by Danu Wijaya danuw | Aug 1, 2017 | Artikel, Berita, Nasional
Anak anda sering melakukan aksi “Tepuk Anak Sholeh”? Bersiaplah untuk tidak menyaksikannya lagi. Pasalnya lirik tepuk tersebut dianggap intoleran.
Ketua Himpunan Pendidikan dan Tenaga Kependidikan Anak Usia Dini (Himpaudi) Banyumas, Khasanatul Mufida mengatakan,
“Tepuk anak soleh yang diakhir berbunyi ‘islam yes, kafir no’ melatih anak menjadi intoleran dan merusak kebersamaan. Dikhawatirkan nantinya berlanjut hingga ke jenjang pendidikan berikutnya,” katanya
Dalam rapat koordinasi Pokja Program Pendidikan Keluarga (Dikkel) di Gedung Ki Hajar Dewantara, Jum’at (28/7/2017) seperti diberitakan Radar Banyumas.
Pihak terkait menyarankan agar “Tepuk Anak Sholeh” yang diajarkan di jenjang Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) diminta dihentikan atau diubah.
Mufidah menilai, tepuk Anak Sholeh yang diakhiri ‘Islam Yes, Kafir No’, akan mendidik anak-anak menjadi bersikap tidak toleran.
Informasi yang dihimpun di sejumlah daerah di Jawa Timur, tepuk anak sholeh juga banyak dilakukan oleh anak-anak PAUD Islam. Bedanya, pada beberapa sekolah umum tidak ada kalimat terakhir yang berbunyi “Islam yes, kafir no.”
Berikut ini bunyi lagu atau tepuk anak sholeh :
Tepuk Anak Sholeh
Aku, anak sholeh (prok, prok, prok)
Rajin sholat, rajin ngaji (prok, prok, prok)
Orangtua, dihormati (prok, prok, prok)
Cinta Islam, sampai mati (prok, prok, prok)
La ilaha illallah
Muhammadarrasulullah
Islam yes, Kafir no
Tanggapan Aisyiyah Muhammadiyah
Munculnya tuntutan untuk menghentikan Tepuk Anak Sholeh atau mengubah syairnya mendapat tanggapan serius dari Aisyiyah.
Pasalnya, lagu yang dinyanyikan anak-anak muslim itu telah ada sejak puluhan tahun lalu, mengapa sekarang dipersoalkan dengan tuduhan intoleran?
Ketua Pengurus Daerah Aisyiyah Banyumas, Zakiyah mempertanyakan alasannya.
“Sejak saya masih TK, juga sudah ada lagu itu. Selama ini, juga tidak ada masalah. Kenapa kok baru dipersoalkan sekarang?” kata Zakiyah, Senin (31/7/2017)
Zakiyah menambahkan, jika diteliti secara cermat, syair lagu Anak Sholeh tidak bertentangan dengan akidah Islam. Termasuk syair ‘Islam Yes, Kafir No’.
Dengan lagu tersebut, kalangan pendidik justru berupaya menanamkan aqidah Islam pada anak-anak usia dini agar tidak kafir saat dewasa.
“Dengan pemahaman seperti ini, saya justru jadi bertanya sebenarnya salahnya di mana?” tandasnya.
Dia menegaskan, dengan menyanyikan lagu itu bukan berarti anak-anak kemudian diajarkan untuk bersikap tidak toleran.
“Tidak tolerannya yang bagaimana? Saya, yang saat masih anak-anak sering menyanyikan lagu itu, saya kira tidak kurang tolerannya. Jadi kenapa dipersoalkan?” kata dia.
Zakiyah justru khawatir saat ini ada upaya membenturkan sesama umat Islam.
Tepuk Anak Sholeh yang dipersoalkan oleh Himpunan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Anak Usia Dini (Himpaudi) Banyumas ini semoga tidak menjadi aturan wajib pemerintah yang berpotensi mengacaukan aqidah.
