0878 8077 4762 [email protected]

Arti Ibadah Yang Komprehensif bagian 1

Ibadah yang komprehensif dan utuh adalah seperti yang didefinisikan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah yang mengatakan,
“Ibadah adalah semua yang dicintai Allah Ta’ala dan Dia ridhai, berupa perkataan dan perbuatan baik yang zahir maupun yang batin.”
Dikatakan oleh Muhammad Qutub,
“Bahkan memakmurkan bumi, merekayasa kehidupan, berusaha memiliki perangkat-perangkat kebangkitan dan kemajuan peradaban, merupakan fardhu kifayah yang menjadi kewajiban bagi umat Islam.
Itu termasuk jenis kekuatan terbesar yang diperintahkan Allah Ta’ala kepada hamba-hamba-Nya yang beriman untuk mendapatkannya. Agar umat Islam tetap menjadi umat yang kuat.
Allah swt berfirman,
Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggetarkan musuh Allah.” (QS. An Anfal: 60)
Hal itu juga merupakan tuntutan nasusia sebagai khalifah (wakil) Tuhan di dunia.
Dan ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat sesungguhnya Aku menciptakan (manusia) di bumi sebagai khalifah.” (QS. Al Baqarah: 30)
Semua yang Anda lakukan, selama diniatkan karena Allah dan untuk mengharapkan ridha Allah, akan bermaknaSemua yang Anda lakukan, selama diniatkan karena Allah dan untuk mengharapkan ridha Allah, akan bermakna
Perhatikanlah bagaimana hadits yang agung berikut ini, di mana Nabi SAW mengikat hubungan antara dunia dan akhirat. Beliau bersabda :
Apabila kiamat tiba, sedang di tangan salah seorang di antara kalian ada bijih, maka jika dia mampu, jangan bangun sampai dia menanamnya; maka hendaklah dia tanam bijih itu.” (HR. Bukhari)
Apa yang diharapkan apabila kiamat hampir-hampir terjadi?
Nabi SAW dalam hadits ini tidak memerintahkan kita untuk bertaubat dan beristigfar meminta ampun kepada Allah, atau beramal menuju akhirat dengan melupakan dunia dan isinya.
Namun ternyata beliau memerintahkan kita untuk memakmurkan bumi, dengan menanam biji. Biji apa yang kita diperintahkan untuk menanamnya?!
Ternyata biji kurma yang tidak mungkin berbuah kecuali setelah bertahun-tahun lamanya.
Maknanya, Nabi SAW hendak mengajarkan kepada kita pelajaran agung, bahwa jalan menuju akhirat harus melalui jalan dunia.
Keduanya bukanlah dua jalan yang terpisah. Namun merupakan satu jalan yang saling menghubungkan. Dunia dan akhirat tidak dapat berdiri sendiri.
Tidak ada pembagian jalan untuk akhirat yang bernama ibadah dan jalan untuk dunia yang bernama kerja. Yang ada adalah satu jalan, awalnya di dunia dan ujung akhirnya di akhirat.
Jalan yang tidak memisahkan di dalamnya antara kerja dari ibadah dan tidak memisahkan antara ibadah dari kerja.
Sekali lagi, keduanya merupakan sesuatu yang satu dan berjalan beriringan.
 
Sumber :
Ramadhan Sepenuh Hati, M. Lili Nur Aulia

Mu'atabah (Mengkritik Diri Sendiri)

Kritiklah diri Anda, Berbicaralah pada diri Anda sendiri jika ia melakukan kemaksiatan dan malas melakukan ketaatan.
Maimun bin Mahran mengatakan, “Orang mukmin yang bertakwa lebih keras melakukan kritik terhadap diri dibandingkan mengevaluasi penguasa lalim dan partner yang rakus.”
Disebutkan bahwa Abdul Rahman al Asad,tidak makan roti dan tidak mengayunkan langkahnya kecuali dengan niat baik kepada Allah.”
Begitulah jejak langkah mereka. Orang berakal adalah orang yang memberikan kepada masing-masing waktu haknya sebagai kewajiban yang dibebankan atas dirinya.
Bila kematian mendatanginya dia selalu siap, jika mendapatkan kehidupan maka dari waktu ke waktu bertambah kebaikan demi kebaikan.
 
