by Fauzi Bahreisy fauzibahreisy | Apr 14, 2016 | Artikel, Buletin Al Iman
Oleh: Fauzi Bahreisy
Belakangan ini muncul begitu banyak aliran dan pemikiran sesat di tengah-tengah masyarakat. Mulai dari yang mengaku sebagai nabi dan malaikat hingga kepada yang mengaku sebagai pengikut imam yang ma’shum (suci), mulai dari kelompok yang mengingkari sunnah hingga kelompok yang mudah mengafirkan orang, mulai dari kelompok yang mencela sahabat hingga yang mencela para isteri Rasulullah, mulai dari kelompok yang menafikan kebenaran agama hingga kelompok yang menganggap seluruh agama sama.
Munculnya berbagai kelompok dan aliran sesat tersebut disebabkan oleh banyak faktor. Akan tetapi, yang paling dominan adalah kurangnya pemahaman dan pengetahuan yang komprehensif tentang Islam. Inilah yang membuat banyak orang akhirnya tersesat dan menyempal dari jalan kebenaran.
Karena itu, beragama tidak bisa dibangun di atas landasan perasaan, kecenderungan, dan keinginan individu atau kelompok. Namun, beragama harus dibangun di atas landasan pemahaman dan pengetahuan. Itulah sebabnya wahyu pertama berbunyi, “Iqra!” (bacalah!). Lalu disusul kemudian dengan, “Nûn. Demi pena dan apa yang mereka tulis.” (QS al-Qalam: 1). Juga Allah befirman, “Ketahuilah bahwa tidak ada ilah (Tuhan) selain Allah. Mohonlah ampunan atas dosamu.” (QS. Muhammad: 19).
Ayat-ayat di atas dan sejumlah ayat Al Qur’an lainnya menegaskan pentingnya membaca, menulis, dan belajar. Namun, apa yang harus kita pelajari dan kita ketahui agar lulus dan selamat? Apa sumber pengetahuan utama muslim? Tentu saja Al Qur’an sebagai wahyu terakhir yang menjadi pedoman hidup muslim serta sunnah yang merupakan contoh aplikatif dari nilai-nilai Al Qur’an seperti yang ditampilkan oleh Nabi saw.
Ya, sumber pengetahuan pertama bagi muslim adalah Al Qur’an. Al Qur’an diturunkan sebagai panduan sempurna, “Pada hari ini Kusempurnakan untukmu agamamu, Kucurahkan nikmat-Ku padamu, dan Aku rela Islam sebagai agamamu.” (QS. al-Maidah: 3). Karena itu, Allah sendiri yang menjaga orisinalitas Al Qur’an (lihat QS. al-Hijr: 9). Nabi pun menjadikan Al Qur’an sebagai pedoman pertama dalam mendidik sahabat. Sehingga ketika Umar ra di awal-awal pernah berkeinginan membaca Taurat, Nabi saw mengingatkannya agar fokus kepada Al Qur’an. Bahkan beliau bersabda, “Andaikan Musa masih hidup, tentu ia juga akan mengikutiku.”
Pedoman kedua sesudah Al Qur’an adalah as-Sunnah. Karena yang paling memahami isi Al Qur’an adalah Rasul saw, maka sunnah beliau berfungsi menguatkan dan menjelaskan isi dan maksud Al Qur’an. Sehingga siapapun yang ingin memahami Al Qur’an dengan benar, harus kembali kepada Sunnah. Oleh sebab itu, antara Allah dan Rasul saw serta antara Al Qur’an dan as-Sunnah tidak bisa dipisahkan. Allah befirman, “Katakan, ‘Taatilah Allah dan Rasul-Nya. jika kamu berpaling, Allah tidak menyukai orang-orang kafir.’” (QS. Ali Imran: 32). “Wahai orang-orang beriman, taatilah Allah, taatilah Rasul, dan ulil amri di antara kalian.” (QS. an-Nisa: 59). “Siapa yang taat kepada Rasul berarti ia taat kepada Allah.” (QS. an-Nisa: 80).
Demikian pula dalam hadits terdapat begitu banyak pesan dan arahan dari Nabi saw yang mengharuskan kita berpegang pada Al Qur’an dan Sunnah. Di antaranya beliau bersabda, “Kalian harus mengikuti sunnahku dan sunnah para khulafa ar-Rasyidin sesudahku. Gigitlah ia dengan geraham kalian.”
