by Danu Wijaya danuw | Feb 28, 2017 | Artikel, Dakwah
Salman Al Farisi seorang sahabat Nabi yang istimewa ini pernah menjabat gubernur di beberapa kota. Ia adalah orang yang sangat shalih, rendah hati, hingga ia makan dan minum dari hasil keringatnya sendiri.
Pada suatu hari ketika Salman sedang berjalan kaki, ia bertemu dengan seorang pedagang yang datang dari negeri Syam, sambil membawa barang bawaannya berupa buah tin dan buah kurma.
Pedagang itu mencari tukang angkut (kuli) yang dapat membantunya membawakan barang bawaannya.
Tatkala dilihatnya seorang lelaki yang tampaknya olehnya seperti halnya rakyat kebanyakan, terlintas dalam benaknya untuk menyuruh orang itu membawakan barang dagangannya.
Pedagang itu pun melambaikan tangannya sembari menunjuk orang yang dilihatnya yaitu Salman Al Farisi agar menghampirinya.
Pedagang itu berkata, “Tolong bawakan barang-barangku ini!”
Orang yang diperintah pun segera membawanya dan keduanya berjalan beriringan, hingga melewati sekelompok orang yang sedang berkumpul.
Sang Pedagang dan Kuli Angkut Barang itu lantas mengucapkan salam kepada mereka. Mereka lalu menjawab, “Wa’alaikummusalam wahai Amirul Mukminin.”
Pedagang Syam itu kebingungan dan bertanya dalam hatinya, “Gubernur? Gubernur mana yang kalian maksud?”
Ia semakin bertambah keheranan tatkala melihat sebagian dari mereka cepat-cepat menuju ke arah tukang angkutnya sembari memohon, “Biar aku saja yang membawanya wahai Amir”
Akhirnya pedagang dari Syam itu mengetahui bahwa orang yang membawa barang-barangnya itu tidak lain adalah gubernur wilayah tersebut, yaitu Salman Al Farisi.
Seketika itu juga dia langsung meminta maaf kepada beliau dan menyatakan penyesalannya. Segera ia mendekati Salman untuk membantu menurunkan barang bawaannya.
Tetapi Salman menolak sambil berkata, “Tidak usah, aku akan membawanya hingga sampai di rumahmu,” tuturnya.
Demikianlah kisah pemimpin shalih yang merakyat, dan mau turun langsung berkeringat mengayomi rakyatnya. Semoga kita diberikan pemimpin yang shalih.
by Danu Wijaya danuw | Feb 28, 2017 | Dunia
Pemimpin yang shaleh adalah idaman bagi orang-orang yang beriman. Ketika seorang pemimpin memiliki kecakapan dalam tata negara, ditambah memiliki keshalehan, maka itu adalah karunia yang sangat besar yang Allah berikan bagi penduduk suatu negeri.
Kerajaan Arab Saudi adalah sedikit dari negeri yang diberikan Allah karunia besar tersebut. Raja-raja mereka begitu memiliki perhatian yang besar terhadap Islam dan kaum muslimin.
Mereka membantu memberi Alquran ke berbagai negeri-negeri Islam, membantu pembangunan masjid, fasilitas peribadatan, menyumbang dana dan fasilitas publik lainnya. Tidak heran, rakyatnya pun memuji perilaku pemimpin mereka.
Karenanya, sering kita dengar orang-orang di negeri kita mengajukan permintaan bantuan dana ke orang-orang Arab Saudi untuk kepentingan dakwah, karena mereka dikenal loyal dalam hal ini. Berikut ini adalah sedikit fakta sisi religius raja Arab Saudi :
1. Raja Salman Hafal Qur’an Usia 10 Tahun dan Kecintaannya Kepada Alquran
Sebagaimana tradisi kerajaan-kerajaan Islam sedari dulu, anak-anak raja dan para pangeran disekolahkan di sekolah khusus kerajaan, demikian juga dengan Raja Salman bin Abdul Aziz. Ia pertama kali menimba ilmu di Madrasah Umara (Princes’s School) di Riyadh. Di sana ia mempelajari ilmu agama dan sains modern.
