by Danu Wijaya danuw | Jan 15, 2017 | Artikel, Dakwah
Dr Sayuqi Abu Khalil dalam Atlas Hadits al-Nabawi mengatakan, wilayah al-Habasyah, saat ini dikenal dengan nama Ethiopia atau Eritrea. “Masyarakatnya dikenal sebagai al-Habasy, yakni bangsa Sudan atau bangsa berkulit hitam,” ujar Dr Syauqi.
Dalam salah satu sabdanya, Rasulullah SAW menyebut Abessinia sebagai negeri kerukunan umat beragama. Betapa tidak, warga Abbessinia dengan penuh keramahan menerima dan memberikan perlindungan kepada kaum yang berbeda agama dengan mereka. Inilah yang menjadi alasan sehingga bangsa Arab pada masa perluasan tidak melancarkan ekspansi ke wilayah itu.
Pada hijrah pertama ke Habbasyah atau dikenal Abessinia ini, para sahabat Rasulullah disambut dengan penuh keramahan dan persahabatan. Raja Najasyi lalu menempatkan mereka di Negash yang terletak di sebelah utara Provinsi Tigray. Setelah tiga bulan di sana, mereka kembali ke Makkah, dengan harapan kaum kafir Quraisy telah melunak. Namun nyatanya, perlakuan kaum Quraisy tetap keras.
Maka itu, Rasulullah kembali memerintahkan umat Muslim untuk hijrah ke Abessinia. Jumlah sahabat yang hijrah pada gelombang kedua itu terdiri atas 80 orang. Rasulullah pun berpesan kepada mereka untuk menghormati dan menjaga Abessinia atau Ethiopia.
Namun, kafir Quraisy tak tinggal diam. Mereka mengutus Amr bin As serta Imarah bin Walid menghadap Raja Najasy. Keduanya meminta sang raja untuk mengusir para pengikut Rasulullah SAW dari tanah Abessinia. Raja Najasyi menolak permintaan itu dan mengizinkan para sahabat tinggal di negeri itu hingga Rasulullah SAW hijrah ke Madinah.
Islam Pun Berkembang di Abessinia

Perlahan, tapi pasti agama Islam mulai berkembang di Abessinia, yang kini disebut Ethiopia. Namun, perkembangan itu tak berjalan mulus karena mendapat perlawanan dari kaum Nasrani yang tinggal di wilayah utara Ethiopia, seperti Amhara, Tigray, serta Oromo.
Sehari-hari, masyarakat Oromo sebenarnya mempraktikkan tradisi Waaqa yang dipengaruhi budaya Islam. Tapi nyatanya, mereka tak suka Islam berkembang di negeri itu. Mereka bahkan ingin sekali melenyapkan kaum Muslim dari Ethiopia.
“Ekspansi yang dilakukan masyarakat Oromo selama berabad-abad di wilayah selatan Ethiopia bertujuan untuk menghapuskan Islam dari kawasan itu,” kata sejarawan Ulrich Braukamper.
Namun, upaya itu tak pernah berhasil. Hingga kini, Islam tetap eksis dan menjadi agama terbesar kedua di Ethiopia, setelah Nasrani. Sensus tahun 1994 menunjukkan, jumlah penduduk Muslim di Ethiopia mencapai 32,8 persen dari total populasi di negara itu. Umumnya, umat Islam berada di wilayah Afar, Oromo, Tigray, dan Gurage.
Sedangkan menurut sensus nasional 2007 terbaru, Islam adalah agama yang paling banyak dipraktikkan di Ethiopia setelah Kristen. Tercatat, pemeluk Islam di negeri ini mencapai lebih dari 25 juta (atau 33,9 persen) penduduk Ethiopia
Di posisinya yang bukan mayoritas, umat Islam di Ethiopia pernah mencapai kegemilangan, yakni ketika mampu mendirikan kesultanan Muslim. Sejarah mencatat, ada beberapa kesultanan Muslim yang pernah berjaya di Ethiopia, di antaranya Kesultanan Adal, Kesultanan Aussa, Kesultanan Harar, Kesultanan Ifat, serta Kesultanan Shewa.
Namun, pada 1890-an, masa kejayaan itu mulai mencapai titik ujung. Posisi umat Islam kian terhimpit ketika Raja Yohanes IV mengeluarkan kebijakan untuk mengkristenkan Ethiopia. Akibat kebijakan yang dibarengi aksi kekerasan itu, banyak umat Islam yang terpaksa berpura-pura mengaku memeluk Nasrani. Siang hari jadi Nasrani, sementara malam hari beribadah secara Islam. Dalam Islam, prinsip ini disebut taqiah, yakni menyembunyikan keyakinan demi keselamatan.
