0878 8077 4762 [email protected]

Masya Allah, 4 Orang Masuk Islam Saat Ceramah Zakir Naik di Bandung

Cendekiawan Muslim bertaraf Internasional Dr Zakir Naik memberikan ceramah di hadapan puluhan ribu jamaah yang hadir di Gymnasium UPI, Kota Bandung, Ahad (2/4), selama sekitar satu setengah jam. Selesai berceramah, Zakir Naik mempersilakan peserta yang hadir untuk bertanya. Namun, Ia memprioritaskan peserta non-Muslim untuk memberikan pertanyaan.
Beberapa orang yang beragama non-Muslim beragama Katolik, Kristen Protestan, ateis, dan Buddha melontarkan banyak pertanyaan tentang Nabi Isa, tentang Allah SWT, dan tentang Islam. Dari belasan orang yang bertanya, ada sekitar empat orang yang langsung bersyahadat menyatakan diri masuk Islam. Di antaranya adalah Danalia Permata Sari (26 tahun) beragama Buddha, Novita Luciana (25) beragama Katolik, Kevin beragama Katolik, dan Deni Saputra seorang ateis.
Saat mualaf tersebut membacakan syahadat, banyak peserta yang tak bisa menahan tangisnya. Begitu juga, para mualaf, mereka terbata-bata membacakan dua kalimat syahadat sambil menangis.
Salah satu mualaf yang terus menangis setelah membacakan syahadat adalah Novita Luciana (25). Menurut Novi, Ia tak bisa menahan rasa harunya karena akhirnya bisa memeluk Islam dan membaca syahadat.
Menurut Novi, dirinya mengenal Islam awalnya dari pacarnya yang Muslim. Namun, selama ini pacarnya tak pernah memaksa dirinya untuk masuk Islam. Rasa penasaran justru timbul dari dirinya sendiri. Ia pun, melihat  video Zakir Naik di Youtube yang membandingkan tentang Bibel dan Alquran.
“Saya semakin yakin untuk memeluk Islam, setelah melihat video Zakir Naik. Sudah dua tahun, saya nggak ke gereja,” katanya.
Novita mengatakan, sudah dua tahun ini mulai mempelajari Islam. Semakin dipelajari, ia merasa cocok karena agama Islam masuk akal dan mudah dipahami. Ia pun, mulai mengomunikasikan keinginan kuatnya untuk masuk Islam kepada orang tuanya.
“Alhamdulillah, saya bisa bertanya langsung ke Zakir Naik dan dibimbing bersyahadat langsung oleh beliau,” ujar Novi sambil terus menangis tak bisa menahan harunya.
Bagi Novi, adanya ceramah Zakir Naik di Youtubebisa memudahkan non-Muslim yang ingin mencari tahu tentang Islam. Karena kalau harus membaca buku biasanya Ia susah paham.
“Tadi saya pun dapat jawaban dari Zakir Naik, agar jangan khawatir kehilangan pekerjaan setelah masuk Islam karena Allah yang memberikan rezeki,” kata Novi seraya mengatakan bahwa ia sebernarnya sudah belajar shalat dan sudah hapal surah al-Ikhlas, an-Nas, dan al-Falaq.
Sementara menurut Deni Saputra, dia sebenarnya lahir dari orang tua beragama Islam. Namun, kedua orang tuanya bercerai. Jadi, dia pun mempelajari banyak paham. Yakni, dari mulai paham komunis, sosialis, Kristen, Buddha, dan agama yang lainnya.
Namun, sampai sekarang dia belum meyakini satu agama pun. “Saya ke sini untuk menguatkan keyakinan saya, agama apa yang harus saya pilih. Soalnya, saya sering lihat Zakir Naik di Youtubememang masuk akal,” katanya.
Deni mengatakan, ia sempat melontarkan beberapa pertanyaan kepada Zakir Naik, yang selama ini mengganjal pikirannya. Ternyata, Zakir Naik bisa menjawab semua pertanyaannya dan menjelaskannya. “Ya, saya mengikrarkan kembali untuk masuk Islam,” katanya.

