0878 8077 4762 [email protected]

Kisah Pelayanan Ummu Sulaim

Ummu Sulaim, wanita ini dipinang Abu Thalhah. “Engkau lelaki yang sulit ditolak, hanya saja aku ini muslimah. Andai kau tinggalkan berhala dan menjadi muslim, maka cukuplah Islammu jadi maharku. Tak kuminta selain itu.”
Suatu ketika Ummu Sulaim menyerahkan putranya, Anas bin Malik untuk berkhidmat pada Nabi demi beroleh ilmu, tertular akhlak dan terlimpahi berkah. Namun putra kesayangannya sakit keras, padahal Abu Thalhah si suami hendak pergi. Wanita itu melepas Abu Thalhah, menenangkan untuk bertawakal pasrahkan pada Allah. Saat sang suami telah pergi, anak itu meninggal.
Ummu Sulaim meminta para pelayan tak bicara, mereka disuruh bersihkan dan hiasi rumah. Dia sendiri yang akan menyampaikan kepada suaminya. Dimandikanlah sang anak lalu dibaringkan dan diselimuti dikamar seakan tidur lelap. Wanita ini lalu memasak istimewa dan berdandan cantik.
Ketika suaminya pulang, disambutlah mesra. Lelaki tua itu bertanya, “Bagaimana anak kita?” Ummu Sulaim senyum dan jawab, “Sudah lebih tenang.”
Sang suami percaya setelah menengok kamar putranya. Lalu di makan dengan lahap dilayani istrinya, bahkan lalu pengantinan. Setelah puas, berbaring mereka diranjang.
Ummu Sulaim bertanya pada sang suami, “Apa pendapatmu jika seseorang menitipkan suatu barang pada kawannya. Bolehkah yang dititipi menolak mengembalikan saat si penitip memintanya?”
Si suami tersenyum, “Tentu tidak boleh begini.”
Ummu Sulaim, “Ketahuilah Allah yang menitipkan anak pada kita, dan Dia kini mengambilnya kembali. Sabarlah duhai Abu Thalhah.”
“Apa?!” seru sang suami tersentak. Dia lalu tergugu, “Sesudah sambutan mesra, makanan lezat dan kepuasan ini kamu baru bicara?!”
Keesokan paginya seusai memakamkan jenazah, Abu Thalhah mengadukan halnya pada Rasulullah. Beliau tersenyum dan menepuk bahunya.
“Pengantinkah semalam?” tanya beliau. Abi Thalhah mengangguk malu. “Semoga Allah berkahi malam kalian berdua dalam karunia.”
Dari malam itu Ummu Sulaim hamil. Lalu lahirlah Abdullah bin Abi Thalhah. Darinya tujuh cucu yang hafizh Qur’an dan fakih sejak belia. Itulah keberkahan wanita shalihah lagi mukminah yang ahli ibadah, yang pandai menjaga amanah atas rumah tangga suami dan aturan Allah.
 
Sumber :
Menyimak Kicau Merajut Makna, Salim A. Fillah, ProU Media

Sejarah Baru Tercipta di 212, Shalat Jum'at Terbanyak

Hujan mengguyur Jakarta siang ini. Meski demikian, kumpulan orang yang jumlahnya sangat besar, masih setia berkumpul di Lapangan Monas dan sekitarnya.
Massa yang jumlahnya diperkirakan mencapai jutaan ini, berkumpul dalam rangka Aksi Damai Bela Islam III. Aksi ini diisi dengan tausiah, dzikir dan doa bersama yang dipimpin oleh sejumlah ulama, kemudian Salat Jumat berjamaah.
Salat Jumat berlangsung, hanya suara imam yang terdengar, kemudian disusul suara makmum di waktu-waktu tertentu. Bila dilihat dari ketinggian, Lapangan Monas kini berubah menjadi lautan putih, karena rata-rata massa aksi damai memang mengenakan pakaian serba putih.
Monas yang merupakan ikon Ibu Kota menjadi saksi bisu bahwa sejarah baru telah tercipta di Indonesia. Sejarah baru bahwa di tempat itu pernah berlangsung Salat Jumat dengan jumlah jamaah yang yang sangat banyak. Saking banyaknya, jamaah bahkan sampai “luber” di jalan-jalan sekitar Monas.
Menjadi menarik, karena Monas bukanlah rumah ibadah, melainkan area museum nasional yang menampilkan perjuangan Bangsa Indonesia. Jamaah Salat Jumat ini diikuti ulama-ulama mahsyur hingga pemimpin negeri, yakni Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا نُودِيَ لِلصَّلَاةِ مِنْ يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَىٰ ذِكْرِ اللَّهِ وَذَرُوا الْبَيْعَ ۚ ذَٰلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ

Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jum’at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allâh dan tinggalkanlah jual beli, yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui“. (Q.S. al-Jumu’ah ayat 9)
Diriwayatkan dari Abdullâh bin Umar Ra dan Abu Hurairah bahwa keduanya mendengar Rasûlullâh Saw bersabda di atas mimbarnya:
لَيَنْتَهِيَنَّ أَقْوَامٌ عَنْ وَدْعِهِمْ الْجُمُعَاتِ أَوْ لَيَخْتِمَنَّ اللَّهُ عَلَى قُلُوبِهِمْ ثُمَّ لَيَكُونُنَّ مِنْ الْغَافِلِينَ
Hendaklah orang yang suka meninggalkan shalat Jum’at menghentikan perbuatan mereka, atau benar-benar Allâh akan menutup hati mereka, kemudian mereka benar-benar menjadi termasuk orang-orang yang lalai.” (HR Muslim)
Memang belum ada jumlah pasti berapa jamaah yang ikut dalam Salat Jumat tersebut, tapi bila dibandingkan dengan luasan Masjid Istiqlal yang merupakan masjid terbesar di Tanah Air, lapangan Monas bisa menampung massa lebih banyak. Masjid Istiqlal sendiri mampu menampung sekira 200.000 jamaah, sedangkan lapangan Monas menurut Polisi, bisa menampung hingga 700 ribu orang. Belum lagi, jumlah massa yang tumpah ruah di sekitaran Monas. Perkiraan yang beredar hingga 7 juta orang.
Kapolri, Jenderal Tito Karnavian, saat acara aksi damai baru dimulai, mengatakan aksi damai ini mirip seperti orang tengah beribadah di Padang Arafah. Ungkapan ini merujuk pada massa yang jumlahnya sangat besar.

Indahnya Persatuan dalam Aksi Bela Islam 3

Sesungguhnya, agama kita mengajarkan segala kebaikan yang dibutuhkan umat manusia. Sedangkan persatuan umat Islam merupakan salah satu prinsip terbesar agama ini. Dengan izin Allah terdapat cara mengobati penyakit perpecahan umat yang sudah lama menggerogoti.
Walaupun kamu membelanjakan (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka”. [Q.S. al Anfal : 63]
Dan firmanNya :
وَإِن تَعُدُّوا نِعْمَتَ اللهِ لاَتُحْصُوهَا
Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah kamu dapat menghitungnya”. [Q.S. Ibrahim : 34].
Dalam persatuan, umat Islam bisa saling menasihati. Mengingatkan hadits Tamim ad Daariy, ia berkata: bersabda Rasulullah :
الدِّينُ النَّصِيحَةُ ثَلَاثَ مِرَارٍ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ لِمَنْ قَالَ لِلَّهِ وَلِكِتَابِهِ وَلِأَئِمَّةِ الْمُسْلِمِينَ وَعَامَّتِهِمْ
“Din (agama) ini adalah nasihat” (tiga kali). Para sahabat bertanya : “Nasihat bagi siapa, wahai Rasulullah?”. Nabi menjawab,”Nasihat terhadap Allah (maksudnya dengan mentauhidkan Allah dan mengikhlaskan niat dalam beribadah, Red), nasihat terhadap kitabNya (maksudnya, dengan mengimaninya dan mengamalkan isinya, Red), nasihat terhadap para pemimpin kaum Muslimin (maksudnya, dengan mentaati mereka dan tidak memberontak) dan nasihat bagi kaum Muslimin secara umum”.
Renungkanlah, betapa indahnya tatanan masyarakat ini, yang saling mencintai satu sama lain, saling menolong, mengingatkan, menyuruh yang ma’ruf dan mencegah yang mungkar, dengan penuh kecintaan, kasih-sayang, rahmat dan kelembutan. Membayangkan bagaimana bersatunya masyarakat dengan menampakkan persatuan kata yang hanya dilandasi atas persatuan tauhid.
Kita berdoa kepada Allah agar menyatukan kaum Muslimin di atas Kitab dan Sunnah RasulNya, menjauhkan dari segala fitnah yang ada, baik yang nampak atau yang tidak, menghilangkan setiap bentuk kesyirikan, bidah dan perbedaan. Sebagaimana firman Allah Azza wa Jalla :
Dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar”. [Q.S. al Anfal : 46].

