0878 8077 4762 [email protected]

Benarkah Umur Umat Islam Tinggal 1500 Tahun Lagi?

Buku yang sempat menghebohkan dunia Islam itu judul aslinya adalah هرمجدون آخر بيان يا أمة الإسلام.
Ditulis oleh seorang yang bernama Amin Muhammad Jamaluddin. Dalam edisi terjemahan bahasa Indonesia berjudul Huru-hara Akhir Zaman.
Mengomentari buku yang menghebohkan ini, Al-Ustadz Hamid bin Abdillah Al-‘Ali mengatakan bahwa beliau tetap menghargai niat dan usaha penulisnya untuk mengingatkan umat Islam akan datangnya hari kiamat. Dan beliau juga berpesan agar para pembaca buku ini tidak gampang bersuudzhon kepada penulisnya.
Namun beliau juga mengingatkan kepada penulis buku ini agar tidak menggunakan rujukan yang tidak ada sumber hadits yang kuat dan menghindari hadits palsu.
Memang kalau kita baca buku itu, di sana dinyatakan dengan pasti Imam Mahdi akan muncul sebelum masuk tahun 1430 Hijriyah, yang sekarang sudah lewat. Juga disebutkan bahwa usia umat Islam yaitu 1500 tahun.
Sehingga kalau dihitung dari sejak diutusnya nabi Muhammad SAW pada tahun 13 tahun sebelum hijrah hingga tahun 2017 ini/1438 H, berarti usia umat Islam tinggal 1500 H – (1438+13) H = 1500 H – 1451 = 49 tahun lagi. Sehingga tahun 2066 M sudah berakhir.
Titik Pangkal Masalah
Yang jadi masalah paling mendasar adalah darimana datangnya angka tahun 1430 hijriyah sebagai tahun kemunculan Al-Imam Mahdi? Dan darimana angka 1500 tahun sebagai usia umat Islam?
Menurut buku itu, angka tahun-tahun ini didapat dari hadits nabi Muhammad SAW. Dan diyakini oleh penulisnya sebagai hadits yang shahih dan bisa diterima.
Selain hadits tentang masa terjadinya kiamat, di dalam buku itu juga ada hadits lain seperti berikut ini:
Nu’aim bin Hammad meriwayatkan dengan sanadnya bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Pada bulan Ramadhan terlihat tanda-tanda di langit, seperti tiang yang bersinar, pada bulan Syawwal terjadi malapetaka, pada bulan Dzulqa’idah terjadi kemusnahan, pada bulan Dzulhijjah para jamaah haji dirampok, dan pada Muharram, tahukah apakah Muharram itu?”
Rasulullah saw juga bersabda:
Akan ada suara dahsyat di bulan Ramadhan, huru-hara di bulan Syawal, konflik antara suku pada bulan Dzulqa’idah, dan pada tahun itu para jamaah haji dirampok dan terjadi pembantaian besar di Mina di mana ramai orang terbunuh dan darah mengalir di sana, sedangkan pada saat itu mereka berada di Jumrah Aqabah.”
Baginda saw juga bersabda:
Bila telah muncul suara di bulan Ramadhan, maka akan terjadi huru-hara di bulan Syawwal….” Kami bertanya, “Suara apakah, ya Rasulullah?” Beliau menjawab, “Suara keras di pertengahan bulan Ramadhan, pada malam Juma’at, akan muncul suara keras yang membangunkan orang tidur, menjadikan orang yang berdiri jatuh terduduk, para gadis keluar dari pingitannya, pada malam Jum’at di tahun terjadinya banyak gempa.
Jika kalian telah melaksanakan shalat Subuh pada hari Juma’at, masuklah kalian ke dalam rumah kalian, tutuplah pintu-pintunya, sumbatlah lubang-lubangnya, dan selimutilah diri kalian, sumbatlah telinga kalian. Jika kalian merasakan adanya suara menggelegar, maka bersujudlah kalian kepada Allah dan ucapkanlah, “Mahasuci Al-Quddus, Mahasuci Al-Quddus, Rabb kami Al-Quddus!”, karena barangsiapa melakukan hal itu akan selamat, tetapi barangsiapa yang tidak melakukan hal itu akan binasa.”
Benarkah itu Hadits Shahih?
Semua yang diceritakan dalam tema buku ini adalah permasalahan ghaib, maka yang berhak mengatakan itu hanya nabi Muhammad SAW saja. Jadi seandainya memang ada hadits yang sampai ke derajat shahih, bolehlah kita jadikan pegangan.
Tapi masalah terbesarnya, ternyata apa yang diklaim sebagai hadits shahiholeh penulis buku itu, justru ditentang oleh para ahli hadits. Para ahli hadits bahkan sampai mengatakan bahwa hadits-hadits yang digunakan dalam kitab itu adalah hadits palsu dan batil. 100% tidak bisa dijadikan dasar dalam urusan agama.
