by Danu Wijaya danuw | Jan 27, 2017 | Artikel, Dakwah
Wali Songo memahami wayang merupakan salah satu cara efektif untuk berdakwah. Wayang bukan hanya salah satu kekayaan budaya nusantara, namun ia juga cara dakwah yang dilakukan Wali Songo, terutama Sunan Kalijaga yang menggunakan wayang saat menyebarkan agama Islam di Pulau Jawa.
Wali Songo menggunakan wayang dengan beberapa perubahan atas wayang beber yang berwujud persis manusia. Namun, perubahan ini tetap mempertimbangkan adat istiadat, serta kebudayaan masyarakat setempat.
Warna agama Hindu dan pemujaan terhadap arca dalam wayang juga dihilangkan dengan mengubah bahan kertas dengan kulit kerbau.
Wujud manusia tetap masih ada, tapi dibuat aneh. Misalnya leher dibuat panjang, gambar wajah dibuat miring, tangan dibuat panjang sampai kaki. Akhirnya, wayang bisa menjadi tontonan menarik, sekaligus disisipi pesan moral dan dakwah Islam.
Penggubahan wayang yang dipelopori oleh Sunan Kalijaga itu terjadi kira-kira tahun 1443 M. Para Walisongo bahkan menciptakan gamelannya.
Untuk memainkan wayang dan gamelannya itu para Wali Songo mengarang cerita yang bernapaskan nila-nilai keislaman.
Adapun Karakter Punakawan yang terdiri atas Semar, Bagong, Petruk, dan Gareng adalah karakter yang sarat dengan muatan Keislaman.
Keempat pelaku yang dimunculkan para Wali Songo ini mengandung falsafah yang amat dalam yang merujuk pada bahasa Arab, di antaranya sebagai berikut :
1. Dalang, yang diambil dari kata “Dalla” yang artinya menunjukkan.
Dalam hal ini, seorang “Dalang” adalah seseorang yang “menunjukkan kebenaran kepada para penonton wayang”.
2. Tokoh Semar, yang berasal dari kata “Simaar” yang berarti Paku.
Filosofisnya adalah dimana seseorang harus memiliki iman yang kuat dan kokoh laksana paku yang menancap.
3. Tokoh Petruk, yang berasal dari kata “Fat-ruuk” yang berarti tinggalkan, dimana seseorang harus meninggalkan apa yang disembah selain Allah semata.
3. Tokoh Gareng, yang berasal dari kata “Qariin” yang berarti teman. Seseorang muslim harus pandai mencari teman untuk diajak menuju jalan kebaikan.
4. Tokoh Bagong, yang berasal dari kata “Baghaa) yang berarti berontak. Seseorang muslim harus memberontak ketika melihat kedzaliman di hadapannya.
Sunan kalijaga sering keluar masuk kampung untuk melakukan pagelaran-pagelaran wayang. Beliau melakukan pagelaran tanpa memungut biaya pada penontonnya. Beliau hanya meminta mereka untuk mengucapkan dua kalimat syahadat kepada siapa saja yang menonton pertunjukkan wayangnya.
Beliau memiliki pemikiran bahwa mereka harus didekati secara perlahan. Jadi tujuan utama beliau adalah mengislamkan mereka dahulu, baru kemudian bertahap mengajarkan akidah kepada mereka.
Beliau juga berpendapat ketika seseorang telah memahami Islam, maka secara perlahan kebiasaan yang ada padanya dahulu akan hilang dengan sendirinya.
Selain Wayang Kulit, beliau juga menciptakan tembang suluk yang sangat populer salah satunya adalah Lir-Ilir. Tembang tersebut sarat akan makna tentang hakikat kehidupan dengan liriknya yang indah.
Beliau menciptakan cerita pewayangan versi Islam seperti Jimat Kalimasada dan DewaRuci, yang ceritanya hampir sama dengan kisah Nabi Khidir. Cerita itu masih berbentuk cerita menurut kepercayaan Jawa yang bernuansakan Islami dan dengan corak kehidupannya yang ada. Kalimasada adalah pusaka azimat yang ternyata untuk mengucapkan syahadat. Sehingga semua penontonnya bersyahadat masuk Islam.
Tak hanya itu, Wali Songo juga memberi kelengkapan teknik pakeliran. Misalnya, setiap pergelaran wayang digunakan layar (kelir), pohon pisang guna menancapkan wayang, blencong sebagai penerangan, kotak alat penyimpang wayang dan cempala guna memukul kotak.
Cerita pergelaran memang tetap memakai Ramayana dan Mahabharata. Sebab saat itu masyarakat masih dalam pengaruh kerajaan Hindu-Budha. Namun dalam beberapa bagian, diselipkan unsur dakwah yang mengarah pada tauhid, meskipun dalam bentuk simbol lambang.
Wayang akhirnya sering diundang untuk pentas di tengah-tengah masyarakat dalam berbagai hajat seperti, tasyakuran, hitanan, perkawinan, dan sebagainya.
Melalui pentas wayang, seorang mubaligh benar-benar merasa dapat menyiarkan agama Islam secara lebih efektif dan mengena. Semua adegan digunakan untuk menyalurkan dakwah, sehingga realitas di lapangan menyebutkan bahwa setelah ditampilkan wayang tersebut banyak pola pikir masyarakat yang berubah.
Misalnya, masyarakat yang semula tidak shalat kemudian menjadi shalat, yang semula tidak mau mengaji, kemudian mau mengaji.
