0878 8077 4762 [email protected]

Prinsip Islam Moderat : Identitas & Karakteristik Umat Islam

Oleh : Persatuan Ulama Islam Sedunia (Al Ittihad li Ulama al Muslimin)
 
Umat Islam adalah umat yang moderat. Hal ini sebagaimana yang Allah gambarkan dalam Al Qur’an
Demikianlah Kami telah menjadikan kalian (umat Islam) umat yang moderat agar kalian menjadi saksi atas (perbuatan) manusia.” (Q.S. Al Baqarah : 143)
Ia adalah umat penggenggam aqidah dan risalah, bukan umat rasisme yang berafiliasi kepada negara atau wilayah tertentu entah di Barat atau di Timur, serta bukan pula umat yang dibatasi oleh bahasa dengan berafiliasi kepada bahasa tertentu.
Akan tetapi, ia adalah umat yang berskala global yang meski berbeda suku bangsa, tanah air, bahasa, dan ras namun disatukan oleh akidah, syariah, nilai dan kiblat yang sama.
Walaupun bahasa umat ini berbeda sesuai dengan daerahnya. Tetapi ia memiliki satu bahasa bersama yaitu bahasa Arab. Bahasa Arab menjadi bahasa komunikasi antar kaum muslimin. Ia merupakan bahasa ibadah dan kebudayaan Islam.
Dalam tubuh umat ini terdapat bangsa Arab, dan non-Arab, kulit putih dan hitam, orang Barat dan Timur, orang Afrika, Eropa, Asia, Amerika, dan Australia. Mereka semua disatukan oleh Islam diatas kalimat yang sama. Seluruh perbedaan diantara mereka entah itu ras, warna kulit, bahasa, teritorial, atau status sosial telah lebur.
Seluruhnya menjadi satu umat yang diikat oleh persaudaraan mendalam berdasarkan keimanan kepada Tuhan, kitab suci, rasul dan konsep yang sama yang menghimpun keseluruhannya sekaligus menguatkan ikatannya.
Islam membolehkan seseorang mencintai tanah air dan negaranya serta merasa bangga dengannya selama hal itu tidak bertentangan dengan kecintaan dan kebanggaannya terhadap agama serta tidak menghambat terwujudnya persatuan umat Islam.
Persoalan baru muncul ketika substansi ikatan kemanusiaan tadi bertentangan dengan Islam atau ketika ia sudah mengarah kepada sikap fanatisme kelompok.
Dalam perjalanan sejarahnya, umat ini menghadapi banyak ujian, cobaan, fitnah, dan serangan. Entah dari Timur seperti pasukan Mongol atau dari Barat seperti pasukan salib. Semua itu nyaris melenyapkan eksistensi umat Islam.
Namun dengan cepat Allah munculkan sejumlah tokoh yang membela Islam seperti Imaduddin, Nuruddin, dan Sholahuddin. Mereka menghidupkan kembali umat Islam serta menyatukan dari yang tadinya berserakan. Maka, umat Islam memiliki vitalitas dan kekuatan, mampu mengusir agresor, dan kembali dalam kancah kehidupan.
Saat ini umat Islam menghadapi berbagai serangan dengan format baru. Umat ini hendak dirubah dari dalam lewat tangan para pemeluknya sendiri dengan cara merubah identitas, akidah, serta pandangannya terhadap agama, kehidupan, individu, masyarakat, makhluk, Khaliq, dunia, akhirat, manusia dan alam semesta.
Umar bin Khattab mengatakan “Kalau kita mencari kemuliaan dengan selain Islam, niscaya Allah akan menghinakan kita.”
Anas bin Malik berkata “Generasi akhir umat ini tidak akan menjadi baik kecuali berpegang kepada kitab Allah dan sunnah Rasul saw.”
Kemudian yang harus menjadi semboyan umat Islam adalah “Berpeganglah kalian semua kepada tali Allah dan jangan berpecah belah.” (Q.S. Ali Imran : 103).
Referensi: 25 Prinsip Islam Moderat
Penyusun: Al Ittihad al Alamiy li Ulama al Muslimin (Persatuan Ulama Islam Sedunia)
Penerbit: Sharia Consulting Center (Pusat Konsultasi Syariah)

