by Danu Wijaya danuw | Feb 7, 2017 | Artikel, Dakwah
Imam Ahmad bin Hambal rahimakumullah dikenal murid Imam Syafi’i, dikenal juga sebagai Imam Hambali. Dimasa akhir hidupnya beliau bercerita;
Suatu waktu (ketika saya sudah usia tua) saya tidak tahu kenapa ingin sekali menuju satu kota di Irak. Padahal tidak ada janji sama orang dan tidak ada keperluan.
Akhirnya Imam Ahmad pergi sendiri menuju ke kota Bashrah. Beliau bercerita;
Begitu tiba disana waktu Isya’, saya ikut shalat berjamaah isya di masjid, hati saya merasa tenang, kemudian saya ingin istirahat.
Begitu selesai shalat dan jamaah bubar, imam Ahmad ingin tidur di masjid, tiba-tiba Marbot masjid datang menemui imam Ahmad sambil bertanya; “Kamu mau ngapain disini, syaikh?.”
Penjelasan : Kata “syaikh” bisa dipakai untuk 3 panggilan yaitu bisa untuk orang tua, orang kaya ataupun orang yang berilmu.
Panggilan Syaikh dikisah ini panggilan sebagai orang tua, karena marbot taunya sebagai orang tua.
Marbot tidak tau kalau beliau adalah Imam Ahmad. Dan Imam Ahmad pun tidak memperkenalkan siapa dirinya.
Di Irak, semua orang kenal siapa imam Ahmad, seorang ulama besar dan ahli hadits, sejuta hadits dihafalnya, sangat shalih dan zuhud. Zaman itu tidak ada foto sehingga orang tidak tau wajahnya, cuma namanya sudah terkenal.
Imam Ahmad menjawab, “Saya ingin istirahat, saya musafir.”
Kata marbot, “Tidak boleh, tidak boleh tidur di masjid.”
Imam Ahmad bercerita,
“Saya didorong-dorong oleh orang itu disuruh keluar dari masjid, Setelah keluar masjid, dikuncinya pintu masjid. Lalu saya ingin tidur di teras masjid.”
Ketika sudah berbaring di teras masjid Marbotnya datang lagi, marah-marah kepada Imam Ahmad. “Mau ngapain lagi syaikh?” Kata marbot.
“Mau tidur, saya musafir” kata imam Ahmad.
Lalu marbot berkata;
“Di dalam masjid gak boleh, di teras masjid juga gak boleh.” Imam Ahmad diusir. Imam Ahmad bercerita, “saya didorong-dorong sampai jalanan.”
Disamping masjid ada penjual roti (rumah kecil sekaligus untuk membuat dan menjual roti). Penjual roti ini sedang membuat adonan, sambil melihat kejadian imam Ahmad didorong-dorong oleh marbot tadi.
Ketika imam Ahmad sampai di jalanan, penjual roti itu memanggil dari jauh; “Mari syaikh, anda boleh nginap di tempat saya, saya punya tempat, meskipun kecil.”
Kata imam Ahmad, “Baik”. Imam Ahmad masuk ke rumahnya, duduk dibelakang penjual roti yang sedang membuat roti (dengan tetap tidak memperkenalkan siapa dirinya, hanya bilang sebagai musafir).
Penjual roti ini punya perilaku khas : kalau imam Ahmad ngajak bicara, dijawabnya.
Kalau tidak, dia terus membuat adonan roti sambil (terus-menerus) melafalkan istighfar : “Astaghfirullah” berkali-kali.
Saat memberi garam, astaghfirullah, memecah telur astaghfirullah, mencampur gandum astaghfirullah. Dia senantiasa mengucapkan istighfar. Sebuah kebiasaan mulia. Imam Ahmad memperhatikan terus.
Lalu imam Ahmad bertanya, “Sudah berapa lama kamu lakukan ini?”
Orang itu menjawab;
“Sudah lama sekali syaikh, saya menjual roti sudah 30 tahun, jadi semenjak itu saya lakukan.”
Imam Ahmad bertanya; “Apa hasil dari perbuatanmu ini?”
Orang itu menjawab;
“(lantaran wasilah istighfar) tidak ada hajat/keinginan yang saya minta, kecuali pasti dikabulkan Allah. Semua yang saya minta ya Allah, langsung diwujudkan.”
Rasulullah صلى الله عليه وسلم pernah bersabda;
“Siapa yg menjaga istighfar, maka Allah akan menjadikan jalan keluar baginya dari semua masalah dan Allah akan berikan rizki dari jalan yg tidak disangka-sangkanya.”
Lalu orang itu melanjutkan, “Semua dikabulkan Allah kecuali satu, masih satu yang belum Allah beri.”
Imam Ahmad penasaran lantas bertanya; “Apa itu?”
Kata orang itu;
“Saya minta kepada Allah supaya dipertemukan dengan imam Ahmad.”
Seketika itu juga imam Ahmad bertakbir, “Allahu Akbar..! Allah telah mendatangkan saya jauh dari Bagdad pergi ke Bashrah dan bahkan sampai didorong-dorong oleh marbot masjid sampai ke jalanan ternyata karena istighfarmu.”
Penjual roti itu terperanjat, memuji Allah, ternyata yang didepannya adalah Imam Ahmad.
Ia pun langsung memeluk dan mencium tangan Imam Ahmad.
Sumber : Kitab Manakib Imam Ahmad
Wallohu a’lam
Saudaraku dan Sahabatku tercinta….. Mulai detik ini, marilah senantiasa kita hiasi lisan kita dengan istighfar kapanpun dan di manapun kita berada.
Semoga Allah merahmati kita semua, Aamiin.
by Danu Wijaya danuw | Feb 7, 2017 | Artikel, Dakwah
Kita sering mendengar kata istighosah. Penjelasan gampangnya, istighosah adalah meminta pertolongan agar dihilangkan atau terlepas dari bala bencana. Istighosah berisi do’a permintaan pada Allah, itulah yang diperintahkan.
Jika istighosah ditujukan kepada Allah swt adalah boleh. Yang bermasalah adalah jika istighosah tersebut ditujukan pada selain Allah swt yang termasuk syirik bahkan syirik akbar. Bahkan jika dilakukan tidak sesuai etika dan tuntutan Nabi saw akan jatuh kepada kekufuran dan kemunafikan.
Apalagi jika istighosah sering ditambah dengan tumbal atau sesaji yang ditujukan pada hal tertentu seperti nyi Roro Kidul penjaga laut atau tumbal untuk Merapi penjaga kaki gunung. Inilah tradisi yang masih laris manis di masyarakat kita yang tidak jauh dari kesyirikan.
Memahami Istighosah
Ibnu Taimiyah berkata bahwa makna istighosah adalah, طَلَبِ الْغَوْثِ
“Meminta bantuan (pertolongan).” Majmu Fatawa karya Ibnu Taimiyah 1: 101.
Rasulullah dan para sahabat pernah melantunkan syair di saat menggali khandaq (parit). Rasul Saw dan sahabat r.a bersenandung bersama-sama dengan ucapan: “Haamiiim laa yunsharuun..”. Cerita ini termuat dalam buku sejarah tertua, yakni Kitab Sirah karya Ibnu Hisyam Bab Ghazwat Khandaq.
Istighosah termasuk do’a. Namun do’a sifatnya lebih umum karena do’a mencakup isti’adzah yaitu meminta perlindungan sebelum datang bencana. Sedangkan istighosah yaitu meminta dihilangkan bencana.
Istighosah adalah Ibadah
Dalil-dalil berikut menunjukkan bahwa istighosah termasuk ibadah dan tidak boleh dipalingkan kepada selain Allah.
Allah Ta’ala berfirman,
“Jika Allah menimpakan sesuatu kemudharatan kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia. Dan jika Allah menghendaki kebaikan bagi kamu, maka tak ada yang dapat menolak karunia-Nya. Dia memberikan kebaikan itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Yunus: 107).