Ini Kata Zakir Naik Soal Al Maidah Ayat 51 dan Islam Politik

Cendekiawan Muslim asal India, Zakir Abdul Karim Naik berdialog dengan Ketua MPR RI Zulkifli Hasan serta para awak media di gedung DPR/MPR RI, Jumat (31/3).
Dialog itu membahas berbagai hal dari mulai Islam sebagai agama toleran, jihad serta pemahaman tentang masalah kepemimpinan di dalam surah al-Maidah 51. Berikut poin penjelasannya :
1. Islam Agama paling Toleran di Dunia
Zakir mengatakan, Islam sebagai agama paling toleran di dunia. Islam, kata dia, agama yang dapat menyatukan seluruh umat manusia untuk tujuan kedamaian.
“Islam agama toleran, Islam berarti damai. pasrah terhadap Allah SWT. Tetapi Islam tidak toleran terhadap hal-hal tertentu seperti alkohol, prostitusi, dan korupsi,” kata Zakir.
2. Islam pemersatu Indonesia
Karena itu pula, Islam juga bisa menjadi pemersatu di Indonesia yang terdiri dari beragam suku dan ras bangsa. Menurut dia, selama Islam dimaknai dengan benar sebagai agama yang toleran dan damai.
“Selama Indonesia yang multi-ras. Islam agama paling toleran dan tidak memaksa siapapun. Kita tidak bisa memaksa siapapun untuk bisa menerima Islam. Kita harus menyampaikan dakwah,” kata Zakir.
3. Boleh Menjaga Persahabatan
Ketika ditanya tentang menjalin hubungan pertemanan dengan non muslim, Zakir Naik menjawab,
“Itu bukan berarti kita tidak boleh bicara dengan mereka. Artinya, apabila kita menjaga persahabatan itu tidak masalah,” kata Zakir.
4. Memilih Pemimpin Muslim
Zakir menekankan ada baiknya kaum muslim memilih calon pemimpin yang seiman. Menurutnya, jika ada orang muslim, maka itu adalah pilihan yang lebih baik.
“Apabila ada pilihan orang Islam, soal kepemimpinan Muslim jauh lebih baik daripada non Muslim,” ujar Zakir.
5. Islam Tidak bisa Dipisahkan dengan Politik dan Pemerintahan
Kemudian, dia juga menyampaikan terkait wacana pemisahan agama dengan politik. Menurut dia, Islam adalah panduan hidup. Maka, selain menyangkut ibadah, Islam juga terkait dengan politik dan pemerintahan.
“Tidak hanya shalat, puasa, haji, apa yang bisa dimakan, apa yang nggak bisa dimakan, tapi (Islam mengatur) bagaimana berbisnis, memerintah kota, negara,” tutur pria berusia 51 tahun tersebut.
Diolah dari : vivanews, republika

Tanpa Organisasi dan Persiapan Kordinasi, 200 Ribu Lebih Massa Aksi 313

Tanpa Organisasi dan Persiapan Kordinasi, 200 Ribu Lebih Massa Aksi 313

Walau pimpinan aksi yang juga Sekjen Forum Umat Islam (FUI), KH Muhammad Al-Khaththath ditangkap aparat dengan tuduhan makar, namun lautan massa Aksi 313 tak terbendung. Kebanyakan dari luar daerah, dan masyarakat muslim bersama keluarganya. Inilah kekuatan Iman Islam.
Masjid Istiqlal dengan daya tampung 200 ribu jamaah tak mampu menampung saat sholat Jum’at (31/3/2017) hingga meluber di jalan-jalan.

C8OvVl6VYAEgIes

Massa Aksi 313 Meluber hingga depan Istiqlal dan Katedral


Massa aksi 313 yang menuntut pemerintah memberhentikan Gubernur DKI Basuki Tjahja Purnama atau Ahok telah memenuhi Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta, Jumat (31/3) siang. Sebelumnya mereka berjalan dari Masjid Istiqlal menuju Bundaran Bank Indonesia.
Lautan massa Aksi 313 bergerak dari Masjid terbesar se Asia Tenggara ini menuju Istana Merdeka dengan melantunkan sholawat.
17626484_762781690538516_238897340293603566_n