Sumber :
Ramadhan Sepenuh Hati, M. Lili Nur Aulia

Muhasabah (Evaluasi)

Anda harus mengevaluasi diri setiap hari, agar hari anda tidak hilang percuman tanpa pembebasan dari api neraka atau pengampunanNya.
Jangan pernah sia-siakan sepanjang harimu kecuali dengan muhasabah diri Anda dan membawanya untuk taat.
Dari Wabh bin Munabbih, dalam hikmah keluarga Daud termaktub, “Wajib bagi orang yang berakal agar tidak lalai dari empat waktu;

  • Satu waktu untuk bermunajat kepada Tuhannya
  • Satu waktu untuk mengevaluasi dirinya
  • Satu waktu untuk bertemu dengan saudara-saudaranya yang mau mengabarkan kepadanya tentang aib-aibnya dan meyakinkan bahwa aib itu ada pada dirinya
  • Satu waktu lagi dia berkhalwat antara dirinya sendiri dengan kelezatan-kelezatan yang halal baginya dan memuji Allah karena waktu ini akan membantunya terhadap waktu-waktu sebelumnya.

 
Sumber :
Ramadhan Sepenuh Hati, M. Lili Nur Aulia

Baca Al Qur'anmu

Oleh : M. Lili Nur Aulia
Sabda Nabi SAW “Barangsiapa yang membaca satu huruf dari kitab Allah, maka baginya satukebaikan dan satu kebaikan dilipatkan 10 kali semisalnya.” (HR. Tirmidzi, Hakim dan disahihkan Al-Albani)
Al-Qur’an terdiri dari sekitar 300.000 huruf. Artinya, satu kali khatam Al-Qur’an maka yang membaca akan diganjar dengan 3 juta kebaikan. Dan, kemurahan Allah jauh lebih besar dari hitung-hitungan itu.
Menghitung angka pahala seperti itu, tujuannya hanya memberikan motivasi agar kita lebih terdorong untuk melakukannya.
Jika kebaikan itu dilipatgandakan pahalanya hingga 700 kali, sebagaimana tertera dalam Al-Qur’an, siapa yang mampu menghitungnya?
Tips Mengkhatamkan Al Qur’an
Belilah dua mushaf Al-Qur’an. Mushaf pertama, berukuran kecil yang selalu kita bawa kemanapun. Jangan pernah berjalan kecuali Anda membawanya.
Bacalah mushaf pertama sebagai wirid Al-Qur’an kita dalam perjalanan, di stasiun, halte, masjid, terutama saat antara adzan dan iqamah. Kobarkan syiar dalam hatimu, “Aku akan hidup dengan Al-Qur’an”
Mushaf kedua, bagikan kepada orang yang tidak memilikinya. Jika dia khatam, kita akan mendapatkan bagian pahala dalam timbangan kebaikan kita dari bacaan orang tersebut.
Dalam sebuah hadits shahih, disebutkan sabda Rasulullah saw, “Barangsiapa yang mengajak kepada ‘petunjuk’ (kebaikan) maka dia mendapatkan pahala orang yang mengikutinya. Pahala itu tidak dikurangi sedikitpun sampai hari kiamat
Pasanglah mushaf itu dalam handphone atau smartphone Anda, di mobil, dan di komputer kita.
Setiap saat, kita usahakan harus mendengar bacaan murattal audio dari para qori yang kita sukai.
Jangan lupa terus kobarkan syiar “aku akan hidup dengan Al-Qur’an”. Jangan lupa untuk selamanya bahwa membaca satu juz Al-Qur’an umumnya tidak akan memakan waktu kita lebih dari setengah jam.
Lakukan evaluasi setiap saat jika ada waktu yang hilang dari usia kita. Jangan sampai kita termasuk yang mengatakan seperti orang-orang meninggalkan kewajiban;
Harta dan anak-anak kami telah me-nyibukkan kami.” (QS. Al-Fath: 11)

Panah yang Tidak Salah Sasaran

Oleh : M. Lili Nur Aulia
 
Selama jeda antara adzan dan iqamah, shalatlah dua rakaat. Ini adalah sunah sebagaimana disabdakan Nabi saw,
Dua rakaat sebelum shalat subuh lebih baik dari dunia dan seisinya.” (HR. Muslim)
Ini adalah pahala shalat nafilah (sunnah)nya, bagaimana dengan shalat wajibnya.
Kemudian setelah itu segeralah mengangkat panah yang tidak salah, yaitu doa.
Rasulullah SAW telah bersabda,
Do’a antara adzan dan iqamah tidak tertolak.” (HR. Ahmad dan dishahihkan oleh Albani)
Berdo’alah apa yang Anda inginkan di waktu ini. Alangkah baiknya jika Anda khususkan doa-doa yang Anda minta, di saat-saat seperti ini karena ini adalah rentang waktu do’a dikabulkan Allah.
Ibnu Atha mengatakan, “Sungguh Allah telah menjamin dikabulkan untukmu pada apa yang Dia pilih untukmu dan bukan pada apa yang kamu pilih untuk dirimu, di waktu yang Dia kehendaki dan bukan di waktu yang engkau kehendaki.”