Ayat Seribu Dinar, Kesyirikan Pesugihan Agar Cepat Kaya?

Ayat 1000 dinar yang dimaksudkan adalah QS. Ath-Thalaq: 2-3
وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا (2) وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ إِنَّ اللَّهَ بَالِغُ أَمْرِهِ قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا (3)
Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)-Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.”
Apa keistimewaan ayat tersebut?
Sebenarnya dalam ayat tersebut tidak disebutkan bahwa siapa yang membacanya 1.000 kali, maka akan mendapatkan pesugihan, cepat kaya atau mendapatkan kelapangan rezeki. Apalagi tidak tersurat akan mendapatkan 1000 dinar.
Namun ada yang mengamalkan ayat tersebut seperti ini:

  1. Bacalah surat Al-Fatihah pada malam pertama dari tiap-tiap bulan kalender Hijriyah (bukan bulan kalender Masehi) sebanyak 1000 kali dan membaca surat Al Maidah ayat 114. Lalu baca ayat 1000 dinar yang disebut di atas sebanyak 21 kali. Kemudian dilanjutkan dengan membaca asma Allah.
  2. Lalu setiap harinya dilanjutkan dengan membaca ayat 1000 dinar yaitu surat Ath Thalaq ayat 2-3 sebanyak 1000 kali dalam sehari. Seperti diwasiatkan untuk dibaca rutin

Setelah pembacaan tadi, diperintahkan membaca doa sesuai dengan hajat yang diminta.
Beberapa Kekeliruan dari Pengamalan Ayat 1000 Dinar
1. Menetapkan waktu pembacaan yang tidak berdalil
Penetapan waktu pembacaan ayat 1000 dinar yang dibaca setiap malam ataukah dibaca pada malam pertama setiap awal bulan Hijriyah tidak berdalil.
Yang ada dalil dalam Islam, Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan membaca surat Al Kahfi setiap malam Jumat atau hari Jumat. Sedangkan ayat 1.000 dinar, adakah dalil atau petunjuk Rasul saw yang menyebutkan waktu pembacaannya seperti yang disebutkan?
Imam Ahmad dan para fuqaha ahli hadits, termasuk Imam Syafi’i termasuk di dalamnya berkata,
إنَّ الْأَصْلَ فِي الْعِبَادَاتِ التَّوْقِيفُ
“Hukum asal ibadah adalah tauqif (menunggu sampai adanya dalil)” (Dinukil dari Majmu’ Al Fatawa karya Ibnu Taimiyah, 29: 17)
2. Menentukan jumlah bilangan yang melelahkan
Jujur saja, kita jarang melihat atau bahkan melihat dzikir-dzikir Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan pembacaan 1.000 kali dalam sehari seperti pada pengalaman ayat 1000 dinar. Yang ada, dzikir paling banyak hitungannya adalah 100 kali. Contoh misalnya bacaan dzikir,
لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرُ
Laa ilaha illallah wahdahu laa syarika lah, lahul mulku walahul hamdu wa huwa ‘ala kulli syai-in qodiir.
Dzikir di atas dibaca dalam sehari 100 kali. Keutamaanya, “Barangsiapa yang mengucapkan dzikir tersebut dalam sehari sebanyak 100 x, maka itu seperti membebaskan 10 orang budak, dicatat baginya 100 kebaikan, dihapus baginya 100 kesalahan, dirinya akan terjaga dari gangguan setan dari pagi hingga petang hari, dan tidak ada seorang pun yang lebih baik dari yang ia lakukan kecuali oleh orang yang mengamalkan lebih dari itu. (HR. Bukhari no. 3293 dan Muslim no. 2691)
Al Qur’an pun diturunkan bukan membuat susah. Allah Ta’ala berfirman,
طه (1) مَا أَنْزَلْنَا عَلَيْكَ الْقُرْآَنَ لِتَشْقَى (2) إِلَّا تَذْكِرَةً لِمَنْ يَخْشَى (3) تَنْزِيلًا مِمَّنْ خَلَقَ الْأَرْضَ وَالسَّمَاوَاتِ الْعُلَا
Thaha. Kami tidak menurunkan Al Quran ini kepadamu agar kamu menjadi susah; tetapi sebagai peringatan bagi orang yang takut (kepada Allah), yaitu diturunkan dari Allah yang menciptakan bumi dan langit yang tinggi.” (QS. Thoha: 1-4).
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda, إِنَّ الدِّينَ يُسْرٌ
Sesungguhnya agama Islam itu mudah.” (HR. Bukhari no. 39).
Coba ambil pelajaran dari hadits berikut bahwa menyusahkan diri dalam ibadah itu tercela.
3  Menjadikan ayat 1000 dinar sebagai jimat yang dipajang
Ada juga yang punya keyakinan menjadikan ayat 1.000 dinar sebagai jimat yang dipajang di warung, toko atau rumah biar rezeki lancar dan cepat sugih (kaya).
Hal di atas tidak lepas dari menjadikan ayat Al Quran sebagai jimat. Alasan tidak boleh menjadikan ayat Al Quran sebagai jimat yang dipajang adalah sebagai berikut :

