0878 8077 4762 [email protected]

Anies Baswedan Sujud Syukur di Masjid Istiqlal Bersama Para Ulama

Cagub DKI Anies Baswedan melaksanakan sujud syukur bersama ribuan jamaah kaum muslimin di Masjid Istiqlal. Kegiatan itu bentuk syukur atas hasil Pilkada DKI Jakarta putaran kedua yang berjalan aman dan lancar.
Cagub DKI yang diusung PKS dan Partai Gerindra tersebut hadir tanpa ditemani cawagub Sandiaga Shalahuddin Uno. Anies tiba sekitar pukul 19.00 wib, Rabu (19/4/2017).
Ikut bersama Anies, Ketua Dewan Pembina Gerindra Prabowo Subianto. Mereka terlebih dahulu menunaikan sholat Isya di masjid terbesar di Asia tenggara itu.
Usai sholat, imam besar Front Pembela Islam FPI Habib Rizieq Shihab mengajak seluruh jamaah untuk sujud syukur.
“Mari kita sujud syukur untuk gubernur muslim kita,” ujar Rizieq.
Dalam sambutannya, Prabowo mengucapkan terima kasih dan apresiasi untuk keberanian Habib Rizieq menegakkan kebenaran.
“Habib dan masyarakat muslim sama dengan kami yang membela kepentingan rakyat indonesia dan menegakkan keadilan serta menyelamatkan demokrasi di Indonesia dan masa depan indonesia,” kata Prabowo.
Anies juga turut memberikan sambutannya dalam majelis yang dihadiri para ulama dan habib itu.
Mendikbud era Presiden Joko Widodo itu mengatakan sujud syukur sebenarnya bukan hanya dilakukan di Istiqlal.
“Kita tempelkan kening kita dimana seluruh Indonesia menyaksikan, dan di seluruh Indonesia sekarang juga sedang melakukan sujud syukur,” tutur Anies.
Inisiator Indonesia Mengajar itu juga mengajak seluruh umat islam khususnya di Jakarta untuk menjaga kedamaian dan persatuan terlebih Jakarta merupakan kota yang sangat bhinneka.
“Kita tunjukkan umat islam penjaga kedamaian dan perekat persatuan,” ajaknya.

NU DKI Deklarasi Dukung Penuh Anies Sandi dan Berkomitmen Memenangkannya

NU DKI Deklarasi Dukung Penuh Anies Sandi dan Berkomitmen Memenangkannya

Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) DKI Jakarta menyatakan mendukung penuh secara kultural calon gubernur dan wakil gubernur Anies Baswedan dan Sandiaga Uno pada putaran kedua Pilgub DKI 19 April mendatang.
Dukungan disampaikan Rais Syuriah PWNU DKI KH Mahfudz Asirun  saat menggelar doa bersama di Cengkareng, Jakarta Barat, Kamis (13/4) malam.
“Meskipun secara organisatoris NU tak berpolitik praktis, tetapi secara kultural, NU DKI mendukung penuh Anies-Sandi pada putaran kedua 19 April mendatang,” ujar KH Mahfudz dalam sambutannya seperti dikutip dari keterangan pers diterima Republika, Kamis (13/4).
Menurut Selanjutnya, Mahfudz juga menyatakan, pada prinsipnya dia wajib menyampaikan kepada warga NU untuk mensosialisasikan salah satu poin Muktamar NU di Ponpes Lirboyo Kediri, tentang kewajiban warga Nahdliyin untuk memilih pemimpin.
Menurut Mahfudz, menyosialisasikan isi dari Muktamar NU adalah suatu amanah ulama dan kyai NU se-Indonesia.
“Insya Allah, tidak lama lagi kita akan mendapat gubernur baru, yang mencintai Allah dan dicintai Allah,” kata Mahfudz masih dalam sambutannya. Ia juga berharap, jika Anies terpilih, dia bisa menjadi gubernur yang mencintai rakyat dan dicintai rakyat Jakarta.
Deklarasi NU DKI di GOR Jakarta Barat
nu-dki-tegaskan-dukung-penuh-pasangan-anies-sandi
Deklarasi sendiri dilakukan di GOR Cendrawasih, Cengkareng Barat, Cengkareng, Jakarta Barat, Rabu (5/4/2017) siang. Dalam deklarasi ini, turut hadir pula sejumlah tokoh besar NU di antaranya, KH Abdul Rahman Soheh, KH Munahar Muhtar, KH Suripno Husein, KH Fahrurrozi, KH A. Kasir, KH Abdul Rozak, KH Fathonah, KH Ali Mahfud, dan Ustad Fahrur.
“Ini merupakan perintah dari Rois Surya. Rois sendiri adalah penjaga kemulian, sebagaimana hasil mukhtamar Lirboyo 30 di kediri, Jawa Timur. Pilihan ini merupakan hal yang wajib, memilih gubernur muslim,” ucap KH Abdul Rahman Soheh, Rois Suriah Cabang Jakarta Barat, kemarin.
KH Soheh menyebut, berbeda dengan paslon lain. Anies-Sandi mampu menciptakan kerukunan umat bergama, selain itu keduanya pantas dipilih karena menjaga Ahlusunnah Wal Jamaah di Jakarta.
Setelah deklarasi ini, NU sendiri berkomitmen teguh untuk memenangkan Anies-Sandi. Gerakan tentang pemenangan dan mengantarkan Anies – Sandi untuk menang merupakan kewajiban.
Dalam deklarasinya, warga Nahdliyin menyatakan dan mendukung Anies – Sandi menjadi Gubernur Provinsi DKI Jakarta. Ini tak lepas dari beberapa program kerja yang sangat berpihak kepada umat, seperti KJP Plus, KJS Plus, DP 0 persen, Program OK OCE, Program memakmurkan masjid dan perhatiannya kepada marbot, serta guru guru ngaji.