Banyak orang yang malam nonton wayang, siangnya datang memberi tahu bahwa dirinya sekarang sudah shalat. Bukan saja penonton wayang yang jelas-jelas menjadi sasaran dakwah tetapi juga pengrawit.
Sunan Kalijaga dengan jenius menggunakan prinsip dakwah yang multidimensi menjadikan pentas wayang sebagai media yang efektif untuk mendekatkan dan menarik simpati masyarakat terhadap agama.
by Danu Wijaya danuw | Jan 25, 2017 | Artikel, Dakwah
Shalat qabliyah (sebelum) dan ba’diyah (sesudah) shalat Fardhu disebut shalat rawatib. Rawatib maksudnya adalah shalatnya sangat ditekankan (sunnah muakkadah). Rawatib berasal dari kata rotabah, artinya rutin, kontinyu. Dalam bahasa Arab ‘ratib’ diartikan juga sebagai gaji, karena dia kontinyu sifatnya.
Nabi saw menyatakan bahwa muslim yang shalat karena Allah 12 rakaat, selain fardhu, maka akan dibangunkan untuknya istana di surga.
Dari Ummi Habibah rodhiyallahu ‘anha pernah mendengar Rasulullah bersabda, “Allah SWT pasti membangun sebuah istana di surga bagi orang yang shalat sunnah tulus karena Allah, sebanyak duabelas rakaat setiap hari.” (HR. Muslim)
Dijelaskan dalam riwayat At-Tirmidzi, “Empat rakaat sebelum Dzuhur, dua rakaat setelahnya, dua rakaat setelah Maghrib, dua rakaat setelah Isya dan dua rakaat sebelum Shubuh.”
Dalam mazhab Syafi’i yang dianut masyarakat Indonesia, “Dua rakaat sebelum Dzuhur dan dua rakaat setelahnya, dua rakaat sebelum Ashar, dua rakaat sebelum Maghrib dan dua rakaat setelahnya, dua rakaat sebelum Isya dan dua rakaat setelahnya, dan dua rakaat sebelum Shubuh.”

Manfaat Amalan Shalat Qabliyah Ba’diyah
1. Saat Subuh
Seorang muslim yang shalat dua rakaat sebelum Shubuh lebih baik daripada dunia dan segala isinya.
Dari Aisyah rodhiyallahu ‘anha meriwayatkan, bahwa Rasulullah bersabda, “Shalat dua rakaat sebelum subuh, itu lebih baik daripada dunia dan segala isinya. (HR. Muslim) .
Shalat Qabliyah Subuh tak pernah ditinggalkan orang-orang hebat seperti Imam Malik dan Ibnu Umar ra.
2. Saat Dzuhur
Kemudian siapa yang menjaga Qabliyah Ba’diyah Dzuhur, Allah mengharamkan api neraka buatnya.
Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata: “Aku shalat bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dua rakaat sebelum Dzuhur dan dua rakaat setelah Dzuhur.” (H.R. Bukhari dan Muslim)
Rasulullah bersabda, “Allah SWT pasti mengharamkan api neraka bagi orang yang menjaga empat rakaat sebelum dan setelah Dzuhur.” (HR. Ahmad).
Abdullah bin as-Saib meriwayatkan, Rasulullah pernah shalat empat rakaat setelah matahari tergelincir sebelum Dzuhur, kemudian beliau bersabda : Saat ini pintu langit sedang dibuka, aku lebih suka agar amal salehku diangkat pada saat itu. (HR. At-Tirmidzi).
3. Saat Ashar
Kemudian seseorang yang shalat Qabliyah 4 rakaat sebelum Ashar, Allah akan menyayangi kita dengan rahmat-Nya.
Dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma meriwayatkan, Rasulullah bersabda, “Allah menyayangi orang yang shalat sunnah empat rakaat sebelum Ashar. (HR. Abu Dawud).
4. Saat Maghrib
Qabliyah maghrib diingatkan Nabi saw hingga tiga kali
Dari sahabat ‘Abdullah bin Mughaffal radhiyallahu ‘anhu, dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: ”Shalatlah kalian sebelum Maghrib.” (sampai 3x). Pada yang ketiga kalinya, Rasulullah bersabda, “Bagi yang mau.” (H.R. Bukhari)
5. Saat Isya
Dari Aisyah radhiallahu anha, “…..Lalu, beliau mengimami kaum Muslimin shalat Isya’, kemudian masuk kembali ke rumahku dan shalat 2 raka’at (shalat ba’diyah Isya’).” (H.R. Muslim)
Ghairu Rawatib
Ghairu rawatib atau bukan rawatib adalah shalat Qabliah yang tidak disebutkan dalam shalat rawatib, berarti tinggal Qabliah Maghrib dan Qabliah Isya.
Namun ghairu rawatib tetap dianjurkan sebagaimana dalam Mazhab Syafi’i yang biasa dilaksanakan masyarakat Indonesia. Dalilnya adalah keumuman hadits Rasulullah, “Antara adzan dan iqamah, terdapat shalat” (HR. Muslim).
Hanya shalat Ba’diyah Subuh dan Ba’diyah Ashar yang dilarang dalam berbagai pendapat. Karena bertepatan matahari terbit dan terbenam.