Apalagi masalah huru-hara menjelang hari kiamat termasuk masalah aqidah. Maka haram hukumnya menggunakan riwayat itu sebagai dasar rujukan.
Apa yang diklaim sebagai hadits sebenarnya sama sekali tidak layak dikatakan sebagai sabda nabi Muhammad SAW. Dan untuk itu sudah ada ancaman dari beliau sendiri tentang orang yang mengatakan bahwa suatu lafadz itu merupakan perkataan beliau, padahal beliau sendiri tidak pernah mengatakannya.
Rasulullah SAW bersabda, “Siapa yang berdusta tentang aku secara sengaja, maka hendaklah dia menyiapkan tempat duduknya di neraka”. (HR Muttafaqun ‘alaihi).
Kelemahan Hadits Pada Buku Tersebut
1. Kelemahan Pertama: Tidak Membaca Makhthuthat
Kelemahan paling mendasar bahwa Amin Muhammad Jamaluddin meski banyak menggunakan hadits dari kitab Shahih Bukhari dan Shahih Muslim, namun pada bagian-bagian yang penting dan sangat musykil seperti perhitungan tahun turunnya Imam Al-Mahdi, beliau menggunakan hadits-hadits yang tidak jelas asal usulnya.
Di antara rujukan hadits yang bermasalah di kitab ini adalah klaim bahwa beliau menemukan makhthutah (naksah tulisan tangan) di sebuah perpustakaan di Istambul.
Setelah diteliti lebih jauh, ternyata Amin Muhammad Jamaluddin sebagai penulis tidak membaca langsung naskah tulisan tangan itu. Tetapi bersumber dari seseorang yang mengaku pernah menemukan makhthuthat itu di sebuah perpustakaan di Istanbul.
Jadi bahkan Amin Jamaluddin sendiri tidak pernah melihat langsung naskah itu dalam keadaan aslinya. Semata-mata informasi dari seseorang yang mengaku pernah melihatnya.
Dari sini saja pada dasarnya kaidah ilmiyah penulisan kitab ini sudah sangat bermasalah. Seharusnya penulis buku ini mencantumkan kopi dari makhthuthah ini dalam kitabnya. Dan akan menjadi satu cabang ilmu yang dikenal dengan nama Filologi.
2. Kelemahan Kedua: Makhthuthah Bermasalah
Menurut Ustaz Hatim Al-Auniy, anggota Hai’ah Tadrisdi Universitas Ummul Qura Makkah, makhthuthat yang diklaim sebagai berisi hadits shahih itu ternyata tidak lebih dari kumpulan hadits-hadits palsu nukilan dari Kitabul Fitan karya Nu’aim ibnu Hammad.
Padahal banyak dari para ulama sejak dahulu telah memberi peringatan tentang masalah periwayatan yang ada di dalam kitab Al-Fitan.
Al-Imam Ahmad mengatakan ada tiga kitab yang tidak punya dasar, di antaranya adalah Kitabul Fitan karya Nu’aim bin Hammad ini.
Sedangkan Adz-Dzahabi mengomentari tentang Nu’aim penulis makhthuthat ini sebagai orang yang jiwa manusia tidak mantap dengan riwayatnya. Senada dengan itu, Yahya bin Mu’in mengatakan bahwa Nu’aim ini meriwayatkan dari orang-orang yang tidak tsiqah (lihat Siyar A’lam An-Nubala’ jilid 10 halaman 597-600).
Jadi anggaplah misalnya makhthuthat itu memang benar-benar ada di perpustakaan Istanbul sana, dan memang benar-benar ditulis oleh Nu’aim bin Hammad, tetap saja pengambilan dasar hadits itu bermasalah pada perawinya, yaitu Nu’aim bin Hammad.
3. Kelemahan Ketiga: Tadlis (Penipuan Nama Bukhari)
Para ahli hadits punya sebuah istilah yang disebut dengan tadlis. Makna mudahnya adalah penipuan. Di dalam buku ini Amin Jamaluddin menggunakan metode tadlis atau penipuan atas nama Al-Bukhari.
Hadits yang digunakan penulis buku ini sering diklaim sebagai hadits Bukhari, padahal bukan. Hadits itu sebenarnya terdapat dalam kitab tulisan gurunya Al-Bukhari yang bernama Nu’aim ibnu Hammad.
Benar bahwa Nu’aim ini guru Al-Bukhari, namun para ulama hadits banyak yang mengatakan bahwa Nu’aim ini adalah perawi yang bermasalah. Dan Al-Bukhari tidak pernah menggunakan sanad dari Nu’aim kecuali bila ada riwayat dari jalur yang lain menguatkan jalur Nu’aim.
