by Danu Wijaya danuw | Dec 31, 2015 | Artikel, Dakwah
Oleh : K.H. Rahmat Abdullah
Yang diinginkan dari al amal adalah:
Buah dari ilmu dan ikhlas seperti yang disebutkan dalam Q.S. At Taubah ayat 105 : “Beramallah kalian, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat amal kalian itu dan kalian akan dikembalikan kepada Allah…”
Adapun urutan amal adalah:
- Mengkoreksi dan memperbaiki diri
- Membentuk dan membina keluarga muslim
- Memberi petunjuk dan membimbing masyarakat dengan dakwah
- Membebaskan tanah air dari penguasa asing
- Memperbaiki pemerintahan
- Mengembalikan kepemimpinan dunia kepada umat Islam
- Menjadi soko guru dunia dengan menyebarkan dakwah islamiyah ke seluruh penjuru dunia
(Hasan Al Bana)
Banyak orang merasa telah beramal namun tak ada buah apapun yang dapat dipetik dari amalnya, baik itu perubahan sifat, kelembutan hati ataupun kearifan budi dan keterampilan beramal. Bahkan tak sedikit diantara mereka beramal jahat tetapi mengira beramal baik. Karenanya Al Qur’an selalu mengaitkan amal dengan keshalihan, jadilah amal shalih.
Kata shalih tidak sekedar bermakna baik, tetapi adalah suatu pengertian tentang harmoni dan tanasukhnya (keserasian) suatu amal dengan sasaran, tuntunan, tuntutan, dan daya dukung. Amal disebut shalih bila pelakunya selalu mengisi ruang dan waktu yang seharusnya diisi.
Betapa banyak amal menjadi berlipat ganda nilainya oleh niat baiknya dan itu tak akan terjadi bila pelakunya tak punya ilmu tentang hal tersebut. Dan demikian pula sebaliknya. Barangsiapa yang beramal tanpa dilandasi dengan ilmu, maka bahayanya akan lebih banyak daripada manfaatnya, sebagaimana amal tanpa niat berakibat kelelahan, dan ikhlas tanpa realisasi berakibat buih.
Kita tak punya kekuatan apapun untuk melarang orang bekerja dalam lingkup amal islami, bahkan mereka yang menjalaninya dengan cara yang kita nilai merugikan perjuangan. Sehingga pada saatnya kita mendapat penyikapan negatif atas kesalahan yang dilakukan aktifis amal Islami. Problema kaum khawaraj dan berbagai gerakan lainnya menunjukkan fenomena para pengamal mulai dari yang ikhlas minus fiqih, sampai yang oportunis dan pemanfaatan jargon.
Hama-hama Amal
Sebagaimana tumbuhan, amalpun terancam hama. Riya (beramal untuk dilihat), ujub (kagum diri), sum’ah (beramal untuk populer/didengar), mann (membangkit-bangkit pemberian) adalah hama yang akan memusnahkan amal. Seorang aktifis yang berkurban dengan semua yang dimilikinya harus mengimunisasi amalnya agar disaat hari perjumpaan kelak tak kecewa karena amalnya menjadi haba-an mantsura (debu berterbangan).
Pelipat gandaan kualitas dan kuantitas kerja yang dilakukan para sahabat tak dapat dikejar generasi manapun. Bayangkan, hanya dalam dua dekade saja terjadi perubahan besar pada pola sikap, pandangan hidup, dan tradisi bangsa arab. Kerja besar taghyir (perubahan) ini sukses seperti ungkapan Sayyid Quthb dalam Ma’alim fit Thariq berkat komitmen mereka yang
- Menuntut ilmu bukan sekedar mengoleksi ilmu
- Putus dari jahiliyah kemarin dan menghayati hidup baru dalam Islam, tanpa keinginan sedikitpun untuk kembali ke dalam masa jahiliyah
- Bersiap siaga menunggu komando Al Qur’an seperti prajurit siaga menunggu aba-aba komandan
Kerja untuk Perubahan Masyarakat
Hari ini ribuan surat kabar, radio, dan televisi dunia bekerja diberbagai kawasan untuk menyebarkan fasad (kerusakan). Hati orang-orang dibunuh sebelum jasad mereka dikubur. Kemana ribuan kader yang hanya menggerutu tanpa berbuat apapun kecuali gerutu?Apakah masyarakat dapat berubah dengan gunjingan dari mimbar masjid?