Ringkasan Ta’lim : Memaafkan dan Berpaling dari Orang-Orang Bodoh

Ringkasan Kajian Kitab Riyadhus Shalihin Bab ke-75
 
MEMAAFKAN DAN BERPALING DARI ORANG-ORANG BODOH
 
Ahad, 24 Januari 2016
Pkl. 18.00-19.30
Di Majelis Ta’lim Al Iman, Jl. Kebagusan Raya No.66, Jakarta Selatan
 
Bersama:
Oleh : Ust. Rasyid Bakhbabazy, Lc
 
Ayat Al Qur’an dan Hadits Nabi yang dikaji adalah sebagai berikut:
Ayat Al Qur’an
Surat Al-A’raf ayat 199
“Jadilah engkau pemaaf dan perintahkanlah orang mengerjakan yang makruf serta berpalinglah dari orang-orang yang bodoh”
Penjelasan:
Yang di maksud bodoh di sini adalah sikapnya yang salah/tidak benar.
Surat Al-Hijr ayat 85
“…Maka maafkanlah (mereka) dengan cara yang baik”
Surat An-Nur ayat 22
“…Dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin Allah mengampuni mu?”
Penjelasan:
Jika kita di hadapkan kepada sikap orang yang tidak baik maka berpalinglah dengan tidak memberikan balasan dan dengan hati yang lapang (tidak marah) dan hendaklah memberikan maaf.
Surat Ali Imran ayat 134
“… Dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan”
Penjelasan:
Termasuk bagian dari kebajikan adalah memberikan  maaf.
Surat Asy-Syura ayat 43
“Namun, orang yang bersabar dan memaafkan, sesungguhnya (perbuatan) yang demikian itu termasuk hal-hal yang di utamakan”
Penjelasan:
Memaafkan adalah sesuatu yang diharapkan dan diperintahkan oleh syari’at.
Hadits-Hadits Rasulullah SAW
Dari Aisyah Ra. bahwa ia berkata kepada Nabi SAW “Saya bertanya kepada Nabi SAW ‘Pernahkah engkau mengalami penderitaan yang lebih berat dari perang uhud?’ Beliau menjawab, ‘Sungguh aku telah mendapat penderitaan karena (perbuatan) kaummu sedang yang paling berat adalah pada hari aqabah. Ketika aku menyempatkan diri untuk mengajak putra Abdul Yalail bin Abdul Kulal, ia tidak menyambutku sebagaimana harapanku. Kemudian aku pergi dengan perasaan sedih sekali dan tidak sadar. Namun sesampainya di Qarnuts Tsa’lib aku sadar dan mengangkat kepalaku. Waktu itu, aku dinaungi oleh awan. Setelah aku memandangnya, ternyata di situ ada malaikat Jibril As. Ia memanggilku seraya berkata, ‘Sesungguhnya Allah Ta’ala mendengar kaummu mencela dan menolak ajakanmu. Dan Allah mengutus malaikat penjaga gunung untukmu. Ia akan memenuhi apa saja yang kamu kehendaki terhadap mereka’. Kemudian malaikat penjaga gunung memanggilku dan mengucapkan salam seraya berkata, ‘Wahai Muhammad, sesungguhnya Allah telah mendengar ucapan kaummu dan aku adalah malaikat penjaga gunung. Allah telah mengutusku untuk memenuhi perintamu. Maka apakah yang kamu kehendaki? Apabila kamu menghendaki, akan aku runtuhkan dua gunung itu untuk menyiksa mereka.’ Nabi SAW menjawab, ‘Aku masih berharap semoga Allah mengeluarkan dari tulang belakang mereka orang yang beribadah (menyembah) pada Allah Yang Maha Esa dan mereka tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun‘.” (HR. Al-Bukhari: 3231).
 