Satu hal yang dilupakan adalah bahwa tidak mentang-mentang seseorang menjadi guru imam Al-Bukhari, lantas semua riwayat atau kitab hadits karyanya boleh dianggap shahih. Bahkan tidak semua hadits yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari sendiri bisa dipastikan keshahihannya. Karena yang dikatakan hadits shahih adalah yang beliau masukkan ke dalam kitab shahihnya. Sedangkan kitab lain yang juga ditulis oleh beliau, belum tentu shahih.
Untuk sekedar diketahui, Al-Bukhari selain menyusun Kitab Ash-Shahih juga pernah menulis beberapa kitab lainnya seperti al-Adabul Mufrad, Raf’ul Yadain fish Shalah, al-Qira’ah khalfal Iman, Birrul Walidain, at-Tarikh ash-Shagir, Khalqu Af’aalil ‘Ibaad, adl-Dlu’afa (hadits-hadits lemah), al-Jaami’ al-Kabir, al-Musnad al-Kabir, at-Tafsir al-Kabir, Kitabul Asyribah, Kitabul Hibab, dan kitab Asaami ash-Shahabah. Tapi yang benar-benar beliau jamin keshahihannya hanyalah kitab As-Shahih saja.
Sebenarnya kita masih bisa membela Nu’aim ibnu Hammad sebagai guru Al-Bukhari. Karena beliau juga tidak pernah mengatakan hadits dalam kitab Al-Fitan itu sebagai hadits shahih, makanya beliau menuliskan hadits itu lengkap sanadnya, yang akan menjadi bahan buat para peneliti hadits untuk mengerjakan tugasnya. Dan dunia Islam memang mengenal Kitab Al-Fitan ini adalah kitab yang berisi hadits-hadits batil dan israiliyyat (dongeng bangsa Israil).
Sayangnya, Amin Jamaluddin menukil hadits-hadits dalam kitab Al-Fitan itu begitu saja tanpa menyebutkan bahwa isnad hadits ini belum selesai dikerjakan dan dia sama sekali tidak mencantumkan daftar perawinya. Sehingga terkesan pembaca digiring untuk mengatakan seolah-olah hadits-hadits itu shahih dengan menyebutkan bahwa Nu’aim adalah guru imam Bukhari.
Buat mereka yang terlalu bersemangat tapi awam dengan ilmu naqd (kritik) hadits, mudah sekali percaya bahwa hadits-hadits itu sebagai hadits shahih.
4. Kelemahan Keempat: Dongeng Nostradamus
Salah satu kelemahan fatal buku ini adalah turut dicantumkannya juga dongeng-dongeng modern, semisal ramalan Nostradamus yang berkebangsaan Perancis, untuk menguatkan teori penulis buku.
Sejak kapan umat Islam berdalil dengan ramalan orang kafir, meski pun ramalan itu secara kebetulan memang terjadi. Sebab ramalan itu hukumnya haram, karena satu kebenaran ditambah dengan 100 kebohongan.
Salah satu ramalan batil yang disebut-sebut sangat terkenal adalah peristiwa 11 September 2001 di New York. Salah satu petikan di buku itu sebagai berikut:
“Di suatu tahun di abad yang baru dan sembilan bulan, dari langit akan datang Raja Teror. Langit akan terbakar pada empat puluh lima derajat. Api akan turun di kota baru yang besar itu di kota New York.”
Dan masih banyak lagi kejanggalan-kejanggalan buku ini, sehingga para ulama sampai mengharamkan umat Islam merujuk buku ini dalam memahami ajaran Islam. Karena selain bercampurnya hadits shahih dan palsu, juga banyak berisi dongeng yang dihubung-hubungkan.
Wajar kalau ada pihak yang mengatakan tujuan buku ini diterbitkan tidak lain sekedar cari sensasi belaka. Dan alasan paling logis untuk itu sekedar meraup uang saja.
Harapan kepada umat Islam, setidaknya sebelum bicara hal-hal yang berbau masalah hari kiamat yang merupakan khabar ghaibi, syarat mutlaknya adalah memastikan hanya menggunakan hadits yang shahih dalam arti yang sebenarnya. Pastikan hadits memang telah disepakati keshahihannya oleh para ulama hadits.
Selain itu kitab sharah hadits itu wajib dibaca, semacam Fathul Bari oleh Al-‘Allamah Ibnu Hajar Al-‘Asqalani, kitab penjelasan untuk Shahih Bukhari, atau Syarah Shahih Muslim oleh Imam An-Nawawi untuk penjelasan Kitab Shahih Muslim.
Agar jangan tujuan mulia kita tercemar dengan kejahilan ilmu hadits kita, sehingga bukannya menyebarkan ilmu tetapi malah menjadi agen khurafat. Wal ‘Iyadzhu billahi.
 