Saat itu, Muslim yang tak mau menerapkan taqiah memilih angkat kaki atau hijrah ke tempat lain. Mereka membanjiri wilayah perbatasan menuju Hijaz. Namun, ada juga yang tak mau taqiah, tapi tetap tinggal di Ethiopia. Oleh penguasa, warga yang tetap menunjukkan jati diri keislamannya itu dicap sebagai pemberontak.
Belakangan, umat Islam dan ulama Ethiopia bangkit menolak perlakuan Raja Yohanes IV. Adalah Syaikh Ali Adam, ulama pertama yang angkat senjata melawan kebijakan penghapusan Islam dari Ethiopia. Ulama kharismatik itu memulai perjuangannya di Shawa. Bersama pengikutnya, dia dihadang tentara Raja Yohanes IV di Wahelo, sebelah barat laut danau Hayk. Di tempat ini, Syaikh Ali Adam dan pengikutnya gugur.
Patah tumbuh hilang berganti. Sepeninggal Syaikh Ali Adam muncul Thalha. Dia memimpin perlawanan terhadap aksi pemurtadan. Dia pula yang menentang perintah kepada umat Islam untuk membangun gereja. Kelompoknya juga berhasil mengalahkan pasukan Raja Yohanes yang dipimpin Ras Mikael. Pertumpahan darah ini tentu sangat disayangkan, mengingat negeri ini pernah dipuji oleh Rasulullah SAW sebagai negeri kerukunan agama.
Sumber : Republika
by Danu Wijaya danuw | Jan 15, 2017 | Adab dan Akhlak, Artikel
Betapa banyak nikmat yang Allah karuniakan kepada kita. Diantara banyaknya nikmatNya antara lain nikmat Islam, nikmat kesehatan, nikmat kesempatan waktu luang, nikmat harta, nikmat tempat tinggal, nikmat memandang, nikmat mendengar, nikmat dapat berbicara dan masih banyak yang lainnya sampai tidak terhitung jumlahnya.
Firman Allah dalam Al-Qur’an : “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (QS. Ibrahim [14]: 7)
Sabda Rasulullah SAW, “Bersyukur atas nikmat Allah Swt akan melestarikan nikmat tersebut.” (HR. ad-Dailami)
Nikmat yang dianugerahkan Allah kepada manusia, merupakan pemberian yang terus menerus, dengan berbagai macam bentuk lahir dan batin.
Hanya saja manusia kurang pandai mensyukuri nikmat Allah. Lawan dari syukur adalah kufur nikmat Allah. Sebab seolah-olah belum diberikan sesuatupun oleh Allah karena melihat orang lain lebih kaya, lebih kuat, lebih rupawan, dan sebagainya.
Sikap sering bersyukur kepada Allah akan mempertebal keimanan dan ketakwaan kita kepada Allah. Serta menghindari kita dari rasa sedih dan keterpurukan.
Ini adalah salah satu dari hikmah keutamaan serta tujuan manfaat kita bersyukur kepada Allah.
Imam Al-Ghazali merumuskan 3 faktor yang harus/wajib terdapat dalam konteks Syukur yang sungguh-sungguh tersebut, yakni
- Syukur dengan hatinya dalam bentuk kesaksian dan kecintaannya kepada Allah SWT
- Syukur dengan lisannya dalam bentuk pengakuan serta puji-pujian kepada Allah SWT. Seperti mengucapkan Hamdallah, Alhamdulillah (Segala Puji bagi Allah)
- Syukur dengan seluruh anggota tubuhnya dalam bentuk amal shaleh perbuatannya.
Manfaat Bersyukur
Orang-orang yang bersyukur memiliki kesadaran dan kemampuan untuk melihat keindahan dan kenikmatan yang dikaruniakan Allah Subhanahu wa ta’ala kepada mereka semuanya dan juga seluruh alam semesta ini.
Kita perlu belajar kepada orang-orang mukmin sejati yang senantiasa mengerti dan memahami akan keutamaan bersyukur kepada Allah, sekalipun berada dalam keadaan yang sangat sulit sekalipun. Baik itu dalam menghadapi kesulitan hidup, kesulitan berumah tangga dan sejenisnya.
Orang beriman yang mampu melihat sisi-sisi kebaikan dalam setiap peristiwa dan keadaan juga mampu melihat kebaikan dalam penderitaan tersebut.
Anggapan kebanyakan orang, bersyukur kepada Allah hanya perlu dilakukan pada saat mendapatkan anugerah kenikmatan yang besar atau terbebas dari masalah besar yang sedang dihadapinya maka hal tersebut adalah kekeliruan kesalahan yang besar.