Sumber : Fiqih Abdullah Haidir, dan Riyadhus Shalihin Imam Nawawi bahasan Qabliyah Ba’diyah
by Danu Wijaya danuw | Jan 21, 2017 | Artikel, Dakwah
Kita seringkali menjumpai dalam pergaulan atau ketika membaca komentar di acebook atau situs berita, akan ditemukan banyak sekali orang yang berkomentar dengan kasar, kotor, jorok, menghujat, mencaci-maki, cabul dan sebagainya, seakan-akan merekalah yang paling benar.
Padahal Rasulullah telah mencontohkan kepada kita adab berbicara yang baik. Betapa lembut dan santunnya Rasulullah. Sehingga masing-masing lawan bicaranya Rasulullah merasa dia yang paling di muliakan. Muslim sejati akan berbicara sopan, santun, tidak menyakiti hati orang lain, dan selalu mengenakkan dalam berbicara atau berkomentar.
Dalam berbicara dengan lawan bicara, kita harus menggunakan tata karma dan tutur kata yang baik. Kaum Muslim di didik dengan ajaran agama rahmatan lil’alamin (menebar kasih sayang terhadap sesama) dan mengutamakan akhlak mulia (akhlaqul karimah).
Muslim sejati akan berbicara sopan, santun, tidak menyakiti hati orang lain, dan selalu mengenakkan dalam berbicara atau berkomentar.
Muslim yang baik itu bersikap “dewasa”, sabar, tenang, hatinya penuh dengan dzikir, hatinya bersih, cool, calm, tidak emosional, tidak suka menghujat, dan anti-kekerasan.
Melalui Rasulullah Saw, ajaran Islam mengajarkan kepada setiap kaum mukmin agar berkata yang baik saja atau diam. Qul khoiron auliyashmut. Berkata yang baik atau diam.
Sebagaimana Sabda Nabi saw, dari Abu Hurairah Rasulullah saw bersabda, “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaknya dia berkata yang baik atau diam” (H.R. Bukhari Muslim)
Firman Allah ta’ala, “Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang mukmin dan mukminat tanpa kesalahan yang mereka perbuat, maka sesunguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata” [Al-Ahzab : 58]
Hadits diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, Nabi saw bersabda, “Ada seorang laki-laki yang bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Siapakah orang muslim yang paling baik ?’ Beliau menjawab, “Seseorang yang orang-orang muslim yang lain selamat dari gangguan lisan dan tangannya”.
“Cukuplah seseorang dikatakan buruk jika sampai menghina saudaranya sesama muslim. Seorang muslim wajib manjaga darah, harta dan kehormatan orang muslim lainnya” (H.R. Muslim)
Allah berfirman dalam kitabNya, “Menghindari perbuatan menggunjing (ghibah) dan mengadu domba. Allah berfirman yang artinya, “Dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain.” (QS. Al-Hujarat: 12).
Rasulullah Saw juga menegaskan, orang beriman itu tidak suka mencela, melaknat, berkata-kata keji dan berbicara kotor.
“Bukanlah seorang mukmin : orang yang suka mencela, orang yang gemar melaknat, orang yang suka berbuat atau berkata-kata keji, dan orang yang berkata-kata kotor/jorok” (HR Bukhori, Ahmad, Al-Hakim, dan Tirmidzi dari Ibnu Mas’ud).
Semoga kita diberi kekuatan untuk menjadi Muslim yang Baik. Adab Nabawi dalam berbicara adalah berhati-hati dan memikirkan terlebih dahulu sebelum berkata-kata. Setelah direnungkan bahwa kata-kata itu baik, maka hendaknya ia mengatakannya. Sebaliknya, bila kata-kata yang ingin diucapkannya jelek, maka hendaknya ia menahan diri dan lebih baik diam.
by Danu Wijaya danuw | Jan 21, 2017 | Artikel, Dakwah
Buku yang sempat menghebohkan dunia Islam itu judul aslinya adalah هرمجدون آخر بيان يا أمة الإسلام.
Ditulis oleh seorang yang bernama Amin Muhammad Jamaluddin. Dalam edisi terjemahan bahasa Indonesia berjudul Huru-hara Akhir Zaman.
Mengomentari buku yang menghebohkan ini, Al-Ustadz Hamid bin Abdillah Al-‘Ali mengatakan bahwa beliau tetap menghargai niat dan usaha penulisnya untuk mengingatkan umat Islam akan datangnya hari kiamat. Dan beliau juga berpesan agar para pembaca buku ini tidak gampang bersuudzhon kepada penulisnya.
Namun beliau juga mengingatkan kepada penulis buku ini agar tidak menggunakan rujukan yang tidak ada sumber hadits yang kuat dan menghindari hadits palsu.
Memang kalau kita baca buku itu, di sana dinyatakan dengan pasti Imam Mahdi akan muncul sebelum masuk tahun 1430 Hijriyah, yang sekarang sudah lewat. Juga disebutkan bahwa usia umat Islam yaitu 1500 tahun.
Sehingga kalau dihitung dari sejak diutusnya nabi Muhammad SAW pada tahun 13 tahun sebelum hijrah hingga tahun 2017 ini/1438 H, berarti usia umat Islam tinggal 1500 H – (1438+13) H = 1500 H – 1451 = 49 tahun lagi. Sehingga tahun 2066 M sudah berakhir.
Titik Pangkal Masalah
Yang jadi masalah paling mendasar adalah darimana datangnya angka tahun 1430 hijriyah sebagai tahun kemunculan Al-Imam Mahdi? Dan darimana angka 1500 tahun sebagai usia umat Islam?