Di Madrasah Umara, Raja Salman bin Abdul Aziz berhasil menghafalkan 30 juz Alquran saat usianya masih 10 tahun. Saat itu, kepala sekolah Madrasah Umara adalah Syaikh Abdullah al-Khayyath, imam dan khotib Masjid al-Haram sekarang.
Oleh karena itu, sama seperti pimpinan-pimpinan Arab Saudi lainnya, Raja Salman menaruh perhatian yang sangat besar dalam memotivasi anak-anak Arab Saudi untuk menghafalkan kitabullah.
Wujud perhatian beliau terhadap Alquran adalah dengan adanya Musabaqoh al-Amir Salman bin Abdul Aziz li Hifzhi-l Quran yang telah diselenggarakan sebanyak 17 kali di Riyadh.
Musabaqoh Alquran ini berada dibawah bimbingan Kementerian Urusan Islam, Wakaf, Dakwah, dan Irsyad (Menteri Agama) Arab Saudi. Sehingga diadakan merata di setiap wilayah kerajaan dengan dukungan gubernur masing-masing wilayah.
2. Tinggalkan Obama Demi Shalat Tepat Waktu
Pada 27 Januari 2015, atau beberapa hari setelah Salman dinobatkan sebagai raja baru Saudi, Presiden AS Barack Obama secara resmi menemuinya. Obama dan sang istri, Michelle Obama menemui Raja Salman di istana kerajaan Arab Saudi.
Saat itu Presiden Obama, istri, beserta rombongan AS baru tiba dan bersalaman. Ketika masih sedang diliput live berbagai media internasional, tiba-tiba Obama ditinggalkan Raja Salman setelah suara adzan terdengar. Raja Salman mengucapkan “permisi” untuk menjalankan shalat berjamaah bersama para staff Arab Saudi.
Kunjungan Obama dan Michelle saat itu akhirnya jadi heboh dalam pemberitaan utama media-media internasional. Salut kepada King Salman yang lebih mengutamakan agama dibanding tamu negara.
3. Beri Bonus ke Seluruh PNS Saudi
Tak lama setelah dinobatkan sebagai Raja Saudi pada 22 Januari 2015, Raja Salman membuat gebrakan. Raja Salman memberi bonus senilai dua bulan gaji kepada seluruh pegawai negeri sipil (PNS) dan semua personel militer.
Tidak hanya PNS dan aparat militer, bonus juga diberikan Raja Salman kepada para pensiunan dan para siswa di Saudi.
”Orang-orang terhormat; Anda pantas menerima lebih dan apapun yang saya lakukan tidak akan bisa memberikan apa yang layak bagi Anda,” tulis Raja Salman di akun Twitter-nya, kala itu.
Raja religius ini juga selalu minta doa dari rakyatnya. “Jangan lupakan saya dalam berdoa,” bunyi tweet Raja Salman, tak lama setelah mengumumkan pemberian bonus besar-besaran bagi pegawai Saudi.
4. Memecat Putra Raja Abdullah
Ketika merombak kabinet, Raja Salman membuat kejutan dengan memecat putra Raja Abdullah bin Abdulaziz, Pangeran Khalid yang saat itu menjabat sebagai Kepala Intelijen.
”Penjaga Dua Masjid Suci, Raja Salman bin Abdul Aziz al-Saud mengeluarkan perintah kerajaan hari ini, memecat Pangeran Khalid bin Bandar bin Abdul Aziz al-Saud, dari jabatannya sebagai Kepala Intelijen Umum,” bunyi pengumuman Kerajaan Saudi yang dirilis Saudi Press Agency (SPA), pada Jumat, 30 Januari 2015.
Pemecatan putra Raja Abdullah itu hanya seminggu setelah Raja Abdullah meninggal di usia 90 tahun. Tak jelas alasan pemecatan putra Raja Abdullah itu.
Tak hanya Pangeran Khalid, Raja Salman juga memecat Pangeran Mishaal, gubernur wilayah Mekkah.
5. Perintahkan Eksekusi Pangeran Saudi karena Bersalah
Pada Oktober 2016, Raja Salman kembali menuai pujian publik Saudi, karena berani memerintahkan eksekusi terhadap seorang pangeran Saudi yang menembak mati seorang pemuda dalam sebuah perkelahian pada 2004.