Aisyah Ra. berkata, “Rasulullah SAW tidak pernah memukul apapun dengan tangannya, ia juga tidak pernah memukul istri-istri dan pelayannya. Kecuali, apabila beliau berjihad di jalan Allah. Dan ketika beliau disakiti, beliau sama sekali tidak membalas orang yang menyakitinya, kecuali bila apa yang telah diharamkan Allah Ta’ala itu dilanggar, maka beliau membalas karena Allah Ta’ala” (HR. Muslim: 2328).
Anas Ra. berkata, “Saya pernah berjalan bersama Rasulullah SAW dan beliau mengenakan baju buatan negeri Najran yang kasar tepinya. Lalu ada seorang Arab Badui yang menemuinya, kemudian ia menarik-narik selendang beliau dengan kuat. Saya melihat leher beliau terdapat bekas ujung baju, karena kerasnya tarikan orang Badui itu. Kemudian ia berkata, ‘Wahai Muhammad SAW berikanlah kepadaku harta Allah yang ada padamu.’ Beliau menoleh kepada orang Badui itu. Sambil tersenyum beliau menyuruh untuk memenuhi permintaan orang Badui itu’.” (HR. Al-Bukhari : 3149 dan Muslim : 1057).
Penjelasan Hadits:
Pembalasan tidak menunjukkan ketinggian akhlak, karena seorang Ibadurrahman (hamba Allah) berjalan dengan rendah hati dan membalas keburukan dengan kata-kata yang lebih baik.
Ibnu Mas’ud Ra. berkata, “Seolah-olah saya masih dapat melihat Rasulullah SAW ketika beliau menceritakan seorang Nabi dari para Nabi Shalawatullah wasalamuhu’alaihim, yaitu ketika Nabi tersebut dipukul oleh kaumnya hingga menyebabkan keluar darahnya dan Nabi itu mengusap darah tersebut dari wajahnya sambil berdoa, ‘Ya Allah, ampunilah kaumku karena sesungguhnya mereka itu tidak mengetahui’.” (HR. Al-Bukhari : 3477, 54 dan Muslim : 1792).
Penjelasan Hadits:
Sebenarnya Nabi yang di maksud dalam kisah ini adalah Rasulullah SAW sendiri, tapi Rasulullah SAW tidak menyebutkannya karena sikap tawadhu’ beliau. Dan dari kisah ini maka pantaslah Rasulullah SAW disebut sebagai Rahmatan Lil’aalamin dan yang memiliki akhlak yang agung.
Dari Abu Hurairah ra. bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Bukannya orang yang kuat itu adalah orang yang menang dalam gulat, akan tetapi orang yang kuat adalah orang yang dapat menahan dirinya ketika marah.” (HR. Al-Bukhari : 6114 dan Muslim : 2609, 107)
Penjelasan Hadits:
Yakni menahan marah padahal dia mampu untuk membalasnya, inilah orang yang kuat.
 
***
Majelis Ta’lim Al Iman
Tiap Ahad. Pkl. 18.00-19.30
Kebagusan, Jakarta Selatan.
 
Jadwal Pengajian:
● Tadabbur Al Qur’an tiap pekan 2 dan 4 bersama Ust. Fauzi Bahreisy
● Kitab Riyadhus Shalihin tiap pekan 3 bersama Ust. Rasyid Bakhabzy, Lc
● Kontemporer tiap pekan 1 bersama ustadz dengan berbagai disiplin keilmuwan.
 
Kunjungi AlimanCenter.com untuk mendapatkan info, ringkasan materi dan download gratis audio/video kajian setiap pekannya.
•••
Salurkan donasi terbaik Anda untuk mendukung program dakwah Majelis Ta’lim Al Iman:
BSM 703.7427.734 an. Yayasan Telaga Insan Beriman
Konfirmasi donasi: 0897.904.6692
 
? Raih amal sholeh dengan menyebarkannya!

Untukmu Kader Dakwah : Ats Tsiqah

Oleh : KH Rahmat Abdullah
 
Yang dimaksud ats tsiqah disini adalah
Kepercayaan dan ketenangan (kemantapan hati) seorang jundi kepada pimpinannya dalam hal kemampuan dan keikhlasannya, sebab kepercayaan yang dalam ini akan menciptakan rasa cinta, hormat dan taat. Allah berfirman : “Maka yang lebih baik dan utama bagi mereka adalah tanda ketaatan dan ucapan yang baik.” (Q.S. Muhammad : 21)
Pimpinan adalah bagian dari dakwah, tak ada dakwah bila tanpa kepemimpinan. Dari rasa saling percaya antara pemimpin dengan para jundinya inilah kemudian lahir kekuatan struktur dakwah, pengaturan strateginya dan keberhasilannya dalam mencapai tujuan serta kemampuannya menanggulangi segala rintangan dan kesulitan yang menghadang dakwah.