Menurut buku itu, angka tahun-tahun ini didapat dari hadits nabi Muhammad SAW. Dan diyakini oleh penulisnya sebagai hadits yang shahih dan bisa diterima.
Selain hadits tentang masa terjadinya kiamat, di dalam buku itu juga ada hadits lain seperti berikut ini:
Nu’aim bin Hammad meriwayatkan dengan sanadnya bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Pada bulan Ramadhan terlihat tanda-tanda di langit, seperti tiang yang bersinar, pada bulan Syawwal terjadi malapetaka, pada bulan Dzulqa’idah terjadi kemusnahan, pada bulan Dzulhijjah para jamaah haji dirampok, dan pada Muharram, tahukah apakah Muharram itu?”
Rasulullah saw juga bersabda:
“Akan ada suara dahsyat di bulan Ramadhan, huru-hara di bulan Syawal, konflik antara suku pada bulan Dzulqa’idah, dan pada tahun itu para jamaah haji dirampok dan terjadi pembantaian besar di Mina di mana ramai orang terbunuh dan darah mengalir di sana, sedangkan pada saat itu mereka berada di Jumrah Aqabah.”
Baginda saw juga bersabda:
“Bila telah muncul suara di bulan Ramadhan, maka akan terjadi huru-hara di bulan Syawwal….” Kami bertanya, “Suara apakah, ya Rasulullah?” Beliau menjawab, “Suara keras di pertengahan bulan Ramadhan, pada malam Juma’at, akan muncul suara keras yang membangunkan orang tidur, menjadikan orang yang berdiri jatuh terduduk, para gadis keluar dari pingitannya, pada malam Jum’at di tahun terjadinya banyak gempa.
Jika kalian telah melaksanakan shalat Subuh pada hari Juma’at, masuklah kalian ke dalam rumah kalian, tutuplah pintu-pintunya, sumbatlah lubang-lubangnya, dan selimutilah diri kalian, sumbatlah telinga kalian. Jika kalian merasakan adanya suara menggelegar, maka bersujudlah kalian kepada Allah dan ucapkanlah, “Mahasuci Al-Quddus, Mahasuci Al-Quddus, Rabb kami Al-Quddus!”, karena barangsiapa melakukan hal itu akan selamat, tetapi barangsiapa yang tidak melakukan hal itu akan binasa.”
Benarkah itu Hadits Shahih?
Semua yang diceritakan dalam tema buku ini adalah permasalahan ghaib, maka yang berhak mengatakan itu hanya nabi Muhammad SAW saja. Jadi seandainya memang ada hadits yang sampai ke derajat shahih, bolehlah kita jadikan pegangan.
Tapi masalah terbesarnya, ternyata apa yang diklaim sebagai hadits shahiholeh penulis buku itu, justru ditentang oleh para ahli hadits. Para ahli hadits bahkan sampai mengatakan bahwa hadits-hadits yang digunakan dalam kitab itu adalah hadits palsu dan batil. 100% tidak bisa dijadikan dasar dalam urusan agama.
Apalagi masalah huru-hara menjelang hari kiamat termasuk masalah aqidah. Maka haram hukumnya menggunakan riwayat itu sebagai dasar rujukan.
Apa yang diklaim sebagai hadits sebenarnya sama sekali tidak layak dikatakan sebagai sabda nabi Muhammad SAW. Dan untuk itu sudah ada ancaman dari beliau sendiri tentang orang yang mengatakan bahwa suatu lafadz itu merupakan perkataan beliau, padahal beliau sendiri tidak pernah mengatakannya.
Rasulullah SAW bersabda, “Siapa yang berdusta tentang aku secara sengaja, maka hendaklah dia menyiapkan tempat duduknya di neraka”. (HR Muttafaqun ‘alaihi).
Kelemahan Hadits Pada Buku Tersebut
1. Kelemahan Pertama: Tidak Membaca Makhthuthat
Kelemahan paling mendasar bahwa Amin Muhammad Jamaluddin meski banyak menggunakan hadits dari kitab Shahih Bukhari dan Shahih Muslim, namun pada bagian-bagian yang penting dan sangat musykil seperti perhitungan tahun turunnya Imam Al-Mahdi, beliau menggunakan hadits-hadits yang tidak jelas asal usulnya.
Di antara rujukan hadits yang bermasalah di kitab ini adalah klaim bahwa beliau menemukan makhthutah (naksah tulisan tangan) di sebuah perpustakaan di Istambul.
Setelah diteliti lebih jauh, ternyata Amin Muhammad Jamaluddin sebagai penulis tidak membaca langsung naskah tulisan tangan itu. Tetapi bersumber dari seseorang yang mengaku pernah menemukan makhthuthat itu di sebuah perpustakaan di Istanbul.
Jadi bahkan Amin Jamaluddin sendiri tidak pernah melihat langsung naskah itu dalam keadaan aslinya. Semata-mata informasi dari seseorang yang mengaku pernah melihatnya.
Dari sini saja pada dasarnya kaidah ilmiyah penulisan kitab ini sudah sangat bermasalah. Seharusnya penulis buku ini mencantumkan kopi dari makhthuthah ini dalam kitabnya. Dan akan menjadi satu cabang ilmu yang dikenal dengan nama Filologi.
2. Kelemahan Kedua: Makhthuthah Bermasalah
Menurut Ustaz Hatim Al-Auniy, anggota Hai’ah Tadrisdi Universitas Ummul Qura Makkah, makhthuthat yang diklaim sebagai berisi hadits shahih itu ternyata tidak lebih dari kumpulan hadits-hadits palsu nukilan dari Kitabul Fitan karya Nu’aim ibnu Hammad.