Padahal jika kita merenung sejenak, maka kita akan bisa menyadari bahwa kita semua ini dikelilingi oleh nikmat yang tidak terbatas banyaknya.
Dalam hitungan waktu, setiap detik, setiap menit, dan seterusnya tercurah kenikmatan dari Allah tak terhenti yang berupa hidup, kesehatan, kecerdasan, panca indra, udara yang dihirup.
by Danu Wijaya danuw | Jan 14, 2017 | Adab dan Akhlak, Artikel
Cicit Rasulullah saw, bernama Jafar Ash Shadiq ibn Muhammad Al Baqir ibn Ali Zainal Abidin ibn Husain. Beliau ini punya murid yang amat mencintainya. Namanya adalah An Nu’man ibn Tsabit yang mahsyur disebut sebagai Imam Abu Hanifah.
Kecintaannya terhadap ahlu bait (keluarga Rasulullah) amat mendalam. Hingga pada taraf menempuh bahaya dan mengorbankan dirinya untuk melindungi para Ahlu Bait. Yaitu An Nafsuz Zakiyah, Muhammad ibn Hasan dan saudaranya Ibrahim.
Mereka dikejar-kejar pemerintahan Daulah Abbasiyah, Abu Ja’far Al Mansur karena tuduhan makar. Maka cinta Imam Abu Hanifah pada keluarga Rasulullah saw sungguh tak diragukan.
Tapi bagaimana sikap beliau terhadap syiah?
Suatu hari seorang alim Syi’i mendatangi beliau dan berbicara panjang tentang keutamaan Sayyidina Ali dan kebatilan tiga Sahabat (Abu Bakar, Umar, Ustman) yang dituduh merampas hak Ali.
Maka bertanyalah Abu Hanifah, “Menurutmu siapakah yang terbaik diantara ummat Nabi Musa, apakah sahabat-sahabat Musa?” Jawabnya “Ya”.
” Dan apakah insan terbaik dikalangan ummat Nabi Isa alaihissalam adalah sahabat-sahabat Isa?” lanjut Abu Hanifah. “Betul” ujarnya.
“Inilah yang tak kumengerti tentang Syiah”, seru Abu Hanifah. ” Karena menurut mereka orang-orang terburuk dikalangan ummat Muhammad justru adalah sahabat-sahabat terdekat, mertua dan menantunya!”
Maka terperenjatlah tokoh Syiah itu dan seketika menyatakan taubatnya. Maka beliaupun mengutip gurunya, cicit Rasul, Imam Jafar Ash Shadiq, “Teladan kami dalam mencintai Rasulullah dan keluarganya adalah sahabat Nabi Muhammad saw sendiri!”
Demikianlah Imam Abu Hanifah mencontohkan pada kita cinta yang mendalam pada Ahlu Bait Rasulullah sekaligus pelurusan pada penyimpangan. Ada tenggang rasa terhadap penyimpangan yang harus diluruskan.
Dan kita belajar pada Imam Abu Hanifah dalam meluruskan dengan kesediaan diawal mendengar hingga tuntas, kedalaman ilmunya, dan kekuatan dalam berhujjah.
Sumber : Menyimak Kicau Merajut Makna, Salim A. Fillah, ProU Media
by Danu Wijaya danuw | Jan 13, 2017 | Adab dan Akhlak, Artikel
Sifat sombong adalah memandang dirinya berada di atas kebenaran dan merasa lebih di atas orang lain. Orang yang sombong merasa dirinya sempurna. Kesombongan ada dua macam, yaitu sombong terhadap al haq (kebenaran) dan sombong terhadap makhluk.
Di antara bentuk kesombongan terhadap manusia adalah sombong dengan pangkat dan kedudukannya, sombong dengan harta, sombong dengan kekuatan dan kesehatan, sombong dengan ilmu dan kecerdasan, sombong dengan bentuk tubuh, dan kelebihan-kelebihan lainnya. Dia merasa lebih dibandingkan orang lain dengan kelebihan-kelebihan tersebut.
Islam Melarang Sifat Sombong
Berbicara orang sombong rasanya tidak sah tanpa menyebut nama Raja Namrudz di masa Nabi Ibrahim atau Firaun di masa Nabi Musa. Keduanya adalah contoh manusia angkuh di zamannya masing-masing.
Padahal saat itu, dengan penuh santun, Nabi Musa hanya bermaksud menanyai Firaun, sekira ia mau membersihkan diri. Apa daya, Firaun memilih berpaling dari kebenaran. Penyakit hatinya muncul. Ia menantang Musa sekaligus mengaku sebagai Tuhan yang layak disembah.
