by Danu Wijaya danuw | Aug 18, 2017 | Artikel, Dakwah
MERDEKA merupakan suatu anugerah dari Allah kepada manusia. Kita sebagai bangsa Indonesia yang negeri telah sah merdeka dengan ditandai sebuah proklamasi kemerdekaan, adalah nikmat yang harus disyukuri.
Sebab tidak semua negara merasakan sebagaimana kita rasakan. Seperti Palestina. Negara yang masuk pada wilayah Syam itu telah lama menjadi bulan-bulanan Israel yang tak punya sifat manusiawi.
Berpuluh tahun tetesan darah tumpah demi memperebutkan tanah yang Allah berkahi itu. Negara-negara lainnya pun masih dalam keseteruan panjang.
Jika dipandang dari sisi rasa aman, kondisi mereka belum merdeka. Keamanan seakan dicabut pada hati para penghuninya. Tapi kalau dilihat dari sisi Islam, bisa jadi mereka adalah orang yang merdeka. Lalu seperti apa merdeka dalam pandang Islam?
Merdeka, seperti yang dikatakan oleh salah seorang Ulama, “Keberadaan manusia sebagai hamba Allah baik dari sudut penciptaan, perasaan maupun akhlaq.”
Maknanya bahwa seorang muslim hakekatnya tidak merdeka ketika belum berusaha melepas diri dari belenggu penghambaan kepada selain Allah.
Keberadaan diri sebagai makhluk yang ahsanu taqwim, sebaik-baik ciptaan, tentu bakal menjadi asfalas safilin, menjadi orang yang hina-dina saat merasa nyaman dalam lingkaran penghambaan selain-Nya.
Mudah ditemukan orang yang telah biasa berharap banyak kepada manusia. Padahal bila berharap kepada makhluk tentu sering kecewa. Karena manusia memiliki kelemahan dan kekurangan.
Tak hanya itu saja. Seringkali manusia dalam suatu urusan, rasanya sulit untuk melibatkan Allah. Padahal Dialah yang Maha Berkehendak pada segala rencana manusia.
Hal seperti itu akhirnya dipandu pada sikap praduga belaka, nasib baik dan buruk seseorang. Bukan lagi diatas landasan keyakinan penuh kepada-Nya, bahwa apa yang telah terjadi pasti mengandung hikmah.
Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam, sebagai penyampai kabar gembira sekaligus peringatan, telah memutus rantai penghambaan kepada selain Allah ta’ala. Apa yang beliau dakwahkan merupakan estafet para nabi yang telah disampaikan kepada setiap umat.
Seruannya berbentuk ajakan agar menyembah Allah dan menjauhi thagut. Menetapkan Allah sebagai Rabb yang berhak diibadahi dan meniadakan segala sekutu bagi-Nya.
Hal ini pula sebagaimana yang disampaikan Rib’iy bin Amir, saat di utus Oleh khalifah Umar bin Khattab ke salah satu negara adidaya, Persia. Dengan gagahnya, utusan Khalifah ini berkata didepan panglima persia Rustum, “
ابتعثنا الله لنخرج الناس من عبادة العباد لعبادة الله وحده
“Kami (umat Islam) diutus Allah untuk mengeluarkan manusia dari penghambaan sesama hamba untuk menghamba kepada Allah semata.”
Maka, suatu prestasi yang gemilang dengan melihat generasi terbaik. Suatu bibit yang tumbuh dibawah naungan wahyu ilahi, yaitu jaman Rasulullah dan para sahabat.
Generasi yang sampai disebut sebagai Khoirul Ummah, melihat semua manusia yang berdiri dalam penghambaan kepada manusia, berubah begitu kerdil dimata mereka.
Sebab hati mereka telah terpaut kepada Dzat yang tidak pernah berhenti mengawasi hambanya. Yang menjadikan hati hamba-Nya merdeka dari segala penghambaan kepada yang fana dan nista.
Mereka adalah generasi merdeka. Jiwa dan raga bebas dari segala bentuk kekangan yang membuat terpenjara pada sikap bergantung pada selain-nya.
Merekapun telah berhasil merdeka dari belitan nafsu yang tidak pernah berhenti menyerang. Mereka tundukkan sebagaimana penunggang kuda telah menguasai kudanya.
Jadi, kemerdekaan adalah suatu keniscayaan saat kita berusaha membuang seluruh penghambaan kepada manusia, dan termasuk penghambaan pada nafsu kita.