Wallahu a’lam bishshawab, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Ahmad Sarwat, Lc,MA (Rumah Fiqih Indonesia)

13 Keutamaan Shalat Berjamaah di Masjid

Terkadang karena kesibukan aktivitas, shalat tidak menjadi yang utama, selalu diakhirkan, padahal shalat itu kewajiban yang paling utama dari segala aktivitas kita. Shalat bisa menambah energi disela-sela aktivitas.
Shalatlah yang membuat rezeki menjadi berkah. Shalatlah yang bisa meningkatkan konsentrasi dan membuat kondisi tubuh tetap terjaga dibandingkan dengan minum kopi atau makanan minuman lainnya.
Untuk itu shalatlah diawal waktu dan usahakan berjamaah, untuk laki-laki masjid adalah tempat sholat wajibmu. Berikut 13 keutamaan shalat berjamaah di masjid :
1. Mendapat 27 Derajat
Dari Ibnu Umar bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,”Sholat berjamaah lebih utama dari sholat sendirian sebanyak dua puluh tujuh derajat.” (H.R. Muttafaq alaihi)
2. Pahala Langkah Kaki
“Seorang yang berjalan ke mesjid, maka tiap langkah kakinya akan diberikan satu pahala, dihapuskan satu dosa, dan dinaikan satu derajat oleh Allah SWT” (HR.Ibnu Majah & Muslim)
Maka dari itu pada saat hendak pergi dan pulang dari masjid disunnahkan untuk mengambil jalan yang berbeda, tidak menggunakan jalan yang sama.
3. Pahala Menunggu Waktu Shalat
“Orang yang menunggu shalat dimesjid akan diberi pahala seperti shalat” (HR.Bukhari)
Banyak diantara kita yang berangkat ke masjid yang on-time atau pas adzan baru berangkat dengan alasan ada aktivitas yang nanggung atau biar efisien waktu nya. Tapi yang luar biasanya ternyata,
Ketika kita datang lebih awal ke mesjid untuk menunggu datangnya waktu shalat, kita sebenarnya mendapatkan pahala yang besar, dan sebaiknya gunakan waktu menunggu itu untuk berdzikir dan sekalian beristirahat dari pada nongkrong diwarung pada sesaat sebelum datangnya waktu shalat.
Hadist tersebut mengatakan jika kita menunggu waktu datangnya shalat dimasjid, maka waktu menunggu nya tersebut akan diberi pahala seperti pahala shalat. Coba lakukanlah, dan rasakan manfaatnya, dan yang terpenting itu adalah sunnah.
4. Di doakan oleh Malaikat
Malaikat pun berdoa “Ya Allah ampunilah dia, Ya Allah ampunilah dia” tanpa henti sampai waktu shalat tiba. Malaikat akan berdoa seperti itu kepada orang-orang yang menunggu datangnya waktu shalat berjamaah di masjid.
5. Mendapat Perlindungan pada Hari Kiamat
“Ada tujuh golongan yang dinaungi kelak. Dan satunya adalah orang yang hatinya terpaut dengan masjid. Seorang pemuda yang hatinya terikat dengan masjid, orang-orang itulah yang akan mendapatkan perlindungan dari Allah saat kiamat kelak” (HR. Bukhari)
6. Doa Malaikat untuk shaf pertama
Tentunya jika kita datang lebih awal ke masjid untuk shalat berjamaah, kita akan mendapatkan keuntungan yang lebih salah satunya mendapatkan shaf pertama, sebagaimana disebutkan :
“Sesungguhnya para Malaikat memberikan sholawat kepada orang-orang yang berada di shaf pertama” (HR. Ibnu Hibban)
Menanggapi sabda Beliau (Rasulullah SAW) , para sahabat bertanya , “Apakah juga kepada orang-orang yang berada di shaf kedua wahai Rasulullah ?”
Kemudian Rasulullah berkata , “Juga kepada orang-orang di shaf kedua .”
(HR. Ahmad dan Ath Thabrani, dihasankan oleh Syaikh Al Albani)
7. Subuh dengan 119 Pahala
Ciri orang munafik salah satunya adalah tidak bisa melaksanakan shalat subuh berjamaah.
Keutamaan Shalat Berjamaah pada waktu subuh itu akan mendapatkan pahala sebanyak 119 kali dibandingkan Shalat Munfarid. sebagaimana hadist menyebutkan,
“Seseorang yang melaksanakan shalat subuh berjamaah, maka orang itu akan mendapatkan pahala 119 kali dibanding shalat sendiri” (HR. Muslim)
8. Isya dengan 59 Pahala