Padahal banyak dari para ulama sejak dahulu telah memberi peringatan tentang masalah periwayatan yang ada di dalam kitab Al-Fitan.
Al-Imam Ahmad mengatakan ada tiga kitab yang tidak punya dasar, di antaranya adalah Kitabul Fitan karya Nu’aim bin Hammad ini.
Sedangkan Adz-Dzahabi mengomentari tentang Nu’aim penulis makhthuthat ini sebagai orang yang jiwa manusia tidak mantap dengan riwayatnya. Senada dengan itu, Yahya bin Mu’in mengatakan bahwa Nu’aim ini meriwayatkan dari orang-orang yang tidak tsiqah (lihat Siyar A’lam An-Nubala’ jilid 10 halaman 597-600).
Jadi anggaplah misalnya makhthuthat itu memang benar-benar ada di perpustakaan Istanbul sana, dan memang benar-benar ditulis oleh Nu’aim bin Hammad, tetap saja pengambilan dasar hadits itu bermasalah pada perawinya, yaitu Nu’aim bin Hammad.
3. Kelemahan Ketiga: Tadlis (Penipuan Nama Bukhari)
Para ahli hadits punya sebuah istilah yang disebut dengan tadlis. Makna mudahnya adalah penipuan. Di dalam buku ini Amin Jamaluddin menggunakan metode tadlis atau penipuan atas nama Al-Bukhari.
Hadits yang digunakan penulis buku ini sering diklaim sebagai hadits Bukhari, padahal bukan. Hadits itu sebenarnya terdapat dalam kitab tulisan gurunya Al-Bukhari yang bernama Nu’aim ibnu Hammad.
Benar bahwa Nu’aim ini guru Al-Bukhari, namun para ulama hadits banyak yang mengatakan bahwa Nu’aim ini adalah perawi yang bermasalah. Dan Al-Bukhari tidak pernah menggunakan sanad dari Nu’aim kecuali bila ada riwayat dari jalur yang lain menguatkan jalur Nu’aim.
Satu hal yang dilupakan adalah bahwa tidak mentang-mentang seseorang menjadi guru imam Al-Bukhari, lantas semua riwayat atau kitab hadits karyanya boleh dianggap shahih. Bahkan tidak semua hadits yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari sendiri bisa dipastikan keshahihannya. Karena yang dikatakan hadits shahih adalah yang beliau masukkan ke dalam kitab shahihnya. Sedangkan kitab lain yang juga ditulis oleh beliau, belum tentu shahih.
Untuk sekedar diketahui, Al-Bukhari selain menyusun Kitab Ash-Shahih juga pernah menulis beberapa kitab lainnya seperti al-Adabul Mufrad, Raf’ul Yadain fish Shalah, al-Qira’ah khalfal Iman, Birrul Walidain, at-Tarikh ash-Shagir, Khalqu Af’aalil ‘Ibaad, adl-Dlu’afa (hadits-hadits lemah), al-Jaami’ al-Kabir, al-Musnad al-Kabir, at-Tafsir al-Kabir, Kitabul Asyribah, Kitabul Hibab, dan kitab Asaami ash-Shahabah. Tapi yang benar-benar beliau jamin keshahihannya hanyalah kitab As-Shahih saja.
Sebenarnya kita masih bisa membela Nu’aim ibnu Hammad sebagai guru Al-Bukhari. Karena beliau juga tidak pernah mengatakan hadits dalam kitab Al-Fitan itu sebagai hadits shahih, makanya beliau menuliskan hadits itu lengkap sanadnya, yang akan menjadi bahan buat para peneliti hadits untuk mengerjakan tugasnya. Dan dunia Islam memang mengenal Kitab Al-Fitan ini adalah kitab yang berisi hadits-hadits batil dan israiliyyat (dongeng bangsa Israil).
Sayangnya, Amin Jamaluddin menukil hadits-hadits dalam kitab Al-Fitan itu begitu saja tanpa menyebutkan bahwa isnad hadits ini belum selesai dikerjakan dan dia sama sekali tidak mencantumkan daftar perawinya. Sehingga terkesan pembaca digiring untuk mengatakan seolah-olah hadits-hadits itu shahih dengan menyebutkan bahwa Nu’aim adalah guru imam Bukhari.
Buat mereka yang terlalu bersemangat tapi awam dengan ilmu naqd (kritik) hadits, mudah sekali percaya bahwa hadits-hadits itu sebagai hadits shahih.
4. Kelemahan Keempat: Dongeng Nostradamus
Salah satu kelemahan fatal buku ini adalah turut dicantumkannya juga dongeng-dongeng modern, semisal ramalan Nostradamus yang berkebangsaan Perancis, untuk menguatkan teori penulis buku.
Sejak kapan umat Islam berdalil dengan ramalan orang kafir, meski pun ramalan itu secara kebetulan memang terjadi. Sebab ramalan itu hukumnya haram, karena satu kebenaran ditambah dengan 100 kebohongan.
Salah satu ramalan batil yang disebut-sebut sangat terkenal adalah peristiwa 11 September 2001 di New York. Salah satu petikan di buku itu sebagai berikut:
“Di suatu tahun di abad yang baru dan sembilan bulan, dari langit akan datang Raja Teror. Langit akan terbakar pada empat puluh lima derajat. Api akan turun di kota baru yang besar itu di kota New York.”