Mari, jadikan totalitas kemerdekaan dengan menjadi hamba yang hanya bergantung penuh kepada-Nya. Wallahu a’lam.
Oleh: Rohmat Saputra
Anggota Kelas Menulis Islampos
by Danu Wijaya danuw | Aug 18, 2017 | Sejarah
Tulisan ini hanya sepenggal kisah tentang Hasyim Asyari, pahlawan nasional dan pendiri organisasi Nahdhatul Ulama (NU). Kiai karismatik berjuluk Hadratus Syaikh yang berarti Maha Guru, ini dikenal sebagai ahli ilmu agama, khususnya tafsir, hadits dan fiqih.
Dia mengabdi kepada umat dengan mendirikan Pondok Pesantren Tebuireng di Desa Cukir, Kecamatan Diwek, Kabupaten Jombang, Jawa Timur. Hasyim juga berdakwah ke daerah-daerah pada masanya.
Sedangkan gelar pahlawan dia dapat karena pada masa penjajahan belanda, Hasyim Asyari ikut mendukung upaya kemerdekaan dengan menggerakkan rakyat melalui fatwa jihad yang kemudian dikenal sebagai resolusi jihad melawan penjajah Belanda pada 22 Oktober 1945. Akibat fatwa itu, meledak lah perang di Surabaya pada 10 November 1945.
Menurut Ishom Hadzik (2000) dalam buku yang ditulis Zuhairi Misrawi berjudul “Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari: moderasi, keumatan, dan kebangsaan”,
Pada masa penjajahan Belanda, K.H. Hasyim senantiasa berkomunikasi dengan tokoh-tokoh muslim dari berbagai penjuru dunia untuk melawan penjajahan.
Misalnya dengan Pangeran Abdul Karim al-Khatthabi (Maroko), Sultan Pasha Al-Athrasi (Suriah), Muhammad Amin al-Husaini (Palestina), Hasan al Bana (Mesir), Dhiyauddin al-Syairazi, Muhammad Ali, dan Syaukat Ali (India), serta Muhammad Ali Jinnah (Pakistan).
Hasilnya pada 22 Oktober 1945, Hasyim dan sejumlah ulama di kantor NU Jawa Timur mengeluarkan resolusi jihad itu.

Rapat para Kiyai dan Pengurus NU dalam film Sang Kiyai
Karena itulah Hasyim diancam hendak ditangkap Belanda. Namun Hasyim tak bergeming, dia memilih bertahan mendampingi laskar Hizbullah dan Sabilillah melawan penjajah.
Bahkan ketika Bung Tomo meminta Kiai Hasyim mengungsi dari Jombang, Hasyim berkukuh bertahan hingga titik darah penghabisan. Hingga muncul sebuah kaidah (rumusan masalah yang menjadi hukum) populer di kalangan kelompok tradisional; hubb al-wathan min al-iman (mencintai tanah air adalah bagian dari iman).
Fatwa atau resolusi jihad Hasyim berisi lima butir. Seperti ditulis Lathiful Khuluq berjudul “Fajar Kebangunan Ulama, Biografi Kiyai Hasyim Asyari” yang diterbitkan LKiS pada 2000 lalu,
Butir Pertama resolusi jihad berbunyi; kemerdekaan Indonesia yang diproklamasikan pada 17 Agustus wajib dipertahankan.
Butir Kedua; Republik Indonesia sebagai satu-satunya pemerintahan yang sah harus dijaga dan ditolong.
Butir Ketiga; musuh republik Indonesia yaitu Belanda yang kembali ke Indonesia dengan bantuan sekutu Inggris pasti akan menggunakan cara-cara politik dan militer untuk menjajah kembali Indonesia.
Butir Keempat; umat Islam terutama anggota NU harus mengangkat senjata melawan penjajah Belanda dan sekutunya yang ingin menjajah Indonesia kembali.
Butir Kelima; kewajiban ini merupakan perang suci (jihad) dan merupakan kewajiban bagi setiap muslim yang tinggal dalam radius 94 kilometer, sedangkan mereka yang tinggal di luar radius tersebut harus membantu dalam bentuk material terhadap mereka yang berjuang.
Semangat dakwah antikolonialisme sudah melekat pada diri Hasyim sejak belajar di Makkah, ketika jatuhnya dinasti Ottoman di Turki.
Menurut Muhammad Asad Syihab (1994), KH Hasyim pernah mengumpulkan kawan-kawannya, lalu berdoa di depan Multazam, berjanji menegakkan panji-panji keislaman dan melawan berbagai bentuk penjajahan.
