0878 8077 4762 [email protected]

Antara Makanan dan Doa

Apa hubungan antara perbaikan makanan dengan mustajabnya doa? Tertolaknya doa boleh jadi sebab adanya hal haram yang tumbuh di tubuh.
Malam itu sang Nabi memandang Saad bin Abi Waqqash lalu bersabda, “Mintalah sesuatu padaku hai Saad, aku akan memintakannya kepada Allah untukmu.” Maka saad dengan santun menjawab, “Mintakanlah pada Allah ya Rasulullah, agar doaku mustajab!” Nabi tersenyum mendengar pintanya, lalu beliau bersabda, “Bantulah aku hai saad dengan memperbaiki makananmu.”
Suatu hari dihadapan para sahabat, Rasulullah saw membaca dua ayat, surah Al Mukminun ayat 51 dan surah Al Baqarah ayat 168 yang memerintahkan para Rasul hingga semua insan memakan rezeki Allah yang halal lagi baik.
Beliau saw kemudian bercerita tentang seorang musafir di padang pasir yang berpuasa, yang bekalnya dicuri kawan, dan yang tersesat dalam perjalanan; lalu dia mengangkat tangannya ke langit untuk berdoa, “Ya Rabb! Ya, Rabb!”
Tetapi bagaimana mungkin akan dikabulkan ujar Nabi mengomentari, “sementara yang dimakannya haram, yang dikenakannya pun haram.”
Padahal orang yang disebut dalam kisah memiliki 4 keutamaan yang menjamin doanya terkabul: musafir, puasa, dizalimi, mengangkat tangan. Tetapi perkara haram yang nelekati tubuh, telah menghalangi sampainya doa ke sisi Allah swt. Sungguh Allah thayyib, Dia tidak menerima kecuali yang thayyib (halal, suci, dan baik)
 
Sumber :
Menyimak Kicau Merajut Makna, Salim A. Fillah

Adab Bicara

Banyak membicarakan hal tak berguna adalah isyarat kelak kita kan direpotkan hal-hal tak bermakna. Keterkejutan kelak bagi hamba yang ceroboh bicara. Sebab kata yang dia anggap biasa, bisa saja menelungkupkan dirinya sendiri ke neraka. Panjangnya bicara hanya meletihkan penyimaknya.
Payah yang sangat mencabik jiwa adalah ketika banyak bicara tentang-Nya, tapi sedikit bicara dengan-Nya. Lelah yang amat terasa adalah ketika terlalu banyak membicarakan kebaikan, tapi sedikit diri kita memperbuatnya.
Yang kasar kata, harus mewaspadai keringnya hati. Yang lembut bicara, harus hati-hati atas melembeknya iman sejati. Benar pepatah : “Lihatlah apa yang dikatakan! Bukan lihat siapa yang bicara.” Tetapi kita harus mengupayakan kelayakan diri untuk didengar. Dia yang bicara membanggakan dirinya itu mungkin admirable. Dia yang bicara memuliakan sesama itu pasti lovable.
 
Sumber :
Menyimak Kicau Merajut Makna, Salim A. Fillah

Arti Cinta

Mencintai tak harus memiliki. Mencintai berarti pengorbanan untuk kebahagiaan orang yang kita cintai. Cinta tak pernah untuk menanti. Ia mengambil kesempatan atau mempersilahkan. Cinta bukanlah gejolak hati yang datang sendiri melihat paras ayu atau janggut rapi.
Suatu hari ada seseorang yang berkata pada Imam Ahmad, “Alangkah bahagianya andai aku bisa menjumpaimu tiap hari.” Kemudian beliau menjawab, “Tak perlu begitu saudaraku, ada banyak orang yang aku belum pernah menjumpainya, tapi sungguh aku mencintai mereka itu, melebihi cintaku pada orang-orang yang tiap hari bertemu.”
Sebagaimana cinta kepada Allah yang tak serta merta mengisi hati kita. Karena cinta memang harus diupayakan. Cinta adalah kata kerja. Lakukanlah kerja jiwa dan raga untuk mencintainya. Maka mata airnya adalah niat baik dari hati yang tulus.
 