Jadi seorang muslim tidak boleh mengabaikan sunnah. Al Qur’an dan Sunnah adalah satu paket yang tidak bisa dipisahkan. Mengabaikan Sunnah karena di dalamnya terdapat hadits yang dhaif dan maudhu (palsu), atau karena tampak maknanya berbenturan dengan Al Qur’an, hanya alasan yang dibuat-buat. Pasalnya, para imam dan ahli hadits telah melakukan proses investigasi dengan sangat cermat dan rapi untuk memilah kualitas dan derajat hadits. Juga kalau tampak ada benturan dengan Al Qur’an, hal itu tidak lain karena akal manusia yang tidak bisa mencerna dan memahami, bukan malah Sunnahnya yang digugat dan dicurigai.
Oleh karenanya, dulu Abu Bakar ra saat diberi informasi tentang peristiwa isra dan mi’raj yang tampak tak masuk akal, beliau berkata, “Selama Nabi saw yang memberitakan, pasti benar.” Begitulah sikap muslim sejati. Ia percaya kepada semua informasi dari Rasul saw selama riwayatnya shahih dan valid. Imam Malik ra berkata, “Setiap orang bisa diambil dan ditolak perkataannya, kecuali Nabi saw.”
Kesimpulannya, agar tidak tersesat jalan, setiap muslim harus mengikuti dan berpegang pada apa yang telah dibawa dan diajarkan Nabi saw. Tidak lain adalah Al Qur’an dan as-Sunnah. Wallahu a’lam.
Sumber :
Artikel Utama Buletin Al Iman.
Edisi 332 – 5 Juni 2015. Tahun ke-8
*****
Buletin Al Iman terbit tiap Jumat. Tersebar di masjid, perkantoran, majelis ta’lim dan kantor pemerintahan.
Menerima pesanan dalam dan luar Jakarta.
Hubungi 0897.904.6692
Email: [email protected]
Dakwah semakin mudah.
Dengan hanya membantu penerbitan Buletin Al Iman, Anda sudah mengajak ribuan orang ke jalan Allah
Salurkan donasi Anda untuk Buletin Al Iman:
BSM 703.7427.734 an. Yayasan Telaga Insan Beriman
Konfirmasi donasi: 0897.904.6692
Raih amal sholeh dengan menyebarkannya!
by Fauzi Bahreisy fauzibahreisy | Apr 12, 2016 | Artikel, Dakwah
Iman punya rasa.
Rasa iman adalah manis dan nikmat.
Namun ia terasa pahit bagi orang yang jiwanya sedang sakit dan hatinya berkarat.
Siapa yg bisa merasakan manisnya iman?
Rasul saw bersabda “Merasakan manisnya iman orang yang ridho Allah sebagai Rabb-nya, Islam sebagai agamanya, serta Muhammad sebagai Nabi dan Rasulnya” (HR Muslim).
Dari hadits di atas jelas bahwa diantara syarat bisa merasakan manisnya iman:
Ridho dan mau diatur oleh Rabb karena percaya bahwa segala ketentuan dan perintah-Nya pasti mengandung kebaikan.
Yakin dan melaksanakan semua ajaran Islam.
Menerima Nabi Muhammad saw sebagai Nabi dan Rasul yg dikirim oleh Allah untuk menjadi guru, contoh, dan teladan.
Manakala iman sudah terasa nikmat, pantang utk ditukar dan dijual dengan dunia dan segala isinya.
Itulah yang ditunjukkan oleh orang-orang besar dan mulia. Semoga kita termasuk di dalamnya.
Alfaqir ilallah
Fauzi Bahreisy
***
Majelis Taklim Al Iman
Infaq kegiatan dakwah dapat disalurkan melalui rekening an. Yayasan Telaga Insan Beriman
BSM 703.7427.734
BNI 1911.203.63
Semoga Allah membalas dengan yang lebih baik dan memberikan keberkahan di dunia dan akhirat.
Kegiatan dakwah dapat dilihat di web www.alimancenter.com dan fanpage facebook: alimancenter
Silahkan disebarkan tanpa merubah isinya, semoga bermanfaat dan menjadi amal sholeh. Jazakumullah khairan
by Fauzi Bahreisy fauzibahreisy | Apr 11, 2016 | Artikel, Buletin Al Iman
Oleh: Fauzi Bahreisy
Islam adalah agama yang komprehensif. Tidak ada satupun aspek dalam kehidupan ini kecuali telah diatur oleh Islam. Minimal dalam bentuk rambu-rambu umum yang menjadi pijakan dan landasan dalam mengambil keputusan. Allah befirman,
“Kami turunkan kepadamu Al-Kitab (Al Quran) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri”. (QS an-Nahl: 89).