Publik Saudi melalui media sosial menilai Raja Salman sebagai raja yang adil dalam penegakan hukum tanpa tebang pilih. Pangeran yang dieksekusi adalah Pangeran Turki bin Saud al-Kabir.
Eksekusi dijalankakan setelah keluarga korban menolak “uang darah”. Pangeran Turki dieksekusi di alun-alun Riyadh sebagai penegakan hukum.
6. Komitmen terhadap Asas Negara Islam dengan Alquran dan Sunnah
Dalam beberapa kali kesempatan, Salman bin Abdul Aziz mengatakan bahwa Kerajaan Arab Saudi berdiri dengan asas syariat Islam dalam undang-undang dan sikap politiknya. Kerajaan ini juga senantiasa menolong agama Allah, berkhidmat untuk dua tanah suci, dan kaum muslimin secara umum.
Beliau mengatakan bahwa dari awal berdirinya, kerajaan ini telah berpegang teguh dengan pemahaman agama Islam yang benar secara manhaj (teori) dan praktiknya. Baik dalam hukum, asas politik, dan sosial kemasyarakatan.
Raja Salman mengatakan, “Kerajaan Arab Saudi berdiri dengan asas al-Kitab dan as-sunnah, bukan berdasar hukum-hukum kabilah atau ideologi-ideologi buatan manusia. Kerajaan ini berdiri dengan berasaskan akidah Islam sejak lebih dari 270 tahun lalu, ketika al-Imam Muhammad bin Suud mendirikan negara Arab Saudi.”
7. Pidato Pertama Sebagai Raja Arab Saudi bernafaskan Islam
Di antara kalimat yang disampaikan oleh Raja Salman bin Abdul Aziz dalam pidato pertamanya:
Raja Salman mengawali pidatonya dengan pujian kepada Allah dan shalawat kepada Rasul-Nya, kemudian ucapan bela sungkawa kepada anggota kerajaan dan seluruh rakyat Arab Saudi atas meninggalnya Raja Abdullah. Ia mengatakan:
Segala puji bagi Allah, yang telah berfirman, “Semua yang ada di bumi itu akan binasa. Dan tetap kekal Dzat Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan”. (QS. Ar-Rahman: 26-27).
Shalawat dan salam kepada Rasulullah Muhammad, kepada keluarga dan juga para sahabatnya.
Kemudian baru beliau sampaikan ucapan belasungkawa atas wafatnya Raja Abdullah bin Abdul Aziz rahimahullah. Raja Salman memuji pendahulunya tersebut atas dedikasi yang ia berikan dalam hidupnya kepada agama, negara, rakyat, dan dunia Islam secara umum.
Beliau menyampaikan, “Kami akan melanjutkan –dengan rahmat dan pertolongan dari Allah– meniti jalan yang benar dan tidak akan pernah menyimpang darinya, yaitu melanjutkan konstitusi kami berdasarkan Alquran dan Sunnah Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam”.
“Kami akan melanjutkan kebijakan negara ini, negara yang telah Allah utamakan dengan memilihnya sebagai tempat risalah (Nabi-Nya) dan kiblat (kaum muslimin), untuk meningkat persatuan dan mempertahankan negara. Dengan bimbingan dari Allah berdasarkan syariat Islam sebagai agama damai, kasih sayang, dan moderat”. Kata Raja Salman.
Ia melanjutkan, “Saya memohon kepada Allah agar senantiasa membimbing saya dalam melayani rakyat, mewujudkan harapan mereka, menjaga keamanan dan stabilitas negara kita, serta melindunginya dari kejahatan. Sesungguhnya Allah mampu melakukan yang demikian, dan tidak ada daya dan upaya kecuali dengan pertolongan-Nya”
Penutup
Kita sadar bahwa kepemimpinan yang sama persis dengan khalifah Rasyid hanya akan terjadi di akhir zaman kelak, di masa Imam Mahdi. Usaha-usaha dan komitmen yang dilakukan pemerintah Arab Saudi sekarang untuk berpegang kepada Alquran dan sunnah sudah sangat kita apresiasi.
