Oleh: Muhammad Syukron Muchtar
 
Dalam kitab Ad-Durr Al-Mantsur dijelaskan, suatu ketika, Rasulullah SAW mengabarkan penduduk Madinah bahwa Perang Tabuk berada diambang waktu.
Mendengar kabar itu seorang sahabat yang bernama Abu ‘Uqail begitu gelisah, ia gelisah bukan karena takut berperang. Tetapi ia gelisah karena tidak memiliki harta apapun yang bisa ia sedekahkan sebagai modal kaum muslimin dalam peperangan.
Maklum, Abu ‘Uqail adalah seorang sahabat yang tidak memiliki kecukupan harta, bahkan untuk kebutuhan makan saja ia harus berjuang dengan susah payah.
Namun, itulah kehebatan para sahabat, kekurangan harta tidak menghalangi mereka berpartisipasi dalam perjuangan.
Begitupun dengan Abu ‘Uqail, keadaannya tidak membuatnya menyerah, ia terus memikirkan bagaimana caranya agar bisa bersedekah.
Ia tidak ingin ketinggalan momentum emas peperangan Tabuk, hingga akhirnya Allah pun memberikan petunjuk dan ide hebat padanya.
Menawarkan jasa, itulah yang Abu ‘Uqail lakukan. Ia pergi menawarkan tenaganya pada seseorang dengan harapan menerima upah dari apa yang ia kerjakan, yang kemudian bisa ia sedekahkan dalam persiapan peperangan.
Abu ‘Uqail pun mendapatkan pekerjaan, yang ia lakukan adalah memikul tambang yang cukup berat, dan dari pekerjaannya inilah ia menerima upah dua sha’ (semisal dua karung) kurma.
Dari upah yang ia terima inilah kemudian Abu ‘Uqail bisa bersedekah. Satu sha’ ia berikan pada keluarganya dan satu sha’ lagi ia berikan pada Rasulullah SAW.

Tags

No responses yet

Leave a Reply

Your email address will not be published.

When people help people, change happens.

1773 Turkey Pen Road New York,
NY 10013 1-800-123-4567

Recent Comments
    X