(Hasan al Banna)

Hal yang paling sulit dalam hubungan antara jundi (prajurit) dan qiyadah (komandan) ialah ketentraman hati terhadap kafaah (keahlian), keikhlasan dan ketaatan antar mereka. Dari tsiqah terhadap kemampuan dan keikhlasan qiyadah lahirlah kecintaan, penghargaan, penghormatan dan ketaatan jundi.
Qiyadah dengan syarat-syarat yang memadai dan peduli syuro, menduduki posisi bapak dalam ikatan hati, posisi guru dalam suplai ilmu, syaikh dalam pembinaan ruhiyah dan panglima dalam kebijakan umum dakwah. Dan dakwah mestilah menghimpun semua pengertian ini.
“Ketentraman hati seorang jundi kepada qa’id atas kemampuan dan keikhlasannya dalam kadar ketentraman yang mendalam melahirkan kecintaan, penghargaan, penghormatan dan ketaatan. Qa’id adalah bagian dari dakwah dan tak ada dakwah tanpa qiyadah. Berbasiskan tsiqah antara qiyadah dan junud, tercipta kekuatan sistem jamaah, kekuatan strateginya dan keberhasilannya mencapai tujuannya serta kemampuannya menaklukkan hambatan dan kesulitan yang dihadapinya“ (Hasan al Bana)
Kekuatan Tsiqah
Apa yang membuat Umar begitu percaya kepada Abu Bakar, padahal ia mendapatkan pengakuan Rasulullah SAW : “Allah meletakkan kebenaran di lidah dan hati Umar?” Jawabnya : Tsiqah. Ketika pandangan mayoritas sahabat berpihak kepada Umar untuk tidak memerangi orang yang menolak membayar zakat atas kebijakan Abu Bakar, justru Umar memujinya dengan mengatakan Allah melapangkan hati Abu Bakar untuk berperang dan akupun tahu bahwa itu kebenaran.
Suatu hari seseorang bertanya kepada Imam Hasan al Bana. “Bila keadaan memisahkan hubungan kita, siapa yang Anda rekomendasikan untuk kami angkat jadi pemimpin?” Jawabnya tegas: “Wahai ikhwan, silahkan angkat orang yang paling lemah kemudian dengar dan taatilah dia, niscaya ia akan menjadi orang paling kuat diantara kalian.”
Jadi tsiqah adalah sikap manusia normal yang menyadari keterbatasan masing-masing lalu saling menyetor saham kepercayaan sebagai modal bersama untuk kemudian menikmati kemenangan bersama.
Tak ada bentuk tsiqah yang lebih spektakuler dari tsiqah Islam membangun peradaban manusia. Peradaban selalu menang dengan tsiqah dan kemunduran bermula dari keraguan dan analogi menipu. Karenanya iblis menolak sujud, karena pertimbangan material semata-mata. Termasuk bani Israil yang spontan menolak Thalut, karena ia bukan orang kaya dan bapaknya hanya seorang penyamak kulit.
Pengguncang Tsiqah
Gangguan terbesar tsiqah ialah kondisi yang meragukan. Secara internal dapat berbentuk kemalasan, yaitu kemalasan dalam menggali ilmu, berkonsultasi, meningkatkan kualitas ruhiyah dan fikriyah. Dan secara eksternal yaitu interfensi jorok media masa yang selalu mencitrakan, namun pada saatnya memfitnah dan berbuat curang terhadap dakwah.
Seharusnya kita tak mengandalkan belas kasihan pihak media luar, melainkan dengan pasti dalam hal lisan dan kata yang berbincang tangkas menangkal semua fitnah, provokasi dan pencitraan buruk. Terkadang jamaah atau konstituen menarik dukungannya kepada qiyadah bukan karena tidak tsiqah, melainkan karena cenderung hedonis dan materialistik terlanjur memanjakan mereka.
Tsiqah telah mendorong Abu Bakar mengandalkan Khalid ra, padahal ia menyimpan sekian banyak catatan dengannya dan tak kurang memarahinya atas beberapa hal. Ia tsiqah kepada seseorang bagi kepentingan rakyat banyak daripada kesalihan dirinya, padahal kepadanya tergantung kepentingan rakyat banyak.
Pusta Pengendali Tsiqah
Tak ada kekuatan pengendali tsiqah selain kepada Allah. Bila mereka menyerahkan amal sepenuhnya kepada Allah maka tak ada sedikitpun keraguan tersisa untuk bekerja dengan sesama da’i. Jadi kekuatan iman kepada Allah, kejujuran, amanah, cinta kasih, kehangatan ukhuwah adalah hal-hal yang menyuburkan akar tsiqah. Itu semua menjadikan kerja seberat apapun, resiko perjuangan sepedih apapun dan pengorbanan apapun tak ada artinya. Tak ada gerutuan kepada pemimpin atau bawahan. Yang ada syukur, sabar, dan sepenanggungan.
Alangkah rindunya dakwah hari ini kepada kondisi ideal yang bukan mustahil, walaupun sukar dipahami kecuali oleh mereka yang telah mengalami dan menikmatinya. Tak ada lagi bagi upaya lobbi, sugesti dan mobilisasi yang hanya mengandalkan kekuatan kerongkongan semata-mata. Karena dakwah yang suci ini adalah dakwah ruhiyah dan bukan dakwah jasadiyah semata. Ia merangkum akal dan hati. Lebih dulu dari merangkum gerak dan jasad. Ia punya pusat pengendali yang merukunkan seluruh elemen saat harta kekayaan dunia sebesar apapun tak mampu merukunkan antar hati mereka.
Firman Allah : “Ia merukunkan antar hati mereka, yang seandainya engkau belanjakan seluruh kekayaan bumi seluruhnya, niscaya engkau takkan mampu merukunkan antar hati mereka, tetapi Allah merukunkan antar mereka.” (Q.S. Al Anfal : 63).
Referensi :
Untukmu Kader Dakwah, Penerbit Pustaka Da’watuna, KH Rahmat Abdullah

