by Danu Wijaya danuw | Jul 15, 2017 | Artikel, Berita, Internasional
GEREJA berbentuk masjid dengan kubah dan menara berasitektur Turki itu terletak tak jauh dari Austria Trend, hotel bintang lima tempat kami menginap di Kota Budapest, ibu kota Hongaria.
Setiap interval waktu satu jam lonceng yang berada di menara gereja itu selalu berbunyi. Seakan-akan lonceng gereja yang terus-menerus berbunyi itu merupakan penegasan eksistensi dan otoritas tunggal rumah ibadah beraliran kependetaan di negeri yang di era perang dingin pernah bergabung dalam Blok Timur itu.
Gereja berbentuk masjid di Kota Budapest itu dan banyak tempat lainnya di berbagai pelosok negeri Hongaria bukanlah sebuah kebetulan. Bukan sekadar kesamaan arsitektur saja. Karena awalnya bangunan rumah ibadah itu memang mesjid tempat umat Islam bersembah sujud kepada Tuhannya dan kemudian seiring dengan perubahan waktu dan dominasi kekuasaan di Hongaria masjid-masjid yang ada di sini diubah menjadi gereja.
Sejarahnya panjang. Pada tahun 1526 Masehi, Kekhalifahan Turki Usmani di bawah pimpinan Sultan Sulaiman Yang Agung atas permintaan sebagian besar rakyat Hongaria yang terancam oleh Kerajaan Austria menyerang dan menganeksasi Hongaria. Kerajaan Hongaria berhasil ditaklukkan. Sejak saat itu, banyak penduduk Hongaria memeluk Islam dengan kesadaran sendiri tanpa ada paksaan sedikit pun.
Mereka memilih Islam karena logika-logika keimanan Islam yang disaampaikan para dai ketika itu lebih logis dari dialektika keimanan yang secara turun-temurun mereka yakini.
Bersamaan dengan pertumbuhan pesat jumlah umat Islam di Hongaria saat itu, di samping memberikan kebebasan beragama kepada penganut kepercayaan lainnya, Kekhalifahan Turki Usmani juga mendirikan banyak masjid untuk keperluan tempat ibadah umat Islam.
Masjid-masjid yang dibangun Kekhalifahan Turki Usmani di Hongaria, sejauh yang saya saksikan, arsitektur bangunannya persis dan mirip benar dengan arsitektur dan konstruksi mesjid yang ada di Turki, terutama di Kota Istanbul. Ini, antara lain, dikarenakan insinyur dan tukang yang terlibat dalam pembangunan mayoritas dari Turki.
Di Hongaria tidak hanya masjid yang dibangun orang Turki, tapi banyak juga bangunan lainnya yang sampai hari ini masih bisa kita saksikan. Misalnya, Turkish Bath (pemandian air panas Turki) di beberapa tempat. Selain Turkish Bath dengan air panas alam, di pasar tradisional Budapest juga masih banyak makanan yang dijual dengan bumbu khas Turki. Jejak Turki dengan Islamnya masih sangat tersa di negeri ini.
Setelah Kekhalifahan Turki Usmani tumbang pada tahun 1922 M, Hungaria dengan ibu kotanya Budapest berkembang jadi kerajaan yang sangat disegani di Eropa Tengah bersama Austria, Swiss, dan Ceko.
Bersamaan dengan berkurang dan menipis hingga hilangnya pengaruh Turki Usmani di Hongaria, eksistensi Islam dan umatnya pun semakin terancam. Dalam catatan sejarah banyak umat Islam dipaksa masuk Kristen dan banyak pula yang dibunuh karena menolak pindah agama. Sesuatu yang kontras dengan era Turki Usmani yang justru memberi kebebasan dan perlindungan kepada penganut agama lainnya.

Masjid-masjid yang dulu dibangun umat Islam satu persatu direbut dan dikuasai kaum Kristen Ortodok di negeri itu dan diubah fungsinya menjadi gereja. Karena itu, wajar saja bila banyak wisatawan muslim yang berkunjung ke Hongaraia, utamanya ke Budapest, bertanya-tanya, “Kok, banyak gereja di sini mirip sekali dengan masjid?”
Sebagai seorang muslim, saat hari pertama menginjakkan kaki di Kota Budapest dan melihat di sejumlah menara “masjid” terpasang salip, sungguh hati saya terasa galau. Ini tentu sebuah kegalauan yang alamiah terkait dengan nestapa jejak peradaban Islam di sebuah tempat.