Do’a dan ibadah lainnya hanya boleh ditujukan pada Allah dan do’a yang ditujukan pada selain-Nya termasuk kesyirikan karena tidak dapat mendatangkan manfaat dan menolak bahaya.
Ayat di atas menunjukkan pula bahwa pada hakekatnya, setiap bencana dan musibah yang menghilangkan adalah Allah semata. Jika ada suatu perkara bisa dihilangkan oleh makhluk dalam perkara yang ia mampu, maka itu hanyalah sebab. Namun hakekatnya Allah yang menakdirkan itu semua dengan izin-Nya.
Sehingga jika seseorang menujukan satu amalan kepada makhluk dalam perkara yang hanya bisa dilakukan oleh Allah, maka itu termasuk kesyirikan.
Biasanya kebanyakan orang Indonesia yang melakukan istighosah dan do’a adalah dalam rangka meminta rizki yaitu meminta lulus ujian nasional, kelanggengan perusahaan, dan kemudahan kondisi kesulitan suatu keadaan.
Dan rizki adalah sesuatu yang diberi atau dihadiahi. Dalam meminta rizki, kita diperintahkan untuk berharap pada Allah saja sebagaimana disebutkan dalam ayat,
“… Sesungguhnya yang kamu sembah selain Allah itu tidak mampu memberikan rizki kepadamu; maka mintalah rizki itu di sisi Allah, dan sembahlah Dia dan bersyukurlah kepada-Nya. Hanya kepada-Nyalah kamu akan dikembalikan.” (QS. Al ‘Ankabut: 17).
Syaikh Muhammad At Tamimi menyebutkan dalam kitab tauhid tentang fawaid dari ayat ini di mana beliau berkata, “Meminta rizki tidak boleh ditujukan selain pada Allah semata. Sebagaimana meminta surga tidak boleh meminta kecuali dari-Nya.”
Yang bisa mengabulkan do’a ketika seseorang dalam kesulitan atau istighosah hanyalah Allah semata. Allah Ta’ala berfirman,
أَمْ مَنْ يُجِيبُ الْمُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ وَيَكْشِفُ السُّوءَ وَيَجْعَلُكُمْ خُلَفَاءَ الْأَرْضِ أَئِلَهٌ مَعَ اللَّهِ قَلِيلًا مَا تَذَكَّرُونَ
“Atau siapakah yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan dan yang menjadikan kamu (manusia) sebagai khalifah di bumi? Apakah disamping Allah ada tuhan (yang lain)? Amat sedikitlah kamu mengingati(Nya).” (QS. An Naml: 62).
Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin berkata, “Jika selain Allah tidak bisa mengabulkan do’a hingga hari kiamat, bagaimana mungkin engkau menjadikan selain Allah sebagai tempat untuk berisitghosah?”
Kapan Istighosah Termasuk Syirik?
Sebagaimana telah dipahami bahwa istighosah adalah meminta pertolongan agar terhindar dari kesulitan, maka tidak boleh hal ini ditujukan selain pada Allah.
Suharno sebagai pemimpin ritual, mengatakan selain dilakukan istighosah di lereng merapi,
Ritual tersebut juga diikuti penanaman dua pasang kepala kerbau jantan dan betina sebagai tumbal kepada Merapi yang dilakukan di Jurang Jero, yang berjarak 40 km dari puncak Merapi.
Ritual tersebut dijelaskan Suharno sebagai bentuk komunikasi dan hubungan antara manusia dengan alam.
Padahal Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda,
وَلَعَنَ اللَّهُ مَنْ ذَبَحَ لِغَيْرِ اللَّهِ
“Allah melaknat orang yang menyembelih untuk selain Allah” (HR. Muslim no. 1978).
Dalam ayat, Allah Ta’ala berfirman,
قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
“Katakanlah: sesungguhnya sembahyangku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Rabb semesta alam” (QS. Al An’am: 162).
Semoga kita terhindar dari hal yang dimurkai Allah, akibat tidak sesuai kaidah Islam dan tuntutan Nabi saw.
Disadur dari : Rumasyo, M.Abdul Tuasikal
by Danu Wijaya danuw | Feb 2, 2017 | Artikel, Dakwah
Oleh: Ust. Farid Nu’man Hasan
Anjuran menghormati, memuliakan, dan mencintai ulama (orang-orang berilmu), sangat banyak, baik Al Quran dan As Sunnah. Bahkan Allah memuliakan mereka, maka pantaslah jika manusia memuliakan mereka pula.
Misalnya, Allah Ta’ala memerintahkan kita untuk menjadikan mereka sebagai tempat bertanya
“Maka bertanyalah kepada ahludz dzikri (orang yang mempunyai pengetahuan) jika kamu tidak mengetahui”. (Qs. An Nahl: 43).
Berkata Imam Al Qurthubi Rahimahullah dalam kitab tafsirnya:
Berkata Ibnu ‘Abbas: “Ahludz Dzikri adalah Ahlul Quran (Ahlinya Al Quran), dan dikatakan: Ahli Ilmu (ulama), makna keduanya berdekatan.” (Imam Al Qurthubi, Al Jami’ Li Ahkamil Quran, Juz. 10, Hal. 108, Ihya’ Ats Turats Al ‘Arabi, 1985M-1405H. Beirut-Libanon).
Allah Ta’ala membedakan kedudukan ulama dengan lainnya
Katakanlah: “Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” (Qs. Az Zumar: 9)
Allah Ta’ala menerangkan ulama itu orang yang takut kepada Allah
“Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun”. (Qs. Fathir: 28)
Allah Ta’ala mengangkat derajat orang beriman dan berilmu
“Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”. (Qs. Al Mujadilah: 11)
Dalam As Sunnah, saya ambil beberapa saja:
Bukan umat Rasulullah mereka yang tidak mengetahui hak-hak ulama
Dari ‘Ubadah bin Ash Shaamit Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Bukan termasuk umatku, orang yang tidak menghormati orang besar kami (orang tua, pen), tidak menyayangi anak kecil kami, dan tidak mengetahui hak para ulama kami.” (HR. Ahmad No. 22755, Al Bazzar No. 2718, Ath Thahawi dalam Syarh Musykilul Atsar No. 1328, Asy Syaasyi dalam Musnadnya No. 1272. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan: shahih lighairih. Lihat Tahqiq Musnad Ahmad No. 22755)
Tiga hal dalam hadits ini yang dinilai “bukan golongan umat Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam,” yakni, tidak menghormati orang besar/orang tua, tidak sayang dengan yang kecil, dan tidak mengetahui hak ulama yang dengan itu dia merendahkannya.
Imam Ibnu ‘Asakir memberikan nasihat buat kita, khususnya orang yang merendahkan ulama (karena mungkin merasa sudah jadi ulama sehingga dia berani merendahkannya!):
“Wahai saudaraku –semoga Allah memberikan taufiq kepada saya dan anda untuk mendapatkan ridhaNya dan menjadikan kita termasuk orang yang bertaqwa kepadaNya dengan sebenar-benarnya- dan ketahuilah, bahwa daging–daging ulama itu beracun, dan sudah diketahui akan kebiasaan Allah dalam membongkar tirai orang-orang yang meremehkan mereka, dan sesungguhnya barang siapa siapa yang melepaskan mulutnya untuk mencela ulama maka Allah akan memberikan musibah baginya dengan kematian hati sebelum ia mati: maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintahnya (Rasul) takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih. (Imam An Nawawi, At Tibyan, Hal. 30. Mawqi’ Al Warraq).