Sumber :
Menyimak Kicau Merajut Makna, Salim A. Fillah

Prinsip Islam Moderat : Islam dan Ekonomi

Oleh : Persatuan Ulama Islam Sedunia (Al Ittihad Alamiy li Ulama al Muslimin)
 
Manusia baik individu maupun kolektif mempunyai banyak kebutuhan. Ada kebutuhan primer dimana ia tidak akan hidup tanpa itu, ada kebutuhan sekunder dimana ia bisa hidup tanpanya meskipun dengan sedikit kesulitan, dan ada yang bersifat pelengkap untuk membuat hidup lebih indah dan sejahtera.
Agar manusia bisa memenuhi kebutuhan-kebutuhannya, Allah telah menyediakan beragam sumber daya alam yang melimpah dalam kehidupan ini. Allah telah menundukkan semua itu untuk manusia. Allah berikan kemampuan kepada manusia untuk mengeksplorasinya.
Sebaik-baik harta adalah harta yang terdapat ditangan orang-orang saleh.” (H.R. Ahmad dan Ibn Hibban)
Dunia Islam sebenarnya mempunyai kekayaan alam yang melimpah, namun mereka sekarang hidup dalam kesulitan secara ekonomi. Hal itu dikarenakan mereka tidak pandai memanfaatkan sumber alam tersebut dalam memenuhi kebutuhannya. Inilah keterbelakangan ekonomi sebagai buah dari keterbelakangan politik yang melanda kebanyakan negara-negara Islam.
Pertama : Pandangan Islam terhadap Masalah Ekonomi
Pandangan Islam terhadap aktivitas ekonomi baik untuk individu maupun jamaah adalah peran umum Islam yang tercermin dalam akidah, nilai-nilai akhlak, dan hukum-hukum  perundangan yang mengatur kehidupan manusia.
Diantara permasalahan penting yang mesti dijelaskan dalam hal ini adalah bahwa hidup zuhud di dunja dan mengutamakan kehidupan akhirat bukanlah penghalang untuk bekerja, berproduksi, menikmati sejumlah hal yang baik dengan tidak berlebih-lebihan. Dalam sabda rasulullah:
Zuhud didunia bukan dengan cara mengharamkan sesuatu yang halal dan bukan dengan menyia-nyiakan harta. Akan tetapi zuhud didunia adalah engkau tidak lebih yakin dengan apa yang terdapat ditanganmu ketimbang apa yang ada disisi Allah” (H.R. Ibn Majah dan Tirmidzi dari Abu Dzar ra)
Kedua : Tahapan-Tahapan Dalam Kegiatan Ekonomi
Tahap Pertama : Produksi
1. Tanah
Siapa yang mempunyai tanah, hendaklah ia tanami atau biarkan saudaranya yang menanami.” Q.S. Hud : 61
2. Bekerja
Tidaklah seseorang memakan makanan yang lebih baik dari hasil usahanya sendiri. Sungguh nabi Allah Dawud makan dari hasil usaha sendiri.” H.R. Bukhari dan Ibn Majah dari Miqdad ra
3. Harta
Ketika harta telah dibayarkan zakatnya, maka ia tidak termasuk ditimbun. Sebab Islam melarang menimbun harta dan menyuruh mengembangkannya dengan cara yang diperbolehkan serta di infaqkan.
Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak serta tidak menginfaqkannya dijalan Allah, maka berikanlah kabar gembira kepada mereka dengan siksa yang pedih.” Q.S. at Taubah : 34
Tahapan Kedua : Tukar Menukar
Pada dasarnya konsep ekonomi dalam Islam adalah konsep pasar bebas. Adanya campur tangan pemerintah adalah lebih karena untuk menjaga kebebasan dalam bersaing secara positif. Oleh karena itu, Islam mengharamkan monopoli dan riba sekaligus mewajibkan adanya saling ridha diantara kedua belah pihak.
“…Kecuali dalam perdagangan yang berlaku atas suka sama suka diantara kalian.” Q.S. an Nisa : 29
Islam melarang jual beli dengan cara memaksa, menindas, dan menipu. Rasulullah juga melarang untuk mempermainkan harga saat terjadi inflasi , dikarenakan jarangnya barang dagangan.
Tahapan Ketiga : Distribusi
Maksud disini adalah faktor-faktor yang mendatangkan hasil:
Pertama : Tanah
Tanah jika ditanami oleh pemiliknya semua yang dihasilkan menjadi miliknya sebagaimana sabda Rasulullah
Barangsiapa menghidupkan tanah yang mati, maka tanah tersebut menjadi miliknya.”
Akan tetapi jika tanah tadi disewakan atau bekerjasama dengan orang lain, setiap orang didalamnya mendapat bagian sesuai kesepakatan ketika transaksi penyewaan tanah, muzaraah, atau musaqoh.
Kedua : Kerja
Upah seorang pekerja didasarkan pada kerelaan antara pemberi upah dan orang yang diberi upah. Pembatasan upah minimal bermanfaat untuk mencegah eksploitasi tenaga kerja dan menjaga stabilitas ekonomi. Pembatasan ini berpulang kepada waliyul amr (penguasa) muslim dalam mewujudkan keadilan dan mencegah kezaliman diantara manusia.
Ketiga : Modal Usaha
Ia bisa berupa barang atau uang
1) Modal usaha berupa barang
Seperti bangunan, alat-alat, mobil serta fasilitas lain bisa disewakan dengan nilai tertentu, serta bisa pula dimasukkan kedalam perkongsian atau kerjasama sehingga pemiliknya mendapatkan bagian darinya.
2) Modal berupa uang
Tidak boleh disewakan karena upah persewaan ini menjadi riba dan hukumnya haram. Akan tetapi. Ia bida dimasukkan dalam perkongsian usaha seperti mudharabah (kerjasama dimana yang satu menjadi pemilik modal uang dan yang lain sebagai pekerja). Dalam kondisi demikian, keuntungannya dibagi diantara masing-masing pihak sesuai dengan kesepakatan.
Tahapan Keempat: Konsumsi
Islam memberikan batasan-batasan syariah diantara melarang sikap boros, kikir, dan berlebihan sebagaimana firman Allah :
Makan dan minumlah. Tapi jangan berlebihan sebab Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan.” QS Al Araf: 31
Ketiga Saling Membantu Secara Materi
Ketentuan yang diwajibkan oleh Islam kepada individu manusia diantaranya kewajiban zakat fitrah, zakat mal/harta, termasuk denda (diyat) dan tembusan (kafarat).
Selain itu negara menopang lewat hasil bumi, pajak, fa’i (rampasan perang) yang dalam istilah fiqih dikenal atha’.
Sarana optional lain berupa sedekah sunnah, sedekah jariyah, wakaf, wasiat, hibah, hadiyah, pinjaman, dan lain-lain.
 
