Kiai Salam, dan menunggu.
Setelah anak-anak kecil itu menyelesaikan ngajinya, barulah Kiai Hasyim mengucap salam, yang lantas disambut dengan suka-cita luar biasa.
Meninggalkan kediaman Kiai Salam, Kiai Hasyim kelihatan ngungun, sedih dan nelangsa. Air matanya mengambang.
“Ada apa, Kiai?” Kiai Nawawi keheranan.
Kiai Hasyim mengendalikan tangisnya, menghela napas dalam-dalam.
“Aku punya cita-cita sudah sejak sangat lama tapi sampai sekarang belum mampu melaksanakan. Kiai Salam malah sudah istiqomah, Aku iri …” kata Rais Akbar NU tersebut.
“Cita-cita apa, Kiai?” tanyanya kembali
“Ta’limush shibyaan (mengajar ngaji anak-anak kecil).” jawab ulama sederhana itu
Jadi teringat pengalaman saat sowan ke Kiai Djamal beberapa tahun berselang.
“Sekarang kegiatan sampean apa?”, tanya KH M Djamaluddin Ahmad kepada Alumni Pesantren Tambakberas saat sowan.
“Bisnis kiai, buka konter hape,” ungkap sang santri dengan menunduk.
“Rumiyin kulo mulang TPQ, tapi naliko sampun buka konter, kulo prei mboten mulang dateng TPQ maleh,” lanjutnya.
Kiai Djamal, diam sejenak, dengan agak berat, pengampu pengajian Kitab Hikam ini mengingatkan bahwa mengajar di TPQ adalah khidmat terbaik dalam hidup.
“Kamu mengajarkan anak TPQ bacaan Basmalah dan Al Fatihah, maka pahala yang kamu terima akan terus mengalir,” katanya.
“Ketika santri TPQ yang kamu didik membaca Basmalah saat hendak makan, belajar dan kegiatan apapun, maka kamu juga akan memperoleh pahalanya”, lanjutnya.
Belum lagi saat santri TPQ itu bisa membaca Al-Faatihah dari shalat yang dikerjakan. “Berapa pahala yang kamu terima dari mengajarkan surat Al Faatihah tersebut?”, kata salah seorang Majelis Pengasuh PP Bahrul ‘Ulum Tambakberas Jombang ini.
“Hidup itu jangan hanya memburu gengsi, apalagi kalian adalah santri Tambakberas”, katanya.
Menjadi ustadz dan ustadzah TPQ mungkin dianggap sebagai “profesi” yang tidak menjanjikan, bahkan kalah mentereng dengan jabatan lain yang bergelimang uang maupun prestise.
Tapi sekelas Mbah Hasyim saja demikian iri kepada para guru TPQ.
Beliau sesengukan berlinang air mata lantaran belum mampu se-istiqomah Kiai Salam dan tentu saja para ustadzah-ustadzah TPQ
by Danu Wijaya danuw | Jul 18, 2018 | Artikel, Berita, Nasional
Jakarta – Jenazah Haerudin, petugas pemadam kebakaran yang gugur dalam tugas dishalatkan di Masjid Darul Mafiroh di Cilincing, Jakarta Utara. Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan menjadi imam shalat jenazah.
Jenazah dibawa ke Masjid Darul Mafiroh sekitar pukul 11.00 WIB. Masjid tersebut lokasinya tak jauh dari rumah duka di Asrama Pemadam Kebakaran RT 04/17, Semper Barat, Cilincing, Jakut.
Anies memimpin shalat jenazah berjamaah. Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Uno yang ikut melayat bersama Anies, shalat di shaf paling depan.
Shalat jenazah tampak diikuti sejumlah rekan kerja Haerudin dan para pelayat lain. Shalat jenazah berjalan singkat dan dilanjutkan dengan doa bersama.
Kasudin Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan (PKP) Jakut, Satriadi Gunawan, mengatakan rencananya jenazah Haerudin dimakamkan di Jonggol, Bogor. Jenazah almarhum akan diantar sebelum zuhur ini.
Haerudin tewas saat tengah bertugas memadamkan kebakaran di gudang material di Sunter Agung, Tanjung Priok pada pukul 04.20 WIB pagi tadi. Haerudin meninggal saat perjalanan ke rumah sakit.
Sumber : Detik
by Danu Wijaya danuw | Jul 15, 2018 | Artikel, Berita, Internasional
Striker timnas Perancis dan mantan pemain Manchester United, Paul Pogba, dikenal sebagai salah satu pesepakbola muslim yang taat.
Bahkan tak segan-segan pemain termahal dunia itu menunjukkaan sisi keislamannya kepada publik.
Kemarin saat Ramadhan, Pogba sempat menjalani umroh di Mekkah. Hari pertama Ramadhan bahkan dilaluinya di kota suci umat Islam tersebut. Dirinya membagikan kesan sakral didepan Ka’bah.
Selain itu ia dan rekannya di timnas Perancis, Patrice Evra, mengunggah saat keduanya merayakan Hari Raya Idul Adha yang jatuh pada tahun lalu.
Ternyata, peran sang ibu turut memberi andil kepada Pogba, hingga menjadikannya seorang muslim yang patuh terhadap nilai-nilai agama.
Sang ibu yang bernama Yeo Moriba merupakan imigran dari Guinea yang lama menetap di Perancis.
Dialah sosok yang memperkenalkan nilai-nilai Islam kepada Pogba yang kerap menunjukkan kepercayaannya, seperti saat dia berdoa sebelum menjalani pertandingan.
“Yeo selalu berusaha keras untuk membahagiakan ketiga putranya, dia sangat menyayangi ketiga putranya, dan tak peduli apakah orang lain mengetahui hal itu,” ungkap salah seorang yang pernah jadi tetangga Keluarga Pogba.
Sumber : Arah/Detik