Untukmu Kader Dakwah : Ukhuwah

Oleh: KH. Rahmat Abdullah
 
Arti al ukhuwah yang dimaksud disini adalah
Agar seorang aktifis dakwah menggabungkan antara hati dan ruh dengan tali aqidah, sementara aqidah itu sendiri merupakan tali yang paling kuat dan paling mahal. Ukhuwah (persaudaraan) adalah saudara (teman) seiman, sementara perpecahan itu saudara kekafiran. Kekuatan yang pertama adalah kuatnya persatuan dan kesatuan.
Tak ada persatuan bila tak ada cinta kasih. Sedangkan derajat cinta yang paling rendah adalah hati yang selamat dari buruk sangka kepada muslim lainnya, dan paling tinggi adalah itsar, yaitu mendahulukan kepentingan saudaranya daripada kepentingan pribadi.

(Hasan al Banna)

Suara merdu persaudaraan sepatutnya didominasi oleh nuansa bening. Serendah-rendahnya bermuatan kelapangan hati dan setinggi-tingginya itsar; memprioritaskan saudara melebihi diri sendiri. Ada hamba Allah bukan nabi bukan syuhada, namun menjadikan iri para nabi dan syuhada.
Mereka orang-orang yang saling mencintai dengan Ruh Allah, bukan karena hubungan sedarah atau kepentingan memperoleh kekayaan. Demi Allah, wajah-wajah mereka cahaya. Mereka takkan merasakan ketakutan ketika banyak orang ketakutan dan tdak akan bersedih bila umat bersedih”. (H.R. Ahmad)
Bersaudara dalam Senang dan Susah
Belakangan, sosok jamaah dengan sejumlah prestasi gemilang justru menjadi pengunjung tetap penjara (zuwwarus sijn). Mereka telah menata siapa yang lebih banyak hafalan Al Qur’an, kuliah penjara atau program lainnya, tambahan bahasa asing. Sehingga mereka keluar penjara dengan hafalan Al Qur’an dan selesai dengan berbagai strata mata kuliah. Kamar sesak tak jadi soal. Yang tidur belakangan merelakan pangkuan menjadi bantal bagi saudaranya.
Banyak orang mengira mampu menghancurkan mereka dengan cara melontarkan fitnah kedalam shaf. Serangan fisik dan penghancuran sebagai sarana. Mungkin kepala dapat terpisah dari jasad namun, ukhuwah tetap kokoh dan abadi, tak terkeruhkan oleh keterbatasan sifat-sifat kemanusiaan.
Ukhuwah yang Jujur dan Benar
Banyak orang bersaudara karena kesatuan suku, usaha, partai, ormas dan jamaah. Tidak sepatutnya ukhuwah Islamiyah dibatasi oleh tembok-tembok rapuh. Karenanya membicarakan keburukan orang lain (ghibah), membawa berita permusuhan (namimah), serta memata-matai orang (tajassus) tidak serta merta menjadi halal, hanya karena mereka bukan saudara seorganisasi. Siapapun mereka dalam ikatan iman telah memiliki kesakralan ukhuwah yang pantang dinodai.