Apabila konsep sekuler Barat cenderung memisahkan antara urusan agama dan dunia, maka Islam menjadikan urusan dunia sebagai bagian dari agama. Apabila sebagian mereka berkata, agama adalah milik Allah sementara negara adalah milik manusia sehingga mereka bebas mengurus negara sesuai dengan keinginan mereka, maka Islam menegaskan bahwa agama dan negara semuanya merupakan milik Allah sehingga harus diurus sesuai dengan tuntunan-Nya. Bahkan kehidupan dan kematian kita juga merupakan milik Allah sehingga harus dipersembahkan untuk-Nya.
“Katakanlah: Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam. Tiada sekutu bagi-Nya; dan demikian Itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah)”. (QS an-Nahl: 162-163).
Oleh karena itu, masalah negara, kekuasaan, dan kepemimpinan tidak bisa dipisahkan dari spirit dan nilai-nilai ajaran Islam. Nash Al Qur’an, sejumlah riwayat hadits, pandangan para ulama serta realitas sejarah membuktikan hal tersebut. Di antara nash Al Qur’an yang membahas tentang masalah kekuasaan dan kepemimpinan adalah:
“Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri (pemimpin) di antara kamu”. (QS an-Nisa: 59).
Dalam hadits, Nabi saw bersabda,
“Jika tiga orang berada dalam sebuah perjalanan, hendaknya mereka mengangkat salah seorang dari mereka sebagai pemimpin”. (HR Abu Daud, Abu Ya’la dll).
Lalu sejarah juga membuktikan bagaimana ketika Nabi SAW wafat, hal yang menyibukkan para sahabat adalah memilih pemimpin. Bahkan masalah memilih pemimpin ini membuat proses penguburan jasad beliau menjadi tertunda.
Demikian sejumlah dalil dari begitu banyak dalil dan riwayat menunjukkan perhatian Islam terhadap masalah kekuasaan dan kepemimpinan. Sampai-sampai Ibnu Taimiyyah dalam buku as-Siyasah asy-Syar’iyyah berkata, “Harus diketahui bahwa al-Wilayah (perwalian dan kepemimpinan) urusan manusia merupakan kewajiban agama yang paling besar. Bahkan tidak ada artinya penegakan penegakan agama dan dunia tanpa adanya kepemimpinan (al-wilayah)…”
Imam al-Ghazali juga menegaskan, “Kekuasaan dan agama adalah anak kembar. Agama adalah dasar dan sultan (kekuasaan) merupakan penjaga.” (Ihya Ulumuddin I/71).
Jadi, kepemimpinan dan kekuasaan merupakan sebuah keniscayaan dan keharusan. Kepemimpinan adalah sesuatu yang inheren dalam Islam dan tidak bisa dipisahkan. Sebab tanpa adanya kepemimpinan, yang muncul adalah kekacauan dan ketidakteraturan. Tanpa adanya kekuasaan yang mengayomi, maka yang akan lahir adalah berbagai anarki dan kerusakan.
Apalagi pada masa sekarang saat kerusakan, kemaksiatan, dan kemungkaran merajalela. Untuk memberantas korupsi yang sudah menggurita, narkoba dan miras yang beredar luas dari kota hingga ke desa-desa, pornografi dan pornoaksi yang demikian masif dipertontonkan di mana-mana, kejahatan dan penyimpangan seksual yang dilakukan tanpa mengenal batas dan norma susila, serta untuk menghadapi berbagai kemungkaran lainnya, dibutuhkan sebuah kepemimpinan yang kuat. Kepemimpinan dan kekuasaan bisa menjadi senjata yang ampuh untuk melakukan pengendalian, memberikan pengarahan, dan memberikan pencerahan kepada umat.
Wallahua’lam.
Sumber :
Artikel Utama Buletin Al Iman.
Edisi 367 – 8 April 2016. Tahun ke-8
*****
Buletin Al Iman terbit tiap Jumat. Tersebar di masjid, perkantoran, majelis ta’lim dan kantor pemerintahan.
Menerima pesanan dalam dan luar Jakarta.
Hubungi 0897.904.6692
Email: [email protected]
Dakwah semakin mudah.