Tidak ada negara di dunia ini, yang menerapkan syariat Islam lebih dari apa yang mereka lakukan. Hanya di negara Arab Saudi saja kita dapat menyaksikan pemandangan mall dan pasar-pasar sepi saat memasuki waktu shalat. Raja Salman juga lebih ramah dan terbuka kepada golongan-golongan Islam lintas mazhab dan ideologi.
by Danu Wijaya danuw | Feb 27, 2017 | Nasional
Kedatangan Raja Salman, pemimpin tertinggi kerajaan Arab Saudi ini memang luar biasa. Masjid Istiqlal pun sampai ikut berbenah menyambut kedatangan salah satu pemimpin berpengaruh dunia itu.
Dari mulai lift, toilet, hingga ruang meeting, semua diset menyesuaikan kebutuhan Raja Salman. “Istiqlal sudah siap menyambut Raja Salman. Nantinya Raja Salman bakal masuk lewat pintu Al Malik yang biasa digunakan untuk Presiden,” kata Kepala Sub Bidang Pemeliharaan Gedung dan Teknik Masjid Istiqlal Syaiful Haq, Minggu (26/2/2017).
Itu belum seberapa. Masih ada ruangan Al Malik yang sudah dipercantik untuk menyambut kedatangan sang raja. Di ruangan singgah itu, berjejer sekitar tujuh kursi berwarna hitam. Kapasitas kursi bisa diduduki 14 orang.
“Di sana Raja Salman akan beristirahat. Setelah itu Raja Salman dan rombongan melakukan meeting di ruangan yang ada persis di dekat ruangan singgah,” tambahnya.
Yang menyambut pun bukan orang sembarangan. Di Istiqlal nanti, sudah ada Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, Pimpinan Badan Pelaksana Pengelola Masjid Istiqlal (BPPMI), dan Imam Besar Istiqlal, Nasaruddin Umar, yang siap menyambut delegasi Saudi.
“Ada juga beberapa menteri lainnya,” ucapnya.
Lantas bagaimana siasat Istiqlal untuk mengajak bersafari turun naik di masjid terbesar di Asia Tenggara dan Asia Timur itu? Maklum, Raja Salman sudah tidak lagi muda. Naik dan turun pesawat sekalipun membutuhkan bantuan escalator portable.
“Nanti akan ada lift khusus untuk beliau. Lift-nya nanti akan membantu Raja Salman naik ke lantai utama,” ucap Syaiful.
Keamanannya? Sangat oke. Lift yang dikerjakan PT Waskita itu dilengkapi kamera pengintai. “Sangat aman,” sambung Syaiful.
Fasilitas lain yang disiapkan adalah toilet khusus yang disesuaikan dengan kebutuhan raja bergelar “pelayan dua Tanah Suci” tersebut. Letaknya ada di ruangan Al Malik. Konturnya tidak biasa. Closet duduk toiletnya lebih ditinggikan sekitar 12 centimeter dari ukuran normal.
“Jadi tingginya sekitar 55 centimeter,” tambah Syaiful.
Di kanan dan kiri closet, disediakan pegangan dari alumunium. Itu sengaja disediakan buat mempermudah Raja Salman jongkok dan berdiri. Pegangan lebih tinggi sekitar lima centimeter dari closet.
Di dalam kamar mandi juga disediakan karpet tebal. Karpet memang sengaja diminta karena Raja Salman, agar tidak terpeleset.
Perlengkapan kebutuhan kamar mandi Raja Salman pun khusus dibeli dari toko di kawasan Petamburan. Sederet fasilitas itu disesuaikan dengan perintah protokoler.
Raja Salman ke Istiqlal sekitar pukul 13.45 WIB pada 2 Maret. Ia dijadwalkan hanya kunjungan selama 30 menit di Masjid terbesar se Asia Tenggara itu.
by Danu Wijaya danuw | Feb 27, 2017 | Adab dan Akhlak, Artikel
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
“Apabila kalian mendengar ayam berkokok, mintalah karunia Allah (berdoalah), karena dia melihat malaikat. Dan apabila kalian mendengar ringkikan keledai, mintalah perlindungan kepada Allah dari setan, karena dia melihat setan.” (HR. Bukhari 3303 dan Muslim 2729).
