0878 8077 4762 [email protected]

Qaulan Baligha

Maksud qaulan baligha adalah perkataan yang membekas di hati. Kata qaulan baligha tercantum dalam Q.S. An Nisa ayat 63. “Mereka itu adalah orang-orang yang Allah mengetahui apa yang di dalam hati mereka. Karena itu berpalinglah kamu dari mereka, dan berilah mereka pelajaran, dan katakanlah kepada mereka Qaulan Baligha.”
Ketika perang Tabuk diserukan, Allah dan Rasul-Nya menjadikan keberangkatannya sebagai kewajiban bagi semua sahabat. Maka berangkatlah lelaki beriman hingga kota Madinah jadi sunyi. Keluarga-keluarga tak dibersamai suami dan para ayah kecuali beberapa orang munafikin.
Para istri munafik mencoba mengguncangkan iman para mukminah lagi shalihah yang ditinggalkan suami. Kita bayangkan mereka berkata, “Aduh ibu, kasihan amat yak. Lagi repot rumah, cuaca tak bersahabat, mana anak banyak dan rewel, eh ditinggal pergi suami. Kalau kami nggak mau bu.”
Apa jawab para istri mukminah dan shalihah ini ketika di ledek seperti itu? Qaulan baligha.
Kalimat mereka indah dan diabadikan : “Innama dzahabal akkal, wa baqiyar razzaq.” Terjemah Harfiahnya : “Yang pergi itu (para suami) hanyalah tukang makan, adapun Yang Memberi rezeki (Allah), tetap tinggal bersama kami.” Inilah kalimat membekas jiwa.
Para Salihat, terkadang dakwah menjadikan suami harus pergi meninggalkan dikala kehadirannya pun amat diperlukan. Jadikan suami sebagai rekan berbakti dan mengabdi. Gelora asmara dan cinta akan jadikan rumah tangga surga sebelum di surga.
 
Sumber :
Menyimak Kicau Merajut Makna, Salim A. Fillah, ProU Media

Kegiatan Sang Nabi

Nabi Muhammad saw mengerjakan sendiri apa yang beliau bisa di urusan rumah tangga : menambal baju sobek, menjahit sandal rusak, dan seterusnya. Nabi sangat suka bersiwak bersih gigi ketika akan shalat, hendak baca Qur’an, menemui tamu, sahabat dan istrinya.
Sang Nabi suka olahraga lari. Kadang bersama istri. Kadang dengan anak-anak kecil, beliau lombakan siapa duluan yang menangkap dirinya.
Nabi tidak pernah mencela makanan, apakah ini enak atau tidak enak. Jika menyukainya beliau memakannya penuh syukur, jika tidak suka beliau cukup diam tanpa komentar.
Sang Nabi tak suka di istimewakan. Jika dalam perjalanan, beliau selalu ingin berbagi peran dan mencari peluang kontribusi seperti menyiapkan api.
Kata Anas, “Tak pernah kulihat Nabi marah atau membalas perilaku buruk atas pribadi beliau. Beliau hanya marah jika Allah dihinakan.”
Tidur sang Nabi tak pernah tengkurap. Jika miring berbantal telapak dan kakinya disilang. Jika terlentang kaki kanan diletakkan diatas kiri.
 
Sumber :
Menyimak Kicau Merajut Makna, Salim A. Fillah, ProU Media

Sekeping Hati

Oleh : Ust Umar Nadi
قال ابن رجب في فتح الباري :١ /٢٧ – فإذا وجد القب حلاوة الإيمان أحس بمراة الكفر والفسوق والعصيان ولهاذا قال يوسف عليه السلام : رب السجن أحب إلي مما يدعونني إليه
Ibnu Rajab dalam kitab Fathul Baari berkata : “Maka apabila sekeping hati telah mendapatkan manisnya iman, maka ia akan sensitif merasakan pahitnya kekufuran, kefasikan dan kemaksiatan”.
Karena itulah Nabi Yusuf pernah berkata : “Yaa Robb, Penjara lebih aku sukai daripada apa yang mereka serukan kepadaku.” (Q.S.Yusuf 12 : 33)