Komentar Nitizen

Sumber : Republika/Tarbiyah.net
by Danu Wijaya danuw | Aug 1, 2017 | Artikel, Berita, Nasional
Pemuda asal Pekalongan Mochammad Khamim Setiawan (28) yang ingin menunaikan ibadah haji ditempuh dengan berjalan kaki dari Pekalongan ke Tanah Suci tidak sia-sia.
Khamim pemuda Sarjana Ekonomi dari Universitas Negeri Semarang itu menunaikan Ibadah Haji ditempuh dengan jalan kaki berangkat dari kampung halamannya di Wonopringgo, Kabupaten Pekalongan pada 28 Agustus 2016 lalu. Tentu saja ia melewati beberapa negara dengan terus berjalan kaki, tak peduli panas maupun hujan.
Kadang ia harus istirahat di masjid, menumpang di rumah orang yang ditemui, atau bahkan bermalam di hutan di berbagai negara.
Pada 19 Mei 2017, ia telah tiba di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab. Dengan niat Bismillah dia memulai perjalanan itu untuk menempuh jarak kira-kira 9.000 kilometer. Sesuai dalam kalender Indonesia, Hari Raya Idul Adha bertepatan tanggal 1 September 2017.
Khamim menargetkan akan tiba di Kota Mekah tanggal 30 Agustus 2017 atau sebelum Wukuf. Yang berarti Khamim jalan kaki selama 1 tahun untuk naik haji menempuh perjalanan 9 ribu kilometer dan melintasi banyak negara.
Ternyata kenyataannya, dia lebih cepat sampai di Kota Mekkah dari yang diperhitungkan.
Dalam postingan di facebook, Kamis 27 Juli 2017 dia berfoto dengan background Kakbah di Masjidil Haram. Dia mengenakan pakain ihram.
Tertulis begini : Muhammad Khamim (28), pemuda asal Wonopringgo, Kab.Pekalongan yang berjalan kaki dari Pekalongan menuju Mekkah selama berbulan-bulan ini, alhamdulillah dia sudah sampai di Mekkah untuk menjalankan ibadah haji.
Syaufani Solichin (73), ayah Khamim saat ditemui tribunjateng.com beberapa waktu lalu mengatakan, selama perjalanan, Khamim sering puasa Dawud yaitu sehari puasa sehari tidak puasa.
Saat awal berangkat Khamim ditemani dua orang rekannya. Namun sesampai di Kabupaten Tegal, kedua temannya menyerah dan tidak melanjutkan perjalanan. Hanya tinggal Khamim yang kemudian benar-benar bisa sampai di Mekkah, sebagaimana niat awalnya.
Kondisinya yang berpuasa, membuatnya hanya berjalan di malam hari. Dalam kondisi fisik yang baik, ia dapat menempuh perjalanan sepanjang 50 kilometer, dan hanya sekitar 15 kilometer jika kakinya merasa capek.
Selama perjalanan dari Pekalongan Jateng ke Tanah Suci mengalami sakit sebanyak dua kali. Yaitu ketika di Malaysia dan India.
Ia tidak meminum suplemen khusus, melainkan campuran air dan madu untuk meningkatkan daya tahan tubuhnya dari perubahan cuaca di negara-negara yang dilalui.
Perbekalan yang Khamim bawa yaitu kaos dan celana, dua pasang sepatu, kaus kaki, pakaian dalam, kantung tidur dan tenda, lampu, telepon pintar dan GPS
Seluruh perlengkapan dimasukkan dalam sebuah tas punggung yang di luarnya terpasang sebuah bendera mini Indonesia, Merah Putih.
“I’m on my way to Mecca by foot” tulisan itu ada di kausnya.
Maksud Khamim untuk memberi pesan kepada orang-orang yang ditemui di perjalanan tentang misinya menuju Mekah di Arab Saudi.
Mochammad Khamim Setiawan meski masih pemuda, dia bukan orang miskin. Dia punya usaha kontraktor yang lagi berkembang. Semua itu dia tinggalkan demi menjalankan misi ini. Dia bawa sejumlah uang secukupnya selama di perjalanan.
“Saya tak pernah meminta-minta. Namun saya selalu bertemu orang yang memberi makanan dan bekal lain,” kata Mochammad Khamim Setiawan dikutip Khaleej Times sebuah media besar di Uni Emirat Arab.
