0878 8077 4762 [email protected]

Menghadap-Nya

Tausiyah Iman – 23 April 2016
 
Bila berwudhu, wajah Ali ibn Husein ra menjadi pucat.
Ketika ditanya, “Mengapa wajahmu pucat setiap kali berwudhu?” Ia menjawab, “Engkau tahu di hadapan siapa aku akan berdiri?”
اللهم اجعلنا من الخاشعين في الصلاة
Ustadz Fauzi Bahreisy
(Baca juga: Ridha Akan Ujian)
•••
Join Channel Telegram: http://tiny.cc/Telegram-AlimanCenterCom
Like Fanpage: fb.com/alimancentercom
•••
Rekening donasi dakwah:
BSM 703.7427.734 an. Yayasan Telaga Insan Beriman

Respon Mukmin

Tausiyah Iman – 21 April 2016
 
Ukuran keimanan seseorang ternyata tidak hanya dilihat dari ibadahnya, shalatnya, puasanya, hajinya, dan seterusnya. Akan tetapi, juga dilihat dari sikapnya ketika melihat dan merespon kemungkaran.
Saat melihat kemungkaran, seorang mukmin tidak boleh diam, abai, apalagi sampai ridha dan mendukung. Namun, ia harus menunjukkan pembelaan dan loyalitasnya kepada Allah dengan berusaha mengubah kemungkaran tersebut. Itulah ciri dari mukmin sejati.
Allah berfirman, “Kalian adalah umat terbaik yang dikeluarkan untuk manusia. Kalian menyuruh kepada kebaikan dan mencegah dari kemungkaran” (QS Ali Imran: 110).
Ustadz Fauzi Bahreisy
(Baca juga: Adab Di Dalam Majelis & Adab Terhadap Guru)
•••
Join Channel Telegram: http://tiny.cc/Telegram-AlimanCenterCom
Like Fanpage: fb.com/alimancentercom
•••
Rekening donasi dakwah:
BSM 703.7427.734 an. Yayasan Telaga Insan Beriman

Memaknai Kesuksesan

Oleh: Fauzi Bahreisy
 
Setiap manusia pasti menginginkan kemenangan, kesuksesan, dan keberhasilan. Ini merupakan fitrah dan tabiat yang melekat dalam diri setiap insan. Namun, bagaimana mempersepsikan kemenangan dan bagaimana cara untuk mendapatkannya, manusia terbagi dalam dua kelompok besar.
Pertama, kelompok yang menakar dan mengukur kemenangan dengan angka-angka dan sesuatu yang bersifat lahiriah dan fisik, seperti banyaknya harta, tingginya kedudukan, banyaknya suara dan dukungan, popularitas, serta aksesori duniawi lainnya.
يَعْلَمُونَ ظَاهِرًا مِّنَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ عَنِ الْآخِرَةِ هُمْ غَافِلُونَ
[الجزء: ٢١ | الروم (٣٠)| الآية: ٧]
Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia, sedangkan terhadap (kehidupan) akhirat mereka lalai.” (QS Arrum [30]: 7).
Karena orientasinya hanya tertuju kepada dunia, kelompok ini tidak memedulikan cara untuk mendapatkan kemenangan. Apakah benar atau salah, halal atau haram, baik atau tidak. Yang penting sukses dan menang.
Ketika apa yang diinginkan tercapai dan berhasil didapat, mereka menjadi bangga dan lupa diri, lalu bertingkah seperti Qarun, Firaun, dan Namrud. Sebaliknya, ketika gagal, mereka menjadi malu, stres, frustrasi, depresi, dan tidak sedikit yang berujung pada bunuh diri.
Adapun kelompok kedua, mereka adalah kaum beriman yang orientasi hidupnya jelas; yaitu tertuju kepada akhirat. Dunia bagi mereka hanya sarana untuk menggapai akhirat. Karena itu, standar kemenangan hakiki bagi mereka bukan dunia, tapi mendapat ridha Allah SWT dan meraih surga-Nya.
(Baca juga: Sejauhmana Hubungan Kita dengan Al Quran)
Siapa yang dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, sungguh ia telah menang. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdaya.” (QS Ali Imran [3]: 185).
Mereka tidak terperdaya dengan dunia yang singkat dan fana. Mereka tidak mau tertipu dengan kesuksesan yang memperdaya.
Mereka tidak mau menghalalkan segala cara. Sebab,
‎ان الله طيب لا يقبل الا طيبا
mereka mengerti, Allah SWT Maha Baik. Dia hanya menerima yang baik-baik (Al Hadis).
Lalu, ketika kemenangan dan kesuksesan duniawi diraih, mereka bersyukur dan menampakkan kegembiraan secara proporsional.
(Baca juga: Urgensi Amar Ma’ruf Nahi Munkar)
Sebaliknya, ketika usahanya tidak seperti yang diharapkan, mereka bersabar; tidak stres dan frustrasi. mereka sadar bahwa seluruh amal dan karyanya tidak akan sia-sia. Sepanjang dilakukan untuk Allah SWT, ia akan membuahkan ganjaran di sisi-Nya.
Inilah kemenangan, kesuksesan, dan keberhasilan hakiki. Di dunia bahagia, dan diakhirat akan mendapat kebahagiaan yang jauh lebih besar.