Rasa “emosional” tersebut juga terpicu oleh aktivitas saya selama ini yang relatif intens membaca dan mempelajari sejumlah referensi terkait sejarah dinamika Khalifah Turki Usmani termasuk ekspansi dan jasa besar imperium ini memperkenalkan Islam ke dataran Eropa. Termasuk ke Hongaria.
Makanya, ketika tiba di Budapest saya melihat sejumlah masjid yang di puncak menaranya tak lagi bertengger bulan sabit, saya merasa bagaikan terjerembab dalam romantisme psikologis.
Andai gereja-gereja di sini masih berfungsi sebagai masjid seperti sebelumnya, maka selama dua malam saya menginap di Kota Budapest pasti lima kali sehari semalam saya akan mendengarkan lantunan azan yang syahdu dengan logat Eropa dari menara-menara indah gereja itu.

Namun apalah daya, selama di Kota Budapest yang saya dengar justru bunyi lonceng gereja yang bertalu-talu setiap satu jam sekali. Dan yang sangat “mengganggu serta menyiksa” nurani saya adalah ketika lonceng gereja itu berdering di kala alam sunyi sepi saat seharusnya lantunan azan subuh bergema.
Seperti halnya di tanah air, saat menjelang subuh bersama istri saya sudah terbangun. Pada subuh pertama kami di Budapest, di kamar hotel istri saya berkata, “Ayah, kok nggak ada suara azan di sini ya?”
Saya termenung, kemudian saya ajak istri shalat Subuh berjamaah di kamar hotel. Saya pun berbisik, “Sungguh, ayah pun merindukan bunyi azan dari langit Budapest ini!”
Sumber : Usamahelmadny.com
by Danu Wijaya danuw | Jul 14, 2017 | Artikel, Berita, Nasional
Kunjungan Presiden RI Joko Widodo ke Turki menghasilkan berbagai kesepakatan antar kedua negara. Hasil salah satunya berupa kesepakatan investasi senilai US$ 520 juta (setara dengan Rp 6,7 triliun Selain itu adalah kesepakatan bisnis antara perusahaan Indonesia dengan Turki.
Seperti perjanjian antara PT Dirgantara Indonesia dengan Turkish Aerospace Industry mengenai pengembangan pesawat jenis turboprop baling-baling. Pesawat yang akan dikembangkan oleh kedua negara adalah pesawat N245.
Kerjasama Membuat Pesawat
Deputi Bidang Usaha Pertambangan, Industri Strategis dan Media Fajar Harry Sampurno mengaku, bukan tanpa alasan PT DI memilih Turki sebagai negara mitra dalam pengembangan N245.

Kerjasama Pengembangan Pesawat 245
“Turki itu pengguna terbesar CN235. PT DI juga sudah memberikan banyak teknologi modifikasi mission control dan perawatan CN235 ke Turki,” kata Harry kepada Liputan6.com, seperti ditulis Minggu (9/7/2017).
Indonesia-Turki Bikin Tank
Jokowi menyambut baik hasil konkret kerja sama industri pertahanan, antara lain peluncuran tank kelas menengah Kaplan MT.
Tank tempur ini merupakan produksi bersama antara Indonesia dan Turki yang dikembangkan oleh FNSS Turki dan PT Pindad Indonesia.
1. Kerja Sama Tank Medium Kaplan MT
Model Tank Medium FNSS Turki dan PT Pindad, pertama kali muncul di Indo Defence, awal November 2016 di Jakarta. Wujud nyatanya, berupa prototype akhirnya muncul pada IDEF 2017 di Istanbul Turki.

Dua buah Tank Medium Kaplan kerjasama Indonesia-Turki di acara Indo Defence
2. Tank Medium Kaplan (FNSS Savunma)
Tank Medium berbobot hingga 35 ton ini, memiliki kemampuan tembakan langsung yang akurat, berbagai pilihan amunisi mulai dari dukungan tembakan (close fire support) hingga amunisi anti-tank. Tank ini juga memiliki mobilitas taktis dan strategi yang superior.
Tank Medium 105mm ini didukung oleh power pack di bagian belakang kendaraan, yang memberikan rasio power-to-weight sekitar 20 HP / ton. Mesin memindahkan tenaga ini ke sistem penggerak, yang memiliki sistem suspensi anti-shock enam roda dengan tuas ganda yang dipasang pada torsi, dengan daya jelajah operaional 450 km.
Daya tembak tank disediakan oleh CMI Cockerill 3105 turret, terintegrasi dengan senapan tekanan tinggi 105mm Cockerill dan autoloader tingkat lanjut. Berkat turret ini, tank medium KAPLAN memiliki kekuatan senjata yang tinggi meski bobotnya relatif rendah.