Dan masih banyak lagi kejanggalan-kejanggalan buku ini, sehingga para ulama sampai mengharamkan umat Islam merujuk buku ini dalam memahami ajaran Islam. Karena selain bercampurnya hadits shahih dan palsu, juga banyak berisi dongeng yang dihubung-hubungkan.
Wajar kalau ada pihak yang mengatakan tujuan buku ini diterbitkan tidak lain sekedar cari sensasi belaka. Dan alasan paling logis untuk itu sekedar meraup uang saja.
Harapan kepada umat Islam, setidaknya sebelum bicara hal-hal yang berbau masalah hari kiamat yang merupakan khabar ghaibi, syarat mutlaknya adalah memastikan hanya menggunakan hadits yang shahih dalam arti yang sebenarnya. Pastikan hadits memang telah disepakati keshahihannya oleh para ulama hadits.
Selain itu kitab sharah hadits itu wajib dibaca, semacam Fathul Bari oleh Al-‘Allamah Ibnu Hajar Al-‘Asqalani, kitab penjelasan untuk Shahih Bukhari, atau Syarah Shahih Muslim oleh Imam An-Nawawi untuk penjelasan Kitab Shahih Muslim.
Agar jangan tujuan mulia kita tercemar dengan kejahilan ilmu hadits kita, sehingga bukannya menyebarkan ilmu tetapi malah menjadi agen khurafat. Wal ‘Iyadzhu billahi.
Wallahu a’lam bishshawab, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Ahmad Sarwat, Lc,MA (Rumah Fiqih Indonesia)
by Adi Setiawan Lc. MEI Adi Setiawan | Jan 18, 2017 | Artikel, Dakwah
Oleh : Adi Setiawan, Lc
Suatu ketika Rasulullah Saw bersabda kepada para sahabatnya,
ما منكم من أحد إلا كتب مقعده من الجنة ومقعده من النار ” . قالوا : يا رسول الله ، أفلا نتكل ؟
قال : ” اعملوا فكل ميسر [ لما خلق له ] ” ثم قرأ : ( فأما من أعطى واتقى وصدق بالحسنى فسنيسره لليسرى . رواه البخاري
“Tiada seorang pun dari kalian, melainkan telah ditetapkan kedudukannya di surga atau pun di neraka.” Para sahabat bertanya: “Wahai Rasulullah, apakah itu berarti kita bertawakkal saja?”.
Beliau SAW menjawab: “Berbuatlah! Maka tiap-tiap orang itu dimudahkan untuk mengerjakan apa yang diciptakan (ditakdirkan) untuknya.”
Kemudian beliau SAW membacakan ayat, “Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa, dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga), maka kelak kami akan mudahkan baginya menuju kemudahan (kebahagiaan).” (HR. Bukhari)
Pelajaran pertama dari hadits ini adalah, Berbuatlah maka Allah akan permudah.
Sebagai konsekuensi dari setiap perbuatan akan ditemukan kemudahan. Dalam hadits ini dicontohkan dengan kedermawanan dan ketakwaan serta tsiqah billah maka akan membuahkan hasil yang manis berupa kemudahan. Yaitu kemudahan dalam membiasakan amal kebaikan serta kemudahan memperoleh kebahagiaan dan kelapangan hidup dan kelak dimudahkan jalannya menuju surga.
Betapa banyak orang ingin berhasil, namun tidak pernah mencoba, tidak mau menapaki usaha menuju keberhasilan. Takut kalah, khawatir terjatuh dan sebagainya menjadi alasan orang enggan memulai sebuah kebaikan. Bukankah seorang anak akhirnya bisa berjalan setelah ia berkali-kali terjatuh, luka bahkan berdarah? Bukankah canggihnya smartphone yang ada di tangan kita hari ini adalah hasil dari ribuan percobaan, melewati kegagalan demi kegagalan terlebih dahulu?
Ingatlah Allah SWT berfirman, “Dan katakanlah, berbuatlah, maka Allah akan melihat perbuatanmu”. (At-Taubah; 105).
Berbuatlah amal kebaikan, biarkan Allah yang menilai amal kebaikan kita itu, biarkan Allah SWt yang memberikan jalan sehingga semuanya terasa ringan.
Pelajaran Kedua, Takwa adalah rambu dalam bekerja
Firman Allah: “Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa.”
Yakni mengeluarkan apa yang diperintahkan untuk dikeluarkan dan bertakwa kepada Allah dalam segala urusannya termasuk dalam hal memberi sendiri.
Memberi dalam bentuk infak, sedekah atau pun zakat tidak diperkenankan terlalu boros, apalagi sampai melupakan kebutuhan pribadi dan keluarga. Sebaliknya tidak pula terlalu hitung-hitungan. Semua ada batasannnya. Dan batasan terindah bagi seorang muslim adalah takwanya.
Mari belajar dari kisah Abdurrahman bin Auf. Menjelang perang Tabuk yang terjadi pada masa paceklik, Rasulullah Saw perintahkan kepada para sahabat untuk bersedekah sebagai bekal perang.
Datanglah Abdurrahman bin Auf membawa 4.000 dirham menghadap Rasulullah Saw. Beliau pun bertanya, “Alangkah banyaknya ini wahai Abdurrahman, tidakkah engkau sisihkan untuk keluargamu?”.