Sifat sombong dilarang didalam Islam sebagaimana firman Allah Ta’ala, “Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (QS. Luqman:18)
Imam Adz Dzahabi rahimahullah berkata, “Kesombongan yang paling buruk adalah orang yang menyombongkan diri di hadapan manusia dengan ilmunya.”
Sabda Nabi saw, “Sombong adalah menolak kebenaran dan suka meremehkan orang lain”. ( Syarh Riyadus Shaalihin, II/301).
Biasanya orang sombong dengan menolak sebagian al haq (kebenaran) yang tidak sesuai dengan hawa nafsu dan akalnya termasuk kekafiran seseorang.
Mengganti Sifat Sombong dengan Tawadhu’
Kebalikan dari sikap sombong adalah sikap tawadhu’ (rendah hati). Sikap inilah yang merupakan sikap terpuji, yang merupakan salah satu sifat ‘ibaadur Rahman yang Allah terangkan dalam firman-Nya,
“Hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih adalah orang-orang yang berjalan di atas muka bumi dengan rendah hati (tawadhu’) dan apabila orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata yang baik.” (QS. Al Furqaan: 63)
Sifat tawadhu’ inilah yang akan mengangkat derajat seorang hamba, sebagaimana hadist nabi, “… Dan tidak ada orang yang tawadhu’ (merendahkan diri) karena Allah, melainkan Allah akan mengangkat derajatnya.” (HR. Muslim no. 2588)
Termasuk buah dari ilmu yang paling agung adalah sifat tawadhu’. Tawadhu’ adalah ketundukan secara total terhadap kebenaran, dan tunduk terhadap perintah Allah dan rasul-Nya dengan melaksanakan perintah dan menjauhi larangan.
Kemudian sifat tawadhu’ terhadap manusia dengan bersikap merendahkan hati, memperhatikan mereka baik yang tua maupun muda, dan memuliakan mereka. Kebalikannya adalah sikap sombong.
by Danu Wijaya danuw | Jan 13, 2017 | Artikel, Kisah Sahabat
Mengapa kisah para kiyai dan murid-muridnya penting dipelajari? Agar terjaga pikiran, lisan dan perkataan kita yang mengaku pewaris dakwah.
Yang tidak memahami sejarah, nasab keluarga, dan sanad ilmu akan kesulitan memahami dan membawakan dakwah pada kalangan tertentu.
Jika kini sebagian santri yang bernasab baik dan bersanad ilmu itu jadi liberal. Naif-lah memusuhi tanpa kelayakan etika untuk didengar kalangannya.
Awal tahun 1.900-an, ada 4 murid tamatkan pelajarannya pada Kiyai Khalil di Bangkalan, Madura. Menyebrangi sela : 2 ke Jombang, 2 ke Semarang. Dua murid kiyai yang ke Jombang, 1 dibekali cincin (kakek Cak Nun), 1 lagi K.H. Romli (ayah K.H. Mustain Romli) dibekali pisang mas. Dua murid kiyai yang ke Semarang ; Hasyim Asy’ari dan Muhammad Darwis masing-masing diberi kitab untuk dingajikan kepada Kiyai Soleh Darat.
Kiyai Soleh Darat adalah ulama terkemuka, ahli nahwu, ahli tafsir, ahli falak. Bahkan keluarga besar bangsawan R.A. Kartini mengaji kepada beliau. Bahkan atas usulan Kartini-lah, Kiyai Soleh Darat menerjemahkan Al Qur’an ke dalam bahasa Jawa agar bisa dipahami. Pada Kiyai Soleh Darat, Hasyim Asy’ari dan Darwis (yang kemudian berganti nama jadi Ahmad Dahlan) belajar tekun dan rajin.
Kedua sahabat itu Hasyim Asy’ari dan Ahmad Dahlan diperintahkan Kiyai Soleh Darat segera ke Mekkah untuk melanjutkan belajar. Setiba di Mekkah, keduanya yang cerdas menjadi murid kesayangan Imam Masjidil Haram, Syaikh Ahmad Khathib Al Minangkabawi.
Tampaklah kecenderungan Hasyim yang sangat mencintai hadist, sementara Ahmad Dahlan tertarik bahasan pemikiran dan gerakan Islam. Tentu riwayat jalan berilmu mereka panjang bertahun-tahun.
