0878 8077 4762 [email protected]

Hasad (Dengki)

Sebagaimana hadis : Hasad memakan pahala amal kebaikan seperti api memakan kayu.
Kata Ali ibn Husain dengki dan dendam itu seperti menenggak racun ke mulut sendiri lalu berharap orang lain yang akan mati.
Orang yang berpenyakit dengki kehilangan banyak kesempatan berkebaikan. Sebab susah melihat orang senang, dan senang melihat orang lain susah.
Siang malam si pendengki memikirkan orang hingga tak sempat membekali diri sendiri. Hasad adalah dosa yang paling menyiksa.
Bahkan andaipun berkebaikan, pendengki selalu mengalahkan yang didengki.
 
Sumber :
Menyimak Kicau Merajut Makna, Salim A. Fillah

Ujub (Berbangga Diri)

Ujub merupakan rasa kagum pada diri sendiri atas kebaikan jiwa dan keshalihan amalnya. Sebab ujub adalah ketertipuan.
Bahaya ujub membuat merasa cukup berkebaikan, terbuta dari aib-aib diri, dan merasa tak berdosa, padahal rasa ini termasuk dosa berat.
Sampai-sampai disebutkan para ahli hikmah : “Kalau sama-sama terbayang, maka dosa lebih baik daripada amal ibadah. Dosa yang melahirkan sesal lebih baik, daripada ibadah yang melahirkan bangga. Lihatlah Adam berdosa lalu bertaubat, kemudian diampuni. Sementara iblis beribadah lalu berbangga diri, kemudian dilaknati.”
 
Sumber :
Menyimak Kicau Merajut Makna, Salim A. Fillah

Qath'ur rahim (Memutus Silaturahim)

Qath’ur rahim adalah memutus silaturahim dalam kekeluargaan, kekerabatan, persaudaraan, atau persahabatan.
Dalam sebuah hadis disebutkan: “Memutus silaturahim termasuk dosa yang disegerakan azabnya didunia, disamping bangkrut ahlinya kelak di akhirat. Memutus silaturahim dengan sikap diam, perkataan dan perbuatan dibenci Nabi; dilarang duduk dimajelis beliau.”  (H.R. Bukhari)
Sebab mengandung nama Allah -Ar Rahiim – memutuskan- nya merupakan kezaliman kepada Allah.
Dalam firmanNya disebutkan: “Dan bertakwalah pada Allah yang dengan nama-Nya kamu saling meminta dan menyambung silaturahim.” (Q.S. Al Maidah: 1)
 
Sumber :
Menyimak Kicau Merajut Makna, Salim A. Fillah

Riya

Sungguh menggiriskan, hadist tentang riya kepada orang pertama yang dipanggil dihadapan Allah kelak: Seorang Qari, Muhsin, dan Syahid.
Pada Qari’ ditunjukkan nikmat Allah padanya hingga ia memahami Al Qur’an dan Fikih dengan dahsyat lalu menjadi alim dan masyhur. ” Betul ya Rabbi, lalu aku berdakwah semata karena-Mu” ujarnya.
Allah berfirman, “Dusta kamu! Kamu hanya ingin digelari Alim!”
Pada si Kaya nan dermawan, Allah tampakkan betapa banyak karunia-Nya.  “Betul ya Rabbi, lalu aku tunaikan hartaku dijalan-Mu” ujarnya.
Allah berfirman, “Dusta kamu! Kamu hanya ingin digelari Dermawan!”
Pada mujahid yang syahid ditampakkan nikmat-Nya. “Betul ya Rabbi, aku berjihad meninggikan kalimat-Mu!
Kata Allah, “Dusta!  Dusta! Kamu hanya ingin digelari Pahlawan!”
“Semua puja puji manusia yang kalian harap dalam hati telah dilunaskan di dunia. Kau alim , kau dermawan, dan kau pahlawan. Tak ada bagian dari  balasan akhirat-Ku untuk kalian, ambillah tempat kalian di neraka.”
(Disarikan dari hadis riwayat Bukhari)
Riya mengarahkan niat amal shalih sekedar pada pandangan kagum, cerita masyhur, dan pujian manusia di dunia.
 
Sumber :
Menyimak Kicau Merajut Makna, Salim A. Fillah

Bangkrut di Akhirat

“Akan datang pada hari kiamat satu kaum membawa kebaikan sebesar gunung uhud, maka Allah jadikan ia bulu-bulu beterbangan.”
Para sahabat bertanya, “Apakah mereka itu muslim ya rasulullah?”
Jawab nabi, “Mereka muslim. Mereka shalat sebagaimana kalian shalat, mereka puasa sebagaimana kalian puasa, dan bahkan mereka menegakkan shalat malam. Akan tetapi jika bersunyi, mereka melanggar larangan Allah.”
(H.R. Ath Thabrani dan di Sahihkan Al Bani)
 
Sumber :
Menyimak Kicau Merajut Makna, Salim A. Fillah

Antara Harta dan Ilmu

Ilmu lebih agung dibandingkan harta. Pemilik ilmu lebih terhormat dan dibutuhkan semua insan, dari jelata hingga para raja. Harta hanya berguna dihadapan hajat fakir, miskin dan dhuafa.
Bagi pemilik harta alangkah banyak musuh yang jahat dan kawan tak tulus. Sementara pemilik ilmu akan banyak saudara dan sedikit lawannya.
Musuh musa yang berharta : Fir’aun, jatuh karena sombong mengaku tuhan. Kawan musa yang berilmu adalah khindzir, rendah hati dan menghayati penghambaan. Adam diciptakan lalu dibekali ilmu, bukan harta yang membuatnya unggul dihadapan para malaikat seperti dalam surah Al Baqarah ayat 31-34.
Rabb kita menurunkan wahyu pertama terkait ilmu wahyu pertama terkait ilmu dalam surah Al Alaq ayat 1-5. Allah memerintahkan Dia ditauhidkan dengan ilmu (surah Muhammad ayat 19), bukan dengan harta.
Dalam hadist riwayat Ath-Thabrani, “Terbagi hamba-hamba Allah itu menjadi empat golongan.”

  1. Golongan pertama, dikaruniai Allah ilmu dan harta. Maka dia bertakwa kepada Allah dan menafkahkan hartanya dijalan Allah.
  2. Golongan kedua, diberi Allah ilmu namun tak dilimpahi harta. Maka dia bertakwa kepada-Nya dan selalu berkata pada dirinya, ‘Andai dikarunia seperti hamba pertama, aku akan berbuat sebagaimana dia lakukan.’ Sesungguhnya pahala kedua orang ini sama.
  3. Hamba ketiga, diberi harta tanpa beroleh ilmu. Maka dia tak bertakwa kepada-Nya, berbuat sia-sia dan dosa.
  4. Hamba keempat, tidak berharta dan tidak berilmu. Maka dia bertakwa dan selalu berkata pada dirinya, ‘Andai aku diberi harta seperti hamba ketiga, aku juga akan melakukan hal sia dan kemaksiatan seperti dia.’ Dosa kedua orang ini sama.

Demikian sekelumit hari ini. Sungguh tak hendak membenci harta, tapi mari sedikit banyak mengalih bentuknya menjadi ilmu.