Hari ini rumah umat kebakaran. Tidakkah setiap orang patut memberi bantuan memadamkan api walaupun hanya dengan segelas air; dengan pulsa, perangko, dan kertas surat yang dikirimkan kepada pedagang kerusakan. Menegaskan pengingkarannya terhadap ulah mereka yang sangat menyengsarakan masyarakat dengan siaran dan penerbit fasad. Sebelum akhirnya mengirim darah dan nyawa mereka kesana ketika usaha santun tak lagi membawa hasil.
Banyak orang mengandalkan nisbah diri dengan nama besar suatu organisasi atau jamaah, berbangga dengan kepemimpinan tokoh perubahan sejarah, namun sayang mereka tak pernah merasa defisit, padahal sama sekali tidak meneladani keutamaan mereka. “Barangsiapa lambat amalnya tidak akan menjadi cepat karena nasabnya”. (H.R. Muslim)
Apa yang Harus Dikerjakan?
Orang beramal dihari itu seperti 50 kali kerja kamu hari ini sebagaimana dalam riwayat Abi Daud, Tirmidzi, Nasa’i. Sebagian kerja dakwah memang kata, tetapi tak dapat dituding sebagai cuma omong, seperti halnya penyiar dan reporter yang mengisi daftar profesi dengan omong. Namun perlu dibedakan mana dakwah yang mencukupkan diri dan puas dengan memberi informasi seram kepada khalayak. Bisa pula menina bobokan khalayak dengan mimpi-mimpi indah, atau mengingatkan bahaya seraya memberi jalan keluar. Mampukah mereka tampil sebagai problem solver. Dan hari ini banyak juga orang kaya menjadi problem trader.
Referensi:
Untukmu Kader Dakwah, Penerbit Pustaka Da’watuna, KH. Rahmat Abdullah
by Danu Wijaya danuw | Dec 26, 2015 | Artikel, Dakwah
Oleh: KH. Rahmat Abdullah
Yang dimaksud dengan al ikhlas adalah “Seluruh ucapan, perbuatan, dan perjuangan seorang aktivis muslim selalu ditujukan dan dimaksudkan hanya kepada Allah Ta’ala saja. Tidak mengharapkan imbalan apapun, baik berupa harta, tahta, martabat dan kedudukan tanpa melihat maju mundurnya perkembangan dakwah.” ~ Hasan Al Banna.
Ada orang yang sangat sederhana dalam beramal dengan ketulusan tiada tara. Puji tak membuatnya gairah dan celaan tak menghambatnya dari meningkatkan amal kebajikan. Ia ada ditengah keramaian dan jiwanya sendiri menghadap Khaliqnya tanpa berharap dan peduli terhadap penilaian manusia.
“Tiga hal yang tak membuat hati mukmin kering : 1. Ikhlas dalam beramal karena Allah, 2. Tulus terhadap para pemimpin (dengan nasihat non koreksi), 3. Setia kepada jamaah muslim karena doa mereka meliput dari belakang mereka “(H.R. Ahmad, Ibnu Majah, Hakim, Abu Daud dan Tirmidzi)
Hasan Al Bashri mencurahkan kebeningan hati di zamannya : “Tak ada lagi yang tersisa dari kenikmatan hidup kecuali tiga hal:
- Saudara yang kau selalu dapatkan kebaikannya; bila engkau menyimpang ia akan meluruskanmu
- Shalat dalam keterhimpunan (jasad, hati dan pikiran), kau terlindungi dari melupakannya dan kau penuh meliput ganjarannya
- Cukuplah kebahagiaan hidup dicapai bila kelak tak seorangpun punya celah menuntutmu di hari kiamat.”