Dengan hanya membantu penerbitan Buletin Al Iman, Anda sudah mengajak ribuan orang ke jalan Allah
Salurkan donasi Anda untuk Buletin Al Iman:
BSM 703.7427.734 an. Yayasan Telaga Insan Beriman
Konfirmasi donasi: 0897.904.6692
Raih amal sholeh dengan menyebarkannya!
by Fauzi Bahreisy fauzibahreisy | Apr 3, 2016 | Artikel, Dakwah
Rasulullah saw bersabda “Perumpamaan orang-orang mukmin dalam hal saling kasih, saling menyayang dan saling mencintai adalah seperti sebuah tubuh, jika salah satu anggotanya merasa sakit, maka anggota tubuh yang lain ikut merasakan sulit tidur dan demam.” (Shahih Muslim No.4685).
Pelajaran yang bisa dipetik:
- Hadits di atas membeikan standar dan ukuran siapa yang disebut sebagai orang beriman atau orang mukmin.
- Keberadaan iman dalam diri ditandai dengan adanya cinta kasih diantara saudara seiman; bahkan ia seperti satu tubuh.
- Karena itu, mukmin sejati mencintai, mengasihi, membantu dan ikut merasakan derita dan kesulitan mukmin lainnya, di manapun ia berada dan dari manapun asalnya.
Shalahuddin al-Ayyubi satu saat ditanya, “Mengapa senyummu tak terlihat lagi?” Ia menjawab, “Bagaimana aku bisa tersenyum sementara al-Aqsa dalam kondisi tertawan? Bagaimana aku bisa ceria sementara kaum muslimin di sana dalam kondisi terjajah dan teraniaya?!”
Alfaqir ilallah
Fauzi Bahreisy
***
Majelis Taklim Al Iman
Infaq kegiatan dakwah dapat disalurkan melalui rekening an. Yayasan Telaga Insan Beriman
BSM 703.7427.734
BNI 1911.203.63
Semoga Allah membalas dengan yang lebih baik dan memberikan keberkahan di dunia dan akhirat.
Kegiatan dakwah dapat dilihat di web www.AlimanCenter.com dan fanpage facebook: AlimanCenter.com
Silahkan disebarkan tanpa merubah isinya, semoga bermanfaat dan menjadi amal sholeh. Jazakumullah khairan
by Fauzi Bahreisy fauzibahreisy | Mar 31, 2016 | Artikel, Buletin Al Iman
Oleh: Dr. Aidh al-Qarni
Amarah senantiasa merusak. Penyakit kanker telah menyita perhatian dunia dan menghabiskan banyak harta. Sementara marah yang menyebabkan terjadinya pembekuan darah dan kontraksi di mana ia justru lebih sering mengantarkan kepada kematian daripada kanker malah kurang mendapat perhatian.
Bahkan Dale Carnegie berkata, “Bencana akibat marah merupakan bencana terbesar yang dihadapi manusia. Akan tetapi, mereka tidak mau memerhatikan dan merenungkannya.”
Bahaya Marah
Marah mengantarmu berkonflik dengan pihak lain serta membuat persoalan semakin rumit. Marah membuatmu dinilai negatif dan tidak disukai oleh orang. Marah bisa melahirkan persoalan kesehatan yang besar. Misalnya, penyakit jantung, stroke, dan kanker yang dialami oleh orang-orang yang sering marah. Marah bisa mengantar pada serangan lisan dan fisik yang mengarah kepada sejumlah orang yang semestinya dicintai dan dihormati. Orang yang sedang marah biasanya mengucap atau melakukan sesuatu yang membuatnya setelah itu menyesal disertai dengan celaan yang tidak pantas.
Bentuk-bentuk Amarah
Dampak amarah pada lisan terlihat dengan keluarnya kata cacian dan ucapan kotor yang orang berakal malu dengannya. Termasuk pengucapnya sendiri malu ketika amarahnya reda. Nabi saw bersabda, “Dosa manusia yang paling banyak berada di lisannya.”
Dampak amarah pada anggota badan terlihat dalam bentuk pukulan, serangan, penghancuran, pembunuhan, dan penganiayaan di saat memungkinkan. Kadang orang yang marah merobek pakaiannya dan menampar dirinya. Rasul saw bersabda, “Bukan termasuk golongan kami orang yang menampar pipi dan merobek saku.” Kadang ia memukulkan tangannya ke tanah. Ia juga bisa kehilangan kontrol dan kesadaran.