Semangat itu dia bawa tatkala kembali ke Indonesia dan dia tularkan kepada anaknya, Kiyai Wahid Hasyim. Kelak, Kiyai Wahid Hasyim dipercaya menjabat sebagai Menteri Agama pertama pada era Presiden Soekarno.
Sikap anti penjajahan juga sempat membawa KH Hasyim masuk bui ketika masa penjajahan Jepang.
Waktu itu, kedatangan Jepang disertai kebudayaan ‘Saikerei’ yaitu menghormati Kaisar Jepang “Tenno Heika” dengan cara membungkukkan badan 90 derajat menghadap ke arah Tokyo setiap pagi sekitar pukul 07.00 WIB.
Budaya itu wajib dilakukan penduduk tanpa kecuali, baik anak sekolah, pegawai pemerintah, kaum pekerja dan buruh, bahkan di pesantren-pesantren.
Bisa ditebak, Hasyim Asyari menentang karena dia menganggapnya ‘haram’ dan dosa besar. Membungkukkan badan semacam itu menyerupai ‘ruku’ dalam sholat, hanya diperuntukkan menyembah Allah SWT.
Menurut Hasyim, selain kepada Allah hukumnya haram, sekalipun terhadap Kaisar Tenno Heika yang katanya keturunan Dewa Amaterasu, Dewa Langit.
Akibat penolakannya itu, pada akhir April 1942, KH Hasyim Asyari yang sudah berumur 70 tahun dijebloskan ke dalam penjara di Jombang. Kemudian dipindah ke Mojokerto, lalu ke penjara Bubutan, Surabaya.
Selama dalam tawanan Jepang, Kiai Hasyim disiksa hingga jari-jari kedua tangannya remuk tak lagi bisa digerakkan.
KH Hasyim Asyari lahir di Desa Gedang, Kecamatan Diwek, Jombang, Jawa Timur, 10 April 1875 dengan nama lengkap Mohammad Hasyim Asyari. Mendirikan Pondok Pesantren Tebuireng dan organisasi NU. Kakek almarhum Gus Dur ini meninggal di Jombang, 25 Juli 1947 pada umur 72 tahun.
Sumber : Merdeka
by Danu Wijaya danuw | Aug 18, 2017 | Sejarah
Negara yang pertama kali mengakui kemerdekaan Indonesia adalah Mesir. Demikian tertulis dalam buku sejarah kemerdekaan Indonesia.
Tapi, buku-buku sejarah umumnya tak menjelaskan lebih lanjut, mengapa dan bagaimana Mesir mengakui kemerdekaan Indonesia.
Ternyata bangsa ini pantas berterima kasih juga kepada tokoh-tokoh Ikhwanul Muslimin. Sebab, merekalah yang melobi agar pemerintah Mesir segera mendukung kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945.
Pemimpin Al-Ikhwan Al-Muslimun (IM), Hasan Al Banna sendiri ternyata pernah menjadi anggota Panitia Pembela Kemerdekaan Indonesia di Mesir.

Hasan al Bana (kiri bawah) berfoto dengan Panitia Kemerdekaan Indonesia dan Pembesar Arab lainnya.
Para pemimpin Mesir dan negara-negara Arab saat itu membentuk Panitia Pembela Indonesia. Mereka mendorong pembahasan soal isu Indonesia di berbagai lembaga internasional, seperti di PBB dan Liga Arab.
Dalam bukunya, Diplomasi Revolusi Indonesia di Luar Negeri, Zein Hassan menulis bahwa pengakuan kemerdekaan itu, pada akhirnya membuat posisi Indonesia setara dengan negara-negara lainnya termasuk Belanda dalam perjuangan diplomasi internasional.
Proklamator Bung Hatta pun menyatakan, “Kemenangan diplomasi Indonesia dimulai dari Kairo. Karena, dengan pengakuan mesir dan negara- negara Arab lainnya terhadap Indonesia sebagai negara yang merdeka dan berdaulat penuh, segala jalan tertutup bagi Belanda untuk surut kembali atau memungkiri janji.”
Peran Ikhwanul Muslimin dalam kemerdekaan Indonesia, masih dapat ditelusuri jejaknya dalam artikel bertajuk Ikhwanul Muslimin di Wikipedia.