Keringat Bahagia dan Derita

Tausiyah Iman – 15 April 2016
 
Penat, capek, dan lelah.
Belum lagi keringat yang mengucur di tubuh dan membasahi pakaian.
Itulah yang kita alami saat selesai bekerja dan beraktifitas.
Namun percayalah bahwa di samping sebagai reaksi tubuh akibat aktivitas dan kerja, keringat juga bisa menjadi saksi atas kebaikan atau keburukan seseorang di hari hisab.
Karena itu berbahagialah kalau masih bisa mengeluarkan keringat. Hanya saja, pastikan bahwa keringat itu keluar karena ibadah, taat, dan amal saleh yang dilakukan dengan sepenuh upaya.
(Baca juga: Cara Meraih Sukses)
Jika tidak, keringat tersebut akan keluar sebagai bentuk dan tanda duka.
Imam Abu Hamid al-Ghazali berkata,
“Setiap tetes keringat yang tidak keluar di jalan Allah entah karena berhaji, jihad, puasa, qiyam, membantu sesama, atau amar makruf nahi mungkar, maka keringat tersebut akan keluar karena rasa malu dan takut di hari kiamat disertai panjangnya derita.”
Karena itu, biarlah keringat ini keluar dalam rangka kebaikan. Hanya saja, jangan sampai ia mengganggu dan membahayakan diri dan orang di sekitar kita…..
Ustadz Fauzi Bahreisy
(Baca juga: Peran Ibu)
•••
Join Channel Telegram: http://tiny.cc/Telegram-AlimanCenterCom
Like Fanpage: fb.com/alimancentercom
•••
Rekening donasi dakwah:
BSM 703.7427.734 an. Yayasan Telaga Insan Beriman

Cara Meraih Sukses

Tausiyah Iman – 12 April 2016
Cara Meraih Sukses
 
Manusia mengharap banyak kebaikan dalam hidup.
Ia ingin senang, bahagia, sukses, dan jauh dari bencana
Bagaimana cara meraih itu semua?
Imam Ahmad ibn Hambal rahimahullah berkata,
‎إذا أحببت أن يدوم الله لك على ما تحب فدم له على ما يحب.
“Bila engkau ingin Allah terus memberimu seperti yang kau inginkan, persembahkan untuk-Nya apa yang Dia inginkan.”
Ustadz Fauzi Bahreisy
•••
Join Channel Telegram: http://tiny.cc/Telegram-AlimanCenterCom
Like Fanpage: fb.com/alimancentercom
***
Rekening donasi dakwah:
BSM 703.7427.734 an. Yayasan Telaga Insan Beriman