Khamim pun sering bermalam di rumah ibadah agama lain. Itu tak jadi masalah. Dan dia akui mendapat sambutan yang baik serta toleransi yang sangat bagus.
Bupati Pekalongan, Asip Kholbihi merasa bangga atas semangat dan kesungguhan Mochammad Khamim yang berjalan kaki dari Pekalonan ke Tanah Suci untuk menunaikan ibadah haji.
Menurut Bupati, perjalanan haji Khamim adalah resmi atau legal. Karena semua perizinan dia tunaikan dan lengkapi dengan baik. Paspor dan visa semua lengkap.
Sumber: tribunnews.com
by Danu Wijaya danuw | Jul 31, 2017 | Artikel, Berita, Nasional
Jakarta— Berbuat baik tak harus berumur muda, bertubuh kuat dan harta berlimpah. Hal ini dibuktikan oleh seorang nenek asal Sukabumi yang rela menyumbangkan seluruh tabungan umrahnya untuk Palestina.
Tak diketahui siapa nama nenek tersebut. Yang jelas, hatinya sangat mulia.
Usia tak lagi muda, penghasilan juga pas-pasan sebagai guru mengaji anak-anak.
Setiap kali mendapat gaji, ia menyisihkannya untuk ditabung. Tabungan tersebut adalah untuk menunaikan umrah.
Namun, karena merasa iba dengan penderitaan rakyat di Palestina, ia pun mengikhlaskan seluruh tabungannya untuk mereka.
Hal tersebut dibenarkan oleh Bendahara Komite Nasional Rakyat Palestina (KNRP) Sukabumi Raya, Ridwan Nurpalah.
Saat ditanyakan berapa jumlah tabungannya, ia sama sekali tak mengetahuinya karena memang tidak pernah sama sekali mencetak saldo di buku tabungannya.
Bagi nenek mulia itu, uang yang ditabungnya jauh lebih penting untuk rakyat Palestina dibandingkan dirinya yang ingin melaksanakan ibadah umrah.
Seorang ulama Palestina bernama Syekh Bajes Daud Sholih yang bersilaturahmi ke Sukabumi mengatakan bahwa Palestina merupakan milik umat Islam seluruhnya sehingga harus diperjuangkan dari penjajahan Israel.
Sumber : Jurnal Muslim
by Danu Wijaya danuw | Jul 31, 2017 | Artikel, Berita, Nasional
JAKARTA – Wakil Gubernur DKI Jakarta terpilih Sandiaga Uno ikut nimbrung di hajat Lebaran Betawi 2017 yang dipusatkan di Setu Babakan, Jagakarsa, Jakarta Selatan, Minggu (30/7/2017). Didampingi sang istri, yang orang betawi asli, Nur Asia Uno sapaan akrabnya, tampak menikmati agenda tahunan tersebut.
Sandi tampak mengunjungi stan-stan pameran. Ia juga mampir ke rumah panggung khas betawi. Selama berkeliling, ia tampak menikmati suasana meriah dengan diiringi musik tradisional keroncong. Warga yang sadar Sandi melintas, langsung mengabadikan dan meminta foto bersama. Sandi pun dengan ramah meladeni meski cuaca cukup terik.
Pasangan dari Gubernur terpilih Anies Baswedan ini juga sempat mencoba mengunjungi pandai golok. Ia memegang palu besar dan menghujamkannya ke besi yang sudah membara.
Kepada wartawan Sandi mengungkapkan rasa bangganya terhadap budaya betawi. Ia ingin Betawi bisa menjadi tuan rumah di daerahnya sendiri.
“Luat biasa, kami sangat menikmati acara ini. Kami inginkan budaya betawi bisa jadi tuan rumah di tempat sendiri,” kata Sandi.
Ditanya mengenai komitmennya terhadap Perkampungan Budaya Betawi (PBB) Setu Babakan, Sandi ingin program OKE OCE yang merupakan program permberdayaan dan penciptaan wirausaha untuk orang betawi bisa masuk di sini.