Sutan Syahrir menerobos ke Mesir bertemu Hasan Al Bana (pemimpin Ikhwanul Muslimin Mesir)
Saat itu, untuk mendukung kemerdekaan Indonesia, Ikhwanul Muslimin kerap mengerahkan massa untuk berdemonstrasi. Para pemuda dan pelajar Mesir, terutama Ikhwan, dengan caranya sendiri berkali-kali mendemo Kedutaan Belanda di Kairo.
Tidak hanya dengan slogan dan spanduk, aksi pembakaran, pelemparan batu, dan teriakan-teriakan permusuhan terhadap Belanda kerap dilakukan mereka.
Kondisi ini membuat Kedutaan Belanda di Kairo ketakutan. Mereka dengan tergesa mencopot lambang negaranya dari dinding Kedutaan. Mereka juga menurunkan bendera merah-putih-biru yang biasa berkibar di puncak gedung, agar tidak mudah dikenali pada demonstran.
Kuatnya dukungan rakyat Mesir atas kemerdekaan RI, juga atas desakan dan lobi yang dilakukan para pemimpin Al-Ikhwan Al-Muslimun, membuat pemerintah Mesir mengakui kedaulatan pemerintah RI atas Indonesia pada tanggal 22 Maret 1946.
Inilah pertama kalinya suatu negara asing mengakui kedaulatan RI secara resmi. Dalam kacamata hukum internasional, lengkaplah sudah syarat Indonesia sebagai sebuah negara berdaulat.
Bukan itu saja, secara resmi pemerintah Mesir juga memberikan bantuan lunak kepada pemerintah RI. Sikap Mesir ini memicu tindakan serupa dari negara-negara Timur Tengah.
Untuk menghaturkan rasa terima kasih, pemerintah Soekarno mengirim delegasi resmi ke Mesir pada tanggal 7 April 1946. Ini adalah delegasi pemerintah RI pertama yang ke luar negeri. Mesir adalah negara pertama yang disinggahi delegasi tersebut.

Ketua Delegasi Indonesia H. Agus Salim mengucapkan terimakasih kepada Hasan Al Bana (ketua Ikhwanul Muslimin) yang kuat sekali menyokong perjuangan Indonesia.
Tanggal 26 April 1946 delegasi pemerintah RI kembali tiba di Kairo. Beda dengan kedatangan pertama yang berjalan singkat, yang kedua ini lebih intens.
Di Hotel Heliopolis Palace, Kairo, sejumlah pejabat tinggi Mesir dan Dunia Arab mendatangi delegasi RI untuk menyampaikan rasa simpati. Selain pejabat negara, sejumlah pemimpin partai dan organisasi juga hadir.
Termasuk pemimpin Al-Ikhwan Al-Muslimun, Hasan al Banna dan sejumlah tokoh Ikhwan dengan diiringi puluhan pengikutnya.

Setiap perkembangan yang terjadi di Indonesia, diikuti serius oleh setiap Muslim, baik di Mesir maupun di Timur Tengah pada umumnya. Para mahasiswa Indonesia yang saat itu tengah berjuang di Mesir dengan jalan diplomasi revolusi, senantiasa menjaga kontak dengan Ikhwan.
Ketika Belanda melancarkan agresi Militer I (21 Juli 1947) atas Indonesia, para mahasiswa Indonesia di Mesir dan aktivis Ikhwan menggalang aksi pemboikotan terhadap kapal-kapal Belanda yang memasuki selat Suez.
Walau Mesir terikat perjanjian 1888 yang memberi kebebasan bagi siapa saja untuk bisa lewat terusan Suez, namun keberanian para buruh Ikhwan yang menguasai Suez dan Port Said berhasil memboikot kapal-kapal Belanda.
Pada tanggal 9 Agustus 1947, rombongan kapal Belanda yang dipimpin kapal kapal Volendam tiba di Port Said. Ribuan aktivis Ikhwan yang kebanyakan terdiri dari para buruh pelabuhan, telah berkumpul di pelabuhan utara kota Ismailiyah itu.
Puluhan motor boat dan motor kecil sengaja berkeliaran di permukaan air guna menghalangi motor-boat motor-boat kepunyaan perusahaan-perusahaan asing yang ingin menyuplai air minum dan makanan kepada kapal Belanda itu.
Motor-boat para ikhwan tersebut sengaja dipasangi bendera merah putih. Dukungan Ikhwan terhadap kemerdekaan Indonesia bukan sebatas dukungan formalitas, tapi dukungan yang didasari kesamaan iman dan Islam.