Tidak melaksanakan shalat isya merupakan salah satu dari sekian banyak ciri orang munafik, karena pada waktu ini orang munafik akan menyepelekan shalat isya dikarenakn waktu isya yang sangat panjang dan waktu ini pula orang mulai beristirahat.
Padahal seberapa panjang waktu shalat tersebut, umur manusia tidak ada yang tau, maut bisa datang kapan saja. sebagaimana hadist mengungkapkan seberapa besar pahala shalat berjamaah isya.
“Seseorang yang melaksanakan shalat isya berjamaah, maka dia akan mendapatkan pahala 59 kali lipat” (HR. Muslim)
9. Dzuhur, Ashar, Maghrib dengan 27 Pahala
“Kalau shalat dzuhur jamaah , ashar jamaah, dan magrib jamaah masing-masing dilipatk gandakan 27 kali kalau kita laksanakan secara jamaah” (HR. Muslim)
10. Pahala shalat berjamaah ketika sakit
Sakit merupakan anugerah, nikmat dan sekaligus ujian, dari Allah kepada Hambanya, agar selalu bersyukur terhadap nikmatnya sehat, agar ketika diberi kesehatan itu dimanfaatkan sebaik mungkin untuk kebaikan dan menjalankan perintah Allah.
Diantaranya shalat berjamaah di mesjid , akan tetapi bagi orang yang sakit akan diberikan pahala yang sama seperti orang shalat berjamaah di mesjid apabila orang tersebut melaksanakan shalat saat sakit secara munfarid.
Dengan syarat , orang tersebut selama sehat selalu melaksanakan shalat berjamaah di masjid. sebagaimana hadist riwayat mengungkapkan :
“Ketika sakit dan tidak bisa ke mesjid (padahal setiap terbiasa ke masjid). Pada saat kita tidak ke masjid dan shalat di rumah, kita akan dapat pahala yang sama seperti waktu shalat di masjid” (HR. Abu Daud)
11. Terhindar dari sifat munafik
Orang munafik itu menyepelekan shalat berjamaah di masjid, kenapa? karena Allah memperbolehkan shalat munfarid, dan dengan persepsi orang munafik pula shalat bisa dilakukan dirumah, apalagi laki-laki, tempat shalat nya seorang laki-laki itu di mesjid, bukan dirumah.
Adapula tanda orang munafik lainnya ialah dilihat pada shalat subuh dan isya nya, sebagai mana hadist berikut,
“Tidak ada shalat yang lebih berat bagi orang-orang munafiq dari pada shalat subuh dan isya. Seandainya mereka tahu nilai yang terkandung didalam kedua shalat itu, pastilah mereka mendatangi (Masjid tempat) kedua shalat itu meskipun dengan merangkak.” (HR. Bukhari)
12. Jadi sebab diampuninya dosa oleh Allah SWT
Sebagaimana Sabda Rasulullah SAW :
“Jika imam mengucapkan “Ghoiril maghdhubi’alaihim waladhdholliin”, maka ucapkan “amin”. Karena sesungguhnya siapa yang mengucapkan “amin” bersamaan dengan ucapan malaikat, maka ia akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (H.R. Bukhari dan Muslim)
13. Dilipatgandakan 25 kali, setiap langkah dihitung 1 derajat sekaligus diampuni dosa, dan didoakan malaikat agar diampuni serta dirahmati
Imam Bukhori meriwayatkan dari Abu Hurairah berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Shalat seorang laki-laki dengan berjama’ah dibanding shalatnya di rumah atau di pasarnya lebih utama (dilipat gandakan) pahalanya dengan dua puluh lima kali lipat. Yang demikian itu karena bila dia berwudlu dengan menyempurnakan wudlunya lalu keluar dari rumahnya menuju masjid, dia tidak keluar kecuali untuk melaksanakan shalat berjama’ah, maka tidak ada satu langkahpun dari langkahnya kecuali akan ditinggikan satu derajat, dan akan dihapuskan satu kesalahannya. Apabila dia melaksanakan shalat, maka Malaikat akan turun untuk mendo’akannya selama dia masih berada di tempat shalatnya, ‘Ya Allah ampunilah dia. Ya Allah rahmatilah dia’. Dan seseorang dari kalian senantiasa dihitung dalam keadaan shalat selama dia menanti pelaksanaan shalat.” (H.R. Bukhari)
Itulah keutamaan dan pahala shalat berjamaah di masjid. Masih banyak sekali manfaat shalat berjamaah. Betapa indahnya islam, memerintahkan sesuatu akan tetapi manfaatnya begitu banyak dan tidak terlihat secara langsung. Semoga kita semua semangat melangkahkan kaki kita menuju masjid.

