0878 8077 4762 [email protected]

Kisah Masjid Dhirar, yang Dibangun Nasrani dan Munafik di Hancurkan Rasulullah

Ibnu Katsir meriwayatkan dari Sa’id bin Jubair, Urwah, Qatadah, dan lainnya bahwa di Madinah ada seorang pendeta yang bernama Abu Amir dari Khazraj. Dia adalah seorang pemeluk nasrani yang memilki posisi penting di kalangan kaum Khazraj.
Ketika Rasulullah SAW masuk ke Madinah, menghimpun kekuatan islam dan membangun peradaban kaum muslimin disana, pendeta Abu Amir merasa tidak suka dengan keberadaan Rasulullah SAW dan menunjukkan bibit permusuhan. Kemudian dia pergi ke Mekkah untuk mengumpulkan dukungan kaum Kafir Quraisy untuk melawan Rasulullah SAW.
Melihat Dakwah rasulullah yang sudah menyebar luas, semakin kuat dan maju, diapun pergi mencari dukungan kepada Raja Romawi, Heraclius. Heraclius menyambut baik kedatangan pendeta Abu Amir dan menjanjikan apa yang diinginkannya. Pendeta Abu Amir pun tinggal di Negeri Heraclius sembari mengendalikan kaum munafik di Madinah
Pendeta Abu Amir mengirim sebuah surat kepada kaum munafik Madinah. Ia mengabarkan bahwa Heraclius akan memberi apa yang mereka inginkan. Pendeta Abu Amir memerintahkan kaum munafik untuk membuat markas tempat mereka berkumpul untuk merencanakan aksi-aksi jahat mereka kepada kaum muslimin.
Kaum Munafik kemudian membangun sebuah masjid yang diberi nama Masjid Dhirar. Masjid tersebut dibangun di dekat masjid Quba’.
Ketika masjid Dhirar telah berdiri, kaum munafik menemui Rasulullah SAW dan meminta beliau untuk Shalat di masjid Dhirar sebagai tanda persetujuan Rasul atas berdirinya masjid tersebut. Mereka berdalih masjid ini didirikan untuk orang-orang yang tidak dapat keluar saat malam sangat dingin.
Pada waktu itu Rasul hendak berangkat ke Tabuk, dan beliau mengatakan kepada kaum munafik, “Kami sekarang mau berangkat, Insya Allah nanti setelah pulang”. Allah swt melindungi Rasul untuk tidak shalat di masjid tersebut.
Beberapa hari sebelum Rasulullah SAW tiba di Madinah, Jibril turun membawa berita tentang masjid Dhirar yang sengaja dibuat untuk memecah belah kaum muslimin.
Rasulullah SAW kemudian mengutus Sahabat untuk menghancurkan masjid tersebut sebelum Rasul tiba di Madinah.
Berkenaan dengan Masjid ini turunlah Firman Allah SWT : “Dan (diantara orang-orang munafik itu) ada orang-orang yang mendirikan masjid untuk menimbulkan kemudharatan (pada orang-orang mukmin), dan karena kekafirannya, dan untuk memecah belah orang-orang mukmin serta menunggu kedatangan orang-orang yang memerangi Allah dan RasulNya sejak dahulu.
Mereka sesungguhnya bersumpah, ‘kami tidak menghendaki selain kebaikan. ‘Dan Allah menjadi saksi bahwa sesungguhnya mereka adalah pendusta (dalam sumpahnya).
Janganlah kamu shalat dalam masjid itu selama-lamanya. Sesungguhnya masjid yang didirikan atas dasar taqwa (Masjid Quba’) sejak hari pertama adalah lebih patut kamu shalat di dalamnya. Di dalamnya ada orang-orang yang ingin membersihkan diri. Dan Allah menyukai orang-orang yang bersih.” (At-taubah : 107-108)
Dari kisah diatas bisa kita simpulkan bahwa Kaum Munafik telah melakukan perbuatan konspirasi kejahatan untuk memerangi dan memecah belah Rasulullah SAW dan kaum muslimin.
Karena itu Rasulullah SAW tidak membiarkan tindakan ini, dan langsung mengambil tindakan tegas dan keras.
Dalam menyikapi makar jahat dan konspirasi kaum munafik yang membahayakan kaum muslimin, kita sebagai umat Islam harus tegas tanpa kompromi dalam menghancurkan setiap perangkat jahat dan tipu daya yang mereka bangun.
Orang-orang munafik senantiasa bersujud di telapak kaki penjajah asing, orang-orang kafir, untuk membantu mereka memerangi umat muslim. Tetapi, ketika bertemu kaum muslimin, mereka bersikap seperti saudara, yang sama-sama mengagungkan agama islam. Namun bila ada kesempatan, mereka akan menusuk kaum muslimin dari belakang.
Selain itu, tindakan Rasulullah SAW terhadap masjid Dhirar menunjukkan perlunya menghancurkan tempat-tempat kemaksiatan, tempat yang tidak diridhai Allah SWT, tempat yang dapat membahayakan kehidupan dan kemashalahatan umat islam, sekalipun tempat tersebut disembunyikan dan disampuli dengan berbagai kebaikan sosial.
 