Dalam riwayat Ahmad, terdapat keterangan tambahan, “di malam hari”.
إِذَا سَمِعْتُمْ صِيَاحَ الدِّيَكَةِ مِنَ اللَّيْلِ، فَإِنَّمَا رَأَتْ مَلَكًا، فَسَلُوا اللهَ مِنْ فَضْلِهِ
Apabila kalian mendengar ayam berkokok di malam hari, sesungguhnya dia melihat Malaikat. Karena itu, mintalah kepada Allah karunia-Nya. (HR. Ahmad 8064 dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth).
Keistimewaan Ayam Jantan
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadikan bunyi kokok ayam jantan di waktu malam, sebagai penanda kebaikan, dengan datangnya Malaikat dan kita dianjurkan berdoa. Ini bagian dari keistimewaan ayam.
Al-Hafidz Ibn Hajar mengatakan, Ayam jantan memiliki keistimewaan yang tidak dimiliki binatang lain, yaitu
Mengetahui perubahan waktu di malam hari. Dia berkokok di waktu yang tepat dan tidak pernah ketinggalan. Dia berkokok sebelum subuh dan sesudah subuh, hampir tidak pernah meleset. Baik malamnya panjang atau pendek. Karena itulah, sebagian syafiiyah memfatwakan untuk mengacu kepada ayam jantan yang sudah terbukti, dalam menentukan waktu. (Fathul Bari, 6/353).
Mengapa Dianjurkan Berdoa?
Kita dianjurkan berdoa ketika mendengar ayam berkokok, karena dia melihat Malaikat. Karena kehadiran makhluk baik ini, kita berharap doa kita dikabulkan.
Al-Hafidz Ibn Hajar menukil keterangan Iyadh, Iyadh mengatakan, alasan kita dianjurkan berdoa ketika ayam berkokok adalah mengharapkan ucapan amin dari Malaikat untuk doa kita dan permohonan ampun mereka kepada kita, serta persaksian mereka akan keikhlasan kita. (Fathul Bari, 6/353).
Tidak Boleh Mencela Ayam Jago
Dalam hadis dari Zaid bin Khalid al-Juhani radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لَا تَسُبُّوا الدِّيكَ فَإِنَّهُ يُوقِظُ لِلصَّلَاةِ
Janganlah mencela ayam jago, karena dia membangunkan (orang) untuk shalat.
(HR. Ahmad 21679, Abu Daud 5101, Ibn Hibban 5731 dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth).
al-Hafidz Ibn Hajar menukil keterangan al-Halimi, Al-Halimi mengatakan, Disimpulkan dari hadis ini bahwa semua yang bisa memberikan manfaat kebaikan, tidak selayaknya dicela dan dihina. Sebaliknya, dia dimuliakan dan disikapi dengan baik.
Sabda beliau, ‘ayam mengingatkan (orang) untuk shalat’ bukan maksudnya dia bersuara, ‘shalat..shalat..’ atau ‘waktunya shalat…’ namun maknanya bahwa kebiasaan ayam berkokok ketika terbit fajar dan ketika tergelincir matahari. Fitrah yang Allah berikan kepadanya. (Fathul Bari, 6/353).
Allahu a’lam.
oleh ustadz Ammi Nur Baits
by Danu Wijaya danuw | Feb 26, 2017 | Adab dan Akhlak, Artikel
Dengki atau Hasad merupakan satu dari sekian penyakit yang mematikan. Bagaimana tidak, penyakit tersebut, seperti diidentifikasikan oleh Ibnu Hajar, adalah seseorang tidak ingin nikmat yang dimiliki orang lain itu bertahan lama. Bila perlu, segera hilang dari tangannnya. Bahkan, ganti berpindah ke pangkuan pelaku hasad tersebut.
Dari Anas bin Malik RA bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, “Janganlah kalian saling membenci, jangan saling mendengki, jangan saling membelakangi, dan jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara. Dan tidak halal bagi seorang muslim mendiamkan saudaranya lebih dari tiga hari”. [HR. Bukhari juz 7, hal. 88]
Apa dan bagaimana terjadi hasad?
