by Danu Wijaya danuw | Sep 23, 2016 | Artikel, Dakwah
Jangan berduka, sungguh Allah bersama kita. Mohonlah ampunan-Nya, pintalah rahmat-Nya, teruslah berbincang mesra dengan-Nya.
Jangan berduka, sungguh Allah bersama kita. Sucikan prasangka, lapangkanlah dada
Jangan berduka, sungguh Allah bersama kita. Ingat dan dekatilah, takut dan berharaplah, puji dan mengabdilah.
Jangan berduka, sungguh Allah bersama kita. Memihak dan membela, menjamin dan menjaga, meridhai dan mengaruniakan pahala.
Jangan berduka, sungguh Allah bersama kita. Diperjalanan yang panjang titiannya, sedikit pendukungnya, banyak timpaannya.
Jangan berduka, sungguh Allah bersama kita. Rasakan pengawasan-Nya, hati-hatilah dari mendurhakai-Nya, takutlah akan murka-Nya.
Jangan berduka, sungguh Allah bersama kita. Malulah bermalas dan sia-sia, baguskan kinerja, berjuanglah puncakkan karya.
Sumber :
Menyimak Kicau Merajut Makna, Salim A. Fillah, ProU Media
by Danu Wijaya danuw | Sep 23, 2016 | Artikel, Dakwah
Menurut Abu Bakar Ash Shiddiq, “Jika pasar mengalahkan masjid, maka masjid akan mati. Jika masjid mengalahkan pasar, maka pasar akan hidup.”
Adapun Umar bin Khattab bertutur, “Negeri akan baik jika orang shalihnya kuat, orang jahatnya lemah. Namun negeri pun rusak jika sebaliknya.”
“Pemimpin yang mudah menyerah pada tekanan menjatuhkan negara dalam kekacauan. Jernihlah selalu dengan ibadah.” papar Ustman bin Affan.
Sementara Ali bin Abi Thalib berujar, “Seperti apa rakyat, demikianlah Allah memberi pemimpin sebagai wajah mereka. Selanjutnya, maukah dia membaikkan diri?”
Umar bin Abdul Aziz pun menambahkan, “Memaksakan perubahan serta merta, melahirkan penolakan menyeluruh. Mulailah perbaikan dari pemahaman mendasar.”
by Danu Wijaya danuw | Sep 22, 2016 | Adab dan Akhlak, Artikel
Tiap orang punya cara untuk menyampaikan nasihat kepada kita. Permata pun bisa dilempar, diulurkankan atau diselip ke saku. Ambillah permatanya. Hawa nafsu membenci nasihat. Nurani mencintai pengingat.
Perhatikan kala masukan datang. Kesanggupan menutup aib saudara dipadu keterampilan menasihati dan ketulusan doa ialah daya agung ukhuwah yang kian langka.
Pernah bersyair Imam Asy-Syafi’i, “Nasihati aku kala sunyi dan sendiri, jangan dikala ramai dan banyak saksi. Sebab nasihat ditengah khalayak terasa hinaan yang membuat hatiku pedih dan koyak. Maka maafkan jika aku terkadang berontak.”
Seorang penasihat pasti akan mencari alasan untuk berbaik sangka. Jika semua tak masuk akal, dia berkesimpulan : “Saudaraku mungkin punya alasan yang tidak kutahu.”
Tetapi cinta yang kadang meluruhkan tegur dan kata, tak boleh meruntuhkan kewajiban yang diamanahkan Tuhannya; nasihat.
Nasihat merupakan kawan sejati bagi nurani. Menjaga cinta dalam ridha-Nya. Tetapi apa yang harus dilakukannya, jika tiada perubahan jua?
Menangislah. Menangis dihadapan Rabbnya, mengadukan lemahnya diri dan buntunya upaya. Lalu sekali lagi sampaikan nasihat, dan lagi, hingga tak punya pilihan selain mengajak untuk curahkan cinta.
Jika cinta telah bicara hingga ke ujung rasa sakitnya, sebagaimana Ibnul Qayim Al Jauziyah yang ingin memberi masukan nasihat kepada gurunya dalam doa :
“Aku sudah tak sanggup ya Allah, hanya Kau yang mampu menegurnya. Aku sangat mencintai guruku, namun kebenaran jauh lebih besar daripada guruku.”
Sumber :
Menyimak Kicau Merajut Makna, Salim A. Fillah, ProU Media
by Danu Wijaya danuw | Sep 21, 2016 | Artikel, Dakwah
Hati yang mati, hilang rasa peduli. Hati yang sakit, rindu puji selangit. Hati yang sehat, berbahagia karena nasihat. Hati kita memang berayun goyah.
Mencadasnya hati karena dua perkara, dengan lalai dan dosa. Namun sentosanya hati dengan dua cara, mohon ampun dan mendzikirNya. Jadilah hatimu selalu tersenyum pada Langit. Jadilah bibirmu selalu tersenyum pada Bumi. Izinkanlah surga rindu padamu. Diri paling miskin adalah enggan memintai-Nya.
Berbuat baiklah walau dikira pamrih. Belalah nurani walau dianggap bersandiwara. Izinkan hanya Allah yang menghakimi hatimu. Hati yang mengingat Allah, sibuk melayakkan diri berdekat pada-Nya dengan prasangka baik, niat baik dan rencana baik.
Mari jaga istiqamah dengan men-sahabati orang-orang benar. Jadikan nama kita ada dalam doa dan nasihatnya. Mencintai dan membenci karena Allah itu adil dan sewajarnya. Walau hati berbolak balik, perasaan bertukar-tukar, maka akhlak mulia tetaplah dijaga.
Sumber :
Menyimak Kicau Merajut Makna, Salim A. Fillah, ProU Media
by Danu Wijaya danuw | Sep 21, 2016 | Artikel, Dakwah
Dijalan cinta para pejuang, biarkan cinta berhenti di titik ketaatan. Meloncati rasa suka atau tidak suka. Melampaui batas cinta dan benci. Karena hikmah sejati tak selalu terungkap diawal pagi.
Karena seringkali kebodohan merabunkan kesan sesaat. Maka taat adalah prioritas yang kadang membuat perasaan-perasaan terkibas. Tetapi yakinlah, dijalan cinta para pejuang, Allah lebih tahu tentang kita.
Diantara jalan teragung meraih ilmu adalah takwa kepada Allah, sebagaimana firman-Nya, “Wattaqullah wa yu’allimukumullah (Dan bertakwalah kepada Allah, dan Allah akan mengajarkan ilmu kepada kalian.” Q.S. Al Baqarah : 282
Takwalah penjaga adab sepanjang jalan hingga kesejatian insan berilmu juga diketahui dari rasa takutnya kepada Allah sebagaimana terkandung dalam Q.S. Al Fathir ayat 28.
Sumber :
Menyimak Kicau Merajut Makna, Salim A. Fillah, ProU Media