Sumber: Buku Sirah Nabawiyah, karya Dr. Muhammad Sa’id Ramadhan Al-Buthy

Dukung Perdamaian Suriah, Justin Trudeau: Assad Harus Lengser

Pemerintah Kanada dikabarkan telah memberlakukan sanksi terhadap 27 pejabat pemerintah Suriah berpangkat tinggi.
Langkah ini diambil dalam upaya untuk memaksa Presiden Suriah Bashar al-Assad berhenti menggunakan kekerasan terhadap warga sipil tak berdosa dan melengserkannya dari kekuasaan.
Seluruh aset yang dimiliki para pejabat Suriah tersebut akan dibekukan dan mereka dilarang berbisnis dengan Kanada, CTV Newsmelaporkan pada Sabtu (15/4/2017).
Perdana Menteri Justin Trudeau mengatakan pada awal pekan ini bahwa jalan untuk perdamaian di Suriah adalah harus tanpa Assad, CBC melaporkan.
Menteri Luar Negeri Kanada Chrystia Freeland merilis pernyataan pada Jumat (14/4/2017) bahwa sanksi juga berlaku kepada siapapun yang terlibat dalam penyelidikan penggunaan senjata kimia.
“Serangan senjata kimia di Idlib selatan pekan lalu adalah kejahatan perang dan tidak dapat diterima,” ungkap Freeland.
“Kanada telah bekerjasama dengan sekutu-sekutunya untuk mengakhiri perang di Suriah dan akan membekukan semua aset mereka yang bertanggung jawab terhadap warga Suriah,” tambahnya.
Namun Assad mengaku pemerintahnya tidak terlibat dalam penyerangan senjata kimia.
Kanada menegaskan segera memberikan dana bantuan 1,6 miliar USD bagi 40 ribu pengungsi Suriah.

Apa itu Sutrah?

Pernahkah Anda mendengar kata sutrah?
Sutrah merupakan batas shalat yang diletakkan di depan tempat sujud yang berfungsi sebagai penghalang, agar tidak dilewati oleh orang atau binatang.
Tujuan dari penggunaan sutrah ini adalah untuk menghormati orang yang sedang shalat.
Berikut adalah beberapa penjelasan sutrah dalam kutipan hadits.
1. “Diriwayatkan dari Ibnu Umar r.a. ia berkata: Rasulullah saw bersabda: Janganlah mengerjakan shalat kecuali menghadap sutrah dan janganlah membiarkan seseorang lewat di depanmu, jika ia tidak menghiraukan, maka halangilah ia dengan sekuat tenaga, sebab ada teman bersamanya.” [HR. Muslim, No. 26]
2. “Diriwayatkan dari Abu Sa’id al-Khudri r.a. ia berkata: Rasulullah saw bersabda: Apabila salah seorang di antara kamu melakukan shalat, maka shalatlah dengan menghadap ke sutrah, dan mendekatlah kepadanya, dan janganlah membiarkan seseorang lewat di antara dia dan sutrah. Jika seseorang datang melewatinya, maka halangilah dengan sekuat tenaga, sebab dia adalah syaitan.” [HR. Abu Dawud, No. 697]
3. “Diriwayatkan dari Abu Sahl bin Abi Hatsmah r.a., dari Nabi saw: Apabila seseorang di antaramu shalat dengan menghadap kepada sutrah, maka mendekatlah kepadanya, agar syaitan tidak memotong (mengganggu) shalatmu. Dari riwayat lainnya sebagai berikut: Apabila seseorang di antaramu mengerjakan shalat, maka pasanglah sutrah dan mendekatlah kepadanya, sebab syaitan suka lewat di depannya.” [Ditakhrijkan oleh Ahmad: 4/2]
Pendapat para ulama:
As-Safarini berpendapat bahwa penggunaan sutrah dalam shalat adalah sunnah, sebagaimana disepakati para ulama.
Imam Malik berpendapat wajib berdasarkan hadis-hadis di atas.
Abu Ubaidah berpendapat bahwa makmum tidak wajib menggunakan sutrah, karena sutrah dalam shalat jama’ah sudah ditanggung oleh imam. Maka setiap makmum sutrahnya adalah orang yang ada di depannya, tetapi makmum yang berada di shaf paling depan harus mencegah orang lewat di depannya. Pendapat ini berdasarkan hadis dari Ibnu ‘Abbas:
“Diriwayatkan dari Ibnu Abbas: Saya datang bersama al-Fadl naik keledai, sedang Rasulullah saw berada di ‘Arafat. Kemudian kami melewati sebagian shaf, lalu kami turun, dan kami tinggalkan keledai itu bersenang-senang (makan rumput). Dan kami bersama Rasulullah saw masuk dalam shalat, beliau tidak mengucapkan kata-kata sedikitpun.” [HR. Muslim, No. 504]
Ibnu Abdil Bar berpendapat: hadis yang diriwayatkan Ibnu ‘Abbas tersebut mentakhshish hadis yang diriwayatkan Abu Sa’id yang berbunyi: “Apabila seseorang di antaramu shalat, maka janganlah membiarkan seseorang lewat di depannya”
Hadis ini ditakhsish dengan shalat Imam dan shalat munfarid (sendirian). Maka bagi makmum, tidak mengapa apabila ada orang lewat di depannya.
Dari penjelasan tersebut bisa disimpulkan bahwa sutrah disunnahkan bagi imam saja dan bagi orang yang shalat munfarid.
Namun pada masa kini, baik bagi imam maupun bagi makmum di masjid-masjid sudah dipasang kain sajadah yang dapat dijadikan sebagai sutrah.
Maka tidak perlu lagi memasang sutrah secara khusus.
Wallahu a’lam bish-shawab.