Muhammad saw adalah Rahmat

Berkata Ibnu Abbas, “Nabi Muhammad saw adalah rahmat bagi setiap manusia, maka siapa membenarkannya kan bahagia. Al Qurthuby menambahkan, “Bahkan yang tak beriman tetap selamat dari pembenaman yang terjadi daripada umat sebelumnya.”
Suatu sang Nabi meminta memohonkan ampun kepada orang munafik. Allah swt berfirman, “Orang munafik itu, kau mintakan ampun atau tidak sama saja. Kau mintakan ampun 70 kalipun Allah takkan mengampuni mereka.” Kemudian sang Nabi memohonkan ampun lebih dari 70 kali.
Sebab jika 70 kali belum diampuni, maka jika lebih dari 70 kali semoga Allah ampuni. Maka langitpun takjub pada kemuliaannya dan Allah mengirimkan pujian. Sesungguhnya engkau Muhammad benar-benar diatas akhlak yang agung.
 
Sumber :
Menyimak Kicau Merajut Makna, Salim A. Fillah, ProU Media

Isa 'alayhis-salam

Seorang keji mendatangi Isa ‘alayhis-salam. Dibawanya setimpuk kotoran menjijikkan, lalu dia ruahkan ke wajah dan tubuh Al Masih. Selanjutnya dari mulutnya keluar serapah laknat yang kotor dan lucah, menghinakan Nabi Isa dengan tuduhan jahat dan palsu. Maka tersenyumlah Isa menyimak hingga dia selesai berbicara. Kemudian diulurkan sebotol minyak wangi kepada orang itu, dan diterimanya.
Dijenak berikutnya, Isa bicara pada si keji dengan ucapan yang sangat indah dan mulia, selain itu Isa mendoakan dengan tulus dan rendah hati. Ketika lelaki itu pergi dengan tertawa-tawa bertanyalah para Hawari, murid-murid Isa, “Apa maksud semua ini Guru? Dia melumuri kotoran busuk menjijikkan, namun kau beri minyak wangi. Dia kasar mencaci maki tapi kau santun dan lembut bicara?
Isa menjawab, ” Lelaki itu memberiku kotoran busuk dan ucapan keji. Sayang aku tak punya yang serupa dengan itu untuk membalasnya.” 
“Ingatlah bahwa sesungguhnya setiap orang hanya bisa memberi apa yang dipunyai.” lanjut Isa.
Demikian sari dari sebuah atsar yang diurai Tarif Khalidi dalam sebuah buku Yesus seorang Muslim “The Muslim Jesus“. Semoga bisa ambil ibrah keburukan dibalas kebaikan ya Shalihin Shalihat.
 
Sumber :
Menyimak Kicau Merajut Makna, Salim A. Fillah, ProU Media.

Musa Berburu Ilmu

Dan ingatlah ketika Musa pada pemuda yang membersamainya, “Aku takkan berhenti berjalan hingga bertemu dengan perjumpaan dua lautan atau aku akan berjalan sampai bertahun-tahun.” (Q.S. Al Kahfi : 60). Alangkah mulia Musa berburu ilmu.
Al Allamah As Sa’dy dalam tafsirnya menyatakan: “Betapa pentingnya memperkaya wawasan dan mendalamkan pemahaman sehingga Sayyidina Musa as meninggalkan sejenak kepemimpinan  dan pembimbingannya kepada Bani Israil dengan menempuh jarak yang jauh dan perjalanan meletihkan demi memperoleh ilmu dan kepahaman.”
Dan mari cemburu pada semangat dan tekad Musa menuntut ilmu dalam qur’an tersebut. Ada beberapa penjelasan tafsir pada ayat tersebut. Menurut Ath-Thabary, “huquba” dalam bahasa Qays-Ailan berarti 1 tahun. Diriwayatkan pula dari Abdullah ibn Amr, “huquba” berarti 80 tahun.
Muhammad ibn Ka’b Al Qurazhi berkata bahwa Musa berjalan dari Sinai mesir hingga Thanjah di ujung Maroko untuk mencapai pertemuan dua lautan, yaitu Laut Tengah dan Atlantik. Sungguh pelajaran dari seorang Nabi bagi yang menuntut ilmu dengan menempuh jarak jauh melintasi negeri.
 
Sumber :
Menyimak Kicau Merajut Makna, Salim A. Fillah, ProU Media