Kepulangan mereka ke tanah air dan gerakan dilakukan mereka masing-masing. Hasyim Asy’ari pulang ke Jombang. Disana kakek Cak Nun menantinya penuh rindu. Kakek Cak Nun yang ‘sakti’ inilah yang menaklukan kawanan rampok dan durjana bernama Tebuireng untuk didirikan pesantren. Hasyim Asy’ari kemudian memohon agar berkenan mulai mengajar disitu. Beliau membuka pengajian “Shahih Al Bukhari” disana yang akhirnya jadi julukan “Kitab Kuning”.
Pahamlah kita, satu-satunya orang yang bisa bujuk Gus Dur keluar istana saat impeachment (permintaan mundur – akibat keterpurukan ekonomi dibawah batas standar), ya hanya dari Cak Nun. Ini soal nasab antar keduanya yang kakek mereka dekat.
Saat disuruh mundur orang lain, Gus Dur biasanya menjawab, “Saya kok disuruh mundur, maju aja susah harus dituntun.” Tapi Cak Nun tidak menyuruhnya mundur. Kata beliau, “Gus, koen wis wayahe munggah pangkat! Sudah saatnya naik jabatan!”
Kembali ke Hadratusy Syaikh Hasyim Asy’ari. Beliaulah orang yang menjadikan pengajian hadis penting dan terhormat. Sebelum ada kajian Shahih Bukhari, umumnya pesantren Tebuireng cuma ajarkan Tarekat.
K.H. Romli Tamim yang juga di Jombang mendirikan pesantren di Rejoso, kelak jadi pusat Thariqah Al Mu’tabarah yang disegani.
Tebuireng makin maju. Santri berdatangan dari seluruh nusantara. Hubungan baik terjalin dengan Kiyai Hasbullah, Tampakberas. Putra Kiyai Hasbullah, Abdul Wahab kelak menjadi pendiri organisasi Islam terbesar yang dinisbatkannya kepada Hadrastusy Syaikh Hasyim Asy’ari: NU.
Konon selama K.H. Abdul Wahab dalam kandungan, ayahnya mengkhatamkan Al Qur’an 100 kali diperdengarkan pada si Janin.
Tebuireng juga berhubungan baik dengan K.H. Bisyri Syansuri Denanyar. Abdul Wahid Hasyim menikahi putri beliau (ibu Gusdur). K.H. Bisyri Syansuri juga beriparan dengan K.H. Abdul Wahab Hasbullah. Inilah pilar segitiga NU : Tampakberas-Tebuireng-Denanyar.
Satu waktu ada santri Hadrastusy Syaikh melapor. Dari Yogyakarta ada gerakan yang ingin memurnikan agama dan aktif beramal usaha. “Oh kuwi Mas Dahlan,” ujar Hadratusy Syaikh, “ayo podho disokong” (Itu Mas Dahlan, ayo kita dukung) ajak beliau.
K.H. Ahmad Dahlan, sang putra penghulu Keraton itu amat bersyukur. Beliau kirimkan hadiah. Hubungan kedua keluarga makin akrab. Sampai generasi ke-4, putra-putri Tebuireng yang kuliah di Jogja selalu kos di keluarga K.H. Ahmad Dahlan, Kauman. Gus Dur juga.
Sebagai bentuk dukungan pada perjuangan K.H. Ahmad Dahlan, Hadratusy Syaikh menulis kitab Munkarat Maulid Nabi wa Bida’uha. Bagi Hadratusy Syaikh itu banyak bid’ah dan mafsadatnya ketika kalangan pesantren berlebihan dalam melaksanakan Maulid.
Unik, satu-satunya Kiyai NU yang tak diperingati Haul-nya ya beliau. Ketika akhirnya gesekan makin sering terjadi antara anggota Muhammadiyah vs Kalangan pesantren, Hadratusy Syaikh turun tangan.
“Kita dengan Muhammadiyah sama. Kita Taqlid Qauli (mengambil pendapat ulama salaf). Mereka Taqlid Manhaji (mengambil metode).
Tetapi dipelopori K.H. Abdul Wahab Hasbullah, pada murid menghendaki kalangan pesantren pun terorganisasi baik. Akhirnya NU berdiri. Direstui Hadratusy Syaikh, Abdul Wahab Hasbullah dan rekan berangkat ke Mekkah menghadap raja Saudi sampaikan aspirasi Mazhab.
Kepulangan mereka disambut Hadratusy Syaikh dengan syukur sekaligus meminta untuk terus bekerjasama dengan Muhammadiyah. Atas prakarsa Hadratusy Syaikh, K.H. Mas Mansur (Muhammadiyah) dan tokoh-tokoh lain terbentuklah Majlisul Islam A’la Indunisiya (MIAI).
Sumber : Menyimak Kicau Merajut Makna, Salim A. Fillah, ProU Media