Harvard Akui Al-Quran sebagai Salah Satu Ekspresi Keadilan Terhebat

Harvard Akui Al-Quran sebagai Salah Satu Ekspresi Keadilan Terhebat

Harvard Law School, salah satu Universitas Hukum paling tua di Amerika, memasang kutipan dari salah satu ayat Al-Quran di pintu masuk perpustakaan fakultas. Ayat Al Quran itu dideskripsikan sebagai salah satu ekspresi keadilan terhebat sepanjang sejarah.
Ayat 135 dari Surat An-Nisa, dipasang pada dinding yang menghadap pintu masuk utama fakultas. Kutipan Al Quran itu didedikasikan untuk frase terbaik yang mengartikulasikan tentang keadilan.
“Fakultas Hukum Harvard menyebut ayat suci sebagai salah satu ekspresi terhebat tentang keadilan sepanjang sejarah,” tulis surat kabar Arab Saudi ‘Ajel’ seperti dikutip Emirates247.
Ayat Alquran itu diukir di tembok yang menghadap pintu masuk utama Fakultas Hukum Harvard. Seperti ditulis Ajel, Harvard mengabadikan ayat tersebut sebagai kata-kata terbaik tentang keadilan.
Didirikan pada tahun 1817, Harvard merupakan sekolah hukum tertua di Amerika Serikat dan merupakan pusat bagi perpustakaan akademis hukum terbesar di dunia. Presiden Amerika Serikat Barack Obama merupakan salah satu alumni sekolah tersebut.
Menurut laman resminya, The Words of Justice exhibition, merupakan sebuah pameran testimoni dan pernyataan dari sejumlah orang atau lembaga berpengaruh tentang kerinduan manusia untuk tercapainya keadilan dan martabat melalui hukum.
Ada sekitar dua lusin kutipan yang dipamerkan di instalasi seni yang diciptakan oleh sekolah itu. Tiga kutipan yang paling mencolok ditampilkan di pintu masuk instalasi seni, diantaranya kutipan dari St. Augustine, Al-Quran dan Magna Carta.

harvard-word-justice

(Kiri) kutipan Qur’an surah An Nisa yang dipajang di Harvard


Menurut Harvard Law School kutipan tersebut menggambarkan universalitas konsep keadilan di seluruh dimensi waktu dan budaya.
Adapun isi Surat Annisa Ayat 135 adalah,“Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah, walaupun terhadap dirimu sendiri atau terhadap ibu bapak dan kaum kerabatmu. Jika ia kaya ataupun miskin, maka Allah lebih tahu kemaslahatannya. Maka, janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dari kebenaran. Dan jika kamu memutarbalikkan (kata-kata) atau enggan menjadi saksi, maka ketahuilah Allah Maha Tahu terhadap segala apa yang kamu kerjakan.” []
 
Sumber: the deen show.