Gemuruh Takbir, Dzikir, dan Shalawat bersahutan


Peserta aksi dari Forum Umat Islam (FUI) banyak menggunakan pakaian bewarna putih, terlihat mereka membawa bendera Indonesia, bendera organisasi dan ada juga yang membawa bendera Palestina.
Seperti diketahui usai melaksanakan Shalat Jumat, massa aksi 313 melakukan long march dan berorasi di depan Patung Kuda, Jakarta Pusat. Massa yang tadinya akan menyampaikan aspirasi di depan Istana Merdeka, tertahan di depan bundaran Bank Indonesia.
“Proses pelaksanaan unjuk rasa dari sebagian masyarakat kita yang kita ketahui juga menyampaikan aspirasi di patung kuda, Medan Merdeka Selatan dan Medan Merdeka Barat itu berjalan dengan lancar dan sudah selesai,” ujar Kadiv Humas Mabes Polri, Irjen Pol Boy Rafli Amar di Monas, Jumat (31/3).
massa-aksi-313-atau_20170331_152907

Masa aksi berjalan ke arah Patung Kuda


Sejumlah perwakilan telah diterima pemerintah melalui Menkopolhukam, Wiranto. Usai para perwakilan massa aksi menyampaikan aspirasi dan tuntutannya, Wiranto meminta massa aksi untuk membubarkan diri.
“Tadi ada 9 perwakilan yang diterima Menkopolhukam, jadi pada prinsipnya aspirasi itu sudah disampaikan dan diterima yang sebagian juga sudah dijelaskan dari pertemuan itu,” jelasnya.
Usai salat Ashar berjamaah di sekitar kawasan Patung Kuda, massa kemudian berangsur membubarkan diri. Pukul 17.00 WIB, massa bergerak dari kawasan Patung Kuda menuju Masjid Istiqlal, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jalan Budi Kemuliaan dan Bundaran HI.

Tanpa Organisasi dan Persiapan Kordinasi, 200 Ribu Lebih Massa Aksi 313

Direktur BNI Syariah, Pejuang Perbankan Syariah itu Dicopot

Beredar kabar telah terjadi pergantian Direktur Utama di sebuah Bank Syari’ah milik negara secara mendadak.
Publik pun bertanya, Bank Syari’ah yang mana dan siapa yang diganti? Serta, mengapa ia harus diganti mendadak?
Pejuang perbankan syari’ah yang diganti tersebut bernama Imam Teguh Saptono, Direktur Utama BNI Syari’ah.
Pergantian mendadak ini, pagi dikabarkan diganti, siang serah terima jabatan kepada Direktur Utama yang baru, sore perpisahan dengan para staff, meninggalkan tanda tanya besar.
Mengapa pejuang perbankan Syariah yang sedemikian cemerlang karier dan prestasinya dicopot dengan tiba-tiba?
Entahlah..
Sebagai catatan, berikut prestasi gemilang beliau sebelum bergabung dengan BNI Syariah:
Ia memulai kariernya sebagai Trainee for Management Instructor di PT Garuda Indonesia. Bergabung dengan BNI tahun 1996 di Divisi Perencanaan Strategis (1996) dan menjabat sebagai Senior Asisten Manajer Hubungan Investor Bidang Riset Pasar Modal dan Pengembangan Bank BNI (1996-1998), sempat menjabat sebagai Head of Investor Relations di Bank Permata (2003-2005) serta Vice President of Corporate Secretary Bank Permata (2005-2007).
Imam Teguh Saptono baru bergabung kembali dengan BNI di tahun 2007 sebagai Wakil Koordinator Non Organic Growth Project. Bergabung dengan Tim Implementasi Pembentukan Bank Umum Syariah tahun 2009, Direktur Risiko dan Kepatuhan BNI Syariah sejak Juni 2010.
Pria alumni Institut Pertanian Bogor (IPB) ini memperoleh gelar Sarjana Ilmu Pertanian pada tahun 1992 dan Magister Manajemen Agri Bisnis dari Institut Pertanian Bogor (IPB) pada tahun 1994. Ia memperoleh gelar Doktor dalam bidang Manajemen Bisnis di Institut Pendidikan Bogor (IPB) pada tahun 2011.
Pada tahun 2012, Imam menjabat sebagai Direktur  Bisnis dan mulai menjabat sebagai Direktur Utama di BNI Syari’ah sejak tahun 2016.
Pria dikenal sangat taat beragama ini membuat banyak terobosan, termasuk dalam hal muamalah saat memimpin BNI Syari’ah.
Terobosan tersebut antara lain:

  1. Menghapus denda keterlambatan. Karena segala bentuk denda finansial adalah riba.
  2. Mengkampanyekan riba amnesty.
  3. Menggagas Griya Swakarya, yang akhirnya direstui OJK sebagai sebuah bentuk akad bisnis properti dengan para developer
  4. Pencapai Laba 280 Miliar pertahun terbesar dari semua bank syariah di indonesia. Makanya kapitalis bank konvensional gerah

Beliau juga penggagas :

  1. Stop aktifitas kerja jam operasional selama 15 menit awal di waktu sholat
  2. Penggagas tunjangan untuk pegawai hafidz Qur’an
  3. Penggagas “Dakwah First Business Follow.”