Abdullah bin Amr kecewa karena pengintaiannya beberapa malam dirumah seorang calon penghuni surga gagal total. Karena ia tak menemukan ibadah-ibadah unggulan pada saudaranya tersebut. Namun ia sangat terhibur ketika lelaki sederhana itu mengatakan “Yang selalu kujaga ialah tak pernah menutup mata untuk tidur sebelum melepaskan perasaan tak baik terhadap sesama muslim”.
Dalam kekalahan perang unta melawan Ali bin Abi Thalib ra, seseorang mencerca Aisyah ra. Namun Ammar bin Yasir ra sebagai panglima Ali, membela Aisyah. “Diam kau wahai si buruk laku. Akankah kau sakiti kecintaan Rasulullah SAW. Aku bersaksi bahwa ia adalah istri Rasulullah di surga. Ibunda Aisyah telah memilih jalannya dan kita tahu ia adalah istri Rasulullah SAW. Akan tetapi Allah telah menguji kita dengannya agar ia tahu apakan kepada-Nya kita taat atau kepadanya.”
Ketika Imam Ali bin Abi Thalib ditanya apakah lawan-lawan politiknya itu musyrik? Jawabnya: “Justru dari kemusyrikan mereka berlari.” Tanya lagi: “Jadi siapa mereka itu?” Jawabnya: “Mereka ikhwan (saudara) kita walau berontak kepada kita”
Zaid bin Tsabit pernah berbeda pendapat yang tajam dalam suatu masalah. Namun mereka akur. Ibnu Abbas ra menuntun kendaraan Zaid bin Tsabit. “Tidak usahlah wahai paman Rasulullah” pinta Zaid. “Demikianlah kami diperintahkan menghormati ulama dan pembesar kami”, jawab Ibnu Abbas. Kemudian Zaid mencium tangannya. “Begitulah kami diperintahkan terhadap Ahli bait Rasulullah” ujar Zaid.
Saudara dan Persaudaraan
Arrabi’ Al Aslami dari generasi gemilang sahabat Rasul dipersilahkan mengajukan permintaan. Apa jawab Arrabi? “Kuminta agar dapat tetap menemanimu di surga” sahutnya.
Hasan al Bashri dengan kesederhanaan hidup dan ketajaman pandangannya berujar: “Tak ada yang tersisa dari kehidupan kecuali tiga:
Pertama, saudara (akh)-mu yang dapat kau peroleh kebaikan dari bergaul dengannya. Bila engkau tersesat dari jalan lurus ia akan meluruskanmu.
Kedua, shalat dalam keterpaduan, engkau terlindung dari melupakannya dan meliput ganjarannya
Ketiga, cukuplah kebahagiaan hidup bila engkau tak punya beban tuntutan seseorang yang harus kau tanggung di hari kiamat”.
Syair dari Imam Syafii ra :
Sahabat yang tak berguna saat datangnya derita
Nyarislah seperti seteru lainnya
………………..
Selamat tinggal dunia
Bila tak ada lagi teman sejati
Yang jujur, tepat janji dan saling mengerti
Referensi :
Untukmu Kader Dakwah, Penerbit Dakwatuna, KH Rahmat Abdullah
 

Untukmu Kader Dakwah : Tajarrud

Oleh : KH Rahmat Abdullah
 
Makna at tajarrud bagi kami adalah
Agar anda membersihkan fikrah anda dari segala pengaruh dasar-dasar hidup dan sosok pribadi orang-orang selain fikrahmu, sebab ia paling tinggi dan paling komplit dari yang lainnya.
Firman Allah :
“Celupan Allah dan siapakah yang paling baik celupannya dari Allah?” (Q.S. Al Baqarah : 138)

(Hasan al Bana)