Allah Ta’ala umumkan perang kepada orang yang memusuhi para ulama
Dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: Sesungguhnya Allah Ta’ala berfirman: “Barang siapa yang memusuhi waliKu, maka aku telah umumkan peperangan kepadanya” (HR. Al Bukhari No. 6021)
Para ulama, amilin (orang yang beramal shalih), shalihin, zahidin (org yang zuhud), adalah para wali-wali (kekasih) Allah Ta’ala. Memusuhi mereka, maka Allah Ta’ala proklamirkan perang buat buat musuh-musuh mereka.
Demikian. Wallahu a’lam
by Danu Wijaya danuw | Feb 1, 2017 | Artikel, Dakwah
Oleh : Al Habib Muhamad Rizieq bin Husein Syihab
Tesis S-2 : Jabatan Fiqih dan Usul, Akademi Pengajian Islam, Universiti Malaya, Kuala Lumpur, Malaysia, Tahun 2012
Abstract
Pancasila in constitution of Republic of Indonesia is five Pillars Policy which are Belief in the one and only God, just and civilized humanity, the unity of Indonesia, Democracy guided by the inner wisdom in the unanimity arising out of deliberations amongst representatives, and social justice for all of the people of Indonesia.
The purpose of this thesis is to perform hypothesis on the existence of belief that all this while instilling of Syariah is impossible under the influence of Pancasila Principles. Therefore, the objective of this research focuses on researching the extend of the influence of Pancasila towards instilling of Islamic Syariah in Indonesia. The research will concentrate on the influence of Pancasila towards instilling the Syariah in term of constitutional after the country gained independence in 1945, and for the period of 62 years after that, which is the year 2007.
Bab 1 : Pendahuluan
Pada tanggal 22 Jun 1945, para tokoh perjuangan kemerdekaan Indonesia yang terdiri daripada berbagai latar belakang golongan dan agama, telah melaksanakan sutu ”kontrak sosial” yang menyepakati bahawa Negara Indonesia yang akan diproklamirkan kemerdekaannya dan yang akan dibangun kelak adalah bukan negara Agama dan bukan pula negara sekuler, melainkan suatu Negara Kesatuan yang ”Berdasarkan Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya.”
Konsensus Nasional tersebut telah dicapai dan ditandatangani oleh para Penubuh (Founding Father) Negara Indonesia dalam sebuah piagam yang disebut Piagam Jakarta 22 Jun 1945.
Negara yang diproklamirkan 62 tahun silam oleh Soekarno – Hatta atas nama bangsa Indonesia, pada hari Jumaat 17 Ogos 1945, bersamaan dengan 19 Ramadhan 1364 H., di Jalan Pegangsaan Timur No:56 Jakarta adalah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang ”Berdasarkan ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya”.
Piagam Jakarta 22 Jun 1945 menjadi pelopor sejarah, sekaligus menjadi pintu gerbang bagi penerapan syariah Islam di Indonesia secara perlembagaan (yuridis konstitusional) yang berlaku di Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Namun dalam perjalanan sejarah, semenjak kemerdekaan hingga kini, penerapan syariah Islam di Indonesia mengalami pasang surut. Berbagai halangan dan tentangan mencabar, samada yang datang dari pihak luar Islam atau pun dari dalam kalangan Islam sendiri, sehingga berlakunya percanggahan pemikiran antara kelompok Islam yang memperjuangkan syariah Islam dengan kelompok sekuler yang anti syariah Islam.
Selama itu, para pejuang syariah Islam jatuh bangun dalam perjuangannya. Berbagai peristiwa berdarah juga berlaku. Kerananya, usaha untuk menerapkan syariah Islam di Indonesia tidak boleh dianggap remeh. Hal ini kerana terdapat beberapa alasan penting yang perlu diambil kira, iaitu :
- Negara Indonesia adalah negara yang majoriti penduduknya muslim.
- Negara Indonesia adalah negara muslim yang wilayah teritorialnya amat luas.
- Kontrak sosial yang terjadi melalui konsensus nasional para Bapak Penubuh Negara Indonesia pada tahun 1945 adalah Negara Republik Indonesia berdasarkan ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya.
Penerapan syariah Islam di Indonesia dari semasa ke semasa mencipta sejarah tersendiri, sehingga menjadi subjek penelitian ilmiah yang amat menarik. Hal ini bukan sahaja untuk mengungkap fakta sejarah yang sebenarnya, melainkan juga untuk mengkaji sejak bila dan bagaimanakah syariah Islam menjadi bahagian dari kehidupan bangsa Indonesia.
Kerananya, menarik untuk disemak apa yang pernah disampaikan oleh KH.M. Isa Anshari rhm, sebagaimana dikutip oleh putranya, H. Endang Saifuddin Anshari MA rhm dalam bukunya Piagam Jakarta 22 Jun 1945 : ”bahawa satu-satunya alternatif bagi penyokong pancasila ialah merelakan pancasila dalam asuhan dan rawatan Islam”.
Selanjutnya beliau menambahkan : ”bahawa pancasila mesti hidup dengan teman-temannya sila yang lain, seribu satu sila yang tersebar dalam lembaran dan ajaran Islam”. Beliau pun menegaskan : ”Bila Pancasila tidak dijaga dengan cara seperti ini, maka akan ditelan oleh imperialisme dan komunisme”.
Kelompok Islam berpandangan bahawa sepatutnya pancasila cukup sebagai Dasar Negara sahaja, sehingga dalam kehidupan masyarakat dan kegiatan berorganisasi, samada dalam bidang sosial mahupun politik, siapa pun bebas untuk menetapkan asas dan pedoman aktiviti kehidupannya sesuai dengan keyakinannya masing-masing.
Masuk dalam kelompok ini, semua Parti Islam, termasuk : PPP, PKS dan PBB. Mereka mendoktrinasikan bahawasanya usaha Asas Tunggal Pancasila akan menjadi usaha Pensakralan Pancasila, iaitu usaha pengeramatan dan pendewaan pancasila untuk dijadikan sebagai suatu yang sakral dan suci.
Bab 2 : Sejarah Pancasila
2.2. Kelahiran Pancasila
2.2.1. Asal Mula Pancasila
Istilah Pancasila pertama kali diperkenalkan pada masa Kerajaan Majapahit oleh Empu Tantular dalam bukunya yang berjudul Sutasoma.
Pancasila berasal dari bahasa Sanskerta, iaitu bahasa kesusastraan Hindu Kuno. Ia terdiri dari dua kata, iaitu : Panca yang bererti lima, dan Sila yang bererti dasar. Jadi, Pancasila bererti Lima Dasar.
Istilah Pancasila sudah dikenal sejak zaman Kerajaan Majapahit, iaitu Kerajaan Hindu yang berkuasa di Indonesia sejak tahun 129345, setelah tumbangnya Kerajaan Singosari (1222-1292)46. Kerajaan Majapahit ini dulu wilayahnya meliputi Negeri-Negeri dari ujung utara Jambi sampai ujung selatan Sumatera, dan Negeri Tanjung Negara yang merangkumi daerah-daerah di Kalimantan, Sulawesi, timur Pulau Jawa, Nusa Tenggara hingga Irian.
Di zaman Kerajaan Majapahit dikenal di tengah masyarakat sejumlah acuan moral dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini terungkap melalui karya-karya pujangga besar Indonesia di masa itu, antara lain : buku Nagara Kretagama karya Empu Prapanca dan buku Sutasoma karya Empu Tantular.
Khusus istilah Pancasila disebut secara jelas dalam buku Sutasoma. Termaktub dalam buku Sutasoma tersebut istilah Pancasila Krama yang Ertinya Lima Dasar Tingkah Laku, yang meliputi :
- Ahimsa : iaitu tidak boleh melakukan tindakan kekerasan.
- Asteya : iaitu tidak boleh mencuri.
- Indriya Nigraha : iaitu tidak boleh iri dan dengki.
- AmrSAWada : iaitu tidak boleh berbohong.
- Dama : iaitu tidak boleh mabuk-mabukan.