Lelaki Tampan Di Dalam Kubur

Dari Sa’id bin Sulaim ra, Rasulullah SAW bersabda, “Tiada penolong yang lebih utama derajatnya di sisi Allah pada hari Kiamat daripada Al-Qur’an. Bukan nabi, bukan malaikat dan bukan pula yang lainnya.” (Abdul Malik bin Habib-Syarah Ihya).
Bazzar meriwayatkan dalam kitab La’aali Masnunah bahwa jika seseorang meninggal dunia, ketika orang-orang sibuk dengan kain kafan dan persiapan pengebumian di rumahnya, tiba-tiba seorang lelaki yang sangat tampan berdiri di kepala mayat. Ketika kain kafan mulai dipakaikan, dia berada di antara dada dan kain kafan.
Setelah dikuburkan dan orang-orang mulai meninggalkannya, datanglah dua malaikat. Yaitu Malaikat Munkar  dan Nakir yang berusaha memisahkan lelaki tampan itu dari mayat agar memudahkan tanya jawab.
Tetapi si tampan itu menolak dan berkata,” Ia adalah sahabat karibku. Dalam keadaan bagaimanapun aku tidak akan meninggalkannya. Jika kalian ditugaskan untuk bertanya kepadanya, lakukanlah pekerjaan kalian. Aku tidak akan berpisah dari orang ini sehingga ia dimasukkan ke dalam syurga.”
Lalu ia berpaling kepada sahabatnya dan berkata,”Aku adalah Alquran yang terkadang kamu baca dengan suara keras dan terkadang dengan suara perlahan. Jangan khawatir setelah menghadapi pertanyaan Munkar dan Nakir ini, engkau tidak akan mengalami kesulitan.”
Setelah para malaikat itu selesai memberi pertanyaan, ia menghamparkan tempat tidur dan permadani sutera yang penuh dengan kasturi dari Mala’il A’la. (Himpunan Fadhilah Amal : 609)
Allahuakbar, selalu saja ada getaran selepas membaca hadis ini. Getaran penuh pengharapan sekaligus kekhawatiran. Dan mengharapkan Alquran yang kita baca dapat menjadi pembela.
Banyak riwayat yang menerangkan bahwa Alquran adalah pemberi syafa’at yang pasti dikabulkan Allah SWT. Upaya agar mendapatkan syafaat Alquran tentu saja dengan mendekatkan diri kepada Alquran.
Dengan berniat membaca dan menghafal Alquran hati kita seakan-akan terpanggil untuk selalu memegang Alquran. Ada tanggung jawab yang membuat kita merasa kurang jika tidak memegang Al-Qur’an. Walaupun mungkin sekedar membacanya.
Semoga Allah dengan kemuliaanNya menjadikan Alquran sebagai syafa’at bagi kita, bukan sebagai penuntut kita.
Semoga Alquran menjadi “teman” bagi kita ketika tidak ada sesuatupun di dunia ini yang dapat menemani kita. Amin. Mari menghafal Alquran
 
Sumber : Soraya Khoirunnisa/Republika

Membiasakan Puasa Senin Kamis

Keutamaan shaum sunnah sudah banyak dikaji di berbagai topik diskusi keagamaan. Rasulullah sendiri menganjurkan agar umat Islam menjalankan shaum di luar bulan Ramadhan. Namun ibadah tersebut dirasa berat karena berbagai alasan.
Mungkin dari teman-teman ada yang bertanya “Apa yang menjadi dasar kenapa muslim melaksanakan puasa sunnah Senin dan Kamis?”. Ternyata banyak jaminan keutamaan dalam Islam sebagai berikut :
1. Akan dipersilahkan memasuki pintu khusus di Surga bernama Ar Rayyan bagi yang berpuasa
Sesungguhnya di surga ada satu pintu yang namanya “Ar-Rayyan,” yang akan di masuki oleh orang-orang yang sering berpuasa kelak pada hari kiamat, tidak akan masuk dari pintu itu kecuali orang yang suka berpuasa. di katakan : manakah orang-orang yang suka berpuasa? maka mereka pun berdiri dan tidak masuk lewat pintu itu kecuali mereka, jika mereka telah masuk, maka pintu itu di tutup sehingga tidak seorang pun masuk melaluinya lagi. (HR Bukhori dan Muslim).
2. Meniru Kebiasaan Rasulullah
Dari ‘Aisyah -radhiallahu ‘anha- : bahwa Nabi -sholallahu ‘alaihi wasallam- sering melakukan puasa senin dan kamis. (HR Ibnu Majah, At-Tirmidzi dan An-Nasai)
3. Diampuni Dosa-dosanya
Shahih Muslim dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda:
“Pintu-pintu Surga di buka pada hari Senin dan Kamis. Maka semua hamba yang tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun akan diampuni dosa-dosanya, kecuali seseorang yang antara dia dan saudaranya terjadi permusuhan. Lalu dikatakan, ‘Tundalah pengampunan terhadap kedua orang ini sampai keduanya berdamai, tundalah pengampunan terhadap kedua orang ini sampai keduanya berdamai, tundalah pengampunan terhadap orang ini sampai keduanya berdamai. (HR. Muslim)
Maksud dari beberapa pintu surga dibuka pada dua hari tersebut; Senin dan Kamis, yaitu di saat inilah setiap orang-orang Mukmin diampuni, kecuali dua orang Mukmin yang sedang bermusuhan.
4 Manfaat dari aspek kejiwaan, sosial serta kesehatan saat berpuasa
Secara kejiwaan puasa membiasakan kesabaran, menguatkan kemauan, mengajari dan membantu bagaimana menguasai diri, serta mewujudkan dan membentuk ketaqwaan yang kuat di dalam diri. Inilah hikmah puasa yang paling utama. Allah berfirman:
“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa.” (Q.S. Al-Baqarah ayat 183)

Kisah Pertarungan Nabi Daud Melawan Goliath "Raksasa Jalut"