Isi Materi Tabligh Akbar Zakir Naik di Gontor

Laporan Langsung Dari Tabligh Akbar Syaikh Dr. Zakir Naik, hafidzahullah, di Universitas Daarussalaam, Gontor, Selasa, 7 Rajab 1438/4 April 2017:
Bismillaah
Setelah diawali dengan tausiyah oleh anak beliau, Fariq Naik, tentang aneka bukti kasih-sayang kaum Muslimiin di masa kaum Salafush Sholih (kaum Pendahulu Yang Salih) dan beberapa sambutan dari tuan rumah dan pemberian cinderamata, Syaikh Dr Zakir Naik memulai tabligh.
Dimulai dengan pujian kepada Allah – Tuhan Yang Maha Esa – kalimat pembukaan, salaam kepada hadiriin (doa untuk hadiriin pula), dan firman Allah:

قُلْ يٰۤـاَهْلَ الْكِتٰبِ تَعَالَوْا اِلٰى كَلِمَةٍ سَوَآءٍۢ بَيْنَـنَا وَبَيْنَكُمْ اَلَّا نَـعْبُدَ اِلَّا اللّٰهَ وَلَا نُشْرِكَ بِهٖ شَيْــئًا وَّلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا اَرْبَابًا مِّنْ دُوْنِ اللّٰهِ ؕ فَاِنْ تَوَلَّوْا فَقُوْلُوا اشْهَدُوْا بِاَنَّا مُسْلِمُوْنَ