Dengan demikian, tidak diragukan bahawa asal mula istilah Pancasila bersumber dari acuan moral kehidupan bangsa Indonesia sejak zaman dahulu, setidak-tidaknya sejak zaman Majapahit berdasarkan fakta sejarah tersebut di atas.
Hanya sahaja, Pancasila yang dimaksud pada zaman itu hanya setakat acuan moral masyarakat, sedang Pancasila yang dimaksud zaman sekarang adalah Lima Dasar Negara Indonesia sebagaimana akan dihuraikan pada bab-bab berikutnya.
2.2.2 Pencetus Pancasila
Menurut kebanyakan sejarawan Indonesia, bahawasanya Pancasila dalam erti Lima Dasar Negara Indonesia, untuk pertama kalinya diperkenalkan oleh Ir. Soekarno dalam pidatonya di depan sidang Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) pada 1 Jun 1945.
Namun demikian, seorang sejarawan dari kalangan ABRI (Angkatan Bersenjata Republik Indonesia), Prof. Dr. Nugroho Notosusanto, pernah mengajukan tesis dengan kesimpulan bahawasanya pencetus Pancasila tidak hanya Ir. Soekarno, melainkan juga Prof Mr. Muhammad Yamin dan Soepomo.
Kajian tersebut berpegang kepada fakta sejarah, bahawasanya pidato lisan dan lampiran tertulis Prof. Mr. Muhammad Yamin di depan sidang BPUPKI pada 29 Mei 1945, tiga hari sebelum pidato Soekarno, yang isinya tentang Lima Dasar Negara. Dan juga fakta sejarah tentang pidato Soepomo di depan sidang BPUPKI pada 31 Mei 1945, sehari sebelum pidato Soekarno, yang isinya menyebut tentang Panca Dharma.
Dalam kajiannya tersebut, Prof. DR. Nugroho Notosusanto, membezakan Pancasila Yamin 29 Mei 1945 dengan Pancasila Soekarno 1 Jun 1945, begitu pula dengan Pancasila 18 Ogos 1945 yang termaktub dalam Undang-Undang Dasar 1945 (UUD ’45).
Prof. DR. Nugroho Notosusanto tidak sendirian berpendapat demikian, seorang pakar sejarah lain, BJ. Boland, dalam bukunya The Struggle of Islam in Moden Indonesia, menyebutkan sejumlah pihak yang menyatakan : ”The Pancasila was in fact a creation of Yamin’s, and not Soekarno’s”, Ertinya : Pancasila itu ternyata karya Yamin, bukan karya Soekarno.
Mr. Muhammad Roem menegaskan bahawa tema dari pidato Mr. Muhammad Yamin dan Soekarno pada sidang BPUPKI tahun 1945 adalah sama. Dalam bukunya beliau menyatakan : ”Tema dari kedua pidato itu sama, jumlah prinsip atau dasar sama-sama lima, malah sama juga panjangnya pidato, iaitu dua puluh halaman dalam naskah tersebut”.
Kesimpulan tesis Prof. DR. Nugroho Notosusanto ditolak sejumlah sejarawan Indonesia, seperti Abdurrahman Surjimihardjo, Kuntowijoyo, Onghokham, G. Moedjanto dan R. Nalenan. Pada umumnya, mereka yang menolak kesimpulan tesis tersebut berpegang kepada kesaksian sejumlah Pelaku Sejarah, diantaranya adalah Muhammad Hatta, yang menyatakan bahawasanya Pancasila itu berasal dari Bung Karno.
Namun, penulis buku Piagam Jakarta 22 Jun 1945, H. Endang Saifuddin Anshari MA, meragukan pernyataan Muhammad Hatta yang membantah anggapan bahawa Yamin sebagai perumus pertama Pancasila.
Selanjutnya, penolakan terhadap tesis Prof. DR. Nugroho Notosusanto semakin kuat, ketika seorang pakar dari Universiti Indonesia (UI), Ananda B. Kusuma, berhasil menemukan dan mentranskripsikan Pringgodigdo Archief, iaitu sebuah dokumen arsip yang menghimpun notulen asli sidang-sidang BPUPKI, yang semula berada di Belanda, lalu tersimpan di Puro Mangkunegaran Surakarta, dan kini di Gedung Arsip Nasional. Dalam dokumen tersebut tidak ditemukan Naskah Pidato Mr. Muhammad Yamin tertanggal 29 Mei 1945 mahupun lampirannya.
Menurut pendapat penulis, polemik sekitar Pencetus Pancasila mesti dilihat secara objektif. Ertinya tidak boleh terpengaruh dengan sikap De-Soekarnoisasi atau sebaliknya terjebak dalam sikap Soekarnoisme, kerana kedua-dua sikap akan membawa kepada kesimpulan yang amat subjektif.
Pada satu pihak, Prof. DR. Nugroho Notosusanto, tidak berlebihan saat membezakan antara Pancasila Yamin 29 Mei 1945 dengan Pancasila Soekarno 1 Jun 1945, begitu pula dengan Pancasila 18 Ogos 1945 yang termaktub dalam Undang-Undang Dasar 1945 (UUD ’45), kerana memang fakta sejarahnya seperti itu.
Pancasila Yamin 29 Mei 1945 menyebutkan bahawa Dasar Negara ada lima, iaitu : 1. Peri Kebangsaan, 2. Peri Kemanusiaan, 3. Peri Ketuhanan, 4. Peri Kerakyatan, 5. Kesejahteraan Sosial
Dan Pancasila Soekarno 1 Jun 1945 menyebutkan bahawa Dasar Negara ada lima, iaitu : 1. Kebangsaan Indonesia, 2. Internasionalisme atau perikemanusiaan, 3. Mufakat atau demokrasi, 4. Kesejahteraan Sosial, 5. Ketuhanan.
Ada pun Pancasila 18 Ogos 1945 yang termaktub dalam Undang-Undang Dasar 1945 (UUD ’45), iaitu : 1. Ketuhanan Yang Maha Esa, 2. Kemanusiaan yang adil dan beradab, 3. Persatuan Indonesia, 4. Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan permusyawaratan/perwakilan, 5. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
Andaikata pun Pancasila Yamin 29 Mei 1945 tidak diakui oleh sebahagian sejarawan Indonesia sebagaimana telah dihuraikan sebelumnya, akan tetapi perbezaan antara Pancasila Soekarno 1 Jun 1945 dengan Pancasila 18 Ogos 1945 yang termaktub dalam Undang-Undang Dasar 1945 (UUD ’45), tidak boleh dimungkiri. Bahakan tidak boleh dimungkiri pula bahawasanya Pancasila yang kini jadi Dasar Negara Indonesia bukan Pancasila Yamin mahupun Pancasila Soekarno, melainkan Pancasila UUD ’45.
Bab 4 : Penerapan Syariah Islam di Indonesia
4.1 Pendahuluan
Perjuangan Penerapan Syariah Islam di Indonesia sudah berlangsung jauh sebelum kemerdekaan Indonesia. Sejak tumbangnya kerajaan Hindu dan Budha di Indonesia, lalu berganti dengan kerajaan- kerajaan Islam, usaha penerapan Syariah Islam sudah dilakukan.
Berdirinya berbagai Kerajaan Islam di Nusantara merupakan bukti adanya identiti Islam yang dibawa oleh kerajaan-kerajaan tersebut.
Bahkan berbagai peninggalan berupa Prasasti, Kanun, Adat, Budaya, Kitab, Syair, Gelar para Sultan, dan lain sebagainya, menunjukkan bahawa Syariah Islam telah lama dijadikan oleh Kerajaan-Kerajaan Islam tersebut sebagai Hukum Negara.