Rencananya Tank ini mulai diproduksi pada tahun 2018 dan diharapkan muncul dalam Peringatan Hari TNI ke-72, tanggal 5 Oktober 2017. Selain untuk Angkatan Darat Indonesia
Kerja Sama Kapal Selam
Sebelumnya, koran Handelsblatt yang berbasis di Düsseldorf, Jerman, melaporkan bahwa ThyssenKrupp, perusahaan yang juga memproduksi kapal selam dengan mitra dari Turki, dalam negosiasi untuk bermitra mengambil bagian dalam proyek kapal selam Indonesia, yang dikutip oleh Dailysabah.com, 4 Mei 2017.
“Tadi juga telah kita sepakati untuk menambah kerja sama di bidang pembuatan kapal selam dan truk, dan ini juga akan segera ditindaklanjuti oleh tim dari kedua negara,” ujar Presiden Jokowi.

Desain Kapal Selam Type 209 Thyssenkrup Marine Systems (TKMS) di Asian Defence and Security (ADAS) Trade Show 2016, (rhk111)
Bulan sebelumnya, Galangan Kapal Gölcük Turki di provinsi Kocaeli mengajukan sebuah proposal kepada tentara Indonesia untuk kapal selam tipe 214. Menurut laporan tersebut, Golcük Shipyard akan menjadi tuan rumah sekelompok pejabat yang datang berasal dari ibu kota Indonesia, Jakarta.
Selama hampir 50 tahun terakhir, angkatan laut Turki telah memesan kapal selam dari galangan kapal Grup Ruhr, yang saat ini beroperasi di bawah TKMS.
Turki diharapkan bisa bekerjasama dengan TKMS untuk memasuki bisnis ekspor dengan bersama-sama ingin menjual kapal selam ke Indonesia, menurut surat kabar Jerman, yang diyakini telah menerima laporan intelejin dari orang dalam industri.
Sumber : Indogreater/Liputan6
by Danu Wijaya danuw | Jul 14, 2017 | Artikel, Berita, Internasional
Ribuan orang berkumpul di Sebrenica untuk memperingati 22 tahun pembantaian Muslim Bosnia dilansir dari Evening Standard, Selasa (11/7). Para kerabat terlihat menangis di atas peti mati hijau yang berjajar menunggu untuk dikubur di antara batu nisan putih di pemakaman di Potocari. Tahun ini, ada 71 korban baru yang teridentifikasi.
Pada 11 Juli 1995 terjadi pembantaian Sebrenica hingga sekitar dua pekan setelahnya. Sebrenica merupakan sebuah kota di bagian timur Bosnia Herzegovina.
Negara tersebut berpenduduk Muslim dengan jumlah yang signifikan di Benua Eropa.
Laman Forbes, Senin (10/7), mengutip pandangan mantan sekjen PBB Kofi Annan. Pada 2005, Annan menyebut tragedi Sebrenica sebagai kasus pembantaian yang paling buruk sejak Perang Dunia II.
Hanya lima hari sejak 11 Juli 1995, sebanyak 8.372 orang anak-anak dan dewasa dibantai kekuatan Serbia. Di lapangan, para pelaku merupakan laskar Republik Srpska Scorpion di bawah pimpinan Ratko Mladic.

Seorang wanita berjalan diantara 8.000 makam pembantaian Bosnia
Pembantaian Sebrenica merupakan puncak dari konflik yang mendera Bosnia sejak 1992. Ini juga adalah bagian dari rentetan turbulensi politik dan militer yang mendera Yugoslavia, uni pro-komunisme yang mewadahi delapan negara, termasuk Bosnia Herzegovina sejak akhir PD-II.
Pada 1 Maret 1992, Bosnia Herzegovina menyatakan kemerdekaannya dari Yugoslavia. Sekitar dua bulan kemudian, negara baru ini masuk keanggotaan PBB. Akan tetapi, justru situasi ketegangan antar etnis tidak kunjung reda.
Sebenarnya, sejak April 1993, PBB telah menetapkan kawasan Sebrenica sebagai wilayah proteksi PBB. Hal itu menyusul ketegangan antar etnis di kawasan bekas Yugoslavia itu.
Namun, pada Juli 1995, para tentara penjaga perdamaian dari PBB tidak dapat mencegah masuknya tentara Republik Srpska ke Sebrenica, sehingga mereka dapat dengan leluasa menjarah dan membunuh para penduduk sipil yang kebanyakan Muslim itu.
Pada 26 Februari 2007, Mahkamah Internasional menjatuhkan vonis yang antara lain menegaskan pembantaian Sebrenica sebagai sebuah genosida.