Dampak amarah pada qalbu terlihat dalam bentuk sifat dengki, iri, menyembunyikan keburukan, senang dengan musibah yang menimpa orang, sedih dengan gembiranya, berusaha merusak rahasia, membuka hijab, mengolok-olok, dan berbagai sifat buruk lainnya.
Serta tentu saja amarah memberikan bahaya pada agama dan akhlak. Bahaya ini bisa berpengaruh pada kondisi fisik dan akal berikut pengaruh semuanya pada qalbu. Dari uraian tersebut kita bisa menangkap hikmah dari pesan Rasul yang agung, “Jangan marah!”
Diantara dampak amarah adalah sombong, ujub, sikap arogan, angkuh, dan otoriter. Bahkan buruknya kebijakan penguasa bersumber dari amarah. Jika ia bersikap otoriter hal itu disebabkan oleh amarah. Fir’aun marah kepada kaumnya. Ia berkata, “Yang kukemukakan kepada kalian adalah apa yang kulihat baik dan tidaklah aku menuntun kalian kecuali ke jalan yang benar.” (QS. Ghafir : 29).
Ia tinggalkan segala sesuatu untuk meluapkan amarahnya sampai akhirnya tenggelam di laut.
Saat sedang marah ia berkata, “Hai kaumku, bukankah kerajaan Mesir ini kepunyaanku dan (bukankah) sungai-sungai ini mengalir di bawahku?” (QS. az-Zukhruf : 51).
Maka, Allah mengalirkan air dari atas kepalanya akibat amarah yang ia luapkan.
Lembaran Sejarah
Tidak diragukan lagi bahwa ketika membaca sejarah hidup orang mulia, kau dapati ia adalah orang yang dapat mengendalikan amarah. Orang-orang mulia hanya marah dalam kebenaran. Mereka tidak dikendalikan oleh amarah dan hawa nafsu. Marah bukan sifat mereka.
Pemimpin yang lurus dan baik tidaklah pemarah, Pasalnya, jika ia pemarah tentu tidak akan memiliki kontrol dan pandangan yang lurus. Ia akan dipermainkan oleh setan. Sebab, dalam amarah terdapat kekuatan yang bisa menawan manusia. Kemudian setelah itu lahir sejumlah keputusan menyimpang yang jauh dari kebenaran. Hal itu karena ia lahir dalam kondisi tidak tenang dan dari pikiran yang tidak lurus. Oleh sebab itu, engkau bisa melihat pemimpin dunia dalam perjalanan hidupnya tidak memiliki penyakit jiwa kronis seperti amarah. Sebab, orang pemarah hidup dalam kondisi cacat secara kejiwaan. Hidupnya tidak sempurna dan tidak lurus. Hal itu karena kondisi amarah berlawanan dengan akal dan naql serta bertentangan dengan sifat dasar manusia dan apa yang seharusnya.
Pesan Nabi saw
Abu Hurairah ra meriwayatkan bahwa seseorang berkata, “Wahai Rasulullah, berikan wasiat singkat kepadaku!” Beliau bersabda, “Jangan marah!” Orang itu kembali mengulangi permintaannya. Namun Nabi saw tetap menjawab, “Jangan Marah!”
Diriwayatkan dari Abdullah ibn Amr ra bahwa ia bertanya kepada Rasulullah saw, “Apa yang bisa menyelamatkanku dari murka Allah?” Beliau menjawab, “Jangan marah.”
Abu ad-Darda berkata, “Wahai Rasulullah, tunjukkan padaku sebuah amal yang bisa mengantarku kepada surga.” Beliau menjawab, “Jangan marah!”
Wallahu a’lam.
Diterjemahkan oleh Ustadz Fauzi Bahreisy
Sumber :
Artikel Utama Buletin Al Iman.
Edisi 328 – 27 Maret 2015. Tahun ke-8
*****
Buletin Al Iman terbit tiap Jumat. Tersebar di masjid, perkantoran, majelis ta’lim dan kantor pemerintahan.
Menerima pesanan dalam dan luar Jakarta.
Hubungi 0897.904.6692
Email: [email protected]
Dakwah semakin mudah.
Dengan hanya membantu penerbitan Buletin Al Iman, Anda sudah mengajak ribuan orang ke jalan Allah
Salurkan donasi Anda untuk Buletin Al Iman:
BSM 703.7427.734 an. Yayasan Telaga Insan Beriman
Konfirmasi donasi: 0897.904.6692
Raih amal sholeh dengan menyebarkannya!