Salah satu contohnya adalah Kesultanan Aceh Darussalam. Ada dua kisah yang amat populer di Tanah Aceh berkaitan penerapan Syariah Islam di zaman Kesultanan Aceh yang telah berdiri sejak abad ke-16, iaitu :
- Kisah Raja Linge ke XIV, iaitu Raja di daerah Linge, Kabupaten Aceh Tengah sekarang. Diceritakan bahawa di masa Sultan Ala’uddin Ri’ayatsyah Al-Qahhar (1537 s/d 1571), telah dijatuhi hukuman oleh Qadhi Malikul Adil (Hakim Agung Kesultanan) terhadap Raja Linge dengan membayar diyat 100 ekor kerbau kerana telah membunuh adik tirinya.
- Kisah Sultan Iskandar Muda (1603 s/d 1637) yang telah menjatuhkan hukum rejam kepada anak kandungnya sendiri kerana terbukti berzina dengan salah seorang isteri bangsawaan di dalam lingkungan istana.
Selain itu, ada dua kitab klasik di Aceh, yang oleh pengarangnya di dalam kata pengantar diakui ditulis atas perintah Sultan yang sedang berkuasa untuk digunakan sebagai Hukum Negeri, iaitu :
- Kitab Mir’atut Thullab karangan Syeikh ’Abdurrouf Syiah Kuala yang disusun pada masa pemerintahan Sultanah Shafiatuddin Syah (1641 s/d 1675).
- Kitab Safinatul Hukkam fi Takhlishil Khashsham karangan Syeikh Jalaluddin At-Tarusani yang disusun pada masa pemerintahan Sultan Alaiddin Johansyah (1735 s/d 1760).
Jadi, tidak boleh dimungkiri bahawa Peradilan Agama Islam di Indonesia sudah ada jauh sebelum kedatangan penjajah Belanda.
Kerajaan-Kerajaan Islam yang ada di Indonesia telah melaksanakan Hukum Islam dan melembagakan sistem peradilannya sebagai bahagian yang tak terpisahkan dengan keseluruhan sistem pemerintahan di wilayah kekuasaannya masing-masing.
Itulah sebabnya, tatkala Indonesia diduduki oleh penjajah Belanda, maka pemerintah kolonial Hindia Belanda dalam pembuatan hukum dan pembentukan sistem peradilannya, tidak boleh mengabaikan Peradilan Agama Islam yang sudah berjalan di tengah masyarakat Indonesia sejak lama.
Para ahli hukum Belanda yang dipelopori LWC. Van Den Berg, sejak tahun 1855 mengajukan Teori Receptie in Complexu yang berpendapat bahawa hukum yang berlaku bagi orang Indonesia asli adalah Undang-Undang Agama mereka, yakni Hukum Islam. Kerananya, menurut LCW Van Den Berg, sudah sepatutnya Pengadilan Agama diadakan bagi orang Indonesia.
Pendapat LCW Van Den Berg mendapat respon dari Kerajaan Belanda, yang kemudian Raja Willem III mengeluarkan Keputusan Raja (Konninklijk Besluit) No.24 pada 19 Januari 1882 yang dimuat dalam Staatsblad 1882 No.152 tentang Peraturan Peradilan Agama, yang mulai dikuatkuasa pada 1 Ogos 1882. 277
Namun dalam proses pemberlakuan Staatsblad 1882 No.152, mendapat tantangan keras dari Cornelis Van Vollenhoven (1874-1933), seorang ahli hukum Belanda tentang adat Indonesia, dan Christian Snouck Hugronye (1857-1936), seorang penasihat pemerintah Belanda tentang soal-soal Islam dan anak negeri.
Mereka menggunakan Teori Receptie yang berpendapat bahawa hukum yang berlaku bagi orang Indonesia adalah hukum adat asli.
Akhirnya, pemerintah Hindia Belanda pada 1 April 1937 memkuatkuasakan Staatsblad 1937 No.116 untuk membatasi pemerintah Pengadilan Agama, sekaligus mereduksi (mengurangi) berlakunya Hukum Islam.
Dengan fakta sejarah di atas, maka penulis berkesimpulan bahawa penerapan Syariah Islam di Indonesia bukanlah sesuatu yang baru ada setelah kemerdekaan 1945. Bahkan bukan pula baru ada setelah penjajahan Belanda, melainkan sesuatu yang sudah ada jauh sebelum kedatangan penjajah Belanda. Kerananya, memperjuangkan penerapan Syariah Islam di Indonesia bukanlah hal yang berlebihan atau mengada-ada, melainkan sesuatu yang memiliki landasan historis dan kultural yang amat kuat.
Selain itu, dengan fakta yang sudah dihuraikan di atas, penulis menolak pendapat yang mengatakan bahawa hukum di Indonesia baru ada setelah Belanda datang atau anggapan bahawa sistem hukum di Indonesia baru lahir pada 1 Ogos 1882 seiring dengan pemberlakuan Staatsblad 1882 No.152 tentang Peraturan Peradilan Agama di masa penjajahan Belanda.
Penegakkan Hukum Allah SWT kewajiban tiap umat para Nabi dalam Q.S. Al Maidah.
- Ayat 44 dan 45 menceritakan tentang Ahli Taurat (umat Nabi Musa as) yang berkewajiban menegakkan Hukum Allah.
- Ayat 46 dan 47 menceritakan tentang Ahli Injil (umat Nabi ’Isa as) yang juga berkewajiban menegakkan Hukum Allah.
- Ayat 48 dan 49 menceritakan tentang Ahli Quran (umat Nabi Muhammad SAW) yang ternyata juga berkewajiban menegakkan Hukum Allah.
Prof. DR. Hamka dalam tafsir Al-Azhar, saat menafsirkan ayat-ayat tersebut di atas, menyatakan : ”Ayat ini dan yang sebelumnya memberi kejelasan yang nyata sekali, bahawa di dalam kekuasaan Islam, orang-orang Dzimmi Yahudi dan Nashrani diperintahkan menjalankan hukum menurut kitab mereka. Padahal isi Hukum Tuhan dalam semua kitab suci, baik Taurat dan Injil, sampai kepada Al-Quran, dasarnya ialah satu, iaitu : HUKUM TUHAN.”
4.4.2 Pancasila.
Secara Substantif, Pancasila sudah menjadi Dasar Negara Republik Indonesia sejak kemerdekaan 17 Ogos 1945, kerana Lima Dasar Negara yang tertera dalam Undang-Undang Dasar secara implisit difahamani sebagai Pancasila.344
4.4.2.1 Sila Pertama : Ketuhanan Yang Maha Esa
Sila ini merupakan sila pengakuan bahawasanya Tuhan pencipta alam semesta dan yang berhak disembah adalah Tuhan Yang Maha Esa. Dan Tuhan Yang Maha Esa ini adalah Tuhan yang disembah oleh majoriti bangsa dan rakyat Indonesia, iaitu umat islam yang peratusannya mencapai 88,2 %.346 Tuhan Yang Maha Esa yang disembah oleh umat Islam Indonesia adalah Allah SWT.
Dan memang, hanya Islam yang memiliki Tauhid Pengesaan Allah SWT sebagai satu-satunya Tuhan yang menciptakan alam semesta, dan hanya satu-satunya Tuhan yang berhak disembah. Itulah sebabnya, Prof. Hazairin, SH. menegaskan : ”Dari manakah datangnya sebutan ”Ketuhanan YME” itu ? Dari pihak Nasrani kah, atau pihak Hindu kah, atau dari pihak Timur Asing kah, yang ikut bermusyawarah dalam panitia yang bertugas menyusun UUD 1945 itu ? Tidak mungkin ! Istilah ”Ketuhanan Yang Maha Esa” itu hanya sanggup diciptakan oleh otak, kebijaksanaan, dan iman orang Indonesia Islam, yakni sebagai terjemahan pengertian yang terhimpun dalam Allahu al-Wahidu al-Ahad yang disalurkan dari Q.S. Al Baqarah ayat 163 dan Q.S. Al Ikhlas ayat 1-12, dan dizikirkan dalam doa Kanzul ‘Arsy baris 17”.