Sedikitnya, ada 11 orang yang dijatuhi hukuman karena terbukti bersalah. Rentang masa hukuman berbeda-beda tetapi tidak ada yang lebih dari 43 tahun.

Slobodan Milosevic, seorang Komunis pemimpin pembantaian etnis Bosnia, Kroasia, Herzegovina
Belakangan, setelah lama berkelit, pada 1999, Slobodan Milosevic akhirnya divonis oleh Mahkamah Internasional untuk Negara-negara Bekas Yugoslavia (ICTY). Milosevic terbukti bersalah sebagai penjahat perang terkait perang di Bosnia, Kroasia, dan Kosovo.
Namun, Milosevic keras menyangkalnya. Lima tahun lamanya pengadilan atas diri Milosevic berlangsung. Pada 11 Maret 2006, dia meninggal dunia dalam tahanannya di Den Haag, Belanda karena mengidap serangan jantung.
Dilansir Forbes, Parlemen Eropa telah mengeluarkan resolusi pada 15 Januari 2009 yang mengakui Hari Peringatan Sebrenica. Hal ini mendahului respons dari PBB, yang baru pada 2015 secara resmi mengakui tragedi Sebrenica sebagai sebuah genosida, sekalipun upaya PBB ini diblok oleh Rusia, negeri bekas komunis.
Sumber : Evening Standard/Republika
by Danu Wijaya danuw | Jul 14, 2017 | Adab dan Akhlak, Artikel
DALAM perjalanan hidup, manusia sering kali melakukan dosa yang disengaja maupun yang tidak disengaja. Banyak dari kita yang tidak menyadari kesalahan yang telah diperbuat, dan hanya sedikit manusia yang menyadari kesalahannya.
Sebenarnya, kesalahan-kesalahan tersebut dapat kita hindari dengan berintrospeksi diri. Kebanyakan orang dengan angkuhnya tidak mau mengoreksi kesalahan yang telah dilakukannya, dan tetap pada pendirian bahwa semua itu adalah kebenaran.
Sejatinya tidak semua perbuatan itu benar, terkadang banyak sekali perbuatan yang harus dihindari karena hanya mengikuti hawa nafsu belaka.
Tanpa disadari, ternyata dengan melakukan introspeksi diri, itu akan melahirkan banyak hikmah yang luar biasa bagi diri sendiri. Berikut penjelasannya.
Pertama, Musibah terangkat dan hisab diringankan.
Hikmah yang akan didapat oleh seseorang yang suka berintrospeksi diri adalah terangkatnya musibah dan hisab akan diringankan ketika hari kiamat kelak.
Seperti yang di katakan Umar radhiallahu anhu dalam H.R Tirmidzi:
“Sesungguhnya hisab pada hari kiamat akan menjadi ringan hanya bagi orang yang selalu menghisab dirinya saat hidup di dunia”(H.R Tirmidzi).
Setelah seseorang menyadari bahwa ia telah melakukan sebuah kesalahan yang melenceng dari agama Allah, maka jalan keluarnya yakni kembali ke jalan Allah lewat introspeksi diri dan taubat sebagaimana sabda Rasulullah SAW:
Kedua, Hati lapang terhadap kebaikan dan mengutamakan akhirat daripada dunia.
Dalam sebuah hadits dari Ibnu Mas’ud disebutkan, “Suatu ketika seorang raja yang hidup di masa sebelum kalian berada di kerajaannya dan tengah merenung. Dia menyadari bahwasanya kerajaan yang dimilikinya adalah sesuatu yang tidak kekal dan apa yang ada di dalamnya telah menyibukkan dirinya dari beribadah kepada Allah.
Akhirnya, dia pun mengasingkan diri dari kerajaan dan pergi menuju kerajaan lain, dia memperoleh rezeki dari hasil keringat sendiri. Kemudian, raja di negeri tersebut mengetahui perihal dirinya dan kabar akan keshalihannya. Maka, raja itupun pergi menemuinya dan meminta nasehatnya. Sang raja pun berkata kepadanya,
“Kebutuhan anda terhadap ibadah yang anda lakukan juga dibutuhkan oleh diriku”. Akhirnya, sang raja turun dari tunggangannya dan mengikatnya, kemudian mengikuti orang tersebut hingga mereka berdua beribadah kepada Allah azza wa jalla bersama-sama” (Hasan. HR. Ahmad).
Ketiga, Memperbaiki hubungan di antara sesama manusia.