Referensi : 25 Prinsip Islam Moderat
Penyusun : Al Ittihad al Alamiy li Ulama al Muslimin (Persatuan Ulama Islam Sedunia)
Penerbit : Sharia Consulting Center (Pusat Konsultasi Syariah)

Karena Allah Mencintaimu

Ketahuilah bahwa apa yang Anda baca merupakan hujah bagi Anda, atas dasar bacaan yang Anda baca. Allah telah berfirman:
Katakanlah, apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui” ( QS. Az Zumar: 9 )
Tanyakanlah kepada diri Anda sendiri mengapa Allah memilih Anda, dan bukan orang lain untuk membaca. Tak diragukan lagi karena Allah mencintai Anda. Dia menghendaki kebaikan kepada Anda dan menghendaki Anda untuk membaca.
Beramallah, Anda akan mendapat balasan, Anda akan masuk syurga.
Berkata Yahya Bin Muadz, “Perkataan itu baik, namun yang lebih baik dari sekedarkata adalah maknanya, yang lebih baik dari maknanya adalah praktiknya, yang lebih baik dari praktik adalah balasannya, yang lebih baik dari balasan adalah keridhaan Allah yang karenanya kamu beramal”.
 
Sumber :
Ramadhan Sepenuh Hati, M. Lili Nur Aulia

Enyahkan Kata “Nanti”

Karena Anda tidak dapat menjamin hidup hingga esok hari, jika Anda masih hidup esok, mungkin ada halangan yang merintangimu untuk melakukan kebaikan.
Seseorang berkata kepada khalifah Umar bin Abdul Aziz ketika melihat raut wajahnya tersirat kelelahan beraktifitas, “Tunda saja sisa pekerjaanmu hingga esok,”
Umar bin Abdul Aziz kemudian berkata, “Pekerjaan satu hari saja sudah menyibukkanku, bagaimana pula bila berkumpul dalam dua hari”
Firman Allah swt :
Dan jangan sekali-kali kamu mengatakan tentang sesuatu: “Sesungguhnya aku akan mengerjakan ini besok pagi.” (QS. Al Kahfi: 23 )
Tidaklah penting berapa kali Anda terjatuh dalam dosa, namun yang lebih penting adalah berapa kali Anda bertaubat dan berusaha meninggalkan dosa.
Oleh karena itu Abul Jauza memberi kabar gembira kepada kita seraya berkata: Sesungguhnya seorang hamba melakukan dosa hingga ia menyesali perbuatannya itu hingga ia dimasukkan ke dalam surga.
Kemudian syaithan berkata: Celakalah aku, seandainya aku tidak menjerumuskannya kedalam dosa,
Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Se-sungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang “ (QS. Az Zumar: 53)
 
Sumber :
Ramadhan Sepenuh Hati, M. Lili Nur Aulia