Kisah Pertarungan Nabi Daud Melawan Goliath "Raksasa Jalut"

Kebanyakan dari kita pasti pernah mendengar kisah pertarungan antara David dan Goliath. Iya kisah ini menceritakan tentang pertarungan seorang manusia biasa yang berhasil menang melawan seorang raksasa yang memiliki kekuatan yang luar biasa. Kisah ini begitu mendunia, hingga banyak dari umat Islam pun mengetahuinya. Bahkan film David versus Goliath diputar dibioskop Indonesia tanggal 1 Maret 2016 kemarin.
Tapi ironisnya, masih banyak umat Islam yang tidak mengetahui bahwa kisah pertarungan antara David melawan Goliath ini tertulis dalam Al-Qur’an. Allah SWT berfirman dalam surah Al-Baqarah ayat 251, “Mereka (tentara Thalut) mengalahkan tentara Jalut dengan izin Allah dan (dalam peperangan itu) Daud membunuh Jalut, kemudian Allah memberikan kepadanya (Daud) pemerintahan dan hikmah (sesudah meninggalnya Thalut) dan mengajarkan kepadanya apa yang dikehendakiNya. Seandainya Allah tidak menolak (keganasan) sebagian manusia dengan sebagian yang lain, pasti rusaklah bumi ini. Tetapi Allah mempunyai karunia (yang dicurahkan) atas semesta alam.”
Kisah pertarungan antara David dan Goliath ini sesungguhnya kisah pertarungan antara nabi Daud AS melawan Jalut. Dikisahkan ketika itu nabi Daud AS yang berasal dari keturunan Bani Israil masih berusia sangat muda dan belum diangkat sebagai Nabi.
Kaum Bani Israil ketika itu hidup tertindas oleh kekuasaan Jalut yang menguasai tanah Palestina. Jalut adalah seorang penguasa kejam dan bertubuh sangat besar layaknya raksasa, pada masa itu tidak satu manusia yang berani dan mampu melawan Jalut.
Allah SWT kemudian mengangkat seorang penggembala Bani Israil yang bernama Thalut untuk menjadi pemimpin Bani Israil. Dimana saat itu Bani Israil dikenal mempunyai sifat keras kepala dan pembangkang untuk berperang melawan Jalut. Terbukti pada awalnya Bani Israil menolak Thalut, karena hanya seorang pengembala miskin. Ia bukan keturunan Lawi bin Yakub, bukan pula keturunan Yahuza bin Yakub. Lawi dan Yahuza merupakan saudara Nabi Yusuf, putra Nabi Yakub bin Nabi Ishaq bin Nabi Ibrahim.
Hal tersebut dijelaskan dalam Allah SWT dalam Al Qur’an, “Nabi mereka mengatakan kepada mereka: “Sesungguhnya Allah telah mengangkat Thalut menjadi rajamu”.
Mereka menjawab: “Bagaimana Thalut memerintah kami, padahal kami lebih berhak mengendalikan pemerintahan daripadanya, sedang diapun tidak diberi kekayaan yang cukup banyak?”
Nabi (mereka) berkata: “Sesungguhnya Allah telah memilih rajamu dan menganugerahinya ilmu yang luas dan tubuh yang perkasa”. Allah memberikan pemerintahan kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Luas pemberian-Nya lagi Maha Mengetahui.” (Q.S. Al Baqarah ayat 247)
Maksud Nabi mereka adalah Nabi sesudah Musa dan sebelum Daud diangkat jadi Nabi yaitu Nabi Shammil. Ibunya bernama Hubla sebagai keturunan Lawi yang tersisa, sebab sebelumnya Bani Israil selalu membunuh para Nabi. Sebagai pembawa risalah, Nabi Shammil lah yang mengajak Bani Israil untuk berperang dan yang menemukan Thalut sebagai calon pemimpin mereka.
Dan peperangan pun di mulai. Setelah mendapatkan kepercayaan, Thalut yang awalnya memimpin 70 ribu pasukan. Namun pada akhirnya Thalut hanya membawa 300-san pasukan yang taat dan shalih, termasuk Daud muda yang belum diangkat menjadi Nabi. Sebab banyak diantara mereka melanggar perintah untuk tidak meminum air secara berlebihan diperjalanan Sahara. Kondisi psikis mereka tetiba berubah pucat dan takut perang.
Meskipun harus kehilangan banyak pasukannya, namun Thalut juga berhasil memporak-porandakan pasukan Jalut hingga akhirnya hanya ada Jalut dan beberapa pengikut setianya. Namun tahukah anda? Tidak ada satu pun tentara Thalut yang berani maju melawan Jalut yang memiliki tubuh sangat besar. Kebanyakan dari mereka merasa sangat takut melawan Jalut karena dengan ukuran tubuh manusia normal sangat mustahil untuk memenangkan pertempuran itu.