“Komitmennya, kami akan terus kembangkan ini. Kami ada program buat pemuda betawi lewat program OKE OCE. Diharapkan pemuda di sini bisa diberdayakan dan dikembangkan lewat entrepreneurship,” tuturnya.
Presiden Jokowi dan Djarot serta Para Camat juga nampak hadir di tempat wisata betawi Setu Babakan. Sepanjang hari sekitar wilayah tersebut macet panjang.
Sumber : OkeZone
by Danu Wijaya danuw | Jul 31, 2017 | Artikel, Berita, Nasional
Yogyakarta – Pemerintah berencana menggunakan dana haji untuk berinvestasi seperti infrastruktur jalan hingga pelabuhan. Wacana tersebut memang menimbulkan pro kontra dan kecemasan penyalahgunaan. Dana haji yang mencapai Rp 90 triliun lebih ini bisa menggunakan investasi dengan sistem syariah.
Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Ma’ruf Amin menyatakan, dana haji boleh digunakan untuk investasi pemerintah sebagai penyelenggara negara, asal dua syarat terpenuhi.
Syarat pertama, kata Ma’ruf, yakni investasi tersebut bisa dijamin keamanannya, sehingga investasi itu tidak berpotensi menyebabkan kerugian.
“Itu bisa untuk investasi apabila yang dikerjakan sifatnya aman. Jadi tidak ada masalah dan sah,” ujar Ma’ruf, Yogyakarta, Sabtu malam, 28 Juli 2017.
Syarat kedua, Ma’ruf melanjutkan, adalah investasi tersebut harus sesuai ketentuan syariah, yaitu investasi yang dilakukan harus bebas dari unsur-unsur riba.
“Dana itu selama ini ditaruh di bank-bank syariah dan disimpan menjadi Surat Berharga Syariah Negara (SBSN), dan sudah ada badan yang mengelola,” kata dia.
Selain dua syarat tersebut, Ma’ruf menjelaskan, dana haji untuk investasi harus sudah melewati persetujuan badan pengelola dana haji. Badan pengelola inilah yang akan mengatur penggunaan investasi jenis apa saja yang aman.
“Badan ini yang nanti menetapkan. Secara umum, dana haji jika akan digunakan untuk investasi harus aman dan sesuai syariah,” Ma’ruf menandaskan..
Yang Lebih Penting Kualitas Pelayanan Haji
Ketua Komisi Dakwah Majelis Ulama Indonesia (MU) KH Cholil Nafis mengatakan jika dilihat dari sudut pandang hukum syariah maka investasi dana haji hukumnya juga halal. Namun, hal itu tidak menjadi prioritas.
“Investasi dana haji di infrastruktur jika sesuai syariah maka hukumnya halal, namun tidak prioritas. Sebab tak ada hubungan langsung dengan peningkatan kualitas penyelenggaraan haji yang sedang mendesak saat ini,” ujar Kiai Cholil
Kiai Cholil melihat bahwa untuk meningkatkan kualitas penyelenggaraan ibadah haji saat ini yang perlu dilakukan pemerintah adalah memperbaiki pemondokan haji dan juga transportasinya.
Perlu Izin dan Akad Jamaah
KH Cholil Nafis menegaskan pemerintah perlu mendapatkan izin dari jamaah haji.
“Secara garis besarnya perlu izin dari jamaah saat setor biaya haji melalui akad yang disepakati, demikian juga izin dari jamaah yang sudah setor sebelum undang-undang nomor 34 tahun 2014 disahkan. Sebab sah dan tidaknya suatu transaksi adalah tergantung akadnya,” ujarnya.
Apalagi calon jamaah haji yang menyetor sebelum 2014 atau sampai sekarang tak ada yang berniat atau memberikan izin dana yang diinvestasikan untuk hal lain, termasuk infrastruktur.
Jika pemerintah tetap ingin wacana tersebut direaliasikan, izin dari jamaah pun harus dikantongi. Caranya bisa dengan teknologi. Dan keuntungan untuk jamaah haji dalam peningkatan kualitas pelayanan haji.
Sumber : Liputan6/Republika