Siapapun yang telah berazam menjadikan jihad dan dakwah sebagai jalan hidupnya lalu berfikir dapat keluar dari kesibukannya untuk sejenak mengambil nafas, maka itu adalah benih penyesalan. Sikap menghindar dari pengorbanan terkadang mengalahkan totalitas (tajarrud) sebagai kemutlakan sikap dakwahnya. Kelezatan berkurban yang seharusnya jadi impian setiap dai seyogyanya dapat diraih langsung dari mujahadah (usaha keras), qanaah (rasa penerimaan) dan ridha menghadapi segala cobaan dijalan dakwah.
Kalau ada sesuatu yang sangat menyita perhatian dan menuntut pengorbanan, itulah cinta. Tak ada bukit yang cukup tinggi, tak ada lautan yang cukup dalam, tak ada luka yang cukup pedih bila cinta kekasih telah memenuhi seluruh relung hati.
Medan Dakwah yang Keras
Dakwah telah dikenal bertabiat “thuulu’t thariq, katsratu’aqabat, wa qillatur rijal” (jalanannya panjang, hambatannya banyak dan tokoh pendukungnya sedikit). Bila da’inya bermental ayam negeri yang tak tahan angin, maka kiamat dakwah sudah terdengar serunainya.
Sedikit diantara mereka yang berjalan di atas permadani, makan dari roti lembut dan tidur  nyenyak diatas sutera, namun  mampu mengubah dunia dengan perjuangan yang keras dan sungguh-sungguh. Pilihan hanya satu yaitu tauhid atau syirik maupun taat atau maksiat.
Ketika pembebasan terjadi, seorang aktifis dakwah hanya punya satu pilihan yaitu dakwah atau tidak sama sekali. Ketinggian adab mereka kepada Allah sampai membuat mereka merasakan malu kepada-Nya untuk berfikir, bertindak atau berkhayal di luar syariah. Mereka orang dengan langkah berderap di bumi sedang jiwa mereka melayang di langit.
Tajarrud dan Fanatisme Buta
Tak ada manfaat keyakinan dakwah yang penganutnya ragu-ragu memasyarakatkan dan membelanya. Kadang seorang kader menjadi gamang diserang tuduhan fanatik, sekretarian atau fundamentalis. Padahal penuduh itu sendiri tak mengerti ucapan yang mereka bunyikan. Dengan kejernihan mata hati (bashirah), ketajaman argumentasi dan pertanda-pertanda yang tak dapat diragukan seharunya mereka maju karena para pembela kebatilan membelanya dengan yakin, bangga dan penuh percaya diri.
Tajarrud dalam istilah dakwah adalah totalitas memberi ruang seluas-luasnya bagi para da’i untuk berkiprah. Ia harus menjadi orbit dan kutub memimpin lingkungan dalam gerak keabadian ibadah. Inilah yang dilakukan Khalifah pertama Abu Bakar Shiddiq ra. Dalam surat Ali Imran ayat 44 yang dibacakannya merupakan sesuatu untuk mengingatkan hakikat kehidupan. Betapa Muhammad SAW itu tetaplah seorang manusia yang ada batas hidupnya. Namun lebih dari itu, ayat tersebut bermakna risalah tak boleh berhenti. Aspek pemerintahan, peradilan, dan berbagai tugas yang diperankan Rasulullah SAW tetap harus jalan.
Sang Desertir
Ketika seorang santri, kyai atau da’i mulai menjalani dakwahnya dengan perasaan jenuh, syetan mulai menyusupkan lupa akan tabiat dakwahnya. Selanjutnya akan kehilangan rasa santun, kasih sayang, baik sangka dan empati. Lihatlah kisah Bal’am (dalam Q.S. Al Araf: 175-176) yang kisahnya ia tak beroleh manfaat apapun dari ilmunya yang banyak.
Maka mulialah ahli Madinah, dimana kaum anshar mencintai saudara mereka sendiri kaum Muhajirin sebagai bukti dakwah yang hakiki. Belum lagi sang Rasul berhijrah ke negeri mereka, setiap rumah Madinah sudah rata memiliki banyak penghuni muslim. “Fi kulli duri’i anshar khair” setiap rumah Anshar selalu ada kebajikan, demikian pesan Rasul.
Salman al Farisi tak kehilangan tajarrudnya dengan mengusulkan taktik pertahanan Khandaq. Benteng galian yang biasa dibuat bangsanya di tanah Persia.
Ummu Salamah juga tetap dalam keutuhan tajarrud-nya, ketika menceritakan patung-patung yang dilihatnya di negeri Habasyah dengan cita rasa seninya yang tinggi. Begitupun Rasulullah SAW tak meragukan keimanan Umar bin Khattab yang membawa selembar Taurat dari teman yahudinya.
Sehingga pendidikan tajarrud yang kita dapatkan dari berbagai peristiwa sejarah telah mengantarkan kita betapa aspek ini tak dapat disikapi ringan apalagi main-main.
Referensi :
Untukmu Kader Dakwah, Penerbit Pustaka Da’watuna, KH Rahmat Abdullah