Allah SWT berfirman, “Tatkala Jalut dan tentaranya telah tampak oleh mereka, merekapun (Thalut dan tentaranya) berdoa, ‘Ya Tuhan Kami tuangkanlah kesabaran atas diri kami dan tolonglah kami terhadap orang-orang kafir.” (Q.S. Al-Baqarah: 250)
Disaat genting seperti itulah, Daud muda mengajukan diri secara sukarela untuk bertarung melawan Jalut. Dengan keimanan dan keikhlasan semata-mata hanya Allah SWT, Daud tidak gentar sedikit pun menghadapi Jalut sang raksasa zholim. Nabi Daud AS sangat yakin bahwa kekuatan sesungguhnya tidak hanya terletak pada kekuatan fisik semata, kekuatan yang hakiki sesungguhnya terletak pada keyakinan dan keteguhan iman seseorang terhadap kebesaran Allah SWT.
Allah SWT berfirman, “Bersabarlah atas segala apa yang mereka katakan, dan ingatlah hamba Kami Daud yang mempunyai kekuatan, sesungguhnya dia amat taat (Kepada Tuhan). Sesungguhnya Kami menundukkan gunung – gunung untuk bertasbih kepada dia (Daud) di waktu petang dan pagi. Dan (Kami tundukkan pula) burung-burung dalam keadaan terkumpul. Masing-masingnya amat taat kepada Allah. Dan Kami kuatkan kerajaannya dan kami berikan kepadanya hikmah dan kebijaksanaan dalam menyelesaikan perselisihan.” (Q.S. As Shaad ayat 17-20)
Maka pertarungan yang sekilas terlihat tidak seimbang pun dimulai. Dengan menyebut nama Allah yang kuasa dan hanya berbekal sebuah tongkat, ketapel dan 3 buah batu kerikil Daud muda tidak ragu bertempur melawan Jalut. Meskipun Daud muda berukuran seperti manusia pada umumnya, namun Daud as berhasil menghindar dari tebasan pedang Jalut dan berkat keteguhan imannya kepada Allah SWT, maka pertolongan pun diturunkan kepada Daud as.
Daud as meletakkan salah satu batu di ketapelnya dan dilepaskannya ke udara, dengan seijin Allah SWT angin menjadi sahabat nabi Daud AS dan membuat batu meluncur dengan teramat keras. Batu itu kemudian jatuh tepat di dahi jalut dan membuat jalut jatuh tersungkur dan kemudian tewas.
Sebelumnya, Thalut pernah berjanji barangsiapa yang berhasil membunuh Jalut maka akan dinikahkan dengan putrinya serta memberinya separuh kepemimpinan kerajaan Bani Israil. Daud pun mendapat bonus hadiah tersebut. Hingga usia Daud mencapai 40 tahun, Thalut meregang nyawa. Daud pun menggantikan posisi Thalut menjadi raja Bani Israil. Tak hanya itu, Allah pun mengangkat Daud sebagai nabi dan Rasul, serta diturunkan kepadanya kitab suci Zabur.
Hikmah
Pertarungan nabi Daud AS melawan jalut yang bertubuh sangat besar lengkap dengan pedang dan baju besinya, menjadi pelajaran bahwa mereka yang besar dan kuat belum tentu menang terhadap mereka yang kecil namun memiliki iman yang kuat kepada Allah SWT.
palestina1
Kisah serupa terjadi pada saudara-saudara kita di Palestina yang sedang berjuang melawan kaum zionis Israel. Dengan menggunakan kerikil dan batu-batu kecilnya, para mujahid Palestina harus berhadapan dengan tank-tank tempur canggih di Israel. Namun hingga kini zionis Israel belum mampu mengalahkan bangsa Palestina yang pantang menyerah. Perjuangan bangsa Palestina mempertahankan tanahnya dan menegakkan agama Allah SWT hingga kini sesungguhnya dapat menjadi bukti kuasa Allah SWT, atas umatnya yang terpilih. Maka jangan sekalipun kita takut dan gentar menghadapi musuh yang sangat kuat sekalipun, karena sesungguhnya pertolongan Allah sangat dekat, dan Allah SWT akan selalu ada disekitar umatnya yang beriman.
 
Rinci penjelasan lihat di :

  • Tafsir Ath Thabari yang memaparkan kisah tersebut hingga berpuluh halaman.
  • Tafsir Ibnu Katsir.
  • Kitab Stories of The Prophet, Tafsir IbnuKatsir.

Ket :
Serangkaian kisah Shammil (Samuel), Talut (Saul), Jalut (Goliath) dan Daud (Davidh) tersebut dikabarkan dalam Al-Qur’an surah Al Baqarah ayat 246 hingga 251.
Kisah tersebut pun terdapat dalam Al-Kitab dengan pemaparan kisah yang teramat panjang. Bible mengisahkannya secara panjang lebar, namun inti kisah tak jauh berbeda seperti yang termaktub dalam Al-Qur’an meski dalam beberapa hal terjadi perbedaan.