Dalam acara perpisahan, Imam sempat menyampaikan bahwa pencopotan dirinya bukanlah hal aneh karena merupakan bagian dari konsekuensi yang tak bisa dihindari dan dipungkiri.
“Para sahabat surga, per hari ini amanah saya sebagai Dirut BNI Syari’ah berakhir. Sebagai konsekuensi logis dari keberpihakan yang tidak mungkin saya hindari dan pungkiri. Semua normal dan tidak ada yang aneh karena BNI Syariah mungkin memang belum milik ummat. Mohon maaf bila ada kesalahan selama menjabat di BNI Syari’ah,” tutur Imam.
IMG-20170324-WA0000
Imam Teguh Saptono dikenal luas oleh rekan-rekan sesama alumni IPB sebagai anggota Forum Pejuang Almaidah #Spirit212, juga Aksi Bela Islam #114.
Dari pihak BNI Syari’ah, diperoleh keterangan bahwa hasil Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPS LB) BNI Syariah memang telah memutuskan mengganti dua direksi BNI Syari’ah.
Tak hanya Imam, direktur bisnis konsumer Kukuh Rahardjo pun rupanya ikut tergeser.
Sekretaris Perusahaan PT Bank BNI Syariah, Endang Rosawati menyampaikan, pemegang saham BNI Syari’ah dalam keputusannya pada RUPS LB per 23 Maret 2017 mengenai perubahan Manajemen BNI Syariah menetapkan pengakhiran masa tugas Imam Teguh Saptono sebagai Direktur Utama dan Kukuh Rahardjo sebagai Direktur Bisnis Konsumer BNI Syari’ah.
RUPS LB kemudian mengangkat Abdullah Firman Wibowo sebagai direktur utama dan Dhias Widhiyati sebagai direktur bisnis konsumer. Keduanya efektif setelah mendapat persetujuan dari OJK.
”Perubahan direksi merupakan kewenangan pemegang saham dalam rangka mempersiapkan BNI Syari’ah menjadi bank yang modern, dinamis, dan mencakup semua golongan,” ungkap Endang dalam rilis tertulis Jumat, 24 Maret 2017.