Abdurrahman bin Auf menjawab, “Saat ini hartaku berjumlah 8000 dirham; 4000 dirham aku pinjamkan (sedekahkan) untuk kepentingan agama Allah, sedangkan 4.000 sisanya aku simpan untukku dan keluargaku”.
Mendengar itu Nabi Saw. pun mendoakannya,
“ بارك الله لك فيما أعطيت وفيما أمسكت”
“Semoga Allah memberkahimu dengan apa yang telah kau berikan dan juga apa yang kau simpan.”
Doa ini pun menjadi kenyataan, ketika Abdurrahman bin Auf menjemput ajal, ia meninggalkan harta warisan untuk kedua istrinya sebesar 180.000 dirham, sehingga masing-masing istrinya mendapat 90.000 dirham.
Pelajaran Ketiga, Tidak ada perbuatan yang sia-sia
Firman Allah, Wa shaddaqa bil husnaa (“Dan membenarkan adanya pahala yang terbaik.”) yakni diberi balasan atas semuanya itu. Demikian yang dikemukakan oleh Qatadah. Ibnu ‘Abbas mengatakan: “Yaitu dengan peninggalan.”
Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Ubay bin Ka’ab, dia berkata, aku pernah bertanya kepada Rasulullah saw mengenai kata al husnaa, maka beliau menjawab: “Al husnaa berarti syurga.”
Orang-orang yang berani mengeluarkan hartanya di jalan Allah. Ia tak pernah khawatir sedikit pun akan ditimpa kebangkrutan. Lalu ia juga bertakwa yaitu menjaga diri dari yang diharamkan Allah SWT, keluar dari rambu takwa. Sebagaimana ditafsirkan oleh Ibnu Abbas ra. Dan ia meyakini bahwa yang dilakukannya tidaklah sia-sia. Allah SWT telah menjanjikan balasan yang sangat luar biasa. Maka ia mempercayainya dengan sepenuh hati dan itu nampak ketika ia memberi dengan apa pun yang dimilikinya.
Belajarlah dari petani yang membiarkan burung memakan tanamannya. Dari Jabir bin Abdullah Rodhiyallohu ‘Anhu dia berkata, telah bersabda Rasulullah Shollallohu ‘Alaihi Wa Sallam:
فَلاَ يَغْرِسُ الْمُسْلِمُ غَرْسًا فَيَأْكُلَ مِنْهُ إِنْسَانٌ وَ لاَ دَابَّةٌ وَ لاَ طَيْرٌ إِلاَّ كَانَ لَهُ صَدَقَةً إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ
“Tidaklah seorang muslim menanam tanaman lalu tanaman itu dimakan manusia, binatang ataupun burung melainkan tanaman itu menjadi sedekah baginya sampai hari kiamat.” (HR. Imam Muslim hadits no.1552(10))
Syaikh Al-Utsaimin rahimahullah menjelaskan bahwa hadits tersebut merupakan dalil yang jelas mengenai anjuran Nabi SAW untuk bercocok tanam, karena di dalam bercocok tanam terdapat 2 manfaat yaitu manfaat dunia dan manfaat agama.
Pertama: Manfaat yang bersifat Dunia (dunyawiyah) dari bercocok tanam adalah menghasilkan produksi (menyediakan bahan makanan). Karena dalam bercocok tanam, yang bisa mengambil manfaatnya, selain petani itu sendiri juga masyarakat dan negerinya. Siapa pun rela mengeluarkan uang karena mereka butuh kepada hasil-hasil pertaniannya.
Selain itu bercocok tanam juga menjadikan lingkungan menjadi lebih sehat untuk manusia dimana udara menjadi segar karena tanaman menghasilkan oksigen yang diperlukan oleh manusia untuk proses pernafasan. Tanaman berupa pepohonan juga memberikan kerindangan bagi orang-orang yang berteduh di bawahnya, kesejukan bagi orang yang ada di sekitarnya. Tanaman juga menjadikan pemandangan alam yang enak dan indah dipandang. Lihatlah hamparan tanah yang dipenuhi oleh tanam-tanaman tentunya hati dibuat senang melihatnya, perasaan pun menjadi damai berada di dekatnya.
Kedua: Manfaat yang bersifat agama (diniyyah) yaitu berupa pahala atau ganjaran. Sesungguhnya tanaman yang kita tanam apabila dimakan oleh manusia, binatang baik berupa burung ataupun yang lainnya meskipun satu biji saja, maka itu bernilai sedekah bagi penanamnya. Dan tentu nilai sedekah itu paling tidak 700 kali lipat di hadapan Allah SWT sebagai disebutkan dalam Al-quran.
Pelajaran Keempat, sebuah pengorbanan akan selalu tercatat sebagaimana asbab nuzul ayat ini
Imam Al-Wahidi dalam kitab asbab nuzulnya menyebutkan, ayat ini diturunkan untuk mengabadikan akhlak mulia Abu Bakar ra yang membeli Bilal bin Rabah dari Umayah bin Khalaf serta memerdekakan Bilal tanpa syarat apapun. Zubair bin Awwam menceritakan bahwa pembelian Bilal dihina oleh banyak orang karena menurut mereka alangkah baiknya jika Abu Bakar membeli budak yang lebih baik dari Bilal. Tapi penghinaan ini tak digubris oleh Abu Bakar.