  • Untuk menutup jalan agar tidak terjerumus dalam kesyirikan yang lebih parah. Begitu banyak dalil-dalil yang melarang jimat.
  • Jimat dari Al Qur’an bisa membuat Al Qur’an itu dilecehkan, bisa jadi pula dibawa masuk ke kamar mandi, atau terkena kotoran (najis). Agar tidak membuat sebagian dukun yang sengaja menuliskan ayat-ayat Al Qur’an lantas menaruh di bawahnya mantera-mantera syirik.
  • Seseorang akan tidak perhatian lagi pada Al Qur’an dan do’a, karena hanya bergantung pada ayat Al Qur’an yang dipajang atau dikenakan. (Lihat Rasail fil ‘Aqidah, hal. 441 dan Syarh Kitab Tauhid, hal. 61).

Dalil yang mengharamkan jimat atau azimat :
Dari ‘Uqbah bin ‘Amir, ia berkata bahwa ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ تَعَلَّقَ تَمِيمَةً فَلاَ أَتَمَّ اللَّهُ لَهُ وَمَنْ تَعَلَّقَ وَدَعَةً فَلاَ وَدَعَ اللَّهُ لَهُ

Barangsiapa yang menggantungkan (hati) pada tamimah (jimat), maka Allah tidak akan menyelesaikan urusannya. Barangsiapa yang menggantungkan (hati) pada kerang maka Allah tidak akan memberikan kepadanya jaminan” (HR. Ahmad 4: 154. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa hadits ini hasan –dilihat dari jalur lain-).
Dalam riwayat lain disebutkan,
مَنْ عَلَّقَ تَمِيمَةً فَقَدْ أَشْرَكَ
Barangsiapa yang menggantungkan tamimah (jimat), maka ia telah berbuat syirik” (HR. Ahmad 4: 156. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini qowiy atau kuat. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih sebagaimana dalam Silsilah Al Ahadits Ash Shohihah no. 492).
Seorang ulama besar dari tabi’in yang meningggal dunia tahun 96 H dalam usia 50-an tahun, yaitu Ibrahim An Nakha’i berkata,
كَانُوْا يَكْرَهُوْنَ التَّمَائِمَ كُلَّهَا مِنَ القُرْآنِ وَغَيْرِ القُرْآنِ
“Para murid Ibnu Mas’ud, mereka membenci jimat seluruhnya termasuk dari Al Qur’an dan selain Al Qur’an.” (Fathul Majid, hal. 142, terbitan Darul Ifta’).
Murid-murid terkenal Ibnu Mas’ud di sini seperti ‘Alqomah, Al Aswad, Abu Wail, Al Harits bin Suwaid, ‘Abidah As Salmani, Masruq, Ar Rabi’ bin Khutsaim, dan Suwaid bin Ghuflah.
Jadi hati-hatilah menjadikan ayat Al Qur’an atau diyakini ayat 1000 dinar sebagai jimat.
Solusi Mudah Kehidupan: Takwa dan Tawakkal
Dalam Tafsir Al Jalalain (hal. 569) disebutkan mengenai maksud surat Ath Thalaq ayat 2 dan 3 bahwa siapa yang bertakwa pada Allah, maka Allah akan angkat kesulitan dalam urusan dunia dan akhiratnya, juga akan diberi rezeki dari jalan yang tidak disangka-sangka.
Lalu siapa yang bertawakkal pada Allah dalam setiap urusannya, maka Alalh akan memberikan kecukupan padanya. Allah yang akan memudahkan urusan tersebut. Karena di tangan Allah-lah suatu urusan menjadi gampang ataukah sulit.