“Katakanlah (Muhammad): Wahai Ahli Kitab! Marilah (kita) menuju kepada satu kalimat (pegangan) yang sama antara kami dan kamu, bahwa kita tidak menyembah selain Allah dan kita tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun, dan bahwa kita tidak menjadikan satu sama yang lain tuhan-tuhan selain Allah.’ Jika mereka berpaling, maka katakanlah (kepada mereka): “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang Muslim.” (QS. Ali ‘Imran: 64)
Zakir Naik senang ada Fakultas yang juga mengajarkan perbandingan Agama di Gontor (juga perbandingan Madzhab, Hukum, dll.), dan menurut pihak Universitas, adalah yang terbesar di RI.
Penting untuk dimulai pembicaraan tentang konsep mengenai Tuhan, di Yahudi, Kristen, Hinduism, dan Islam.
Jika ditanya, berapa Dewa, maka kaum Hindu dapat menjawab banyak Dewa, namun bisa juga 1 Tuhan. Bahwa Matahari, Bulan, dan lainnya itu Tuhan atau Dewa juga. Semuanya adalah God.
Sedangkan Islam mengatakan itu semuanya adalah God’s, milik Tuhan yaitu Allah saja.
Untuk dapat dipersatukan, perlu mengacu ke ayat di atas. Dan di kitab Hindu sebenarnya ada penegasan ini. Dan tidak boleh ada penyerupaan (termasuk gambar, patung, dan sebagainya) dan tak mungkin ada yang serupa.
Brahma, adalah Creator dalam bahasa Arab disebut Al Khollaq (Pencipta). Whisnu adalah Sustainer, dalam bahasa Arab disebut Al Muhaimiin (Pemelihara, Perawat). Ini diterima Muslim. Ada dalam Asmaul Husna.
Namun Muslim tidak mungkin menerima penggambaranNya, juga bahwa mempunyai banyak tangan, menaiki Garuda, dan semisalnya. Ini sebenarnya dilarang.
Ini juga sebenarnya ditegaskan di Kitab Keluaran dan Bilangan di Bibel di 10 Perintah Tuhan.
Jadi sebenarnya ada LARANGAN demikian dalam ajaran Hindu, Yahudi, dan Kristen sendiri.
Dan Muslim percaya penuh bahwa Nabi Isa (Esau, Yeshua, Yesus) bin Maryam ‘alahissalaam adalah Nabi terkemuka yang lahir tanpa ayah dengan banyak mu’jizat. Dan akan menjadi Al Masih di Akhir Zaman.
Namun tidak mungkin menerima bahwa beliau adalah Tuhan. Karena di Bibel juga ini ditolak. Misalnya di Yohanes 10:30, Matius 5:17, dan masih banyak ayatnya.
Jika ada di Bibel yang menyatakan bahwa Yesus menyatakan dirinya Tuhan, maka Zakir Naik bersedia masuk Kristen.
Yesus menyatakan agar ikuti Hukum Taurat, di Matius 5:17. Dan ikuti jalan kebenaran, sunnah beliau, a.l. di Yohannes 14:6.
Dan Surah Al Ikhlas di Al Qur’an, adalah dasar dari keagamaan (Theology) dan penguji seluruh, aneka Agama yang dikenal manusia.
Inilah Tauhid…
Sementara ada banyak yang disebut sebagai God (dewa), bahkan di negara beliau (di India) saja ada ribuan dewa. Bahkan ada orang yang mengaku sebagai Dewa atau Tuhan.
Allah swt, Tuhan Yang Maha Esa, tidak perlu menjadi manusia atau makhluk, agar mengerti apa rasanya menjadi manusia/makhluk. Karena Allah lah yang menciptakannya dan segalanya!
Dan “Allah” adalah satu kata dalam Bahasa Arab. Muslim harus menggunakan ini untuk merujuk kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Namun agar orang yang tidak mengerti Bahasa Arab, Zakir Naik tidak keberatan menerjemahkannya ke bahasa lain, agar orang itu mengerti. Namun “God” bukanlah penerjemahan yang tepat.
Dan perlu untuk menerapkan Syari’ah. Ini juga bukan soal potong tangan yang banyak dikesankan sebagai aturan barbar. Renungkanlah bahwa negara yang paling rendah tingkat kriminalitasnya di dunia, adalah negara Islam, Arab Saudi.
Misalnya juga tentang Hukum Syari’ah soal Hijab. Ini utamanya bukan soal untuk perempuan. Namun utamanya justru – pertama kali – adalah kepada lelaki.
Lelaki dinasihati/diperintahkan kepadanya, agar menundukkan pandangannya dulu. Bukan mengumbar pandangannya kepada kaum perempuan.
Sementara kaum perempuan juga perlu menahan dirinya dari mengumbar auratnya. Dan agar memakai Hijab, Jilbab. Serta agar ini lebih melindungi mereka dari diganggu.
Perumpamaannya, adalah sepasang saudara kembar yang sama cantiknya. Satu memakai hijab Islami, satu lagi memakai baju terbuka aurat ala Western (Barat). Dan sama-sama melewati jalan kecil penuh berandalan lelaki. Syaikh bertanya, yang manakah yang akan diganggui?
Hadiriin sepakat, si perempuan kedua, yang memakai baju ala Barat terbuka auratnya lah, yang lebih berkemungkinan besar diganggui.
Dan ingatlah, negara yang paling banyak pemerkosaan adalah di Amerika berdasarkan berbagai laporan. Jika dirata-rata secara Statistik, ada 3 pemerkosaan dalam 1 menit.
Jika Hukum Syari’ah diterapkan di USA, Zakir Naik dan hadiriin sepakat, angka itu akan menurun.
Karena itu Islam menunjukkan jalan “salaamah”, yang artinya jalan keselamatan.
Karena itu Islam itu adalah “salaam”, juga memiliki arti Peace, yaitu Kedamaian.
Ditutup dengan:

اُدْعُ اِلٰى سَبِيْلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِيْ هِيَ اَحْسَنُ ؕ اِنَّ  رَبَّكَ هُوَ اَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيْلِهٖ وَهُوَ اَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِيْنَ

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik, dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu, Beliaulah yang lebih mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya dan Beliaulah yang lebih mengetahui siapa yang mendapatkan petunjuk.” (QS. An-Nahl: Ayat 125)