Menurut riwayat lain ayat ini diturunkan untuk mengapresiasi Abu Dahdah al-Anshary yang suatu hari berada di kediaman seorang munafik yang memiliki kurma. Ia melihat kurma-kurma tersebut berjatuhan ke rumah tetangganya yang yatim. Orang munafik tersebut mengambili kurma-kurma tersebut, khawatir akan diambil oleh anak-anak yatim tetangganya.
Abu Dahdah al-Anshary berkata kepada mereka, “Biarkan saja itu untuk mereka maka engkau akan mendapat gantinya di surga”. Namun sang munafik tersebut tidak menggubrisnya. Abu Dahdah kemudian membelinya semuanya dan menghibahkannya untuk anak-anak yatim tersebut.
Pelajaran Kelima, Tawakkal dalam berbuat
Ketika para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah itu berarti kita bertawakkal saja?”. Rasulullah Saw luruskan makna tawakkal dengan kata, “Berbuatlah!”. Tawakkal bukan berarti tidak bekerja, berbuat dan seterusnya. Justru tawakkal adalah bagian dari berbuat.
Manusia harus bertawakkal sebagaimana burung bertawakal. Dari Umar bin Khattab dari Nabi SAW bersabda, “Seandainya kalian bertawakkal kepada Allah dengan sebenar-benar tawakkal. Pasti Allah akan memberi kalian rezeki sebagaimana Dia memberi rezeki kepada burung. Di saat ia berangkat di pagi hari perutnya masih kosong. Dan ketika ia kembali ke sarangnya di sore hari perutnya sudah kenyang.” ( HR. Ahmad).
Allah SWT Ar-Rozzaq menjamin rezekinya burung. Maka sebagaimana Ia memberi rezeki kepada burung, begitu pula Ia akan memberi kita rezeki. Bahkan rezeki kita telah ditetapkan sebelum kita dilahirkan, saat kita masih berada dalam kandungan ibu kita.
Yang perlu disadari, kita tidak akan meninggal dunia kecuali Allah SWT telah cukupkan rezeki kita. Rasulullah SAW bersabda, “Demi Zat yang jiwa Muhammad berada dalam gengaman tangan-Nya, Tidak akan meninggal setiap jiwa (manusia) sebelum sempurna jatah rezekinya. Bertakwalah kepada Allah dan carilah rezeki dengan cara yang baik. Jangan sampai karena rezeki kalian datangnya lambat, membuat kalian mencarinya dengan cara tidak taat kepada Allah (cara yang haram). Sebab apa (rezeki) yang ada pada Allah tidak akan diperoleh kecuali dengan taat kepada-Nya. Pena-pena (pencatat takdir) telah diangkat dan kertasnya pun telah kering (takdir telah ditetapkan)”. (HR. Tabrani).
Waallahu A’lam.
by Danu Wijaya danuw | Jan 16, 2017 | Artikel, Dakwah
Keutamaan shaum sunnah sudah banyak dikaji di berbagai topik diskusi keagamaan. Rasulullah sendiri menganjurkan agar umat Islam menjalankan shaum di luar bulan Ramadhan. Namun ibadah tersebut dirasa berat karena berbagai alasan.
Mungkin dari teman-teman ada yang bertanya “Apa yang menjadi dasar kenapa muslim melaksanakan puasa sunnah Senin dan Kamis?”. Ternyata banyak jaminan keutamaan dalam Islam sebagai berikut :
1. Akan dipersilahkan memasuki pintu khusus di Surga bernama Ar Rayyan bagi yang berpuasa
Sesungguhnya di surga ada satu pintu yang namanya “Ar-Rayyan,” yang akan di masuki oleh orang-orang yang sering berpuasa kelak pada hari kiamat, tidak akan masuk dari pintu itu kecuali orang yang suka berpuasa. di katakan : manakah orang-orang yang suka berpuasa? maka mereka pun berdiri dan tidak masuk lewat pintu itu kecuali mereka, jika mereka telah masuk, maka pintu itu di tutup sehingga tidak seorang pun masuk melaluinya lagi. (HR Bukhori dan Muslim).
2. Meniru Kebiasaan Rasulullah
Dari ‘Aisyah -radhiallahu ‘anha- : bahwa Nabi -sholallahu ‘alaihi wasallam- sering melakukan puasa senin dan kamis. (HR Ibnu Majah, At-Tirmidzi dan An-Nasai)
3. Diampuni Dosa-dosanya
Shahih Muslim dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda:
“Pintu-pintu Surga di buka pada hari Senin dan Kamis. Maka semua hamba yang tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun akan diampuni dosa-dosanya, kecuali seseorang yang antara dia dan saudaranya terjadi permusuhan. Lalu dikatakan, ‘Tundalah pengampunan terhadap kedua orang ini sampai keduanya berdamai, tundalah pengampunan terhadap kedua orang ini sampai keduanya berdamai, tundalah pengampunan terhadap orang ini sampai keduanya berdamai. (HR. Muslim)
Maksud dari beberapa pintu surga dibuka pada dua hari tersebut; Senin dan Kamis, yaitu di saat inilah setiap orang-orang Mukmin diampuni, kecuali dua orang Mukmin yang sedang bermusuhan.
4 Manfaat dari aspek kejiwaan, sosial serta kesehatan saat berpuasa
Secara kejiwaan puasa membiasakan kesabaran, menguatkan kemauan, mengajari dan membantu bagaimana menguasai diri, serta mewujudkan dan membentuk ketaqwaan yang kuat di dalam diri. Inilah hikmah puasa yang paling utama. Allah berfirman:
“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa.” (Q.S. Al-Baqarah ayat 183)