Dari ‘Umar bin Khattab, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لَوْ أَنَّكُمْ كُنْتُمْ تَوَكَّلُونَ عَلَى اللَّهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ لَرُزِقْتُمْ كَمَا تُرْزَقُ الطَّيْرُ تَغْدُو خِمَاصًا وَتَرُوحُ بِطَانًا
Seandainya kalian benar-benar bertawakkal pada Allah, tentu kalian akan diberi rezeki sebagaimana burung diberi rezeki. Ia pergi di pagi hari dalam keadaan lapar dan kembali di sore hari dalam keadaan kenyang.” (HR. Tirmidzi no. 2344. Abu ‘Isa Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih).
Hadits di atas sekaligus menunjukkan bahwa yang disebut tawakkal berarti melakukan usaha, bukan hanya sekedar menyandarkan hati pada Allah.
Karena burung saja pergi di pagi hari untuk mengais rezeki. Maka manusia yang berakal tentu melakukan usaha, bukan hanya bertopang dagu menunggu rezeki turun dari langit.
Yang disebut ayat 1000 dinar yang dituntut bukanlah dijadikan ritual dzikir. Yang terpenting adalah mengamalkan isinya, yaitu bertakwa dan bertawakkal. Itulah yang menjadi solusi hidup dan mudah dilapangkan rezeki, yaitu dengan bertakwa dan bertawakkallah.
Al Quran Semestinya Ditadabburi
Ayat Al Qur’an semestinya ditadabburi, direnungkan dan dipahami maknanya. Allah Ta’ala berfirman,
كِتَابٌ أَنزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِّيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُوْلُوا الْأَلْبَابِ
Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai fikiran” (QS. Shod: 29)
Namanya tadabbur Al Qur’an itu sebagaimana disebutkan oleh Al Hasan Al Bashri rahimahullah -seorang tabi’in-,
وَاللهِ مَا تَدَبُّره بِحِفْظِ حُرُوْفِهِ وَإِضَاعَةِ حُدُوْدِهِ، حَتَّى إِنَّ أَحَدَهُمْ لَيَقُوْل: قَرَأْتُ القُرْآنَ كُلَّهُ مَا يَرَى لَهُ القُرْآنُ فِي خُلُقٍ وَلاَ عَمَلٍ
“Demi Allah, Al Qur’an bukanlah ditadabburi dengan sekedar menghafal huruf-hurufnya, namun lalai dari memperhatikan hukum-hukumnya (maksudnya: mentadabburinya). Hingga nanti ada yang mengatakan, “Aku sudah membaca Al Qur’an seluruhnya.” Namun sayangnya Al Qur’an tidak nampak pada akhlak dan amalannya.” Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim. (Lihat Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 6: 419).
Jika demikian, marilah kita jadikan Al Qur’an untuk ditadabburi dan diamalkan. Jangan jadikan untuk tujuan yang keliru yaitu sebagai jimat atau ritual yang tidak ada tuntunan.
Masih mengamalkan ayat 1000 dinar untuk kepraktisan cepat kaya?
Ataukah justru yang terpenting mewujudkan takwa dan tawakkal dalam ibadah dan usaha kita?
Hanya Allah yang memberi petunjuk pada jalan yang lurus dan tidak berkelok akibat kesyirikan.
 