Pemimpin kedua Ikhwan, Hasan Hudaiby terus menjalin komunikasi dengan Indonesia melalui M. Natsir
Tokoh-tokoh bangsa seperti Sjahrir dan H Agus Salim yang menemui Mursyid Am Ikhwanul Muslimin, Hasan al-Banna, dan tokoh Ikhwan selanjutnya menyampaikan terima kasih atas dukungannya terhadap kemerdekaan Indonesia kala itu.
Ketika terjadi pertempuran Surabaya 10 November 1945 dan banyak koran Indonesia memberitakan, Ikhwanul Muslimin dan gerakan Islam lainnya mengadakan shalat ghaib berjamaah di banyak tempat di Mesir.
Jadi Peran Mesir yang dipelopori oleh Ikhwanul Muslimin sangatlah besar dan berarti buat Indonesia.
Maka, sangatlah wajar kalau pemerintah dan rakyat Indonesia saat ini membantu Mesir dan Palestina dalam menyelesaikan masalah mereka, karena hubungan historis yang sangat kuat.
Di Mesir juga ada Jalan Ahmad Soekarno yang diambil dari nama Presiden Pertama Republik Indonesia.
Sumber : Republika/Salam/SuaraIslam
by Danu Wijaya danuw | Aug 17, 2017 | Artikel, Berita, Nasional
Jakarta – Majelis Ulama Indonesia (MUI) merespons berita bohong atau hoax terkait haramnya pemasangan bendera merah putih di masjid. Hoax tersebut beredar di https://muipusat.wordpress.com.
“Berita tersebut (pemasangan bendera di masjid) palsu dan fitnah,” tegas Sekretaris Komisi Fatwa MUI Asrorun Niam Sholeh melalui pesan tertulis, Rabu (16/8/2017).
Pihaknya meminta masyarakat untuk tidak menyebarkan berita tersebut karena berpotensi merusak kehidupan berbangsa dan bernegara.
Asrorun menyatakan, sikap MUI terkait kehidupan berbangsa dan bernegara, tentang hubungan agama dan negara, semua sudah tertuang dalam produk fatwa dan kebijakan MUI.
Ia juga meminta masyarakat mewaspadai upaya adu domba, saling menghina dan saling fitnah yang ujungnya pihak tersebut ingin Indonesia jadi negara yang tidak aman.
“Kita minta Kominfo menutup dan mencegah meluasnya hoax tersebut. Kita koordinasi dengan Kominfo dan sudah terdeteksi akun pembuatnya,” jelas Asrorun.
MUI meminta pula penegak hukum mencari dan menindak tegas penyebar hoax tersebut.
Sebelumnya beredar tulisan yang soal fatwa haram MUI tentang pemasangan bendera di masjid dalam sebuah situs di Internet. Dalam tulisan terpampang foto sejumlah pengurus MUI.
Sumber : Liputan6
by Danu Wijaya danuw | Aug 12, 2017 | Artikel, Sejarah
Victor Laisdokat dari fraksi nasdem memberikan terjemahan sendiri kekhilafahan Islam secara tidak layak.
Namun Tahukah Anda? Saat kelaparan melanda Eropa, Khilafah Islam Turki Utsmani datang membantu, tanpa meminta imbalan atau misi keagamaan. Itu semua dilakukan atas dasar kemanusiaan.
Suatu ketika antara tahun 1845-1852 M kelaparan hebat terjadi di seantero Eropa. Peristiwa itu dikenal dengan “The Great Hunger” atau “the Great Irish Famine”. Walaupun bencana kelaparan merata di Eropa, namun kelaparan terparah terjadi di Irlandia dan Skotlandia.
Kelaparan ini disebabkan panen kentang yang berulang kali gagal, sementara kentang yang ada diserang jamur berbahaya, sehingga tidak dapat dikonsumsi.
Selain itu kelaparan juga disebabkan oleh kebijakan pemerintah Inggris yang mengekspor bibit kentang ke wilayah utara, serta pemberlakuan tanam paksa dengan harga sewa tanah yang tinggi terhadap petani Irlandia, yang saat itu dibawah kekuasaan Inggris.
Akibat bencana kelaparan ini angka kematian meningkat, lebih dari 1 juta orang meninggal dunia, terjadi imigrasi besar-besaran yang membuat jumlah penduduk Irlandia berkurang sebanyak 25%.
Mendengar peristiwa itu Khilafah Sultan Ottoman Turki, Abdul Majid I menyatakan keinginannya untuk mengirimkan bantuan sebesar 10.000 sterling demi membantu para petani Irlandia. Akan tetapi Ratu Victoria meminta Sultan untuk mengirimkan 1.000 sterling saja.