Ternyata introspeksi diri itu memiliki hikmah untuk memperbaiki hubungan di antara sesama manusia. Seperti sabda Rasulullah SAW:
“Sesungguhnya pintu-pintu surga dibuka pada hari Senin dan Kamis, di kedua hari tersebut seluruh hamba diampuni, kecuali mereka yang memiliki permusuhan dengan saudaranya. Maka dikatakan, “Tangguhkan ampunan bagi kedua orang ini hingga mereka berdamai.” (Sanadnya shahih. HR. Ahmad).
Keempat, Terbebas dari sifat nifak.
Hikmah yang terakhir dari introspeksi diri adalah dapat terbebas dari sifat nifak. Ibrahim at-Taimy mengatakan: “Tidaklah diriku membandingkan antara ucapan dan perbuatanku, melainkan saya khawatir jika ternyata diriku adalah seorang pendusta (ucapannya menyelisihi perbuatannya).”
Selain Ibrahim at-Taimy, Ibnu Abi Malikah juga berkata: “Aku menjumpai 30 sahabat Nabi shallallahu alaihi wa sallam, merasa semua mengkhawatirkan kemunafikan atas diri mereka. Tidak ada satupun dari mereka yang mengatakan bahwa keimanannya seperti keimanan Jibril dan Mikail.” (H.R. Bukhari).
Sudah sepantasnya kita menyadari kesalahan dan memperbaikinya di kemudian hari agar Allah SWT senantiasa memberikan rahmat dan hidayah-Nya.
by Danu Wijaya danuw | Jul 14, 2017 | Artikel, Dakwah
Diceritakan ada seorang pedagang di Saudi Arabia. Pada awal dia meniti karir dalam bisnis, dulunya dia bekerja di sebuah pelabuhan di negeri ini. Semua barang-barang perniagaan yang akan masuk harus melalui dia dan mendapatkan tanda tangannya.
Dia tidak suka kepada orang yang main kolusi dan suap-menyuap. Tetapi dia tahu bahwa atasannya senang mengambil uang suap. Sampai akhirnya teman kita yang satu ini didatangi oleh orang yang memberitahunya agar tidak terlalu keras dan mau menerima apa yang diberikan oleh penyuap untuk mempermudah urusannya.
Setelah mendengar perkataan tersebut, dia gemetar dan merasa takut. Ia lalu keluar dari kantornya, sementara kesedihan, penyesalan dan keraguan terasa mencekik lehernya. Hari-hari mulai berjalan lagi, dan para penyuap itu datang kepadanya. Yang ini mengatakan, ‘Ini adalah hadiah dari perusahaan kami’. Yang satu lagi bilang, ‘Barang ini adalah tanda terima kasih perusahaan kami atas jerih payah Anda’.
Dan dia selalu mampu mengembalikan dan menolak semuanya. Tetapi sampai kapan kondisi ini akan tetap berlangsung? Dia khawatir suatu waktu mentalnya akan melemah dan akhirnya mau menerima harta haram tersebut. Dia berada di antara dua pilihan; meninggalkan jabatannya dan gajinya atau dia harus melanggar hukum-hukum Allah Ta`ala dan mau menerima suap.
Karena hatinya masih bersih dan masih bisa meresapi firman Allah Ta`ala, “Dan siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Allah akan menjadikan untuknya jalan keluar dan akan memberinya rizki dari arah yang tidak disangka-sangkanya.” (Ath-Thalaq: 2-3).
Akhirnya dia memutuskan untuk mengundurkan diri dari jabatannya. Dia berkata, ‘Tak lama setelah itu Allah Ta`ala mengaruniakan untukku kapal kargo yang kecil. Aku pun memulai bisnisku, mengangkut barang-barang. Lalu, Allah mengaruniakan kapal kargo lain lagi. Sebagian pedagang mulai memintaku untuk mengangkut barang-barang perniagaan mereka, karena aku memang sangat hati-hati, seolah-olah barang-barang itu milikku sendiri.
Di antara kejadian yang menimpaku adalah sebuah kapal kargoku menabrak karang dan pecah. Penyebabnya, karena sang nahkoda tertidur. Dia meminta maaf. Tanpa keberatan aku memaafkannya. Maka, merasa heranlah seorang polisi lalu lintas laut, karena aku begitu mudah memaafkan orang. Dia berusaha berkenalan denganku.
Setelah berlangsung beberapa tahun, dia -polisi itu- bertambah tinggi jabatannya. Saat itu datang barang-barang perniagaan dalam jumlah besar. Dia tidak mau orang lain, dia memilihku untuk mengangkut barang-barang tersebut tanpa tawar menawar lagi.”