Oleh : Ust Muhammad Abduh Tuasikal, Rumasyho, Darusholihin

Kemuliaan Guru Dalam Islam

Hubungan profesi guru dengan dakwah dan tabligh (pengajaran), merupakan sesuatu yang tidak hanya ditunjukan kepada para Nabi dan Rasul Allah SWT, melainkan juga ditunjukan kepada segenap ummatnya, lebih-lebih para guru dan pendidik.
Diantara keutamaan menjadi guru atau pendidik, adalah
1. Memiliki sifat iffah (memelihara diri dari minta-minta), yang dihargai dan dihormati kedudukannya oleh Allah. Dan Allah perintahkan kepada para aqniya, murid, masyarakat, atau pejabat memberikan perhatian khusus kepada mereka.
“… Mereka tidak dapat (berusaha) di muka bumi; orang yang tidak tahu menyangka mereka orang kaya karena memelihara diri dari minta-minta….. sesungguhnya Allah Maha Mengetahui. Orang-orang yang menafkahkan hartanya di malam dan di siang hari secara tersembunyi…”  QS. Al-Baqarah (2): 273
2. Allah SWT memberi balasan untuk guru/pendidik yang mendidik dan mengajarkan kebaikan atau pelajaran yang bermanfaat, sama seperti orang-orang yang melakukannya. Rasulullah SAW bersabda:
Barangsiapa yang mengunjukkan/mengajarkan kebaikan, pahalanya sama dengan orang yang melakukan kebaikan itu “. (HR. Muslim dari Ibnu Mas’ud dalam Kitab Faidul Qadir, Juz. 6, Hal. 127, Penulis: Al-Imam Al-Manawy Rahimahulloh).
3. Allah SWT, para Malaikat, penghuni langit dan bumi bershalawat (mendoakan) para pendidik yang mengajarkan kebaikan. Rasululloh SAW bersabda
Sesungguhnya Allah, Malaikat-malaikat-Nya, penghuni langit dan penghuni bumi, hingga semut dalam lubangnya dan ikan dalam lautan, bersholawat (mendo’akan) para pendidik manusia kepada kebaikan “. (Kitab Mukhtarul Hasan Wasshahiih, Penulis: Abdul Baqi’ Shaqar, Hal. 380).
4. Para guru dan pendidik senantiasa akan mendapatkan pahala dari Alloh sebagai imbalan dari hasil pendidikan dan pembinaannya, meskipun dia sudah mati/wafat. Rasulullah SAW bersabda:
Sesungguhnya dari antara amal dan kebaikan seorang Mukmin yang tetap dia peroleh pahalanya, walaupun dia sudah wafat, adalah: Ilmu yang diajarkan dan disebarluaskannya; anak yang shaleh yang ditinggalkannya; atau mushaf/pegangan misalkan buku-buku/ al-qur’an/kitab-kitab yang ditinggalkannya; atau masjid yang dibangunnya; atau rumah untuk ibnus sabil yakni anak yatim piatu/panti jompo yang dibangunnya; atau saluran air yang dibuatnya; atau shadaqah yang dikeluarkannya dari harta kekayaannya pada waktu hidupnya (shadaqah jaariyah), itu semua dia akan mendapatkan pahalanya setelah dia wafat “. (HR. Ibnu Majah dan Al-Baihaqy dari Aba Hir dalam Kitab Mukhtarul Hasan Wasshahiih, Penulis: Abdul Baqi’ Shaqar, Hal. 381).
Sejalan hadist tersebut, Allah SWT. Menegaskan dengan firman-Nya sebagai berikut
Sesungguhnya Kami menghidupkan orang-orang mati dan Kami menuliskan apa saja mereka telah kerjakan, dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan. Dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam Kitab Induk yang nyata “. {QS. Yaasiin (36): 12}.
 
Oleh : Abu Jundullah Muhammad Faisal, S.Pd., M.MPd

Rezeki dan Jodoh

Rezeki dan jodoh kita sudah tertulis di Lauhul Mahfudz. Mau diambil lewat jalan halal ataukah haram, dapatnya segitu juga. Yang beda, rasa berkahnya.
Jodoh nabi Nuh dan Luth ternyata bukan istri mereka tersebab keingkarannya. Jodoh istri firaun bernama Aisyah bukanlah suaminya yang sombong. Maryam ibunda Isa as pun kelak bertemu jodohnya diakhirat. Jodoh Abu Lahab itu agaknya Ummu Jamil, sebab mereka kekal di neraka. Jodoh Nabi Sulaiman agaknya ratu Balqis, bersama mereka mengabdi pada-Nya.
Maka layakkan diri dihadapan-Nya untuk dianugrahi rezeki dan jodoh dalam serah terima berkah dan makna. Jika rezeki dan jodoh diambil, maka ikhlaskan. Sebab jodoh dan rezeki ditangan Allah. Ikhtiar dan berdoa untuk mendekatkan diri kepada-Nya.
Di surah AnNur ayat 26, diri ialah cermin bagi jodoh hati. Yang baik bagi jodoh yang baik. Yang buruk bagi jodoh yang buruk. Cara menjemput jodoh terbaik adalah membaikkan diri.
Jodoh tetap misteri. Syukuri ketidaktahuan itu dengan mengupayakan yang terbaik menuju pernikahan suci. Selanjutnya adalah tugas melestarikan perjodohan itu hingga ke surga. Meniti rumah tangga, sabar-syukur dalam barakah dan ridha-Nya.
 
Sumber :
Menyimak Kicau Merajut Makna, Salim A. Fillah, ProU Media