Ketika seseorang berusaha keras untuk beramal tanpa berfikir apa keuntungan yang bakal didapatnya, ia disebut mukhlis, artinya orang yang menyerahkan amalnya kepada Allah dengan sepenuh hati tanpa pamrih duniawi. Kemudian pada saat ia mendapat dorongan beramal tanpa ingat apapun kecuali ridha Allah ia menjadi mukhlas, artinya orang yang dijadikan mukhlis.
Hati Tanpa Jelaga
Hati bening seorang alim ibarat penaka gelas kristal yang bening dan bersih, akan memancarkan cahaya ilmunya.Sulit untuk mendapatkan hati yang bening dan amal yang ikhlas tanpa kejujuran. Ia adalah kejujuran kepada bisikan nurani san Al Khaliq. Betapa mengerikan kemiskinan hati bila melanda kaum berilmu.
Orang-orang yang Ringkih Jiwa
Bal’am bin Baura, Wakid bin Nughirah, dan Abdullah bin Ubay adalah profil kaum berilmu yang tak berfaham. Yang pertama jelas-jelas bersebrangan dengan Nabi Musa as dan perjuangannya, lalu bermanis-manis dengan kubangan dunia, fir’aun. Adakah perbedaan fir’aunisme kemarin dengan fir’aunisme hari ini, yang membuat Bal’am-bal’am kontemporer membelanya mati-matian?
Adakah kedunguan yang melebihi kedunguan Walid yang di awal-awal laporan ilmiahnya tentang Al Qur’an menutup semua jalan bagi penolakan Al Qur’an sebagai kalam Allah. Gemertak gigi orang awam di Darun Nadwah rupanya lebih mengerikan baginya, sehingga di akhir presentasinya ia mengeluarkan konklusi : “Al Qur’an adalah sihir, lihatlah ia sudah memisahkan anak dari orangtuanya dan budak dari tuannya”.
Abdullah bin Ubay yang menarik penampilannya dan tutur katanya. Kandidat pemimpin tertinggi Madinah pra hijriah ini melihat peluang besar baginya. Penyakit nifaq merasukinya dan loyalitas tak dimilikinya. Yang ada hanya kepentingan dan kedengkian. Jadilah ia orang yang manis di muka dan mengutuk dibelakang, beriman di mulut dan kafir di hati.
Ikhlas dan Shidiq
Ikhlas artinya menjaga diri dari perhatian makhluk. dan shidiq artinya menjaga diri dari perhatian nafsu. Seorang mukhlis tak punya riya dalam dirinya dan seorang shidiq tak punya ijab nafsi (kagum diri), demikian Abu Ali Daqqaq mengurai.
Kaab bin Malik pantas mendapatkan gelar shidiq sebab hukuman yang diterima dengan ikhlas. Tak kurang 50 hari berlalu keterasingan berat akibat alasan absen dari perang tabuk.
Banyak ulama yang tak henti-hentinya mengkritik dan meluruskan pemerintahan, sementara sang Amir tak jemu memenjarakannya. Namun saat sang Amir menggaungkan jihad, para ulama tampil didepan tanpa dendam pribadi. Kritik sudah kulancarkan, demikian paradigma mukhlisin.
Khalid bin Walid tegas menjawab pertanyaan heran orang lain, mengapa kau maui bertempur dibawah komando orang sementara engkau dimakzulkan dari posisi panglima? Ia berjihad karena Allah bukan karena Umar.
Betapa mengerikan keterasingan pengamal yang selalu saja dihantui apa kata orang. Sunyi terdampar di gurun riya, tersungkur dijurang ujub, segala ketakutan ada disana, kecuali takut kepada Allah.