Begini Nasib Saksi Ahli Agama Pembela Ahok Usai Bersaksi Di Sidang Ke-15

KH Ahmad Ishomuddin, saksi ahli agama yang meringankan Terdakwa kasus penistaan agama Basuki T. Purnama pada sidang ke-15 Selasa (21/3/2017) kemarin, akhirnya dipecat dari pengurus Majelis Ulama Indonesia (MUI).
Sebelumnya, dosen IAIN Raden Intan Lampung ini merupakan Wakil Ketua Komisi Fatwa MUI.
“Kemarin dalam rapat, diinformasikan (Ahmad Ishomuddin) sudah di-PAW, digantikan orang lain,” jelas Wakil Ketua Umum MUI Prof. Yunahar Ilyas kepada Kantor Berita Politik Republika RMOL sesaat lalu (Rabu, 22/3).
Bahkan informasi dari Rais Aam PBNU yang juga Ketua Umum MUI KH Maruf Amin, yang bersangkutan sudah tidak lagi menjadi Rais Syuriah PBNU.
“Sudah diturunkan menjadi Tanfidz,” sambung Prof. Yunahar.
Terkait pengakuan KH Ahmad Ishomuddin bahwa dia tidak diundang dalam membahas masalah Ahok, Prof. Yunahar tidak begitu mengetahui.
Lagi pula, tidak ada keharusan semua anggota hadir.
“Apalagi yang mengurus ini pengurus harian. Dia tidak pengurus harian,” sambungnya.
Soal alasan pencopotan, dia menambahkan, karena KH Ahmad Ishomuddin tidak sejalan dengan sikap MUI dan Komisi Fatwa.
Dalam kesaksiannya kemarin, KH Ahmad Ishomuddin mengaku atas nama pribadi. Saat menjadi saksi Ishomuddin menuding Pendapat Keagamaan MUI menjadi pemicu masalah Ahok menjadi besar. Bahkan Ishomuddin menyatakan surat Al-Maidah 51 sudah tidak relevan lagi saat ini.
Dalam keterangan lain, ternyata KH Ahmad Ishomuddin belum Doktor dan belum Haji. Dia juga bukan pakar tafsir, tapi dosen biasa ushul fiqh.
Memakai nama IAIN Raden Intan. Ttidak ada izin dari Rektor. Banyak diantara para dosen sangat terluka dengan pernyataan beliau yang munafiq.
Dulu KH Ahmad Ishomanuddin mengatakan 2 bulan lalu mengatakan dengan berbagai argumentasi, katanya demi Allah tidak mendukung Ahok. Namun ternyata dalam FB dan di forum-forum tertentu ia mendukung Ahok.
Beberapa kawan yang tergabung dalam GNPF MUI Lampung akan mengambil sikap Pemboikotan seluruh aktivitasnya.
Nasrulloh Nasution, Koordinator Persidangan Tim Advokasi GNPF MUI yang hadir menyaksikan persidangan mengatakan bahwa keterangan Ahli Agama dari kubu Ahok ini sangat memprihatinkan.
“Pasalnya, sebagai orang yang mengaku ulama seharusnya Ahli berada di jalur yang benar dan taat pada seruan MUI sebagai representasi ulama di Indonesia,” kata Nasrulloh di Auditorium Kementan, Ragunan, Jakarta, Selasa (21/3/2017).
 
Sumber : Republika RMOL, Portal Islam, Jurnal Islam

Tanpa Organisasi dan Persiapan Kordinasi, 200 Ribu Lebih Massa Aksi 313

Pemakaman KH Hasyim Dihadiri Dubes Arab, Habib Rizieq, hingga Din Syamsudin

DEPOK – Jenazah KH Hasyim Muzadi tiba di Pondok Pesantren Al-Hikam 2, Depok, Jawa Barat, Kamis (16/3) sekitar pukul 16.30 WIB.
Begitu diturunkan dari kendaraan yang membawanya dari Bandara Halim Perdana Kusuma, peti jenazah yang dibalut Bendera Merah Putih langsung diboyong memasuki Masjid Ponpres Al-Hikam untuk dishalatkan.
Pengurus Masjid yang berbicara melalui pengeras suara mengatakan bahwa salat jenazah akan dipimpin Imam Besar Istiqlal Nasaruddin Umar, kemudian doa dari Imam Besar FPI Habib Rizieq Shihab, dan inspektur prosesi pemakaman dari Wakil Presiden Jusuf Kalla
Masjid Ponpes Al-Hikam tidak mampu menampung jamaah yang ingin menshalati alm. Kiyai Hasyim Muzadi. Bahkan, shaf shalat melebar sampai ke tangga dan sebagian area lapangan.
KH Hasyim Muzadi merupakan Anggota Dewan Pertimbangan Presiden 2014-2019.
Dia akan dimakamkan di lapangan persis di samping gedung Sekolah Tinggi Kulliyatul Quran, Pondok Pesantren Al-Hikam 2, Depok, Jawa Barat.
Sejumlah pejabat dan tokoh turut menghadiri pemakaman mantan Ketua Umum PBNU tersebut. Antara lain Ketua Dewan Penasehat MUI Din Syamsuddin, Imam Besar FPI Habib Rizieq Shihab, Ibu Shinta Nuriyah Abdurrahman Wahid.

e189110b-80fe-4fb5-a2d7-73476547ae94_169

Ketua Umum Muhammadiyah, Din Syamsudin menyampaikan doa dan belasungkawa


Kemudian ada Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa, Jaksa Agung HM Prasetyo, Wakil Ketua MPR Hidayat Nur Wahid, Duta Besar Arab Saudi,
Lalu terlihat ada Gus Mus, Anies Baswedan, Ketua Umum PKS Sohibul Iman, PKB Muhaimin Iskandar, Ketum PPP Romahurmuziy, dan beberapa tokoh nasional serta tokoh NU.