Firman Allah SWT yang dimaksud oleh Prof. Hazairin, SH. adalah:
”Dan Tuhan kamu ialah Tuhan Yang Maha Esa; Tiada Tuhan (yang berhak disembah) selain dari Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Mengasihi.” (Q.S. Al Baqarah : 163)
Firman Allah SWT lainnya dalam Q.S. Al Ikhlas ayat 1-5 yang dimaksud beliau adalah :
- Katakanlah (Wahai Muhammad) : ”(Tuhanku) ialah Allah Yang Maha Esa.
- Allah Yang menjadi tumpuan sekalian makhluk untuk memohon sebarang hajat.
- Ia tiada beranak dan Ia pula tidak diperanakkan.
- Dan tidak ada sesiapa pun yang setara dengan-Nya.
Sedang Doa Kanzul ‘Arsy baris 17 yang dimaksud adalah :
”Tiada Tuhan yang berhak disembah selain Allah, Maha Suci Tuhan Yang Satu lagi Maha Esa.”
Adanya Sila Ketuhanan Yang Maha Esa dalam Dasar Negara Republik Indonesia merupakan bukti tekad bangsa dan rakyat Indonesia untuk tunduk dan patuh kepada keesaan Allah SWT, sekaligus merupakan ikrar untuk menjalankan aturan dan hukum-Nya. Sehingga, segala bentuk pemahaman atau pun perbuatan yang bertentangan dengan nilai-nilai luhur ketuhanan tidak boleh diterima pakai atau dijustifikasi di bumi Indonesia.
Pemahaman yang bertentangan dengan nilai-nilai luhur ketuhanan seperti Atheisme, Komunisme, Marxisme dan Leninisme, begitu pula Fahaman Sepilis (Sekularisme, Pluralisme dan Liberalisme) mesti dilarang di Indonesia.
Dengan demikian, Sila Ketuhanan Yang Maha Esa menjadi Dasar Yuridis Konstitusional untuk penerapan Syariah Islam di Indonesia, kerana Syariah Islam merupakan aturan hukum yang melarang segala bentuk fahaman dan perbuatan yang bertentangan dengan nilai-nilai Ketuhanan.
Untuk itu, usaha penerapan Syariah Islam di Indonesia tidak bertentangan dengan Sila Ketuhanan Yang Maha Esa, bahkan sejalan dan sehaluan.
4.4.2.2 Sila Kedua : Kemanusiaan yang adil dan beradab.
Sila ini meletakkan nilai-nilai kemanusiaan sebagai salah satu dasar kehidupan bangsa dan rakyat Indonesia. Sila ini merupakan pengakuan bahawa setiap manusia wajib diperlakukan secara manusiawi, adil dan beradab.
”Wahai orang-orang yang beriman ! Hendaklah kamu menjadi orang-orang yang senantiasa menegakkan keadilan, lagi menjadi saksi (yang menerangkan kebenaran) kerana Allah, sekali pun terhadap diri kamu sendiri, atau ibu bapa dan kaum kerabat kamu. Kalaulah orang (yang dida’wa) itu kaya atau miskin (maka janganlah kamu terhalang daripada menjadi saksi yang memperkatakan kebenaran disebabkan kamu bertimbang rasa), kerana Allah lebih bertimbang rasa kepada keduanya. Oleh itu, janganlah kamu turutkan hawa nafsu susaha kamu tidak menyeleweng dari keadilan. Dan jika kamu memutar-balikkan keterangan atau pun enggan (daripada menjadi saksi), maka sesungguhnya Allah senantiasa Mengetahui dengan mendalam akan apa yang kamu lakukan.” (Q.S. An-Nisa ayat 365)
Dan Islam bukan hanya Aqidah dan Syariah, tapi juga Akhlaq. Rasulullah SWT bersabda
”Sesungguhnya aku diutus hanya untuk menyempurnakan kemuliaan-kemuliaan akhlaq.” (H.R. Ahmad)
4.4.2.3 Sila Ketiga : Persatuan Indonesia.
Sila ini jika hanya diertikan sebagai semangat persatuan kebangsaan Indonesia sahaja, maka akan menjadi persoalan rasisme yang dikutuk dunia internasional dan diharamkan Syariat Islam. Kerananya, makna sila ini mesti luas dan menyeluruh. Luas Ertinya membangun semangat kebangsaan untuk menuju persatuan antara bangsa-bangsa dalam kebajikan. Menyeluruh ertinya tidak kaku atau eksklusif dalam pergaulan internasional.
Ir. Soekarno pernah menyatakan dalam pidatonya di depan sidang Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) pada 1 Jun 1945 : ”Kebangsaan yang kita anjurkan bukan kebangsaan yang menyendiri, bukan chauvinisme, sebagaimana dikobar-kobarkan orang di Eropa, yang mengatakan ”Deutsrhland über Alles”, tidak ada yang setinggi Jermania, yang katanya bangsanya ”minulyo”364, berambut jagung, dan bermata biru, ”Bangsa Aria”, yang dianggapnya tertinggi di atas dunia, sedang bangsa lain-lain tidak ada harganya. Jangan kita berdiri di atas asa demikian
Tuan-Tuan, jangan berkata bahawa bangsa Indonesialah yang terbagus dan termulia, serta meremehkan bangsa lain. Kita mesti menuju persatuan dunia, persaudaraan dunia.
Syariah Islam adalah Syariah Pemersatu Allah SWT berfirman :
”Wahai umat manusia ! Sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari lelaki dan perempuan, dan Kami telah menjadikan kamu berbagai bangsa dan bersuku puak, susaha kamu berkenal-kenalan (dan beramah mesra antara satu dengan yang lain). Sesungguhnya semulia-mulia kamu di sisi Allah ialah orang yang lebih taqwanya di antara kamu, (bukan yang lebih keterunan dan bangsanya). Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui, lagi Maha Mendalam Pengetahuan-Nya (Akan keadaan dan amalan kamu).”
4.4.2.4 Sila Keempat : Kerakyatan yang dipimpin oleh kebijaksanaan
Sila ini menjadikan ”Mesyuarat” sebagai proses pengambilan keputusan.
Kata ”Mesyuarat” secara bahasa berasal dari bahasa Arab “Syura” . ”Mesyuarat” telah menjadi bahagian dari ajaran Islam, bahkan merupakan salah satu identiti Islam. Dalam Al-Quran ada tiga ayat yang secara khusus menyatakan tentang ”Mesyuarat”, iaitu
…”Kemudian jika keduanya (suami-isteri) mahu menghentikan penyusuan itu dengan persetujuan (yang telah dicapai oleh) mereka sesudah berunding (mesyuarat), maka mereka berdua tidaklah salah. Dan jika kamu hendak beri anak-anak kamu menyusu kepada orang lain, maka tidak ada salahnya bagi kamu apabila kamu serahkan (upah) yang kamu mahu beri itu dengan cara yang patut. Dan bertaqwalah kamu kepada Allah, serta ketahuilah, sesungguhnya Allah senantiasa melihat akan apa jua yang kamu lakukan.” (Q.S. Al Baqarah ayat 233)
Isi lengkap dari ayat tersebut menceritakan tentang kewajiban ibu dan ayah terhadap anak mereka berkaitan penyusuan, nafkah dan pakaian. Dan bahagian ayat tersebut di atas merupakan petunjuk Ilahi tentang pentingnya ”Mesyuarat Keluarga” dalam mengambil suatu keputusan terkait penyusuan.