KH Ma'ruf Amin : Cara Dakwah Zakir Naik Sesuai Perintah Allah

JAKARTA- Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat KH Ma’ruf Amin, memuji cara dakwah yang dilakukan cendekiawan muslim asal India, Dr Zakir Abdul Karim Naik atau akrab disebut Zakir Naik.
Menurut Kyai Ma’ruf, cara dakwah Zakir Naik sudah sesuai dengan perintah Allah dalam Alquran.
“Zakir Naik itu berdakwah di mana-mana dan banyak orang tertarik dan masuk Islam. Saya kira dakwah yang bagus menurut saya. Dan sistem dakwahnya itu sangat ilmiah,” ungkap Kyai Ma’ruf saat dimintai pandangannya terkait dakwah Zakir Naik di Indonesia, usai membuka Rakornas LPPOM MUI di Bogor, Rabu (05/04/2017) seperti dikutip dari SuaraIslam
“Saya kira itu yang dilakukan. Ada dialog, ada perdebatan mencari suatu kebenaran. Harus diartikan seperti itu,” ungkap Kyai Ma’ruf.
Seperti diketahui, Zakir Naik beserta istri dan putranya, dalam sepuluh hari ini berada di Indonesia dalam rangka safari dakwah bertajuk “Zakir Naik Visit Indonesia 2017”.
Dalam setiap kuliah umum, Zakir Naik selalu memberikan prioritas kepada kalangan non-Muslim dan atheis untuk menyampaikan pertanyaan kepadanya.
Dengan model seperti ini, sejumlah orang penanya, baik di UPI Bandung maupun UMY Yogyakarta akhirnya menyatakan diri masuk Islam.
Menurut Kyai Ma’ruf, model dakwah yang dilakukan Zakir Naik sesuai dengan perintah dalam Alquran Surat An-Nahl ayat 125,
‘Ud’u ilaa sabiili rabbika bil hikmati wal mau’idhotil hasanati, wa jadilhum billati hiya ahsanu.
Yakni, ajaklah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan cara yang bijak dan pelajaran yang baik. Dan jika terjadi perdebatan, maka berdebatlah dengan cara yang baik. Pungkasnya.
Sumber : Suara Islam

Takut Kehilangan Jabatan, Zakir Naik : Pemimpin Bedakan Politik dan Islam

Dr Zakir Naik, pendakwah asal India, mengatakan Islam sebagai agama merupakan ajaran hidup penganutnya. Islam itu agama, ‘way of life‘ (cara untuk hidup).
Menurutnya, dalam Islam kita diajarkan apa yang harus dilakukan dan apa yang tidak. Oleh karenanya, dalam berpolitik pun seharusnya demikian pula.
“Harus menganut pada apa yang sudah diajarkan oleh Islam,” jelasnya dalam konferensi pers di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, lansir Gontor News, Senin (3/4/2017).
Ia menyayangkan bahwa banyak politisi dan pemimpin Muslim yang membedakan faktor Islam dengan politik, dengan alasan takut kehilangan jabatan.
“Mereka lupa, jika mereka berpegang teguh pada Al-Quran dan Sunnah, mereka dapat memiliki kedudukan di akhirat. Tetapi mereka lebih takut pada kursi (kedudukan) di dunia daripada kursi (jabatan) di akhirat,” jelasnya.
“Permasalahannya, kita sekarang tidak memiliki pemimpin yang mengimplementasikan ajaran yang terkandung dalam Al-Quran dan Sunnah,” katanya.
Hingga saat ini, tidak ada pemimpin yang sempurna menyerupai kepemimpinan Nabi Muhammad SAW.
“Hanya kepemimpinan Nabi Muhammad SAW yang menjalankan politik sesuai syariat Islam. Kepemimpinan Nabi Muhammad SAW adalah contoh kepemimpinan yang terbaik. Politik saat ini sudah kotor dan tidak ada yang seperti kepemimpinan di zaman itu,” pungkasnya.

Zakir Naik Sebut "Pendukung Ahok" itu Munafik, Saat Menjawab Wanita Murtad Ini di Bandung