Permintaan Ratu Victoria memang aneh, sepertinya dia tidak mau terlihat rendah karena sebelumnya hanya mengirimkan 2.000 sterling, jumlah yang jauh lebih kecil dibanding tawaran Sultan Turki.
Sultan pun sepakat dengan permintaan tersebut. Dia hanya mengirimkan 1.000 sterling, namun secara diam-diam Sang Sultan mengirimkan 3 kapal besar yang memuat makanan, sepatu dan keperluan lainnya.
Mengetahui hal itu, pemerintah Inggris berusaha memblokir kapal yang membawa bantuan tersebut, akan tetapi kapal-kapal itu berhasil berlabuh di pelabuhan Drogheda dengan aman. Setelah mengantarkan kapal tersebut, para pelaut Ottoman meninggalkan pelabuhan Drogheda dan kembali ke Turki.
Atas pemberian itu masyarakat Irlandia menyampaikan rasa terima kasih kepada sultan Abul Majid I melalui sebuah surat yang hingga saat ini masih tersimpan rapi di museum arsip Turki.

Surat Terimakasih dari Irlandia. Dikolom kotak bawah ada nama-nama Pemimpin, Bangsawan dan Baron (penguasa tanah) Irlandia
Dalam surat tersebut para pembesar dan bangsawan Irlandia menyampaikan pujian kepada Sultan, dan berharap agar tindakan Ottoman menjadi contoh bagi negara-negara lainnya di Eropa.
Adapun isi surat berikut dengan ucapan syukur kepada Khalifah Negara Islam Turki Utsmani:
“Kami para bangsawan, tuan-tuan dan penduduk Irlandia ingin mengekspresikan terima dan terima kasih atas bantuan murah hati Sultan Turki Utsmani.”
“Karena bencana kelangkaan. Hal ini tidak dapat dihindari bagi kita untuk menarik bantuan dari negara-negara lain untuk diselamatkan dari ancaman abadi kematian dan kelaparan.”
“Kemurahan hati Sultan untuk memenuhi panggilan bantuan ini menampilkan contoh untuk Eropa Serikat. Masyarakat merasa lega dan diselamatkan dari kebinasaan melalui tindakan ini yang sangat tepat waktu.”
“Kami mengucapkan terima kasih atas nama mereka dan berharap bahwa Sultan Turki Utsmani dan kekuasaannya akan diselamatkan dari penderitaan yang menimpa kita.” – tulis para Pimpinan & bangsawan Irlandia
Hingga kini peristiwa bersejarah itu masih sangat membekas di hati masyarakat Irlandia, terutama bagi mereka yang tinggal disekitar pelabuhan Drogheda.
Dan sejak peristiwa itu pula masyarakat Irlandia menganggap Turki seperti saudara sendiri. Sehingga tak jarang siapapun yang pernah berkunjung ke Irlandia, khususnya ke Drogheda dapat dengan mudah menyaksikan hal-hal yang bernuansa Turki.
Bahkan salah satu klub sepak bola Irlandia Drogheda United menjadikan lambang kesultanan Ottoman sebagai lambang klubnya.

Klub bola Irlandia dengan lambang Bulan Bintang
Sebagai penghormatan terhadap kekhalifaan Ottoman Turki, mereka bangga dengan lambang tersebut, disaat sebagian kaum muslimin sebaliknya justru bangga dengan jersey berlambangkan salib.
Allahulmustaan.. Begitulah jadinya bila Islam berjaya.
Biarkan Sejarah Bicara.
Sumber : Middle East Update/ yang menyadur dari ’Shalatin Daulah Al-Utsmaniyah’
Source :
When the Ottomans Came to Ireland’s Aid
munculnya symbol-simbol Usmani ( http://en.wikipedia.org/wiki/Drogheda )
[Video : English Subtitle] https://www.youtube.com/watch?v=y4Oaw23NPoU
[Video : Teks Indonesia] https://www.youtube.com/watch?v=AA_fx_TlZiM
Catatan: tahun 1845, nilai 10,000 ponds yang diberikan kepada penduduk Irlandia dari Sultan itu bernilai kurang lebih 800,000 pond pada hari ini, itu sama dengan $1,683,280 US Dollar. Di sisi lain, Ratu memberikan uang senilai 160,000 pond pada hari ini atau 336,656 US Dollar. (Kurs Dollar 2008)