Harvard Akui Al-Quran sebagai Salah Satu Ekspresi Keadilan Terhebat

NU DKI Deklarasi Dukung Penuh Anies Sandi dan Berkomitmen Memenangkannya

Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) DKI Jakarta menyatakan mendukung penuh secara kultural calon gubernur dan wakil gubernur Anies Baswedan dan Sandiaga Uno pada putaran kedua Pilgub DKI 19 April mendatang.
Dukungan disampaikan Rais Syuriah PWNU DKI KH Mahfudz Asirun  saat menggelar doa bersama di Cengkareng, Jakarta Barat, Kamis (13/4) malam.
“Meskipun secara organisatoris NU tak berpolitik praktis, tetapi secara kultural, NU DKI mendukung penuh Anies-Sandi pada putaran kedua 19 April mendatang,” ujar KH Mahfudz dalam sambutannya seperti dikutip dari keterangan pers diterima Republika, Kamis (13/4).
Menurut Selanjutnya, Mahfudz juga menyatakan, pada prinsipnya dia wajib menyampaikan kepada warga NU untuk mensosialisasikan salah satu poin Muktamar NU di Ponpes Lirboyo Kediri, tentang kewajiban warga Nahdliyin untuk memilih pemimpin.
Menurut Mahfudz, menyosialisasikan isi dari Muktamar NU adalah suatu amanah ulama dan kyai NU se-Indonesia.
“Insya Allah, tidak lama lagi kita akan mendapat gubernur baru, yang mencintai Allah dan dicintai Allah,” kata Mahfudz masih dalam sambutannya. Ia juga berharap, jika Anies terpilih, dia bisa menjadi gubernur yang mencintai rakyat dan dicintai rakyat Jakarta.
Deklarasi NU DKI di GOR Jakarta Barat
nu-dki-tegaskan-dukung-penuh-pasangan-anies-sandi
Deklarasi sendiri dilakukan di GOR Cendrawasih, Cengkareng Barat, Cengkareng, Jakarta Barat, Rabu (5/4/2017) siang. Dalam deklarasi ini, turut hadir pula sejumlah tokoh besar NU di antaranya, KH Abdul Rahman Soheh, KH Munahar Muhtar, KH Suripno Husein, KH Fahrurrozi, KH A. Kasir, KH Abdul Rozak, KH Fathonah, KH Ali Mahfud, dan Ustad Fahrur.
“Ini merupakan perintah dari Rois Surya. Rois sendiri adalah penjaga kemulian, sebagaimana hasil mukhtamar Lirboyo 30 di kediri, Jawa Timur. Pilihan ini merupakan hal yang wajib, memilih gubernur muslim,” ucap KH Abdul Rahman Soheh, Rois Suriah Cabang Jakarta Barat, kemarin.
KH Soheh menyebut, berbeda dengan paslon lain. Anies-Sandi mampu menciptakan kerukunan umat bergama, selain itu keduanya pantas dipilih karena menjaga Ahlusunnah Wal Jamaah di Jakarta.
Setelah deklarasi ini, NU sendiri berkomitmen teguh untuk memenangkan Anies-Sandi. Gerakan tentang pemenangan dan mengantarkan Anies – Sandi untuk menang merupakan kewajiban.
Dalam deklarasinya, warga Nahdliyin menyatakan dan mendukung Anies – Sandi menjadi Gubernur Provinsi DKI Jakarta. Ini tak lepas dari beberapa program kerja yang sangat berpihak kepada umat, seperti KJP Plus, KJS Plus, DP 0 persen, Program OK OCE, Program memakmurkan masjid dan perhatiannya kepada marbot, serta guru guru ngaji.

Memainkan Handphone di Rumah Allah

Syeikh Nuruddin Albanjari dalam sebuah ceramahnya pernah memberi pertanyaan kepada para jamaahnya.
“Kenapa tidak ada seorang pun pemain sepak bola yang membawa handphone mereka masuk lapangan ketika bertanding?”
Jamaah terdiam, tidak ada satu pun yang menjawab. Kemudian Syeikh melanjutkan.
“Sebab tidak ada kepentingan. Mereka hanya perlu fokus pada permainan mereka.”
Jadi kenapa kita perlu membawa handphone ketika masuk ke rumah Allah atau Masjid? Adakah lapangan bola itu lebih mulia daripada masjid? Adakah bermain bola itu perlu lebih fokus atau khusyuk daripada shalat?
Mulai sekarang, belajarlah. Belajarlah untuk tidak menyibukkan diri dengan handphone, netbook, dan laptop dalam rumah Allah, karena tiada urusan yang lebih penting daripada urusan kita dengan Allah.
“Jaga adab kita dengan Allah.”
Syeikh Abdurrahman Assudais, Imam Mesjidil Haram, di suatu waktu ketika mengimami shalat di depan Ka’bah, beliau mendengar suara alunan musik dari salah satu handphone milik seorang jamaah yang ikut shalat dibelakangnya.
Setelah selesai shalat beliau bangkit sambil menangis, ia berkata kepada jamaah shalat,
“Saya belum pernah mendengar musik di rumah saya, tetapi hari ini saya mendengar musik di rumah Allah”.
 
Sumber : inspiradata