Ada kejadian menarik dimana seorang hadirin menanyakan pendapat Zakir Naik perihal “Ahok Bangun Mesjid Tapi dia tidak Solat”, Dan jawaban Zakir Naik sangat cerdas dan tegas.
Wanita bernama Sofi dalam acara sesi Tanya Jawab Dr Zakir Naik di Bandung Minggu 2 April 2017, Menanyakan sebagai berikut.
“Nama Saya Sofi dari Jakarta, saya hadir di sini Spesial untuk Anda (Dr Zakir Naik). Berdasarkan Pilkada di Indonesia, apa yang terjadi di sini adalah, Apakah dakwah atau pengrusakan saat Anda mengumpulkan massa dan mengarahkan mereka untuk TIDAK memilih pemimpin kafir, meskipun orang tersebut sudah terbukti bekerja dengan sangat bagus membangun negara dan kota.”
“Apakah dakwah atau pengrusakan, saat Anda meminta masyarakat menutup mata dan telinga atas bukti nyata kinerja pemimpin kafir yang Luar Biasa tersebut? Jadi dimana letak Toleransinya jika seperti itu?”
Tanya saudari Sofie sembari menambahkan informasi bahwa dirinya terlahir di keluarga muslim dan ber KTP Islam, namun dia tidak mempercayai agama apapun (keluar dari Islam, menjadi ateis).
Dan di awal Dr Zakir Naik menjawab “Bahwa seorang muslim dilarang memilih pemimpin kafir, meskipun sudah membangun infrastruktur yang baik”
“Pemimpin kafir ini tidak hanya membangun gedung, tapi juga bersikap baik dengan menghapus kemiskinan dan membangun masjid, lebih banyak masjid dan lebih banyak masjid” ujar saudari sofie menambahkan keterangannya.
Dan seraya langsung dijawab oleh Zakir Naik “Munafik, Dia membangun tempat ibadah untuk muslim tapi dia sendiri tidak sholat, Munafik”
Kemudian Dr Zakir Naik dengan tenang melanjutkan jawabannya:
“Di Al-Quran (Al-Maidah 51) disebutkan kata Aulia, yang pada konteksnya tidak selalu pemimpin namun, Kata Pemimpin termasuk dalam terjemahan kata Aulia dan pada konteks yang dimaksud ayat tersebut Aulia juga bisa diartikan sebagai pemimpin.” Ujar Dr Zakir Naik.
“Dan janganlah sekali-kali kamu (umat muslim) menjadikan mereka (non-Muslim) sebagai Aulia. Dan jika kamu melakukannya maka kamu termasuk dalam golongan mereka” Ujar Dr Zakir Naik mengutip terjemahan bebas dari Surat Al Maidah 51.
“Dan saat kita menterjemahkan Al-Quran, tafsir terbaik adalah dengan merujuk pada Al-Quran itu sendiri, kemudian baru merujuk pada tafsir dari hadist shahih.
Dalam ayat lain Allah memerintahkan Umat Islam agar selalu berbuat baik pada Non-Muslim (Kafir), Tapi Allah mengecualikan satu hal, Kalian Umat Islam yang beriman Jangan memilih Non-Muslim (Kafir) sebagai Aulia, teman sejati, penolong, pemimpin.
Jika ada dua pilihan pemimpin, yang satu kafir dan yang satu muslim, kemudian kita sebagai muslim memilih pemimpin kafir, maka pertolongan Allah tidak akan datang.” Ujar Dr Zakir Naik.
Zakir Naik menilai Muslim yang memilih Pemimpin Kafir dikatakan sebagai Muslim yang tidak taat karena meninggalkan Al-Quran
Zakir Naik melanjutkan bahwa “Itulah Perintah Allah, dan Perintah ini bukan ditujukan untuk Non-Muslim, Jadi Non-Muslim tidak diwajibkan mengikuti perintah ini.
Namun perintah ini ditujukan kepada Muslim yang percaya kepada Al-Quran.” Ujar Dr Zakir Naik yang diikuti dengan pertanyaan
“Apakah saudari percaya kepada Al-Quran?”
Nampak saudari Sofie ragu untuk menjawab pertanyaan Dr Zakir Naik tersebut.
“Jika saudari tidak percaya dengan kebenaran Al-Quran maka perintah tersebut BUKAN untuk Anda (Larangan memilih pemimpin muslim dalam surat Al-Maidah 51),
Dan Anda sudah menanyakan sesuatu yang kebenaran jawabannya tidak mungkin Anda yakini (karena bersumber dari Al-Quran)” Sanggah Dr Zakir Naik.
“Dan saya tahu di Indonesia banyak orang mempunyai nama Islam di KTP namun berkelakuan tidak islami. Perintah di Surat Al-Maidah 51 ditujukan kepada Umat Muslim yang betul-betul berkelakuan islam (bukan munafik)”
“Jadi sebaik apapun orang tersebut untuk dijadikan pemimpin, Jika tidak sesuai dengan perintah Al-Quran, Maka kita sebagai seorang muslim yang taat, akan meninggalkannya.” Sanggah Zakir Naik seraya menyindir orang-orang yang mendukung pemimpin kafir dan meninggalkan perintah Al-Quran,