”Maka dengan sebab rahmat (yang melimpah-limpah) dari Allah (kepadamu Wahai Muhammad), engkau telah bersikap lemah lembut kepada mereka (sahabat-sahabat dan pengikutmu), dan kalaulah engkau bersikap kasar lagi keras hati, tentulah mereka lari dari kelilingmu. Oleh itu maafkanlah mereka (mengenai kesalahan yang mereka lakukan terhadapmu), dan pohonkanlah ampun bagi mereka, dan juga bermesyuaratlah dengan mereka dalam urusan (peperangan dan soal-soal keduniaan) itu. Kemudian apabila engkau telah berazam (setelah bermesyuarat, untuk membuat sesuatu) maka bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Mengasihi orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.” (Q.S. Al Imran : 159)
Dalam ayat di atas, Allah SWT memberi petunjuk kepada Rasulullah SAW sebagai pemimpin umat tentang bagaimana cara memperlakukan umatnya. Salah satu petunjuk Ilahi yang penting adalah melibatkan umat dalam ”Mesyuarat Negara”.
Firman Allah taala :”Dan juga (lebih baik dan lebih kekal bagi) orang-orang yang menyahut dan menyambut perintah Tuhannya, serta mendirikan sembahyang dengan sempurna; dan urusan mereka dijalankan secara bermesyuarat sesama mereka; dan mereka pula mendermakan sebahagian dari apa yang Kami beri kepadanya.” (Q.S. Asy Syuara ayat 38)
Memperhatikan dua ayat sebelumnya, iaitu ayat 36 dan 37, isinya sedang menerangkan tentang ganjaran dari Allah SWT bagi orang yang beriman, sekaligus menyebutkan beberapa ciri dari orang yang beriman, antara lain adalah suka bermesyuarat sebagaimana termaktub dalam ayat di atas.
Kerananya, kata ”Mesyuarat” yang sudah teradopsi dalam Konstitusi Indonesia mesti difahamani secara substansial sesuai dengan ajaran Islam, tidak boleh disamakan dengan istilah ”Demokrasi” sebagaimana yang difahamani oleh Barat.
Berkaitan soal tersebut, Ust. Abu Bakar Ba’asyir, pimpinan Majelis Mujahidin Indonesai (MMI), dalam wawancara dengan penulis menyatakan : ”Musyawarah dalam demokrasi berdasarkan Hawa Nafsu, sedang Musyawarah dalam Islam berdasarkan Ilahi (Hukum Allah)”.
Selain itu, Hartono Mardjono SH pernah memberikan satu ilustrasi yang amat bagus, ia mengatakan : ”Sebagai ilustrasi, barangkali boleh dikemukakan bahawa dengan ”Demokrasi” negara dapat mengesahkan lahirnya Undang-Undang tentang izin untuk melakukan aborsi, judi atau prostitusi, tetapi dengan ”Mesyuarat” negara tidak mungkin dapat melakukan hal-hal tersebut”.
Dari sini, sila Kerakyatan yang dipimpin oleh kebijaksanaan dalam permusyawaratan / perwakilan, hanya boleh diertikan bermesyuarat dalam hal-hal yang tidak bertentangan dengan agama, sehingga sila ini menjadi pintu untuk mentransformasikan Syariat Islam dalam perundang-undangan nasional dengan jalan mesyuarat untuk muafakat.
4.4.2.5 Sila Kelima : Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia
Sila ini merupakan landasan bagi usaha mencerdaskan dan mensejahterakan rakyat dan bangsa Indonesia secara adil dan merata.
Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, mesti menemukan suatu sistem Keadilan Sosial yang tidak Kapitalis dan tidak pula Komunis. Dan Syariah Islam memiliki sitem itu, sehingga penerapan Syariah Islam di Indonesia tidak bertentangan dengan sila ini, bahkan justru menjadi jawabannya.
Syariah Islam adalah Syariah Keadilan, Kebajikan, Kepedulian dan Anti Kekejian, Kemunkaran serta Permusuhan. Allah SWT berfirman:
”Sesungguhnya Allah menyuruh berlaku adil dan berbuat kebaikan, serta memberi bantuan kepada kaum kerabat, dan melarang daripada perbuatan-perbuatan yang keji dan mungkar serta kekezaliman. Ia mengajar kamu (dengan suruhan dan larangan-Nya ini), susaha kamu mengambil peringatan mematuhi-Nya.” (Q.S. An Nahl 190)
Bab 6 : Penutup
Memahami bagaimana dapat dipertikaikan pancasila sebagai penghalang penerapan syariah Islam di Indonesia, penulis menyimpulkan :
Dan bahawa Perjuangan penerapan syariah Islam di Indonesia mendapat tentangan dan kesulitan yang cukup berat, sama ada yang datang dari dalam mahu pun dari luar. Dan cabaran-cabaran tersebut ada di berbagai aspek mahu pun sektor, mulai dari sosial, politik, ekonomi, budaya, pendidikan, dakwah, dan lain sebagainya.
Dan bahawa untuk mengatasi berbagai cabaran dalam perjuangan penerapan Syariah Islam di Indonesia, maka diperlukan jalan penyelesaian yang praktikal dan strategis serta tepat untuk digunakan.
Dan bahawa sungguhpun tentangan dan kesulitan yang mencabar dalam perjuangan penerapan syariah Islam di Indonesia, namun perjuangan tersebut tetap berlangsung, bahkan sudah mulai banyak membuahkan hasil, seperti lahirnya berbagai perundang-undangan syariah di Indonesia.
Dan bahawa Penerapan Syariah Islam di Indonesia tidak mustahil dapat dijalankan dengan baik berdasarkan pemahaman yang benar terhadap makna Syariah Islam dan Pancasila.
Dan bahawa Perlembagaan dan penguatkuasaan Syariah Islam di Indonesia adalah sah dan berkonstitusioanl, tidak bertentangan dengan Pancasila mahupun Undang-Undang Dasar 1945 sebagai Dasar Negara Kesatuan Republik Indonesia.
*Tulisan ini menggunakan bahasa melayu Malaysia
*Diambil dari beberapa potongan bab dari tesis habib Riziq, yang sumber aslinya cukup lengkap sebanyak 6 Bab setebal 396 halaman.
by Danu Wijaya danuw | Jan 31, 2017 | Artikel, Dakwah
Oleh : Ust. Farid Nu’man Hasan
Rasulullah SAW bersabda, “Orang yang pandai adalah yang menghisab (mengevaluasi) dirinya sendiri serta beramal untuk kehidupan sesudah kematian. Sedangkan orang yang lemah adalah yang dirinya mengikuti hawa nafsunya serta berangan-angan terhadap Allah SWT”. (HR. Imam Turmudzi).
Rezimnya begini..
Dari ‘Aisyah Radhiallahu ‘Anha, bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berdoa:
اللَّهُمَّ مَنْ وَلِيَ مِنْ أمْرِ أُمَّتِي شَيْئاً فَشَقَّ عَلَيْهِمْ ، فاشْقُقْ عَلَيْهِ ، وَمَنْ وَلِيَ مِنْ أَمْرِ أُمَّتِي شَيْئاً فَرَفَقَ بِهِمْ ، فَارفُقْ بِهِ
“Ya Allah, barang siapa yang diberikan amanah mengurus urusan umatku lalu dia mempersulit mereka maka persulitlah dia, dan barang siapa yang diberikan amanah mengurus urusan umatku lalu dia berlaku baik kepada mereka, maka, perlakukanlah dia dengan baik pula.”
(HR. Muslim No. 1828, Ahmad No. 24622, Ibnu Hibban No. 553, Abu ‘Uwanah No. 7025, dll)
Pejabatnya begini…
Dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Nabi saw bersabda:
«سَيَأْتِي عَلَى النَّاسِ سَنَوَاتٌ خَدَّاعَاتُ، يُصَدَّقُ فِيهَا الْكَاذِبُ، وَيُكَذَّبُ فِيهَا الصَّادِقُ، وَيُؤْتَمَنُ فِيهَا الْخَائِنُ، وَيُخَوَّنُ فِيهَا الْأَمِينُ، وَيَنْطِقُ فِيهَا الرُّوَيْبِضَةُ» ، قِيلَ: وَمَا الرُّوَيْبِضَةُ؟ قَالَ: «الرَّجُلُ التَّافِهُ فِي أَمْرِ الْعَامَّةِ»
“Akan datang ke pada manusia tahun-tahun penuh kebohongan, saat itu pendusta dibenarkan, orang yang benar justru didustakan, pengkhianat diberikan amanah, orang yang dipercaya justru dikhianati, dan Ar-Ruwaibidhah berbicara.” Ditanyakan: “Apakah Ar-Ruwaibidhah?” Beliau bersabda: “Seorang laki-laki yang bodoh (Ar Rajul At Taafih) tetapi sok mengurusi urusan orang banyak.”