Syeikh Mushthafa al-Adawi dalam karyanya yang berjudul, Fiqh al-Hasad mengemukakan, dengki bisa saja muncul akibat beberapa faktor. Pemicu yang paling banyak mendominasi adalah permusuhan dan kebencian, yang barangkali termanifestasikan dalam perilaku ataupun tidak. Faktor ini juga mungkin timbul akibat perlakuan lalim terhadap si pelaku dengki.
Sumpah serapah pun dengan mudah menyeruak, entah celaka, binasa hartanya, atau dampak tak mengenakkan lainnya.
Kecintaan terhadap harta dan jabatan juga bisa mendorong dengki diri seseorang. Ambisi meraih itu semua terkadang membutakan nurani. Bahkan, tak jarang pula menempuh berbagai cara agar orang lain sulit mencapai pangkat tersebut.
Teguran agar menjauhi pemicu dengki ini pernah disebutkan dalam surah an-Nisaa’ ayat 54.
“Ataukah mereka dengki kepada manusia (Muhammad) lantaran karunia yang Allah telah berikan kepadanya? Sesungguhnya Kami telah memberikan Kitab dan hikmah kepada keluarga Ibrahim, dan Kami telah memberikan kepadanya kerajaan yang besar.”
Rasa dengki juga bisa datang akibat berebut popularitas. Dan, kesemua faktor tersebut bermuara pada satu pangkal sebab, yakni lemahnya spiritualitas. Frekuensi iri yang ada dalam diri seseorang terkadang melintas ruang dan waktu. Namun, kadarnya akan semakin akut bila jarak antarkedua belah tak jauh. Misal, sesama karyawan dalam satu perusahaan, antartetangga kompleks perumahan, atau teman bisnis.
Bahaya Dengki
Kedengkian yang berlarut-larut pula, perlahan tanpa disadari, akan mengikis kebaikan pendengki itu sendiri. Dan, para pendengki itu kelak akan mempertanggungjawabkan kelakuannya tersebut di akhirat.
Dari Abu Hurairah bahwasanya Nabi SAW bersabda, “Hati-hatilah kalian terhadap dengki, karena sesungguhnya dengki itu memakan kebaikan sebagaimana api memakan kayu bakar”, atau beliau bersabda,“(memakan) rumput”. [HR. Abu Dawud]
Efek negatif dengki tak terhenti pada sanksi di akhirat, tetapi juga akan dirasakan dampaknya di kehidupan dunia. Perasaan gundah gulana, khawatir, dan sakit hati akan selalu menghantui hari demi hari si pendengki.
Dalam titik tertentu, terkadang ironsinya, ia malah mengharapkan petaka bagi dirinya sendiri. Dan, rasa dengki itu hanya akan menyebabkan yang bersangkutan terkucil dari lingkungannya. Karena itulah, rasa dengki dengan kriteria di atas sangat dikecam dalam agama.
Solusi dan Cara Mengikis Dengki
Syekh Musthafa pun memaparkan beberapa solusi dan cara sederhana guna mengikis kedengkian dalam diri seseorang. Ingat, bertawakallah selalu.
Karena, ungkap Ibnu al-Qayyim, hanya dengan bertawakallah seorang hamba dapat menampik tindakan lalim atau kebencian akan seseorang. Jika memposisikan Allah sebagai satu-satunya pelindung, sejauh itu pula penjagaan akan selalu ada.
“Dan barang siapa yang bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)-nya.” (QS at-Thalaq [65]: 3).
Resep membendung rasa dengki selanjutnya, menukil dari pernyataan Ibn al-Qayyim, bersikap cuek dan berusaha membersihkan pikiran dari tingkah laku pendengki.
Biarkan seperti angin lalu saja. Bahkan, akan sangat baik bila Anda membalas perlakuan buruk itu dengan tindakan baik. Memadamkan api kedengkian itu dengan balasan berupa perbuatan terpuji.
Dan terakhir, selalu berlindunglah kepada Allah SWT hasutan orang-orang pendengki, entah mereka yang berada jauh dari Anda, ataupun yang dekat dengan Anda sekalipun.
“Dan dari kejahatan pendengki bila ia dengki.” (QS al-Falaq [113]: 2)