Referensi :
Untukmu Kader Dakwah, Penerbit Pustaka Da’watuna, KH Rahmat Abdullah
by Danu Wijaya danuw | Dec 25, 2015 | Artikel
Oleh : KH Rahmat Abdullah
Yang dimaksud al fahmu disini adalah bahwa “Fikrah (pandangan) kami adalah fikrah islamiyah yang solid dan tangguh, serta memahami Islam seperti apa yang kami pahami dalam kerangka dua puluh landasan (al ushuul al’isyruun)” ~ Hasan Al Banna.
Bagi Ashabul Kahfi sesudah iman, tambahan nikmat lain berupa Huda (petunjuk) itu yang pada hakikatnya juga ilmu. Bahkan Imam Al Ghazali mengatakan “Lewat beberapa masa, aku menuntut ilmu tak pernah mau dituntut kecuali karena Allah”.
Tentu saja seseorang tidak harus mengumpulkan ilmu sebagai kolektor tanpa komitmen amal, karena hal seperti ini dapat dilakukan oleh hard disc, pita rekam, ataupun mata pensil. Menurut Ibnu Athaillah kedudukan ilmu dan kemuliaan berupa ilmu nafi’ (ilmu yang bermanfaat) termasuk Al Qur’an dan Assunnah.
Pemeliharaan Tradisi Keilmuan
Seorang imam pergi musafir berbulan-bulan hanya untuk mencari satu hadist singkat. Seorang ulama produktif bahkan menulis dipenghujung malam. Tradisi keilmuan juga menyangkut etika pergaulan. Ulama yang arif billah datang kepada raja hanya untuk menasihati dan mengingatkan mereka, bukan menjilat.
Harun Al Rasyid pernah meminta Imam Malik untuk mendatanginya agar anak-anaknya dapat mendengarkan Kitab Al Muwattha. Namun atas jawaban Imam Malik sebaiknya ilmu lah yang harus didatangi dengan aturan duduk seadanya tanpa melangkahi bahu jamaah. Begitupula Imam Syafii, kepiawaiannya dalam diskusi dilandasi keikhlasan dan mengharap kebenaran dari Allah.
Ilmu antara Tahu dan Malu
Apa kabar penghafal sekian banyak ayat, pelahap sekian banyak kitab, dan pembahas sekian banyak qadhaya yang belum beranjak dari tataran tahun untuk menjadi mau?
Alim, jahil, atau sakitkah engkau? Kemana lagi engkau sesudah ini? Seandainya engkau menjumpai planet lain, sadarkah engkau bahwa itu bukan ciptaanmu?
Ilmu dan Kelapangan Wawasan
Berapa banyak pedang diperlukan untuk mengembalikan kaum khawarij yang memecah belah jamaah? Kaum ini sesat bukan karena tidak shalat, shaum, atau jihad. Namun fiqh (kedalaman ilmu dan keleluasaan) tak menggenapi kehidupan intelektual mereka. Oleh karenanya Ibnu Abbas ra. cukup dengan argumentasi untuk mengembalikan 1/3 dari sekian puluh ribu kaum khawarij.
Belum lagi kaum nabi Nuh as membangun tugu-tugu untuk tokoh terhormat mereka; Wada, Suwa, Yauq, Yaguts, dan Nashr. Barulah setelah generasi ini wafat dan ilmu dilupakan orang, maka tugu itupun mulai disembah.
Kemudian mengapa ulama akhirat tak pernah berkelahi dan ulama dunia tak putus-putus bertengkar? Karena akhirat itu luas tak bertepi, sedangkan dunia sangat sempit. Wajar bila ulama saling bertabrakan.
Diantara karunia besar datangnya Rasul penutup adalah mata dunia dibuka, era akal sehat dimulai, bebas dari mitos-mitos dan manipulasi orang picik atas rakyat yang lugu. Inilah tonggak peralihan dari pengabdian manusia kepada sesama manusia, menuju pengabdian hanya kepada Allah semata.
Referensi :
Untukmu Kader Dakwah, Penerbit Pustaka Da’watuna, KH Rahmat Abdullah