(HR. Ibnu Majah No. 4036. Ahmad No. 7912. Dihasankan oleh Syaikh Syu’aib Al Arnauth dalam Ta’liq Musnad Ahmad No. 7912. Al Hafizh Ibnu Hajar mengatakan: sanadnya jayyid. Lihat Fathul Bari, 13/84)
Sebagian Polisinya begini…
Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
“سَيَكُونُ فِي آخِرِ الزَّمَانِ شَرَطَةٌ، يَغْدُونَ فِي غَضِبِ اللَّهِ، وَيَرُوحُونَ فِي سَخَطِ اللَّهِ، فَإِيَّاكَ أَنْ تَكُونَ مِنْ بِطَانَتِهِمْ”.
“Akan datang di akhir zaman adanya polisi yang di pagi hari di bawah kemurkaan Allah, dan sore harinya di bawah kebencian Allah. Hati-hatilah kamu menjadi bagian dari mereka.”
(HR. Ath Thabarani dalam Al Kabir No. 7616. Imam Al Munawi mengatakan: shahih. Lihat _At Taisir bi Syarh Al Jaami’ Ash Shaghiir,_ 2/192)
Orang yang dibelakang rezim begini…
Nabi saw bersabda :
تبغض العرب فتبغضني
“Engkau membenci Arab, maka kau telah membenciku.”
(HR. At Tirmidzi No. 3927, katanya: hasan. Ahmad No. 23731, Al Hakim dalam Al Mustadrak No. 6995, katanya: shahih)
Kondisi Sistem Ekonomi dan Pergaulannya begini..
Dari Ibnu ‘Abbas Radhiallahu ‘Anhuma, bahwa Nabi saw bersabda:
إِذَا ظَهَرَ الزِّنَا وَالرِّبَا فِي قَرْيَةٍ فَقَدْ حَلُّوا بِأَنْفُسِهِمْ كِتَابَ اللهِ
“Jika zina dan riba sudah muncul di sebuah negeri maka mereka telah menghalalkan azab Allah swt.”
(HR. Al Baihaqi, Syu’abul Iman No. 5416. Al Hakim, Al Mustadrak No. 2261, kata Al Hakim: shahihul isnad. Syaikh Al Albani menshahihkan dalam Shahihul Jami’ No. 679)
Kondisi Sebagian Ulama dan Tokoh Islamnya begini…
Rasulullah saw bersabda:
إِنَّ اللَّهَ لَا يَقْبِضُ الْعِلْمَ انْتِزَاعًا يَنْتَزِعُهُ مِنْ الْعِبَادِ وَلَكِنْ يَقْبِضُ الْعِلْمَ بِقَبْضِ الْعُلَمَاءِ حَتَّى إِذَا لَمْ يُبْقِ عَالِمًا اتَّخَذَ النَّاسُ رُءُوسًا جُهَّالًا فَسُئِلُوا فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا
“Sesungguhnya Allah tidaklah menghapuskan ilmu begitu saja dari manusia. Tapi dihapuskannya dengan mewafatkan ulama, sampai ulama tidak tersisa. Manusia pun mengambil tokoh-tokoh bodoh, lalu mereka ditanya, dan berfatwa tanpa ilmu sehingga mereka sesat dan menyesatkan.” (HR. Al Bukhari)
Kondisi umatnya begini…
Rasulullah saw bersabda:
يوشك الأمم أن تداعى عليكم، كما تداعى الأكلة إلى قصعتها. فقال قائل: ومِن قلَّةٍ نحن يومئذ؟ قال: بل أنتم يومئذٍ كثير، ولكنكم غثاء كغثاء السَّيل، ولينزعنَّ الله مِن صدور عدوِّكم المهابة منكم، وليقذفنَّ الله في قلوبكم الوَهَن. فقال قائل: يا رسول الله، وما الوَهْن؟ قال: حبُّ الدُّنيا، وكراهية الموت
“Hampir-hampir bangsa-bangsa memperebutkan kalian (umat Islam), layaknya memperebutkan makanan yang berada di mangkuk.” Seorang laki-laki berkata, “Apakah kami waktu itu berjumlah sedikit?” beliau menjawab: “Bahkan jumlah kalian pada waktu itu sangat banyak, namun kalian seperti buih di genangan air. Sungguh Allah akan mencabut rasa takut kepada kalian, dan akan menanamkan ke dalam hati kalian Al wahn.” Seseorang lalu berkata, “Wahai Rasulullah, apa itu Al wahn?” beliau menjawab: “Cinta dunia dan takut mati.”
(HR. Abu Daud No. 3745. Syaikh Bin Baaz mengatakan: hasan. Lihat Majmu’ Al Fatawa, 5/106)
Tapi …
Kita tidak berputus asa, harapan kebangkitan masih ada, sebab masih ada umat Islam yang seperti ini …
Koordinasi Antar Gerakan Islam
Allah Ta’ala berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا خُذُوا حِذْرَكُمْ فَانْفِرُوا ثُبَاتٍ أَوِ انْفِرُوا جَمِيعًا
“Hai orang-orang yang beriman, bersiap siagalah kamu, dan majulah (ke medan pertempuran) berkelompok-kelompok, atau majulah bersama-sama.” (Qs. An Nisa: 71)
Masih ada para pemuda yang beriman kepada Allah Ta’ala
نَحْنُ نَقُصُّ عَلَيْكَ نَبَأَهُمْ بِالْحَقِّ ۚ إِنَّهُمْ فِتْيَةٌ آمَنُوا بِرَبِّهِمْ وَزِدْنَاهُمْ هُدًى
“Kami kisahkan kepadamu (Muhammad) cerita ini dengan benar. Sesungguhnya mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka, dan Kami tambah pula untuk mereka petunjuk.” (Qs. Al Kahfi: 13)
Kelompok umat Islam yang istiqamah
Dari Tsauban Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah saw bersabda:
لَا تَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِي ظَاهِرِينَ عَلَى الْحَقِّ لَا يَضُرُّهُمْ مَنْ خَذَلَهُمْ حَتَّى يَأْتِيَ أَمْرُ اللَّهِ وَهُمْ كَذَلِكَ
“Ada segolongan (thaifah) umatku yang senantiasa di atas kebenaran, tidaklah memudharatkan mereka orang-orang yang memusuhi mereka, sampai Allah datangkan urusannya (kiamat), dan mereka tetap demikian.”
(HR. Muslim No. 1920, At Tirmidzi No. 2229, Ibnu Majah No. 6)
Ulama dan umat yang berani menasihati pemimpin zalim
Dari Abu Sa’id Al Khudri Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Nabi saw bersabda:
إِنَّ مِنْ أَعْظَمِ الْجِهَادِ كَلِمَةَ عَدْلٍ عِنْدَ سُلْطَانٍ جَائِرٍ
“Sesungguhnya jihad yang paling agung adalah mengutarakan perkataan yang benar dihadapan pemimpin yang zalim.”
(HR. At Tirmidzi No. 2329, katanya: hasan)
Wallahul Musta’an wa Lillahil ‘Izzah wa Lil Rasul wal Mu’minin
Join Channel ust Farid Nu’man : bit.ly/1Tu7OaC